Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Pengajaran Fisika Sekolah Menengah ISSN 1979-4959

Vol. 1 No.1, Februari 2009



9
Perbandingan Efektivitas Metode Simulasi J avaScript Terhadap
Demonstrasi dan Ceramah dalam Meningkatkan Kemampuan
Siswa untuk Materi Pemuaian dan Wujud Zat
Eni Lailiyah
a,b)
, Hernawati
a)
, Novitrian
c)
, dan Sparisoma Viridi
c)

a)
Magister Pengajaran Fisika, FMIPA Institut Teknologi Bandung
b)

Madrasah Tsanawiyah Al-Hidayah Jombang
c)
Jalan Ganeca 10 Bandung 40132
Departemen Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Bandung
E-mail: el_leeyah@yahoo.com

Diterima Editor : 27 Januari 2009
Diputuskan Publikasi : 03 Februari 2009

Abstrak
Studi perbandingan pembelajaran berbantuan teknologi dengan pembelajaran interaktif tatap muka secara tradisional
banyak dikaji hingga saat ini. Dengan mengacu pada banyak aspek dan literatur yang berkembang secara akademik telah
dikembangkan simulasi pokok bahasan Wujud Zat dan Pemuaian. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas
penerapan simulasi dengan JavaScript dibanding dengan pembelajaran demonstrasi dan ceramah pada tiga kelompok
siswa kelas VII-1 dan VII-2 MTs As-Syarifiyah Bandung, masing-masing terdiri dari 36 siswa untuk materi fisika pokok
bahasan Wujud Zat dan Pemuaian. Dengan menggunakan analisa persentase ketuntasan belajar siswa, untuk materi
Wujud Zat diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa dengan menerapkan simulasi JavaScript 52,8% dan persentase
ketuntasan belajar siswa dengan metode demonstrasi 50%. Untuk materi Pemuaian diperoleh persentase ketuntasan
belajar siswa dengan menerapkan simulasi JavaScript 51,4% dan persentase ketuntasan belajar siswa dengan metode
ceramah 17,4%.
Kata Kunci: efektivitas, metode JavaScript, demonstrasi, ceramah.
Abstract
Comparative studies between learning-based technology and traditional interactive learning are common nowaday
studied. A topic concerning state of matter and thermal expansion have been developed referred to academic aspects and
literatures. Effectivity of learning process in three different groups in class VII-1 dan VII-2 at Mts As-Syarifiyah Bandung
has been observed. Each group consists of 36 students and are treated under different learning methods: simulation using
JavaScript method, demonstration method, and conventional lecture method. Analisa Persentase Ketuntasan Siswa (APKS)
was used to observe how good the student can absorb what was taught. In state of matter topic APKS gives 52.8% for
simulation using JavaScript method and 50% for demonstration, and in thermal expansion topic it gives 51.4% for
simulation using JavaScript method and 17.4% for conventional lecture method.
Key words: effectivity, JavaScript method, demonstration method, lecture method.

1. Pendahuluan
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara
pengajar dan peserta didik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan khusus. Komponen-
komponen dalam pembelajaran, yang diantaranya bahan,
metode dan media ajar, adalah sarana pencapaian hasil
pembelajaran yang berlaku untuk semua bidang ilmu
pengetahuan termasuk ilmu fisika. Salah satu keunikan
ilmu fisika adalah ilmu ini bersifat eksperimenal, artinya
bahwa konsep-konsep fisika didapatkan melalui proses
eksperimen [1]. Kenyataannya, pembelajaran selama ini
hanya bersifat satu arah, yaitu pembelajaran yang
berpusat pada guru (teacher center) dan siswa hanya pasif
dalam proses pembelajaran.
Permasalahan pembelajaran menurut Emy
Rachmawati (1999:1) adalah metode pembelajaran klasik
(ceramah) masih menjadi pilihan favorit bagi pengajar,
padahal metode ceramah tidak dapat diterapkan untuk
kelas yang siswanya memiliki kemampuan heterogen
karena siswa yang pandai akan lebih dominan dalam kelas
[2].
Hasil Identifikasi permasalahan pembelajaran
fisika dilakukan pada awal November 2008 terhadap
J PFSM Vol. 1 No. 1, Februari 2009


10
proses pembelajaran di MTS As-Syarifiyah adalah (1)
Pembelajaran fisika diajarkan dengan metode ceramah,
(2) Metodemetode pembelajaran yang digunakan kurang
mampu memotivasi siswa untuk bertanya, (3) Adanya
anggapan dari siswa bahwa pelajaran fisika adalah
pelajaran yang sulit, dan (4) Fasilitas yang terbatas
membuat kurangnya variasi pembelajaran fisika.
Solusi dari permasalahan pembelajaran fisika di
atas adalah penggunaan metode pembelajaran yang
menyenangkan dan efektif. Sesuai perkembangan jaman
pembelajaran fisika dengan simulasi komputer dapat
membantu siswa lebih mengerti persoalan yang dipelajari.
Oleh karena itu dikembangkan simulasi komputer dengan
bahasa J avascript karena J avaScript merupakan salah satu
bahasa pemrograman yang relatif lebih sederhana
dibandingkan dengan bahasa pemrograman lain seperti
C++dan Visual Basic [3]. J avaScript juga mempunyai
beberapa keuntungan [4], diantaranya adalah: (1)
Praktikum fisika yang sulit dan bahannya mahal dapat
diganti dengan simulasi J avaScript yang lebih murah dan
lebih jelas, (2) Siswa dapat mengulangi simulasi sendiri
tanpa bantuan guru. Selain itu simulasi komputer dengan
bahasa JavaScript lebih mudah disajikan, efisien,
langsung fokus pada konsep yang ingin dicapai, lebih
menarik bagi peserta didik dan hampir setiap sekolah
memiliki media tersebut [5].
Pembelajaran dilakukan pada tiga kelompok
belajar, kelas VII-1 dan VII-2 yang masing-masing
berjumlah 36 siswa di MTS As-Syarifiyah, menggunakan
metode baru yang belum pernah dicoba sebelumnya oleh
pengajar fisika di MTS tersebut, yaitu simulasi J avaScript
untuk materi (i)wujud zat dan (ii)pemuaian untuk
mengetahui persentase ketuntasan belajar siswa dibanding
metode demonstrasi dan ceramah.

2. Tinjauan Teoretis
Pembelajaran Fisika
Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA), yaitu suatu ilmu yang mempelajari gejala
dan peristiwa atau fenomena alam serta berusaha untuk
mengungkap segala rahasia dan hukum semesta. Obyek
Fisika meliputi mempelajari karakter, gejala, dan
peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda-benda
mati atau benda yang tidak melakukan pengembangan diri
[6].
Pengenalan fisika dimulai dari bangku MTS/SMP,
dimana fisika dikenalkan dengan konsep kehidupan
sehari-hari dan tidak lepas dari kehidupan siswa, dan
bukan rumus-rumus yang menakutkan sehingga
ketertarikan siswa akan fisika berkurang.
Adapun kelebihan ilmu fisika yang harus
ditekankan kepada siswa di antaranya sebagai berikut.
1) Fisika membahas sesuatu yang realita.
2) Fisika membawa kita untuk menelusuri bagaimana
ilmu pengetahuan dan teknologi pada berbagai
bidang tercipta.
3) Fisika membiasakan kita untuk berpikir dan
menggunakan otak kita secara sistematis dalam
menyelesaikan segala masalah.
Tidak sedikit siswa yang merasa stress ketika akan
mengikuti pelajaran Sains (Fisika), oleh karena itu
pengajar seharusnya memperhatikan aspek-aspek
pembelajaran fisika, di antaranya sebagai berikut.
1) J angan menyajikan fisika berupa kumpulan rumus
belaka yang harus dihafal mati oleh siswa, hingga
akhirnya ketika evaluasi belajar, kumpulan tersebut
campur aduk dan menjadi kusut di benak siswa.
2) Dalam menyampaikan materi perhatikan proporsi
materi dan sistematika penyampaian, serta penekanan
pada konsep dasar.
3) Gunakan metode yang bervariasi dalam pengajaran
serta gunakan alat bantu yang dapat memperjelas
gambaran siswa tentang materi yang dipelajari.
4) Hilangkan gambaran fisika itu susah.Pegas banyak
digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Komponen Strategi Pembelajaran
Pada kegiatan kerja praktek yang dilakukan di
MTS As-Syarifiyah, materi yang diajarkan adalah Zat dan
Wujudnya. Untuk mencapai tujuan pembelajaran ini
digunakan metode-metode pembelajaran sebagai berikut.

Pembelajaran Demonstrasi
Metode pembelajaran demonstrasi adalah salah
satu cara mengajar atau teknik mengajar dengan
memvariasikan lisan dengan suatu kegiatan (penggunaan
suatu alat). Metode pembelajaran demonstrasi merupakan
metode mengajar yang sangat efektif untuk membantu
siswa dalam memahami konsep-konsep fisika. Dengan
metode demonstrasi siswa dapat belajar langsung dan
mendapat pengalaman yang lain dibandingkan jika siswa
mendengarkan ceramah guru atau sebatas membaca buku
teks.
Menurut Berg (dalam Prayogo 2001:13) manfaat
demonstrasi dari segi pendidikan sebagai berikut [7].
1) Demonstrasi dapat mendorong motivasi belajar
siswa.
2) Demonstrasi dapat menghidupkan pelajaran.
3) Demonstrasi dapat mengaitkan teori dengan peristiwa
alam lingkungan kita.
4) Demonstrasi apabila dilaksanakan dengan tepat,
metode ini dapat menimbulkan rasa ingin tahu siswa.
5) Demonstrasi dan hasilnya, seringkali mudah teringat
daripada bahasa dalam buku pegangan atau
penjelasan guru.
Manfaat metode pembelajaran demonstrasi yang
terpenting adalah member ilustrasi dan memperjelas
konsep-konsep dan penerapannya. Sebab melihat benda
nyata bagi siswa lebih terkesan dari pada membaca atau
melihat gambarnya saja.

Pembelajaran Simulasi (Berbasis Komputer)
Komputer dalam pembelajaran fisika dapat
digunakan sebagai alat bantu percobaan, simulasi,
demonstrasi, dan juga alat hitung. Simulasi komputer
dengan topik bahasan fisika dapat membantu siswa lebih
mengerti persoalan yang dipelajari. Simulasi komputer
mempunyai beberapa keuntungan [8].
JPFSM Vol. 1 No. 1, Februari 2009


11
1) Praktikum fisika yang sulit dan bahannya mahal
dapat diganti dengan simulasi yang lebih murah dan
lebih jelas,
2) Siswa dapat mengulangi simulasi sendiri tanpa
bantuan guru.
Hal terpenting yang perlu dipertimbangkan dalam
menggunakan program pembelajaran fisika berbasis
komputer adalah seperti diuraikan berikut ini [9].
1) Ketersediaan program pembelajaran untuk suatu
topik tertentu.
2) Maksud dan tujuan.
3) Kesiapan siswa untuk mengoperasikan program
pembelajaran tersebut.
4) Ketersediaan komputer pendukung.

Metode ceramah
Metode ceramah adalah penyampain bahan
pembelajaran dengan mengkomunikasikan bahan
pembelajaran secara lisan [7]. Kemampuan guru
mengolah bahan pembelajaran sebelum ditransformasikan
melalui lisan sangat dituntut. Penguasaan materi sangat
penting karena guru adalah sumber ilmu bagi siswa.
Metode ini sangat ekonomis, praktis dan efektif untuk
menyajikan informasi, konsep, ilmu dan gagasan. Metode
ini memiliki kelemahan yaitu kurang aktifnya siswa
dalam kegiatan pembelajaran sehingga kadangkala kurang
cocok untuk pembentukan ketrampilan dan sikapsikap
tertentu.

Diskusi dan Tanya Jawab
Metode diskusi adalah proses pembelajaran
dengan melakukan pembicaraan mendalam mengenai
pokok bahasan dengan melibatkan murid secara aktif dan
terjadi komunikasi dari berbagai arah [6]. Pembelajaran
diskusi mengandung unsur demokrasi karena memberi
kesempatan seluasluasnya kepada murid untuk
mengemukakan ide, mencari kebenaran, mengembangkan
pendapat, dan argumentasi. Dengan metode diskusi, guru
dapat mempertinggi daya nalar siswa dan memotivasi
mereka aktif dalam belajar sehingga proses belajar dan
pembelajaran menjadi hidup. Akan tetapi guru perlu
mewaspadai metode ini sehingga penggunaan waktu
menjadi efektif.
Metode tanya jawab adalah cara guru
mentransformasikan materi pembelajaran melalui tanya
jawab antara guru dan siswa. Dalam metode ini guru
mengajukan pertanyaan kepada seorang siswa dan
langsung dijawabnya. Dapat pula guru mengajukan
pertanyaan ke seluruh kelas dan kemudian menyuruh
seorang siswa untuk menjawab atau beberapa siswa
mengangkat tangan dan guru menunjuk salah seorang
siswa untuk menjawab pertanyaan. Metode ini digunakan
dalam proses pembelajaran ketika guru ingin mengetahui
tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah
disampaikan.

3. Metode
Tempat kegiatan
Kegiatan ini di laksanakan di kelas VII-2 dan VII-
1 MTS As-Syarifiyah Bandung yang berlokasi di
Jln.Komodor Supadiyo 45/72 Bandung dengan jumlah
masing-masing 36 siswa.

Persiapan Kegiatan
Untuk memudahkan kegiatan pembelajaran, telah
dipersiapkan media simulasi (komputer), program
JavaScript, pre-test, post-test dan konsep materi: (i)
Wujud Zat dan (ii) Pemuaian lengkap dengan RPP, dan
silabus.


Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan pembelajaran tampak pada Tabel 1.

Tabel 1. Kegiatan tatap muka dalam kelas
Kelas Tanggal Materi Metode
VII-1 03-11-2008 Zat dan
Wujudnya
Demonstrasi
11-11-2008 Pemuaian Ceramah
VII-2 03-11-2008 Zat dan
Wujudnya
Simulasi JavaScript
11-11-2008 Pemuaian Simulasi JavaScript

Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengambilan data, dilakukan 2 tahapan
identifikasi persentase kemampuan kognitif siswa yaitu
pre-test dan pos-test dan persentase respon minat siswa
terhadap metode pembelajaran yang baru. Secara singkat,
teknik pengumpulan data ditunjukkan dalam Tabel 2.

Tabel 2. . Teknik pengumpulan data
No Penilaian Jenis Bentuk
1 Kognitif Pre-test dan
post-tes
Pilihan Ganda
2 respon kuesioner Check-list


4. Hasil dan Diskusi
Persentase Materi Wujud Zat
Hasil persentase ketuntasan belajar siswa materi
Wujud Zat dengan dua metode demonstrasi dan simulasi
JavaScript kelas VII-1 dan VII-2 dapat dilihat pada Tabel
3-4 dan Gambar 1-2.

Metode Demonstrasi
Hasil persentase pembelajaran dengan metode
demonstrasi dapat dilihat pada Gbr. 1 dan Tabel 3.



Gambar 1. Grafik pre-test vs post-test demonstrasi


JPFSM Vol. 1 No. 1, Februari 2009


12
Tabel 3. Persentase ketuntasan belajar metode
demonstrasi
Jenis Test Jumlah
Siswa
Nilai
Rerata
Tingkat Ketuntasan
Tuntas Tidak
Tuntas
Pre Test 36 36,8 0 % 100%
Post Test 36 52,3 50 % 50%


Metode Simulasi
Metode simulasi Javascript memberikan
ketuntasan belajar pada Tabel 4 dan Gbr. 2.
Dari Tabel 3 dan 4 serta Gambar 1 dan 2 dapat
disimpulkan bahwa metode simulasi JavaScript lebih
efektif dari metode demonstrasi sederhana.


Tabel 4. Persentase ketuntasan belajar siswa metode
simulasi
Jenis Tes
Jumlah
siswa
Nilai
rerata
Tingkat ketuntasan
Tuntas Tidak Tuntas
Pre Test 36 34,0 5,6 % 94,4%
Post Test 36 57,1 52,8 % 47,2%




Gambar 2 Grafik pre-test vs post-test metode simulasi

Persentase materi Pemuaian
Hasil persentase ketuntasan belajar siswa materi
Pemuaian kelas VII-1 dan VII-2 yang masing-masing
berjumlah 35 siswa, dengan metode ceramah dan simulasi
adalah sebagai berikut.

Metode Ceramah
metode ketiga yang digunakan pada kelompok
VII-1 adalah metode ceramah, setelah proses
pembelajaran didapatkan persentase ketuntasan seperti
pada Tabel 6 dan Gbr. 3.

Metode Simulasi
Hasil persentase metode simulasi materi Pemuaian
dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gbr. 4.



Tabel 6. Persentase ketuntasan belajar siswa metode
ceramah
Jenis Tes
Jumlah
siswa
Nilai
rerata
Tingkat ketuntasan
Tuntas
Tidak
Tuntas
Pre Test 35 siswa 26,86 11,43 % 88,57 %
Post Test 35 siswa 34,0 17,14 % 82,86%

Dari Tabel 6 dan 7 serta Gbr. 3 dan 4 dapat
disimpulkan bahwa matode simulasi JavaScript lebih
efektif dibanding metode ceramah.

5. Kesimpulan dan Saran
Hasil analisa persentase ketuntasan belajar siswa,
untuk materi Wujud Zat dengan simulasi JavaScript
memberikan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar
52,8% dan persentase ketuntasan belajar siswa dengan
metode demonstrasi 50%. Untuk materi Pemuaian
diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa dengan
simulasi JavaScript 51,4% dan persentase ketuntasan
belajar siswa dengan metode ceramah 17,4%.



Gambar 3 Grafik pre-test vs post-test metode ceramah

Tabel 7. Persentase ketuntasan belajar siswa metode
simulasi
Jenis Tes
Jumlah
siswa
Nilai
rerata
Tingkat ketuntasan
Tuntas
Tidak
Tuntas
Pre Test 35 siswa 25,71 8,57 % 91,43%
Post Test 35 siswa 48,0 51,43 % 48,57%




Gambar 4 Grafik pre-test vs post-test metode simulasi

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa metode
simulasi computer dengan bahasa JavaScript lebih efektif
dibanding metode demonstrasi juga lebih efektif
dibanding metode ceramah.
JPFSM Vol. 1 No. 1, Februari 2009


13
Dengan demikian metode pembelajaran
menggunakan simulasi Javascript yang berbasiskan
komputer dapat dijadikan metode alternatif dalam
meningkatkan kemampuan siswa di MTS As-Syarifiyah
khususnya dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada
umumnya.
Walaupun demikian, hasil-hasil yang dipaparkan
di sini belum dapat menunjukkan bahwa metode ceramah
benar-benar tidak efektif karena metode pembelajaran ini
bergantung pada banyak faktor yang belum semuanya
dibahas dalam tulisan ini.

Ucapan Terima Kasih
Penulis ingin mengucapkan terima kasih atas
beasiswa yang diberikan dalam kerangka kerja sama
Departemen Agama Republik Indonesia dan Institut
Teknologi Bandung tahun 20072008.

Referensi
[1] P.G. Hewitt, Conceptual Physics, Boston: Little
Brown & Company, Boston (1985).
[2] E. Rachmawati, Efektivitas Penerapan Metode
Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam
Mencapai Ketuntasan Belajar Fisika Siswa Kelas I
SMU Negeri 1 Kediri, Malang: Universitas Negeri
Malang (2002).
[3] S. Conceri, S. Giorgi, C. Cmara and N. Giacosa.
Didactic strategies using simulations for Physics
Teaching, Current Developments in Technology-
Assisted Education Vol III, pp. 2042-2046 (2006).
[4] E. Nofiari, JavaScript, Departemen Teknik
Informatika, ITB (2008).
[5] A. Heinze and K. Reiss, The teaching of proof at the
lower secondary level a video study. University of
Augsburg, Germany (2000)
[6] H. Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta:
Bumi Aksara (2002).
[7] H. Prayogo, Penerapan Metode Pembelajaran
Kooperatif dan Metode Pembelajaran Demonstrasi
Untuk Siswa Kelas 1 cawu 2 SMU Negeri 1 Gending
Probolinggo Tahun Pelajaran 2000/2001 Pokok
Bahasan Elastisitas, Malang: Universitas Negeri
Malang (2001).
[8] B. Mohnsen, Using Technology in Physical
Education, California: Bonnies Fitware (2001).
[9] M. Dresel and M. Haugwitz, A Computer-Based
Approach to Fostering Motivation and Self-
Regulated Learning, University of Augsburg,
Germany (2008).