Anda di halaman 1dari 41

`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)

PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

1

BAB III
METODE STUDI
III.1. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode pengumpulan dan analisis data digunakan untuk mendapatkan hasil telaah
yang lebih mendalam dan relevan dalam penyusunan AMDAL. Pada proses ini dilakukan
pengumpulan data primer dan sekunder, yang nantinya akan digunakan dalam penyusunan
rona lingkungan hidup awal sebagai masukan dalam melakukan prakiraan besaran dan sifat
penting dampak akibat berlangsungnya kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency.
Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam pengumpulan data primer, seperti
metode wawancara dengan warga di sekitar proyek, pengukuran dan pengamatan langsung,
analisis laboratorium, dan pengisian kuisioner. Pada pengumpulan data primer, penentuan
lokasi pengambilan sampel didasarkan pada pertimbangan kegiatan proyek yang berpotensi
menimbulkan dampak dan komponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak.
Sedangkan metode yang digunakan dalam pengumpulan data sekunder adalah
dengan melakukan pengambilan data melalui instansi-instansi yang terkait dengan
pembangunan Perumahan Agung Regency. Instansi-instansi tersebut seperti Pemerintah Kota
Probolinggo, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo, Badan Meteorologi dan
Geofisika (BMKG), Kantor Kecamatan Mayangan, Kantor Kelurahan Mangunharjo, dan lain
sebagainya.
Tahap yang dilakukan setelah data primer dan sekunder yang dibutuhkan terkumpul
adalah tahap penyajian data. Pada tahap ini dilakukan pengelompokan terhadap data-data
yang yang telah dianalisa berdasarkan komponennya baik dalam bentuk penyajian berupa
tabulasi, grafik maupun checklist. Parameter yang dikumpulkan dan dianalisis berasal dari
komponen lingkungan. Pengumpulan dan analisis data dari parameter-parameter tersebut
diperlukan untuk beberapa hal, diantaranya:
a. Menelaah, mengamati dan mengukur rona lingkungan awal sebelum dilakukan kegiatan
proyek, yang diperkirakan akan memberikan dampak penting bagi komponen lingkungan
di sekitar proyek.
b. Menelaah, mengamati dan mengukur komponen rencana kegiatan yang diperkirakan
berdampak besar dan penting bagi lingkungan hidup di sekitarnya.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

2

c. Memperkirakan perubahan kualitas lingkungan setelah dilakukannya kegiatan
pembangunan proyek yang didasarkan dengan parameter rona lingkungan awal

III.1.1. Komponen Rencana Kegiatan
Terdapat 3 tahap yang dilakukan dalam komponen rencana kegiatan pembangunan
Perumahan Agung Regency, yaitu tahap persiapan, tahap operasi, dan tahap pasca operasi.

a. Pra Konstruksi
Komponen kegiatan yang ditelaah meliputi : Survei awal, sosialisasi program, perizinan
proyek, pengukuran dan pemasangan patok, mobilisasi tenaga kerja, mobilisasi peralatan
dan material, pembuatan basecamp, dan pembebasan lahan.
Metoda pengumpulan data : data untuk komponen kegiatan yang diperkirakan
menimbulkan dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya diperoleh dari
jadwal kegiatan dan gambar perencanaan dari Pemrakarsa Kegiatan.
Metoda analisis data : dengan menelaah gambar perencanaan yang ada, mencocokkan
dengan keadaan lapangan, dan melihat kemungkinan terjadinya dampak dari lingkungan
sekitar proyek.

b. Tahap Konstruksi
Komponen kegiatan yang ditelaah meliputi : pembuatan bangunan perumahan dan
pendukung operasional, Pengerjaan Finishing perumahan dan pendukung operasional,
Pembuatan Saluran Air Bersih, Air Limbah, dan Drainase, pembangunan tempat sampah
sementara (TPS), pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pembuatan taman dan
area hijau,
Metoda analisis data : dengan menelaah gambar perencanaan yang ada, mencocokkan
dengan keadaan lapangan, dan melihat kemungkinan terjadinya dampak dari lingkungan
sekitar proyek

c. Tahap Operasi
Komponen kegiatan yang ditelaah meliputi : aktivitas perumahan dan bangunan
pendukung operasional (fasum), pengoprasian TPS, pengoprasial IPAL, pengoprasian
jaringan jalan, pengoprasian taman dan area hijau.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

3

Metoda pengumpulan data : Data untuk komponen kegiatan yang diperkirakan
menimbulkan dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya diperoleh dari
jadwal kegiatan dan gambar perencanaan dari Pemrakarsa Kegiatan.
Metoda analisis data : Dengan menelaah gambar perencanaan yang ada, mencocokkan
dengan keadaan lapangan, dan melihat kemungkinan terjadinya dampak dari lingkungan
sekitar proyek

d. Komponen Lingkungan Hidup
Dampak yang ditimbulkan akibat komponen kegiatan yang akan dijelaskan di bawah
ini merupakan dampak-dampak hipotetik yang sudah dikaji pada bab sebelumnya.

A. Dampak Komponen Fisik Kimia
I. Intensitas Kebisingan
1. Peningkatan Intensitas Kebisingan
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pembersihan lahan, mobilisasi peralatan dan material, pembangunan
rumah dan finisihing, pembangunan jaringan jalan, pembangunan fasilitas
umum, demobilisasi peralatan, dan pengoperasian jaringan jalan.
Parameter:
Parameter kebisingan yang diukur adalah tingkat kebisingan yang berasal
dari tahap kosntruksi dan operasi, baik itu terjadi akibat jumlah kendaraan,
pengoperasian peralatan, maupun alat berat yang digunakan. Parameter
yang digunakan adalah baku mutu kebisingan pada Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomer 48 Tahun 1996.
Metode Pengumpulan Data:
Metode yang digunakan dalam pengukuran intensitas kebisingan adalah
dengan menggunakan alat SLM (Sound Level Meter) yang tertuang pada
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomer 48 Tahun 1996.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara mengambil sampel suara
pada titik-titik tertentu. Pada proyek ini diambil 4 titik sampel, yaitu 1
sampel diambil di dalam lokasi proyek, dan 3 sampel diambil di luar
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

4

lokasi proyek yang berbatasan dengan pemukiman penduduk. Berikut
adalah letak titik-titik sampling secara rinci:
a. Titik 1 : (di dalam lokasi proyek)
b. Titik 2 : (di luar lokasi proyek)
c. Titik 3 : (di luar lokasi proyek)
d. Titik 4 : (di luar lokasi proyek)
Gambar 3.1 Lokasi Titik Sampling Kebisingan

Sumber: Peta 2014

Metode Analisis Data:
Metode yang digunakan dalam menganalisis data kebisingan adalah
dengan mengumpulkan data di lapangan, kemudian menggunakan
perhitungan pendekatan pada rumus-rumus yang sudah disediakan.
Setelah itu dilakukan perbandingan nilai intensitas kebisingan yang telah
dihitung dengan baku mutu yang berlaku, yaitu Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomer 48 Tahun 1996. Berikut adalah tabel baku
mutu tingkat kebisingan:
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

5

Tabel 3. 1 Baku Mutu Tingkat Kebisingan
No
Peruntukan Kawasan / Lingkungan
Kegiatan
Tingkat Kebisingan
dB (A)
A Peruntukan Kawasan
1 Perumahan dan Pemukiman 55
2 Perdagangan dan Jasa 70
3 Perkantoran dan Perdangan 65
4 Ruang Terbuka Hijau 50
5 Industri 70
6 Pemerintahan dan Fasilitas Umum 60
7 Rekreasi 70
8
Khusus :
Bandar Udara -
Stasiun Kereta Api -
Pelabuhan Laut 70
Cagar Budaya 60
B Lingkungan Kegiatan
1 Rumah Sakit atau Sejenisnya 55
2 Sekolah atau Sejenisnya 55
3 Tempat ibadah atau Sejenisnya 55
Sumber : KEP-48/MENLH/11/1996

Dari tabel di atas diketahui baku mutu kebisingan yang digunakan pada
kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency adalah sebesar 55
dB(A).

II. Debu dan Kualitas Udara
1. Peningkatan Konsentrasi Debu
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pengurugan lahan, pembangunan rumah dan finisihing, dan pembangunan
fasilitas umum.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

6

Parameter:
Parameter konsentrasi debu menggunakan peraturan yang digunakan
adalah Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomer 10 Tahun 2009.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan sesuai dengan SNI-19-7119.6-
2005. tentang penentuan lokasi pengambilan sampling. Lokasi
pengambilan sampel dilakukan pada titik-titik tertentu di pemukiman
masyarakat yang diduga terkena dampak. Lokasi pengambilan sampel
dilakukan pada 5 titik, yang dianggap mewakili keadaan kondisi sekitar. 3
lokasi sampling dilakukan di dalam lokasi proyek, dan 2 titik sampling
lain nya dilakukan pada luar proyek. Berikut adalah letak titik-titik
sampling secara rinci:
a. Titik 1 : (di dalam lokasi proyek)
b. Titik 2 : (di dalam lokasi proyek)
c. Titik 3 : (di dalam lokasi proyek)
d. Titik 4 : (di luar proyek)
e. Titik 5 : (di luar proyek)
Gambar 3.2 Lokasi Titik Sampling Debu dan Udara
`
Sumber : Peta 2014
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

7

Metode Analisis Data:
Metode analisis data dilakukan dengan menguji hasil sampel di
laboratorium udara yang terakreditasi di Kota Probolinggo, yaitu di
Laboratorium Badan Lingungan Hidup Kota Probolinggo. Setelah
didapatkan data hasil laboratorium, data tersebut dibandingkan dengan
baku mutu udara ambien tidak bergerak yang digunakan yaitu, Peraturan
Gubernur Jawa Timur Nomer 10 Tahun 2009. Berikut adalah tabel baku
mutu tersebut:
Tabel 3. 2 Baku Mutu Udara Ambien Tidak Bergerak (Debu)
No. Parameter Metode Analisis Peralatan**
Baku Mutu
(g/m3)
1 Debu (TSP) Gravimetri Hi-vol 0,26 mg/m3
Sumber : Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009
*) = Baku mutu ambien untuk industri atau kegiatan usaha lainnya,
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009 tentang Baku
Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa
Timur.
** = Yang dianjurkan.
2. Menimbulkan Penurunan Kualitas Udara
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Mobilisasi peralatan dan material.
Parameter:
Parameter kualitas udara yang dikaji meliputi gas SO
2
, CO, NOx, O
3
, Pb,
H
2
S, NH
3
dan HC. Peraturan yang digunakan adalah Peraturan Gubernur
Jawa Timur Nomer 10 Tahun 2009.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan sesuai dengan SNI-19-7119.6-
2005. tentang penentuan lokasi pengambilan sampling. Lokasi
pengambilan sampel dilakukan pada titik-titik tertentu di pemukiman
masyarakat yang diduga terkena dampak. Lokasi pengambilan sampel
dilakukan pada 5 titik, yang dianggap mewakili keadaan kondisi sekitar.
Lokasi sampling sama dengan lokasi sampling debu.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

8

Metode Analisis Data:
Tabel 3. 3 Baku Mutu Udara Ambien Tidak Bergerak (Kualitas Udara)
No. Parameter Metode Analisis Peralatan**
Baku Mutu
(g/m3)
1 Sulfur Dioksida (SO
2
)
Pararosanilin,
NDIR
Spektrofotometer
0,01 ppm
(220g/m3)
2
Karbon Monoksida
(CO)
NDIR NDIR Analyzer
20,00 ppm
(2260g/m3)
3
Nitrogen Dioksida
(NO
2
)
Saltzman,
NDIR
Spektrofotometer
0,05 ppm (92,5
g/m3)
4 Oksidan (O
3
)
Neural, Buffer
Potassium
Yodida
Spektrofotometer
0,19 ppm
(200g/m3)
5
Hidrogen Sulfida
(H
2
S)
Mercury
thiocyanate,
Methylen blue
Spektrofotometer
0,03 ppm (42
g/m3)
6 Amonia (NH
3
) Nessler Spektrofotometer
2,00 ppm
(1360g/m3)
7 Timah hitam (Pb) Gravimetri Hi-vol, AAS 9,26 mg/m3
8 HC (hidro karbon)
Flamed
Ionization
Gas
chromatografi
V160 g/Nm
3

Sumber : Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009
*) = Baku mutu ambien untuk industri atau kegiatan usaha lainnya,
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009 tentang Baku
Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa
Timur.
** = Yang dianjurkan.
III. Daerah Resapan Air Hujan
1. Penurunan Luas Daerah Resapan
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pembangunan rumah dan finishing, pembangunan jaringan jalan dan
pembuatan saluran air bersih, air limbah dan drainase
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

9

Parameter:
Parameter yang digunakan adalah koefisien daerah resapan.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pegumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan
data sekunder dari Peta Tata Guna Lahan Kota Probolinggo, data curah
hujan tahunan, dan data-data terkait koefisien daerah resapan.
Metode Analisis Data:
Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan membandingkan
data sekunder yang ada, dengan parameter yang dihitung menggunakan
metode matematis.

B. Dampak Komponen Ekonomi dan Budaya
I. Gangguan Lalu Lintas
1. Terjadinya Gangguan Lalu Lintas
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Mobilisasi tenaga kerja, pengurugan lahan, demobilisasi peralatan dan
demobilisasi tenaga kerja.
Parameter:
Parameter yang digunakan adalah dengan pengamatan kondisi di
lapangan seperti kapasitas jalan, derajat iringan dan derajat kejenuhan
pada tahap konstruksi.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara
melakukan pengamatan langsung di lapangan.
Metode Analisis Data:
Metode analisi data yang digunakan adalah dengan melakukan
perhitungan setelah mendapatkan data di lapangan dengan menggunakan
persamaan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997).

II. Kerusakan Jalan
1. Menimbulkan Kerusakan Jalan
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

10

Mobilisasi peralatan dan material dan demobilisasi peralatan.
Parameter:
Parameter yang diteliti adalah tingkat keparahan kerusakan jalan.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah pengamatan di
lapangan dengan cara mendokumentasikan keadaan jalan di titik yang
sama pada saat sebelum proyek dan sesudah proyek. Digunakan 5 titik
sampling pada pengumpulan data ini, yaitu 2 titik pada jalur arteri, dan 2
titik pada jalur sekunder. Berikut adalah letak titik-titik sampling secara
rinci:
a. Titik 1 : (jalur arteri di luar proyek yang menjadi jalan masuk
proyek)
b. Titik 2 : (jalur arteri di luar proyek yang menjadi jalan masuk
proyek)
c. Titik 3 : (jalur arteri di luar proyek yang menjadi jalan masuk
proyek)
d. Titik 4 : (jalur sekunder di dalam proyek)
e. Titik 5 : (jalur sekunder di dalam proyek)

Metode Analisis Data:
Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan membandingkan
dokumentasi jalan pada awal proyek dengan kondisi setalah adanya
kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency.









`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

11

Gambar 3.3 Lokasi Titik Sampling Kerusakan Jalan

Sumber : Peta 2014

III. Kebutuhan Air Bersih
1. Peningkatan Kebutuhan Air Bersih
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Aktivitas perumahan, dan pengelolaan fasilitas umum.
Parameter:
Parameter yang digunakan adalah jumlah kebutuhan air bersih yang
dbutuhkan setelah tahap operasional.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara
menghitung seberapa besar kebutuhan air bersih dengan mengasumsikan
kebutuhan orang per hari adalah 150 L/orang/hari dan satu rumah
diasumsikan dihuni oleh 5 orang. Selain itu dibutuhkan data awal
kebutuhan air PDAM rata-rata di daerah tersebut sebelum berjalan nya
pengoperasian Perumahan Agung Regency.
Titik 1
Titik 2
Titik 3
Titik 4
Titik 5
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

12

Metode Analisis Data:
Metode analisi data yang digunakan adalah dengan membandingkan
kebutuhan air bersih pada saat sebelum adanya proyek dan setelah
diadakan proyek dengan cara matematis.

IV. Kegiatan Ekonomi
1. Peningkatan Kegiatan Ekonomi
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pembangunan rumah dan finishing.
Parameter:
Parameter yang digunakan adalah pendapatan daerah di dalam dan
sekitar wilayah kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency.
Metode Pengumpulan Data:
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan cara
mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Probolinggo dan juga dengan
melakukan wawancara terhadap masyarakat sekitar yang terlibat
langsung di dalam kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency.
Metode Analisis Data:
Metode analisis data yang dilakukan adalah dengan membandingkan
data sekunder dengan parameter yang diteliti sebelum dan sesudah
adanya proyek ini. Selain itu, juga dilakukan penyimpulan terhadap
hasil wawancara terhadap masyarakat sekitar yang terlibat langsung di
dalam kegiatan pembangunan Perumahan Agung Regency ini.
C. Hidrologi
1. Penurunan kualitas badan air
Dampak ini muncul karena komponen kegiatan, pembangunan
perumahan dan pengoprasian basecamp.
Parameter yang diteliti : jumlah penghuni, BOD, COD, kekeruhan, E Coli,
total coliform.
Metode pengumpulan data : dilakukan dengan metode standar sesuai SNI
06-2412-1991 tentang metode pengambilan contoh uji kualitas air, lokasi
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

13

pengambilan sampel dilakukan pada titik yang dianggap
representatifmdengan 2 titik lokasi sampel, yaitu:
Titik 1 : di sungai irigasi dekat JL. Argopuro
Titik 2 : di sungai irigasi dekat JL. Tengger
Gambar 3.3 Lokasi Titik Sampling Kualitas Air

Sumber : Peta Kota Probolinggo

D. Dampak Komponen Kesehatan Masyarakat
I. Limbah Domestik
1. Peningkatan Volume Limbah Domestik
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pendirian dan pengoperasian basecamp tenaga pekerja.
Parameter:
Parameter yang digunakan adalah kuantitas volume limbah domestik
yang dihasilkan.
Titik 1
Titik 2
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

14

Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan melihat
keadaan langsung di lapangan, dan menggunakan metode perhitungan
limbah domestik yang dihasilkan.
Metode Analisis Data:
Metode analisis data yang digunakan adalah dengan mengasumsikan
kebutuhan masing-masing pekerja adalah 150 L/orang/hari. Kemudian
dihitung jumlah limbah domestik yang dihasilkan dengan mengalikan
80% dengan total kebutuhan air bersih para pekerja.

II. Timbulan Limbah (Sisa Material)
1. Timbulnya Limbah (Sisa Material)
Dampak berasal dari komponen kegiatan:
Pembangunan rumah dan finishing.
Parameter:
Parameter yang digunakan adalah jumlah timbulan limbah sisa material
yang dihasilkan.
Metode Pengumpulan Data:
Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan melihat
keadaan langsung di lapangan untuk mendapatkan data primer.
Metode Analisis Data:
Metode analisi data yang digunakan adalah dengan membandingkan
hasil timbulan limbah (sisa material) pada saat sebelum adanya proyek
dan setelah diadakan proyek dengan cara matematis.

III.1. Metode Prakiraan Dampak Penting
Prakiraan dampak adalah pengkajian kedalaman perubahan kualitas lingkungan
terhadap perubahan kualitas secara mendasar akibat dari suatu kegiatan. Sedangkan metode
prakiraan dampak penting adalah kumulatif dari dampak penting kawasan yang akan terjadi.
Penentuan atau pemilihan analisis data bergantung pada kemungkinan terjadinya perkiraan
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

15

dampak besar dan penting akibat adanya rencana atau usaha kegiatan. Adapun metode-
metode yang digunakan menurut Raharjo (2007) adalah sebagai berikut:
1. Model Matematis
Metode ini menggunakan pendekatan secara matematis sehingga diperoleh nilai atau
besaran dari parameter lingkungan. Berdasarkan nilai atau besaran ini, dilakukan analisa
sehingga akhirnya diketahui besaran dampaknya. Pendekatan ini digunakan untuk
memperkirakan besaran dampak terhadap parameter air, biota perairan, sosekbud dan
lain sebagainya.
Berikut adalah dampak-dampak hipotetik yang menggunakan metode model matematis:
a. Intensitas Kebisingan
i. Peningkatan Intensitas Kebisingan
Pengukuran dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan menggunakan alat
Sound Level Meter (SLM) dengan satuan db(A) selama 10 menit untuk tiap
pengukuran. Sedangkan pembacaan dilakukan setiap 5 detik sekali.
Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (L
SM
) dengan cara pada
siang hari waktu pengukuran adalah 16 jam (L
S
) dan pada malam hari dengan
selang waktu 8 jam (L
M
). Waktu yang digunakan pada pengukuran pagi hari
dimulai pada jam 06.00-22.00 sedangkan pengkuran pada malam hari
dilakukan pada pukul 22.00-06.00.
Setiap waktu pengukuran harus dapat mewakili selang waktu terntentu dengan
menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan paling
sedikit 3 waktu pengukuran pada malam hari.
Metode perhitungan yang dilakukan adalah dengan menggunakan rumus-
rumus di bawah ini.
Akumulasi tingkat kebisingan dihitung dengan rumus :
Dimana :
{(

) (

)}
LP
total
= Tingkat kebisingan total (dBA)
P
1
= Intensitas suara sumber 1 (N/m
2
)
P
2
= Intesitas suara sumber 2 (N/m
2
)
P
0
= Intensitas suara referensi (N/m
2
).
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

16


Perubahan tingkat kebisingan akibat perubahan jarak dihitung dengan rumus :
) log( 20
2
1
1 2
r
r
LP LP

Dimana:
LP
1
= Tingkat kebisingan pada jarak r
1
(dBA)
LP
2
= Tingkat kebisingan pada jarak r
2
(dBA)
r
1
= Jarak pengukuran kebisingan dari sumber kebisingan 1
r
2
= Jarak pengukuran kebisingan dari sumber kebisingan 2

Tabel 3. 4 Rambatan Bising Peralatan Konstruksi
Jarak dari sumber Rambatan Bising (dBA)
Bising (R), m Cement Mixer Crane Derrick Hammer Pile
0 110,0 100,0 95,0 115,0
100 62,0 52,0 47,0 67,0
200 56,0 46,0 41,0 61,0
300 52,5 42,5 37,0 58,0
400 50,0 40,0 35,0 55,0
500 48,0 38,0 33,0 53,0
Sumber: Keputusan Menteri LH 48/MENLH/11/1996 tentang
Baku Mutu Tingkat Kebisingan.

Setalah didapatkan hasil perhitungan, dilakukan perbandingan nilai intensitas
kebisingan yang telah dihitung dengan baku mutu yang berlaku di Keputusan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomer 48 Tahun 1996, yaitu 55 dB(A)
untuk kegiatan perumahan dan pemukiman.

b. Debu dan Kualitas Udara
i. Peningkatan Konsentrasi Debu dan Penurunan Kualitas Udara
Pada sub bab ini, pembahasan metode dari dampak konsentrasi debu dan
dampak penurunan kualitas udara dijadikan satu karena rumus yang digunakan
adalah sama.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

17

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran ini adalah dengan
mengidentifikasi jenis-jenis gas apa saja yang ada pada saat pembangunan
suatu proyek. Data dari kondisi udara ini dapat dicari dengan menggunakan
pendekatan proyek sejenis. Kemudian dalam memperkirakan dampak emisi
gas sebuah kegiatan terhadap kualitas udara sekitarnya, dapat digunakan
metode Pollutant Standard Index (PSI), model Gauss, atau perhitungan indeks
pencemaran udara, berikut penjelasannya.
Metode Pollutant Standart Index (PSI)
Perhitungan yang digunakan dalam metode ini berprinsip pada tingkat
efek yang ditimbulkan oleh pemaparan suatu parameter polutan
terhadap objek. Tingkat efek yang ditimbulkan dianggap konstan untuk
tiap konsentrasi polutan tertentu. Rumusnya sebagai berikut :
PSI = +Ib
Dimana:
PSI = Indeks terhitung
Ia = PSI batas atas (tabel)
Ib = PSI batas bawah (tabel)
Xa = Konsentrasi ambient batas atas (tabel)
Xb = Konsentrasi ambient batas bawah (tabel)
Xp = Konsentrasi ambient hasil pengukuran

Model Gauss
Rumus Gauss adalah sebagai berikut :

Dimana:
C = Konsentrasi suatu gas di atas permukaan tanah (g/m
3
)
Q = Banyaknya gas yang dikeluarkan (g/detik). Q ini adalah
variabel indikator.

y
= Pembaruan parameter gas secara horizontal

z
= Pembaruan parameter gas secara vertical
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

18

v
-
= Rata-rata kecepatan angin (m/detik)
H = Tinggi cerobong efektif (m)
x,y = Jarak terjauh angin yang searah dan berlawanan arah angin (m)
Y = Tinggi permukaan di atas tanah.

Perhitungan Indeks Pencemaran Udara
Rumus Perhitungan indeks pencemaran udara adalah sebagai berikut:
O
n
P S C L L L L L NAQi
2
2
2 2 2


Dimana:
L
c
= Indeks pencemaran karbon monoksida
L
s
= Indeks polusi SO
2

L
p
= Indeks populasi partikulat
L
n
= Indeks populasi nitrogen oksida
P
indeks
= [ P
m
+ SO
x
+ NO
x
+ CO + HC + O
3
+ S
yo
].

Beriku adalah prosedur perhitungan pada metode perhitungan indeks
pencemaran udara:
1. Konversikan konsentrasi menjadi mol/m
3
.
2. Hitung oksidan dengan solar radiasi.
3. Tentukan total oksidan dan kelebihan HC dan NO
x
.
4. Konversikan kembali ke satuan dasar g/m
3
.
5. Aplikasikan faktor toleransi :
Awal
Koreksi


Setelah didapatkan hasil perhitungan, dilakukan perbandingan nilai kadar yang
telah dihitung dengan baku mutu kualitas debu dan udara berdasarkan
peraturan yang berlaku di Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009.
c. Daerah Resapan Air Hujan
i. Penurunan Luas Daerah Resapan
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
membandingkan data tata guna lahan Kota Probolinggo sebelum dan sesudah
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

19

kegiatan proyek, sehingga diketahui berapa perbedaan koefisien daerah
resapan nya. Selanjutnya dapat diperkirakan dampak yang akan timbul pada
saat kegiatan sudah berlangsung.
Berikut adalah tabel koefisien yang digunakan pada perhitungan luas daerah
resapan:
Tabel 3.5 Koefisien Alirann Permukaan (C) untuk Daerah Urban
No. Jenis Daerah Koefisien C
1 Daerah Perdagangan
Perkotaan 0,70 - 0,90
Pinggiran 0,50 - 0,70
2 Permukiman
Perumahan satukeluarga 0,30 - 0,50
Perumahan berkelompok,terpisah-pisah 0,40 - 0,60

Perumahan berkelompok,
bersambungan
0,60 - 0,75
Suburban 0,25 - 0,40
Daerah apartemen 0,50 - 0,70
3 Industri
Daerah industri ringan 0,50 - 0,80
Daerah industri berat 0,60 - 0,90
4 Taman, pekuburan 0,10 - 0,25
5 Tempat bermain 0,20 - 0,35
6 Daerah stasiun kereta api 0,20 - 0,45
7 Daerah belum diperbaiki 0,10 - 0,30
8 Jalan 0,70 - 0,95
9 Bata
Jalan, hamparan 0,75 - 0,85
Atap 0,75 - 0,95
Sumber: Schwab, 1981
Kemudian dilakukan perhitungan sebagai berikut:
1. PerhitunganVolume Resapan
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

20

Ia=CH (BA) / 1000
Keterangan:
Ia = Imbuhan alami/ air hujan yang teresap (m
3
/tahun)
C = Angka koefisien resap
H = Curah hujan tahunan (mm/tahun)
BA = Luas kawasan terbuka (m
2
)
2. PerhitunganVolume Limpasan (R)
Perhitungan volume limpasan mempergunakan rumus yang dikemukan
oleh Linsley (1982):
Ro = P I
Keterangan:
Ro = limpasan permukaan (mm)
P = curah hujan (mm)
I = resapan (mm)
Setelah itu dilakukan perbandingan antara nilai volume air yang teresap pada
wilayah sebelum dan setalah adanya proyek.

d. Gangguan Lalu Lintas
i. Terjadinya Gangguan Lalu Lintas
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
melakukan pengamatan pada beberapa aspek yang berhubungan dengan
terjadinya gangguan lalu lintas di jalan raya.
Parameter yang ditinjau untu memperkirakan besarnya dampak adalah
dengan perhitungan kapasitas jalan, derajat iringan, dan derajat kejenuhan.
Untuk mengetahui kinerja ruas jalan dilakukan analisa dengan persamaan
Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997).
a. Perhitungan Kapasitas Jalan


C = Kapasitas jalan (smp/jam)
Co = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCw = Faktor penyesuaian kapasitas akibat lebar lalu lintas
C = Co x FCw x FCsp x FCsf
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

21

FCsp = Faktor penyesuaian kapasitas akibat pemisahan arah
FCsf = Faktor penyesuaian kapasitas akibat hambatan samping

b. Derajat Kejenuhan
Dimana :
DS = Derajat kejenuhan
Q = Arus lalu lintas (smp/jam)
C = Kapasitas aktual (pcu/h)

c. Kecepatan Arus Bebas

Dimana :
FV = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan (km/jam)
Fvo = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (km/jam)
FVw = Penyesuaian untuk lebar efektif jalur lalu lintas (km/am)
FFVsf = Faktor penyesuaian akibat hambatan samping dan lebar bahu
FFVrc = Faktor penyesuaian akibat kelas fungsional dan tata guna
lahan

d. Kecepatan Rata-Rata
Kecepatan rata-rata dihiutng menggunakan MKJI tahun 1997 dengan
data kecepatan, arus bebas serta derajat kejenuhan.

e. Derajat Iringan


Dimana :
DB = Derajat iringan (pada 2 lajur 2 arah)
DS = Derajat kejenuhan


e. Kerusakan Jalan
DS = Q/C
FV = ( Fvo + FVw ) x FFVsf x FFVrc
DB = DS
0,814670 x DS + 0,283470
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

22

i. Menimbulkan Kerusakan Jalan
Analisa yang digunakan pada perkiraan dampak ini adalah dengan
meninjau pertambahan jumlah lalu lintas dan jenis kendaraan yang
melewati kegiatan proyek atau kendaraan yang digunakan, kemudian
kerusakan jalan dianalisa dengan cara yang digunakan oleh Bina Marga.
Tingkat kenyamanan jalan dianalisa dengan cara menghitung tingkat
pekayanan dengan persamaan Manual Kapasitas Jalan Indonesia
(MKJI,1997).
Pengukuran tingkat kerusakan jalan secara visual terlebih dahulu dilakukan
dengan cara memberikan penilaian pada kondisi jalan yang bersangkutan.
Adapun nilai yang dimaksud adalah:
a. Nilai Prosentase Kerusakan (Np)
Nilai prosentase kerusakan diperoleh dari prosentase luas permukaan
jalan yang rusak terhadap luas keseluruhan bagian jalan yang ditinjau
dengan batasan sebagai berikut:
Tabel 3.6 Nilai Prosentase Kerusakan
Prosentase (%) Nilai Np Keterangan
0 - 5 2 Sedikit sekali
>5 - 20 3 Sedikit
>20 - 40 5 Sedang
>40 7 Banyak
Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI,1997).

b. Nilai Bobot Kerusakan (Nb)
Nilai bobot kerusakan dapat dilihat pada tabel di berikut ini:





Tabel 3.7 Nilai Bobot Kerusakan (Nb)
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

23

Kerusakan Nilai Bobot Kerusakan (Nb)
Tambalan 4
Retak 5
Lepas 5,5
Lubang 6
Alur 6
Gelombang 6,5
Ambles 7
Belahan 7
Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI,1997).

c. Nilai Jumlah Kerusakan Jalan (Nj)
Nilai jumlah kerusakan jalan dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:
Nj = Np x Nb.
Jumlah kerusakan jalan dapat diperoleh dari
Tabel 3.8 Nilai Jumlah Kerusakan Jalan (Nj)
No
Jenis
Kerusakan
0 % - 5 %
Sedikit Sekali
> 5 % - 20
% Sedikit
> 20 % - 40
% Sedang
> 40 %
Banyak
1 Tambalan 8 14 2 28
2 Retak 10 15 25 35
3 Lepas 11 16,5 27,5 38,5
4 Lubang 12 18 30 42
5 Alur 12 18 30 42
6 Gelombang 13 19,5 32,5 45,5
7 Ambles 17 21 35 49
8 Belahan 14 21 35 49
Total 97 141 235 329
Sumber: Manual Penilaian Kondisi Permukaan Jalan, Ditjen Bina Marga, 1979.

d. Nilai Kerusakan Jalan (Nr)
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

24

Nr diperoleh dari total nilai jumlah kerusakan.

e. Nilai Kenyamanan (Nn)
Nilai kenyamanan jalan diperoleh dari hasil penilaian dengan batasan
sebagai berikut:
Nyaman = 30
Kurang nyaman = 45
Tidak nyaman = 55

f. Nilai Gabungan Kondisi (Ng)
Ng merupakan nilai yang diperoleh dari gabungan antara nilai
kerusakan (Nr) dan nilai kenyamanan (Nn) dengan persamaan sebagai
berikut:
Nn 0,5 Nr 0,5 Ng


g. Nilai Kondisi Permukaan Jalan
Merupakan nilai yang diperoleh dari gabungan berbagai kondisi.
Dengan diketahuinya nilai gabungan kondisi maka dapat ditentukan
nilai kondisi permukaan jalan. Hubungan antara nilai permukaan
dengan nilai kondisi permukaan jalan dapat dilihat pada tabel di bawah
ini:
Tabel 3.9 Hubungan Antara Nilai Gabungan Dengan Nilai Kondisi Permukaan
No Kondisi
Nilai Kondisi
Permukaan
Nilai Gabungan
Kondisi
1 Sangat baik > 8 10 20 30
2 Baik > 6 8 > 30 50
3 Sedang > 4 6 > 50 75
4 Jelek < 4 > 75 150
Sumber: Ditjen Bina Marga, 1979.

Setelah diketahui kondisi jalan awal, dilanjutkan dengan prakiraan terhadap
jumlah kendaraan berat dari lokasi pengambilan material dan peralatan
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

25

yang membebani jalan pada tahap kegiatan kontruksi. Kendaraan tersebut
kemudian dihitung angka ekivalen (E) beban sumbu kendaraan terhadap
beban sumbu tinggi seberat 8,16 ton dengan persamaan sebagai berikut:




Persamaan diatas diambil dari Petunjuk Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya
dengan Metode Analisa Komponen. Dari hasil prakiraan ekivalen (E)
pembebanan sumbu kendaraan, maka dapat diprakirakan juga tingkat
kerusakan jalan akibat beban yang diprakirakan.

f. Kebutuhan Air Bersih
i. Peningkatan Kebutuhan Air Bersih
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
membandingkankan kebutuhan air bersih pada sebelum dan setelah adanya
proyek.
Perhitungan yang dilakukan adalah dengan cara menghitung kebutuhan air
bersih dengan mengasumsikan kebutuhan orang per hari adalah 150
L/orang/hari dan satu rumah dihuni oleh 5 orang.

g. Limbah Domestik
i. Peningkatan Volume Limbah Domestik
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
melakukan perhitungan limbah yang dihasilkan oleh para pekerja setiap
harinya. Diasumsikan kebutuhan air masing-masing orang adalah 150
L/orang/hari. Kemudian perhitungan hasil limbah domestik di dapat dari
rumus berikut:

Total Limbah Domestik = (jumlah pekerja x kebutuhan air per orang) x 80%


Angka ekivalen sumbu tunggal = beban satu sumbu tunggal dalam Kg / 8160
Angka ekivalen sumbu ganda = 0,086 (beban satu sumbu tunggal dalam Kg / 8160)
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

26

2. Prakiraan Dampak Berdasarkan Pendekatan Analogi
Salah satu dasar yang digunakan dalam pendekatan ini adalah dengan mempelajari
fenomena dampak yang timbul akibat kegiatan proyek sejenis yang telah berjalan pada
areal tertentu yang memiliki karakteristik yang identik dengan studi. Pendekatan ini
dipakai untuk memperkirakan besar dampak parameter tanah, air, sosial ekonomi dan
budaya dan lain sebagainya.
Berikut adalah dampak-dampak hipotetik yang menggunakan metode analogi:

a. Kegiatan Ekonomi
i. Peningkatan Kegiatan Ekonomi
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
membandingkan data berupa pemasukan daerah Kota Probolinggo sebelum
dan sesudah kegiatan proyek sehingga diketahui peningkatan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Kota Probolinggo setelah pembangunan Perumahan
Agung Regency dengan menggunakan metode pendekatan analogi dengan
proyek pembangunan perumahan lainnya.

b. Timbulan Limbah (Sisa Material)
i. Timbulnya Limbah Sisa Material
Analisa yang digunakan pada prakiraan dampak ini adalah dengan
melakukan analisis hasil timbulan limbah sisa material pada saat sebelum
dan sesudah adanya proyek
Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan analogi dengan
membandingkan proyek pembangunan Perumahan Agung Regency dengan
proyek pembangunan perumahan lainnya.

3. Penggunaan Standar Baku Mutu Lingkungan
Baku mutu lingkungan yang dipakai dalam pendekatan ini adalah baku mutu yang telah
diterbitkan oleh pemerintah serta baku mutu lingkungan lainnya yang pada saat itu masih
berlaku. Penggunaan pendekatan ini digunakan untuk prakiraan dampak terhadap
parameter tanah, air, biota perairan, sosekbud dan lain sebagainya.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

27

Berikut adalah dampak-dampak hipotetik yang menggunakan standar baku mutu
lingkungan:
a. Peningkatan Intensitas Kebisingan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Mutu
Tingkat Kebisingan.

b. Peningkatan Konsentrasi Debu dan Penurunan Kualitas Udara
SNI-19-7119.6-2005
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009

c. Kerusakan Jalan dan Gangguan Lalu Lintas
Manual Kapasitas Jalan Indonesia Tahun 1997

4. Penilaian Para Ahli
Besarnya dampak dalam pendekatan ini ditetapkan berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman para ahli yang dikaitkan dengan fenomena di lapangan. Parameter yang dapat
diprakirakan besaran dampaknya dengan pendekatan ini yaitu parameter tanah, air, satwa,
sosekbud dan lain sebagainya.

Dari prakiraan besaran dampak di atas, dapat disimpulkan metode prakiraan besaran dampak
yang digunakan sebagai berikut:
Tabel 3.10 Metode Prakiraan Besaran Dampak
No Dampak Hipotetik Metode Prakiraan Besaran Dampak
1 Peningkatan intensitas kebisingan
Metode pendekatan matematis, standar baku
mutu, dan penilaian ahli
2 Peningkatan konsentrasi debu
Metode pendekatan matematis, standar baku
mutu, dan penilaian ahli
3 Penurunan kualitas udara
Metode pendekatan matematis, standar baku
mutu, dan penilaian ahli
4 Penurunan luas daerah resapan
Metode pendekatan mateatis dan penilaian
ahli
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

28

No Dampak Hipotetik Metode Prakiraan Besaran Dampak
5 Gangguan lalu lintas
Metode pendekatan matematis, standar baku
mutu, dan penilaian ahli
6 Menimbulkan kerusakan jalan
Metode pendekatan matematis, standar baku
mutu, dan penilaian ahli
7 Peningkatan kebutuhan air bersih
Metode pendekatan matematis dan penilaian
ahli
8 Peningkatan kegiatan ekonomi Metode pendekatan analogi dan penilaian ahli
9 Peningkatan volume limbah domestik
Metode pendekatan matematis dan penilaian
ahli
10 Timbulnya limbah sisa material Metode pendekatan analogi dan penilaian ahli
Sumber: Konsultan Agung Sentosa
III.2.1. Metode Prakiraan Besaran Dampak
Komponen lingkungan seperti komponen fisik kimia, biologi, sosial, ekonomi,
budaya, dan kesehatan masyarakat mempengaruhi kondisi besarnya perubahan lingkungan
yang dianalisis. Sebelum menentukan besaran dampak hubungan antara komponen
lingkungan dan kegiatan pembangunan perlu dianalisis secara detail, baik menggunakan
metode formal dan metode non formal.
Besarnya perubahan kualitas lingkungan karena kegiatan proyek dinyatakan dengan
nilai tertentu. Nilai tersebut menjadi tingkat kualitas. Adapun nilai yang dipakai yakni :
a. 1 = Nilai dampak sangat kecil
b. 2 = Nilai dampak kecil
c. 3 = Nilai dampak sedang
d. 4 = Nilai dampak besar
e. 5 = Nilai dampak sangat besar
Penilaian/perkiraan mengenai dampak penting menggunakan pedoman yang ada di
Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994.

`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

29

III.2.2 Metode Prakiraan Tingkat Kepentingan Dampak
Dalam perkiraan dampak, penetapan sifat penting dampak dilakukan dengan
mengacu pada Keputusan Bapedal Nomer 56 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai
Ukuran Dampak Penting, yaitu 7 kriteria dampak penting seperti pada tabel berikut :

Tabel 3.11 Pedoman Mengenai Dampak Penting Berdasarkan
Keputusan Kepala Bapedal
No
Ukuran Dampak
Penting
Kriteria Dampak Penting
1 Jumlah manusia yang
terkena dampak
Manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak
lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari proyek,
jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang
menikmati
2 Luas wilayah sebaran
dampak
Rencana kegiatan menimbulkan adanya wilayah yang
mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak,
atau tidak berbaliknya dampak, atau segi kumulatif dampak
3 Lamanya dampak
berlangsung
Rencana kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan
mendasar dari segi intesitas dampak atau tidak berbaliknya
dampak, atau segi kumulatif dampak, yang berlangsung hanya
pada satu atau lebih tahapan kegiatan.
4. Intensitas dampak Rencana kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat
dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu
lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Rencana kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada
komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui,
berdasarkan pertimbangan ilmiah.
Rencana kegiatan akan menyebabkan spesies-spesies yang
langka, pidemik, dan dilindungi menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku terancam punah, atau habitat alaminya
mengalami kerusakan.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

30

No
Ukuran Dampak
Penting
Kriteria Dampak Penting
Rencana kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan
terhadap kawasan lindung yang telah ditetapkan menurut
peraturan perundang-undangan.
Rencana kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-
benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.
Rencana kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi
dengan atau di kalangan masyarakat, pemerintah daerah,
pemerintah pusat, kalangan masyarakat.
Rencana kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang
mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi.
5. Banyaknya
komponen lain yang
terkena dampak
Rencana kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak
lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama
dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer.
6. Sifat kumulatif
dampak
Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus
menerus, sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat
diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang
menerimmanya.
Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang
tertentu, sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam
atau sosial yang menerimanya.
Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan
menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik).
7. Berbalik dan
tidaknya dampak
Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan
tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi
manusia.
Sumber: Keputusan Bapedal Nomer 56 Tahun 1994
Pembuatan batasan penilaian terhadap masing-masing kriteria dimaksudkan untuk
memudahkan penilaian terhadap pentingnya dampak. Dengan ketentuan bahwa dampak yang
terjadi akibat adanya kegiatan dikategorikan sebagai dampak penting yang perlu dikelola,
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

31

apabila memiliki skala minimum 3 dari 7 kriteria yang diberikan, akan diambil skala terbesar.
Skala kepentingan masing-masing kriteria dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.12 Contoh Skala Kepentingan Kriteria Dampak Penting
No Kriteria
Skala
1 2 3 4 5
Tidak Penting Penting
1 Jumlah
manusia
yang terkena
dampak
Sangat Sedikit
(5 %
populasi batas
ekologis
radius
100 m dari
batas proyek)
Sedikit
(10 %
populasi batas
ekologis
radius
100 m dari
batas proyek)
Sedang
(15 %
populasi batas
ekologis radius
100 m dari
batas proyek)
Banyak
(20 %
populasi
batas
ekologis
radius
100 m dari
batas proyek)
Sangat
Banyak
(> 20 %
populasi
batas
ekologis
radius
100 m dari
batas
proyek)
2 Luas wilayah
sebaran
dampak
Sangat sempit
(radius 100
m
dari batas
proyek)
Sempit
(radius 101-
150 m dari
batas proyek)
Sedang
(radius 151-
200 m dari
batas proyek)
Luas
(radius 201-
250 m dari
batas proyek)
Sangat luas
(radius > 250
m kiri dari
batas
proyek)
3 Lamanya
dampak
berlangsung
Sangat singkat
( 6 bulan)
Singkat
(6-12 bulan)
Sedang
(1-2 tahun)
Panjang
(2-3 tahun)
Sangat
panjang
(> 3 tahun)
4. Intensitas
dampak
Sangat ringan
( 5 %
populasi
ekologis
radius 100 m
dari batas
proyek)
Ringan
(10 %
populasi
ekologis
radius 100 m
dari batas
proyek)
Sedang
(15 %
populasi
ekologis radius
100 m dari
batas proyek)
Berat
(20 %
populasi
ekologis
radius 100 m
dari batas
proyek)
Sangat berat
(> 20 %
populasi
ekologis
radius 100 m
dari batas
proyek)
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

32

No Kriteria
Skala
1 2 3 4 5
Tidak Penting Penting
5 Sifat
kumulatif
dampak
Tidak
kumulatif
Kumulatif
lama
(> 2 tahun)
Kumulatif
sedang
(1-2 tahun)
Kumulatif
singkat
(6-12 bulan)
Kumulatif
sangat
singkat
(> 6 bulan)
6 Berbalik dan
tidaknya
dampak
Sangat cepat
berbalik
(6 bulan)
Cepat berbalik
(6-12 bulan)
Berbalik
sedang
(1-2 tahun)
Berbalik lama
(> 2 tahun)
Tidak
berbalik
7 Banyaknya
komponen
lain yang
terkena
dampak
Tidak ada
(0 komponen)
Sedikit
(1 komponen)
Sedang
(2 komponen)
Banyak
(3 komponen)
Sangat
banyak
(lebih dari 3
komponen)
Sumber : Konsultan Agung Sentosa

III.3. Metode Evaluasi Secara Holistik
Evaluasi holistik digunakan sebagai dasar untuk menelaah kekayaan lingkungan
hidup dari berbagai alternatif kegiatan dan untuk mengidentifikasi arah pengelolaan dampak
besar dan penting bagi lingkungan hidup yang ditimbulkan. Teknik yang dilakukan dalam
metode evaluasi holistik antara lain berupa matriks, bagan alir, dan teknik overlay.
Metode evaluasi dampak yang dipilih dalam studi ini adalah matriks Leopold.
Matriks ini merupakan interaksi antara komponen kegiatan (ditulis pada bagian atas matriks
arah horisontal) dengan komponen lingkungan (ditulis pada bagian kiri matriks arah vertikal)
yang nantinya akan menghasilkan sel interaksi dampak lingkungan. Langkah awal dalam
penggunaan matriks ini adalah menentukan seluruh aktivitas dan dampak potensial yang
mungkin akan terjadi sebagai akibat kegiatan tersebut. Bila terdapat dampak, maka pada sel
interaksi pada lajur kegiatan dan dampak diberi tanda diagonal.
Langkah kedua adalah menentukan besarnya dampak (magnitude, M) dan nilai
tingkat pentingnya dampak (importance, I) di setiap sel interaksi. Nilai besarnya dampak
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

33

ditulis di bagian atas diagonal dan nilai tingkat pentingnya dampak ditulis di bagian bawah
diagonal, sehingga setiap sel susunan isinya adalah M/I. Kisaran nilai besarnya dampak
dibuat antara 1 hingga 5, dimana :
angka 1 berarti = sangat kecil
angka 2 berarti = kecil
angka 4 berarti = besar
angka 5 berarti = sangat besar.
Sedangkan sifat penting dampak kisaran nilainya dibuat 1 hingga 5, dimana :
angka 1 berarti = sangat tidak penting
angka 2 berarti = tidak penting
angka 4 berarti = penting
angka 5 berarti = sangat penting.
Evaluasi dampak yang digambarkan dalam angka-angka tersebut dilakukan dengan
obyektif berdasar kenyataan. Dampak positif diberi tanda + dan dampak negatif diberi
tanda -. Untuk nilai tingkat kepentingan, tidak digunakan tanda negatif (-) semuanya positif
(+), dimana angka-angka tersebut merupakan hasil telaah para pakar.

III.3.1 Metode Evaluasi Arahan Rencana Pengelolaan Lingkungan
Terdapat 3 pendekatan yang dilakukan pada metode evaluasi arahan rencana
pengelolaan lingkungan hidup, sebagai berikut:
a) Pendekatan teknologi/lingkungan
Pendekatan teknologi/lingkungan merupakan metode yang digunakan untuk mengelola
dampak besar dan penting dengan memanfaatkan kemajuan ilmu dan tenologi yang ada
saat ini.
b) Pendekatan sosial ekonomi
Pendekatan sosial ekonomi merupakan suatu usaha insentif dan desinsentif dalam bidang
sosial ekonomi dengan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup,
bantuan kemudahan perizinan dan bantuan dana pemerintah.
c) Pendekatan institusional
Pendekatan institusional merupakan suatu usaha kerjasama antara instansi yang berkaitan
dalam pengelolaan lingkungan akibat adanya pembangunan suatu proyek.
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

34

III.4. Ringkasan Metode Studi

Tabel 3. 5 Ringkasan Metode Studi
No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
1 Peningkatan
intensitas
kebisingan
Menggunakan
metode matematis,
standar baku mutu
dan penilaian ahli.
Akumulasi tingkat
kebisingan:

{(

)
(

)}
Perubahan tingkat
kebisingan:
) log( 20
2
1
1 2
r
r
LP LP

Data kebisingan
Jumlah alat berat
yang digunakan
Waktu yang
digunakan saat
sampling
Jarak kebisingan
Rambatan
kebisingan
Baku mutu pada
KEP-
48/MENLH/11/1996
Mengukur
kebisingan
dengan SLM
.Digunakan 5
titik sampling.

Mengumpulkann
data di lapangan.
Melakukan
perhitungan.
Membandingkan
hasil perhitungan
dengan baku mutu
di KEP-
48/MENLH/11/1996

Matriks
Leopold
2 Peningkatan
konsentrasi
Menggunakan Identifikasi jenis gas Parameter yang Mengumpulkann Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

35

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
debu metode matematis,
standar baku mutu
dan penilaian ahli.
Metode PSI:
PSI= +Ib
Model Gauss:

Perhitungan indeks
pencemaran udara:
O
n
P S C L L L L L NAQi
2 2 2 2 2



pada proyek sejenis.
SNI pengukuran
debu
Peralatan yang
digunakan.
Baku mutu pada
PerGub Jawa Timur
No. 10 Tahun 2009.
Dampak emisi gas
terhadap kualitas
udara dengan
rumus-rumus yang
ada.
Konsentrasi
ambient.
diukur adalah
konsentrasi
debu.
Menggunakan
SNI-19-7119.6-
2005
Digunakan 5
titik sampling.

data di lapangan.
Melakukan
perhitungan.
Membandingkan
hasil perhitungan
dengan baku mutu
di PerGub Jawa
Timur No. 10 Tahun
2009.
3 Penurunan
kualitas udara
Menggunakan
metode matematis,
standar baku mutu,
Identifikasi jenis gas
pada proyek sejenis.
SNI pengukuran
Parameter yang
diukur SO
2
, CO,
NO
x
, O
2
, Pb,
Mengumpulkann
data di lapangan.
Melakukan
Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

36

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
dan penilaian ahli.
Metode PSI:
PSI= +Ib
Model Gauss:

Perhitungan indeks
pencemaran udara:
O
n
P S C L L L L L NAQi
2 2 2 2 2



kualitas udara.
Peralatan yang
digunakan.
Baku mutu pada
PerGub Jawa Timur
No. 10 Tahun 2009.
Dampak emisi gas
terhadap kualitas
udara dengan
rumus-rumus yang
ada.
Konsentrasi
ambient.
H
2
S, NH
3
, dan
HC.
Menggunakan
SNI-19-7119.6-
2005
Digunakan 5
titik sampling.

perhitungan.
Membandingkan
hasil perhitungan
dengan baku mutu
di PerGub Jawa
Timur No. 10 Tahun
2009.
4 Penurunan
luas daerah
resapan
Menggunakan
metode matematis
dan penilaian ahli.
Perhitungan Volume
Resapan:
Koefisien daerah
resapan
Peta Tata Guna
Lahan Kota
Probolinggo
Menggunakan
data sekunder
dari Peta Tata
Guna Lahan
Kota
Membandingkan
data sekunder
dengan parameter
yang dihitung
dengan
Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

37

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
Ia=CH (BA) / 1000
Perhitungan Volume
Limpasan:
Ro = P I

Data curah hujan
tahunan
Probolinggo. menggunakan
metode
matematis.
5 Gangguan lalu
lintas
Menggunakan
metode pendekatan
matematis, standar
baku mutu dan
penilaian ahli.
Perhitungan
Kapasitas Jalan:

C = Co x FCw x FCsp x FCsf
Derajat Kejenuhan

DS = Q/C
Kecepatan Arus
Bebas:

Manual Kapasitas
Jalan Tahun 1997.
Data kapasitas jalan,
arus lalu lintas,
kapasitas aktual,
kecepatan
kendaraan rata-rata,
dan derajat
kejenuhan.
Survey dan
pengamatan
langsung kondisi
di lapangan.
Melakukan
perhitungan data
di lapangan
dengan
persamaan MKJL.
Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

38

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
FV = ( Fvo + FVw ) x FFVsf x
FFVrc
Derajat Iringan:
DB = DS
0,814670 x DS + 0,283470
6 Menimbulkan
kerusakan
jalan
Menggunakan
metode pendekatan
matematis, standar
baku mutu dan
penilaian ahli.
Nilai Jumlah
Kerusakan Jalan:
Nj = Np x Nb
Nilai Gabungan
Kondisi:
Nn 0,5 Nr 0,5 Ng



Angka Ekuivalen
Sumbu Tunggal:

Aest = beban satu sumbu tunggal
Manual Kapasitas
Jalan Tahun 1997.
Data nilai
prosentase
kerusakan, nilai
bobot kerusakan,
nilai jumlah
kerusakan
jalan, nilai
kenyamanan, dan
hubungan nilai
gabungan dengan
nilai kondisi
permukaan.
Survey dan
pengamatan
langsung
kondisi di
lapangan.
Digunakan 4
titik sampling.

Melakukan
pembandingan
dokumentasi jalan
awal saat sebelum
proyek dengan
kondisi setelah
proyek.
Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

39

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
dalam Kg / 8160
Angka Ekuivalen
Sumbu Ganda:

Aesg = 0,086 (beban satu sumbu
tunggal dalam Kg / 8160
7 Peningkatan
kebutuhan air
bersih
Menggunakan
metode pendekatan
matematis dan
penilaian ahli.
Data kebutuhan air
bersih orang per
hari.
Asumsi jumlah
masyarakat di Agung
Regency.
Kebutuhan awal
PDAM sebelum
adanya Perumahan
Agung Regency.
Melakukan
perhitungan
kebutuhan air
secara
matematis.
Membandingkan
kebutuhan air
bersih pada saat
sebelum dengan
setelah adanya
proyek dengan
metode matematis.
Matriks
Leopold
8 Peningkatan
kegiatan
ekonomi
Menggunakan
metode pendekatan
analogi dan penilaian
ahli.
PAD Kota
Probolinggo
sebelum adanya
pembangunan
Wawancara
Pengumpulan
data sekunder
dari Dinas
Membandingkan
data sekunder
dengan parameter
yang diteliti pada
Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

40

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
Perumahan Agung
Regency.

Pendapatan
Pengelolaan
Keuangan dan
Aser Kota
Probolinggo.
sebelum dan
sesudah adanya
proyek.
Penyimpulan
terhadap hasil
wawancara warga
sekitar.
9 Peningkatan
volume limbah
domestik
Menggunakan
metode pendekatan
matematis dan
penilaian ahli.
Rumus total limbah
domestik:

Total Limbah Domestik = (jumlah
pekerja x kebutuhan air per orang) x
80%

Kebutuhan air
masing-masing
orang per hari.
Asumsi jumlah
masyarakat di Agung
Regency.

Survey lapangan
Mengihitung
total limbah
domestik.
Melakukan
perhitungan total
kebutuan air limbah
para pekerja.
Matriks
Leopold
10 Timbulnya
limbah sisa
Menggunakan Kegiatan yang Survey lapangan Membandingkan Matriks
Leopold
`KerangkaAcuanAnalisisDampakLingkungan (KA-Andal)
PerumahanAgung Regency
Kota Probolinggo

41

No DPH
Metode Prakiraan
Dampak
Data dan Informasi yang
Relevan Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan Data
Metode Analisis
Metode
Evaluasi
Holistik
material metode pendekatan
analogi dan penilaian
ahli.

dilakukan dalam
tahap pembangunan
rumah.
Alat dan bahan apa
saja yang
digunakan.
data timbulan
sampah yang
dihasilkan dengan
proyek sejenis.
Sumber: Konsultan Agung Sentosa