Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 PENDAHULUAN
Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seorang pasien
sirosis hepatis degan asites, berjenis kelamin laki- laki dan berusia 41 tahun,
penderita beralamat di lawang. Penting kiranya bagi kita untuk memperhatikan
dan mencermatinya, untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai pengalaman
dilapangan.
1.2 IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. K
Umur : 41 tahun
Jenis kelamin : laki - laki
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Buruh pabrik
Agama : Islam
Alamat : Lawang
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 27 Maret 2012

1
2

1.3 ANAMNESIS
a. Keluhan Utama : perut makin lama makin membesar
b. Keluhan penyerta : sulit bernapas karena perutnya membesar,
perut terasa sebah, mual, muntah darah,
berak berwarna merah kehitaman,dan ke
dua kaki bengkak.
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
1. Lokasi : perut
2. Onset dan Kronologi : Tn. K datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal
27 Maret 2012 dengan keluhan perut makin lama makin membesar
sejak 10 hari yang lalu.
3. Kualitas keluhan : pasien sadar penuh, pasien terlihat lemah
4. Kuantitas keluhan : pasien memegangi perutnya karena terasa sebah.
5. Faktor yang memperberat : bila duduk pasien merasa sesak
6. Faktor yang memperingan : ketika berbaring
7. Gejala Penyerta : sulit bernapas karena perutnya membesar, perut
terasa sebah, mual, muntah darah, berak berwarna merah kehitaman,
kedua kaki bengkak.
Tn. K datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal 27 Maret 2012 dengan
keluhan perut makin lama makin membesar sejak 10 hari yang lalu. Selain itu
pasien juga mengeluh sulit bernapas karena perutnya membesar, perut terasa
sebah, mual, muntah darah, berak berwarna merah kehitaman.
d. Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat Mondok : disangkal
3

- Riwayat Hepatitis : disangkal
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
- Riwayat Gastritis : +
- Riwayat Typus : +
- Riwayat alergi obat : disangkal
- Riwayat alergi makanan : disangkal
e. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : kakak laki- laki
pasien megalami hal yang serupa.
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat Jantung : disangkal
- Riwayat Ginjal : disangkal
f. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok : 2 pack / hari
- Riwayat minum alkohol : disangkal
- Riwayat minum kopi : minimal 4 gelas sehari
- Riwayat olah raga : -
- Riwayat pengisian waktu luang : jalan-jalan bersama keluarga
4

g. Riwayat Sosial Ekonomi
Tn. K adalah seorang buruh pabrik yang tinggal bersama istri dan ketiga
orang anaknya. Biaya hidup sehari-hari ditanggung oleh Tn. K. Penghasilan
kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
h. Riwayat Gizi
Pasien makan biasanya 2-3 kali sehari, dengan lauk pauk tempe, tahu,
telur, dan sayur - mayur. Pasien minum kurang dari 8 gelas air putih sehari. Gizi
kesan cukup.
1.4 ANAMNESIS SISTEM
a. Kulit : kulit gatal(-), keriput (-), perubahan warna (-)
b. Kepala : sakit kepala(-), pusing(-), rambut rontok(-), luka(-),
benjolan(-), demam(-)
c. Mata : pandangan mata berkunang-kunang(-), penglihatan
kabur(-), ketajaman penglihatan berkurang(-),
penglihatan ganda(-)
d. Hidung : tersumbat(-), mimisan(-)
e. Telinga : pendengaran berkurang ( - ), berdengung ( - ), keluar cairan (
- )
f. Mulut : sariawan ( - ), mulut kering (-)
g. Tenggorokan : sakit menelan ( -), serak (- )
h. Pernafasan : sesak nafas ( + ), batuk (-)
i. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada ( -)
j. Gastrointestinal : mual ( + ), muntah darah ( + )
k. Genitourinaria : BAK berwarna kuning tua
5

l. Neurologik : kejang ( - ), lumpuh ( - ), kesemutan dan rasa tebal pada
kedua kaki ( - )
m. Psikiatri : emosi stabil, mudah marah ( - )
n. Muskuloskeletal : kaku sendi(-), nyeri sendi pinggul(-), nyeri tangan(-),
nyeri kaki kiri(-), nyeri otot(-)
o. Ekstremitas :
o Atas kanan : bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
o Atas kiri : bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
o Bawah kanan : bengkak ( +), sakit ( - ), luka ( - )
o Bawah kiri : bengkak ( +), sakit ( - ), luka ( - )
1.5 PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum : lemah
b. Kesadaran : GCS 456 compos mentis
c. Tanda Vital
BB : 46 kg
TB : 155 cm
BMI : BB/TB
2
19,16 kg/m
2
normoweight
BB pasien saat perut membesar meningkat menjadi 58 kg
Tensi : 110/70 mmHg
Suhu : 36,8
o
C
Nadi : 120x/menit
RR : 20x/menit
d. Kulit
sawo matang, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), spidernevi (-)
6

e. Kepala
Bentuk mesocephal , Luka ( - ), rambut rontok ( - ), makula ( - ), papula (
- ), nodula ( - ).
f. Mata
Conjunctiva anemis ( + / + ), sklera ikterik ( - / - )
g. Hidung
Nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-)
h. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-).
i. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal.
j. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-).
k. Leher
lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
l. Toraks
bentuk normal, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi sela iga (-)
spidernevi (-), sela iga melebar (-), massa (-),kelainan kulit (-), nyeri (-)
a. Cor
Inspeksi : dbn
Palpasi : dbn
Perkusi : dbn
7

Auskultasi : dbn
b. Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
Inspeksi : bentuk normal, simetris
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi -
+ + - - - -
Dinamis (depan dan belakang)
Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri, irama
regular, otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-)
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi -
+ + - - - -
m. Abdomen :
Inspeksi : frog belly, umbilicus menonjol, kolateral (-),
caput medusa (-), bekas jahitan (-)
Palpasi : hepar dan lien tdk teraba (sulit dievaluasi)
Perkusi : pekak seluruh lapangan perut, shifting
dullness (+)
Auskultasi : peristaltik (+) normal
8

n. Ekstremitas :
Edema



o. Pemeriksaan Neurologik
Kesadaran : kompos mentis GCS (E4 V5 M6)
Fungsi luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
p. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : perawatan diri kurang
Kesadaran : compos mentis
Afek : appopriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk : realistik
isi : waham ( - ), halusinasi ( - ), ilusi ( - )
arus : koheren
Insight : baik







- -

+ +
9

1.6 Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan Penunjang
(29 Maret 2012)
No Jenis Hasil
Pemeriksaan
Nilai Normal
1 Hemoglobin 7,7 g/dl (13,5-18)
2 Leukosit 3.350 /mm3 (4-11 ribu)
3 LED 15 mm/jam (15)
4 Trombosit 44.000 /mm3 (150-450 ribu)
5 PVC/Hematokrit 23,7 % (40-54)
6 Eritrosit 2,71 /mm3 (4,5-6,5 juta)
7 Hitung Jenis :
EOS
BAS
ST
SEG
LYM

1
0
62
26
1


1-5
0-1
50-70
20-35
2-8
8 GDS 83 <140
9 SGOT 68 <43
10 SGPT 61 <43
11 Ureum 34 20-40
12 Kreatinin 0,59 0,6-1,1
13 Protein total 4,64 g/dl (6,6-8,8)
14 Albumin 2,61 g/dl (3,5-5,2)
15 Globulin 2,03 g/dl (2,6-3,6)

1.7 Resume
Tn. K datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal 27 Maret 2012 dengan
keluhan perut makin lama makin membesar sejak 10 hari yang lalu. Selain itu
pasien juga mengeluh sulit bernapas karena perutnya membesar, perut terasa
sebah, mual, muntah darah, berak berwarna merah kehitaman.
Dari riwayat penyakit dahulu pasien pernah menderita gastritis dan typus,
dan dari riwayat penyakit keluarga, kakak pasien pernah mengalami hal sama
seperti pasien.
Dari pemeriksaan fisik abdomen pada inspeksi didapatkan frog belly,
umbilicus menonjol, pada perkusi pekak seluruh lapangan perut, dan shifting
dullness (+).
10

Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan penurunan kadar Hb,
penurunan hematokrit, penurunan jumlah eritrosit, leukositopenia,
trombositopenia, peningkatan kadar SGOT dan SGPT dan hipoproteinemia.
Diagnosa dari Tn.K adalah :
I. Suspect Cirrhosis Hepatis dengan asites dan edema kaki.
II. Hematemesis dan Melena et causa Hipertensi Porta.
Planning Diagnosa : USG Abdomen, kadar bilirubin total, direct dan indirect
serum.
1.8 Penatalaksanaan
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Asam Traneksamat 3x 250 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv

Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori, rendah garam dan rendah protein








11

1.9 Flow Sheet
No Tanggal Vital sign BB/TB BMI Keluhan Rencana
1 27/03/2012
T:110/70mmHg
S : 36,8
o
C
N :120x/menit
RR : 20x/menit
46/155 19,16
Sesak,
sebah, perut
besar, mual,
muntah
darah, BAB
merah
kehitaman,
ke2 kaki
bengkak
Planning Diagnosa USG Abdomen, , kadar
bilirubin total, direct dan indirect serum.

Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Asam Traneksamat 3x 250
mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv

Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori, rendah garam
dan protein
2 28/03/2012
T: 110/80 mmHg
RR: 20x/menit
N: 87x/menit
S: 36,4
o
C

46/155 19,16
Sesak,
sebah, perut
besar, ke2
kaki
bengkak,
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Asam Traneksamat 3x 250
mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv

Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori, rendah garam
dan protein
3 29/03/2012
T: 110/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 86x/menit
S: 36,4
o
C

46/155 19,16
Sesak,
sebah, perut
besar, tidak
bisa BAB,
ke2 kaki
bengkak,
pusing
Hasil Lab :
Hb : 7,7 g/dl
Hematokrit 23,7 %
Eritrosit : 2.71 juta/cmm
Leukosit : 3.350 sel / cmm
Trombosit : 44.000 sel/cmm
SGOT : 68 U/L
SGPT : 61 U/L
Albumin : 2,61 g/dl (3,5-5,2)
Globulin 2,03 g/dl (2,6-3,6)
Protein total 4,64 g/dl (6,6-8,8)
Urinalisis
Warna : kuning tua
Kejernihan : agak keruh
Urobilinogen +1 (<1)
Bilirubin +1 (<0,2)
Leukosit 6-7 (1-4)
Bakteri +
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Asam Traneksamat 3x 250
mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori, rendah garam
dan protein

12

4 30/03/2012
T: 110/90 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 86 x/menit
S: 36,4
o
C

46/155 19,16
Sesak sudah
berkurang,
perut masih
besar,
sudah bisa
BAB, ke2
kaki
bengkak
Hasil Lab :
Hb : 10,5 g/dl
Hematokrit : 32,1 %
Eritrosit 3.66 juta / cmm
Leukosit : 3.870 sel / cmm
Trombosit : 51.000 sel/ cmm
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Asam Traneksamat 3x 250
mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori, rendah garam
dan protein
5 31/03/2012
T: 120/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 86x/menit
S: 37
o
C


46/155 19,16
Perut
masih
besar, kaki
masih
bengkak
Hasil Lab :
Albumin 3,05 g/dl (N : 3,5 5,2)
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

6 1/04/2012
T: 100/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 86x/menit
S: 36,4
o
C


46/155 19,16
Perut masih
besar, kaki
masih
bengkak,
pusing
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

7 2/04/2012
T: 110/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N:100 x/menit
S: 37,1
o
C

46/155 19,16
Perut masih
besar, kaki
masih
bengkak
Hasil USG Abdomen :
Cirrhosis Hepatis dengan spleenomegali dan
asites.
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein
8 3/04/2012
T: 110/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 80 x/menit
S: 36,2
o
C

46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein
13

9 4/04/2012
T: 120/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 86 x/menit
S: 37
o
C

46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang,
nyeri ulu
hati, BAK
seperti teh
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

10 5/04/2012
T: 120/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 80 x/menit
S: 36,5
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

11 6/04/2012
T: 100/70 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 80 x/menit
S: 36,7
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

12 7/04/2012
T: 100/70 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 76 x/menit
S: 36,7
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

13 8/04/2012
T: 90/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 36,7
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
bengkak di
kaki
berkurang
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

14 9/04/2012
T: 90/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 80x/menit
S: 36,2
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar, kaki
sudah tidak
bengkak
Hasil Lab :
Albumin : 2,72 g/dl
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Albumin 20% 100 cc
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein
14

15 10/04/2012
T: 90/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 77x/menit
S: 36,4
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

16 11/04/2012
T: 110/70 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84x/menit
S: 36,7
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar,
kembung,
badan
greges
Medikamentosa :
IVFD RL 10 tpm
Spironolakton 1 x 100 mg/ hr PO
Injeksi Furosemid 2x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 2x 50 mg/hari iv
Non Medikamentosa :
Bed rest
Diet tinggi kalori rendah garam
dan protein

17 12/04/2012
T: 110/90 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84x/menit
S: 36,2
o
C
46/155 19,16
Perut masih
besar.
Boleh pulang, kontrol ke poli dalam
Medikamentosa :
Propanolol 2x 20 mg
Spironolakton 2x 100 mg
Furosemid 2x1/2 tab



























15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sirosis Hepatis
2.1.1 Definisi
Sirosis hati adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium
akhir fibrosis hepatic yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi
dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regenerative (Bacon, 2008).
2.1.2 Epidemiologi
Di Negara berkembang, banyak kasus disebabkan karena chronic alcohol
abuse atau chronic hepatitis C. dibagian Asia dan Africa, sirosis biasanya
disebabkan karena chronic hepatitis B. Injury pada kandung empedu juga dapat
menyebabkan sirosis, seperti yang terjadi pada mechanical bile duct obstruction,
primary biliary cirrhosis (Bacon, 2008)
2.1.3 Etiologi

Tabel 1 Etiologi Sirosis (Bacon, 2008)


15
16

2.1.4 Klasifikasi
Secara klinis sirosis hati dibagi menjadi :
1. Sirosis hati kompensata : belum ada gejala klinis yang nyata
2. Sirosis hati dekompensata : ditandai gejala gejala dan tanda klinis yang
jelas.
Secar konvensional sirosis hati dibagi menjadi :
1. Makrondular : besar nodul > 3mm
2. Mikronodular : besar nodul < 3mm
3. Campuran makro dan mikronodular
Secara etiologis dan morfologis sirosis dibagi menjadi :
1. Alkoholik
2. Kriptogenik dan post hepatitis (pasca nekrosis)
3. Biliaris
4. Kardiak
5. Metabolic, keturunan, dan terkait obat.
( Nurdjanah, 2007)
2.1.5 Manifestasi Klinis
Gejala Gejala :
Stadium awal sering tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu
pasien melakukan pemerikasaan kesehatan rutin atau karena kelainan penyakit
lain.
Gejala awal sirosis (kompensata) meliputi perasaan mudah lelah dan
lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual, berat badan
menurun, pada laki- laki : impotensi, testis mengecil, ginekomastia, hilangnya
17

dorongan seksualitas. Bila sudah lanjut (dekompensata),. Gejala gejala lebih
menonjol terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta,
meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, dan demam tak begitu tinggi.
Mungkin disertai adanya gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis,
gangguan siklus haid, ikterus dengan air kemih berwarna sepeti the pekat, muntah
darah dan atau melena, serta perubahan mental meliputi : mudah lupa, sukar
konsentrasi, bingung, agiasi, sampai koma.
Temuan Klinis :
a. Spider angioma (spider teleangiektasis) : suatu lesi vascular yang
dikelilingi beberapa vena vena kecil, tanda ini sering ditemukan di
bahu, dimuka, dan lengan atas.
b. Eritema Palmaris : warna merah saga pada thenar dan dan hipothenar
telapak tangan.
c. Perubahan kuku kuku murchche berupa pita putih horizontal
dipisahkan dengan warna normal kuku.
d. Jari gada, osteoatropati hipertrophi
e. Kontraktur dupuytren akibat fibrosis fasia Palmaris menimbulkan
kontraktur fleksi jari - jari.
f. Ginekomastia, hilangnya rambut dada dan aksila (pada laki laki)
g. Terganggunya siklus haid (pada perempuan)
h. Atrofi testis hipogonadisme impotensi dan infertile
i. Hepatomegali ukuran hati yang sirotik bisa membesar, normal, atau
mengecil.
18

j. Spleenomegali akibat kongesti pulpa merah lien akibat hipertensi
porta.
k. Asites penimbunan cairan dalam rongga peritoneum akibat hipertensi
porta dan hipoalbuminemia. Caput medusa juga sebagai akibat
hi[pertensi porta.
l. Fetor hepatikum bau napas yang khas pada pasien sirosis disebabkan
peningkatan konsentrasi dimetil sulfide akibat pintasan porto sistemik
yang berat.
m. Ikterus pada kulit dan membrane mukosa akibat biirubinemia. Bila
konsentrasi bilirubin < 2-3 mg/dl tak terlihat. Warna urine gelap seperti
teh.
n. Asterixis bilateral tetapi tidak sinkron. Berupa gerakan mengepak
ngepakkan tangan. Dorso flexi tangan.
Tanda - Tanda Lain Yang Menyertai :
a. Demam yang tidak tinggi akibat nekrosis hepar.
b. Batu pada vesika velea akibat hemolisis.
c. Pembesaran kelenjar parotis terutama pada sirosis alkoholik.
Gambaran Laboratoris :
a. AST/ SGOT dan ALT/ SGPT meningkat tetapi tidak begitu tinggi, AST
lebih meningkat dari pada ALT, namun bila transaminase normal, tidak
mengeyampingkan adanya sirosis bilier primer.
b. GGT (Gamma Glutamil Transpeptidase) konsentrasinya seperti halnya
alkali fosfatase pada penyakit hati. Konsentrasinya tinggi pada penyakit
hati alkoholik kronik.
19

c. Bilirubin bisa normal pada sirosis kompensata, tapi bisa meningkat pada
sirosis lanjut.
d. Albumin menurun sesuai dengan perburukan sirosis.
e. Globulin meningkat pada sirosis.
f. Waktu protrombin memanjang
g. Na serum menurun, terutama pada sirosis dengan asites (ketidak mampuan
eksresi air bebas).
h. Kelainan hematologi anemia, penyababnya bisa bermacam macam,
anemia normokrom, normositer, hipokrom mikrositer, atau hipokrom
makrositer.
Anemia dengan trombositopenia, leucopenia, dan netropenia akibat
spleenomegali congestive berkaitan dengan hipertensi porta hingga terjadi
hiperspleenisme.
i. Pemeriksaan radiologis :
Barium meal untuk melihat varises, konfirmasi adanya
hipertensi porta.
USG (sudut, permukaan, ukuran, homogenitas dan adanya massa)
Tomografi komputerisasi
MRI
( Nurdjanah, 2007)

20


Tabel 2 Gejala dan Tanda yang Berhubungan Dengan Sirosis (Merck Mannual, 2012)
2.1.6 Diagnosis
a. pemeriksaan klinis yang cermat
b. lab biokimia atau serologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Pada kasus tertentu diperlukan pemeriksaan biopsy hati atau
peritoneoskopi. Pada stadium dekompensata diagnosis kadangkala
tidak sulit. Karena gejala dan tanda tanda klinis sudah tampak
dengan adanya komplikasi.
( Nurdjanah, 2007)
2.1.7 Komplikasi
a. Peritonitis bacterial spontan : infeksi cairan asites oleh satu jenis bakteri
tanpa ada bukti infeksi sekunder intra abdominal. Biasanya paisien ini
tanpa gejala, namun dapat timbul demam dan nyeri abdomen.
21

b. Pada sindrom hepatorenal terjadi gangguan fungsi ginjal akut berupa
oliguri, peningkatan ureum, kreatinin tanpa adanya kelainan organic ginjal.
Kerusakan hati lanjut menyebabkanpenurunan perfusi ginjal yang
berakibat pada penurunan filtrasi glomerolus.
c. Varises esophagus akibat hipertensi porta. Bila pecah akan timbul
perdarahan.
d. Ensefalohepatik : kelainan neuropsikiatrik akibat disfungsi hati. Mula
mula ada gangguan tidur (insomnia dan hipersomnia), selanjutnya dapat
timbul gangguan kesadaran yang berlanjut sampai koma.
e. Pada sindrom hepatorenal terhadap hydrothorax, dan hipertensi pulmonal.
( Nurdjanah, 2007)

Tabel 3 Komplikasi Sirosis (Bacon, 2008)


22

2.1.8 Pengobatan
Etiologi mempengaruhi penanganan.
Terapi ditujukan untuk mengurangi progresi penyakit, menghindarkan bahan
bahan yang bisa menambah kerusakan hati, pencegahan dan penanganan
komplikasi.
Penanganan Sirosis Kompensata :
Ditujukan untuk mengurangi progresi penyakit, dengan menghilangkan
etiologi, diantaranya : alcohol dan bahan bahan lain yang toksik dan mencederai
hati dihentikan penggunaannya.
Pemberian asetaminofen, kolkisin, dan obat herbal bisa menghambat
kolagenik. Pada hepatitis autoimun bisa diberikan steroid dan imunosupresif. Pada
hemokromatosis flebotomi setiap minggu sampai konsentrasi besi menjadi normal
dan diulangi sesuai kebutuhan.
Pada penyakit hati non alkoholik penurunan berat badan akan mencegah
terjadinya sirosis. Pada hepatitis B, interferon alfa dan lamivudin merupakan
terapi utama.
Penanganan Sirosis Dekompensata :
Asites : tirah baring dan diawali diet rendah garam, konsumsi garam sebanyak > 2
mg / hari. Diet rendah garam dikombinasikan dengan obat obatan diuretic
awalnya dengan pemberian spironolakton dengan dosis 100 200 mg / hari, dan
dikombinasikan dengan furosemid 40 80 mg / hari pada pasien dengan edema
perifer (Bacon, 2008). Atau bilamana pemberian spironolakton tidak adekuat bisa
ditambahkan dengan furosemid. Pemberian furosemid bisa ditambah dosisnya bila
23

tidak ada respon, maksimal dosisnya 160 mg/ hari. Paracentesis dilakukan bila
asites sangat besar ( Nurdjanah, 2007).
Ensefalopati hepatic : laktulosa membantu pasien untuk mengeluarkan
amonia. Neomisin bisa digunakan untuk mengurangi bakteri usus penghasil
amonia. Diet protein dikurangi sampai 0,5 gr/ kgBB/ hari, terutama diberikan
yang kaya asam amino rantai cabang.
Varises Esofagus : sebelum bedarah dan sesudah berdarah bisa diberikan
obat penyekat beta (propanolol). Waktu perdarahan akut bisa diberikan preparat
somatostatin atau okteotrid, diteruskan dengan tindakan skleroterapi atau ligasi
endoskopi.
Peritonitis Bakterial Spontan : diberikan antibiotika seperti cefotaksim iv,
amoksisilin atau aminoglikosida.
Sindrom hepato renal : mengatasi perubahan sirkulasi darah dihati,
mengatur keseimbangan garam dan air.
Transplantasi hati merupakan terapi definitive pada pasien sirosis hati
dekompensata. Namun sebelum dilakukan transplantasi ada beberapa criteria yang
harus dipenuhi resipien dahulu.
( Nurdjanah, 2007)
2.1.9 Prognosis
Prognosis sirosis sangat bervariasi dipengaruhi sejumlah factor, meliputi
etiologi, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit lain yang menyertai.
Penderita sirosis hepatis kompensata akan menjadi dekompensata dengan angka
sekitar 10% per tahun. Penderita dekompensata mempunyai angka ketahanan
24

hidup 5 tahun, hanya sekitar 20%. Asites adalah tanda awal adanya
dekompensata.
Penderita sirosis hepatis dengan peritonitis bacterial spontan mempunyai angka
ketahanan hidup satu tahun sekitar 30-45%, dan yang mengalami ensefalopati
hepatic angka ketahanan hidup satu tahun sekitar 40% ( Nurdjanah, 2007)
Untuk menilai prognosis dapat juga menggunakan klasifikasi Child Pugh
Tabel 4 Klasifikasi Child Pugh ( Nurdjanah, 2007)










25

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sirosis hati adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium
akhir fibrosis hepatic yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi
dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regenerative.
Sirosis hepatis dapat disebabkan oleh Virus hepatitis (B,C,dan D),
konsumsi Alkohol, Kelainan metabolic, Kolestasis, Sumbatan saluran vena
hepatica, Gangguan imunitas (Hepatitis Lupoid), Toksin dan obat-obatan, dll.
Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis yang cermat, pemeriksaan lab
biokimia atau serologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Etiologi mempengaruhi penanganan. Terapi ditujukan untuk mengurangi
progresi penyakit, menghindarkan bahan bahan yang bisa menambah kerusakan
hati, pencegahan dan penanganan komplikasi.
Prognosis sirosis sangat bervariasi dipengaruhi sejumlah factor, meliputi
etiologi, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit lain yang menyertai.
3.2 Saran
Bila ditemukan gejala sirosis hepatis segera periksakan ke dokter agar
penyakit tidak bertambah parah dan mengganggu aktifitas. Sebaiknya pengobatan
sirosis perlu adanya perhatian khusus dan kontrol rutin untuk mengawasi dan
mencegah timbulnya komplikasi.




25
26

DAFTAR PUSTAKA
Askandar, dkk. Sirosis Hati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Unair. Surabaya
: 2007.
Bacon, Bruce R, 2008. Harrisons Principles of Internal medicine :Cirrhosis
and its Complication. Mc Graw Hill : USA. Page : 1971- 1980

Fauci, Kasper, Dkk. 2008. Harrisons. Manual Of Medicine. Jakarta.

Nurdjanah S. Sirosis hati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. 2007. Balai
Penerbit FK UI Jakarta.

Stefan, et al. Fibrosis dan Sirosis Hati. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi.
EGC. Jakarta : 2007.

http://www.merckmanuals.com/professional/