Anda di halaman 1dari 17

I.

TUJUAN
Menentukan tetapan Faraday dengan menggunakan Voltameter Tembaga.

II. DASAR TEORI
2.1 Elektrolisis
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian elektrolit oleh arus listrik searah dengan
menggunakan dua macam elektroda. Elektroda tersebut adalah katoda (elektroda yang
dihubungkan dengan kutub negatif) dan anoda (elektroda yang dihubungkan dengan
kutub positif). Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, yaitu anion (ion negatif) ditarik oleh
anoda dan jumlah elektronnya berkurang sehingga bilangan oksidasinya bertambah.
Pada proses elektrolisis ini dipakai larutan elektrolit sebagai konduktor atau
penghantar, misalnya asam-basa atau garam-garam karena larutan-larutan tersebut
mengandung ion-ion positif dan negatif dalam larutannya. Jika kedua elektrode
dihubungkan dengan arus listrik searah (DC), maka ion-ion pada larutan akan
bergerak berlawanan arah. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke elektrode negatif,
sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah elektrode positif. Pergerakan-
pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi listrik. Kondisi demikian
ini disebut elektrolitik. Apabila ion-ion dalam larutan terkontak dengan elektrode
maka reaksi kimia akan terjadi. Pada katode akan mengalami reduksi dan pada anoda
akan mengalami oksidasi.

Gambar 1. Elektrolisis

Elektrolisis bermanfaat untuk produksi logam dengan kecenderungan ionisasi
tinggi (misalnya aluminum). Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus
dapat bermigrasi ke elektrode. Salah satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai
mobilitas adalah dengan menggunakan larutan dalam air. Namun dalam kasus
elektrolisis alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat sebab air lebih mudah direduksi
daripada ion aluminum.

2.2 Hukum Faraday
Pada elektrolisis arus listrik dipakai untuk menimbulkan reaksi kimia pada tenaga
listrik yang berubah menjadi tenaga kimia. Pada kation atom atau gugusan atom
kehilangan satu atau beberapa elektron sehingga menjadi muatan negatif. Jumlah
elektron yang kurang atau lebih dinamakan valensi ion z.
Pada elektrolisis berlaku hukum-hukum Faraday, yaitu:
a. Hukum I Faraday
Hukum Faraday I mengenai elektrolisis menyatakan bahwa sejauh mana reaksi
elektrokimia dapat berlangsung, semata-mata hanya tergantung pada jumlah
arus listrik yang dialirkan ke dalam larutan. Hukum Faraday I dapat ditulis
sebagai berikut :

atau



Dimana:
M : Massa zat yang dihasilkan
Z : Massa ekivalen elektrokimia
Q : Muatan yang dialirkan
I : arus (ampere)
t : waktu (sekon)
F : tetapan Faraday

b. Hukum II Faraday
Hukum Faraday II mengenai elektrolisismenyatakan bahwa massa senyawa
yang dihasilkan karena adanya sejumlah arus listrik yang dialirkan sebanding
dengan massa molar zat tersebut dibagi dengan banyaknya electron yang
dipindahkan per unit formula. Secara sistematis dituliskan:



2.3 Voltameter Tembaga
Voltameter tembaga merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besar
tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Alat ini terdiri dari tiga buah lempengan
tembaga yang terpasang pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung
kaca atau plastik. Lempengan luar berperan sebagai anoda sedangkan yang di tengah
sebagai katoda. Umumnya tabung tersebut berukuran 15 x 10cm (tinggi x diameter).
Tembaga memiliki berat jenis 8,93 gram/cm
3
, titik cairnya : 1083
0
C, kemampuan
tariknya : 200 360 N/mm
2
, perpanjangan atau regangan : 35 50 %, penyusutan
dingin : 2%. Metal atau logam dapat bertindak sebagai konduktor listrik akibat adanya
pergerakan bebas dari elektron-elektron pada strukturnya. Secara sederhana
konduksinya disebut konduksi metalik.
Pada percobaan ini dipakai larutan garam CuSO4, dalam bejana seperti pada
gambar 1 di bawah ini.








Gambar 2. Voltameter tembaga
Keterangan :
An = Anoda
K = Katoda
A = Amperemeter
Rs = Tahanan geser
S = Saklar
E = Sumber arus DC
Bila pada arus listrik mengalir, maka akan terjadi endapan Cu pada katoda.
Jumlah Cu yang mengendap sebanding dengan arus yang melewatinya, sehingga
voltameter dipakai sebagai amperemeter.
Anoda merupakan suatu elektroda positif. Ia dapat berupa pelat, batang logam
atau karbon yang dihubungkan ke kutub listrik negatif dari baterai (pada proses
elektrolisis) sedangkan pada proses elektroplating dihubungkan ke kutub positif.
Sedangkan katoda adalah hal yang sebaliknya dari anoda. Pada tabung vakum
elektronik, anoda menarik elektron dari katoda. Oleh karena itu elektron akan
mengalir keluar dari tabung melalui anoda. Pada saat tersebut, anoda menjadi positif
akibat usaha luar; namun pada sel volta, anoda merupakan elektroda yang selalu
menjadi positif sehingga menarik elektron dari rangkaian luar ke arahnya.
Katoda adalah elektroda dengan elemen negatif. Pada baterai biasa (Baterai
Karbon-Seng), yang menjadi katoda adalah seng, yang juga menjadi pembungkus
baterai. Sementara, pada baterai alkalin, katoda adalah mangan dioksida.

III. ALAT DAN BAHAN
1. Bejana berisi larutan CuSO
4

2. Pelat tembaga 5 buah
3. Amperemeter 10 A
4. Sumber arus DC
5. Penghambat geser 15 ohm
6. Stopwatch
7. Kabel penghubung
8. Timbangan
9. Pemanas atau pengering

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

Gambar 3. Rangkaian peralatan voltameter tembaga
1. Katoda ditimbang sampai ketelitian dalam miligram.
2. Rangkaian disusun seperti pada gambar 3 dan anoda dan katoda digunakan dalam
percobaan.
3. Terlebih dahulu rangkaian diperiksakan ke pembimbing.
4. Arus dihubungkan dan R dan V diatur sehingga amperemeter menunjukkan 4A.
5. Arus diputuskan dan katoda dilepaskan. Katoda yang telah ditimbang dipasang
tepat pada tempat katoda percobaan dan arus dialirkan. Bila terjadi perubahan
besar pada arus cepat diatur kembali dan arus dijaga agar tetap pada 4A selama 20
menit lalu arus tersebut diputuskan.
6. Katoda diambil dan kemudian katoda ditimbang.
7. Air kran disiramkan ke katoda kemudian bilas dengan alkohol lalu dibakar hingga
alkohol menguap dan katoda sering.
8. Percobaan diulangi untuk arus 5A selama 5 menit.

V. DATA PENGAMATAN
5.1. Percobaan I dengan arus 2,2 A dalam waktu 20 menit
No. Massa Katoda Sebelum
Percobaan (g)
Massa Katoda Sesudah
Percobaan (g)
1. 120 120,2
2. 120,2 120,4
3. 120,2 120,3
4. 120 120,2
5. 120 120,3

5.2. Percobaan II dengan arus 2,2 A dalam waktu 5 menit
No. Massa Katoda Sebelum
Percobaan (g)
Massa Katoda Sesudah
Percobaan (g)
1. 120 120,2
2. 120 120,1
3. 120,1 120,2
4. 120 120,3
5. 120 120,2

VI. ANALISIS DATA
6.1 Perhitungan
Diketahui : CuSO
4

(aq)
Cu
2+
(aq)
+ SO
4
2-
(aq)

Pada katoda : Cu
2+
+ 2e
-
Cu
(s)

1 mol Cu = 2 mol e
-
valensi Cu = 2
Ar Cu = 63,5 g/mol
F = 96.500 C/mol
e =
Cu Valensi
Cu Ar
= 75 , 31
2
5 , 63


Percobaan I
M = berat katoda akhir - berat katoda awal
= 120,2 120
= 0,2 gram
t = 20 menit
= 1200 sekon
I =
e.t
M.F

=
1200 . 75 , 31
96500 . 2 , 0

=
38100
19300

= 0,5065 A
Perhitungan berat ekuivalen elektrokimia
Menghitung Z dengan rumus:
M = Z. Q

Q = I.t
Z =


Z
(praktek)
=
t . I
M

=




= 0,75 x 10
-4
Z
(perhitungan)
=
t . I
M

=
1200 5065 , 0
2 , 0
x

= 3,29 x 10
-4

Dengan cara yang sama diperoleh:
No. M (g) t (s) I praktek (A) I perhitungan (A) Z praktek Z perhitungan
1. 0,2 1200 2,2 0,5065 0,75 x 10
-4
3,3 x 10
-4
2. 0,2 1200 2,2 0,5065 0,75 x 10
-4
3,3 x 10
-4

3. 0,1 1200 2,2 0.2532 0,38 x 10
-4
1,6 x 10
-4

4. 0,2 1200 2,2 0,5065 0,75 x 10
-4
3,3 x 10
-4

5. 0,3 1200 2,2 0,7598 1,14 x 10
-4
4,9 x 10
-4


Percobaan II
M = Berat Katoda Akhir - Berat Katoda Awal
= 120,2 120
= 0,2 gram
t = 5 menit
= 300 sekon
I =
e.t
M.F

=
300 . 75 , 31
96500 . 2 , 0

=
9525
19300

= 2,03 A

Menghitung Z dengan rumus:
M = Z. Q

Q = I.t
Z =


Z
(praktek)
=
t . I
M

=




= 3,03 x 10
-4
Z
(perhitungan)
=
t . I
M

=



= 3,3x 10
-4
Dengan cara yang sama diperoleh:
No. M (g) t (s) I praktek (A) I perhitungan (A) Z praktek Z perhitungan
1. 0,2 300 2,2 2,03 3,03 x 10
-4
3,3 x 10
-4

2. 0,1 300 2,2 1,01 1,5 x 10
-4
1,6 x 10
-4

3. 0,1 300 2,2 1,01 1,5 x 10
-4
1,6 x 10
-4

4. 0,3 300 2,2 3,04 4,5 x 10
-4
4,9 x 10
-4

5. 0,2 300 2,2 2,03 3,03 x 10
-4
3,3 x 10
-4


6.2 Kesalahan/ Ralat
Untuk menghitung besar kebenaran dan kesalahan pada praktikum kali ini,
digunakan ralat nisbi sebagai berikut :




Nisbi =


Kebenaran = 100% - nisbi
A = data percobaan
n = jumlah (banyak kali) percobaan

nilai rata pengukuran


= selisih pengukuran

Percobaan I
Untuk I berdasarkan perhitungan

I
I (I - I ) (I - I )
2

0,5065 0,5065 0 0
0,5065 0,5065 0 0
0,2532 0,5065 -0,2533 0,0642
0,5065 0,5065 0 0
0,7598 0,5065 0,2533 0,0642
= 0,1284
I =

1
2

n n
I I


=
1 5 5
1284 , 0


= 00642 , 0
I = 0,0801
I

I = (0,5065 0,0801) A
Ralat Nisbi =
5065 , 0
0801 , 0

x 100 % = 16 %
Kebenaran Praktikum = 100 % - 16 % = 84 %

Untuk M berdasarkan perhitungan
M
M (M - M) (M - M)
2

0,2 0,2 0 0
0,2 0,2 0 0
0,1 0,2 -0,1 0,01
0,2 0,2 0 0
0,3 0,2 0,1 0,01
= 0,02

M =

1
2

n n
M M

=
1 5 5
02 , 0


=
20
02 , 0

M = 0,032
M

M = (0,2 0,032) A
Ralat Nisbi =
2 , 0
032 , 0

x 100 % = 16 %
Kebenaran Praktikum = 100 % - 16 % = 84 %

Untuk Z yang menggunakan I hasil pembacaan amperemeter
Z
Z (Z - Z ) (Z - Z )
2

0,75 x 10
-4
0,75 x 10
-4
0 0
0,75 x 10
-4
0,75 x 10
-4
0 0
0,37 x 10
-4
0,75 x 10
-4
-0,38 x 10
-4
0,14 x 10
-8

0,75 x 10
-4
0,75 x 10
-4
0 0
1,14 x 10
-4
0,75 x 10
-4
0,39 x 10
-4
0,15 x 10
-8

= 0,29 x 10
-8

Z =

1
2

n n
Z Z


=
1 5 5
10 x 0,29
-8


=
8
10 015 , 0

x
Z = 0,12 x 10
-4
Z

Z = (0,75 x 10
-4
0,12 x 10
-4
) A
Ralat Nisbi =
4
4
10 75 , 0
10 12 , 0

x
x

x 100 % = 16 %
Kebenaran Praktikum = 100% - 16 % = 84 %
Untuk Z yang menggunakan I perhitungan
Z
Z (Z - Z ) (Z - Z )
2

3,3 x 10
-4
3,3x10
-4
0 0
3,3 x 10
-4
3,3x10
-4
0 0
1,6 x 10
-4
3,3x10
-4
-1,7x10
-4
2,89x10
-8

3,3 x 10
-4
3,3x10
-4
0 0
4,9 x 10
-4
3,3x10
-4
1,6x10
-4
2,56x10
-8

= 5,45x10
-8

Z =

1
2

n n
Z Z


=
1 5 5
5,45x10
-8


Z = 0,27x10
-4
Z

Z = (3,3x10
-4
0) A
Ralat Nisbi =
4
-4
10 3 , 3
0,27x10

x

x 100 % = 8,18 %
Kebenaran Praktikum = 100% - 8,18 % = 91,81 %

Percobaan II
Untuk I berdasarkan perhitungan
I
I (I - I ) (I - I )
2

2,03 1,8 0,23 0,053
1,01 1,8 -0,79 0,624
1,01 1,8 -0,79 0,624
3,04 1,8 1,24 1,538
2,03 1,8 0,23 0,053
= 1,35

I =

1
2

n n
I I


=
20
35 , 1

I = 0,06
I

I = (1,8 0,06) A
Ralat Nisbi =
1,8
06 , 0

x 100% = 3,76 %
Kebenaran Praktikum = 100% - 3,76 % = 96,23 %

Untuk M berdasarkan perhitungan
M
M (M - M) (M - M)
2

0,2 0,18 0,02 0,0004
0,1 0,18 -0,08 0,0064
0,1 0,18 -0,08 0,0064
0,3 0,18 0,12 0,0144
0,2 0,18 0,02 0,0004
= 0,028

M =

1
2

n n
M M


=
20
028 , 0

M = 0,037

M

M = ( 0,18 0,037 ) A
Ralat Nisbi =
18 , 0
037 , 0

x 100 % = 20,78 %
Kebenaran Praktikum = 100 % - 20,78 % = 79,22 %

Untuk Z yang menggunakan I hasil pembacaan amperemeter
Z
Z (Z - Z ) (Z - Z )
2

3,03 x 10
-4
2,7 x 10
-4
0,33 x 10
-4
0,1 x 10
-8

1,5 x 10
-4
2,7 x 10
-4
-1,2 x 10
-4
1,4 x 10
-8

1,5 x 10
-4
2,7 x 10
-4
-1,2 x 10
-4
1,4 x 10
-8

4,5 x 10
-4
2,7 x 10
-4
1,8 x 10
-4
3,2 x 10
-8

3,03 x 10
-4
2,7 x 10
-4
0,33 x 10
-4
0,1 x 10
-8

= 6,2 x 10
-8

Z =

1
2

n n
Z Z


=
1 5 5
10 2 , 6
8


x

Z = 0,3 x 10
-4
Z

Z = (2,7 x 10
-4
0,3 x 10
-4
) A
Ralat Nisbi =
4
4
10 7 , 2
10 3 , 0

x
x

x 100 % = 11,11 %
Kebenaran Praktikum = 100% - 11,11 % = 88,89 %

Untuk Z yang menggunakan I perhitungan
Z
Z (Z - Z ) (Z - Z )
2

3,3 x 10
-4
3,0x10
-4
0,3x10
-4
0,09x10
-8

1,6 x 10
-4
3,0x10
-4
-1,4x10
-4
1,96x10
-8

1,6 x 10
-4
3,0x10
-4
1,4x10
-4
1,96x10
-8

4,9 x 10
-4
3,0x10
-4
1,9x10
-4
3,61x10
-8

3,3 x 10
-4
3,0x10
-4
0,3x10
-4
0,09x10
-8

= 7,71x10
-8

Z =

1
2

n n
Z Z


=
1 5 5
7,71x10
-8


Z = 0,38x10
-4
Z

Z = ( 3,0 x 10
-4
0,38x10
-4
) A
Ralat Nisbi =
4
4
10 3 , 3
10 38 , 0

x
x

x 100 % = 0,11 %
Kebenaran Praktikum = 100% - 0,11 % = 99,88 %


VII. PEMBAHASAN
Pada preaktikum kali ini mengenai Voltameter Tembaga. Voltameter tembaga
Voltameter tembaga merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besar tegangan
listrik dalam suatu rangkaian listrik.. Pada percobaan ini dilakukan pengukuran
sebanyak lima kali. Pengukuran dilakukan dengan mengukur massa katoda dan arus
listrik yang melalui voltameter tembaga sehingga massa ekuilaven elektrokimia dapat
dihitung. Pada dasarnya, percobaan ini hanya untuk menentukan tetapan Faraday
dengan menggunakan voltameter tembaga.
Pada percobaan ini dilakukan dengan menyambungkan kabel penghubung pada
sumber arus muatan positif lalu dihubungkan tahanan geser kemudian dihubungkan
pada voltameter tembaga khusus anoda. Kabel penghubung yang lain di hubungkan
pada sumber arus muatan negatif lalu dihubungkan pada amperemeter kemudian
dihubungkan pada voltameter tembaga khusus katoda. Voltameter tembaga anoda dan
katoda dicelupkan pada bejana yang berisi larutan CuSO
4
lalu dialiri tegangan sebesar
2 V selama 20 menit pada percobaan pertama dan 5 menit pada percobaan keduan
dengan arus tetap sebesar 2,2 A
Pada percobaan pertama dilakukan dengan mengukur massa katoda, sehingga
diperoleh massa katoda sebesar 0,2 gram, 0,2 gram, 0,1 gram, 0,2 gram dan 0,3 gram.
Dari pengukuran tersebut dapat diperoleh massa ekuivalen elektrokimia dari
percobaan sebesar 0,75 x 10
-4
, 0,75 x 10
-4
, 0,38 x 10
-4
, 0,75 x 10
-4
dan 1,14 x 10
-4
.
Dari hasil perhitungan diperoleh arus sebesar 0,5065 A, 0,5065 A, 0,2532 A, 0,5065
A, dan 0,7998 A sehingga diperoleh massa ekuivalen elektrokimia dari perhitungan
sebesar 3,3 x 10
-4
, 3,3 x 10
-4
, 1,6 x 10
-4
, 3,3 x 10
-4
, dan 4,9 x 10
-4
.
Pada percobaan kedua dilakukan dengan mengukur massa katoda, sehingga
diperoleh massa katoda sebesar 0,2 gram, 0,1 gram, 0,1 gram, 0,3 gram dan 0,2 gram.
Dari pengukuran tersebut dapat diperoleh massa ekuivalen elektrokimia dari
percobaan sebesar 3,03 x 10
-4
, 1,5 x 10
-4
, 1,5 x 10
-4
, 4,5 x 10
-4
dan 3,03 x 10
-4
. Dari
hasil perhitungan diperoleh arus sebesar 2,03 A, 1,01 A, 1,01 A, 3,04 A, dan 2,03 A
sehingga diperoleh massa ekuivalen elektrokimia dari perhitungan sebesar 3,3 x 10
-4
,
1,6 x 10
-4
, 1,6 x 10
-4
, 4,9 x 10
-4
, dan 3,3 x 10
-4
.
Pengambilan data pada percobaan ini dilakukan berulang-ulang agar hasil yang
diperoleh lebih teliti dan lebih mendekati nilai kebenaran. Untuk memperbaiki hasil-
hasil pengambilan data maupun perhitungan maka data-data tersebut perlu diralat
dengan metode ralat nisbi.
Kesulitan yang dihadapi dalam percobaan ini antara lain dalam keterbatasan alat
kerja diantaranya amperemeter tidak berfungsi dengan baik, pembacaan skala
amperemeter yang perubahannya sulit diamati, ketidaktepatan dalam membaca skala
timbangan, kelayakan voltameter tembaga dan kabel serta kurang tepatnya dalam
merangkai peralatan voltameter tembaga.

VIII. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Katoda (tembaga) mengalami susut atau defek massa (mengendap)
2. Besar arus dan lamanya waktu yang digunakan, berbanding lurus dengan defek
massa pada katoda sehingga semakin lama waktu, besar arus maka defek massa
juga semakin besar.
3. Hukum Faraday I menyatakan bahwa jumlah zat yang dihasilkan dalam reaksi
elektrolisis pada katoda atau anoda adalah berbanding langsung dengan jumlah
listrik yang dialirkan melalui sel sedangkan pada Hukum Faraday II disebutkan
bahwa jumlah massa berbagai zat yang dihasilkan dengan jumlah listrik sebanding
dengan ekivalen zat tersebut.
4. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi redoks dimana terjadi reaksi oksidasi
(melepas elektron pada anodanya) dan reaksi reduksi (menerima elektron pada
katodanya). Reaksi yang terjadi pada proses elektrolisis ini adalah :
CuSO
4 (aq)
Cu
2+
(aq)
+ SO
2
4
(aq)

5. Pada voltameter tembaga energi listrik digunakan untuk memaksa berlangsungnya
reaksi redoks yang tidak spontan, yaitu penguraian elekrolit menjadi unsur
unsurnya.
6. Jika arus listrik yang sama dilewatkan pada beberapa sel elekrolisis, maka massa
zat yang dihasilkan masing - masing sel berbanding lurus dengan massa ekuivalen
zat zat tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Paramartha,Alit. 2010. Penuntun Fisika Dasar II . laboratorium Fisika Dasar : Bali
Tim Fakultas Teknik.2003.Dasar Rangkaian Listrik. Universitas Negeri Yogyakarta.
Giancoly, Douglas. 2001. Fisika. Erlangga:Jakarta.
Istiyono. 2004. Sains Fisika Jilid 1a SMA. Intan Pariwara : Klaten.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta : Bandung
Taranggono, Agus dan Hari Subagya. 2004. Fisika SMA 2a. Bumi Aksara : Jakarta
Ruwanto, Bambang . 2003. Asas-asas Fisika SMA IA. Yudhistira : Yogyakarta
Sean, Steven. 2010. Oksidasi dan Reduksi. Terdapat di http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/kimia_dasar/oksidasi_dan_reduksi1/elektrolisis/. Diakses pada
tanggal 22 April 2012.
Wales, James. 2010. Elektrolisis. Terdapat di http://id.wikipedia.org/wiki/Elektrolisis.
Diakses pada tanggal 22 April 2012.
Wanto. 2011. Voltameter Tembaga. Terdapat di
http://www.scribd.com/nirwanapro/d/48944410-voltameter-tembaga. Diakses pada
tanggal 22 April 2012.
Sri. 2011. Praktikum Voltameter. Terdapat di http://elektroboy-
unsri.blogspot.com/2009/09/laporan-pendauluan-praktikum-voltameter.html. Diakses
pada 22 April 2012.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II
VOLTAMETER TEMBAGA









Nama : I Gede Dika Virga Saputra
NIM : 1108105034
Kelompok : V
Hari/Tanggal Praktikum : Rabu, 18 April 2012
Dosen : Ida Bagus Alit Paramarta, S.Si., M.Si
Asisten Dosen : Ni Luh Widyasari (0908205001)
Ni Nyoman Putri Windari (0908205002)
Desi Delimasari (0908205018)



JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2012