Anda di halaman 1dari 5

Density and

Compressibility
Secara umum, massa jenis minyak mineral petroleum berkisar dari sekitar 850-900 kg/m3 pada
15.6
o
C (0.85-0.90 g/cm3 atau 0.85-0.90 berat jenis, yang merupakan kepadatan minyak dibagi
dengan massa jenis air sekitar 1 g/cm3).
Dimana koefisien ekspansi mineral petroleum ini sebesar 0.00063
Saat tekanan meningkat, molekul minyak menjadi lebih dan lebih padat hingga akhirnya mencapai tekanan
padatan. Untuk minyak mineral, hubungan berikut mencerminkan kompresibilitas meningkatnya tekanan
atmosfer sampai minyak memadat setelah itu akan kehilangan sekitar 30% dari volume (Hamrock, 1994):
Pelumas dengan kompresibilitas bawah tekanan yang meningkat sering diberikan sebagai garis potong
modulus limbak isothermal B, didefinisikan sebagai berikut untuk memberikan nilai rata-rata modulus limbak
rentang tekanan pada suhu tertentu (Chen, 1997):
Dimana
B = modulus limbak isothermal pada tekanan P (GPa) dan temperatur tertentu
V
P
= spesifik volume pada tekanan P, cm
3
/g ; sama dengan kebalikan dari densitas minyak di g/cm3
P
0
= tekanan atmosfer 0,0001 GPa
V
0
= spesifik volume pada tekanan atmosfer, cm
3
/g
Untuk minyak mineral dan hidrokarbon murni pada suhu tertentu, garis potong modulus limbak isothermal
B
m
pada tekanan P yang berhubungan dengan viskositas minyak dan suhu sebagai berikut (Lagu et al, 1991.):
Dimana
S diberikan berikut untuk berbagai kelas minyak sintetis:
Untuk minyak sintetis, faktor deviasi S ditambahkan untuk memberikan garis potong modulus
limbak isothermal B :
Fluid class Deviation Factoer S, GPa
Methyl silicone -0.755
Phenyl silicone -0.160
Perfluoropolyether -0.823
Polybutene -0.268
Polyalphaolefin (PAO) -0.091
Ester +0.092
Pentaaerythritol ester +0.219
Phosphate ester +0.301
Polyphenyl ether +0.709