Anda di halaman 1dari 3

Nama : Samlek E Sunbanu

Nim : 11 2010 171



STADIUM ANESTESI UMUM
Gambaran klasik tentang tanda dan kedalaman anestesi (tanda Guedel)
berasal dari pengamatan atas efek anestesi dengan eter yang berlangsung lambat.
Tanda ini tidak lagi terlihat dalam teknik anestesi modern karena anestetik masa kini
umumnya memperlihatkan masa induksi yang singkat, apalagi dengan tambahan
anestetik intravena dan obat-obatan lain sebagai medikasi pra-anestesi. Selain itu
teknik anestesi modern sering menggunakan ventilator untuk mengendalikan
pernapasan.
Semua zat anestetik menghambat SSP secara bertahap, yang mula-mula
dihambat adalah fungsi yang kompleks,dan yang paling akhir dihambat ialah medula
oblongata tempat pusat vasomotor dan pernapasan. Guedel (1920) membagi
anestesia umum dalam empat stadium,sedangkan stadium ketiga dibedakan lagi
atas 4.
Stadium I (Analgesia)
Stadium analgesia dimulai sejak saat pemberian anestetik sampai hilangnnya
kesadaran. Pada stadium ini pasien tidak lagi merasakan nyeri (analgesia),
tetapi masih tetap sadar dan dapat mengikuti perintah. Pada stadium ini dapat
dilakukan pembedahan ringan seperti mencabut gigi dan biopsi kelenjar.
Stadium II (Eksitasi)
Stadium ini dimulai sejak hilangnya kesadarn sampai munculnya pernapasan
yang teratur yang merupakan tanda dimulainya stadium pembedahan. Pada
stadium ini pasien tampak mengalami delirium dan eksitasi dengan gerakan-
gerakan di luar kehendak.pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnea
dan hiperpnea, tonus otot rangka meninggi,pasiennya meronta-ronta,kadang
sampai mengalami inkontinensia dan muntah. Ini terjadi karena hambatan
pada pusat inhibisi.pada stadium ini dapat terjadi kematian, maka stadium ini
harus diusahakan cepat dilalui.
Stadium III (Pembedahan)
Stadiumini dimulai dengan timbulnya kembali pernapasan yang teratur dan
berlangsung sampai pernapasan spontan hilang. Keempat tingkat dalam
stadium pembedahan ini dibedakan dari perubahan pada gerakan bolamata,
refleks bulu mata dan konjungtiva, tonus otot dan lebar pupil yang
menggambarkan semakin dalamnya pembiusan.
o Tingkat I
Pernapasan teratur,spontan dan seimbang antara pernapasan dada
dan perut, gerakan bola mata terjadi diluar kehendak, miosis,
sedangkan tonus otot rangka masih ada.
o Tingakat II
Pernapasan teratur, tetapi frekuensinya lebih kecil, bola mata tidak
bergerak, pupil mata melebar, otot rangka mulai melemas, dan refleks
laring hilang sehingga pada tingkat ini dapat dilakukan intubasi.
o Tingkat III
Pernapasan perut lebih nyata daripada pernapsan dada karena otot
interkonstal mulai lumpuh, relaksasi otot rangka sempurna, pupillebih
lebar tetapi belum maksimal.
o Tingkat IV
Pernapasan perut sempurna karena otot interkostallumpuh
total,tekanan darah mulai menurun, pupil sangat lebar dan refleks
cahaya hilang. Pembiusan hendaknya jangan sampai ke tingkat IV
yaitu ketika pernapasan spontan melemah. Untuk mencegah ini, harus
diperhatikan benar sifat dan dalamnya pernapasan, lebar pupil
dibandingkan dengan keadaan normal, dan turunnya tekanan darah.
Stadium IV (Depresi Medula Oblongata)
Stadium ini dimulai dengan melemahnya pernapasan perut dibandingkan
stadium III tingkat 4, tekanan darah tidak dapat diukur, karena pembuluh
darah kolaps, dan jantung berhenti berdenyut. Keadaan ini dapat segera
disusul kematian, kelumpuhan napas disini tidak dapat diatasi dengan
pernapasan buatan, bila tidak didukung dengan alat bantu napas dan
sirkulasi.
Selain dari derajat kesadaran, relaksasi otot, dan tanda-tanda diatas, ahli
anestasia menilai dalamnya anestesia dan respon terhadap rangsangan nyeri
yang ringan sampai yang kuat. Rangsangan yang kuat terjadi sewaktu
pemotongan kulit, manipulasi peritoneum, kornea, mukosa uretra terutama
ada peradangan. Nyeri sedang terasa ketika terjadi manipulasi pada fasia,
otot dan jaringan lemak, sedangkan nyeri ringan terasa ketika terjadi
pemotongan dan penjahitan usus, atau pemotongan jaringan otak.