Anda di halaman 1dari 28

SYOK HIPOGLIKEMI

&
SYOK HIPERGLIKEMI
PEMBIMBING : dr. Trio Tangkas Sp.PD

Nama : Nike Herinta F
09700156
Hipoglikemi merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh penderita
diabetes mellitus.

Hipoglikemi disebut juga sebagai penurunan kadar gula darah yang merupakan
keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi
karena ketidak seimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-
obatan yang digunakan.

Sindrom hipoglikemi ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa
pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin, detak
jantung meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia).

Hipoglikemi lebih berbahaya dibandingkan kelebihan kadar gula darah
(hiperglikemi) karena kadar gula darah yang terlalu rendah selama lebih dari enam jam
dapat menyebabkan kerusakan tak terpulihkan (irreversible) pada jaringan otak dan
saraf. Tidak jarang hal ini menyebabkan kemunduran kemampuan otak.

DEFINISI SYOK HIPOGLIKEMI
Pada tahun 1914 Hilliger di Eropa telah melaporkan hubungan antara kadar gula
darah rendah dan morbiditas / mortalitas gejalanya berulang bila puasa khususnya bila
masukan karbohidrat dibatasi.

Di Amerika pada tahun 1924, Ross dan Josephs di RS Johns Hopkins, melaporkan
dengan hipoglikemia. Josephs pada tahun 1926, melaporkan berhubungan dengan
hipoglikemia, kemudian dibuat hipotesis bahwa hal tersebut karena cadangan glukosa
kurang setelah terkena penyakit akut dan kelaparan relatif.

Pada tahun 1937, Hartmann dan Jaudon berpostulasi bahwa manifestasi klinis
hipoglikemia adalah akibat kekurangan dekstrosa pada sistem saraf pusat.

Di Indonesia masih belum ada data, secara umum insidens hipoglikemia berkisar
antara 1 5 /1000.
EPIDEMOLOGI
Hipoglikemi merupakan keadaan dimana kadar gula dalam darah itu dibawah
normal. Hal ini diakibatkan pelepasan berlebihan insulin oleh pancreas serta kelainan
pembentukan glukosa di hati. Jadi, hipoglikemi ini berkaitan dengan mekanisme
glikogenesis pada tubuh.

Tahap glikogenesis yaitu pembentukan glikogen dari glukosa. Tahap pertama
yaitu alfa-D-glukosa dengan ATP melalui enzim glukokinase dan heksokinase, akan
menghasilkan glukosa 6 fosfat dan ADP.
Tahap kedua glukosa 6 fosfat ini melalui proses dengan enzim fosfoglukomutase
akan menjadi glukosa 1 fosfat.
Tahap ketiga glukosa 1 fosfat dan UTP (Uridin Tri Pospat) akan menghasilkan
UTP-glukosa dan piroposfat (Ppi).
Tahap empat UDP glukosa dan glikogen primer akan menghasilkan glikogen
tidak bercabang.
Tahap lima enzim glikogen sintetase membentuk ikatan alfa 1,4 glikosidik (rantai
lurus) dari glikogen.
Tahap terakhir enzim pencabang (branching enzyme) akan membentuk ikatan
alfa 1,6 (rantai cabang) dari glikogen.
PATOFISIOLOGI
Secara garis besar, etiologi hipoglikemi dibagi
menjadi dua bagian besar, yaitu:
1.Kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa
berlebihan
2.Produksi glukosa kurang.


ETIOLOGI
1.Kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan :

a. Hiperinsulinisme
Hiperinsulinisme menyebabkan pemakaian glukosa yang berlebihan terutama
akibat rangsang ambilan glukosa oleh otot. Pada hiperinsulinemia dapat terjadi karena
defek genetik yang menyebabkan aktivasi reseptor sulfonilurea akibat sekresi insulin
yang menetap. Kelainan ini diketahui sebagai hipoglikemi hiperinsulin endogen menetap
yang sebelumnya disebut sebagai nesidioblastosis. Penggunaan insulin eksogen atau
pemberian obat yang menyebabkan hipoglikemi kadang dapat terjadi karena kecelakaan
atau salah penggunaan, sehingga hal ini harus dipertimbangkan.

b. Defek pada pelepasan glukosa (defek siklus Krebs, defek respiratory chain).
Kelainan ini sangat jarang, mengganggu pembentukan ATP dari oksidasi
glukosa, disini kadar laktat sangat tinggi.

c. Defek pada produksi energi alternatif (defisiensi Carnitine acyl transferase,
defisiensi HMG CoA, defisiensi rantai panjang dan sedang acyl-coenzym A
dehydrogenase, defisiensi rantai pendek acyl-coenzyme A dehydrogenase).
Kelainan ini mengganggu penggunaan lemak sebagai energi, sehingga tubuh
sangat tergantung hanya pada glukosa. Ini akan menyebabkan masalah bila puasa dalam
jangka lama yang seringkali berhubungan dengan penyakit gastrointestinal.

d. Sepsis atau penyakit dengan hipermetabolik, termasuk hipertiroidisme .


2.Kelainan yang menyebabkan kurangnya produksi glukosa :
a. Simpanan glukosa tidak adekuat
Kelainan ini sering sebagai penyebab hipoglikemi, disamping hipoglikemi akibat pemberian
insulin pada diabetes. Hal ini dapat dibedakan dengan melihat keadaan klinis dan adanya hipoglikemi
ketotik, biasanya terjadi akibat masukan makanan yang terganggu karena bermacam sebab.
Penelitian terakhir mekanisme yang mendasari hipoglikemi ketotik adalah gagalnya glukoneogenesis.

b. Kelainan pada produksi glukosa hepar, antara lain: defisiensi Glukose-6- phosphatase (glycogen
storage disease tipe 1), defisiensi debrancher (glycogen storage disease tipe 3), defisiensi
phosphatase hepar (glycogen storage disease tipe 6, defisiensi glycogen synthase, defisiensi
fructose 1,6 diphosphatase, defisiensi phospho-enol pyruvate, defisiensi pyruvate carboxylase,
gaslactosemia, intoleransi friktose herediter).
Kelainan ini menurunkan produksi glukosa melalui berbagai defek, termasuk blokade pada
pelepasan dan sintesis glukosa, atau blokade atau menghambat gluikoneogenesis.

c. Kelainan hormonal (panhypopituitarisme, defisiensi hormon pertumbuhan, defisiensi kortisol
dapat primer atau sekunder).
Hal ini karena hormon pertumbuhan dan kortisol berperan penting pada pembentukan
energi alternatif dan merangsang produksi glukosa. Kelainan ini mudah diobati namun yang sangat
penting adalah diagnosis dini.

d. Toksin dan penyakit lain. (etanol, salisilat, propanolol, malaria).
Etanol menghambat glukoneogenesis melalui hepar sehingga dapat menyebabkan
hipoglikemi. Hal ini khususnya pada pasien dengan diabetes yang diobati insulin yang tidak dapat
mengurangi sekresi insulin sebagai respon bila terjadi hipoglikemi.Intoksikasi salisilat dapat
menyebabkan hipo ataupun hiperglikemi. Hipoglikemi karena bertambahnya sekresi insulin dan
hambatan pada glukoneogenesis
Hipoglikemi spontan yang patologis mungkin terjadi pada
tumor yang mensekresi insulin atau insulin- like growth factor (IGF).
Dalam hal ini diagnosis hipoglikemi terjadi bila kadar glukosa
<50mg/dL atau bahkan <40 mg/dL. Walaupun demikian berbagai
studi fisiologis menunjukkan bahwa gangguan fungsi otak sudah
dapat terjadi pada kadar glukosa darah 55 mg/Dl. Lebih lanjut
diketahui bahwa kadar glukosa darah 55 mg/dL yang terjadi
berulang kali dapat merusak mekanisme proteksi endogen
terhadap hipoglikemi yang lebih berat. Keadaan ini terjadi akibat
pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi
makanan yang terlalu sedikit, atau karena aktivitas fisik berat.

PENYEBAB HIPOGLIKEMI
Gula darah kadarnya dipertahankan dalam
rentang yaitu setelah makan 6,5 7,2 mmol/L.
Hipoglikemi didefinisikan seperti berikut.

ringan, jika kadar gula darahnya (40 60 mg/dL)

sedang, jika kadar gula darahnya (20 40 mg/dL)

berat, jika kadar gula darahnya (< 20 mg/dL)

Faktor-faktor penyebab hipoglikemi adalah:

1. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas sehingga
menurunkan kadar gula darah secara cepat.

2. Dosis insulin terlalu tinggi yang diberikan kepada penderita
diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya.

3. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal.

4. Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan
glukosa di hati.

Hipoglikemi yang tidak berhubungan dengan obat dapat dibagi
menjadi:

1. Hipoglikemi karena puasa, dimana hipoglikemi terjadi setelah berpuasa.
2. Hipoglikemi reaktif, dimana hipoglikemi terjadi sebagai reaksi terhadap
makan, biasanya karbohidrat.

Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemi hanya jika terdapat
penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal).
Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh
tidak dapat mempertahankan kadar gula darah.

Gejala hipoglikemi memang tidak mudah dikenali
karena hampir sama dengan gejala penyakit lain, seperti
diabetes dan kekurangan darah (anemia).
Gejala - gejala hipoglikemi antara lain gelisah,
gemetar, banyak berkeringat, lapar, pucat, sering menguap
karena merasa ngantuk, lemas, sakit kepala, jantung
berdebar - debar, rasa kesemutan pada lidah, jari - jari tangan
dan bibir, penglihatan kabur atau ganda serta tidak dapat
berkonsentrasi.
Pemeriksaan fisik khusus yang dilakukan untuk
mengenali adanya hipoglikemi antara lain : pucat, tekanan
darah, frekuensi denyut jantung, dan penurunan kesadaran.

GEJALA HIPOGLIKEMI
Stadium parasimpatik : lapar,mual,tekanan darah turun.

Stadium gangguan otak ringan : lemah lesu ,sulit bicara,
kesulitan menghitung sementara.

Stadium simpatik : keringat dingin pada muka, bibir atau
tangan gemetar.

Stadium gangguan otak berat : tidak sadar,dengan atau
tanpa kejang.

GEJALA DAN TANDA KLINIS
Terapi Infus D5%
TERAPI HIPOGLIKEMI
Prinsip dari penanganan hipoglikemia adalah menaikkan kembali kadar
gula darah yang rendah sehingga mencapai kadar normalnya. Gejala hipoglikemia
akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula
(dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula
atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama
penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya
cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita
diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan
yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit).
Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk
memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena
untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki resiko
mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon.
Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang
merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di
dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya
mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit
PENANGANAN HIPOGLIKEMI
Hiperglikemia menurut definisi berdasarkan kriteria
diabetes melitus yang dikeluarkan oleh International Society and
Adolescent Diabetes (ISAD) adalah KGD sewaktu 11.1 mmol/L
(200 mg/dL) ditambah dengan gejala diabetes atau KGD puasa
(tidak mendapatkan masukan kalori setidaknya dalam 8 jam
sebelumnya) 7.0 mmol/L (126 mg/dL). ( Elizabeth J. Corwin,
2001 ).
Definisi lain hiperglikemia menurut World Health
Organization (WHO) adalah KGD 126 mg/dL (7.0 mmol/L),
dimana KGD antara 100 dan 126 mg/dL (6,1 sampai 7.0 mmol/L)
dikatakan suatu keadaan toleransi abnormal glukosa.
DEFINISI SYOK HIPERGLIKEMI
Menurut Diabetic Federation, organisasi yang peduli terhadap
permasalahan diabetes, jumlah penderita diabetes mellitus yang ada di
Indonesia tahun 2001 terdapat 5,6 juta jiwa untuk usia diatas 20 tahun.
Pada tahun 2020 diestimasikan akan meningkat menjadi 8,2 juta, apabila
tidak dilakukan upaya perubahan gaya hidup sehat pada penderita.
(Depkes, 2005)
Dengan terjadinya peningkatan jumlah penderita DM,
maka jumlah peningkatan penyakit hiperglikemia bisa dikatakan
meningkat sesuai dengan angka kejadian diabetes mellitus atau
bahkan lebih. Peningkatan dapat diturunkan dengan melakukan
pencegahan, penanggulangan baik secara medis maupun non
medis, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sesuai dengan
porsinya masing-masing

EPIDEMOLOGI
Hiperglikemia dapat disebabkan defisiensi insulin yang dapat
disebabkan oleh proses autoimun, kerja pancreas yang berlebih, dan
herediter. Insulin yang menurun mengakibatkan glukosa sedikit yang
masuk kedalam sel. Hal itu bisa menyebabkan lemas dengan kadar
glukosa dalam darah meningkat. Kompensasi tubuh dengan
meningkatkan glucagon sehingga terjadi proses glukoneogenesis.
Selain itu tubuh akan menurunkan penggunaan glukosa oleh otot,
lemak dan hati serta peningkatan produksi glukosa oleh hati dengan
pemecahan lemak terhadap kelaparan sel. Hiperglikemia dapat
meningkatkan jumlah urin yang mengakibatkan dehidrasi sehingga
tubuh akan meningkatkan rasa haus (polydipsi). Penggunaan lemak
untuk menghasilkan glukosa memproduksi badan keton yang dapat
mengakibatkan anorexia (tidak nafsu makan), nafas bau keton dan
mual (nausea) hingga terjadi asidosis.
PATOFISIOLOGI
Penyebab tidak diketahui dengan pasti tapi umumnya
diketahui kekurangan insulin adalah penyebab utama dan
faktor herediter yang memegang peranan penting.
Yang lain akibat pengangkatan pancreas, pengrusakan secara
kimiawi sel beta pulau langerhans.
Faktor predisposisi herediter, obesitas. Faktor imunologi;
pada penderita hiperglikemia khususnya DM terdapat bukti
adanya suatu respon autoimun. Respon ini mereupakan repon
abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggap
sebagai jaringan asing.

ETIOLOGI
Adalah kondisi dimana sangat tingginya kadar glukosa
dalam darah, juga bisa mengakibatkan koma
(diabetes coma).

Dipicu adanya penyakit infeksi, karena penderita DM
tidak minum obat ,mendapatkan insulin sesuai dosis
yang dianjurkan/kurang insulin, dan makan/minum
terlalu banyak.

PENYEBAB HIPERGLIKEMI
Gejala awal umumnya yaitu ( akibat tingginya kadar
glukosa darah) :
Polipagi
Polidipsi
Poliuri
Kelainan kulit, gatal-gatal, kulit kering
Rasa kesemutan, kram otot
Visus menurun
Penurunan berat badan
Kelemahan tubuh
Luka yang tidak sembuh-sembuh

MANIFESTASI KLINIK
Gejala dari hiperglikemia adalah rasa haus, mulut
kering, kulit gatal, hangat dan kering, mual dan muntah,
nyeri abdomen, pusing dan poliuria.

GEJALA HIPERGLIKEMI
Dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
1. Komplikasi akut
Ketoasidosis diabetic
Koma hiperglikemik hiperismoler non ketotik
Hipoglikemia
Asidosis lactate
Infeksi berat

KOMPLIKASI HIPERGLIKEMI
2. Komplikasi kronik
a) Komplikasi vaskuler
Makrovaskuler : PJK, stroke , pembuluh darah perifer
Mikrovaskuler : retinopati, nefropati
b) Komplikasi neuropati
Neuropati sensorimotorik, neuropati otonomik
gastroporesis, diare diabetik, buli-buli neurogenik,
impotensi, gangguan refleks kardiovaskuler.
c) Campuran vascular neuropati
Ulkus kaki
d) Komplikasi pada kulit


Inj Insulin
Obat DM Oral (metformin,glibenclamide)

TERAPI HIPERGLIKEMI
Tujuan utama terapi Hiperglikemia adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dan upaya mengurangi
terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropati.
Ada 2 komponen dalam penatalaksanaan hiperglikemia :
a. Diet rendah glukosa
b. Obat DM

PENANGANAN HIPERGLIKEMI
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : media aesculopius
Misnadirly. 2001. Permasalahan Kaki Diabetes Dan Upaya Penanggulangannya. Diakses april
2011.http//www.tempo.co.id
Octa. 2005. Diabetes Mellitus Masalah Kesehatan Masyarakat Yang Serius. Diakses tanggal 11 April
2011.http://www.depkes.go.id
Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume 2. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C & Brenda G, Bare. 2001. Keperawatan Medical-Bedah Brunner & Suddarth,
Vol 2. Jakarta : EGC
Sustrani Lanny Dkk. 2004. Diabetes. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Timby, Barbara K & Nancy E, Smith. 2006. Introductory Medical-Surgical Nursing 9
th
Edition.
Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins
Wilkinson, Judith M. 2005. Nursing Diagnosis Handbook With NIC Interventions And NOC
Outcomes. New jersey : pearson prentice hall

DAFTAR PUSTAKA
TERIMA KASIH