Anda di halaman 1dari 11

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan ekstraksi karagenan dari seaweed Eucheuma cottonii dapat dilihat
pada Tabel 1.

Tabel 1. Ekstaksi Karagenan dari Seaweed Eucheuma cottonii.
Kelompok Berat Awal (g) Berat Kering (g) Rendemen (%)
B1 40 2,645 6,613
B2 40 1,552 3,880
B3 40 2,033 5,083
B4 40 2,610 6,525
B5 40 2,228 5,570
B6 40 2,326 5,815
Pada tabel 1, dapat dilihat bahwa berat kering karagenan akan berbanding lurus dengan
% rendemen, untuk berat kering karagenan dari sampel awal terjadi penurunan drastis
dan hanya sedikit mengandung karagenan pada rumput laut Eucheuma cottonii sekitar
1,552-2,645 gr dalam 40 gr.

















2

2. PEMBAHASAN

Menurut Indriani (1999) rumput laut adalah salah satu sumber daya hayati banyak
ditemukan di bagian wilayah pesisir dan laut. Habitat rumput laut sering ditemui pada
karang-karangan. Selain tumbuh berada dialam, beberapa jenis rumput laut banyak pula
yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir di Indonesia. Rumput laut yang paling
sering dimanfaatkan contohnya, jenis ganggang merah, porpiran, furcelaran, dan
karagenan.

Menurut Campo et al. (2009) karagenan merupakan polisakarida yang didapat dari hasil
pengekstrakan dari spesies alga merah (rhodophyceae) atau rumput laut. Karagenan
teridiri dari polimer linear yang bersifat hidrofilik, dimana polimer tersebut dari
pengulangan unit disakarida dan tersusun atas 3,6-anhidro galaktosa dimana setiap unit
glukosa mengikat sulfat. Terdapat 3 jenis karagenan komersial yang paling umum, yaitu
iota, lambda, dan kappa. Perbedaan jenis karagenan tersebut dipengaruhi oleh
perbedaan dari spesies rhodophyceae. Dalam praktikum ini menggunakan jenis kappa
karagenan, karena menurut Van de Velde et al., (2002) karagenan kappa didapat dari
rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang digunakan sebagai sampel dalam praktikum
ini yang dimana jika menggunakan spesies organism dilakukan secara in vitro (Mittal,
S., et al. 2013). Menurut Weinberger, F., et all. (2007) Sebenarnya karagenan banyak
dihasilkan dari jenis Chondrus crispus. Dimana jenis red alga tersebut dapat digunakan
untuk dalam proses halogenating peroksidase tergantung dari vanadium dan enzim yang
terkandung .

Adapaun kegunaan karagenan dalam industry pangan:
1. Menurut Oroian, M. A., et al. (2013) karagenan memiliki polimer yang dapat
membentuk gel sehingga bersifat hidrokoloid yang banyak digunakan dalam bahan
tambahan pada makanan, khususnya untuk thickening agent, gelling, pembentukkan
film, dan stabilisasi. Biasanya pada prosuk saus, sirup, makanan instan, minuman,
yogurt buah, dan lain sebagainya.
2. Menurut Pintor, A., et al. (2012) karagenan adalah hidrokoloid yang paling
dibanyak digunakan dalam industri susu, karena interaksi khusus dengan protein susu.
3

3. Menurut Xia (2005) karagenan dapat diaplikasikan dalam bidang produk daging
dan ikan, dimana disuntikkan ke unggas dan daging ham untuk menjaga kesegaran
daging. Hal tersebut dialkukan untuk mengurangi lemak.

Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini, yaitu pertama-tama rumput laut
Eucheuma cottonii basah ditimbang sebanyak 40 gr dan dipotong kecil-kecil selanjutnya
diblender. Dalam hal ini dilakukan proses pengecilan ukuran dimana menurut Arpah
(1993) bahwa proses pengecilan ukuran dilakukan untuk memperluas kontak antara
sampel dengan bahan pereaksi yang akan digunakan, sehingga lebih efektif. Dalam hal
ini diinginkan agar rumput laut dapat bereaksi secara efektif dengan larutan-larutan
yang digunakan.

Lalu direbus (diekstraksi) dengan air sebanyak 500 ml selama 1 jam pada suhu sekitar
80
o
C-90
o
C serta sesudahnya didinginkan. Perlakuan panas disini menurut Distantina, S.
(2010) digunakan agar karagenan dapat terlepas dari dinding sel. Dimana menurut
Hellebust dan Cragie (1978) karaginan terdapat didalam dinding sel rumput laut. Ada
juga fungsi pemanasan menurut Mishra, P. C., et al. (2006) agar ikatan Kappa
karagenan yang sebagai bagian dari struktur berulang dan 25% dari kelompok ester
sulfat akan mudah menyebar ketika kontak dengan panas. Penggunaan suhu 80
o
C-90
o
C
menurut Distantina, S. (2010) karagenan hanya larut pada suhu diatas 60
o
C. Oleh
karena itu penggunaan suhu dalam hal ini diatur jangan telalu besar juga, karena akan
menyebabkan degradasi dari karagenan, sehingga karagenan yang dihasilkan
konsentrasi karagenan dalam jumlah sedikit dan gel yang dihasilkan saat proses
pendinginan akan rapuh. Pada saat pemanasan suhu dan waktu harus benar-benar
diperhatikan karena jika tidak saat degradasi panas yang terlalu lama akan
menyebabkan perubahan atau putusnya susunan-susunan rantai molekul. Penggunaan
akuades sendiri berfungsi untuk melarutkan karagenan. Dimana menurut Distantina, S.
(2010) kelarutan karagenan dalam air sangat dipengaruhi oleh kadar sulfat (bersifat
hidrofilik) dan juga kation dalam karagenan, karena karagenan bersifat larut dalam air.

Kemudian diatur pH menjadi 8 dengan bantuan larutan HCL 0,1N dan NaOH 0,1N.
Menurut Suryaningrum (1988) pH sangat berpengaruh pada proses pembuatan
4

karaginan. Dimana ekstrak karagenan dilakukan dalam kondisi basa pada pH 8-9.
Penggunaan pH basa tersebut juga didukung oleh pernyataan menurut Distantina, S.
(2010) bahwa pengurangan DA atau sulfat dari karagenan dilakukan pada kondisi alkali.
Dimana DA atau pengurangan sulfat merupakan reaksi yang penting dan sering dikenal
dengan reaksi karagenan. Akan tetapi penambahan alkali tersebut belum menunjukkan
peristiwa ekstraksi dan reaksi secara simultan.

Dalam larutan basa ini kadar sulfat dari karagenan menurun lebih banyak, sehingga
kekuatan gel akan semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Distantina, S.
(2010) pengurangan sulfat akan menyebabkan terbentuknya konformasi DA yang mana
dapat menyebabkan crosslinking, sehingga akan terbentuk fase gel.

Hasil ekstraksi selanjutnya disaring dengan kain saring dan cairan filtrat ditambahkan
dengan NaCl 10% sebanyak 5% dari volume filtrat. Penyaringan dilakukan untuk
memisahkan reside dari filtrat, dimana yang akan digunakan tersebut adalah filtrat yang
mengandung karagenan, karena sebelumnya sudah diekstraksi dengan air dan larutan
alkali dimana karagenan tersebut larut didalamnya yang telah dijelaskan sebelumnya.
Penggunaan garam jenis natrium disini memiliki fungsi untuk melarutkan karagenan
dan membantu membentuk gel. Hal ini sesuai dengan teori menurut Rasyid (2003) pada
kappa karagenan hanya dapat larut pada garam natrium. Selain itu pada kappa
karagenan lebih sensitif terhadap penggunaan ion kalium, sedangkan pada karagenan
jenis iota lebih sensitif pada ion-ion kalsium. Karena dalam praktikum ini digunakan
karegenan jenis kappa. Hal ini didukung dengan pernyataan menurut Distantina, S.
(2010) bahwa polimer dari karagenan memiliki kemampuan untuk membentuk gel
secara thermoreversible (larutan kental) apabila ditambahkan dalam larutan garam,
sehingga dapat dimanfaatkan dalam industri pangan.

Untuk selanjutnya dipanaskan sampai suhu 60
o
C. Dimana pemanasan tersebut
dilakukan untuk mempercepat rekaasi dari garam yang digunakan dengan karagenan.
Setelah itu filtrat dituang ke wadah stainless steel dan dituang cairan IPA (Isopropil
Alkohol) sebanyak 300 ml untuk mengendapkan serat-serat karagenan (berbentuk
seperti lapisan tissue) dengan cara diaduk selama 10-15 menit. Cairan IPA disini
5

menurut Aslan (1998) berfungsi dari IPA (Isopropil Alkohol) untuk mengendapkan
serat-serat karagenan yang terbentuk selama ekstraksi. Pengandukan disini berfungsi
untuk menghomogenkan dan mengambil serat-serat karagenan yang sudah terbntuk gel.

Lalu diambil endapannya dan direndam kembali dengan IPA hingga serat karagenan
kaku. Cairan IPA disini menggunakan jenis yang berbeda dari cairan IPA yang pertama,
dimana disini dilakukan agar gel karagenan terbentu lebih kaku lagi. Hal ini sesuai
dengan teori menurut Rasyid (2003) dimana akan dihasilkan produk gel yang kental
dengan kekuatan gel yang rendah bila digunakan garam natrium.

Kemudian serat karagenan dibuat tipis-tipis pada wadah tahan panas dan dilanjutkan
pengovenan selama 12 jam pada suhu 50-60
o
C. Pengovenan dilakukan dengan suhu
rendah agar tidak terjadi degradasi karagenan yang telah dijelaskan sebelumnya dan
pengovenan disini untuk menghilangkan air yang tersisa sehingga didapat murni
karagenan. Selanjutnya serat karagenan yang sudah kering diblender menjadi tepung
karagenan.

Hasil pengamatan dapat dillihat bahwa berat kering karagenan akan berbanding lurus
dengan % rendemen, untuk berat kering karagenan dari sampel awal terjadi penurunan
drastis dan hanya sedikit mengandung karagenan pada rumput laut Eucheuma cottonii
sekitar 1,552-2,645 gr dalam 40 gr. Dapat dilihat berat karagenan yang dihasilkan
sangat sedikit dibandingkan dengan berat awal. Hal ini tidak sesuai dengan teori
menurut Aslan (1998) bahwa Eucheuma sp. dikelompokkan sebagai jenis rumput laut
yang menghasilkan karagenan dengan kadar yang tinggi, dimana sekitar 62-68% berat
keringnya. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan suhu yang terlalu tinggi saat
pengekstrakan karagenan, dimana telah dijelaskam sebelumnya akan menyebabkan
degradasi karegenan sehingga kosentrasi karagenan yang didapat dalam jumlah sedikit,
pengukuran pH yang kurang efektif dimana pH tidak 8 tetapi kurang dibawahnya
sehingga hasil ekstraksi tidak maksimal, dan akibat proses-proses pengujian yang
kurang maksimal. Dimana untuk rendemen karegenan disini menurut Distantina, S.
(2010) adalah rasio berat karagenan kering yang dihasilkan dari proses pembuatan
6

dengan berat rumput laut kering (berat awal). Hal ini sesuai dengan rumus perhitungan
% rendemen yang digunakan, yaitu:




Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi berat kering maka semakin besar %
rendemen yang dihasilkan atau sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hasil yang didapat dari
semua kelompok.

























7

3. KESIMPULAN

Karagenan kappa didapat dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii.
Proses pengecilan ukuran dilakukan untuk memperluas kontak antara sampel
dengan bahan pereaksi yang akan digunakan, sehingga lebih efektif.
Pengekstrakan karagenan dengan air dan panas dilakukan agar karagenan dapat
terlepas dari dinding sel.
Penggunaan suhu yang terlalu tinggi saat pengekstrakan karagenan dapat
menyebabkan degradasi dari karagenan, sehingga karagenan yang dihasilkan
konsentrasi karagenan dalam jumlah sedikit.
Karagenan dapat larut dalam air.
Penggunaan pH alkali untuk mengekstrak karagenan sehingga mengurangi
sulfat.
Penggunaan garam jenis natrium disini memiliki fungsi untuk melarutkan kappa
karagenan dan membantu membentuk gel.
Cairan IPA (Isopropil Alkohol) untuk mengendapkan serat-serat karagenan yang
terbentuk selama ekstraksi.
Gel karagenan akan kental dengan kekuatan gel yang rendah bila digunakan
garam natrium.
Eucheuma sp. dikelompokkan sebagai jenis rumput laut yang menghasilkan
karagenan dengan kadar yang tinggi, dimana sekitar 62-68% berat keringnya.
Rendemen karegenan adalah rasio berat karagenan kering yang dihasilkan dari
proses pembuatan dengan berat rumput laut kering (berat awal).
Rendemen karagenan berbanding lurus besarnya dengan berat kering karagenan.

Semarang, 3 Oktober 2014
Praktikan, Asisten dosen,
- Aletheia Handoko
- Margaretha Rani Kirana

Elim Yuyana
12.70.0074
8

4. DAFTAR PUSTAKA

Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarselo. Bandung.

Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Jakarta.

Campo, V.L., Kawano,D.F., Silva Jnior, D.B., Ivone Carvalho, I., 2009,
Carrageenans: Biological Properties, Chemical Modifications and Structural
Analysis, Carbohydrate Polymers, 77, 167-180.

Distantina, S. 2010. PROSES EKSTRAKSI KARAGENAN DARI Eucheuma cottonii.
Diakses pada tanggal 29 September 2014.

Hellebust JA, Cragie JS. 1978. Handbook of Phycological Methods. London:
Cambridge University Press. p 54-66.

Indriani, H. dan Sumiarsih, E. (1999). Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput
laut. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 43.

Mishra, P. C., et al. 2006. Yield and Quality of Carrageenan from Kappaphycus
alvarezii Subjected to Different Physical and Chemical Treatments. J. Seaweed
Res., 28 (1) : 113 117.

Mittal, S., et al. 2013. In Vitro Anti-Inflammatory Activity of HydroalcoholicExtract of
Asparagus racemosus Roots. J. Res Pharm. Scie., 4 (2): 203-206.

Oroian, M. A., et al. 2013. INFLUENCE OF -CARRAGEENAN, AGAR-AGAR
AND STARCH ON THE RHEOLOGICAL PROPERTIES OF BLUEBERRIES
YOGURT. J. Food Engineering.

Pintor, A., et al. 2012. Ice Cream Properties Affected by Lambda-Carrageenan or Iota-
Carrageenan Interactions with Locust Bean Gum/Carboxymethylcellulose
Mixtures. J. Food Res., 19(4): 1409-1414.

Rasyid, A. 2003. Alga Coklat (Phaeophyta) sebagai Sumber Alginat. Oseana Volume
XXVIII No. 1: 33-38.

Suryaningrum TD. 1988. Kajian sifat-sifat mutu komoditas rumput laut budidaya jenis
Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. [tesis]. Bogor: Program Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor. 181 hlm. Arpah, M. 1993. Pengawasan Mutu
Pangan. Tarsito. Bandung.
9

Van de Velde,.F.,Knutsen, S.H., Usov, A.I., Romella, H.S., and Cerezo, A.S., 2002,
1H and 13 C High Resolution NMR Spectoscopy of Carrageenans: Aplication
in Research and Industry, Trend in Food Science and Technology, 13, 73-92.

Weinberger, F., et all. 2007. Different Regulation of Haloperoxidation during Agar
Oligosaccharide-Activated Defence Mechanisms in Two Related Red Algae,
Gracilaria sp. and Gracilaria chilensis. J. of Experimental Botany., Vol. 58, pp.
43654372.

Xia, H. 2005 Carragenan-Containing Composition With Improves Gelatinisation
Properties. Washington : Freepatent.













10

5. LAMPIRAN

5.1. Perhitungan % Rendemen
Rumus:





Jawab:
Kelompok B1


= 6,613%
Kelompok B2


= 3,880 %
Kelompok B3


= 5,083 %
Kelompok B4


= 6,525 %
Kelompok B5


= 5,570 %
Kelompok B6


= 5,815 %
11

5.2. Diagram Alir

5.3. Laporan Sementara