Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI

HEWAN (BI-2103)
PENGUKURAN PARAMETER HEMATOLOGI DARAH PADA
MENCIT (Mus musculus)

Tanggal Praktikum: 24 September 2014
Tanggal Pengumpulan: 1 Oktober 2014

Disusun oleh :
Oliver Manuel
10613075
Kelompok 4

Asisten :
Rika Mustika
10612004


PROGRAM STUDI BIOLOGI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Darah adalah jaringan ikat yang terdiri dari sel yang diselubungi oleh
cairan ekstraselular, yang berfungsi sebagai alat transportasi O
2
dan CO
2

dalam tubuh, transportasi zat-zat yang diperlukan tubuh, sebagai regulator
suhu, serta melindungi bagian sistem kardiovaskular. Sedangkan hematologi
adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk
darah, dan penyakitnya. Hematologi mempelajari darah serta kadar komponen
yang menyusunnya, seperti hemoglobin, sel darah merah, gula darah, sel darah
putih, serta platelet (Tortora, 2011).
Penelitian ini perlu dilakukan, karena dengan melakukan pengukuran
parameter hematologi, kita dapat mengetahui adanya kelainan atau
ketidaknormalan pada darah. Pengukuran parameter hematologi sangatlah
penting perannya dalam kehidupan manusia, terutama di dalam bidang medis.
Penilitian ini bisa sangat bermanfaat dalam bidang medis untuk
menyembuhkan serta mencegah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
darah.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan yang akan kita lakukan, memiliki tujuan
berupa :
1. Menentukan nilai parameter hematologi darah mencit (Mus musculus)
2. Menentukan lapisan-lapisan histologi penyusun pembuluh darah


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Komponen-komponen pengukuran parameter hematologi
Menurut Hoffbrand dan Pettit (1987) komponen-komponen pengukuran
parameter hematologi terdiri atas :
2.1.1 Hematokrit
Hematocrit adalah istilah yang menunjukan besarnya
voume sel-sel eritrosit seluruhnya di dalam 100 mm3 darah dan
dinyatakan dalam persen (%). Nilai hematocrit adalah suatu istilah
yang artinya mpresentase berdasarkan volume dari darah, yang
terdiri dari sel darah merah ( Hoffbrand dan Pettit, 1987).
Hematokrit adalah salah satu pengukuran yang dilakukan
untuk menghitung eritrosit dalam tubuh. Pengukuran hematokrit
dilakukan pada suatu organisme untuk mengukur perbandingan
volume eritrosit terhadap plasma darah dengan persen sebagai
besarannya. Hasil yang didapat dari perhitungan hematokrit dapat
mengindikasikan penyakit-penyakit yang terjadi pada suatu
organisme tergantung dari besar atau rendahnya jumlah eritrosit
(Keogh, 2009).
2.1.2 Hemoglobin
Hemoglobin adalah protein yang terdapat pada sel eritrosit.
Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan membawanya
dari jantung ke seluruh tubuh dan mengikat karbon dioksida dari
jaringan ke jantung untuk dikeluarkan. Hemoglobin terdiri dari dua
unsur, yaitu heme (yang memberi warna sel darah) dan globin.
Heme adalah porphyrin dengan zat besi (Fe) di tengahnya,
sedangkan globin adalah protein yang mengelilingi heme. Pada
satu molekul hemoglobin terdapat empat unit heme dan juga empat
unit globin. Pengukuran hemoglobin untuk menghitung jumlah
hemoglobin yang ada pada darah. Sama seperti hematokrit, hasil
yang didapat dari perhitungan hematokrit dapat mengindikasikan
penyakit-penyakit yang terjadi pada suatu organisme tergantung
dari besar atau rendahnya jumlah eritrosit (Keogh, 2009).
2.1.3 MCV (Mean Cospuscular Volume)
MCV adalah adalah nilai rata-rata dari volume eritrosit dan
merupakan parameter yang berguna dalam mengklasifikasikan
anemia dan memberikan informasi mengenai patofisiologi dari
penyakit-penyakit pada eritrosit. Pengukuran MCV dapat salah,
jika organisme percobaan mempunyai penyakit yang menyebabkan
penggumpalan sel atau mengalami hyperglycemia yang
menyebabkan nilai MCV meningkat (Greer, 2009).
Menurut Greer (2009), MCH dapat dihitung dengan rumus :


2.1.4 MCH (Mean Cospuscular Hemoglobin)
MCH adalah pengukuran rata-rata hemoglobin yang ada
pada satu eritrosit. Pengukuran MCH dapat salah jika organisme
percobaan mengalami hyperlipidemia yang akan meningkatkan
rata-rata hemoglobin yang terukur dikarena meningkatnya
kekeruhan plasma sehingga pengukuran hemoglobin menjadi
meningkat. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan sentrifugasi
dan penghitungan manual (Greer, 2009).
Menurut Greer (2009), MCH dapat dihitung dengan rumus :




2.1.5 MCHC (Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration)
MCHC adalah nilai rata-rata dari konsentrasi hemoglobin
terhadap hemaotkrit yang diberikan. Setelah MCHC diketahui,
rasio perbandingan massa hemoglobin dengan hematokrit akan
diketahui. Keakuratan dari nilai MCHC dipengaruhi oleh factor-
faktor yang mempengaruhi pengukuran dari hemoglobin atau
hematocrit (Greer,2009).
Menurut Greer (2009), MCHC dapat dihitung dengan rumus :

(

)



2.1.6 Pengukuran sel darah putih
Sel darah putih dapat diukur dengan menggunakan alat
bantu hemocytometer dengan rumus :




Dimana :




Sama halnya dengan penghitungan sel darah merah, metode
penghitungan ini dapat memberikan galat yang besar yang
disebabkan oleh kesalahan perhitungan serta faktor keikutsertaan
eritrosit dalam perhitungan. (Greer et al., 2009)
2.1.7 Pengukuran sel darah merah
Pada umumnya, sel darah merah dalam darah dapat
dihitung dengan menggunakan hemocytometer dengan rumus :




Dimana :




Akan tetapi, metode penghitungan ini dapat memberikan
galat yang besar yang disebabkan oleh kesalahan perhitungan serta
faktor keikutsertaan leukosit dalam perhitungan. (Greer et al.,
2009)
2.2 Komponen-komponen darah
Darah adalah jaringan ikat yang terdiri dari sel yang diselubungi oleh
cairan ekstraselular. Darah berfungsi sebagai alat transportasi O
2
dan CO
2

dalam tubuh, transportasi zat-zat yang diperlukan tubuh, sebagai regulator
suhu, serta melindungi bagian sistem kardiovaskular (Tortora, 2011).
Komponen penyusun darah terdiri dari :
2.2.1 Sel darah merah (eritrosit)
Sel darah merah, atau disebut juga eritrosit mengandung
protein pembawa oksigen yang disebut hemoglobin. Hemoglobin
berfungsi sebagai pengikat oksigen serta sebagai pigmen yang
memberi warna merah pada darah. Pria dewasa memiliki sekitar 5,4
juta sel darah merah per mikroliter darah, sementara wanita dewasa
memiliki sekitar 4,8 juta sel darah merah per mikroliter darah. Sel
darah merah memiliki diameter sebesar 7-8 m dan memiliki
jumlah yang sangat banyak didalam darah. Sel darah merah
memiliki siklus hidup sebanyak 120 hari (Tortora, 2011).
2.2.2 Sel darah putih (leukosit)
Leukosit pada tubuh memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit
dari sel eritrosit, yaitu sebesar 1% dari volume darah. Leukosit
memiliki fungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi yang masuk.
Leukosit dibagi menjadi dua bagian, yaitu Granulosit(sitoplasma
terdapat granula) dan Agranulosit (sitplasma tidak ada granula). Pada
granulosit terdapat tiga jenis granulosit yaitu neutrofil, eusinofil dan
basofil. Neutrofil adalah jenis leukosit yang paling banyak ada yaitu
sebesar 55% sampai 60% dari total leukosit. Pada nukleousnya
terdapat tiga sampai empat lobus. Ukuran normal dari neutrofil
adalah 10 sampai 15 m (Cashen, 2010).
Eusinofil jarang ditemukan pada darah karena dari total
semua leukosit, banyaknya eusinofil hanya 0,5% sampai 4%.
Eusinofil memiliki ukuran yang sama dengan neutrofil yaitu 10
sampai 15 m. Granula yang berada pada sitoplasma berwarna
merah atau jingga dengan dua lobus pada nukelus. Basofil adalah
jenis leukosit yang sangat jarang karena hanya terdapat sebesar
0,01% hingga 0,03% saja dari total leukosit. Ukuran yang dimiliki
sama dengan eusinofil dan neutrofil. Pada sitoplasma terdapat
granula berwarna biru gelap dengan dua lobus pada nukleus (Cashen,
2010).
Pada Agranulosit dibagi menjadi dua jenis, yaitu limfosit dan
monosit. Limfosit banyak tersebar pada darah dengan presentase
sebesar 25% sampai 35% dari total leukosit. Ukuran leukosit normal
adalah sebesar 7 sampai 18m. Perbedaan dari limfosit T dan B
cukup sulit dibedakan. Limfosit memiliki nukleus menggumpal dan
berwarna gelap dengan pinggiran pada sitoplasma sedikit biru.
Monosit terdapat sebanyak 4% sampai 8% dari total leukosit dan
merupakan sel leukosit terbesar dengan ukuran sebesar 12 hingga
20m. Sitoplasma berwarna biru dengan nukleus berbentuk huruf U.
Monosit berfungsi sebagai fagosit (Cashen, 2010).




2.2.3 Plasma darah
Plasma darah terdiri dari 91,5% air dan 8,5% larutan (7%
protein plasma, 1,5% larutan lain). Protein yang berada pada
plasma darah dapat ditemukan juga di bagian tubuh lainnya, tetapi
yang berada di darah disebut protein plasma. Protein plasma
disintesis oleh bagian yang disebut hepatosit. Hepatosit
menyintesis protein plasma, seperti albumin (54% protein plasma),
globulin (38% protein plasma), serta fibrinogen (7% protein
plasma) (Tortora, 2011).

2.3 Penyakit darah yang berhubungan dengan parameter yang terukur
Menurut Tortora (2011), penyakit-penyakti darah yang berhubungan
dengan parameter yang terukur adalah :
2.3.1 Anemia
Anemia adalah penyakit yang disebabkan oleh rendahnya
jumlah darah yang mengandung oksigen dalam tubuh, dikarenakan
oleh jumlah hemoglobin dalam darah yang sedikit sehingga darah
tidak bisa mengikat oksigen yang banyak. Pada umumnya,
penderita penyakit anemia sering mudah merasa lelah dan tak
tahan dingin. Bisa terjadi demikian karena darah tidak memiliki
oksigen yang cukup untuk menghasilkan ATP dan panas dalam
tubuh. Selain itu, penderita anemia kulitnya pucat, karena
kurangnya hemoglobin yang menghasilkan pigmen-pigmen pada
darah (Tortora, 2011).
2.3.2 Hemophilia
Hemophilia adalah penyakit dimana darah sukar membeku
yang disebabkan oleh gangguan pada trombosit sehingga trombosit
sulit untuk melakukan blood clotting pada luka yang terbuka.
Penderita penyakit hemophilia pada umumnya sering mimisan,
terdapat darah pada urin. Penyakit hemophilia dapat diatasi dengan
transfusi plasma darah yang bagus atau dengan memakai drug
desmopressin (DDAVP) yang dapat meningkatkan pembekuan
darah (Tortora, 2011).
2.3.3 Leukimia
Leukimia adalah penyakit dimana sang penderita memiliki
jumlah leukosit atau sel darah putih yang berlebihan. Dapat terjadi
demikian karena sel darah putih yang membelah dan bertambah
banyak tanpa dapat dikontrol. Hasilnya sel darah merah yang
mengandung oksigen berkurang dan kerja platelet dalam blood
clotting menjadi abnormal. Selain itu, sel darah putih yang terlalu
banyak akan menyebar ke bagian tubuh yang lain dan
menyebabkan kerusakan fungsi tubuh. Hasilnya, penderita
merasakan gejala anemia seperti mudah lelah, tak tahan dingin, dan
kepucatan. Selain itu, berat badan menurun, badan menjadi panas,
pendarahan berlebihan dan keringat dingin juga diderita oleh sang
penderita (Tortora, 2011).
2.3.4 Sickle-Cell Disease
Sickle-Cell Disease adalah kelainan dimana sang penderita
memiliki sel darah merah yang mengandung Hb-S, sebuah
hemoglobin abnormal. Saat Hb-S melepaskan oksigen ke dalam
larutan interstitial, Hb-S akan membentuk sebuah sel darah yang
berbentuk sabit. Sel sabit dapat pecah dengan mudah, memiliki
siklus hidup sekitar 10-20 hari. Hal ini dapat menyebabkan anemia,
dimana sang penderita dapat bernapas lebih cepat, mudah
kehilangan stamina, terlihat pucat dan dapat memperlambat
pertumbuhan dan perkembangan pada usia dini (Tortora, 2011).





BAB III
METODOLOGI


3.1 Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
Tabel 3.1 Alat dan bahan

3.2 Cara kerja
Dalam praktikum kali ini, cara kerja yang dilakukan dibagi menjadi 5
bagian, yaitu :
3.2.1 Pembuatan preparat apusan darah
Pertama-tama darah mencit diambil setetes dengan pipet,
lalu darah diletakkan pada object glass. Disapukan secara merata di
permukaan, lalu difiksasi dengan metanol dan dibiarkan selama 3-5
menit. Setelah itu diteteskan larutan Giemsa 9-10 tetes, lalu
Alat Bahan
Pipet khusus eritrosit Darah Mencit (Mus musculus)
Pipet khusus leukosit Larutan Hayem
Object glass Larutan KOH 20%
Mikroskop Larutan eosin
Hemocytometer Larutan Turk
Pipet khusus alat ukur Sahli Vaselin / Malam
Glukostrip Preparat vena cava posterior, aorta
dorsalis, serta arteri penyebar
Akuades
Heparin
Sarung tangan bedah
dibiarkan 20-30 menit, jika sudah selesai segera dicuci dan
dikeringkan.
3.2.2 Penghitungan jumlah eritrosit (sel darah merah)
Mula-mula daerah dihisap dengan menggunakan pipet
khusus eritrosit sampai skala 0,5. Setelah itu ditambahkan larutan
Hayem sampai skala 101, dibolak-balik agar homogen. Beberapa
tetes larutan dibuang dari ujung pipet hingga skala 1. Teteskan
pada hemocytometer, lalu dihitung pada 5 ruang persegi (R) pada
hemocytometer.
3.2.3 Penghitungan jumlah leukosit (sel darah putih)
Mula-mula darah dihisap menggunakan pipet khusus
leukosit sampai skala 0,5, kemudian ditambahkan larutan Turk
sampai skala 11. Dibolak-balik hingga homogen. Beberapa tetes
pertama larutan dibuang dari ujung pipet sampai skala 1, lalu
teteskan larutan pada sisi kaca tutup hemocytometer. Leukosit
dihitung pada 4 ruang persegi (W).
3.2.4 Pengukuran volume hematocrit
Mula-mula tabung kapiler berdiameter 3 mm diisi dengan
darah dan ujungnya ditutup demgan menggunakan malam. Tabung
diletakkan pada alat sentrifuga berkecepatan tinggi dengan ujung
yang tertutup mengarah ke tepi alat sentrifuga. Kemudian tabung
disentrifugasi selama 2-5 menit dengan kecepatan 10.000-15.000
rpm. Volume hematokrit ditentukan dengan menggunakan skala
Wintrobe. Bagian dasar tabung yang berisi eritrosit diletakkan di
garis paling bawah skala dan dapat diukur volume hematokritnya.
3.2.5 Pengukuran konsentrasi hemoglobin
Mula-mula darah dihisap menggunakan pipet khusus alat
ukur Sahli sampai skala 20 L, kemudian ditambahkan 1 tetes HCl
1N pada tabung alat ukur Sahli. Lalu, diaduk hingga homogen.
Setelah itu, diamati dan dibandingkan dengan larutan standar
hemoglobin. Setelah itu ditetesi akuades dan diaduk agar homogen
hingga sebanding dengan larutan standar. Tabung sampel diamati,
lalu ditentukan konsentrasi hemoglobin dalam satuan g/dL.
BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN


4.1 Pengolahan Data
Dalam praktikum kali ini, pengolahan data dari hasil pengamatan
yang didapat dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
4.1.1 Perhitungan parameter hematologi
Pengamatan jumlah hemoglobin di dalam darah
Jumlah hemoglobin = 10,4


Perhitungan jumlah sel darah merah










Perhitungan jumlah leukosit










Pengukuran volume hematocrit
Hematokrit = 44%
Plasma darah = 46%
Buffy coat = 10%




Perhitungan MCV


(



= 8,37


Perhitungan MCH
=
(

)
(



= 1,9
Perhitungan MCHC
=
(

)

%
=


=23,636










4.1.2 Tabel foto pengamatan histologi pembuluh darah
Tabel 4.1 Hasil pengamatan
Hasil Pengamatan Gambar Literatur
1. Aorta

Gambar 4.1 Aorta (Perbesaran 100x)


Gambar 4.5 Aorta (Wolexik, 2011)
2. Arteri menyebar



Gambar 4.6 Arteri menyebar (King
David, 2012)
Gambar 4.2 Arteri menyebar
(Perbesaran 100x)

3. Vena cava posterior

Gambar 4.3 Vena cava posterior
(Perbesaran 100x)



Gambar 4.7 Vena cava posterior (King
David, 2012)
4. Apusan darah

Gambar 4.4 Apusan darah
(Perbesaran 400x)



Gambar 4.8 Apusan darah (Martini,
2012)

4.2 Pembahasan
Dalam praktikum kali ini, reagen-reagen yang digunakan adalah
larutan Hayem, Turk, HCL, akuades, heparin, alkohol, dan giemsa.
Masing-masing reagen memiliki fungsi-fungsi yang berbeda-beda. Larutan
hayem sendiri berfungsi sebagai larutan fisiologis bagi eritrosit sekaligus
melisiskan leukosit dan sel-sel lainnya. Larutan Turk berfungsi sebagai
larutan fisiologis bagi leukosit sekaligus melisiskan eritrosit dan sel-sel
lainnya. Larutan HCl berfungsi untuk mencampurkan 2 buah larutan
menjadi campuran yang homogen. Akuades berfungsi untuk
mengencerkan larutan. Heparin berfungsi sebagai antikoagulan untuk
mencegah darah menggumpal. Alkohol berfungsi untuk membunuh
leukosit agar tidak dapat bergerak bebas saat diamati. Dan, larutan
Giemsa berfungsi sebagai pewarna preparat apusan darah, agar
memudahkan dalam proses mengamati di mikroskop (Tian, 2010).
Komposisi dari larutan Hayem sendiri adalah sodium klorida
sebanyak 0,5 mg, sodium sulfat sebanyak 2,5 mg, merkuri klorida
sebanyak 0,25 mg, dan air suling sebanyak 100 ml. Dan komposisi dari
larutan Turk adalah gentian violet(1%) sebanyak 1 ml, glacial acteic acid
sebanyak 2 ml dan air suling sebanyak 97 ml (Sachdev, 2000).
Menurut Thrall (2004) jumlah eritrosit rata-rata pada mencit
normal berkisar dari 6,5 juta

10,1 juta

. Jumlah eritrosit
yang didapat dalam praktikum kali ini ialah 5,256150 juta

. Hasil
yang didapat berbeda dengan literature yang ada. Hal ini mungkin
disebabkan karena ketidaktelitian dalam menghitung jumlah eritrosit di
dalam hemocytometer, terlalu banyak larutan hayem, dan adanya
penghambatan dalam pembentukan eritrosit dalam tubuh mencit.
Menurut Paulsen (2000) jumlah leukosit rata-rata pada mencit
normal berkisar sekitar 5785

. Jumlah leukosit yang didapat dalam


praktikum kali ini ialah 1175

. Hasil yang didapat berbeda jauh


dengan literature yang ada. Hal ini mungkin disebabkan karena
ketidaktelitian dalam menghitung jumlah leukosit di dalam
hemocytometer, terlalu banyak larutan Turk, dan adanya penghambatan
dalam pembentukan leukosit dalam tubuh mencit.
Menurut Thrall (2004) jumlah hematocrit yang normal berkisar
dari 32,8 % - 48,0 % , jumlah hemoglobin yang normal berkisar dari 10,1

16,1

, jumlah MCV yang normal berkisar dari 42,3

55,9

,
jumlah MCH yang normal berkisar dari 13,7 pg 18,1 pg, dan jumlah
MCHC yang normal berkisar dari 29,5

- 39,1

. Dari hasil perhitungan


yang didapat, nilai hematocrit dan nilai hemoglobin sesuai dengan
literature. Sedangkan nilai MCH, MCV, dan MCHC yang didapat berbeda
dengan literature. Hal ini disebabkan karena jumlah eritrosit yang didapat
sudah berbeda dengan literature yang ada, sehingga akan menyebabkan
perbedaan dalam perhitungan MCH dan MCVnya.
Menurut Junqeira dan Carneiro (1980) lapisan-lapisan yang
menyusun pembuluh darah pada umumnya, terbagi menjadi 4, yaitu :
1. Tunika intima(interna)
Tunika intima terdiri atas selapis sel endotel yang membatasi
permukaan dalam pembuluh. Di bawah endotel adalah lapisan
subendotel, yang terdiri atas jaringan penyambung jarang halus
yang kadang-kadang mengandung sel otot polos yang berperan
untuk kontraksi pembuluh darah.
2. Tunika media
Tunika media terdiri dari sel-sel otot polos yang tersusun
melingkar(sirkuler). Pada arteri, tunika media dipisahkan dari
tunika intima oleh suatu membrane elastic interna. Membran
ini terdiri atas elastin, biasanya berlubang-lubang sehingga zat-
zat dapat berdifusi melalui lubang-lubang yang terdapat dalam
membrane dan memberi makan pada sel-sel yang terletak jauh
di dalam dinding pembuluh. Pada pembuluh besar, sering
ditemukan membrane elastika externa yang lebih tipis yang
memisahkan tunika media dari tunika adventitia yang terletak
di luar.
3. Tunika adventitia (eksterna)
Tunika adventitia terdiri atas jaringan penyambung dengan
serabut-serabut elastin. Pada pembuluh yang lebih besar, vasa
vasorum (pembuluh dalam pembuluh) bercabang-cabang luas
dalam adventitia.
4. Vasa vasorum
Vasa vasorum memberikan metabolit-metabolit untuk
adventitia dan tunika media pembuluh-pembuluh besar, karena
lapisan-lapisannya terlalu tebal untuk diberi makanan oleh
difusi dari aliran darah.
Perbedaan antara pembuluh darah dapat dibedakan dari tebal tipis
dan ada atau tidaknya suatu lapisan. Aorta sendiri berbentuk bulat dan
lebih tebal, disusun oleh jaringan ikat dan otot polos yang berfungsi
sebagai penahan aliran darah baru yang tekanan dan kecepatnnya tinggi.
Aorta memiliki semua lapisan pada pembuluh darah dan tunica media
sangat tebal. Berbeda dari aorta, vena cava berbentuk tidak bulat atau tidak
rata, memiliki tunica media yang tipis, tidak terdapat lamina elastika
eksterna dan interna, dan terdapat banyak lamella elastin. Arteri penyebar
berbentuk bulat seperti aorta namun memiliki diameter yang lebih kecil
(Junqeira dan Carneiro, 1980). Hasil pengamatan pembuluh darah dengan
literature tidak jauh berbeda atau bisa dikatakan sesuai dengan literature.











BAB V
KESIMPULAN


1. Nilai parameter hematologi mencit, berupa :
Jumlah eritrosit : 5.256.150


Jumlah leukosit : 1.175


MCH : 1,9
MCV : 8,37


MCHC : 23,636


Jumlah hemoglobin : 10,4


Jumlah hematocrit : 44%
2. Lapisan-lapisan histologi penyusun pembuluh darah ialah lumen,tunica
intima, tunica media, vasa vasorum, dan tunica eksterna.












DAFTAR PUSTAKA


Bartholomew, Martini, Nath. 2012. Fundamentals of Anatomy and Physiology
9th. New York : Pearson International
Greer, John P.2009. Wintrobe's Clinical Hematology Vol.1 12th edition.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins
Hoffbrand, A.V dan J.E Pettit. 1987. Kapita Selekta Haemotologi (Essential
Haemotology) Edisi kedua. Jakarta : EGC
Keogh, James.2009.Nursing Laboratory & Diagnostic Tests
Demystified.McGraw-Hill Professional
Paulsen, D.F. 2000. Histology and Cell Biology 4
th
edition. New york : Mc Graw-
Hill Professional
Thrall, M.A. 2004. Veterinary Hematology and Clinical Chemistry. Maryland :
Lippincott Williams and Wilkins
Tian, Yuting, et al.2010. Effects of Cell Lysis Treatments on the Yield of
Coenzyme Q10 Following Agrobacterium tumefaciens Fermentation.
Tortora, Gerard J. dan Bryan Derrickson. 2011. Principles of Anatomy and
Physiology 13th. New York : John Wiley and Sons Inc
Snyder, F., J. A. Hobson, D. F. Morrison, F. Goldfrank. 1964. Changes in
Respiration, Heart Rate, and Systolic Blood Pressure in Human Sleep.
Jurnal Aplikasi Fisiologi. Vol 19, hlm 417-422.