Anda di halaman 1dari 10

Sabtu, 12 Desember 2009

Perlukah UU Praktek Keperawatan????


Undang-Undang praktik Keperawatan


Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan dibutuhkan.
Pertama, alasan filosofi. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam
peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan
kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok
desa terpencil dan perbatasan. Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum
diimbangi dengan pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek
hukum. Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional,
semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat
memegang teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan,
lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak
(masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang
seimbang, optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal,
keadilan, serta kesetaraan dan kesesuaian interprofesional (WHO, 2002).

Sebelum membahas lebih dalam tentang undang- undang praktik keperawatan mari kita
mengulas secara singkat beberapa undang- undang yang ada di indonesia yang
berkaitan peraktik keperawatan.

UU No. 6 tahun 1963 tentan Tenaga Kesehatan. UU ini merupakan penjabaran dari UU
No. 9 tahun 1960. Undang- undang ini membedakan tenaga kesehatan sarjana dan
bukan sarjana. Tenaga sarjana meliputi dokter, apoteker, dan dokter gigi. Tenaga
perawat termasuk tenaga yang bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan
rendah. UU ini boleh dikatan sudah usang, karena dalam UU ini juga tercantum berbagai
jenis tenaga sarjan keperawatan seperti sekarang ini.

UU Kesehatan No. 18 tahun 1964 mengatur tentang Wajib Kerja Paramedis. Pada pasal
2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan sarjana muda, menengah, dan rendah
wajib menjalankan wajib kerja pada pemerintah selama 3 tahun. Dalam UU ini, lagi- lagi
posisi perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga kesehatan
akademis termasuk dokter.

Dalam SK Menkes No. 262/Per/Vll/1979 tahun 1979 yan membedakan paramedis
menjadi dua golongan yaitu golongan medis keperawatan (termasuk bidan) dan
paramdis non keperawatan. Dari aspek hukum, suatu hal yang perlu dicatat di sini
bahwa tenaga bidan tidak terpisah tetapi juga termasuk katagori keperawatan
(Soekanto & Herkutanto, 1987; Sciortino, 1991).

Dalam Permenkes No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980, pemerintah membuat
suatu peryataan yang jelas perbedaan antara tenaga keperawatan dan bidan.

Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
94/Menpan/1986, tangal 4 nopenber 1986 menjelaskan jabatan fungsional tenaga
keperawatan dan system kredit poin. Sistem ini menguntungan perawat, karena dapat
naik pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/golongan atasannya.


UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 merupakan UU yang banyak memberi kesempatan
bagi perkembangan keperawatan termasuk praktik keperawatan profesional, kerena
dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak- hak pasien, kewenagan, maupun
perlindungan hokum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan. Beberapa
peryataan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 yang dapat dipakai sebagai acuan
pembuatan UU Praktik Keperawatan adalah: 1) Pasal 53 ayat 4 menyebutkan bahwa
ketentuan mengenai standar profesi dan hak- hak pasien ditetepkan dengan peraturan
pemerintah. 2) Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa tenaga kesehatan bertugas
menyelengarakan atau melaksakan kegiatan sesuai dengan bidang keahlian dan
kewenagannya; Pasal 53 ayat 4 menyatakan tentang hak untuk mendapat perlindungan
hukum bagi tenaga kesehatan (Jahmono, 1993).




1. PPNI dan Pengesahan Undang- Undang praktik Keperawatan.



Dalam peringatan Hari Perawat Sedunia ini yang jatuh tanggal 12 mei, Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI) lebih mendorong disahkannya Undang-Undang
Praktik Keperawatan. Hal ini karena:


1) Keperawatan sebagai profesi memiliki karateristik yaitu, adanya kelompok
pengetahuan (body of knowledge) yang melandasi keterampilan untuk menyelesaikan
masalah dalam tatanan praktik keperawatan; pendidikan yang memenuhi standar dan
diselenggarakan di Perguruan Tinggi; pengendalian terhadap standar praktik;
bertanggungjawab dan bertanggungugat terhadap tindakan yang dilakukan; memilih
profesi keperawatan sebagai karir seumur hidup, dan; memperoleh pengakuan
masyarakat karena fungsi mandiri dan kewenangan penuh untuk melakukan pelayanan
dan asuhan keperawatan yang beriorientasi pada kebutuhan sistem klien (individu,
keluarga,kelompok dan komunitas).

2) Kewenangan penuh untuk bekerja sesuai dengan keilmuan keperawatan yang
dipelajari dalam suatu sistem pendidikan keperawatan yang formal dan terstandar
menuntut perawat untuk akuntabel terhadap keputusan dan tindakan yang
dilakukannya. Kewenangan yang dimiliki berimplikasi terhadap kesediaan untuk digugat,
apabila perawat tidak bekerja sesuai standar dan kode etik. Oleh karena itu, perlu diatur
sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi yang ditetapkan dengan peraturan dan
perundang-undangan. Sistem ini akan melindungi masyarakat dari praktik perawat yang
tidak kompeten, karena Konsil Keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam
Undang Undang Praktik Keperawatan akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan
melalui uji kompetensi akan membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik
keperawatan hanya bagi perawat yang mempunyai pengetahuan yang dipersyaratkan
untuk praktik. Sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi ini akan meyakinkan masyarakat
bahwa perawat yang melakukan praktik keperawatan mempunyai pengetahuan yang
diperlukan untuk bekerja sesuai standar.

3) Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan derajat kesehatan.
Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan
pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan.
Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian
perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum. Perawat juga memiliki
kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat pengabdian yang
tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika
profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang jelas,
kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi,
pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi,
fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan dan
kesesuaian interprofesional (WHO, 2002).

4) Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan
semakin meningkat. Hal ini karena adanya pergeseran paradigma dalam pemberian
pelayanan kesehatan, dari model medikal yang menitikberatkan pelayanan pada
diagnosis penyakit dan pengobatan, ke paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat
penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996).
Disamping itu, masyarakat membutuhkan pelayanan keperawatan yang mudah
dijangkau, pelayanan keperawatan yang bermutu sebagai bagian integral dari pelayanan
kesehatan, dan memperoleh kepastian hukum kepada pemberian dan penyelenggaraan
pelayanan keperawatan.


2. Undang- Undang praktik Keperawatan di Negara Tetangga


Negara-negara ASEAN seperti Philippines, Thailand, Singapore, Malaysia, sudah memiliki
Undang Undang Praktik Keperawatan (Nursing Practice Acts) sejak puluhan tahun yang
lalu. Mereka siap untuk melindungi masyarakatnya dan lebih siap untuk menghadapi
globalisasi perawat asing yang masuk ke negaranya dan perawatnya bekerja di negara
lain. Ketika penandatanganan Mutual Recognition Arrangement di Philippines tahun
2006, posisi Indonesia, bersama dengan Vietnam, Laos dan Myanmar, yang belum
memiliki Konsil Keperawatan. Semoga apa yang dilakukan oleh PPNI dapat mengangkat
derajad bangsa ini dengan negara lain, khususnya dalam pelayanan kesehatan.

Perawat telah memberi konstribusi yang cukup besar dalam pemberian pelayanan
kesehatan, akan tetapi belum mendapat pengimbangan dari perlindungan hukum,
bahkan sering menjadi objek dalam masalah hukum. Dan yang menjadi pertanyaan
kemana hak dan jasa untuk profesi keperawatan?.

Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan selama ini
masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan
kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yang diperoleh
masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun di dalam Undang-
undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan bahwa tujuan
pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah meningkatkan kemandirian
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. Oleh karena itu pemerintah
maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan
kesehatan masyarakat termasuk perawat spesialis komunitas perlu mencoba
mencari terobosan yang kreatif agar program-program tersebut dapat dilaksanakan
secara optimal dan berkesinambungan.

Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum banyak digali
adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun jejaring kemitraan
di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain
dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh signifikan
pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat (Kahan & Goodstadt,
2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan bahwa perawat spesialis komunitas
memiliki tugas yang sangat penting untuk membangun dan membina kemitraan dengan
anggota masyarakat. Bahkan Ervin mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan
utama dalam konsep masyarakat sebagai sebuah sumber daya yang perlu dioptimalkan
(community-as-resource), dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki
ketrampilan memahami dan bekerja bersama anggota masyarakat dalam menciptakan
perubahan di masyarakat.


3. Tujuan Undang- Undang praktek Keperawatan :

Tujuan utama

Memberikan landasan hukum terhadap praktik keperawatan untuk melindungi baik
masyarakat maupun perawa

Tujuan Khusus


Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan kesehatan
yang diberikan oleh perawat.

Melindungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan perawat.

Menetapkan standar pelayanan keperawatan

Menapis ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan

Menilai boleh tidaknya perawat untuk menjalankan praktik keperawatan

Menilai ada tidaknya kesalahan dan atau kelalaian yang dilakukan perawat dalam
memberi pelayanan.


Oleh: armansyah
mahasiswa S1 keperawatan StikesHang Tuah Pekanbaru
Diposkan oleh TUTOR HIJI di 00.10 Tidak ada komentar:
Hukum Keperawatan
Pengantar Tata Hukum Indonesia

Pengertian Hukum

Hukum adalah himpunan peraturan berupa perintah & larangan yg mengurus tata tertib
suatu masyarakat & karena itu harus ditaati oleh masyarakat (E.Utrecht)

Keseluruhan kumpulan peraturan & kaedah dalam suatu kehidupan bersama yang dapat
dipaksakan pelaksanaannya dengan sanksi (Mertkusumo S)


Fungsi Hukum
Menertibkan & mengatur pergaulan dalam masyarakat serta menyelesaian masalah yg
timbul

Unsur:
Sebagai alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat
Sebagai sarana utk mewujudkan keadialan sosial lahir dan batin
Sumber Hukum:
Undang-undang
Kebiasaan (convention)
Putusan Hakim (Jurisprudensi)
Traktat (Treaty)
Doktrin

Tata Urutan Peraturan UU di Indonesia
Ketetapan MPRS RI. No.XX/MPRS/1966
UUD 1945
Ketetapan MPR
UU & Peraturan Pemerintah Pengganti UU (PERPU)
Peraturan Pemerintah (PP)
Keputusan Presiden (KEPRES)
Peraturan Pelaksana lainnya.
Dasar Penggolongan Hukum:
Sumber : UU, Kebiasan , Traktat, Yurisprudensi, dokrin
Isi : Privat & Publik
Sifat : Memaksa & Mengatur
Bentuk : Tertulis & Tdk tertulis (Hukum adat & Kebiasaan)
Tempat : Nasional, Internasional, Asing
Hak Dalam Hukum

UU RI No. 23/TH 1992
Tentang Kesehatan
Pasal 32, Ayat
2 : Penyembuhan peny & pemulihan Kes dilakukan dgn pengobatan &/atau prwtn.
3 : Pobatan &/atau prwtn dpt dilkkn bdsrkan ilmu kedokteran & ilmu keperawatan atau
cara lain yg dpt diptg jawabkan.
4 : Pelaksanaan pobatan &/atau prwtn bdsrkan ilmu kedokteran atau ilmu kep hanya
dpt dilakukan oleh tenaga kes yg mempunyai keahlian & kewenangan di bidang itu

5 : Pemerintah mlkkn pembinaan & pawasan thdp pelaksanaan pengobatan &/atau
prwtn.

Pasal 50
1 : Tenaga kes bertugas mnyelenggarakan & mlkkn keg kes sesuai dgn bidang keahlian
&/ atau kewenangan tenaga kes yg bersangkutan.



Pasal 53
1 : Tenaga kes berhak memperoleh perlindungan hukum dlm mlaksanakan tugas sesuai
dgn profesinya.
2 : Tenaga Kes dlm mlaksanakan tugasnya berkewajiban utk mematuhi standar profesi
& menghormati hak-hak pasien
4 : Ketentuan mengenai standar profesi & hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dlm
ayat 2 ditetapkan dgn peraturan pemerintah.


Pasal 54

1 : Thdp tenaga kes yg mlkkn kesalahan atau kelalaian dlm melaksanakan profesinya dpt
dikenakan tindakan disiplin.
2 : Penentuan ada tdknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud pd ayat 1
ditentukan oleh Majlis disiplin tenaga kesehatan



Pasal 55

1 : Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yg dilakukan oleh
tenaga kesehatan

2 : Ganti rugi sebagaimana dimaksud dlm ayat 1 dilaksanakan sesuai dgn peraturan
perundang-undangan yg berlaku.



Pasal 73
Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yg berkaitan dgn
prnyelenggaraan upaya kesehatan.

Pasal 77
Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan
&/ atau sarana kesehatan yg melakukan pelanggaran thdp ketentuan undang-undang
ini.

Implikasi UU RI No. 23/TH 1992
Tentang Kesehatan
Kep dpt menyembuhkan penyakit & memulihkan kesehatan
Kep diakui sebagai ilmu pengetahuan
Perlu aplikasi standar profesi bagi perawat
Perlu aplikasi ada pengaturan tentang kewenangan perawat
Hak-hak klien hrs dihormati & selalu menjadi fokus perhatian setiap perawat