Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh,mengangkut bahan-bahan kimia hasil
metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
(Price & Wilson , 2005 ). Ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang darah
dan aspeknya disebut hematologi (Sherwood , 2001). Dengan mempelajari darah,
kita dapat membedakan bagaimana keadaan darah yang disebut normal dan
bagaimana keadaan yang disebut abnormal.
Keadaan darah yang tidak normal akan berdampak besar bagi suatu mahluk
hidup. Hematologi berperan penting karena kita dapat mengetahui cara untuk
memeriksa keadaan darah dalam tubuh. Pemeriksaan membantu untuk
mendiagnosis dan memantau penyakit yang sedang diderita yang mengakibatkan
kelainan terukur pada parameter hematologi. Beberapa pemeriksaan bertujuan
untuk mengukur komponen dan fungsi darah itu sendiri, pemeriksaan lainnya
menilai bahan-bahan dalam darah untuk menentukan terganggu atau tidaknya
fungsi organ tubuh.
1.2 Tujuan
Praktikum kali ini dilakukan dengan bertujuan untuk :
1. Menentukan nilai parameter hematologi mencit (Mus muculus)
2. Menentukan keadaan mencit (Mus muculus) berdasarkan parameter
hematologi yang terukur


















BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Komponen-komponen Pengukuran Parameter Hematologi
Parameter yang digunakan saat pengukuran hematologi diantaranya
hematokrit (Ht), hemoglobin (Hb), eritrosit, dan leukosit.
a. Hematokrit (Ht)
Hematokrit merupakan perbandingan antara volume sel darah merah
dengan plasma darah. Hasil yang didapat dari perhitungan hematokrit dapat
mengindikasikan penyakit-penyakit yang terjadi pada suatu organisme
tergantung dari besar atau rendahnya jumlah eritrosit Menurunnya kadar
hematokrit dapat sebagai indikasi rendahnya protein (Keogh, 2009).
b. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah suatu protein dalam eritrosit yang berperan dalam
proses pengangkutan oksigen dalam darah. ). Hemoglobin berisi 4 rantai
polipeptida dan 4 heme group. Masing-masing polipeptida disebut globin dan
berikatan dengan 1 heme. Heme adalah porphyrin dengan zat besi (Fe) di
tengahnya, sedangkan globin adalah protein yang mengelilingi heme.
Hemoglobin normal terdiri dari 2 rantai polipeptida alpha dan 2 rantai beta.
Kadar hemoglobin darah berkaitan dengan jumlah eritrosit matang dalam
aliran darah (Seeley et al., 2003).


c. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
MCH adalah pengukuran rata-rata hemoglobin yang ada pada satu
eritrosit. Pengukuran MCH kemungkinan besar mengalami kesalahan jika
organisme yang diuji mengalami hyperlipidemia yang akan meningkatkan
rata-rata hemoglobin yang terukur karena meningkatnya kekeruhan plasma
sehingga pengukuran hemoglobin meningkat. Hal ini dapat dicegah dengan
melakukan sentrifugasi dan penghitungan manual (Greer, 2009).
d. Mean Cospuscular Volume (MCV)
MCV adalah adalah niali rata-rata dari volume eritrosit dan merupakan
parameter yang berguna dalam mengklasifikasikan anemia dan memberikan
informasi mengenai patofisiologi dari penyakit-penyakit pada eritrosit.
Pengukuran MCV dapat salah jika organisme percobaan mempunyai penyakit
yang menyebabkan penggumpalan sel atau mengalami hyperglycemia yang
menyebabkan nilai MCV meningkat (Greer, 2009).
e. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
MCHC adalah nilai rata-rata dari konsentrasi hemoglobin terhadap
hemaotkrit yang diberikan. Setelah MCHC diketahui, rasio perbandingan
massa hemoglobin dengan hematokrit akan diketahui. Keakuratan dari nilai
MCHC dipengaruhi oleh factor-faktor yang mempengaruhi pengukuran dari
hemoglobin atau hematokrit (Greer,2009).
Parameter hematokrit normal pada Mus muculus dan manusia dapat dilihat
pada tabel 2.1 berikut.


Tabel 2.1(1) Parameter Hematokrit Normal Mus muculus
Parameter Hematologi Jumlah
Eritrosit (10
6
sel/mm
3
) 6,5-12,5
Leukosit (10
3
sel/mm
3
) 2,8-4,5
Hemoglobin (g/dL) 12,9-14
Hematokrit (%) 48,5-55,2
MCH (pg) 16,6-19,5
MCHC (g/dL) 25,9-26,8
(Mira & Mathias, 1993)
Tabel 2.1(2) Parameter Hematokrit Normal Manusia
Parameter Hematologi Jumlah
Eritrosit (10
6
sel/mm
3
) 4,2-6,2
Leukosit (10
3
sel/mm
3
) 4,4-10
Hemoglobin (g/dL) 11,8-17,3
Hematokrit (%) 31,1- 49,7
MCH (pg) 25,9-31,9
MCHC (g/dL) 31,4-35,2
(Esa et al., 2006)
2.2 Komponen-komponen Darah
Darah terdiri dari beberapa jenis komponen, diantaranya adalah
sebagai berikut.
a. Eritrosit (sel darah merah)
Eritrosit berbentuk piringan bikonkaf, tanpa nukleus, mengandung
hemoglobin yang membuat warna sel merah, diameternya 7,5 mikrometer.
Struktur bikonkaf memperluas permukaan sel sehingga perpindahan gas dari
dan ke sel lebih rapid (Seeley et al., 2003).
b. Leukosit (sel darah putih)
Leukosit adalah sel berwarna bening-putih yang disebabkan
kurangnya hemoglobin. Leukosit melindungi tubuh dari serangan
mikroorganisme dan melenyapkan sel tubuh yang telah mati serta puing-puing
sampah dalam tubuh. Sebagian besar bersifat motil (Seeley et al.. 2003).
Leukosit terdiri dari:
1) Granulosit
a) Neutrofil, memiliki nukleus dengan dua atau empat lobus yang
dihubungkan dengan filamen kecil, granula sitoplasmik berbercak merah
muda atau ungu kemerahan berdiameter 10-12m.
b) Basofil, memiliki dengan nukleus dengan dua lobus yang tidak jelas,
granula sitoplasmik berberkas biru keunguan, ukuranya 10-12m.
c) Eosinofil, nukleus kadang membentuk dua lobus, granula sitoplasmik
berberkas oranye kemerahan atau merah terang, diameternya 11-14m.
2) Agranulosit
a) Limfosit, nukleus bulat, sitoplasma membentuk cincin tipis sekeliling
nukleus, diameter 6-14.
b) Monosit, nukleus bulat, berbentuk ginjal atau tapal kuda, berisi lebi
banyak sitoplasma dibanding limfosit, diameternya 12-20m (Seeley et
al.. 2003).
c. Trombosit atau Platelet
Trombosit adalah fragmen kecil dari sel, memiliki sedikit sitoplasma
dikelilingi membran plasma. Diameternya kira-kira 3m. Permukaannya
mengandung glikoprotein dan protein yang memungkinkan platelet menempel
pada molekul lain, misalnya kolagen. (Seeley et al., 2003)
d. Plasma Darah
Plasma adalah bagian liquid dari darah yang berupa cairan kuning
pucat yang berisi sekitar 91% air dan 9% substansi lain seperti protein, ion,
nutrien, gas, dan produk buangan/sisa. Plasma merupakan koloid (Seeley et
al.. 2003).
2.3 Penyakit Darah yang Berhubungan dengan Parameter yang Terukur
Anemia
Anemia adalah penyakit yang ditandai dengan kurangnya hemoglobin dalam
darah. Hal ini dapat disebabkan bertambahnya eritrosit, berkurangnya jumlah
hemoglobin dalam masing-masing eritrosit, atau keduanya. Berkurangnya
hemoglobin mengurangi kemampuan untuk mengikat oksigen. Akibatnya,
penderita anemia mengalami kekurangan energi dan selalu merasa lelah yang
berlebihan. Penderita dengan cepat menjadi pucat dan tersengal-sengal hanya
dengan kerja yang sedikit. Salah satu penyebab anemia adalah kekurangan nutrisi
seperti zat besi, folat, atau vitamin B12. Dapat pula disebabkan kehilangan darah
yang sangat banyak (hemorrhagic anemia) seperti trauma, ulcers, dan pendarahan
berlebihan saat menstruasi. Jenis-jenis Anemia diantaranya adalah sebagai
berikut.
Hypochromic Anemia
Hypochromic anemia adalah jenis anemia yang paling umum terjadi. Anemia
jenis ini muncul jika terdapat gangguan dalam sintesis hemoglobin pada eritrosit
karena kurangnya zat besi (Fe) dan mengakibatkan kurangnya pengikatan
oksigen. Kurangnya zat besi dapat disebabkan karena beberapa hal seperti
kurangnya asupan zat besi, hilangnya darah secara kronis, dan gangguan pada
penyerapan zat besi. Penyakit ini dapat menyebabkan organisme penderitanya
mengalami kelelahan atau bahkan menyebabkan penyakit lain seperti koilonychia
atau spoon nails (Heilmeyer & Begmann, 2011).

Hemolytic Anemia
Hemolytic anemia adalah jenis anemia yang disebabkan oleh pemendekan dari
sikulus hidup eritrosit yang seharusnya adalah 120 hari. Namun anemia ini hanya
akan tejadi jika sumsum tulang belakang tidak dapat menghasilkan eritrosit yang
lebih banyak untuk dapat mengimbangi cepatnya eritrosit hancur. Cara untuk
waktu hidup dari eritrosit ini adalah dengan chromium radiolabeling cells
menggunakan 51Cr. Selain itu, cara ini juga dapat menentukan lokasi-lokasi
tempat penghancuran eritrosit (Heilmeyer & Begmann, 2011). Penyakit ini dapat
menimbulkan masalah lainnya seperti detak jantung yang tidak normal,
kelelahan, dan juga gagal jantung (Gibbons, 2011).
Erythrocytosis (eritrositosis)
Eritrositosis adalah membludaknya jumlah eritrosit, sehingga mengakibatkan
bertambahnya viskositas darah, berkurangnya laju alir, dan jika sudah parah
dapat menyebabkan kebocoran dinding kapiler. Eritrositosis relatif terjadi akibat
menurunnya volume plasma darah, yang bisa disebabkan oleh dehidrasi, diuretik,
dan terbakar. Eritrositosis primer (disebut juga polychythemia vera) adalah
keadaan stem cell tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan
overproduksi eritrosit, granulosit, dan platelet. Eritrositosis sekunder dapat
disebabkan oleh berkurangnya suplai oksigen, misalnya saat berada di tempat
yang sangat tinggi, penyakit paru-paru kronis atau gagal jantung kongestif
(Seeley et al.. 2003).
Von Willebrands Disease
Von Willebrands disease adalah kelainan pendarahan yang paling umum
ditemukan. Von willebrand platelet membantu platelet menempel pada kolagen
(Seeley et al.. 2003).

Hemofilia
Hemofilia adalah kelainan genetik yang ditandai clotting (pembekuan darah)
yang abnormah atau tidak ada. Karena tertaut kromosom seks X maka lebih
sering terjadi pada pria. Hemofilia A disebabkan defisiensi koagulasi plasma
faktor VIII, sedangkan hemofilia B terjadi karena defisiensi plasma faktor IX
(Seeley et al.. 2003).
Leukemia
Leukimia adalah kanker sumsum tulang merah yang ditandai abnormalnya
produksi satu atau lebih jenis leukosit, yang biasanya immature. Karena
immature dan kurang sempurna fungsi imunologinya, maka penderita sangat
rentan terhadap infeksi. Produksi leukosit berlebih juga mempengaruhi produksi
eritrosit dan platelet yang berakibat anemia dan pendarahan (Seeley et al.. 2003).










BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum kali ini adalah :
Alat Bahan
Kaca objek Mencit (Mus muculus)
Pipet tetes Alkohol
Pipet khusus eritrosit Larutan Giemsa
Pipet khusus leukosit Larutan Hayem
Hemocytometer Larutan Turk
Alat ukur Sahli Tisu
Pipet khusus alat ukur Sahli Aquades
Tabung kapiler Larutan Hemoglobin standar
Sentrifuga Antikoagulan (EDTA)
Skala Wintrobe Platisin
Mikroskop cahaya HCl 1N
Preparat awetan

3.2 Cara Kerja
3.2.1 Pembuatan Preparat Apusan Darah
Setetes darah ditempatkan di kaca objek. Kemudian kaca objek lain
ditempatkan di atas kaca objek yang telah ditetesi darah dengan kemiringan
30
0
-45
0
. Selanjutnya kaca objek yang telah dimiringkan digeser hingga
menyentuh darah. Darah dibiarkan menyebar di sepanjang kaca objek, lalu
kaca objek tersebut kembali digeser berlawanan arah sehingga apusan
darah terbentuk. Setelah apusan terbentuk, apusan dikeringkan dan
dicelupkan ke dalam alkohol selama 3 detik, kemudian apusan diwarnai
dengan larutan Giemsa. Apusan berwarna selanjutnya diamati dengan
menggunakan mikroskop cahaya.
3.2.2 Perhitungan Jumlah Eritrosit
Darah dihisap menggunaka pipet khusus eritrosit sampai skala 0,5.
Kemudian dengan menggunakan pipet yang sama, larutan Hayem dihisap
sampai skala 101. Darah dan larutan Hayem yang berada dalam pipet
dicampurkan hingga homogen. Selanjutnya beberapa tetes larutan yang
keluar dari pipet dibuang ke tisu sampai skala 1. Setelah itu larutan
diteteskan pada sisi kaca penutup hemocytometer untuk kemudian jumlah
eritrosit yang ada dalam sampel darah tersebut dihitung di lima ruang
persegi (R) dengan menggunakan mikroskop cahaya.
3.2.3 Perhitungan Jumlah Leukosit
Darah dihisap menggunakan pipet khusus leukosit sampai skala 1.
Kemudian dengan menggunakan pipet yang sama, larutan Turk dihisap
sampai skala 11. Darah dan larutan Hayem yang berada dalam pipet
dicampurkan hingga homogen. Selanjutnya beberapa tetes larutan yang
keluar dari pipet dibuang ke tisu sampai skala 1. Setelah itu larutan
diteteskan pada sisi kaca penutup hemocytometer untuk kemudian jumlah
leukosit yang ada dalam sampel darah tersebut dihitung di empat ruang
persegi (W) dengan menggunakan mikroskop cahaya.


3.2.4 Pengukuran Konsentrasi Hemoglobin
Darah dihisap menggunakan pipet khusus alat ukur Sahli samapai skala 20
l. Kemudian darah diteteskan ke dalam tabung pada alat ukur Sahli yang
sudah ditetesi satu tetes HCl 1N, diaduk hingga homogen. Selanjutnya
warna larutan yang terbentuk dibandingkan dengan larutan standar
hemoglobin, jika belum serupa warnanya teteskan lagi HCl 1 N. Setelah
warna larutan serupa, skala pada tabung sampel diamati untuk menentukan
konsentrasi hemoglobin yang terkandung dalam sampel darah.
3.2.5 Pengukuran Volume Hematokrit
Tabung kapiler diisi dengan darah dan kedua ujung tabung disumbat
dengan plastisin. Kemudian tabung diletakkan di alat sentifuga dan
disentrifugsi selama 2-5 menit dengan kecepatan 10.000-15.000 rpm.
Selanjutnya volume hematokrit ditentukan dengan menggunakan skala
Wintrobe dengan cara dasar tabung yang berisi eritrosit diletakkan di garis
paling bawah skala, garis pembatas pada skala antara warna merah eritrosit
dan warna kekuningan pada plasma darah ditentukan sebagai volume
hematokrit.








BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengolahan Data
4.1.1 Perhitungan Parameter Hematologi
a) Perhitungan jumlah eritrosit
R1 R2 R3 R4 R5 Jumlah
142 105 128 141 140 656

Pengenceran =

= 201
Volume ruang hitung = 5 x 0,2 x 0,2 x 0,1 = 0,02
Jumlah eritrosit/mm
3
darah =



=


= 6,6 x 10
6
eritrosit/mm
3

b) Perhitungan jumlah leukosit
R1 R2 R3 R4 Jumlah
14 10 3 9 36

Pengenceran =

= 10
Volume ruang hitung = 4 x 0,1 x 1 x 1 = 0,4
Jumlah leukosit/mm
3
darah =



=


= 900 leukosit/mm
3
c) Mean Corpuscular Volume (MCV)
Hematokrit = 40%
Jumlah eritrosit = 6,6 x 10
6
sel/mm
3


=


= 60,6 m
3
d) Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
Konsentrasi hemoglobin = 14,8%
Jumlah eritrosit = 6,6 x 10
6
sel/mm
3
X 10

=


= 22,42 pg
e) Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
Konsentrasi hemoglobin = 14,8%
Hematokrit = 40%
Jumlah eritrosit = 6,6 x 10
6
sel/mm
3

=


= 37 g/dL







4.2.2 Tabel Foto Pengamatan Histologi Pembuluh Darah

Hasil Pengamatan Literatur
Arteri Penyebar Equus (10 x 10)

(Marlinda, 2014)


(Weis, 2014)
Vena Cava Lepus (10 x 10)



(Sarah, 2014)
Lumen
Tunika intima
Tunika media
Tunika eksterna
Membran elastika
Tunika intima
Tunika eksterna
Lumen
(Arista, 2014)
(40 x 10)

(Arista, 2014)
Aorta Dorsalis Lepus (40 x 10)

(Marlinda, 2014)


(Weis, 2014)
Tunika intima
Tunika eksterna
Tunika media
Lumen
Lumen
Tunika intima
Tunika media
Tunika eksterna
Vena Lepus ukuran sedang
(10 x 10)

(Marlinda, 2014)

(40 x 10)

(Marlinda, 2014)
















(Sarah, 2014)
Lumen
Tunika media
Tunika intima
Tunika eksterna
Tunika eksterna
Tunika media
Arteri Penyebar Lepus (10 x 10)

(Marlinda, 2014)

(Weis, 2014)
Apusan Darah (4 x 10)

(Marlinda, 2014)


4.2 Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan ada beberapa reagen yang digunakan untuk
membantu dalam pengukuran. Reagen-reagen tersebut adalah Larutan Hayem,
Larutan Turk, dan HCl 1N. HCl befungsi untuk memecah sel eritrosit agar
Tunika Eksterna
Tunika Media
Tunika Interna
Lumen
Limfosit/Leukosit
Eritrosit
(Eroschenko, 2005)
hemoglobin dalam eritrosit keluar dan bereaksi dengan HCl dan berubah warna
menjadi cokelat (Heilmeyer & Begmann, 2011). Larutan Hayem berfungsi untuk
mencairkan sel darah merah untuk dihitung jumlahnya, sedangkan larutan Turk
berfungsi untuk mencairkan sel darah putih untuk dihitung jumlahnya.
Komposisi dari larutan Hayem sendiri adalah sodium klorida sebanyak 0,5 mg,
sodium sulfat sebanyak 2,5 mg, merkuri klorida sebanyak 0,25 mg, dan air suling
sebanyak 100 ml. Dan komposisi larutan Turk adalah gentian violet(1%)
sebanyak 1 ml, glacial acteic acid sebanyak 2 ml dan air suling sebanyak 97 ml
(Heilmeyer & Begmann, 2011).
Parameter hematologi yang terukur pada mencit normal untuk jumlah
eritrosit, sedangkan untuk jumlah leukosit berbeda, yang teramati hanya 900
sel/mm
3
sedangkan menurut literatur jumlah normalnya 2,8-4,5 ribu. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena kelainan pada sistem kekebalan atau kelainan
pada sumsum tulang belakang. Atau rendahnya jumlah leukosit juga bisa
dikarenakan penggunaan obat-obatan yang sebelumnya telah diberikan pada
mencit. Obat-obatan seperti diuretic, imunosupresan, clopazin, antipsikotik dapat
menurunkan jumlah leukosit yang berakibat melemahnya daya tahan tubuh dan
lamanya proses penyembuhan suatu luka (Millan et al., 2000). Hal ini berkaitan
dengan kurangnya jumlah hematokrit pada Mus muculus yang diuji. Rendahnya
nilai hematokrit dalam darah bisa diakibatkan oleh anemia, dan salah satu
penyebab anemia diakibatkan oleh terjadinya pendarahan. Lamanya proses
penyembuhan luka akibat berkurangnya leukosit berdampak pada pendarahan
berkepanjangan yang mempengaruhi rendahnya kandungan hematokrit. Dengan
rendahnya hematokrit, tentunya akan mempengaruhi perhitungan parameter
hematologi lainnya seperti MCH dan MCHC.
Lapisan-lapisan yang menyusun pembuluh darah yaitu tunika adventitia
(tunika eksterna), tunika media dan tunika intima. Lapisan tunika adventitia
adalah lapisan terluar dari pembuluh darah dan melekat bersama jaringan ikat,
memiliki ciri lapisan yang sangat tipis dan terdiri dari serat kolagen. Lapisan
tunika media adalah lapisan tengah pada pembuluh darah. Pada lapisan ini
terdapat banyak selaput elastin konsentris. Lapisan tersusun dari otot polos,
serabut elastin, lamela elastin, kolagen, dan lamina elastika eksterna. Lapisan
tunika intima yang merupakan lapisan terdalam pada pembuluh disusun oleh
endotelia, subendotelia, dan lamina elastika interna (Pistorio, 2007).
Pembuluh darah dapat dibedakandari ketebalan lapisan. Dari hasil
pengamatan, aorta berbentuk bulat dengan tunika media yang tebal. Selain itu
lumen aorta berukuran besar. Berbeda dari aorta, vena cava berbentuk tidak
teratur, memiliki tunika media yag tipis , tidak terdapat lamina elastika eksterna
maupun interna, dan terdapat banyak lamela elastin, lumen berukuran lebih kecil
dari aorta. Arteri penyebar berbentuk bulat seperti aorta namun memiliki
diameter yang lebih kecil. Tunika adventitia yang dimiliki lebih tipis dari aorta.
Hasil pengamatan cenderung sama seperti literatur.










BAB V
KESIMPULAN

1. Nilai dari parameter hematologi mencit (Mus muculus) adalah sebagai berikut :
Eritrosit : 6,6 x 10
6
sel/mm
3
Leukosit : 900 sel/mm
3

MVP : 60,6 m
3
MCH : 22,42 pg
MCHC : 37 g/dL
Hematokrit : 40%
2. Berdasarkan parameter hematologi mencit (Mus muculus) yang terukur, nilai
hematokrit hanya 40%, kurang dari jumlah normal yaitu sebesar 48,5 % - 55,2 %.
Hal ini diakibatkan karena mencit telah diberi perlakuan sebelumnya dengan
pemberian obat-obatan yang dapat mengakibatkan menurunnya jumlah hematokrit.
Pemberian obat-obatan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan
penyembuhan luka. Akibat pendarahan dari luka yang sulit untuk sembuh, jumlah
hematokrit akan berkurang. Begitu pula dengan jumlah eritrosit, yang pada
parameter terukur 6,6 x 10
6
ada pada kisaran jumlah eritrosit normal yang rendah.



DAFTAR PUSTAKA

Price A. Silvia & Wilson M.L. 2005.Patophysiology. Dublin : EGC.
Sherwood, L.2001.Human Physiology : From Cell to System. Michigan : Brooks.
Keogh, James.2009.Nursing Laboratory & Diagnostic Tests Demystified. New York :
McGraw-Hill Professional.
Seeley, Rod R., Trent D. Stephens dan Philip Tate. 2003. Anatomy and Physiology.
6th ed. New York: The McGraw-Hill.
Greer, John P.2009. Wintrobe's Clinical Hematology Vol.1 12
th
edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Mira Antonio & Mathias Da Luz. 1993.Seasonal Effects on The Hematology and
Blood Plasma Proteins of Two Species of Mice (Mus muculus domesticus) and
M.Spretus from Portugal. Zoology, 5 (1-2) : 63-72.
Esa T., Aprianti S., Arif M., Hardjoeno.2006. The Haematology Reference Value of
Healthy Adult People Based on Sysmex Xt-1800i. Clinical Pathology and
Medical Laboratory, 12 (3) : 127-130.
Heilmeyer & Begmann, L., & Begemann, H.2011.Atlas of Clinical Hematology 6
th

edition. London : Springer.
Gibbons, Gary H.2011.What is Hemolytic Anemia?. http://www.nhlbi.nih.
gov/health/health-topics/topics/ha/. Diakses tanggal 28 September 2014.
Weis.2014.BloodVessel.http://iws.collin.edu/mweis/A&P%20Basics/Lab/Basics%2
0Lab%20Exercises/lab_exercise_14_vessels.htm. Diakses tanggal 28 September
2014.
Sarah Bellham.2014.Histoogy Photo Album. http://www.histology-
world.com/photoalbum/displayimage.php?album=34&pid=1153. Diakses
tanggal 28 September 2014.
Pistorio, Ashley L.2007. Chapter Five: Cardiovascular System dari
http://www.medicalhistology.us/twiki/bin/view/Main/CardiovascularSystemAtla
s05. Diakses tanggal 28 September 2014
Eroschenko, Victor P. 2005. Di Fiores Atlas of Histology with Functional
Correlations. 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Millan J. Mark, Broccol M., Rivet Jean M.2000. S18327 (1-{2-[4-(6-Fluoro-1,2-
benzisoxazol-3-yl)piperid-1-yl]ethyl}3-phenyl imidazolin-2-one), a Novel,
Potential Antipsychotic Displaying Marked Antagonist Properties at
1
- and
2
-
Adrenergic Receptors: II. Functional Profile and a Multiparametric Comparison
with Haloperidol, Clozapine, and 11 Other Antipsychotic Agents. Pharmacy,
292 (1) : 54-66























S18327 (1-{2-[4-(6-Fluoro-1,2-
benzisoxazol-3-yl)piperid-1-yl]ethyl}3-
phenyl imidazolin-2-one), a Novel,
Potential Antipsychotic Displaying
Marked Antagonist Properties at
1
-
and
2
-Adrenergic Receptors: II.
Functional Profile and a
Multiparametric Comparison with
Haloperidol, Clozapine, and 11 Other
Antipsychotic Agents
1. Mark J. Millan1,
2. Mauricette Brocco1,
3. Jean-Michel Rivet1,
4. Valrie Audinot1,
5. Adrian Newman-Tancredi1,
6. Lisa Maiofiss2,
7. Sophie Queriaux2,
8. Nicole Despaux3,
9. Jean-Louis Peglion3 and
10. Anne Dekeyne1
JPET January 1, 2000 vol. 292 no. 1 54-66 JURNAL FARMASI
Dr. Weis.Blood Vessel.2014.
http://iws.collin.edu/mweis/A&P%20Basics/Lab/Basics%20Lab%20Exercises/lab_exerci
se_14_vessels.htm
Bellham Sarah.2014.Histoogy Photo Album. http://www.histology-
world.com/photoalbum/displayimage.php?album=34&pid=1153
137
MENGENAL PRODUK BARU
NILAI RUJUKAN HEMATOLOGI PADA
ORANG DEWASA SEHAT
BERDASARKAN SYSMEX XT-1800i
(The Haematology Reference Value of
Healthy Adult People Based on Sysmex
Xt-1800i)
T.Esa*, S.Aprianti, M.Arif, Hardjoeno
Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory
, Vol. 12, No. 3, Juli 2006: 127-130