Anda di halaman 1dari 25

DETERMINAN

1. PENDAHULUAN
Fungsi-fungsi yang umum dikenal seperti () dan ()


mengasosiasikan suatu bilangan real () dengan sebuah nilai real dari variabel .
Kedua fungsi tersebut dapat digambarkan sebagai fungsi bernilai real dari sebuah
variabel real, karena keduanya hanya memiliki nilai real. Pada materi determinan ini,
akan dikaji suatu fungsi bernilai real dari sebuah variabel matriks, yaitu suatu fungsi
yang mengasosiasikan sebuah bilangan real () dengan sebuah matriks .
Pengkajian suatu fungsi tersebut dinamakan fungsi determinan.
1.1.PERMUTASI
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang fungsi determinan, perlu sedikit diketahui
beberapa hal yang menyangkut dengan permutasi. Sebuah permutasi himpunan-
himpunan bilangan bulat * + adalah sebuah susunan bilangan-bilangan bulat
tersebut, yang tersusun menurut suatu aturan tanpa mengulangi atau menghilangkan
bilangan-bilangan tesebut.
Contoh :
Tuliskan permutasi dari himpunan bilangan bulat *+
Pada himpunan *+ terdapat 6 permutasi yang berbeda. 6 Permutasi itu adalah:
()()()
()()()
Penyusunan permutasi suatu himpunan bilangan dapat dipermudah dengan metoda
Pohon Permutasi. Metoda ini menyusun permutasi-permutasi suatu himpunan
bilangan secara sistematis.
Contoh :
Gambarkan permutasi dari himpunan bilangan bulat *+ dengan pohon
permutasi.

Gambar 1. Pohon Permutasi Himpunan Bilangan {1,2,3,4}
1
2
3
4
4
3
3
2
4
4
2
4
2
3
3
2
2
1
3
4
4
3
3
1
4
4
1
4
1
3
3
1
3
1
2
4
4
2
2
1
4
4
1
4
1
2
2
1
4
1
2
3
3
2
2
1
3
3
1
3
1
2
2
1
Tinjau Gambar 1. Keempat kotak dengan angka 1,2,3,4 di bagian atas gambar
tersebut menyatakan pilihan yang mungkin untuk kedudukan pertama dalam
permutasi. Jadi, bila permutasi dimulai dengan ( ) atau kedudukan
pertama diisi dengan 2 maka ketiga kemungkinan untuk mengisi kedudukan
kedua ialah 1,3 dan 4.Tiga cabang berikutnya yang berasal dari masing-
masing kotak tersebut menyatakan pilihan yang mungkin untuk kedudukan
kedua di dalam permutasi. Jadi, bila permutasi dilanjutkan dengan ( )
atau kedudukan kedua diisi dengan 3 maka dua kemungkinan untuk mengisi
kedudukan ketiga ialah 1 dan 4. Dua cabang berikutnya yang berasal dari tiga
cabang sebelumnya menyatakan pilihan yang mungkin untuk kedudukan
ketiga di dalam permutasi dan cabang tunggal yang terakhir menyatakan satu-
satunya pilihan yang memungkinkan untuk kedudukan keempat(terakhir)
dalam permutasi himpunan bilangan *+. Jadi, bila permutasi dilanjutkan
dengan ( ) atau kedudukan ketiga diisi dengan 1 maka satu-satunya
pilihan untuk mengisi kedudukan keempat(terakhir) ialah 4.
Permutasi-permutasi yang berbeda-beda dapat disusun dari penelusuran pohon
permutasi yang telah digambarkan. Permutasi-permutasi itu adalah :
() () () ()
() () () ()
() () () ()
() () () ()
() () () ()
() () () ()
Dari hasil di atas dapat diperoleh bahwa ada 24 permutasi dari himpunan
bilangan *+. Hasil ini sebenarnya dapat dibuat tanpa membuat susunan
permutasi, dengan cara berikut. Kedudukan pertama, dapat diisi dengan 4 cara,
kemudian kedudukan kedua dapat diisi dengan 3 cara, maka pada kedudukan
pertama sampai kedua ada cara pengisian. Kemudian kedudukan ketiga
dapat diisi dengan 2 cara, maka pada kedudukan pertama sampai ketiga
terdapat cara pengisian. Akhirnya karena kedudukan terakhir hanya
dapat diisi dengan 1 cara, maka terdapat cara pengisian untuk
keempat kedudukan permutasi dari himpunan bilangan *+.
Sehingga pada umumnya, himpunan ( ) akan memiliki ( (
) ( ) ( ) )
Untuk menyatakan sebuah permutasi umum dari suatu himpunan * +
maka permutasinya dapat dituliskan (

).

adalah bilangan pada kedudukan


pertama dalam permutasi,

merupakan bilangan pada kedudukan kedua pada


permutasi, begitu seterusnya hingga

merupakan bilangan pada kedudukan ke n


dalam permutasi suatu himpunan bilangan.
1.2.INVERSI
Sebuah inversi dikatakan terjadi di dalam suatu permutasi (

) bila suatu
bilangan yang lebih besar mendahului bilangan bulat yang lebih kecil dalam suatu
permutasi. Jumlah inversi seluruhnya yang terjadi dalam suatu permutasi dapat
dihitung sebagai berikut. Pertama, tentukan banyaknya bilangan bulat yang lebih kecil
daripada

dan yang mengikut

di dalam permutasi tersebut. Kemudian, tentukan


banyaknya bilangan bulat yang lebih kecil daripada

dan yang mengikut

di dalam
permutasi tersebut. Proses ini diteruskan untuk

. Jumlah bilangan ini akan


sama dengan jumlah inversi seluruhnya di dalam permutasi tersebut.
Contoh :
Tentukan banyaknya inversi di dalam permutasi-permutasi berikut :
1. (6,1,3,4,5,2)
2. (2,4,1,3)
3. (1,2,3,4)

1. i.
ii.
iii.
iv.
v.

2. i.
ii.
iii.

3. i.
ii.
iii.


1.3. PERMUTASI GENAP DAN PERMUTASI GANJIL
Sebuah permutasi dikatakan genap jika jumlah inversi seluruhnya adalah
sebuah bilangan bulat yang genap dan nol. Sedangkan sebuah permutasi dikatakan
ganjil jika jumlah inversi seluruhnya adalah sebuah bilangan bulat yang ganjil.
Contoh :
Klasifikasi permutasi dari himpunan bilangan *+ sebagai genap atau
ganjil.
Tabel berikut mengklasifikasikan berbagai permutasi dari himpunan bilangan
*+ sebagai genap atau ganjil.
Permutasi Banyaknya Inversi Klasifikasi
() 0 Genap
() 1 Ganjil
() 1 Ganjil
() 2 Genap
() 2 Genap
() 3 Ganjil

1.4.HASIL PERKALIAN ELEMENTER
Tinjau suatu matriks :

[

]
Yang diartikan dengan hasil perkalian elementer dari adalah setiap hasil
perkalian entri dari , yang tidak boleh dua diantaranya berasal dari baris atau
kolom yang sama.

Contoh :
Tentukan semua hasil perkalian elementer dari matriks-matriks :
i.[

]
ii.[

]
i. Karena setiap hasil perkalian elementer memiliki 2 faktor, dan karena setiap
faktor berasal dari baris yang berbeda, maka sebuah hasil kali elementer dapat
dituliskan dalam bentuk :


Dimana titik kosong menandakan nomor kolom. Karena tidak ada dua faktor
di dalam hasil perkalian tersebut yang berasal dari kolom yang sama maka
nomor kolom haruslah atau .Maka hasil perkalian elementernya
hanyalah :

dan


ii. Karena setiap hasil perkalian elementer memeiliki 3 faktor, yang masing-
masing berasal dari baris yang berbeda, maka sebuah hasil kali elementer
dapat dituliskan dalam bentuk :


Karena tidak ada dua faktor di dalam hasil perkalian tersebut berasal dari
kolom yang sama, maka nomor kolom tidak memiliki pengulangan, sebagai
konsekuensinya, maka noomor-nomor kolom tersebut harus membentuk
permutasi dari himpunan *+. Permutasi yang ini menghasilkan
daftar hasil perkalian elemeter yang berikut :


Seperti yang ditunjukan oleh contoh di atas, maka sebuah matriks A yang berukuran
mempunyai hasil perkalian elementer. Hasil-hasil perkalian elementer tersebut
adalah hasil-hasil perkalian yang berbentuk

dimana (

)
adalah sebuah permutasi dari himpunan {1,2,...,n}. Yang dapat diartikan dengan
sebuah hasil perkalian elementer bertanda dari A adalah sebuah hasil perkalian
elementer

dikalikan dengan atau . Tanda digunakan jika


(

) adalah sebuah permutasi genap dan tanda jika (

) adalah
permutasi ganjil.
Contoh :
Daftarkan semua hasil perkalian elementer yang bertanda dari matriks-
matriks:
i.[

]
ii.[

]
i.
Hasil perkalian
elementer
Permutasi yang
diasosiasikan
Genap atau ganjil
Hasil perkalian
elementer yang
bertanda

() Genap

() Ganjil



ii.
Hasil perkalian
elementer
Permutasi yang
diasosiasikan
Genap atau ganjil
Hasil perkalian
elementer yang
bertanda

() Genap

() Ganjil

() Ganjil

() Genap

() Genap

() Ganjil



2. FUNGSI DETERMINAN
Misalkan adalah sebuah matriks persegi (). Fungsi determinan
dinyatakan oleh , dan () didefinisikan sebagai jumlah semua hasil perkalian
elementer yang bertanda dari .

Contoh :
Tentukan fungsi determinan matriks-matriks berikut :
i.[

]
ii.[

]
i. [


ii. [


Sejatinya fungsi determinan ini berkaitan dengan ukuran matriks persegi,
makin besar ukurannya makin banyak permutasinya makin banyak pula hasil
perkalian elemeternya, sehingga fungsi determinan pada ukuran matriks yang besar
akan semakin sulit dicari dengan hanya menggunakan perhitungan manual.
Perhitungan ini dapat disederhanakan melalui pengembangan sifat-sifat determinan
dan metoda perhitaungan determinan yang akan dibahas selanjutnya.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa determinan A bisa dituliskan secara simbolis
sebagai:
()


dimana menunjukkan bahwa suku-suku tersebut harus dijumlahkan terhadap semua
permutasi (

) dan atau dipilih dalam setiap suku sesuai dengan genap


ganjilnya suatu permutasi. Notasi alternatif untuk determinan sebuah matriks adalah
||.
Contoh :
Diberikan suatu matriks sebagai berikut :
[


]
Tentukan fungsi determinan matriks A dan nilainya.
() () () () ()
Atau
|| |


|

3. PERHITUNGAN DETERMINAN DENGAN REDUKSI BARIS
Determinan sebuah matriks dapat dihitung dengan mereduksi matriks tersebut
menjadi bentuk eselon baris. Matriks dapat dikatakan Eselon-baris apabila memenuhi
persyaratan berikut :
1.) Di setiap baris, angka pertama selain 0 harus 1 (leading 1).
2.) Jika ada baris yang semua elemennya nol, maka harus dikelompokkan di
baris akhir dari matriks.
3.) Jika ada baris yang leading 1 maka leading 1 di bawahnya, angka 1-nya
harus berada lebih kanan dari leading 1 di atasnya.
4.) Jika kolom yang memiliki leading 1 angka selain 1 adalah nol maka
matriks tersebut disebut Eselon-baris tereduksi
Contoh:
syarat 1: baris pertama disebut dengan leading 1

syarat 2: baris ke-3 dan ke-4 memenuhi syarat 2

syarat 3: baris pertama dan ke-2 memenuhi syarat 3

syarat 4: matriks dibawah ini memenuhi syarat ke 4 dan disebut Eselon-baris
tereduksi.

Metoda reduksi baris ini cukup penting karena metoda ini menghindari
perhitungan yang panjang dalam memakaikan definisi determinan secara langsung.
Mula mula ditinjau 2 golongan matriks yang determinannya dapat dihitung dengan
mudah, tanpa memperdulikan besarnya ukuran matriks tersebut.
Teorema 1. Jika adalah sembarang matriks kuadrat yang mengandung sebarisan
bilangan nol, maka ()
Karena sebuah hasil perkalian elementer yang bertanda dari mengandung 1
faktor dari setiap baris dari , maka tiap-tiap hasil perkalian elementer yang bertanda
mengandung sebuah faktor dari baris bilangan nol dan sebagai konsekuensinya akan
mempunyai nilai nol.Karena () adalah jumlah dari semua hasil perkalian
elementer yang bertanda, maka dapat diperoleh ()
Suatu matriks yang umum memiliki sebarisan bilangan nol adalah matriks
segitiga. Matriks kuadrat yang memiliki entri dibawah diagonal utama adalah nol
disebut dengan matriks segitiga atas. Matriks kuadrat yang memiliki entri diatas
diagonak utama adalah nol disebut matriks segitiga bawah.
Contoh :
Bentuk matriks segitiga atas 4x4 yang umum :
[

]


Bentuk matriks segitiga bawah 4x4 yang umum :
[

]

Hitunglah det(A) dimana :
[

]
Satu-satunya hasil perkalian elementer dari A yang tidak sama dengan nol
adalah

Sehingga diperoleh bahwa :


()


Suatu argumentasi yang serupa dengan teorema 1 dipakaikan pada sembarang
matriks segitiga untuk menghasilkan suatu hasil berikut.
Teorema 2. Jika A adalah sebuah matriks segitiga yang berukuran maka det(A)
adalah hasil perkalian entri-entri pada diagonal utama, yaitu ()

.
Contoh :
|
|





|
|
()()()()()
Teorema berikutnya memperlihatkan bagaimana sebuah operasi baris
elementear pada sebuah matrisk akan mempengaruhi nilai determinannya.
Teorema 3. Misalkan A adalah sembarang matriks .
(a) Jika A adalah matriks yang dihasilkan bila sebuah baris tunggal dari A dikalikan
oleh sebuah konstanta k, maka () ()
(b) Jika A adalah matriks yang dihasilkan bila dua baris dari A dipertukarkan, maka
() ()
(c) Jika A adalah matriks yang dihasilkan bila sebuah kelipatan dari satu baris dari
A ditambahkan ke baris lain, maka () ()
Contoh :
Tinjau Matriks-matriks :
[



]

[



]

[



]

[



]
Jika kita menghitung determinan dari matriks-matriks ini dengan
maetoda yng digunakan sebelumnya maka diperoleh :
() (

) (

) (

)
Perhatikan bahwa A
1
didapatkan dengan mengalikan baris pertama dari
A dengan 4, A
2
didapatkan denga cara mempertukarkan kedua baris yang
pertama, dan A
3
didapatkan dengan menambahkan -2 kali baris ketiga dari A
ke baris kedua. Seperti teori yang ada diperoleh hubhungan :
(

) ()
(

) ()
(

) ()
Pernyataan (a) pada teorema ketiga memiliki tafsiran alternatif yang kadang-
kadang berguna. Hasil ini membolehkan kita untuk mengambil sebuah faktor
bersama dari sembarang baris dari sebuah matriks kuadrat melalui tanda deeterminan
tersebut. Untuk melukiskan hal tersebut tinjaulah matriks-matriks :
[

]
[

]
Dimana baris kedua dari B mempunyai sebuah faktor bersama sebesar k.
Karena B adalah matriks yang dihasilkan bila baris kedua dari A dikalikan oleh k,
maka pernyataan (a) di dalam teroema 3 menetapkan bahwa det(B)=kdet(A), yakni:
|

| |

|
Kita sekarang akan merumuskan sebuah metoda alternatif untuk menghitung
determinan yang akan menghindari jumlah perhitungan yan gsangat banyak yang
terlibat dalam memakaikan secara lagnsung definisi deterrminan tersebut. Pemikiran
dasar dari metoda ini adalah untuk memakaikan operasi baris elementer untuk
mereduksi matriks A yang diberikan kepada sebuah matriks R yang berada di dalam
bentuk eselon baris. Karena sebuah bentuk eselon baris dari sebuah matriks kuadrat
adalah segitiga atas, maka det(R) dapat dihitung menggunakan teorema 2. Nilai
det(A) kemudian dapat diperoleh dengan menggunakan teorema 3 untuk
menghubungkan nilai det(A) yang tidak diketahui kepada nilai det(R).
Contoh :
Hitunglah det(A) dimana :
[



]
Dengan mereduksi A kepada bentuk eselon baris dan dengan memakai
teorema 3, maka kita akan mendapatkan :
() |



|=|



|
Baris pertama dan baris kedua dari A dipertukarkan,
|



|
Sebuah faktor bersama sebesar 3 dari baris pertama dari matriks terdahulu
diambil melalui tanda det tersebut.

|



|
-2 kali baris pertama dari matriks terdahulu ditambahkan ke baris ketiga.
|



|
-10 baris kedua dari matriks terdahulu ditambahkan kepada baris ketiga.
()() |



|
Sebuah faktor bersama sebesar -55 dari baris terakhir dari matriks terdahulu
diambil melalui tanda det tersebut.
()()()
Metoda reduksi baris sangat sesuai untuk menghitung determinan dengan
menggunakan komputer karena metoda tersebut sistematis dan mudah diprogramkan.
Akan tetapi untuk perhitungan dengan menggunakan tangan, maka metoda-metoda
lainnya yang akan dikembangkan akan bisa digunakan lebih mudah.
Contoh :
Hitunglah det(A) dimana :
[








]
-2 kali baris pertama dari A ditambahkan ke baris kedua.
() |








|

Tidak diperlukan reduksi selanjutnya karena dari teorema 1 diperoleh bahwa
det(A) = 0.
Dari contoh ini seharusnya sudah jelas bahwa ketika suatu matriks kuadrat
mempunyai dua baris sebanding maka kita mungkin memperkenalkan sebuah baris
yang terdiri dari bilangan nol dengan menambahkan sebuah kelipatan yang sesuai dari
salah satu baris ini kepada yang satu lagi. Jadi, jika sebuah matriks kuadrat
mempunyai dua baris yang sebanding, maka determinannya sama dengan nol.
Contoh :
Setiap matriks berikut mempunyai dua baris yang sebanding, jadi sesuai teori
determinannya sama dengan nol.
[


] [



] [








]

4. SIFAT-SIFAT FUNGSI DETERMINAN
Pada bagian ini akan dikenalkan cara menghitung determinan dari suatu matriks.
Cara ini merupakan gabungan dari modul sebelumnya yaitu mereduksi suatu matriks
sedemikian hingga matriks tersebut menjadi bentuk baris eselon tereduksi. Metode ini
akan mempermudah mencai nilai determinan untuk ukuran yang besar. Perhatikan
teorema berikut ini

TEOREMA 4.1 Pandang matriks persegi A,
a. Jika A mempunyai sebuah atau lebih baris (kolom) nol semua, maka det(A) = 0
b. det(A) = det(

)

Bukti:
Untuk mencari nilai dari suatu determinan, hasil kali dasar selalu memuat
salah satu elemen dari baris atau kolom, sehingga perkalian dasaarnya selalu
memuat nol. Jadi nilai determinannya selalu nol.
Sesaui dengan (a) pada hasil kali dasar selalu memuat salsh satu elemen, maka
dengan demikian nilai determinan dari A akan sama dengan

.

Teorema dibawah ini akan mempermudah perhitungan dari suatu matriks, yaitu
TEOREMA 4.2 Jika matriks persegi A adalah matriks segitiga atas atau bawah,maka
det(A)= hasil kali elemen pada diagonalnya

Bukti:
telah dijelaskna diatas bahwa nilai determinan merupakan perkalian dasar yang selalu
memuat salah satu elemen pada setiap baris atau kolom, oleh karena itu pada matriks
segitiga atas atau bawah untuk baris dan kolom yang tidak sama nilai elemennya nol,
sedangkan pada baris atau kolom yang sama elemennya tidak sama dengan nol,
sehingga nilai determinan dari matriks segitiga atas atau bawah hanyalah perkalian
elemen pada diagonal utamanya saja.

CONTOH : Hitung determinan dari

Teorema dibawah ini menunjukkan bagaimana peran dari OBE yang sudah dibahas
pada modul sebelumnya memunyai peran untuk menentukan nilai determinan
TEOREMA 4.3 Pandang matriks persegi A berukuran n x n
Jika B adalah matriks yang dihasilkan dari matriks A yang dilakukan dengan
OBE tunggal yaitu dengan mengalikan dengan k pada salah satu baris atau
kolom dari A, maka det(B) = kdet(A)
Jika B adalah matriks yang dihasilkan dari matriks A dengan OBE yaitu
menukarkan baris atau kolom dari A, maka det(B) = -det(A)
Jika B adalah matriks yang dihasilkan dari matriks A dengan OBE yaitu
penggandaan dari baris atau kolom dari A kemudian ditambah atau dikurang
pada baris atau kolom yang lain, maka det(B) = det(A)

CONTOH : Hitung matriks B yang merupakan baris kedua dari matriks A dikalikan
dengan tiga dengan matriks.

Jadi det(B) = 3det(A)
CONTOH : matriks C adalah matriks A pada contoh diatas dengan menukarkan baris
1 dengan baris 3, maka


Atau det(C) = -det(A).
CONTOH : matriks D adalah matriks A pada diatas dengan baris kedua dikurangi dua
kali baris pertama, maka.

atau det(D) = det(A).

Dengan berpedoman pada Teorema diatas dan beberapa contoh, maka untuk
menghitung determinan dari suatu matriks, lakukan OBE sehingga menjadi bentuk
baris eselon, kemudian gunakan Teorema sebelumnya, maka akan mudah mencari
nilai dari suatu determinan. Perhatikan teorema dibawah ini, yang akan memudahkan
perhitungan determinan.

TEOREMA 4.4 Jika matriks persegi A mempunyai dua baris atau dua kolom yang
sebanding, maka det(A) = 0

CONTOH : Hitung determinan dari

untuk menghitung determinan dari matriks A, lakukan OBE, sedemikian hingga
matriksnya menjadi bentuk baris eselon, seperti



Contoh lain dengan menggunakan teorema yang terakhir
CONTOH : Hitung determinan dari

untuk menghitung determinan dari matriks A, lakukan OBE, sedemikian hingga
matriksnya menjadi bentuk baris eselon, seperti

karena ada satu baris yaitu baris terakhir mempunyai nilai nol semua sesuai dengan
Teorema di atas, maka
det(A) = 0

Pada bagian ini akan dibahas tentang sifat dari fungsi determinan, dari sifat
fungsi determinan tersebut diharapkan wawasan mengenai hubungan antara matriks
persegi dan determinannya. salah satunya adalah ada tidak suatu invers matriks
persegi dengan menguji determinannya.

Perhatikan teorema dibawah ini
Teorema 4.5 Misal A, B dan C adalah matriks persegi berukuran n x n yang berbeda
di salah satu barisnya, misal di baris ke-r yang berbeda. Pada baris ke-r matriks C
merupakan penjumlahan dari matriks A dan B, maka
det(C) = det(A) + det(B)
Begitu juga pada kolomnya

CONTOH : Perhatikan matriks-matriks

perhatikan, hanya pada baris ketiga saja yang berbeda. Dengan menggunakan
Teorema 4.5,
maka

Contoh diatas adalah penjumlahan dari suatu determinan dengan syarat tertentu,
sekarang, bagaimana dengan perkalian.

Perhatikan teorema dibawah ini
Teorema 4.6 Jika matriks persegi A dan matriks dasar E dengan ukuran yang
sama,maka berlaku
det(EB) = det(E)det(B)

Bukti:
Telah dipelajari pada modul sebelumnya, bahwa matriks dasar E, jika dikalikan
dengan suatu matriks, maka seolah matriks tersebut dilakukan dengan OBE yang
sama, jadi
B

B = EB
dalam hal ini ada beberapa kasus, yang pertama, jika OBEnya adalah mengalikan
salah satu baris dengan k, maka
det(EB) = det(E)det(B) = kdet(B)
sedangkan kasus yang lain, menukarkan baris atau menambah pada baris yang lain
akan menghasilkan seperti kasus pertama.

Perhatikan teorema dibawah ini
TEOREMA 4.7 Suatu matriks persegi A mempunyai invers jika dan jika det(A) 0

Bukti:
Dengan memperhatikan, bahwa suatu matriks persegi jika dilakukan OBE, maka ada
dua kemungkinan yaitu mengandung baris yang nol semua atau matriks identitas. Jika
matriks elementer dikalikan dengan suatu matriks persegi hasil sama dengan matriks
tersebut dilakukan satu OBE. Dan suatu matriks jika mengandung baris atau kolom
yang nol semua, maka determinan matriks tersebut adalah nol. Jadi yang mempunyai
invers pasti nilai determinannya tidak nol.

Perhatikan teorema dibawah yang mendukung Teorema 4.6, yaitu
TEOREMA 4.8 Jika A dan B dua matriks persegi berukuran sama, maka
det(AB) = det(A)det(B)

Bukti: Dengan mengasumsikan salah satu matriks tersebut sebagai perkalian dari
matriks elementer, misal matriks A, yaitu
A = E
1
E
2
E
3
..E
r

sedangkan dengan menggunakan Teorema 4.6, menjadi
AB = E
1
E
2
E
3
..E
r
B
maka
det(AB) = det(E
1
)det(E
2
)det(E
3
) det(E
r
)det(B)
jadi
det(AB) = det(A)det(B)
CONTOH : Pandang matriks dibawah ini

dengan menghitung, maka
det(A) = -1; det(B) = -7; maka det(AB) = 7
sesuai dengan Teorema 4.8
Dari beberapa teorema diatas, jika dihubungkan akan menghasilkan teorema berikut

TEOREMA 4.9 Jika matriks persegi A mempunyai invers, maka

Bukti:
Karena

A = I, maka det(

A) = det(I), sedangkan menurut Teorema 4.8, maka


det(

)det(A) = det(I) = 1 dan det(A) 0, sehingga teorema tersebut terbukti.



5. METODA PERHITUNGAN DETERMINAN
Pada bagian ini akan dibahas tentang kofaktor dan cara mencari invers dengan
kofaktor. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelumnya, seperti minor,
perluasan kofaktor dan invers dari suatu matriks.

Perhatikan definisi dibawah ini
Jika matriks persegi A, maka minor anggota aij dinyatakan dengan M
ij
dan
didefinisikan sebagai determinan dari sub-matriks dari matriks awal dengan
menghilangkan baris ke-i dan kolom ke-j, sedangkan kofaktor anggota aij ditulis

()

M
ij

CONTOH : Pandang matriks persegi


Perluasan kofaktor adalah salah satu cara untuk menghitung determinan dengan
menggunakan ,bantuan kofaktor, perhatikan definisi berikut

CONTOH : Hitung determinan dari matriks pada Contoh sebelumnya

Sedangkan yang dimaksud dengan adjoint matriks dapat dilihat pada definisi berikut
ini

CONTOH : Cari Adj(A) dari matriks A pada conoth diatas Kofaktor dari A, adalah
C
11
= 6 , C
12
= -6, C
13
= 2
C
21
= -5 , C
22
= 8, C
23
= -3
C
31
= 1, C
32
= -2, C
33
= 1
sehingga matriks kofaktornya adalah

Untuk mencari invers dari matriks persegi yang menggunkan matriks adjoint,
perhatikan teorem berikut ini

Bukti:
Dengan menggunakan perluasan kofaktor dapat dengan mudah dibuktikan.

CONTOH : Dari contoh sebelumnya, bahwa persegi,


Dengan menggunakan dari pencarian invers dan perluasan kofaktor dapat dicari
penyelesaian SPL dengan menggunakan determinan, perhatikan teorema dibawah ini

Bukti:
Dengan menggunakan definisi invers yang menggunakan adjoint matriks, maka nilai
setiap variabel sesuai dengan teorema di atas.

CONTOH : Gunakan aturan Carmer untuk menyelesaikan SPL berikut
x1 + x2 + x3 = 6
x1 + 2x1 + 3x3 = 14
x1 + 4x1 + 9x3 = 36
Karena ada tiga varibel bebas, maka ada matriks A, A1, A2 dan A3, yaitu