Anda di halaman 1dari 10

Tugas 2 Mencari Tulisan dalam Media

Taman Nasinal Wakatobi


Pariwisata bahari adalah aktivitas wisata yang telah lama di kembangkan di kepulauan
Wakatobi. Keunggulan aset wisata ini, taklain karena hamparan karang yang sangat luas di
sepanjang perairan dengan topografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope,
flat,drop off, atoll, dan underwater cave dengan biota laut yang beragam.
Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang bernilai
tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan sehingga
banyak orang yang sangat suka pergi ketempat tersebut. Secara umum perairan lautnya
memeiliki konfigurasi dari mulai datar sampai melendai ke arah laut, dan beberapa daerah
perairan yang bertubir curam.
Daya tarik atau kelebihan lain Taman Nasional Wakatobi adalah dengan diteteapkan
beberapa spesies yang ada di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi sebagai spesies yang
dilindungi dan spesies itu adalah ikan napoleon, penyu, akarbahar, dan kima.
Berdasarkan potensi-potensi yang ada seperti keaneka ragaman hayati dan keunikan
ekosistem taman nasional, departemen Kelautan dan Perikanan melakukan skoring tentang
keindahan beberapa taman nasional di dunia. Dari hasil skoring itu menempatkan Taman
Nasional Kepulaun Takabonerate sebagai yang terindah.
Walau sudah lama tergerus oleh waktu tetapi, peninggalan budaya masa lalu
memberikan karateristik dan kekayaan nilai nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat
pada pola atau tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi yang lebih dikenal sebagai masyarakat
kepulauan dan pesisir. Eksisting budaya inilah yang memberikan fenomena unik bagi
pengembang pariwisata yang berbasis pada nilai-nilai budaya.
Wakatobi tidak hanya punya daya tarik alam. Dikepulauan itu, ada beberapa
perkampungan Suku Laut atau Suku Bajoyang didirikan diatas laut. Mereka dikenal pelaut
yang tangguh. Para nelayan bajo juga dikenal mampu menangkap ikan hanya dengan tombak.
Melihat kehidupan sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelam ke
dasar laut tanpa peralatan menyelam untuk menombak ikan.
Aninditha Syaharani P. M.
7A / 08



Tugas 3 Mengidentifikasi Unsur Kebahasaan
1. Kelompok Kata

2.Kalimat Rujukan
1. Pariwisata bahari adalah aktivitas wisata yang telah lama di kembangkan di kepulauan
Wakatobi. Keunggulan aset wisata ini, taklain karena hamparan karang yang sangat luas di
sepanjang perairan
2. Wakatobi tidak hanya punya daya tarik alam. Dikepulauan itu, ada beberapa
perkampungan Suku Laut atau Suku Bajoyang didirikan diatas laut.

3.Kalimat Konjungsi
1.Penambahan (dan)
a. Potensi-potensi yang ada seperti keaneka ragaman hayati dan keunikan ekosistem taman
nasional.
b. Departemen Kelautan dan Perikanan melakukan skoring tentang keindahan beberapa
taman nasional di dunia.
c. Peninggalan budaya masa lalu memberikan karateristik dan kekayaan nilai nilai budaya
yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola atau tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi.

Proses Pembentukan Kelompok Kata
(Frasa)
Kelompok Kata
(Frasa)
Telah + Lama Telah lama
Bawah + Laut Bawah laut
Taman + Nasional Taman nasional
Masa + Lalu Masa lalu
Daya + Tarik Daya tarik


2.Perlawanan (tetapi)
a. Walau sudah lama tergerus oleh waktu tetapi, peninggalan budaya masa lalu memberikan
karateristik dan kekayaan nilai nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola atau
tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi.
3. Sebab-akibat (sehingga)
a. Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang bernilai tinggi
baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan sehingga
banyak orang yang sangat suka pergi ketempat tersebut.
4. Pemilihan (atau)
a. Walau sudah lama tergerus oleh waktu tetapi, peninggalan budaya masa lalu memberikan
karateristik dan kekayaan nilai nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola atau
tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi.

4.Kata Baku dan Tidak Baku
Kata Baku

Kata Tidak Baku
Aktivitas Aktipitas
Fenomena Penomena










Tugas 4 Mencari Cerita Rakyat secara Mandiri
1. Legenda Lombok Tentang Cerita Dewi Anjani
Pada satu masa di dekat negri Alengka (tempat para raksasa), tersebutlah sebuah
pertapaan yang disebut dengan Gunung Sukendra. Pertapaan itu dihuni oleh Resi Gotama
dan keluarganya. Resi Gotama adalah keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari
Mahespati. Resi Gotama memiliki seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang kelak
akan menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Atas jasa-jasa dan baktinya kepada para dewa,
Resi Gotama dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dari hasil
perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa (Subali) dan
GuwaResi (Sugriwa).
Tahun berganti tahun, Dewi Windradi yang selalu dalam kesepian karena
bersuamikan seorang brahmana tua, akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya
(dewa Matahari). Terjadi saat sang dewi sering berjemur telanjang mandi sinar matahari
di pagi hari. Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia sedemikian rapih sehingga
sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama, maupun oleh ketiga putranya
yang sudah menginjak dewasa. Akibat suatu kesalahan kecil yang dilakukan oleh Dewi
Anjani, jalinan kasih yang sudah berlangsung cukup lama itu, akhirnya terbongkar dan
membawa akibat yang sangat buruk bagi keluarga Resi Gotama.
Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Anjani, Dewi Windradi
mengabaikan pesan Bhatara Surya, memberikan pusaka kedewataan Cupumanik
Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi
Windradi, Bhatara Surya telah berwanti-wanti untuk jangan sekah-kali benda kedewatan
itu ditunjukkan apalagi diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. Kalau pesan itu
sampai terlanggar, sesuatu kejadian yang tak diharapkan akan terjadi.
Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak
boleh dillhat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena
Cupumanik Astagina disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga
didalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kesuragaan. Dengan
membuka Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan
nyata dan jelas gambaran surga yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan.


Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh kehidupan semua
makluk yang ada di jagad raya. Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik
Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang diminta dan menjadi keinginan
pemiliknya.
Bagi masyarakat hindu, cupu ini merupakan suatu wadah berbentuk bundar berukuran
kecil terbuat dari kayu atau logam. Manik=permata, melambangkan sesuatu yang indah.
Asthagina=delapan macarn sifat yang harus dimiliki oleh seorang brahmana:
1. daya sarwa buthesu (belas kasih kepada sekalian makluk),
2. ksatim (suka memaafkan, sabar),
3. anasunyah ( tidak kecewa atau menyesal),
4. saucam (suci lahir batin),
5. anayasah (tidak mengeluarkan tenaga berlebih-lebihan. Jawa; nyengka, ngaya),
6. manggalam (beritikad baik),
7. akarpanyah (tidak merasa miskin baik dalam hal batiniah maupun lahiriah, begitu
pula dalam hal budi),
8. asprebah (tidak berkeinginan atau bahwa nafsu duniawi)].
Namun dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah melupakan pesan Bhatara
Surya. Dewi Windradi memberikan Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan
agar tidak menunjukkan benda tersebut baik kepada ayahnya maupun kepada kedua
adiknya.
Suatu kesalahan dilakukan oleh Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian
Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah
keributan diantara mereka, saling berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis
melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan
secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak


adil dengan menganak emaskan Anjani. Suatu tindakan yang menyimpang dari sifat
seorang resi.
Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia
merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu
setianya untuk memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan
hormat kepada ayahnya, Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada
ayahnya. Anjani berterus terang, bahwaa benda itu pemberian dari ibunya.
Sementara Dewi Windradi bersikap diam membisu tidak berani berterus terang dari
mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan
pada buah simalakama. Berterus terang, akan memebongkar hubungan gelapnya dengan
Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya.
Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, dan mengutuknya
menjadi patung batu, yang dengan kesaktiannya, dilemparkannya melayang, dan jatuh di
taman Argasoka kerajaan Alengka disertai kutukan, kelak akan memjelma kembali
menjadi manusia setelah dihantamkan ke kepala raksasa.
Demi keadilan, Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun
yang menemukan benda tersebut, dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi
Anjani, GuwaResi Guwarsa dan Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut.
Tetapi Cupumanik Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja telah melintas
dibalik bukit. Cupu tersebut terbelah menjadi dua bagian, jatuh ke tanah dan berubah
wujud menjadi telaga. Bagian Cupu jatuh di negara Ayodya menjadi Telaga Nirmala,
sedangkan tutupnya jatuh di tengah hutan menjadi telaga Sumala.
[Mitos yg hidup di kalangan masyarakat Dieng menyebutkan bahwa Telaga Merdada,
yang letaknya 3,5 kilometer dari Desa Dieng, dianggap sebagai penjelmaan dari Cupu
Manik Astagina. Di dekat Telaga Pengilon atau Telaga Cermin (konon cerita, bisa
dipakai untuk kaca cermin) terdapat Goa Semar. Masyarakat setempat mempercayainya
sebagai bekas tempat semedi Bodronoyo atau Semar. Goa batu ini mempunyai panjang
sekitar lima meter dan dikeramatkan oleh masyarakat Dieng].


Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh kedalam telaga,
langsung saja mendekati telaga dan meloncat masuk kedalamnya. Suatu malapetaka
terjadi, Guwarsa, Guwarsi dan Jembawan masing-masing berubah wujud menjadi seekor
manusia kera. Melihat ada seekor kera dihadapannya, Guwarsa menyerang kera itu
karena menganggap kera itu menghalang-halangi perjalanannya.
Pertarungan tak pelak terjadi diantara mereka. Pertempuran seru dua saudara yang
sudah menjadi kera itu berlangsung seimbang. Keduanya saling cakar, saling pukul
untuk mengalahkan satu dengan lainnya. Sementara Jembawan yang memandang dari
kejauhan tampak heran melihat dua kera yang bertengkar namun segala tingkah laku dan
pengucapannya sama persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-
hati Jembawan mendekat dan menyapa mereka. Merasa namanya dipanggil mereka
berhenti bertengkar. Barulah mereka sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud
menjadi seekor kera. Dan merekapun saling berpelukan! menangisi kejadian yang
menimpa diri mereka.
Adapun Dewi Anjani yang berlari-lari datang menyusul, karena merasa kepanasan,
sesampainya di tepi telaga lalu merendamkan kakinya serta membasuh mukanya, dan
wajah, tangan dan kakinya berubah ujud menjadi wajah, tangan dan kaki kera. Setelah
masing-masing mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa mereka, dengan
sedih dan ratap tangis penyesalan, mereka kembali ke pertapaan.
Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan ketiga putranya yang
telah berubah wujud menjadi kera. Setelah memberi nasehat seperlunya, Resi Gotama
menyuruh ketiga putranya untuk pergi bertapa sebagai cara penebusan dosa dan
memperoleh anugerah Dewata.
Subali tapangalong bergantungan di atas pepohonan seperti kalong (kelelawar besar)
layaknya. Sugriwa tapa ngidang mengembara dalam hutan seperti kijang, sedang
Anjani tapa ngodhok berendam di air seperti katak ulahnya di tepi telaga Madirda. la
tidak makan kalau tidak ada dedaunan atau apapun yang dapat dimakan yang melayang
jatuh di pangkuannya, dan untuk melepas rasa haus ia membasahi mulutnya dengan air
embun.


Beberapa tahun berialu, syahdan Batara Guru pada suatu waktu melanglang buana
dengan naik lembu Andininya. Ketika melewati telaga Madirda dilihatnya Anjani
bertapa berbadan kurus kering, timbul rasa belas kasihannya, maka dipetiknya dedaunan
sinom (daun muda pohon asam), dilemparkan ke arah telaga dan jatuh di pangkuan
Anjani. Anjanipun memakannya, dan iapun menjadi hamil karenanya.
Setelah tiba saatnya, bayi yang dikandungnya lahir dalam ujud kera berwarna putih
sekujur badannya. Bayi itu kemudian diberi nama Hanoman, mengacu kepada daun
sinom pemberian Batara Guru yang menyebabkan kehamilan Anjani. Dengan demikian
dituturkan bahwa Hanoman adalah putra Batara Guru dan Dewi Anjani.
Hingga saat ini belum ada teman-teman di Lombok dapat menceritakan mengapa
Gunung Rinjani ada di Lombok.. hanya mereka bercerita kadang para pendaki saat
mencapai caldera dalam keadaan capai suka mendapatkan penampakan dari Dewi
Rinjani yang cantik dengan sebagian tangannya dan mukanya berbulu mirip kera.
katanya Jika ada yg tahu kisahnya tolong dilengkapi untuk melengkapi cerita dari
gunung yang tercantik ini
Konon dalam kisah kerajaan Majapahit, Damar Wulan dapat mengalahkan Menak Jinggo
setelah dia bertapa di Gunung Rinjani. Menak Jinggo menuntut ilmunya di Gunung
Slamet. Semakin tinggi tempatnya, maka semakin besar kekuatan super natural yang
akan diperoleh.. ala hualam. hanya Tuhan yg tahu. Tapi kalau lihat sejarah
agama, kitab-kitab itu memang diturunkan di alam bebas seperti puncak gunung dan
didalam gua.
2. a.Resi Gotama, Prabu Katawirya, Dewi Windradi, Bathara Surya.
b.Di dekat Negeri Alengka.
c.Pada satu masa .
d.Kecerobohan seorang anak.
e.Jangan suka ceroboh .
f.Jangan suka ceroboh karena dapat membuat masalah yang besar.


3. Pada satu masa di dekat negri Alengka (tempat para raksasa), tersebutlah sebuah pertapaan
yang disebut dengan Gunung Sukendra. Pertapaan itu dihuni oleh Resi Gotama dan
keluarganya. Resi Gotama adalah keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari
Mahespati. Resi Gotama memiliki seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang kelak
akan menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Atas jasa-jasa dan baktinya kepada para dewa,
Resi Gotama dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dari hasil
perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa (Subali) dan
GuwaResi (Sugriwa). Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Anjani, Dewi
Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya, memberikan pusaka kedewataan Cupumanik
Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi
Windradi, Bhatara Surya telah berwanti-wanti untuk jangan sekah-kali benda kedewatan
itu ditunjukkan apalagi diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. Kalau pesan itu
sampai terlanggar, sesuatu kejadian yang tak diharapkan akan terjadi. Cupumanik
Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dillhat atau
dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik Astagina
disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga didalamnya mengandung
rahasia kehidupan alam nyata dan alam kesuragaan. Dengan membuka Cupumanik
Astagina, melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan nyata dan jelas gambaran
surga yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan. Suatu kesalahan dilakukan oleh
Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian Cupumanik Astagina, kedua adiknya,
Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan diantara mereka, saling berebut
Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan
Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosi Guwarsa dan Guwarsi menuduh
ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan Anjani. Suatu
tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi. Adapun Dewi Anjani yang berlari-lari
datang menyusul, karena merasa kepanasan, sesampainya di tepi telaga lalu merendamkan
kakinya serta membasuh mukanya, dan wajah, tangan dan kakinya berubah ujud
menjadi wajah, tangan dan kaki kera. Setelah masing-masing mengetahui adanya kutukan
dahsyat yang menimpa mereka, dengan sedih dan ratap tangis penyesalan, mereka kembali
ke pertapaan. Beberapa tahun berialu, syahdan Batara Guru pada suatu waktu melanglang
buana dengan naik lembu Andininya. Ketika melewati telaga Madirda dilihatnya Anjani
bertapa berbadan kurus kering, timbul rasa belas kasihannya, maka dipetiknya dedaunan
sinom (daun muda pohon asam), dilemparkan ke arah telaga dan jatuh di pangkuan
Anjani. Anjanipun memakannya, dan iapun menjadi hamil karenanya.Setelah tiba


saatnya, bayi yang dikandungnya lahir dalam ujud kera berwarna putih sekujur badannya.
Bayi itu kemudian diberi nama Hanoman, mengacu kepada daun sinom pemberian Batara
Guru yang menyebabkan kehamilan Anjani. Dengan demikian dituturkan bahwa Hanoman
adalah putra Batara Guru dan Dewi Anjani.
4. Judul novel : PING! Massage From Borneo
a. Molly, Archie, Karro (ping), nick, Andrea
b. Kalimantan
c. Maret 2012
d. Ringkasan:
Dimulai dari perjalanan Moly, mahasiswa pecinta satwa yang ingin sekali ke
Kalimantan dan melihat Orang utan. Saat Nick, mahasiswa asal Inggris sekaligus
sahabatnya, menawari Moly untuk menemaninya dalam penelitian di Kalimantan,
Moly langsung menyusulnya. Sesampai di sana, Moly tak hanya bertemu dengan
Nick dan Andrea (saudari Nick) yang sedang penelitian untuk skripsi mereka, tapi
Moly juga berjumpa lagi dengan Archie. Walau Moly dan Archie pernah bersahabat
dekat saat SMA dulu sebelum Archie pindah ke Kalimantan, namun mereka memiliki
sifat yang berbeda. Apalagi, Archi, putra pengusaha kelapa sawit di Kalimantan itu
kini berlagak angkuh dan tiba-tiba menyatakan perasaan yang selama ini
dipendampanya pada Moly: cinta.
Sialnya, Archie bukan pecinta binatang seperti Moly, Nick dan Andrea. Hal
tersebut kerap memicu pertengkaran Moly dan Archie. Bahkan Archie sering
menghina obsesi Moly pada satwa langka. Di saat Moly bingung dengan pernyataan
cinta dan sikap Archie yang menyebalkan, diam-diam dia mendapatkan perhatian
lebih dari Nick.
Nick membawa Moly dekat dengan hal-hal favoritnya, serta hal yang
menyentuh sisi kemanusiannya: penyelamatan orang utan. Moly bertemu Karro,
seekor anak orang utan yang kehilangan ibu dan kerabatnya saat perburuan orang
utan. Awalnya, Karro sangat pemurung dan tak mau makan sejak dibawa ke pusat
rehabilitasi satwa. Namun perhatian Moly yang tulus ternyata menyentuh Karro dan
membuatnya kembali menemukan semangat hidup. Sayangnya, Moly dan Karro harus
berpisah saat liburan Moly selesai.