Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Berdasarkan organisasi kesehatan sedunia (WHO), undang-undang
dasar 1945 pasal 28 H dan undang-undang nomor 23/1992, menetapkan
bahwa kesehatan adalah hak dasar hidup setiap individu dan semua warga
negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu, setiap
individu, keluarga, dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan
terhadap kesehatannya, dan Negara bertanggung jawab mengatur agar
terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat
miskin dan tidak mampu. Selain itu, menurut amandemen UUD 1945 pasal
34 ayat 2, menyebutkan bahwa negara mengembangkan Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan
dimasukkannya SJSN ke dalam amandemen UUD 1945 dan terbitnya
Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jamian Sosial Nasional
(SJSN), hal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan
terkait memiliki komitmen yang kuat mewujudkan kesejahteraan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
1,2


Untuk melaksanakan Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) maka pemerintah Republik
Indonesia membentuk Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang tugas nya adalah sebagai
badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan
sosial.
3

Asas BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional adalah:
1. kemanusiaan
2. manfaat
3. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


2

Dalam UU no 24 tahun 2011 pasal 6 disebutkan bahwa BPJS terdiri
dari 2 jenis yaitu, BPJS kesehatan dan BPJS ketenaga kerjaan. Dimana tugas
dari masing-masing adalah : BPJS kesehatan menyelenggarakan program
jaminan kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan menyelenggarakan program
jaminan kecalakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan
kematian.
Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan
agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan
dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap
orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.
4

Beberapa masalah selama pelaksanan JKN masih masih ditemui
sehingga manfaat yang dirasakan belum optimal. Beberapa masalah utama
antara lain masih adanya masyarakat miskin belum mendapat pelayanan,
obat masih dibeli di apotek, uang jamkesmas semua disetor ke kas daerah,
peserta PKH yang tidak dijamin jamkesmas, dana jamkesmas untuk beli
obat, perlu kejelasn tentang jasa medis/pelayanan, sisa dana di beberapa
puskesmas masih banyak dan masalah lain yang perlu diselesaikan dalam
upaya meningkatkan pelaksanaan program jamkesmas.
1
Maka bila masih
ada masyarakat yang miskin dan perlu pengobatan dan terapi tidak terdaftar
dalam kuota Jamkesmas maka menjadi tanggung jawab pemerintah
Provinsi/Kabupaten/Kota dan pengelolaanya mengikuti mekanisme
Jamkesmas (SE 028/MENKES/2009) dengan menberikan jaminan
kesehatan masyarakat daerah/jaminan kesehatan daerah.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari
materi ini adalah:
a. Apa pengertian dari JKN?
b. Apa tujuan JKN?
c. Apa sasaran JKN?
d. Apa ketentuan kepesertaan JKN?
e. Apa landasan hukum tentang program JKN?
f. Bagaimana administrasi kepesertaan JKN?
3

g. Apa saja ruang ligkup JKN?
h. Bagaimana pendanaan dari JKN?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi
dalam layanan kesehatan peserta jaminan kesehatan nasional
Puskesmas wilayah IV Koni.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program jaminan
kesehatan di Indonesia khususnya di Puskesmas wilayah IV
Koni.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab masalah dalam
pelaksanaan program jaminan kesehatan di Indonesia
khususnya di Puskesmas wilayah IV Koni.
1.4. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Senior
Sebagai tugas yang merupakan salah satu syarat pelaksanaan
kepaniteraan klinik untuk menambah wawasan di bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi.
2. Bagi Puskesmas wilayah IV Koni
a. Puskesmas wilayah IV Koni dapat mengetahui pelaksanaan
program JKN di wilayah kerjanya.
b. Puskesmas wilayah IV Koni dapat melakukan identifikasi dan
analisis masalah, mencari penyebab dan latar belakang serta
hambatan masalah dari program Jamkesmas/da di wilayah
kerjanya.
3. Bagi Peneliti Lain
a. Dapat digunakan sebagai bahan acuan atau data untuk
melaksanakan penelitian terkait

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian JKN
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme
asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap
orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.
3,4
2.2 Tujuan JKN
Tujuan JKN agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem
asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat
yang layak.
5
2.3 Sasaran JKN
Semua penduduk Indonesia wajib menjadi peserta jaminan kesehatan yang
dikelola oleh BPJS termasuk orang asing yang telah bekerja paling singkat enam
bulan di Indonesia dan telah membayar iuran.
Kelompok BPJS Kesehatan terdiri dari
2,3,4
a. PBI (Penerima Bantuan Iuran ) Jaminan Kesehatan
3,4

Peserta jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu
sebagaimana diamanatkan UU SJSN yang iurannya dibayari pemerintah sebagai
peserta program jaminan Kesehatan.
Peserta PBI jaminan kesehatan
Fakir miskin yang ditetapkan oleh pemerintah dan diatur melalui peraturan
pemerintah. Selain itu yang berhak menjadi peserta PBI Jaminan Kesehatan
adalah orang yang mengalami cacat total tetap dan tidak mampu.





5

b. Bukan PBI (Penerima Bantuan Iuran) Jaminan Kesehatan
3,4

Peserta Bukan PBI Jaminan Kesehatan
i. Pekerja penerima upah dan anggota keluarganya
Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau
imbalan dalam bentuk lain.
Terdiri dari :
a. Pegawai Negeri Sipil
b. TNI
c. Anggota POLRI
d. Pejabat Negara
e. Pegawai pemerintah non pegawai negeri (pegawai tidak tetap, pegawai
honorer, staf khusus dan pegawai lain yang dibayarkan oleh anggaran
pendapatan belanja negara atau anggaran pendapatan belanja daerah).
f. Pegawai swasta dan
g. Pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja
h. Penerima upah.
ii. Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya
Pekerja bukan penerima upah adalah setiap orang yang bekerja dan
berusaha atas risiko sendiri.
Terdiri atas :
a. Pekerja diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri
b. Pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja bukan penerima upah.
iii. Bukan pekerja dan anggota keluarganya
Bukan pekerja adalah setiap orang yang tidak bekerja tetapi mampu
membayar iuran jaminan kesehatan.
Terdiri atas :
a. Investor
b. Pemberi kerja
c. Penerima pensiun
d. Veteran
e. Perintis kemerdekaan
f. Bukan pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja penerima upah.
6

Yang dimaksud anggota keluarga meliputi :
a. Satu orang istri atau suami yang sah dari peserta
b. Anak kandung, anak tiri dan atau anak angkat yang sah dari peserta
dengan kriteria :
- Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan
sendiri dan
- Belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun yang masih
melanjutkan pendidikan formal.
- Jumlah peserta dan anggota keluarga yang ditanggung jaminan
kesehatan paling banyak 5 orang.

Hak dan Kewajiban Peserta
Hak peserta
1. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh
pelayanan kesehatan.
2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta
prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan; dan
4. Menyampaikan keluhan/ pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau
tertulis kekantor BPJS Kesehatan.

Kewajiban peserta
1. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang
besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian,
kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat
1.
3. Menjaga kartu peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh
orang yang tidak berhak;
4. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

7

2.4 Prinsip-prinsip JKN
Penjelasan Pasal 19 UU SJSN menyatakan bahwa yang dimaksud prinsip
asuransi sosial adalah:
5
1. Kegotong-royongan
Adalah prinsip kebersamaan antara peserta dalam menanggung beban
biaya jaminan sosial yang diwujudkan dengan kewajiban setiap peserta
pembayar iuran sesuai dengan tingkat gaji, upah, atau tingkat
penghasilannya. Kegotong-royangan antara yang kaya dan miskin, yang
sehat dan sakit, yang tua dan muda, dan yang berisiko tinggi dan rendah.
2. Kepesertaan yang bersifat wajib dan tidak selektif
Adalah prinsip mengharuskan seluruh penduduk menjadi peserta jaminan
sosial, yang dilaksanakan secara bertahap.
3. Dana amanat
Adalah bahwa iuran dengan hasil pengembangannya merupakan dana
titipan dari peserta untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan
peserta jaminan social.
4. Bersifat nirlaba
Adalah prinsip pengelolaan usaha yang mengutamakan penggunaan hasil
pengembangan dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya dari
seluruh peserta.
5. Keterbukaan
Adalah prinsip mempermudah akses informasi yang lengkap, benar dan
jelas bagi setiap peserta.
6. Kehati-hatian
Adalah prinsip pengelolaan dana secara cermat, teliti, aman dan tertib.
7. Akuntabilitas
Adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
8. Portabilitas
Adalah prinsip memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta
berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
8

9. Hasil Pengelolaan dana Jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.

Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip ekuitas adalah kesamaan dalam
memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang tidak terikat dengan
besaran iuran yang telah dibayarkannya. Kesamaan memperoleh pelayanan adalah
kesamaan jangkauan finansial ke pelayanan kesehatan.

2.5 Landasan Hukum
1. UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN menggantikan program-program
jaminan sosial yang ada sebelumnya (Askes, Jamsostek, Taspen dan
Asabri) yang dinilai kurang hasil memberikan manfaat yang berarti
kepada penggunanya karena jumlah pesertanya kurang, jumlah dinilai
manfaat program-program kurang memadai.
6

2. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 2013 tentang
Jaminan Kesehatan.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.Pasal 1 : Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.
5

Pasal 3 : BPJS bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya
pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak
bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya.

2.6 Prosedur Sistem Pelayanan Kesehatan
Prosedur pelayanan kesehatan BPJS menggambarkan tentang proses
kepesertaan pasien dalam penjaminan BPJS. Dalam prosedur ini menggambarkan
persyaratan individu/masyarakat untuk mendapatkan jaminan kesehatan dari
BPJS.
5
Sistem dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan atau tahanan yang
terdiri dari kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi dan saling
9

bergantung dengan yang lain secara bersama-sama bergerak untuk mencapai
tujuan.
5
Berdasarkan pengertian sistem yang dikemukakan di atas dapat dikatakan
bahwa sistem adalah gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) didalam suatu
proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi.
5
Demikian seterusnya dari sistem yang besarnya ini, misalnya pelayanan
kesehatan sebagai suatu sistem terdiri dari sub sistem pelayanan medik, pelayanan
keperawatan, pelayanan rawat inap, rawat jalan dan sebagainya, dan masing-
masing subsistem terdiri dari sub-sub sistem lagi.
5
Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling berhubungan dan
saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub sistem tidak berjalan
dengan baik maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besar,
elemen-elemen dalam sistem itu adalah sebagai berikut ;
5
1. Masukan (input) adalah sub-sub elemn yang diperlukan sebagai masukan
untuk berfungsinya sistem.
2. Proses ialah salah satu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan
sehingga menghasilkan susatu (keluaran) yang direncanakan.
3. Keluaran (out put) ilah hal yang dihasilkan proses.
4. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah
beberapa waktu lamanya.
5. Umpan balik (feed back) ialah juga merupakan hasil dari proses yang
sekaligus sebagai masukan untuk sistem tersebut.
6. Lingkungan (environment) ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi
sistem tersebut.

Jamkesmas
1,7
a. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) bahwa setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapat lingkungan
yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 34
mengamanatkan ayat (1) bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar
dipelihara oleh negara, sedangkan ayat (3) bahwa negara bertanggungjawab
atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak.
10

b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495).
c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4286).

2.7 Administrasi Kepesertaan
Administrasi kepesertaan meliputi: registrasi, penerbitan, dan
pendistribusian kartu sampai ke peserta sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT
Askes (Persero) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Data peserta yang telah ditetapkan Pemda, kemudian dilakukan entry
oleh PT Askes (Persero) untuk menjadi database kepeseraan di
kabupaten/ kota.
2. Entry data setiap peserta meliputi antara lain :
a. Nomor kartu
b. Nama peserta
c. Jenis kelamin
d. Tempat dan tanggal lahir/ umur
e. Alamat
3. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan
didistribusikan sampai ke peserta.
4. PT Askes (Persero) menyerahkan Kartu Peserta kepada yang berhak,
mengacu kepada penetapan bupati/ walikota dengan tanda terima yang
ditandatangani/ cap jempol peserta atau anggota keluarga peserta.
5. PT Askes (Persero) melaporkan hasil pendistribusian kartu peserta
kepada bupati/ walikota, gubernur, departemen kesehatan RI, dinas
kesehatan propinsi dan kabupaten/ kota serta rumah sakit setempat.





11

2.8 Ruang Lingkup Program JKN
Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Primer
Pelayanan rawat jalan tingkat primer yang dimaksud adalah pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas dan jaringannya termasuk UKBM
(Poskesdes, Posyandu, Pos UKK, dll) diwilayah tersebut yang mencakup :
1

a. Pemeriksaan kesehatan dan konsultasi kesehatan
b. Pelayanan pengobatan umum
c. Pelayanan gigi termasuk cabut dan tambal
d. Penanganan gawat darurat
e. Pelayanan gizi kurang/buruk
f. Tindakan medis/operasi kecil
g. Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak (pemeriksaan ibu hamil, ibu nifas,
dan neonatus, bayi, anak balita)
h. Pelayanan imunisasi wajib bagi bayi dan ibu hamil
i. Pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah
j. Pelayanan Keluarga Berencana (alat kontrasepsi disediakan BKKBN)
termasuk penanganan efek samping dan komplikasi.
k. Pemberian obat
l. Rujukan
Tempat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat Primer tersebut dapat
dilakukan di Puskesmas dan Jaringannya baik berupa kegiatan pelayanan
kesehatan di dalam gedung maupun kegiatan pelayanan kesehatan di luar gedung
yang meliputi :
1

a. Puskesmas perawatan
b. Puskesmas
c. Puskesmas Keliling
d. Puskesmas Pembantu
e. Pos Kesehatan Desa
f. Pos UKBM (Posyandu, Pos UKK, Pos Obat Desa dan lainnya)
g. Atau sarana lainnya yang tersedia di wilayah tersebut termasuk rumah
penduduk.

12

2.9 Pendanaan JKN
Sistem Kesehatan Nasional pada prinsipnya terdiri dari dua bagian besar
yaitu sistem pendanaan dan sistem layanan kesehatan. Subsistem pendanaan
kesehatan menggambarkan dan mengatur sumber-sumber keuangan yang
diperlukan untuk terpenuhinya kebutuhan kesehatan penduduk. Pendanaan
kesehatan dapat bersumber dari (1) pendanaan langsung dari masyarakat (disebut
out of pocket) yang dibayarkan dari perorangan/rumah tangga kepada fasilitas
kesehatan; (2) pendanaan dari Pemerintah dan atau Pemda; (3) pembayaran iuran
asuransi sosial yang wajib sebagaimana diatur dalam UUSJSN; (4) Pendanaan
oleh pihak ketiga, baik oleh pemberi kerja atau oleh peserta asuransi; dan (5)
bantuan pendanaan dari berbagai sumber baik dalam maupun luar negeri.
BerdasarkanUU Nomor 40/2004 tentang SJSN dan UU Nomor 36/2009 tentang
Kesehatan, pendanaanlayanan kesehatan perorangan akan bertumpu dari iuran
wajib yang akan dikelola oleh BKesehatan. Sementara pendanaan bersumber dari
kantong perorangan/keluarga, pemberi kerja baik langsung atau melalui asuransi
kesehatan swasta akan menjadi sumber dana tambahan (top up) layanan kesehatan
perorangan. Sedangkan sumber dana dari Pemerintah/Pemda tetap diperlukan
untuk mendanai bantuan iuran bagi penduduk miskin dan tidak mampu serta
pendanaan program kesehatan masyarakat yang tidak ditujukan untuk layanan
orang per orang.
1. Iuran
Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara
teratur oleh peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk Program
Jaminan Kesehatan, (pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan
Kesehatan Nasional)
2. Pembayar Iuran
a. Bagi peserta PBI, Iuran dibayar oleh pemerintah
b. Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah, Iurannya dibayar oleh
Pemberi kerja dan pekerja.
c. Bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan
Pekerja, Iuran dibayar oleh peserta yang bersangkutan.
13

d. Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di tetapkan melalui
peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan
perkembangan sosial, ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang
layak.
3. Pembayaran Iuran
Setiap peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan
berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu
jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).

Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan
iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya dan membayarkan iuran tersebut
setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10
setiap bulan). Apabila tanggal 10 (sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran
dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran untuk
pekerja penerima upah dikenakan denda administratif sebesar 2% (dua persen) per
bulan dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 3 (tiga) bulan,
yang dibayarkan bersamaan dengan total iuran yang tertunggak oleh pemberi
kerja. Sedangkan, keterambatan pembayaran iuran untuk peserta bukan penerima
upah dan bukan pekerja dikenakan denda keterlambatan sebesar 2% (dua persen)
perbulan dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 6 (enam)
bulan yang dibayarkan bersamaan dengan total iuran yang tertunggak.
Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan pekerja wajib
membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10
(sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran JKN dapat
dilakukan diawal.
4. Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan
BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama dengan sistem Kapitasi.
2.10 Pendanaan Jamkesmas
Pembiayaan Puskesmas untuk program Jamkesmas telah diatur
oleh Departemen Kesehatan sebagai berikut:
1

14

a. Sumber dan Alokasi Dana
Sumber pendanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas) merupakan bantuan sosial yang berasal dari APBN
sektor kesehatan dan kontribusi APBD. Pemerintah daerah
berkontribusi dalam menunjang dan melengkapi pembiayaan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di daerah masing-
masing meliputi antara lain :
- Masyarakat miskin yang tidak masuk dalam
pertanggungan kepesertaan Jamkesmas.
- Selisih harga diluar jenis paket dan tarif pelayanan
kesehatan tahun 2008.
- Biaya transportasi rujukan dan rujukan balik pasien maskin
dari RS Kabupaten/Kota ke RS yang dirujuk. Sedangkan
biaya transportasi rujukan dari Puskesmas ke
RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM ditanggung oleh
biaya operasional Puskesmas.
- Penanggungan biaya transportasi pendamping pasien rujukan.
- Pendamping pasien rawat inap.
- Menanggulangi kekurangan dana operasional Puskesmas.
b. Penyaluran Dana ke PPK
Dana untuk pelayanan kesehatan masyarakat miskin di
Puskesmas dan jaringannya disalurkan langsung dari Departemen
Kesehatan ke Puskesmas melalui PT. Pos Indonesia. Alokasi
masing-masing Puskesmas ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dana tersebut dikirim ke
Puskesmas secara bertahap.
1

c. Pencairan dan Pemanfaatan Dana di PPK
- Puskesmas membuat Plan Of Action (POA) yang telah
disepakati dalam lokakarya mini Puskesmas
- Setiap pengambilan dana harus mendapat persetujuan dari
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pejabat
yang ditunjuk sesuai dengan POA yang telah disusun.
15

- Dana yang diterima Puskesmas, dimanfaatkan untuk
membiayai:
1) Dana pelayanan kesehatan dasar yang meliputi:
a) Biaya pelayanan dalam dan luar gedung
b) Biaya jasa pelayanan kesehatan
c) Biaya transportasi petugas
d) Biaya rawat inap
e) Biaya penanganan komplikasi kebidanan dan
neonatal di Puskesmas PONED
f) Biaya jasa pelayanan dokter spesialis dan
penggunaan peralatan penunjang spesialistik
g) Biaya transportasi dan petugas kesehatan
pendamping untuk rujukan
2) Dana pertolongan persalinan:
a) Biaya pertolongan persalinan normal
b) Biaya pelayanan nifas
Biaya jasa pelayanan kesehatan mengacu pada Perda tarif,
apabila dalam Perda tarif tidak mengatur tentang jasa pelayanan
kesehatan dapat dibuatkan Surat Keputusan Bupati/Walikota
berdasarkan usulan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Peserta Jamkesmas tidak boleh dikenakan iur bayar dengan alasan
apapun.
1

Alokasi dana setiap Puskesmas ditetapkan berdasar SK
kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dengan mengacu keputusan
menteri kesehatan tentang alokasi dana tiap kabupaten/kota yang
dikirimkan keseluruh kabupaten/kota. Alokasi dana tiap
kabupaten/kota dihitung berdasarkan jumlah sasaran Jamkesmas
yang ditetapkan Menkes (kuota) dikalikan Rp.1.000,- dikalikan 12
bulan. Dana untuk kegiatan pelayanan kesehatan program
Jamkesmas di Puskesmas dan jaringannya disalurkan melalui PT.
Pos Indonesia (Persero).
1

16

BAB III
MASALAH PELAYANAN KESEHATAN DAN JAMINAN KESEHATAN
NASIONAL DI PUSKESMAS

3.1 Profil Puskesmas Koni
Puskesmas Koni Kota Jambi berdiri tahun 1978, dengan nama
Puskesmas wilayah IV Koni berada dalam kecamatan Pasar Jambi.
Keberadaannya strategis dengan wilayah kerja yang luas dan jumlah
penduduk yang banyak. Puskesmas Wilayah IV Koni diklasifikasikan
Puskesmas rawat jalan, dengan membawahi satu buah Puskesmas
pembantu.
Puskesmas IV Koni Kota Jambi sebagai salah satu unit pelaksana
teknis Dinas Kesehatan Kota Jambi dituntut menjadi ujung tombak
pembangunan kesehatan khususnya memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat yang bersifat promotif, kuratif, tanpa mengabaikan
pelayanan yang bersifat preventif dan rehabilitatif untuk mempertinggi
derajat kesehatan dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan
kesehatan masyarakat pada umumnya dan pada keluarga serta penyebaran
dan pemeliharaan Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas IV Koni,
pelayanan kesehatan ini tertuang dalam 6 program pokok dan program
pengembangan Puskesmas yaitu :
1. Promosi kesehatan
2. Kesehatan lingkungan
3. Kesehatan Ibu dan Anak
4. Keluarga Berencana
5. Perbaikan gizi masyarakat
6. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan upaya
pengobatan


17

Puskesmas IV Koni Kota Jambi secara administrasi terletak di
Wilayah Kecamatan Pasar Jambi yang merupakan bagian wilayah kerja
Puskesmas IV Koni meliputi 4 Kelurahan, yaitu :
1. Sungai Asam
2. Beringin
3. OKH
4. Pasar
Dan terbagi menjadi 58 RT (Rukun Tetangga).
Letak dan batas wilayah Puskesmas IV Koni terletak di kecamatan
pasar dengan batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Sungai Asam
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Telanai Pura
- Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Batang Hari
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Jelutung

Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas IV Koni berdasarkan
data akhir tahun 2012 adalah 13.468 jiwa, dengan perincian:
- Sungai Asam : 7.228 jiwa
- Beringin : 3.662 jiwa
- OKH : 2.025 jiwa
- PASAR : 553 jiwa

Puskesmas Wilayah IV Koni dengan fasilitas Puskesmas rawat
jalan yang cukup lengkap seperti alat dan ruang UGD, Poli Umum, Poli
Gigi, Poli KIA, KB, Poli Usila, Poli anak sakit dan sehat (MTBS),
Imunisasi, Laboratorium sederhana, dan Konsultasi Gizi, Konsultasi
Kesehatan Reproduksi, Kesehatan Lingkungan, P2M (TB paru), Apotik
dan gudang obat yang cukup. Selain itu Puskesmas juga punya satu buah
mobil ambulans dan tujuh buah sepeda motor.



18

3.2 Kepesertaan JKN di Puskesmas Koni
Peserta program JKN adalah setiap orang, termasuk orang asing
yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah
membayar iuran.
Peserta Jaminan Kesehatan meliputi :
1. PBI Jaminan Kesehatan
2. Bukan PBI Jaminan Kesehatan

3.2.1. Jumlah Peserta BPJS di Puskesmas Koni Januari-Juni Tahun 2014

Tabel 3.2.1 Jumlah peserta BPJS di Puskesmas Koni Januari Juni 2014









Sumber :
9
3.2.2. Jumlah Kunjungan peserta BPJS di Puskesmas Koni Januari-Juni
Tahun 2014

3.2.2 Jumlah Kunjungan peserta BPJS Januari-Mei di Puskesmas Koni
Tahun 2014




Jumlah Peserta Tahun 2014
5.769 Januari
5.879 Februari
5.960 Maret
6.102 April
6.345 Mei
6.686 Juni
No Status Pelayanan/Bulan Jumlah kunjungan
1. BPJS/ Januari 310
2. BPJS / Februari 291
3. BPJS / Maret 363
4. BPJS / April 440
5. BPJS / Mei 458
19

Kepesertaan JKN merupakan salah satu masalah yang dihadapi di
Puskesmas Koni karena sebagian dari pasien yang berobat adalah
masyarakat miskin namun tidak memiliki kartu peserta JKN/BPJS. Hal ini
diungkapkan oleh bagian pengurus JKN di Puskesmas wilayah IV Koni:
.. tidak semua masyarakat miskin yang berobat memiliki kartu
peserta Jamkesmas, karena masih ada masyarakat miskin yang
tidak terdata atau terdapat oleh BPS sehingga menyebabkan tidak
meratanya juga pembagian kartu jamkesmas, namun untuk
program pelaksanaannya sudah berlangsung sangat baik

3.3 Pelayanan Kesehatan bagi peserta JKN
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan salah satu
sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting dan
sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Puskesmas yaitu suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi
sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta
masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat
yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Puskesmas Koni merupakan pusat pelayanan kesehatan rawat jalan
tingkat pertama dan bukan merupakan pusat pelayanan rawat inap. Semua
peserta JKN di lingkungan wilayah kerja puskesmas Koni mendapatkan
pelayanan kesehatan dasar yang meliputi: pelayanan kesehatan rawat jalan
tingkat pertama (RJTP) beserta jaringannya yaitu berupa Puskesmas
Keliling (Puskesling), Poliklinik Kesehatan Desa (PKD)/Pondok bersalin
Desa (Polindes) dan Puskesmas Pembantu (Pustu).
Pelayanan yang diberikan baik dan tidak membedakan antara
pasien JKN ataupun pasien umum. Pasien merasa puas dengan pelayanan
yang diberikan di Puskesmas, namun mereka sedikit dipusingkan dengan
system yang mengharuskan mereka ke rumah sakit kota terlebih dahulu
sebelum akhirnya mereka dirujuk ke rumah sakit Raden Mattaher.
20

Peserta tidak diperbolehkan langsung berobat ke rumah sakit
tanpa melalui pelayanan di Puskesmas dan jaringannya. Dikarenakan
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta menerapkan
pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan. Pasien yang baru pertama kali
mengalami sistem rujukan ini biasanya di rujuk terlebih dahulu ke rumah
sakit kota RS. Abdul Manap, sedangkan pasien ulangan dapat langsung di
rujuk ke rumah sakit Raden Mattaher.
Sistem rujukan yang diterapkan kepada peserta JKN tersebut sudah
sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku, namun pada
kenyataannya dilapangan prosedur tersebut malah membuat rasa
ketidaknyamanan dan menimbulkan opini yang secara tidak langsung
menjelaskan rasa ketidakpuasan peserta JKN. Namun disisi lain bagi
peserta yang sudah terbiasa dengan prosedur sistem rujukan tersebut hal
ini tidaklah memberatkan.

3.4 Pendanaan program JKN di Puskesmas Koni
Sumber pendanaan program JKN/BPJS di Puskesmas Koni
berasal dari APBN dan iuran peserta BPJS. Alokasi dana di hitung
berdasarkan jumlah peserta BPJS di wilayah Puskesmas Koni dikalikan
Rp. 6.000,- per bulan. Pelayanan kesehatan pada puskesmas Koni meliputi
upaya pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dana program JKN di Puskesmas Koni sejauh ini sedikit
mengalami masalah, dana yang diterima cukup untuk melaksanakan
pelayanan kesehatan bagi setiap peserta JKN. Tetapi pembayaran JKN
yang dilakukan BPJS pada bulan januari-mei 2014 kepada puskesmas koni
baru dilakukan pada bulan juni 2014. Puskesmas Koni terkadang juga
mendapatkan realokasi dana dari puskesmas lain. Hal ini karena cakupan
wilayah kerja Puskesmas yang luas dengan peserta JKN yang cukup
banyak. Proses realokasi dana antar Puskesmas tetap harus
mempertimbangkan pencapaian target kegiatan selama satu tahun disetiap
Puskesmas.

21

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan desain
deskriptif kualitatif mengenai Evaluasi Program JKN di Puskesmas Koni,
didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Jumlah peserta JKN/BPJS yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas
Koni yang telah memiliki kartu adalah sebanyak 6.686 orang dengan
jumlah kunjungan peserta JKN bulan Januari sampai dengan bulan Mei
sebanyak 1.862 orang.
2. Kepesertaan BPJS merupakan salah satu masalah yang dihadapi di
Puskesmas Koni karena sebagian dari pasien yang berobat adalah
masyarakat miskin namun tidak memiliki kartu peserta BPJS.
3. Puskesmas Koni merupakan pusat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat
pertama dan bukan merupakan pusat pelayanan rawat inap. Dalam hal
pelayanan, Puskesmas Koni sudah menjalani tugasnya sebagai pelayanan
kesehatan rawat jalan tingkat pertama. Pasien merasa puas dengan
pelayanan yang diberikan di Puskesmas, namun mereka sedikit
dipusingkan dengan sistem rujukan yang mengharuskan mereka ke rumah
sakit kota terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka dirujuk ke rumah sakit
Raden Mattaher.
4. Dana program JKN/BPJS di Puskesmas Koni bulan Januari Mei 2014
baru dibayarkan pada bulan Juni 2014.

4.2 SARAN
Dari kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada
beberapa permasalahan yang ditemukan mengenai program JKN di
Puskesmas Koni. Pertama, kepesertaan JKN belum mencakup semua
masyarakat miskin, masih ada sebagian masyarakat miskin yang tidak
menjadi peserta Jaminan kesehatan masyarakat tersebut. Untuk itu
diharapkan pendataan terhadap masyarakat miskin hendaknya dilakukan
22

lebih gencar dan terkoordinir dengan baik agar tidak ada masyarakat
miskin yang tidak masuk dalam database JKN/BPJS. Promosi kepada
masyarakat mengenai program JKN/BPJS ini juga dapat dilakukan
mengingat sebagian masyarakat yang tinggal di daerah pelosok mungkin
belum mengetahui tentang adanya program Jamkesmas ini yang dapat
mereka gunakan untuk berobat secara gratis.
Kedua, permasalahan yang ditemukan yaitu mengenai sistem
rujukan kepada peserta JKN, dimana mereka dirujuk ke rumah sakit kota.
Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta JKN menerapkan
pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan. Peserta JKN mungkin belum
mengetahui mengenai sistem pelayanan ini karena kurangnya sosialisasi
mengenai program JKN ini. Karena itu diharapkan dapat diadakan suatu
penyuluhan kepada peserta mengenai pelayanan yang bisa mereka
dapatkan dari program jaminan kesehatan ini termasuk sistem rujukan
yang diterapkan kepada peserta JKN/BPJS.
Dengan memperhatikan keterbatasan masyarakat tersebut,
Puskesmas diharapakan dapat lebih meningkatkan dan memperbanyak
upaya-upaya kesehatan diluar gedung untuk mendekatkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat sehingga cakupan akan meningkat sehingga
seluruh masyarakat khususnya masyarakat miskin dapat mengakses
pelayanan kesehatan dasar.











23

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. (2009). Petunjuk Teknis Program Jaminan Kesehatan
Masyarakat di Puskesmas dan Jaringannya tahun 2009. Jakarta
2. Kementerian Kesehatan RI. Buletin Jendela Data dan Informasi
Kesehatan. Diunduh 10 Mei 2014 dari URL:
http://www.depkes.go.id/downloadbuletin%20Jamkesmas.pdf
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang
Jaminan Kesehatan
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012
Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
6. Kemenkes RI. Modul Pelatihan Jaminan Kesehatan Bagi Petugas
Puskesmas. 2012 : Jakarta.
7. Undang-undang Republik Indonesia No 40 Tahun 2004 Tentang Jaminan
Sosial Nasional
8. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan
RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2581/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Pelayanan
Kesehatan Dasar Jaminan Kesehatan Tahun 2011.
9. Evaluasi Kinerja Puskesmas Koni Kota Jambi. 2013