Anda di halaman 1dari 55

KELOMPOK 6

Niluh Linda Ayu Oktaviani (1108105002)


I Wayan Hermawan (1108105010)
Ni Wayan Lia Kusumaningrum (1180105014)
I Komang Yogadharana R (1108105025)
I Gede Dika Virga Saputra (1180105034)
A.A. Putri Cintya Paramitha U (1108105035)
Sistem Persamaan
Linear & Matriks
Pengantar Sistem
Persamaan Linear
Eliminasi Gauss
Sistem Persamaan
Linear Homogen
Matriks & Operasi
Matriks
Kaidah-kaidah
Imu Hitung Matriks
Hasil Selanjutnya Menurut & Mengenai
Sistem Persamaan dan Keterbalikannya
Matriks Elementer
&
Metode Mencari Invers
PERSAMAAN LINEAR
Persamaan Linear adalah suatu persamaan yang variabel-variabelnya
berpangkat satu, tidak ada perkalian atau pembagian dengan variabel
lain/dirinya sendiri.
Misalnya Sebuah garis di dalam bidang xy secara aljabar dapat
dinyatakan oleh sebuah persamaan yang berbentuk


Sebuah persamaan semacam ini dinamakan persamaan linier dalam
variabel x dan variabel y. Secara lebih umum, maka kita mendefinisikan
sebuah persamaan linier dalam n variabel
x
1
, x
2
,, x
n

sebagai sebuah persamaan yang dapat dinyatakan dalam bentuk:

a
1
x
1
+ a
2
x
2
++a
n
x
n
=b
Dimana a
1
, a
2
, ... , a
n
dan b adalah konstanta-konstanta real
CONTOH
Berikut ini yang merupakan persamaan-persamaan linier
adalah :


A.
B.
C.
D.
Perhatikan bahwa sebuah persamaan linier tidak melibatkan sesuatu hasil
kali atau akar variabel. Semua variabel hanya terdapat sampai dengan
angka pertama dan tidak muncul sebagai argumen untuk
- fungsi trigonometri,
- fungsi logaritmik, atau
- fungsi eksponensial.

Maka A dan C merupakan persamaan linier
sementara
Persamaan B dan D bukanlah persamaan linier
Sebuah pemecahan (solution) persamaan linier

adalah sebuah urutan dari n bilangan s
1,
s
2
, ,s
n
, sehingga
persamaan tersebut dipenuhi bila kita menstubtitusikan
x
1
= s
1,
x
2
= s
2
,, x
n
= s
n
.


Himpunan pemecahan persamaan tersebut dinamakan
himpunan pemecahannya
Sebuah sistem persamaan yang tidak mempunyai
penyelesaian disebut sebagai sistem tak konsisten ; jika
paling tidak ada satu penyelesaian, maka sistem itu disebut
konsisten.
Untuk melukiskan kemungkinan-kemngkinan yang dapat terjadi
di dalam memecahkan sistem-sistem persamaan linier, tinjaulah
sebuah sistem umum dari dua persamaan linier dalam bilangan-
bilangan yang tak diketahui x dan y:
a
1
x + b
1
y = c
1
(a
1
, b
1
, kedua-duanya tidak nol)
a
2
x + b
2
y = c
2
(a
2
, b
2
, kedua-duanya tidak nol)

Jika hanya angka x dan y yang memenuhi persamaan
garis, penyelesaian sistem persamaan tersebut
berpadanan dengan titik-titik potong g
1
dan g
2,
sehingga
terdapat 3 kemungkinan :

Garis g
1
dan g
2
mungkin sejajar, dimana tidak ada
perpotongan dan akibatnya tidak ada penyelesaian
terhadap sistem tersebut.
Garis g
1
dan g
2
mungkin berpotongan hanya di satu
titikm dimana sistem tersebut tepat mempunya satu
persamaan.
Garis g
1
dan g
2
mungkin berimpitan, dimana ada tak
terhingga titik potong dan akibatnya ada banyak
penyelesaian untuk sistem tersebut.
Secara umum dapat diringkaskan mengenai Sistem
Persamaan Linear sebagai berikut:

Secara umum dapat diringkaskan mengenai Sistem
Persamaan Linear sebagai berikut:
Sistem Persamaan Linear (SPL)



Dengan m persamaan, n variabel :

a
11
x
1
+ a
12
x
2
+ + a
1n
x
n
= b
1

a
21
x
1
+ a
22
x
2
+ + a
2n
x
n
= b
2



a
m1
x
1
+ a
m2
x
2
+ + a
mn
x
n
= b
m


MATRIKS YANG DIPERLUAS
Jika kita menelusuri letak + s, letak xs, dan letak = s,

Maka sebuah sistem yang terdiri dari m persamaan linier dengan n
bilangan yang tak diketahui dapat disingkat dengan hanya menuliskan
susunan empat persegi panjang dari bilangan-bilangan:

Susunan ini dinamakan matriks yang diperbesar
(augmented matrix) untuk sistem tersebut. Untuk
melukiskannya, maka matriks yang diperbesar
untuk sistem persamaan-persamaan
x
1
+ x
2
+ 2x
3
= 9
2x
1
+ 4x
2
3x
3
= 1
3x
1
+ 6x
2
5x
3
= 0
adalah
Bila membangun sebuah matriks yang diperbesar, maka bilangan-
bilangan yang tak diketahui harus dituliskan dalam urutan (atau
orde) yang sama di dalam setiap pertanyaan.
Metode dasar untuk memecahkan sebuah sistem
persamaan-persamaan linier adalah:

1. Kalikanlah sebuah persamaan dengan sebuah konstanta yang sma
dengan nol.
2. Pertukarkanlah dua persamaan.
3. Tambahkanlah kelipatan dari satu persamaan kepada yang lainnya.
Karena baris (garis horizontal) di dalam sebuah matriks yang
diperbesar bersesuaian denganpersamaan di dalam sistem yang
diasosiasikan dengan baris tersebut, maka:
1. Kalikanlah sebuah baris dengan sebuah konstanta yang sma
dengan nol.
2. Pertukarkanlah dua baris.
3. Tambahkanlah kelipatan dari satu baris kepada baris yang lainnya.
OPERASI BARIS ELEMENTER
CONTOH
x + y + 2z = 9
2x + 4y 3z = 1
3x + 6y 5z = 0

Tambahkanlah -2 kali
persamaan pertama kepada
persamaan kedua untuk
mendapatkan
x + y + 2z = 9
2y 7z = 17
3x + 6y 5z = 0

Tambahkanlah -3 kali
persamaan pertama kepada
persamaan ketiga untuk
mendapatkan
Tambahkanlah -2 kali
baris pertama kepada
baris kedua untuk
mendapatkan
Tambahkanlah -3 kali
baris pertama kepada
baris ketiga untuk
mendapatkan
x + y + 2z = 9
2y 7z = 17
3y 11z = 27

Kalikanlah persamaan kedua
dengan untuk mendapatkan
Kalikanlah baris kedua
dengan untuk mendapatkan
x + y + 2z = 9
y 7/2 z = 17/2
3y 11z = 27

CONTOH
x + y + 2z = 9
y 7/2 z = 17/2
3y 11z = 27

x + y + 2z = 9
y 7/2 z = 17/2
1/2 z = 3/2

Tambahkanlah -3 kali
baris kedua kepada
baris ketiga untuk
mendapatkan
Tambahkanlah -3 kali
persamaan kedua
kepada persamaan
ketiga untuk
mendapatkan
x + y + 2z = 9
y 7/2 z = 17/2
z = 3

x = 1
y = 2
z = 3

Tambahkanlah -1 kali
persamaan kedua
kepada persaman
pertama untuk
mendapatkan
Tambahkanlah -11/2
kali persamaan ketiga
kepada persamaan
pertama dan 7/2 kali
persamaan ketiga
persamaan kedua
untuk mendapatkan
Tambahkanlah -11/2
kali baris ketiga kepada
baris pertama dan 7/2
kali baris ketiga baris
kedua untuk
mendapatkan
Kalikanlah persamaan
ketiga dengan -2 untuk
mendapatkan
Kalikanlah baris ketiga
dengan -2 untuk
mendapatkan
Tambahkanlah -1 kali
baris kedua kepada
baris pertama untuk
mendapatkan
x + 11/2 z = 35/2
y 7/2 z = -17/2
z = 3

ELIMINASI GAUSS
Di dalam bagian ini kita memberikan sebuah proses yang
sistematis untuk memecahkan sitem-sistem persmaan
linier; prosedur mengoperasikan nilai-nilai di dalam
matriks sehingga menjadi matriks yang lebih sederhana.
Caranya adalah dengan melakukan operasi baris
sehingga matriks tersebut menjadi matriks yang Eselon-
baris. Ini dapat digunakan sebagai salah satu metode
penyelesaian persamaan linier dengan menggunakan
matriks.

CONTOH
Matriks-matriks yang berikut berada di dalam bentuk
eselon baris yang direduksi:


Matriks-matriks berikut yang ada di dalam bentuk
eselon baris:
Tidak sukar untuk melihat bahwa sebuah matriks di dalam
bentuk aselon baris harus mempunyai nol di bawah setiap 1
utama. Bertentangan dengan hal ini maka sebuah matriks di
dalam bentuk eselon baris yang direduksi harus mempunyai no
di atas dan di bawa di setiap 1 utama
CONTOH
Pecahkan sistem berikut:


Solusinya
Pemecahan untuk (a). Sistem persamaan yang bersangkutan
adalah:
x
1
= 5
x
2
= -2
x
3
= 4
Dengan demikian maka, x
1
= 5, x
2
= -2, x
3
= 4

Pemecahan untuk (b). Sistem persamaan yang bersangkutan
adalah:
x
1
+4x
4
= -1
x
2
+3x
4
= 6
x
3
+3x
4
= 2

Dengan memecahkan variabel-variabel utama tersebut dalam x
4

maka akan memberikan:
x
1
=-1 -4x
4

x
2
= 6 -3x
4

x
3
= 2 - 3x
4
Karena x
4
dapat diberikan sebarang nilai, katakanlah t,.
Himpunan pemecahan yang diperoleh adalah:
x
1
= -1 4t, x
2
= 6 3t, x
3
= 2 3t

Eliminasi Gauss-Jordan dapat digunakan untuk
mereduksi sembarang matriks menjadi bentuk eselon
baris yang direduksi.
Sewaktu menyatakan setiap langkah di dalam
prosedur tersebut, akan dapat dilukiskan pemikiran
tersebut dengan mereduksi matriks kepada bentuk
eselon baris yang direduksi.
MISAL
Letakkanlah kolom yang paling kiri (garis vertikal) yang tidak terdiri
dari seluruhnya dari nol
Pertukarkanlah baris atas dengan sebuah baris lain, jika perlu,
membawa sebuah entri tak nol ke atas kolom yang didapatkan di
dalam langkah sebelumnya.
Jika entri yang sekarang ada di atas kolom yang didapatkan di dalam
langkah 1 adalah a, kalikanlah baris pertama dengan 1/a untuk
memperoleh sebuah 1 turunan utama
Tambahkanlah kelipatan yang sesuai dari baris atas kepada baris-
baris yang di bawah sehingga semua entri di bawah 1 utama menjadi
nol
Sekarang tutuplah baris atas di
dalam matriks tersebut dan
mulailah sekali lagi dengan
langkah 1 yang dipakaikan
kepada submatriks yang masih
sisa. Teruskanlah dengan cara ini
sampai keseluruhan matriks
tersebut berada di dalam bentek
eselon baris
Kolom tidak nol paling kiri
Kolom tidak nol paling kiri di
dalam submatriks
Baris pertama di dalam submatriks
dikalikan dengan -1/2 untuk
mendapatkan sebuah 1 utama
-5 kali baris pertama dari
submatriks ditambahkan
kepada baris kedua dari
submatriks untuk
mendapatkan sebuah
nol di bawah 1 utama
Baris atas di dalam
submatriks ditutupi dan
kembali sekali lagi ke
langkah 1
Baris pertama (dan
hanya baris pertama) di
dalam submatriks yang
baru dikalikan dengan 2
untuk mendapatkan
sebuah 1 utama
Dengan memulai dari baris tak nol terakhir dan bekerja ke arah atas
tambahkanlah kelipatan yang sesuai dari setiap baris kepada baris-
baris yang di atas untuk mendapatkan nol di atas 1 uatama
7/2 kali baris ketiga dari
matriks terdahulu
ditambahkan kepada
baris kedua
-6 kali baris ketiga
ditambahkan kepada
baris pertama
5 kali baris kedua
ditambahkan kepada
baris pertama
Matriks yang terakhir berada di dalam bentuk
eselon baris yang direduksi
CONTOH
x
1
+ 3x
2
2x
3
+2x
5
= 0
2x
1
+ 6x
2
5x
3
2x
4
+ 4x
5
3x
6
= -1
5x
3
+ 10x
4
+ 15x
6
= 5
2x
1
+ 6x
2
+ 8x
4
+ 4x
5
+ 19x
6
=6

Pecahkanlah dengan menggunakan eliminasi
Gauss-Jordan.
Solusinya
Matriks yang diperbesar untuk sistem tersebut adalah
Dengan menambahkan -2 kali baris pertama kepada baris pertama
dan baris keempat maka akan memberikan
Dengan mengalikan baris kedua dengan -1 dan kemudian
menambahkan -5 kali baris kedua kepada baris-baris ketiga dan -4
kali baris kedua baris keempat makan akan memberikan
Dengan mempertukarkan baris ketiga dan baris keempat dan
kemudian mengalikan baris ketiga dari matriks yang dihasilkan
dengan 1/6 makan akan memberikan bentuk eselon baris
Sistem persamaan-persamaan yang bersangkutan adalah
x
1
+3x
2
+4x
4
+2x
5
= 0
x
3
+ 2x
4
= 0
x
6
= 1/3
CONTOH
Dengan memecahkannya untuk variabel-variabel utama, maka
kita mendapatkan
x
1
= - 3x
2
- 4x
4
- 2x
5

x
3
= - 2x
4

x
6
= 1/3
Jikia kita menetapkan nilai sembarang r, s, dan t berturt-turut
untuk x
2
,x
4
, dan x
5
,maka himpunan pemecahan tersebut
diberikan oleh rumus-rumus:
x
1
= 3r

4s 2t x
4
= s
x
2
= r x
5
= t
x
3
= 2s x
6
= 1/3
MATRIKS DAN OPERASI
MATRIKS
Matriks adalah sebuah susunan segi empat siku-siku
dari bilangan-bilangan.



Bilangan-bilangan di dalam susunan tersebut
dinamakan entri di dalam matriks.
Berikut ini merupakan contoh dari matriks:



Ukuran sebuah matriks dijelaskan dengan
menyatakan banyaknya baris dan banyaknya kolom
yang terdapat di dalam matriks tersebut.

Contoh di atas berturut-turut mempunyai ukuran
1 x 4
3 x 3
2 x 1
1 x 1
Untuk menyatakan matriks dapat digunakan huruf-
huruf besar dan menggunakan huruf-huruf kecil untuk
menyatakan kuantitas-kuantitas numerik:
dan

Jika A adalah sebuah matriks, maka kita akan
menggunakan a
ij
untuk menyatakan entri yang
terdapat di dalam baris i dan kolom j dari A. Jadi
sebuah matriks 3 x 4 yang umum dapat dituliskan:




Jika menggunakan B untuk menyatakan matriks,
maka digunakan b
ij
untuk entrinta di dalam baris i dan
kolom j. Jadi sebuah matriks m x n yang umum dapat
dituliskan sebagai:

Untuk pemakaian lain, maka diinginkan untuk
pengembangan suatu ilmu hitung matriks di dalam
mana matriks-matriks dapat ditambahkan dan
dikalikan dengan cara yang berguna.

Dua matriks dikatakan sama jika kedua matriks
tersebut mempunyai ukuran yang sama dan entri-
entri yang bersangkutan di dalam kedua matriks
tersebut sama.
CONTOH
Tinjaulah matriks-matriks berikut
Disini A C karena A dan C tidak mempunyai ukuran yang
sama. Karena alasan yang sama maka BC, juga AB karena
tidak semua entri yang bersangkutan sama
Jika A dan B adalah sebarang dua matriks yang ukurannya sama,
maka jumlah A+B adalah matriks yang didapatkan dengan
menambahkan bersam-sam entri yang bersangkutan di dalam kedua
matriks tersebut. Matriks-matriks yang ukurannya berbeda tidak dapat
ditambahkan.
Tinjaulah matriks-matriks berikut

CONTOH
Maka
Sedangkan A+C dan B+C tidak didefinisikan
Jika A adalah sebuah matriks m x r dan B adalah
sebuah matriks r x n, maka hasil kali AB adalah
matriks m x n yang entri-entrinya ditentukan sebagai
berikut:
CONTOH
dan
Karena A adalah sebuah matriks 2x 3 dan B adalah
sebuah matriks 3 x 4, maka hasil kali AB adalah
sebuah matriks 2 x 4. Untuk menentukannya:
(2 . 4) + (6 . 3) + (0 . 5) = 26
Maka akan didapatkan:
CONTOH
Di dalam baris i dan kolom j dari AB diberikan oleh rumus:
CONTOH
a
i1
b
1j
+ a
i2
b
2j
+ a
i3
b
3j
+ +a
ir
b
rj

Perkalian matriks mempunyai sebuah pemakaian penting kepada
sistem-sistem persamaan linier.
a
11
x
1
+ a
12
x
2
+ + a
1n
x
n
= b
a
21
x
1
+ a
22
x
2
+ + a
2m
x
n
= b
2


a
m1
x
1
+ a
m2
x
2
+ + a
mn
x
n
= b
m

Karena keuda matriks dikatakan sama jika dan hanya jika entri-entri
yang bersangkutan sama, maka dapat menggantikan persamaan m di
dalam sistem ini dengan sebuah persamaan matriks tunggal
CONTOH
Matriks m x l pada ruas kiri persamaan ini dapat dituliskan sebagai
sebuah hasil perkalian yang memberikan
Jika menandai matriks-matriks ini berturut-turut dengan A, X, dan B,
maka sistem m persamaan asli di dalam n bilangan yang tak diketahui
telah digantikan oleh persamaan matriks tunggal
AX =B
Sebagai konsekuensi pendekatan matriks ini, maka kita akan
mendapatkan metode-metode baru yang efektif untuk memecahkan
sistem-sistem persamaan linier.
KAIDAH-KAIDAH ILMU HITUNG
MATRIKS
Dalam matriks berlaku juga kaidah-kaidah ilmu hitung
bilangan riel, namun ada beberapa pengecualian.
salah satu pengecualian yang terpenting adalah
perkalian matriks. Misalnya saja hukum komulatif
untuk perkalian. Untuk bilangan riel a dan b, maka
selalu didapatkan ab = ba
Tetapi untuk matriks, AB dan BA tidak perlu sama.
Hal ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu :
1. AB didefinisikan tetapi BA tidak didefinisikan. Contohnya jika A sebuah
matriks 2x3 dan B sebuah matriks 3x4.
2. AB dan BA keduanya didefinisikan tetapi mempunyai ukuran yang
berbeda. Contohnya jika A sebuah matrik 2x3 dan B sebuah matriks 3x2.
3. AB BA, walaupun jika AB dan BA didefinisikandan mempunyai ukuran
yang sama. Contohnya jika dan , dengan
mengalikannya maka akan didapatkan dan

Dengan menganggap bahwa ukuran-ukuran matriks adalah
sedemikian sehingga operasi-operasi yang ditunjukkan dapat
dilakukan, maka kaidah-kaidah ilmu hitung matriks berikut akan
berlaku.
1. A + B = B + A
2. A + (B + C) = (A + B) + C
3. A (BC) = (AB) C
4. A (B + C) = AB + AC
5. (B + C) A = BA + CA
6. A (B C) = AB AC
7. (B C) A = BA CA
8. a (B + C) = aB + aC
9. a (B C) = aB aC
10. (a + b) C = aC + bC
11. (a b) C = aC bC
12. (ab) C = a (bC)
13. a (BC) = (aB) C = B (aC)
Sebagai gambaran untuk kaidah ilmu hitung matriks
A(BC) = (AB)C, tinjaulah
CONTOH
Maka
Sehingga
Sebaliknya
Sehingga
Sebuah matriks yang semua entrinya sama dengan
nol, seperti
dinamakan sebuah matriks nol (zero matriks). Matriks nol akan
dinyatakan oleh 0; jika ukurannya penting untuk ditekankan, maka
kita dapat menuliskan untuk matriks nol .
Karena kita sudah mengetahui bahwa beberapa kaidah ilmu
hitung bilangan riel tidak dapat digunakan kepada ilmu hitung
matriks, maka akan merupakan anggapan yang gegabah bahwa
semua sifat bilangan riel nol akan dapat digunakan kepada
matriks nol. Misalnya tinjaulah hasil standar yang berikut di
dalam ilmu hitung bilangan riel.
1. Jika dan , maka . (Ini dinamakan hukum peniadaan)
2. Jika , maka setidak-tidaknya satu dari faktor disebelah kiri sama
dengan 0.
Tinjaulah matriks-matriks
CONTOH
Di sini
Dengan menganggap bahwa ukuran-ukuran matriks
adalah sedemikian rupa sehingga operasi-operasi yang
ditunjukkan dapat dilakukan, maka kaidah-kaidah ilmu
hitung matriks yang berikut akan berlaku.
1. A + 0 = 0 + A = A
2. A A = 0
3. 0 A = A
4. A0 = 0 ; 0A = 0
Anggaplah bahwa AX = B mempunyai lebih daripada satu
pemecahan dan misalkanlah dan adalah dua
pemecahan yang berbeda. Jadi, dan .
Dengan mengurangkan persamaan-persamaan ini maka
akan memberikan atau . Jika kita
misalkan dan jika kita misalkan k sembarang
skalar, maka
Tetapi hal ini mengatakan bahwa sebuah
pemecahan dari AX = B. Karena tak terhingga
banyaknya pilihan untuk k, maka AX = B mempunyai
tak terhingga banyaknya pemecahan.
Yang khususnya menarik adalah matriks-matriks kuadrat
dengan bilangan-bilangan 1 berada pada diagonal utama
dan bilangan-bilangan 0 berada di luar diagonal utama,
seperti
dan lain sebagainya
Matriks semacam ini dinamakan matriks satuan
(identity matrix) dan dinyatakan dengan I. Jika
ukurannya pentik untuk ditekankan, maka kita akan
menuliskan untuk matriks satuan .
Tinjaulah matriks
CONTOH
Maka
dan
Jika A adalah sembarang matriks kuadarat, dan jika dapat
dicari sebuah matriks B sehingga AB = BA = I, maka dapat
dikatakan dapat dibalik (invertible) dan B dinamakan invers
(inverse) dari A.
Matriks
CONTOH
adalah invers dari
Karena
dan
tidak dapat dibalik. Untuk melihat mengapa demikian, misalkan
adalah sembarang matriks , maka kolom ketiga dari BA adalah
Jadi
Jika B dan C kedua-duanya invers dari matriks
A, maka B = C.
Bukti. karena B adalah sebuah invers dari A, maka
BA = I. Dengan mengalikan kedua ruas dari sebelah
kanan dengan C maka akan memberikan (BA)C = IC
= C. Tetapi (BA)C = B(AC) = BI = B, sehingga B = C.
Jika A dapat dibalik, maka inversnya akan dinyatakan dengan simbol
. Jadi

dan
Tinjaulah matriks
CONTOH
Jika , maka
Jika A dan B adalah matriks-matriks yang dapat dibalik dan yang
ukurannya sama, maka
1. AB dapat dibalik.
2.
Jika kita dapat menyatakan kaidah umum yang
berikut.



Sebuah hasiil perkalian matriks-matriks yang dapat
dibalik selalu dapat dibalik, dan invers dari hasil
perkalian tersebut adalah hasil perkalian dari invers-
invers di dalam urutan yang dibalik.

Tinjaulah matriks-matriks
CONTOH
Dengan memakaikan rumus yang diberikan sebelumnya, kita mendapatkan
Juga
Jika A adalah sebuah matriks kuadrat dan n adalah
sebuah bilangan bulat positif, maka kita dapat
mendefinisikan
n-faktor
Jika A dapat dibalik, maka kita
mendefinisikan
n-faktor
Jika A adalah sebuah matriks yang dapat dibalik,
maka
1. dapat dibalik dan
2. dapat dibalik dan untuk n = 0, 1, 2,
3. Untuk setiap scalar k yang tak sama dengan nol maka kA dapat dibalik dan
Demikian juga sehingga kA dapat
dibalik dan .
CONTOH
Kita menyimpulkan bagian ini dengan mengamati
bahwa jika A adalah sebuah matriks kuadrat dan r
dan s adalah bilangan-bilangan bulat, maka akan
berlaku hukum-hukum eksponen berikut yang sudah
dikenal :