Anda di halaman 1dari 17

I.

TUJUAN
1. Dapat memahami tingkat terang dan redupnya lampu dan hubungannya dengan
daya yang diterima.
2. Dapat memahami dan menerapkan Hukum Kirchoff.

II. DASAR TEORI
2.1 Rangkaian Listrik
2.1.1 Rangkaian Listrik Seri
Rangkaian seri terdiri dari dua atau lebih beban listrik yang
dihubungkan ke catu daya lewat satu rangkaian. Dua buah elemen berada
dalam susunan seri jika mereka hanya memiliki sebuah titik utama yang
tidak terhubung menuju elemen pembawa arus pada suatu jaringan.
Karena semua elemen disusun seri, maka jaringan tersebut disebut
rangkaian seri. Dalam rangkaian seri, arus yang lewat sama besar pada
masing-masing elemen yang tersusun seri.
Sifat-sifat rangkaian seri:
a. Arus yang mengalir pada masing beban adalah sama.
b. Tegangan sumber akan dibagi dengan jumlah hambatan seri jika besar
hambatan sama. Jumlah penurunan tegangan dalam rangkaian seri
dari masing-masing hambatan seri adalah sama dengan tegangan total
sumber tegangan.
c. Banyak beban listrik yang dihubungkan dalam rangkaian seri,
hambatan total rangkaian menyebabkan naiknya penurunan arus yang
mengalir dalam rangkaian. Arus yang mengalir tergantung pada
jumlah besar hambatan beban dalam rangkaian.
d. Jika salah satu beban atau bagian dari rangkaian tidak terhubung atau
putus, aliran arus terhenti.

Gambar 1. Contoh rangkaian listrik seri

2.1.2 Rangkaian Listrik Parallel
Rangkaian parallel merupakan rangkaian yang memiliki lebih dari
satu bagian garis edar untuk mengalirkan arus. Masing-masing rangkaian
dapat dihubung-putuskan tanpa mempengaruhi rangkaian yang lain.
Sifat-sifat rangkaian parallel:
a. Tegangan pada masing-masing beban listrik sama dengan tegangan
sumber.
b. Masing-masing cabang dalam rangkaian parallel adalah rangkaian
individu.
c. Sebagian besar hambatan dirangkai dalam rangkaian parallel sehingga
hambatan total rangkaian mengecil. Oleh karena itu arus total lebih
besar.
d. Jika terjadi salah satu cabang hambatan parallel terputus, arus akan
terputus hanya pada rangkaian hambatan tersebut. Rangkaian cabang
yang lain tetap bekerja tanpa terganggu oleh rangkaian cabang yang
terputus tersebut.

Gambar 2. Contoh rangkaian listrik parallel

2.2 Komponen Listrik
2.2.1 Arus Listrik
Arus listrik adalah aliran partikel-partikel bermuatan listrik yang
melalui konduktor. Makin banyak muatan positif yang mengalir melalui
suatu penampang kawat dalam selang waktu t, makin besar arus listriknya.
Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere.

Untuk arus yang konstan, besar arus I dalam ampere dapat diperoleh
dengan persamaan:



2.2.2 Tegangan Listrik
Tegangan listrik (kadang disebut sebagai Voltage) adalah perbedaan
potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik yang dinyatakan
dalam satuan volt. Tegangan dapat dirumuskan sebagai berikut:


2.2.3 Hambatan Listrik
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari
suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang
melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm dapat
dirumuskan sebagai berikut:


2.2.4 Daya Listrik
Daya listrik adalah kerja yang dilakukan oleh gaya sebesar satu
Newton sejauh satu meter. Jadi energi adalah suatu kerja dimana kita
memindahkan sesuatu dengan mengeluarkan gaya sebesar satu Newton
dengan jarak tempuh atau benda tersebut berpindah dengan selisih jarak
satu meter. Pada alam akan berlaku hukum Kekekalan Energi dimana
energi sebetulnya tidak dapat dihasilkan dan tidak dapat dihilangkan,
energi hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Secara
sistematis daya listrik dituliskan sebagai berikut:


Dimana P adalah daya listrik dalam satuan watt, I adalah arus listrik
yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan ampere dan R adalah
nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar
dalam satuan ohm.


2.3 Hukum Kirchoff
2.3.1 Hukum I Kirchoff
Hukum pertama Kirchoff (hukum titik cabang) berdasarkan atas
kekekalan muatan. Hukum ini menyatakan Pada setiap titik cabang,
jumlah semua arus yang memasuki cabang harus sama dengan semua
arus yang meninggalkan cabang tersebut.
Bukti hukum arus Kirchoff tersebut sudah jelas karena dalam hal ini
tidak ada muatan yang tertimbun dalam simpul dan tidak ada arus yang
mengalir ke luar simpul menuju ke ruang bebas. Jadi paling sedikit harus
ada satu jalur yang membawa muatan keluar simpul itu. Sehingga pada
gambar jika satu atau lebih arus itu harus bernilai negatif dan jika ternyata
arus yang sebenarnya mengalir berlawanan arah dengan tanda panah maka
dikatakan bahwa arus itu arus negatif. Dalam penggunaan Hukum
Kirchoff tampak bahwa arus di suatu simpul adalah nol jika diandaikan
arah positif adalah arah arus yang menuju simpul dan negatif untuk arus
yang meninggalkan simpul tersebut.
Pembatasan berlakunya hukum Kirchoff ini adalah tidak boleh ada
muatan yang tertimbun dalam simpul. Pengecualian penting untuk hukum
ini terjadi jika simpul terletak di tengah-tengah kapasitor, karena muatan
yang tersimpan dalam kapasitor tersebut akan membatalkan hukum ini.

2.3.2 Hukum II Kirchoff
Hukum kedua Kirchoff ini disebut juga Hukum Loop (hukum
tegangan) yang didasarkan atas kekekalan energi. Hukum ini menyatakan
bahwa Jumlah perubahan potensial mengelilingi lintasan tertutup pada
suatu rangkaian harus nol. Setiap tegangan, termasuk tegangan imbas
oleh arus yang berubah di luar rangkaian harus disertakan.

III. ALAT DAN BAHAN
1. Catu daya
2. Beberapa lampu pijar
3. 1 buah multimeter
4. 4 buah amperemeter
5. 2 buah skalar
6. Kabel penghubung

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

Gambar 4.1 Rangkaian peralatan
Rangkailah peralatan separti gambar diatas! Atur sumber tegangan < 4 volt!
1. Bila saklar S
1
ditutup dan S
2
terbuka, amati lampu A dan B. lampu mana yang lebih
terang?
2. Bila saklar
S1
terbuka dan
S2
tertutp, amati lampu C dan D. Lampu mana yang lebih
terang?
3. Bila saklar S
1
dan S
2
tertutup, amati lampu A, B, C, dan D. Apa yang anda amati?
4. Pada saat saklar S
1
dan S
2
tertutup, ukurlah arus
I
o
= A sehingga I
2
= .A
I
3
= A I
1
= ..A
5. Pada saat saklar S
1
dan S
2
tertutup ukurlah tegangan jepit anatara a dan b,c dan d, e
dan f : Vab =V ; Vcd =V ; Vef = V.

V. DATA PENGAMATAN
5.1 Pengukuran Arus (A)
Pengukuran
Arus (A)
Sumber Arus (I
0
) Lampu A (I
A
) Lampu B (I
B
) Lampu C (I
C
)
1 0,65 0,23 0,24 0,20
2 0,65 0,23 0,23 0,21
3 0,64 0,22 0,23 0,21
4 0,64 0,24 0,24 0,22
5 0,63 0,23 0,25 0,21

5.2 Pengukuran Tegangan (V)
Pengukuran
Tegangan (V)
Lampu A & B (V
AB
) Lampu C (V
C
)
1 2,2 1,01
2 2,2 1,01
3 2,1 1,02
4 2,3 1,00
5 2,2 1,00

5.3 Pengamatan Nyala Lampu
Saklar 1 (S
1)
Saklar 2 (S
2
) Lampu Hasil
Ditutup Dibuka A & B
Lampu A lebih terang
dari lampu B.
Dibuka Ditutup C Nyala
Ditutup Ditutup A, B, C
Lampu A lebih
terang dari lampu B
dan C

VI. ANALISIS DATA
6.1 Perhitungan untuk Daya (watt)
1. Daya pada lampu A
Diketahui : I
A
= 0,23 A
V
AB
= 2,2 V
Ditanya : P?
Jawab :


()




Dengan cara yang sama diperoleh:
Pengukuran
Arus pada lampu
A (I
A
) Ampere
Tegangan pada
lambu A & B
(V
AB)
Volt
Daya pada lampu
A (P
A
) watt
1 0,23 2,2 0,51
2 0,23 2,2 0,51
3 0,22 2,1 0,46
4 0,24 2,3 0,55
5 0,23 2,2 0,51

2. Daya pada lampu B
Diketahui : I
B
= 0,24 A
V
AB
= 2,2 V
Ditanya : P?
Jawab :


()



Dengan cara yang sama diperoleh:
Pengukuran
Arus pada lampu
B (I
B
) Ampere
Tegangan pada
lambu A & B
(V
AB
) Volt
Daya pada lampu
B (P
B
) watt
1 0,24 2,2 0,53
2 0,23 2,2 0,51
3 0,23 2,1 0,48
4 0,24 2,3 0,55
5 0,25 2,2 0,55

3. Daya pada lampu C
Diketahui : I
C
= 0,20 A
V
C
= 1,01 V
Ditanya : P?
Jawab :


()



Dengan cara yang sama diperoleh:
Pengukuran
Arus pada lampu
C (I
C
) Ampere
Tegangan pada
lambu C (V
C
)
Volt
Daya pada lampu
A (P
C
) watt
1 0,20 1,01 0,20
2 0,21 1,01 0,21
3 0,21 1,02 0,21
4 0,22 1,00 0,22
5 0,21 1,00 0,21

6.2 Ralat
1. Ralat untuk sumber arus (I
0
)
No.

()

()

() (

)


1 0,65 0,642 0,008 6,4.10
-5
2 0,65 0,642 0,008 6,4.10
-5
3 0,64 0,642 0,002 4.10
-6
4 0,64 0,642 0,002 4.10
-6
5 0,63 0,642 0,012 1,4.10
-4
= 2,76.10
-4

)

( )

) (





2. Ralat untuk arus pada lampu A (I
A
)
No.

()

()

() (

)


1 0,23 0,23 0 0

2 0,23 0,23 0 0

3 0,22 0,23 -0,01 0,0001

4 0,24 0,23 0,01 0,0001

5 0,23 0,23 0 0

= 2.10
-4

)

( )

) (




3. Ralat untuk arus pada lampu B (I
B
)
No.

()

()

() (

)


1 0,24 0,238 0,002 4.10
-6
2 0,23 0,238 -0,008 6,4.10
-5
3 0,23 0,238 -0,008 6,4.10
-5
4 0,24 0,238 0,002 4.10
-6
5 0,25 0,238 0,012 1,4.10
-4
= 2,76.10
-4

)

( )

) (





4. Ralat untuk arus pada lampu C (I
C
)
No.

()

()

() (

)


1 0,20 0,21 -0,01 10
-4
2 0,21 0,21 0 0

3 0,21 0,21 0 0

4 0,22 0,21 0,01 10
-4
5 0,21 0,21 0 0

= 2.10
-4

)

( )

) (




5. Ralat untuk tegangan pada lampu A dan B (V
AB
)
No.

()

()

() (

)


1 2,2 2,2 0 0

2 2,2 2,2 0 0

3 2,1 2,2 -0,1 0,01

4 2,3 2,2 0,1 0,01
5 2,2 2,2 0 0

= 0,02

)

( )

) (





6. Ralat untuk tegangan pada lampu C (V
C
)
No.

()

()

() (

)


1 1,01 1,008 0,002 4.10
-6
2 1,01 1,008 0,002 4.10
-6
3 1,02 1,008 0,012 1,44.10
-4
4 1,00 1,008 -0,008 6,4.10
-5
5 1,00 1,008 -0,008 6,4.10
-5
= 2,8.10
-4

)

( )

) (




7. Ralat untuk daya pada lampu A (P
A
)
No.

()

()

() (

)


1 0,51 0,51 0 0

2 0,51 0,51 0 0

3 0,46 0,51 -0,05 2,5.10
-3
4 0,55 0,51 0,04 1,6.10
-3
5 0,51 0,51 0 0

= 4,1.10
-3

)

( )

) ( )





8. Ralat untuk daya pada lampu B (P
B
)
No.

()

()

() (

)


1 0,53 0,52 0,01 10
-4

2 0,51 0,52 -0,01 10
-4

3 0,48 0,52 -0,04 16.10
-4

4 0,55 0,52 0,03 9.10
-4

5 0,55 0,52 0,03 9.10
-4

= 3,6.10
-3

)

( )

) ( )




9. Ralat untuk daya pada lampu C (P
C
)
No.

()

()

() (

)


1 0,20 0,21 -0,01 10
-4

2 0,21 0,21 0 0
3 0,21 0,21 0 0
4 0,22 0,21 0,01 10
-4

5 0,21 0,21 0 0
= 2.10
-4

)

( )

) (





VII. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini mengenai Rangkaian Beberapa Lampu dan Dayanya.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami tingkat terang dan redupnya lampu
dan hubungannya dengan daya yang diterima serta untuk memahami dan menerapkan
hukum Kirchoff. Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain catu
daya, beberapa lampu pijar, satu buah multimeter, empat buah amperemeter, dua buah
saklar dan kabel penghubung.
Langkah pertama yang dilakukan adalah merangkai rangkaian seperti pada
gambar. Kemudian menguji nyala lampu apabila saklar S
1
ditutup dan S
2
dibuka, S
1

dibuka dan S
2
ditutup serta apabila S
1
dan S
2
ditutup. Namun dalam pelaksanaannya
tidak dilakukan uji nyala karena pada saat praktikum alat yang digunakan tidak
sedang dalam kondisi yang baik. Oleh karena itu, praktikan menggunakan uji nyala
menurut literatur yang ada. Jika S
1
ditutup dan S
2
dibuka, maka lampu A menyala
lebih terang dari lampu B. Jika S
1
dibuka dan S
2
ditutup, maka lampu C menyala. Jika
S
1
dan S
2
ditutup, maka lampu A lebih terang dari lampu B dan C.
Langkah selanjutnya adalah menyambungkan pada sumber arus yang
bermuatan positif. Kabel yang telah disambungkan pada sumber arus bermuatan
positif disambungkan pada amperemeter muatan positif. Kabel disambungkan pada
amperemeter muatan negatif lalu disambungkan pada saklar. Dari saklar kabel
disambungkan lalu kabel yang sisi satunya disambungkan pada amperemeter muatan
negatif. Kabel disambungkan dari amperemeter muatan positif ke lampu C. Dari
lampu C, kabel disambungkan lalu dibuat 2 cabang dimana cabang 1 disambungkan
pada sumber arus negatif dan cabang 2 disambungkan ke rangkaian parallel. Kabel
yang menuju rangkaian parallel dibuat 2 cabang dimana cabang 1 disambungkan pada
amperemeter A muatan positif dan cabang 2 disambungkan pada amperemeter B
muatan positif. Pada cabang 1, kabel disambungkan pada amperemeter A muatan
negatif lalu disambungkan pada lampu A dan disambungkan lagi pada saklar seperti
pada gambar 4.1. Pada cabang 2, kabel disambungkan pada amperemeter B muatan
negatif lalu disambungkan pada lampu B dan disambungkan lagi pada saklar seperti
pada gambar 4.1.
Pada percobaan ini juga diukur kuat arus dan tegangan pada lampu A, B dan
C. Dari data tersebut dari dilakukan perhitungan untuk mencari daya listrik pada
lampu A, B dan C. Pengukuran dilakukan sebanyak lima kali untuk kuat arus dan
tegangan. Kuat arus yang mengalir pada lampu A sebesar 0,23 A, 0,23 A, 0,22 A,
0,24 A dan 0,23 A. Kuat arus yang mengalir pada lampu B sebesar 0,24 A, 0,23 A,
0,23 A, 0,24 A dan 0,25 A. Kuat arus yang mengalir pada lampu C sebesar 0,20 A,
0,21 A, 0,21 A, 0,22 A, 0,21 A. Tegangan pada lampu A dan B sebesar 2,2 V, 2,2 V,
2,1 V, 2,3 V dan 2,2 V. Tegangan pada lampu C sebesar 1,01 V, 1,01 V, 1,02 V, 1,00
V dan 1,00 V. Dari data kuat arus dan tegangan dapat dihitung daya lsitrik pada
masing-masing lampu dengan menggunakan rumus daya listrik. Daya listrik pada
lampu A sebesar 0,51 watt, 0,51 watt, 0,46 watt, 0,55 watt dan 0,51 watt. Daya listrik
pada lampu B sebesar 0,53 watt, 0,51 watt, 0,48 watt, 0,55 watt dan 0,55 watt. Daya
listrik pada lampu C sebesar 0,20 watt, 0,21 watt, 0,21 watt, 0,22 watt san 0,21 watt.
Arus pada lampu A (I
1
) adalah 0,23 A, sedangkan arus pada lampu B (I
2
)
adalah

0,238 A dan arus pada lampu C (I
3
)

adalah 0,21 A. Jadi, apabila hasil ini
disesuaikan dengan hukum I Kirchoff maka seharusnya nilai arus yang ada pada I
o

merupakan penjumlahan dari ketiga percabangan arus yaitu I
1
, I
2,
dan I
3
yaitu bernilai
0,678 A. Namun pada pengukuran yang telah dilakukan untuk I
o
didapatkan arus
sebesar 0,64 A.
Pengambilan data pada percobaan ini dilakukan berulang-ulang agar hasil
yang diperoleh lebih teliti dan lebih mendekati nilai kebenaran. Untuk memperbaiki
hasil-hasil pengambilan data maupun perhitungan maka data-data tersebut perlu
diralat dengan metode ralat nisbi. Ralat yang dibuat pada percobaan ini adalah ralat
untuk sumber arus, ralat untuk kuat arus yang mengalir pada lampu A, B dan C, ralat
untuk tegangan pada lampu A, B dan C serta daya listrik pada lampu A, B dan C.
Kebenaran praktikum untuk sumber arus sebesar 99,42%, kebenaran praktikum untuk
kuat arus pada lampu A sebesar 98,6%, kebenaran praktikum untuk kuat arus pada
lampu B sebesar 98,5%, kebenaran praktikum untuk kuat arus pada lampu C sebesar
98,5%, kebenaran praktikum untuk tegangan pada lampu A dan B sebesar 98,6%,
kebenaran praktikum untuk tegangan pada lampu C sebesar 99,63%, kebenaran
praktikum untuk daya listrik pada lampu A sebesar 97,3%, kebenaran praktikum
untuk daya listrik pada lampu B sebesar 97,5% dan kebenaran praktikum untuk daya
listrik pada lampu C sebesar 97,5%.
Kesulitan yang dihadapi dalam percobaan ini antara lain dalam keterbatasan
alat kerja diantaranya voltmeter dan amperemeter tidak berfungsi dengan baik,
kerusakan pada lampu dan kabel, kurang tepatnya dalam merangkai seri dan parallel
serta ketidaktelitian praktikan dalam mengamati angka pada voltameter dan
amperemeter.

VIII. KESIMPULAN
1. Terang redupnya lampu ditentukan oleh daya listri yang diterima, arus yang
masuk, tegangan yang ada dan bentuk rangkaian.
2. Lampu yang dirangkai secara parallel memiliki nyala yang lebih terang daripada
lampu yang dirangkai secara seri.
3. Nilai I
o
dengan jumlah nilai total dari I
1
, I
2
dan I
3
tidak sama. Hal ini berarti
percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan Hukum I Kirchoff.
4. Daya untuk masing-masing lampu A, B, dan C adalah berbeda yaitu P
B
> P
A
> P
C
.
5. Lampu A dan lampu B mengalir arus yang lebih tinggi dari arus yang mengalir
pada lampu C.

DAFTAR PUSTAKA

Giancoly, Douglas. 2001. Fisika untuk Teknik dan Sains. Jakarta: Erlangga.
Petruzella, Frank D. 2001. Elektronik Industri. Andi Yogyakarta: Yogyakarta.
Pratiwi, Susita. 2011. Rangkaian Beberapa Lampu dan Dayanya. Terdapat di
http://www.scribd.com/doc/88107847/Laporan-Praktikum-Rangkaian-Beberapa-Lampu-
Dan-Dayanya. Diakses pada tanggal 5 Mei 2012.
Paramartha, Ida Bagus Alit. 2010. Penuntun Fisika Dasar II . Jimbaran: Jurusan Fisika
Universitas Udayana.
Staff Fakultas Teknik. 2003. Dasar Rangkaian Listrik. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II
RANGKAIAN BEBERAPA LAMPU DAN DAYANYA













Nama : Niluh Linda Ayu Oktaviani
NIM : 1108105002
Kelompok : I
Hari/Tanggal Praktikum : Rabu, 2 Mei 2012
Dosen : Ida Bagus Alit Paramarta, S.Si., M.Si
Asisten Dosen : Ni Luh Widyasari (0908205001)
Ni Nyoman Putri Windari (0908205002)
Desi Delimasari (0908205018)




JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2012