Anda di halaman 1dari 6

Nama : Hanni Listia Furi

NPM : 240210120116

V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Praktikum gizi terapan kali ini membahas tentang penilaian status gizi
secara biokimia melalui penentuan kadar gula darah. Pemeriksaan biokimia dalam
penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif daripada
penilaian konsumsi pangan dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan biokimia yang
sering digunakan adalah teknik pengukuran berbagai kandungan zat gizi dan
substansi kimia lain dalam urin dan darah. Hasil pengukuran tersebut
dibandingkan dengan standar normal yang ditetapkan.
Penentuan kadar gula merupakan salah satu pemeriksaan biokimia yang
berfungsi untuk mengetahui kadar glukosa di dalam tubuh seseorang. Glukosa
diperlukan sebagai sumber energi terutama bagi sistem syaraf dan eritrosit.
Glukose juga dibutuhkan di dalam jaringan adiposa sebagai sumber gliserida-
glisero, dan mungkin juga berperan dalam mempertahankan kadar senyawa antara
pada siklus asam sitrat di dalam banyak jaringan tubuh. Kadar glukosa dalam
darah biasanya digunakan untuk menentukan apakah seseorang berada dalam
keadaan normal atau terdapat potensi menderita diabetes mellitus. Kadar gula
darah normal pada manusia berkisar antara 70-110 mg/dL setelah berpuasa selama
8-10 jam. 2 jam setelah puasa atau setelah makan, kadar gula darah normal pada
manusia seharusnya berada di bawah 200 mg/dL yaitu berkisar antara 100-140
mg/dL.
Glukosa diperlukan sebagai sumber energi terutama bagi sistem syaraf dan
eritrosit. Glukosa juga dibutuhkan di dalam jaringan adiposa sebagai sumber
gliserida-glisero, dan mungkin juga berperan dalam mempertahankan kadar
senyawa antara pada siklus asam sitrat di dalam banyak jaringan tubuh. Glukosa
sebagian besar diperoleh dari manusia, kemudian dibentuk dari berbagai senyawa
glukogenik yang mengalami glukogenesis lalu juga dapat dibentuk dari glikogen
hati melalui glikogenolsis. Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil
didalam darah merupakan salah satu mekanisme homeostasis yang diatur paling
halus dan juga menjadi salah satu mekanisme di hepar, jaringan ekstrahepatik
serta beberapa hormon. Hormon yang mengatur kadar glukosa darah adalah
insulin dan glukagon. Insulin adalah suatu hormon anabolik, merangsang sintesis
Nama : Hanni Listia Furi
NPM : 240210120116

komponen makromolekuler sel dan mengakibatkan penyimpanan glukosa.
Glukagon adalah suatu katabolik, membatasi sintesis makromolekuler dan
menyebabkan pengeluaran glukosa yang disimpan. Peningkatan glukosa dalam
sirkulasi mengakibatkan peningkatan kosentrasi glukosa dalam sirkulasi
mengakibatkan peningkatan sekresi insulin dan pengurangan glukagon, demikian
sebaliknya.
Penentuan kadar gula darah ini dilakukan menggunakan suatu pengukur
kadar gula darah, yaitu glucose meter dan glucose test strip. Pertama-tama
relawan yang akan diambil sampel darahnya melakukan puasa selama minimal 10
jam. Selama puasa di malam hari, relawan dikondisikan beraktivitas santai dan
normal serta dihindari begadang dan stres tinggi. Setelah dilakukan puasa pada
malam hari, relawan diukur kadar gula darah awalnya (t=0 menit) dengan cara
bagian ujung jari relawan ditusuk dengan menggunakan lanset steril, kemudian
darah diteteskan ke bagian ujung glucose test strip. Setelah 20 detik hasil
pengukuran kadar glukosa darah akan terlihat pada monitor glucose meter dan
dicatat hasilnya. Selanjutnya dilakukan pemberian glukosa/minuman bergula
kepada relawan. Setelah 120 menit dilakukan pemberian glukosa, selanjutnya
dilakukan pengambilan darah kembali pada ujung jari yang berbeda. Glukosa
darah (t = 120 menit) diukur kemudian dicatat hasilnya. Berikut ini adalah hasil
pengamatan penentuan kadar gula darah yang terdapat dalam tabel 5.1.
Tabel 5.1. Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Gula Darah
Kelompok Nama
Kadar Gula Darah (mg/dL)
t = 0 t = 120
1 Irfa 87 78
2 Rina 90 82
3 Arif 83 84
4 Usep 81 78
5 Herza 91 85
6 Natasha 80 121
7 Cahyani 82 88
8 Rosita 99 90
9 Agustina 84 63
10 Dessy 86 67
11 Hanni 72 161
12 Silfie 87 79
13 Nisa 87 70
(Sumber : dokumentasi pribadi, 2014)
Nama : Hanni Listia Furi
NPM : 240210120116

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa semua sampel memiliki
kadar gula darah yang berbeda-beda. Pada pengukuran t = 0 menit, kadar gula
tertinggi adalah 99 mg/dL dan kadar gula terendah adalah 72 mg/dL dengan rata-
rata dari seluruh kadar gula darah sampel adalah 85 mg/dL. Hasil pengukuran
yang diperoleh masih tergolong kadar gula puasa normal, yaitu berkisar antara 70-
110 mg/dL. Setelah 120 menit dilakukan pemberian glukosa, terdapat beberapa
sampel yang mengalami kenaikan kadar gula darah dan sisanya mengalami
penurunan kadar gula darah. Pada pengukuran t = 120 menit, kadar gula tertinggi
adalah 161 mg/dL dan kadar gula terendah adalah 63 mg/dL dengan rata-rata dari
seluruh kadar gula darah sampel adalah 88 mg/dL. Hasil pengukuran yang
diperoleh masih tergolong kadar gula normal, yaitu di bawah 200 mg/dL.
Terjadinya kenaikan kadar gula darah setelah dilakukan pemberian glukosa
disebabkan karena adanya pasokan gula dari makanan yang dikonsumsi dan
diserap oleh tubuh, tetapi belum terjadi proses metabolisme terhadap glukosa.
Sedangkan terjadinya penurunan kadar gula darah setelah dilakukan pemberian
glukosa disebabkan karena gula yang terdapat dalam darah telah diserap leh sel-
sel dan jaringan tubuh untuk dilakukan proses metabolisme sehingga
menghasilkan energi untuk beraktivitas. Glukosa diperoleh dari pencernaan
karbohidrat atau dari perubahan monosakarida glukosa dan fruktosa di dalam hati
atau dari pemecahan glikogen di dalam hati dan otot. Glukosa ini dibawa oleh
sistem peredaran darah ke sel-sel yang membutuhkan. Sumber gula (glukosa)
yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi energi yang dimanfaatkan oleh
sel-sel dan jaringan di dalam tubuh. Agar glukosa tersebut dapat digunakan oleh
sel-sel tubuh, maka diperlukan suatu hormon yaitu hormon insulin. Hormon
tersebut diproduksi oleh sel-sel beta yang terdapat di dalam pulau-pulau
Langerhans yang berada di dalam organ pankreas. Setiap kali ada makanan yang
masuk, pankreas akan memproduksi insulin dan menyalurkannya ke dalam darah
untuk memproses glukosa dari makanan. Tanpa adanya insulin, glukosa tidak
dapat diserap oleh sel-sel tubuh dan tidak terdapat pasokan energi sehingga tubuh
menjadi lelah berkepanjangan dan tidak bertenaga. Dengan diprosesnya glukosa
oleh insulin maka kadar gula dalam darah menurun (Almatsier, 2009).
Karbohidrat bertanggung jawab atas sebagian besar intake makanan sehari-
Nama : Hanni Listia Furi
NPM : 240210120116

hari, dan sebagian besar karbohidrat akan diubah menjadi lemak. Fungsi dari
karbohidrat dalam metabolisme adalah sebagai bahan bakar untuk oksidasi dan
menyediakan energi untuk proses-proses metabolisme lainnya. Karbohidrat dalam
makanan terutama adalah polimer-polimer hexosa, dan yang penting adalah
glukosa, laktosa, fruktosa dan galaktosa. Kebanyakan monosakarida dalam tubuh
berada dalam bentuk D-isomer. Hasil yang utama dari metabolisme karbohidrat
yang terdapat dalam darah adalah glukosa. Glukosa yang dihasilkan begitu masuk
dalam sel akan mengalami fosforilasi membentuk glukosa-6-fosfat, yang dibantu
oleh enzim hexokinase, sebagai katalisator. Hati memiliki enzim yang disebut
glukokinase, yang lebih spesifik terhadap glukosa, dan seperti halnya hexokinase,
akan meningkat kadarnya oleh insulin, dan berkurang pada saat kelaparan dan
diabetes. Glukosa-6-fosfat dapat berpolimerisasi membentuk glikogen, sebagai
bentuk glukosa yang dapat disimpan, terdapat dalam hampir semua jaringan
tubuh, tetapi terutama dalam hati dan otot rangka (Ganong, 1995).
Tubuh setelah mendapat intake makanan yang mengandung gula akan
melakukan proses pencernaan, dan absorbsi akan berlangsung terutama di dalam
duodenum dan jejunum proksimal. Setelah absorbsi akan terjadi peningkatan
kadar gula darah untuk sementara waktu dan akhirnya kembali pada kadar semula
baseline. Besarnya kadar gula yang diabsorbsi sekitar 1 gram/kg BB tiap jam.
Kecepatan absorbsi gula di dalam usus halus konstan tidak tergantung pada
jumlah gula yang ada atau kadar di mana gula berada. Untuk mengetahui
kemampuan tubuh dalam memetabolisme karbohidrat dapat ditentukan dengan
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) (Price, 1996). Selain itu, banyak hormon
yang ikut serta dalam mempertahankan kadar glukosa darah yang adekuat baik
dalam keadaan normal maupun sebagai respon terhadap stres. Pengukuran
glukosa darah sering dilakukan untuk memantau keberhasilan mekanisme
regulatorik ini. Penyimpangan yang berlebihan dari normal, baik terlalu tinggi
atau terlalu rendah, menandakan terjadinya gangguan homeostatis dan sudah
semestinya mendorong tenaga analis kesehatan melakukan pemeriksaan untuk
mencari etiologinya (Sacher dan McPherson, 2004).


Nama : Hanni Listia Furi
NPM : 240210120116

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Penilaian status gizi secara biokimia dapat dilakukan dengan berbagai
metode, salah satunya melalui penentuan kadar gula darah.
Penentuan kadar gula berfungsi untuk mengetahui kadar glukosa di
dalam tubuh seseorang.
Hasil pengukuran t = 0 menit memiliki rata-rata kadar gula darah sebesar
85 mg/dL dengan kadar gula tertinggi sebesar 99 mg/dL dan kadar gula
terendah sebesar 72 mg/dL.
Hasil pengukuran t = 120 menit memiliki rata-rata kadar gula darah
sebesar 88 mg/dL dengan kadar gula tertinggi sebesar 161 mg/dL dan
kadar gula terendah sebesar 63 mg/dL.
Proses absorbsi glukosa yang berlangsung dalam tubuh akan
menyebabkan meningkatnya kadar gula darah.
Glukosa di dalam tubuh akan diproses oleh hormon insulin agar dapat
diserap atau digunakan oleh sel-sel dan jaringan tubuh.
Adanya hormon insulin yang memproses glukosa menyebabkan
menurunnya kadar gula dalam darah.

6.2. Saran
Perlu adanya pemeriksaan lanjut kadar gula darah secara rutin untuk
mendeteksi potensi menderita diabetes mellitus.
Untuk mencegah potensi menderita diabetes mellitus dapat dilakukan
perbaikan terhadap pola makan, rutin melakukan olahraga, dan lain-lain.
Sebaiknya menghindari kondisi stres tinggi dan kelelahan yang
berkepanjangan dengan cara istirahat yang cukup.





Nama : Hanni Listia Furi
NPM : 240210120116

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. dkk. 2011. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Gramedia
Pustaka Utama : Jakarta

Ganong, W.F. 1995. Fisiologi Kedokteran Edisi 14. EGC : Jakarta

Price, S. A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakrata :
EGC

Sacher, R. A. dan R. A. McPherson. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Edisi 11. Alih bahasa : Brahm U. Pendit dan Dewi
Wulandari. EGC : Jakarta