Anda di halaman 1dari 121

UJI TOKSISITAS AKUT TEPUNG KULIT LIDAH BUAYA (Aloe chinensis

Baker) DITINJAU DARI KADAR KREATININ DAN UREA PLASMA SERTA


HISTOLOGI GINJAL PADA MENCIT PUTIH




SUSSI KURNIASIH
0304050686






UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
2008
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




UJI TOKSISITAS AKUT TEPUNG KULIT LIDAH BUAYA (Aloe chinensis
Baker) DITINJAU DARI KADAR KREATININ DAN UREA PLASMA SERTA
HISTOLOGI GINJAL PADA MENCIT PUTIH


Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi

Oleh:
SUSSI KURNIASIH
0304050686






DEPOK
2008
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Allah tidak menjanjikan hari-hari tanpa duka,
kegembiraan tanpa penderitaan,
matahari tanpa hujan dan
ilmu tanpa amal,
tapi Ia sungguh menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-
harimu,
penghiburan bagi air matamu dan
terang bagi jalanmu,
serta sabar untuk kekuatanmu







Teruntuk orang-orang yang berjuang di Jalan-Nya tanpa mengenal menyerah,
menghargai sesama dan tidak melupakan betapa berharganya waktu. Especially for
my mother and my father.terima kasih atas segala kasih sayang dan pengorbanan
yang telah kalian berikan
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
hidayah serta kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi berjudul Uji Toksisitas Akut Tepung Kulit Lidah Buaya (Aloe chinensis
Baker) Ditinjau dari Kadar Kreatinin dan Urea Plasma serta Histologi Ginjal
Pada Mencit Putih yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Farmasi. Salam serta salawat penulis sampaikan
kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi inspirasi untuk mendedikasikan
diri dalam kebaikan.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada:
1. Ibu Dr. Amarila Malik, MS selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan, bantuan dana, dan masukan yang membangun kepada
penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi.
2. Ibu Dra. Sjafrida Siregar selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan dan masukan yang membangun kepada penulis selama
penelitian dan penyusunan skripsi.
3. Bapak Dr. Maksum Radji, M.Biomed selaku Ketua Departemen Farmasi
FMIPA UI
4. Ibu Prof. Dr. Effionora Anwar, MS selaku pembimbing akademik yang
telah membimbing penulis selama perkuliahan.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




5. Ibu Dra. Azizahwati, MS, Bapak Dr. Abdul Munim, MS, dan Bapak
Sutriyo, M.Si selaku penguji Seminar dan Sidang skripsi yang telah
memberikan masukan yang membangun kepada penulis.
6. Bapak Dr. Dadang Rusmana dan Ibu Erlin Nurtiyani dari Departemen
Biologi FMIPA UI yang telah bersedia berdiskusi dengan penulis seputar
histologi ginjal dan tanaman lidah buaya.
7. Mama, Bapak, seluruh keluarga besar dan Mas Ibrahim yang selalu
memberikan doa, semangat, dan dukungan moral maupun material yang
sangat berarti bagi penulis.
8. Seluruh dosen, laboran dan karyawan Departemen Farmasi FMIPA UI
yang telah membantu kelancaran dalam penelitian.
9. Rekan-rekan penelitian di Laboratorium Farmakologi. Terima kasih atas
kebersamaannya selama ini.
10. Sahabat-sahabat Farmasi angkatan 2004 dan semua pihak yang telah
memberikan bantuan dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak
kekurangannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun sebagai proses penyempurnaan skripsi ini. Semoga
skripsi ini memberikan manfaat khususnya dalam dunia ilmu
pengetahuan.

Penulis
2008
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




ABSTRAK


Tepung kulit lidah buaya dapat digunakan sebagai antihiperglikemik,
antiinflamasi, antibakteri, dan immunomodulator. Untuk memproduksi tepung
kulit lidah buaya sebagai food supplement dibutuhkan uji keamanan. Uji
keamanan yang dilakukan yaitu uji toksisitas akut. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui efek toksik dari tepung kulit lidah buaya terhadap
fungsi ginjal hewan uji. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
dengan hewan uji mencit galur ddY dengan berat badan 20-30 gram. Hewan
uji dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri
dari 10 ekor mencit jantan dan 10 ekor mencit betina. Kelompok perlakuan
tersebut adalah kelompok dosis yang diberikan sediaan uji dengan dosis
berturut-turut 650 mg/kg bb, 1300 mg/kg bb, 2600 mg/kg bb, dan 5200 mg/kg
bb, serta kelompok kontrol yang hanya diberikan akuades. Perubahan fungsi
ginjal diperiksa pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan dengan mengukur
kadar kreatinin plasma dan urea plasma. Pemeriksaan histologis ginjal
dilakukan pada 14 hari setelah perlakuan, dengan mengukur diameter
glomerulus dan jarak ruang antara glomerulus dan kapsula Bowman. Pada
dosis tertinggi yang diberikan (5200 mg/g bb) tidak menimbulkan kematian
pada hewan uji. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji
statistik parametrik ANAVA satu arah. Hasil uji ANAVA satu arah pada =
0,05 terhadap kadar kreatinin plasma, urea plasma, diameter glomerulus
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




serta jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman tidak
menunjukkan perbedaan bermakna baik antar kelompok dosis maupun
dengan kelompok kontrol. Penggunaan tepung kulit lidah buaya tidak
menimbulkan efek toksik terhadap fungsi ginjal pada mencit putih.


Kata kunci: fungsi ginjal ; kreatinin ; tepung kulit lidah buaya ; uji toksisitas
akut ; urea
xv + 99 hlm ; gbr ; tab ; lamp
Bibliografi: 43 (1968 2008)













Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




ABSTRACT


Aloe chinensis Baker leaf husk powder has been know for its used as
antihyperglikemic, antiinflammatory, antibacterial, and immunomodulator. In
order to produce this powder as food supplement, a safety test is required,
i.e. acute toxicity test. The aim of this research is to obtain toxic effect of the
usage of this Aloe powder on renal function of tested animals. This research
was conducted by employing a complete random design in mice ddY, weight
20 30 g. Tested animals were divided into five groups of treatment, each
group consists of ten male mice and ten female mice. The treatment
performed in this research is as follow, Aloe powder given in the dose of 650
mg/kg bw; 1300 mg/kg bw; 2600 mg/kg bw; 5200 mg/kg bw, and the control
group which only given by aquadest. The effect on renal function was
observed on 24 hours as well as on 14 days after treatment by measuring the
rate of plasmas creatinine concentration and plasmas urea concentration.
The effect on renal function histologically was observed 14 days after
treatment by measuring the diameter of glomerulus as well as the distance
between glomerulus and Bowmans capsules. At the highest dose given
(5200 mg/kg bw), no tested animals died. The results of each group were
compared and analyzed using one way ANOVA parametric method. One way
ANAVA of plasmas creatinine concentration, plasmas urea concentration,
diameter of glomerulus, and distance between glomerulus and Bowmans
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




capsules, in = 0,05 showed that were no significant difference between
doses group and control group. Usage of Aloe chinensis Baker leaf husk
powder doesnt effect the renals function of white mice.


Keywords : acute toxicity test ; Aloe chinensis Baker leaf husk powder ;
creatinine ; renal function ; urea
xv + 99 pgs ; images ; tables ; appendixs
Bibliography: 43 (1968 2008)














Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ..................................................................................
ABSTRAK ..................................................................................................
ABSTRACT ................................................................................................
DAFTAR ISI ...............................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
DAFTAR TABEL ........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................
A. Latar Belakang ...........................................................................
B. Tujuan Penelitian .......................................................................
C. Hipotesis Penelitian ...................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................
A. Uji Toksisitas Akut ......................................................................
B. Tepung Kulit Lidah Buaya ..........................................................
C. Ginjal ..........................................................................................
D. Kreatinin .....................................................................................
E. Urea ...........................................................................................
F. Mencit ........................................................................................
i
iii
v
vii
x
xiii
xv
1
1
4
4
5
5
7
12
17
18
20
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB III. BAHAN DAN CARA KERJA .........................................................
A. Lokasi .........................................................................................
B. Alat .............................................................................................
C. Bahan .........................................................................................
1. Hewan uji ..............................................................................
2. Bahan uji ...............................................................................
3. Bahan-bahan kimia ...............................................................
D. Cara Kerja ..................................................................................
1. Rancangan penelitian ...........................................................
2. Persiapan hewan uji .............................................................
3. Penetapan dosis ...................................................................
4. Pembuatan sediaan uji .........................................................
5. Pembuatan larutan dan pereaksi ..........................................
6. Pelaksanaan percobaan .......................................................
7. Pengukuran kadar kreatinin plasma .....................................
8. Pengukuran kadar urea plasma ...........................................
9. Pembuatan sediaan histologis organ ...................................
10. Pengolahan data ..................................................................
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................
A. Hasil Penelitian ..........................................................................
1. Uji toksisitas akut ..................................................................
2. Penetapan kadar kreatinin plasma .......................................
23
23
23
24
24
24
24
25
25
25
26
27
27
30
33
34
35
39
40
40
40
40
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




3. Penetapan kadar urea plasma .............................................
4. Pemeriksaan histologis ginjal ..............................................
a. Diameter glomerulus .......................................................
b. Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula
Bowman ..........................................................................
B. Pembahasan ..............................................................................
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .........................................................
A. Kesimpulan ................................................................................
B. Saran .........................................................................................
DAFTAR ACUAN .......................................................................................

41
43
43

44
45
56
56
56
57












Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




DAFTAR GAMBAR


Gambar Halaman
1. Tanaman lidah buaya (Aloe chinensis Baker) .......................................
2. Tepung kulit lidah buaya .........................................................................
3. Sediaan uji tepung kulit lidah buaya .......................................................
4. Keratan membujur ginjal .........................................................................
5. Diagram nefron .......................................................................................
6. Reaksi kimia pada pengukuran urea plasma ..........................................
7. Reaksi kimia pada pengukuran kreatinin plasma ...................................
8. Pengambilan darah dari ekor mencit ......................................................
9. Pengambilan darah dari mata .................................................................
10. Diagram batang nilai rata-rata kadar kreatinin plasma mencit jantan
pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan ............................................
11. Diagram batang nilai rata-rata kadar kreatinin plasma mencit betina
pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.............................................
12. Kurva kalibrasi kadar urea plasma .........................................................
13. Diagram batang nilai rata-rata kadar urea plasma mencit jantan pada
24 jam dan 14 hari setelah perlakuan .....................................................
14. Diagram batang nilai rata-rata kadar urea plasma mencit betina pada
24 jam dan 14 hari setelah perlakuan .....................................................
62
62
63
63
64
65
65
66
66

67

67
68

68

69
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




15. Diagram batang nilai rata-rata diameter glomerulus mencit jantan dan
betina pada 14 hari setelah perlakuan ....................................................
16. Diagram batang nilai rata-rata jarak ruang antara glomerulus dan
kapsula Bowman mencit jantan dan betina pada 14 hari setelah
perlakuan ................................................................................................
17. Histologi glomerulus ginjal mencit jantan kelompok kontrol pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
18. Histologi glomerulus ginjal mencit jantan kelompok dosis I pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
19. Histologi glomerulus ginjal mencit jantan kelompok dosis II pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
20. Histologi glomerulus ginjal mencit jantan kelompok dosis III pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
21. Histologi glomerulus ginjal mencit jantan kelompok dosis IV pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
22. Histologi glomerulus ginjal mencit betina kelompok kontrol pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
23. Histologi glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis I pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
24. Histologi glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis II pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................
25. Histologi glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis III pada 14

69


70

71

71

71

71

72

72

72

72

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




hari setelah perlakuan ...........................................................................
26. Histologi glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis IV pada 14
hari setelah perlakuan ...........................................................................


73

73



















Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




DAFTAR TABEL


Tabel Halaman
1. Tahap pengukuran kadar kreatinin plasma ........................................
2. Tahap pengukuran kadar urea plasma ...............................................
3. Perbandingan kandungan nutrisi tepung kulit dengan tepung daging
lidah buaya .........................................................................................
4. Tahapan perlakuan ............................................................................
5. Hasil uji toksisitas akut tepung kulit lidah buaya .................................
6. Kadar kreatinin plasma mencit jantan pada 24 jam dan 14 hari
setelah perlakuan ...............................................................................
7. Kadar kreatinin plasma mencit betina pada 24 jam dan 14 hari
setelah perlakuan ...............................................................................
8. Data kurva kalibrasi urea ....................................................................
9. Kadar urea plasma mencit jantan pada 24 jam dan 14 hari setelah
perlakuan ............................................................................................
10. Kadar urea plasma mencit betina pada 24 jam dan 14 hari setelah
perlakuan ............................................................................................
11. Diameter glomerulus mencit jantan 14 hari setelah perlakuan ...........
12. Diameter glomerulus mencit betina 14 hari setelah perlakuan ...........
13. Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman mencit
33
34

74
75
76

77

78
79

80

81
82
83

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




jantan pada 14 hari setelah perlakuan ................................................
14. Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman mencit
betina pada 14 hari setelah perlakuan ...............................................
15. Nilai Signifikansi kadar kreatinin dan urea plasma mencit jantan
pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan .......................................
16. Nilai Signifikansi kadar kreatinin dan urea plasma mencit jantan
pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan .......................................
17. Nilai Signifikansi diameter glomerulus dan jarak ruang antara
glomerulus dengan kapsula Bowman mencit jantan dan betina 14
hari setelah perlakuan ........................................................................


84

85

86

87


88













Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran Halaman
1. Skema pelaksanaan penelitian ............................................................
2. Cara penetapan dosis .........................................................................
3. Cara pembuatan sediaan uji ................................................................
4. Skema pengukuran kadar kreatinin plasma ........................................
5. Perhitungan kadar kreatinin plasma ....................................................
6. Skema pengukuran kadar urea plasma ...............................................
7. Cara memperoleh regresi linier dari persamaan garis y = a + bx .......
8. Perhitungan kadar urea plasma ..........................................................
9. Uji distribusi normal Saphiro-Wilk terhadap kadar kreatinin plasma
mencit jantan 24 jam setelah perlakuan .............................................
10. Uji homogenitas Levene terhadap kadar kreatinin plasma mencit
jantan 24 jam setelah perlakuan .........................................................
11. Uji ANAVA terhadap kadar kreatinin plasma mencit jantan 24 jam
setelah perlakuan ...............................................................................


89
90
91
92
93
94
95
96

97

98

99






Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB I
PENDAHULUAN




A. LATAR BELAKANG

Tanaman obat merupakan salah satu sumber daya alam yang
berpotensi untuk dikembangkan, terutama yang telah dibuktikan
efikasinya. Salah satu jenis tanaman obat yang berpotensi untuk
dikembangkan adalah lidah buaya (1). Lidah buaya (Aloe chinensis
Baker) merupakan tanaman yang telah lama dikenal masyarakat
Indonesia karena kegunaannya sebagai tanaman obat untuk berbagai
macam penyakit (2). Penggunaan tanaman lidah buaya dalam industri
secara garis besar dapat dibagi menjadi empat jenis industri, yaitu:
industri pangan (sebagai suplemen makanan), industri farmasi (sebagai
antiinflamasi, antioksidan, antihiperglikemik, laksan, dan
immunomodulator), industri kosmetik (sebagai bahan aktif lotion, krim,
sabun, dan shampoo), dan industri pertanian (sebagai pupuk) (3,4,5).
Tanaman lidah buaya dapat dijadikan komoditas unggulan
mengingat manfaat dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Tetapi hasil
olahan yang terbatas dan ekspor dalam bentuk pelepah segar hanya
memberikan sedikit nilai tambah. Untuk meningkatkan nilai tambah,
tanaman lidah buaya harus diolah dahulu menjadi bentuk gel (aloe gel)
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




atau tepung (aloe powder) yang dapat digunakan dalam industri farmasi
dan kosmetika (5). Gel lidah buaya memiliki beberapa kekurangan yaitu
peka terhadap cahaya, udara, dan mikroba (2,6). Hal ini dapat diatasi
dengan pengolahannya menjadi suatu bentuk produk yang stabil dan
tidak mudah rusak yaitu bentuk tepung. Pengolahan tepung dapat
dilakukan dengan menggunakan oven semi vakum dengan temperatur
45-50
o
C (2). Bentuk tepung dengan berat yang sama, nilai rupiahnya bisa
mencapai 1400 kali lipat lebih besar dibandingkan bentuk pelepah segar.
Hal ini menggambarkan bahwa dari segi bisnis, tepung lidah buaya
sangat berpotensi untuk dikembangkan (5).
Saat ini, Departemen Biologi FMIPA UI sedang melakukan
pengembangan produk berbasis tepung yang berasal dari kulit lidah
buaya. Kulit lidah buaya yang dahulunya tidak digunakan, sekarang mulai
dimanfaatkan sebagai food supplement. Hasil uji Laboratorium Analisis
dan Kalibrasi Balai Besar Industri Agro menunjukkan bahwa beberapa
nutrisi yang dimiliki tepung kulit lidah buaya seperti protein, lemak,
kalsium, natrium, magnesium dan zat besi, ternyata lebih besar jumlahnya
daripada yang dimiliki oleh tepung daging lidah buaya (Tabel 3) (2).
Tepung kulit lidah buaya (Aloe chinensis Baker) juga telah diteliti
khasiatnya sebagai antihiperglikemia. Hasil penelitian Novita (2005)
menunjukkan bahwa pemberian tepung kulit lidah buaya dosis 520 mg/kg
bb selama 14 hari pada mencit (Mus musculus L.) galur DDY yang
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




diinduksi aloksan memberikan efek penurunan kadar glukosa darah
40,92% (7).
Karena tepung kulit lidah buaya akan digunakan sebagai food
supplement, maka dilakukan penelitian terhadap toksisitas akutnya.
Melalui uji toksisitas akut dapat diketahui efek toksik yang akan terjadi
dalam waktu singkat pada hewan uji setelah pemberian satu kali tepung
kulit lidah buaya dengan dosis tertentu. Efek toksik yang terjadi diamati
melalui persentase kematian, pengamatan gejala klinis dan berat badan
serta perubahan patologi organ vital (8,9,10).
Organ vital yang diamati pada penelitian ini adalah ginjal. Ginjal
berfungsi mengekskresikan produk akhir nitrogen hasil metabolisme
protein, yakni urea dan kreatinin, serta zat kimia asing (11,12). Fungsi
glomerulus ginjal sebagai penyaring darah dari zat-zat yang toksik dan
tubulus ginjal sebagai tempat reabsorpsi zat-zat sisa metabolisme,
menyebabkan ginjal lebih mudah terkena toksin yang bersirkulasi
dibandingkan dengan jaringan-jaringan lainnya. Oleh karena itu, ginjal
merupakan organ sasaran utama zat toksik (11,13). Berdasarkan hal
tersebut maka perlu diamati perubahan-perubahan yang terjadi pada
fungsi ginjal. Pemeriksaan perubahan fungsi ginjal dapat dilakukan
dengan menganalisis kadar kreatinin dan urea plasma, serta gambaran
klinis dan morfologis pada histologi ginjal (9,11).


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




B. TUJUAN PENELITIAN


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas akut dari
tepung kulit lidah buaya (Aloe chinensis Baker) terhadap hewan uji mencit
putih ditinjau dari kadar kreatinin dan urea plasma, serta pemeriksaan
histologi ginjal yang meliputi diameter glomerulus serta jarak ruang antara
glomerulus dengan kapsula Bowman ginjal.



C. HIPOTESIS

1. Pemberian tepung kulit lidah buaya sampai dengan dosis 5200 mg/kg
bb tidak menyebabkan kematian terhadap hewan uji mencit putih.
2. Pemberian tepung kulit lidah buaya pada dosis tersebut tidak
memberikan efek toksik terhadap fungsi ginjal ditinjau dari kadar
kreatinin dan urea plasma, serta pemeriksaan histologi ginjal.







Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA





A. UJI TOKSISITAS AKUT

Setiap zat yang akan digunakan pada manusia, baik obat-obatan
kimia maupun herbal, harus melalui uji toksisitas agar dapat diketahui
batas-batas keamanan dan efek toksik yang mungkin timbul baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang. Uji toksisitas secara garis besar
dibagi menjadi dua jenis, yaitu uji toksisitas umum (akut, subkronis dan
kronis) dan uji toksisitas khusus (teratogenik, mutagenik dan
karsinogenik). Uji toksisitas umum adalah uji toksikologi yang dirancang
untuk mengevaluasi keseluruhan atau spektrum efek toksik suatu
senyawa pada berbagai jenis hewan uji (8,9). Termasuk di dalam uji
toksisitas umum adalah: (11,14)
1. Uji toksisitas akut
Uji ini dilakukan dengan memberikan zat kimia sebanyak satu
kali kepada hewan uji dalam jangka waktu 24 jam.
2. Uji toksisitas jangka pendek (sub kronis)
Uji ini dilakukan dengan memberikan zat kimia berulang-ulang,
biasanya setiap hari selama jangka waktu kurang lebih 10% dari masa
hidup hewan yaitu 3 bulan untuk tikus dan 1 atau 2 tahun untuk anjing.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




3. Uji toksisitas jangka panjang (kronis)
Percobaan jenis ini mencakup pemberian obat secara berulang
selama 3-6 bulan atau seumur hewan, misalnya 18 bulan untuk
mencit, 24 bulan untuk tikus dan 7-10 tahun untuk anjing.
Berbeda dengan uji toksisitas kronik yang mengutamakan menguji
keamanan obat, maksud utama uji toksisitas akut ialah mencari efek
toksik (14). Toksisitas akut dirancang untuk menentukan efek toksik yang
terjadi dalam waktu singkat setelah pemberian suatu substansi dosis
tunggal yang diberikan dalam jangka waktu 24 jam (15). Percobaan ini
dapat menunjukkan gambaran klinis dan morfologi organ sasaran yang
mungkin dirusak dan efek toksik secara spesifik, serta memberikan
petunjuk mengenai dosis yang sebaiknya digunakan dalam pengujian
yang lebih lama (11,14).
Setelah zat uji diberikan, maka dilakukan pengamatan dan
pencatatan jumlah hewan yang mati dan waktu kematiannya. Selain itu,
dalam pengamatan perlu diperhatikan timbulnya gejala-gejala, terutama
yang berkaitan dengan fungsi organ tubuh yang tergolong vital seperti
ginjal, hati dan hemopoetik. Hewan uji yang bertahan hidup sampai batas
akhir masa pengamatan perlu diautopsi untuk mengetahui adanya
kemungkinan kerusakan organ vital (8,11).



Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




B. TEPUNG KULIT LIDAH BUAYA

1. Taksonomi Aloe chinensis Baker
Tanaman lidah buaya termasuk suku Liliaceae yang terdiri atas
240 marga yang tersebar menjadi 4000 jenis. Salah satu marganya
adalah Aloe yang mempunyai lebih dari 350 jenis. Lidah buaya yang
banyak dibudidayakan di Indonesia khususnya Kalimantan Barat,
merupakan lidah buaya dari jenis Aloe chinensis (2). Secara
taksonomi, tanaman lidah buaya ini dapat diklasifikasikan sebagai
berikut: (16,17)
Dunia : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Liliales
Suku : Liliaceae
Marga : Aloe
Jenis : Aloe chinensis Baker

2. Deskripsi Aloe chinensis Baker
Lidah buaya termasuk tumbuhan yang tidak berbatang kayu,
memiliki bentuk, ukuran, dan tinggi yang bervariasi antara 80-200 cm.
Lidah buaya memiliki sistem perakaran yang dangkal dan berserabut
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




yang panjangnya mencapai 30-40 cm. Batang umumnya tidak terlalu
besar, berukuran pendek yaitu hanya sekitar 10 cm dan berbentuk
bulat berwarna cokelat. Batang tersebut dikelilingi daun-daun tebal
sehingga hampir tidak terlihat karena tertutup oleh daun yang rapat
(2,3).
Daun Aloe chinensis Baker secara anatomi terdiri dari tiga
bagian yaitu: kulit daun yang berwarna hijau, lapisan lendir dan lapisan
gel (daging daun). Daunnya disebut juga daun tunggal, berbentuk
lanset atau membentuk taji dan disepanjang tepiannya bergerigi atau
berduri (3,18). Panjang daun lidah buaya yang berumur lebih kurang
12 bulan berkisar antara 40-80 cm, lebarnya antara 5-15 cm, dan
ketebalan daging sekitar 1-6 cm. Aloe chinensis memiliki bunga
berwarna oranye dan berukuran kecil yang tersusun dalam rangkaian
berbentuk tandan (2,3). Buahnya berbentuk kotak, panjang 14-22 cm,
berkatup dan berwarna hijau keputihan. Bijinya berbentuk bulat, kecil
dan hitam (3,18).
Aloe chinensis Baker yang berasal dari Pontianak merupakan
varietas terunggul di Indonesia bahkan diakui keunggulannnya di
dunia. Tanaman jenis ini setiap pelepahnya memiliki berat 0,8 1,2 kg
dan dapat dipanen setiap bulan sejak bulan ke-12 setelah penanaman
hingga tahun ke-5. Mutu panen setiap pelepah sebagian besar
tergolong mutu A yaitu tanpa cacat atau bebas dari serangan hama
penyakit daun (4,5).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




3. Kandungan Kimia
Kulit daun lidah buaya mempunyai kandungan kimia yang
diperlukan tubuh dengan cukup lengkap, yaitu 20 macam asam amino,
beberapa vitamin (seperti vitamin A, C, dan E) dan beberapa mineral
(seperti Ca, Cr, Fe, Mg, dan Na), beberapa jenis monosakarida
(seperti manosa 6-fosfat), dan beberapa jenis polisakarida (seperti
acemanan atau glukomanan). Kulit daun lidah buaya juga
mengandung glikosida antrakuinon seperti aloin, emodin, dan
barbaloin (2,6,19).

4. Khasiat
Daun lidah buaya mengandung antrakuinon yang merupakan
zat aktif yang merangsang aktivitas laksatif (19). Mekanisme efek
laksatif lidah buaya adalah dengan merangsang motilitas usus,
merangsang sekresi mukus, dan mengurangi absorpsi cairan dari
massa feses (19,20). Pemberian gel lidah buaya selama 10 hari pada
tikus yang diradiasi dapat mengurangi kerusakan oksidatif pada
jaringan hati, paru, dan ginjal (19). Lendir lidah buaya mengandung
senyawa C-glucosyl chromone dan fitosterol seperti campesterol dan
-sitosterol yang berfungsi sebagai antiinflamasi. Polisakarida
glukomanan atau acemannan merupakan molekul gula rantai panjang
yang tersusun atas manosa dan glukosa, yang berfungsi sebagai
immunostimulator dan antiinflamasi (6,19).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Penelitian Novita (2005) membuktikan bahwa pemberian tepung
kulit lidah buaya dengan dosis 260 mg/kg bb, 520 mg/kg bb dan 1040
mg/kg bb secara oral selama 14 hari pada mencit galur DDY yang
diinduksi aloksan memberikan efek penurunan kadar glukosa darah
yang bermakna. Potensi penurunan kadar glukosa darah pada dosis
520 mg/kg bb lebih baik dibandingkan pada dosis 260 mg/kg bb dan
1040 mg/kg bb, yaitu menurunkan kadar glukosa darah dari 177,4
mg/dl menjadi 104,8 mg/dl dengan persentase penurunan 40,92% (7).
Glukomanan merupakan serat yang dapat menurunkan penyerapan
glukosa menuju sirkulasi darah di vena porta hepatika (19).

5. Pembuatan Tepung Kulit Lidah Buaya (2)
Proses pembuatan tepung kulit lidah buaya yang dilakukan oleh
PT. Kavera Biotech adalah sebagai berikut:
a. Pemotongan dan pembersihan pelepah
Pelepah lidah buaya dipilih dari tanaman yang telah dewasa.
Pengambilan pelepah dimulai dari pelepah paling bawah. Pelepah
yang didapat dicuci dan dibersihkan dari kotoran yang melekat.
Pelepah yang telah bersih dipilih yang terbaik dan ditimbang
beratnya tiap pelepah yang akan digunakan.
b. Pengupasan
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Pelepah lidah buaya dikupas dengan menggunakan pisau
serut stainless steel menghasilkan daging yang berwarna bening
dan kulit yang berwarna hijau.
c. Pencucian dengan garam
Kulit lidah buaya dicuci dalam air garam untuk
menghilangkan kotoran yang melekat.
d. Pengeringan
Setelah ditiriskan, kulit lidah buaya disusun dalam nampan
kemudian dimasukkan ke dalam oven semi vakum dengan
temperatur 45-50
o
C selama lebih kurang 2 hari.
e. Penimbangan
Penimbangan dilakukan setelah kulit lidah buaya mengering
secara merata.
f. Penggilingan
Kulit lidah buaya yang kering kemudian dimasukkan ke
dalam alat penepung yang terbuat dari stainless steel sehingga
menghasilkan tepung.











Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




C. GINJAL

1. Anatomi Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang terletak
di belakang rongga abdomen, satu di setiap sisi kolumna vertebralis
sedikit di atas garis pinggang (12). Setiap ginjal diperdarahi oleh arteri
renalis dan vena renalis, yang masing-masing masuk dan keluar ginjal
di lekukan medial yang menyebabkan organ ini berbentuk seperti
kacang (21). Kedua ginjal akan dihubungkan dengan kandung kemih
oleh ureter. Panjang ginjal pada orang dewasa sekitar 12 13 cm,
lebarnya 6 cm, tebal 2,5 cm dan beratnya antara 120 sampai 150
gram. Ginjal kanan terletak lebih rendah dibandingkan dengan ginjal
kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Perbedaan ukuran panjang
kedua ginjal dari kutub ke kutub atau perubahan bentuk ginjal
merupakan tanda yang penting karena sebagian besar manifestasi
penyakit ginjal adalah perubahan struktur (12).
Struktur Makroskopik
Sebuah ginjal dengan potongan memanjang memberi
gambaran 2 daerah yang cukup jelas. Bagian paling luar dari ginjal
yang tampak granuler disebut korteks ginjal, bagian lebih dalam
berupa segitiga bergaris-garis disebut medula ginjal. Bagian paling
dalam disebut pelvis ginjal. Pada bagian medula ginjal manusia dapat
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




pula dilihat adanya piramida yang merupakan bukaan saluran
pengumpul (21).
Struktur Mikroskopik
Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron. Dalam setiap
ginjal terdapat sekitar satu juta nefron yang mempunyai struktur dan
fungsi yang sama (12). Setiap nefron terdiri atas sebuah komponen
penyaring yang disebut korpuskula (badan Malphigi) dan tubulus
renalis. Tubulus renalis terdiri atas tiga bagian, yaitu tubulus kontortus
proksimal, lengkung Henle, dan tubulus kontortus distal. Setiap
korpuskula mengandung rumbai kapiler darah yang disebut
glomerulus yang berada dalam kapsula Bowman (12,22).
Glomerulus terdiri dari berkas kapiler yang memperoleh supply
dari arteriol afferen dan dialirkan keluar melalui arteriol efferen. Dinding
kapiler glomerulus terdiri dari tiga lapisan yaitu sel-sel epitel,
membrana basalis, dan sel-sel endotel. Sel-sel endotel merupakan
lapisan dalam dinding kapiler glomerulus. Sel-sel ini melapisi
membrana basalis dan selalu berhubungan dengan darah yang
mengalir dalam lumen kapiler. Membrana basalis adalah lapisan
tengah dinding kapiler glomerulus, yang berfungsi sebagai membran
yang selektif permeabel. Lapisan luar barier filtrasi glomerulus terdiri
dari sel-sel epitel yang melekat pada membrana basalis (12,23).
Sel-sel epitel, membrana basalis, dan sel-sel endotel
merupakan tiga lapisan yang membentuk membran filtrasi glomerulus.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Membran filtrasi glomerulus memungkinkan ultrafiltrasi darah melalui
pemisahan sel-sel darah dan molekul-molekul protein besar dari
bagian plasma lainnya, dan mengalirkan bagian plasma tersebut
sebagai kemih primer ke dalam ruang dari kapsula Bowman (12).

2. Fungsi Ginjal
Ginjal normal memiliki tiga fungsi pokok yaitu ultrafiltrasi
glomerulus, reabsorpsi air dan solut oleh tubulus, serta sekresi ion-ion
organik oleh tubulus (21,23). Pada saat darah mengalir melalui
glomerulus, terjadi filtrasi plasma menembus kapiler glomerulus masuk
ke dalam kapsula Bowman. Proses ini disebut ultrafiltrasi glomerulus
(21). Darah melewati ginjal sebanyak 350 kali setiap hari dengan laju
sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1,2 liter per menit,
menghasilkan 125 ml filtrat glomerular per menitnya. Laju filtrasi
glomerular atau Glomerular Filtration Rate (GFR) ini digunakan untuk
tes diagnosa fungsi ginjal. Filtrat plasma darah tidak mengandung sel-
sel darah dan molekul-molekul yang besar seperti protein (12,21).
Darah yang telah tersaring akan meninggalkan glomerulus
lewat arteri eferen dan akan masuk ke dalam tubulus kontortus
proksimal. Pada saat filtrat mengalir melalui tubulus, zat-zat yang
bermanfaat bagi tubuh secara selektif akan direabsorpsi ke dalam
plasma kapiler peritubulus. Proses ini disebut sebagai reabsorpsi
tubulus (12,21). Sedangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan dan perlu
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




dieliminasi akan tetap berada dalam urin. Proses ginjal yang ketiga
adalah sekresi tubulus yaitu perpindahan selektif zat-zat dari darah
kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus kontortus distal. Kemudian
urin akan mengalir dari tubulus kontortus distal ke dalam sistem
pengumpul (duktus kolektivus) untuk selanjutnya dibawa ke kandung
kemih melewati ureter (21).
Peranan ginjal dalam mempertahankan homeostatis tubuh
sangat penting yaitu dengan menjaga keseimbangan air dan elektrolit,
keseimbangan asam basa, serta mengeliminasi produk sisa
metabolisme dan zat kimia asing dari darah kemudian
mengekskresikannya melalui urin (23,24,25).

3. Patofisiologi Ginjal
Jika terjadi ketidaknormalan proses biokimia dalam tubuh dapat
memunculkan substansi metabolisme yang tidak normal terdapat
dalam urin atau terdapat substansi yang normal terdapat dalam urin
tetapi dalam jumlah berlebihan. Ketidaknormalan tersebut meliputi
albuminuria, glukosuria, hematuria, ketonuria, renal calculi (batu ginjal)
(26).
Ketidaknormalan fungsi ginjal juga dapat terlihat dari kadar zat-
zat yang seharusnya difiltrasi oleh glomerulus dari dalam plasma
darah antara lain adalah urea dan kreatinin. Jika terjadi kerusakan
pada glomerulus maka fungsi filtrasi akan menurun sehingga kadar
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




urea dan kreatinin dalam plasma darah akan meningkat di atas normal
(23).
Menurut Kincaid-Smith dan Whitworth (1987) untuk menentukan
adanya gangguan pada ginjal dapat diketahui dengan menghitung
jumlah sel-sel glomerulus dan diameter glomerular ginjal. Tetapi,
standar ketebalan dan potongan yang melalui inti glomerulus normal
sering memberikan rentang jumlah sel-sel yang serupa dengan yang
menderita gangguan ginjal (13). Pada ginjal yang rusak akan terlihat
pengerutan akibat sel-sel epitel glomerulus yang lisis sehingga
diameter glomerulus akan mengecil dan jarak ruang antara glomerulus
dengan kapsula Bowman akan membesar (13,22).

4. Evaluasi Klinik Fungsi Ginjal
Fungsi ginjal dapat dievaluasi dengan berbagai uji laboratorium.
Langkah awal dimulai dengan pemeriksaan urinalisis lengkap yang
memberikan informasi lengkap mengenai status fungsi ginjal.
Pengukuran kadar nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin serum
berguna untuk evaluasi gambaran fungsi ginjal secara umum karena
mampu membuat estimasi laju filtrasi glomerulus (LFG) yang akurat.
Untuk menetapkan LFG yang lebih tepat dapat dilakukan pengukuran
dengan klirens kreatinin atau klirens inulin. Tetapi, pengukuran LFG
dengan klirens kreatinin atau klirens inulin sering mengalami kesulitan
karena membutuhkan pengumpulan kemih yang akurat (23).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




D. KREATININ
N
H
N
O
NH
CH
3

Rumus kimia: C
4
H
7
N
3
O
Bobot molekul: 113 g/mol (25).
Kreatinin (kreatin anhidrida) adalah suatu metabolit kreatin yang
dibentuk dari kreatin fosfat di dalam otot melalui proses dehidrasi
nonenzimatik secara irreversible (25,26,27). Jumlah kreatinin yang
diekskresi menggambarkan fungsi massa otot. Jumlah kreatinin tubuh
kurang lebih 2% dari cadangan kreatin fosfat dan dalam satu hari
diekskresi sebesar 1-2 gram (25,28). Kadar kreatinin di serum pria lebih
tinggi daripada di serum wanita karena umumnya massa otot pria lebih
besar daripada wanita (28).
Kreatinin diekskresi seluruhnya dalam urin melalui proses
ultrafiltrasi glomerulus tanpa mengalami proses reabsorpsi dan sekresi
tubulus (28,29). Sehingga bila terjadi penurunan kecepatan filtrasi
glomerulus maka ekskresi kreatinin akan menurun dan kadar kreatinin
darah akan meningkat. Oleh karena itu, kadar kreatinin darah dapat
digunakan untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (LFG) (30). Tetapi,
peningkatan kadar kreatinin darah baru dapat dideteksi bila fungsi ginjal
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




berkurang 50% (28). Nilai normal kadar kreatinin plasma pada manusia
adalah 0,7-1,5 mg/dl (31), sedangkan nilai normal kadar kreatinin plasma
pada mencit adalah 0,3-1,0 mg/dl (32).
Pengukuran kadar kreatinin dilakukan dengan menggunakan
metode Jaffe yang dimodifikasi. Metode ini dipilih karena cukup spesifik,
lebih sederhana, banyak digunakan dan relatif dapat mengeliminasi
interferensi dari komponen-komponen darah yang dapat bereaksi dengan
pereaksi pada metode Jaffe tanpa modifikasi (33). Prinsip reaksi pada
pengukuran kadar kreatinin yaitu terbentuknya Janovski complex yang
berwarna kuning jingga sebagai hasil reaksi kreatinin dalam larutan pikrat
alkalis. Kompleks ini diukur serapannya dengan menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 515 nm. Pengukuran serapan
dilakukan pada detik ke-30 dan ke-90 dengan tujuan untuk menghindari
gangguan zat lain yang akan bereaksi dengan pikrat pada suasana alkalis
(28,33).


E. UREA
H
2
N
C
H
2
N
O

Rumus kimia: CH
4
N
2
O
Bobot molekul: 60 g/mol (25).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Urea merupakan produk akhir utama dari metabolisme protein
dalam tubuh (25,28). Biosintesis urea berasal dari nitrogen amino yang
diperantarai oleh enzim-enzim hati melalui siklus urea (25,31). Lebih dari
90% urea diekskresi melalui ginjal, dalam jumlah yang lebih sedikit melalui
sistem pencernaan (feses) dan kulit (keringat) (25). Pengukuran kadar
urea dalam darah dapat memberikan informasi tentang kemampuan
fungsi ginjal. Kadar urea digunakan sebagai parameter untuk
mengevaluasi GFR (Glomerular Filtration Rate) (24,25).
Peningkatan kadar nitrogen nonprotein dalam plasma yang
abnormal disebut azotemia (25). Prerenal azotemia disebabkan karena
diet tinggi protein, peningkatan katabolisme protein dan penurunan
sintesis protein. Renal azotemia disebabkan oleh kerusakan pada
glomerular. Sedangkan postrenal azotemia disebabkan karena terjadinya
obstruksi pada ureter, kandung kemih, uretra dan adanya tumor dalam
saluran kemih (25,34). Sebaliknya produksi urea menurun jika asupan
protein berkurang dan menderita penyakit hati akut (29,30).
Ada dua metode analisis dalam pengukuran kadar urea yaitu
metode langsung dan metode tidak langsung (enzimatis). Prinsip metode
enzimatis adalah hidrolisis urea oleh enzim urease membentuk amonia
dan asam karbonat. Hasil hidrolisisnya akan direaksikan sesuai reaksi
Barthelot sehingga membentuk indofenol yang dapat diukur secara
spektrofotometri. Metode ini lebih jarang dilakukan karena proses
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




pengerjaannya yang sulit, lebih mahal dan sangat membutuhkan
ketepatan dan ketelitian (24,25,29).
Metode langsung atau metode Fearon lebih sederhana, cukup
spesifik dan lebih umum digunakan dibandingkan dengan metode tidak
langsung. Dalam suasana asam, diasetilmonoksim akan terhidrolisis
menjadi diasetil dan hidroksilamin. Diasetil ini akan bereaksi dengan urea
dan dengan bantuan katalisator kation akan membentuk senyawa turunan
diazin yang berwarna. Senyawa turunan diazin ini diukur serapannya
dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 525
nm. Penambahan tiosemikarbazid dan ferriklorida pada pereaksi, akan
meningkatkan intensitas warna yang terbentuk dan mengurangi kepekaan
senyawa turunan diazin terhadap cahaya. Reaksi pembentukan
chromogen diazin berjalan lambat sehingga dibutuhkan pemanasan pada
penangas air mendidih (24,25,28).


F. MENCIT

Hewan uji yang sering digunakan untuk penelitian biomedis adalah
mencit (Mus musculus). Hal tersebut karena mencit memiliki beberapa
karakteristik yang menguntungkan. Hewan pengerat dengan tubuh
berukuran kecil tersebut cepat berkembangbiak, mudah dipelihara dalam
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




jumlah banyak, aktivitas reproduksi yang panjang, mudah ditangani, dan
harganya murah (9,11,35).
Mencit hidup nokturnal dan tersebar pada daerah dengan kisaran
iklim cukup luas. Mencit dapat dipelihara maupun hidup bebas sebagai
hewan liar. Mencit laboratorium ditempatkan dalam kandang berupa bak
plastik berukuran (30x20x10) cm
3
dengan alas kandang berupa serutan
gergaji atau sekam padi untuk menampung kotoran hewan, yang diganti
minimal sekali dalam seminggu. Sebagai penutup kandang mencit
digunakan anyaman kawat dengan jarak antar anyaman 0,5 cm. Suhu
ideal untuk kandang mencit adalah 18-29
o
C, kelembaban relatif 30-70%,
dan pencahayaan ruang secara teratur selama 12 jam dalam kondisi
terang dan 12 jam dalam kondisi gelap. Setiap ekor mencit dewasa
membutuhkan 15 g makanan dan 15 ml minuman per 100 g bb dalam
satu hari (35,36).
Pengambilan darah mencit bisa dilakukan dengan beberapa
metode diantaranya melalui ekor dan mata. Jika volume darah yang
diperlukan hanya sedikit, darah dapat diperoleh dengan memotong ujung
ekor atau dari vena lateralis ekor. Pengambilan darah dari vena ekor
sukar dilakukan karena memerlukan jarum intravena berukuran sangat
kecil, biasanya dengan ukuran 28 gauge, yang dapat menyebabkan darah
cepat menggumpal di dalam jarum. Pengambilan darah melalui sinus
orbital mata merupakan cara terbaik dan paling banyak dilakukan karena
melalui cara ini dapat diperoleh darah yang lebih banyak, lebih mudah
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




dan stres yang timbul pada mencit sangat ringan. Tetapi, perlu hati-hati
dalam melakukan metode ini, karena dapat menyebabkan kematian pada
mencit (36,37).




















Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB III
BAHAN DAN CARA KERJA




A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi dan kandang
hewan Departemen Farmasi, serta Laboratorium Biologi Pengembangan
Departemen Biologi FMIPA UI Depok selama lebih kurang 3 bulan, yaitu
dari bulan Februari 2008 sampai April 2008.

B. ALAT

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sonde
lambung, seperangkat alat bedah, alat-alat gelas, Spuit (Terumo), pipet
Pasteur, mikrohematokrit (Marienfield), mikroskop cahaya (Nikon SE),
mikroskop medan terang (Swipf Instrument), mikroproyektor (Ken-A-
Vision), spektrofotometer UV-Vis (Genesys), pipet Eppendorf (Socorex),
sentrifugator Biofuge 13 (Heraeus Sepatech), dan pisau mikrotom.




Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




C. BAHAN

1. Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit
(Mus musculus L.) jantan dan betina dari galur ddY, berumur lebih
kurang 2 bulan dengan berat badan 20 sampai 30 gram masing-
masing berjumlah 50 ekor. Hewan uji diperoleh dari Bagian Non
Ruminansia dan Satwa Harapan Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor.

2. Bahan Uji
Bahan uji yang digunakan adalah tepung kulit lidah buaya (Aloe
chinensis Baker) yang diproduksi oleh PT. Kavera Biotech di
Laboratorium Parangtopo FMIPA UI.

3. Bahan-bahan Kimia
Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah albumin mayer
(Merck), asam fosfat pekat (Merck), asam klorida (Merck), asam sulfat
pekat (Merck), asam pikrat (Merck), benzol (Merck), diasetilmonoksim
(Merck), etanol (Merck), eter (Merck), eosin (Merck), ferri klorida
(Merck), heparin (Inviclot), hematosiklin (Merck), natrium hidroksida
(Merck), natrium klorida 0,9%, parafin (Merck), standar kreatinin
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




(Merck), standar urea (Merck), tiosemikarbazid (Merck), trikloroasetat
(Merck), dan xilol (Merck).

D. CARA KERJA

1. Rancangan Penelitian (38,39)
Penelitian bersifat eksperimental dengan jenis rancangan
percobaan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima
kelompok perlakuan. Pengambilan sampel dilakukan secara acak
dengan metode simple random sampling. Hewan uji yang digunakan
dibagi ke dalam 5 kelompok secara acak yang masing-masing terdiri
dari 10 mencit jantan dan 10 mencit betina. Kelompok I, II, III, dan IV
masing-masing diberi sediaan uji tepung kulit lidah buaya dengan
dosis yang berbeda menggunakan kelipatan dosis dua, sedangkan
kelompok V adalah kelompok kontrol.

2. Persiapan Hewan Uji
Mencit diaklimatisasi selama 2 minggu dalam kandang
Laboratorium Farmakologi Departemen Farmasi FMIPA UI agar dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tahap ini mencit
ditimbang berat badannya dan diamati keadaan fisiknya. Mencit yang
sakit dengan ciri-ciri aktivitas berkurang, lebih banyak diam, bulu-bulu
berdiri, dan berat badan menurun tidak diikutsertakan dalam
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




percobaan. Pengelompokkan mencit dilakukan sehari sebelum
melaksanakan percobaan secara acak. Selama masa aklimatisasi,
mencit diberi makan dan minum dengan takaran yang sama untuk
setiap kelompok. Penandaan (identifikasi) mencit untuk membedakan
masing-masing kelompok perlakuan dengan menggunakan larutan
asam pikrat yang dioleskan pada beberapa bagian tubuh mencit.

3. Penetapan Dosis
Berdasarkan hasil orientasi, dosis tertinggi yang dapat
dikeluarkan dari sonde mencit adalah 5200 mg/kg bb mencit. Dosis ini
selanjutnya akan menjadi dosis IV. Sebagai dosis I digunakan dosis
satu kapsul untuk manusia yang mengandung 500 mg tepung kulit
lidah buaya. Dosis ini sesuai dengan dosis yang telah diteliti
berkhasiat sebagai antihiperglikemia.
Dosis untuk mencit diperoleh dengan mengalikan dosis
manusia dengan faktor konversi dan faktor farmakokinetik. Faktor
konversi dari manusia ke mencit 20 gram adalah 0,0026. Sementara
faktor farmakokinetik yang digunakan adalah 10. Kelipatan dosis yang
digunakan adalah kelipatan dua.
Sehingga dosis yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
Dosis I : 650 mg/kg bb mencit per hari
Dosis II : 1300 mg/kg bb mencit per hari
Dosis III : 2600 mg/kg bb mencit per hari
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Dosis IV: 5200 mg/kg bb mencit per hari

4. Pembuatan Larutan Uji
Sediaan uji yang digunakan adalah tepung kulit lidah buaya
yang sebelumnya telah digerus dalam mortir hingga halus kemudian
ditambahkan akuades dan diaduk hingga homogen. Volume maksimal
yang dapat diberikan kepada mencit dengan berat badan 30 g dalam
satu kali penyondean adalah 1 ml. Larutan uji yang disondekan ke
mencit dikonversikan sesuai berat badan mencit.
Dosis IV untuk mencit dengan berat badan 30 g: 5200 mg/1000
g x 30 g = 156 mg. Jadi didapat konsentrasi 156 mg/ml. Pembuatan
larutan uji dosis IV: sebanyak 3900 mg tepung kulit lidah buaya
digerus dalam mortir hingga halus kemudian ditambahkan akuades
hingga volumenya 25,0 ml dan diaduk hingga homogen. Sediaan uji
dosis III, II, dan I dibuat dengan mengencerkan sediaan uji dosis IV
dengan pengenceran berturut-turut 2 kali, 4 kali dan 8 kali.

5. Pembuatan Larutan dan Pereaksi

5.1. Larutan standar kreatinin 0,010 mg/ml (28)
Standar kreatinin ditimbang saksama lebih kurang 12,5 mg
kemudian dilarutkan dengan akuades hingga volume 25,0 ml di dalam
labu ukur. Setelah itu, sebanyak 1,0 ml dipipet dengan menggunakan
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




pipet volume dan diencerkan dengan akuades hingga volume 50,0 ml
di dalam labu ukur, diperoleh larutan standar kreatinin 0,010 mg/ml.

5.2. Pereaksi kreatinin (28,33)
Larutan pikrat alkalis dibuat dengan mencampur larutan asam
pikrat jenuh dengan natrium hidroksida 2% dengan volume yang
sama. Larutan asam pikrat jenuh dibuat dengan menimbang saksama
lebih kurang 1,2 gram asam pikrat kemudian ditambahkan akuades
hingga volume 100,0 ml di dalam labu ukur, sampai ada bagian yang
tidak larut. Larutan natrium hidroksida 2% dibuat dengan menimbang
2,0 g natrium hidroksida, kemudian dilarutkan dengan akuades hingga
volume 100,0 ml.

5.3. Larutan standar urea (28)
Standar urea ditimbang saksama lebih kurang 125,0 mg
kemudian dilarutkan dengan akuades hingga volume 25,0 ml di dalam
labu ukur. Kemudian masing-masing dipipet sebanyak 1,0; 2,0; 3,0;
4,0; 5,0 ml untuk diencerkan dengan akuades hingga volume 50,0 ml
dalam labu ukur. Sebanyak 3,0 ml dipipet untuk diencerkan dengan
akuades hingga volume 25,0 ml di dalam labu ukur. Diperoleh standar
urea dengan konsentrasi 0,100 mg/ml; 0,200 mg/ml; 0,300 mg/ml;
0,400 mg/ml; 0,500 mg/ml; dan 0,600 mg/ml.



Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




5.4. Pereaksi urea (28)
1) Larutan asam trikloroasetat (TCA) 5%
TCA ditimbang saksama lebih kurang 5 g kemudian dilarutkan
dengan akuades hingga volume 100,0 ml di dalam labu ukur.
2) Larutan katalisator yang terdiri dari: Ferri klorida 1,6 mM,
tiosemikarbazid 5 mM, asam sulfat pekat, dan asam fosfat pekat.
Ferri klorida ditimbang saksama lebih kurang 65,0 mg kemudian
dilarutkan dengan akuades hingga 125 ml (a). Tiosemikarbazid
ditimbang saksama lebih kurang 113,8 mg kemudian dilarutkan
dengan akuades hingga 25 ml (b). Larutan (a) dan (b) dicampur
dalam beaker glass. Kemudian sebanyak 64 ml asam fosfat pekat
dimasukan ke dalam beaker glass tersebut dan diencerkan dengan
akuades. Selanjutnya sebanyak 32,5 ml asam sulfat pekat
ditambahkan ke dalamnya dan diencerkan dengan akuades.
Campuran ini dimasukan ke dalam labu ukur, kemudian diencerkan
dengan akuades hingga volume 250,0 ml.
3) Larutan diasetilmonoksim (DAM) 140 mM
Diasetilmonoksim ditimbang saksama lebih kurang 3,54 g
kemudian dilarutkan dengan akuades hingga volume 250,0 ml di
dalam labu ukur.



Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




6. Pelaksanaan Percobaan
Percobaan dilakukan terhadap 100 ekor mencit putih (50 mencit
jantan dan 50 mencit betina). Kelompok perlakuan dibagi secara acak
menjadi lima berdasarkan pembagian dosis. Kelompok tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Kelompok I terdiri dari 10 ekor mencit putih jantan dan 10 ekor mencit
putih betina dengan pemberian dosis 650 mg/kg BB mencit.
2. Kelompok II terdiri dari 10 ekor mencit putih jantan dan 10 ekor mencit
putih betina dengan pemberian dosis 1300 mg/kg BB mencit.
3. Kelompok III terdiri dari 10 ekor mencit putih jantan dan 10 ekor mencit
putih betina dengan pemberian dosis 2600 mg/kg BB mencit.
4. Kelompok IV terdiri dari 10 ekor mencit putih jantan dan 10 ekor mencit
putih betina dengan pemberian dosis 5200 mg/kg BB mencit.
5. Kelompok V terdiri dari 10 ekor mencit putih jantan dan 10 ekor mencit
putih betina yang merupakan kelompok kontrol (hanya diberi
akuades).

a. Cara perlakuan
Cara perlakuan terhadap hewan uji dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1). Mencit ditimbang berat badannya dan diamati perilakunya selama
masa aklimatisasi. Kemudian mencit yang sehat dikelompokkan
menjadi 5 kelompok secara acak.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




2). Sebelum perlakuan, mencit dipuasakan terlebih dahulu lebih
kurang 2 jam. Mencit ditimbang berat badannya untuk menghitung
volume sediaan uji yang diberikan. Sediaan uji diberikan secara
oral sebanyak satu kali dengan menggunakan sonde lambung.
3). Dilakukan pengamatan terhadap gejala-gejala toksisitas yang
mungkin muncul selama 4 jam setelah penyondean.
4). Pada 24 jam setelah perlakuan, dilakukan pengamatan jumlah
mencit yang mati dan pengambilan sampel darah untuk mengukur
kadar kreatinin dan urea plasma.
5). Pada 14 hari setelah perlakuan, dilakukan pengambilan sampel
darah untuk mengukur kadar kreatinin dan urea plasma, serta
dilakukan pengambilan organ ginjal untuk membuat preparat
histologis ginjal.

b. Pengambilan sampel
1). Pengambilan plasma darah
Pada 24 jam setelah perlakuan, dilakukan pengambilan
sampel darah melalui ekor sebanyak 0,5 ml. Sebelum pemotongan
ekor, dilakukan sterilisasi gunting bedah dan ekor dengan alkohol
70%. Kemudian dilakukan pengurutan agar darah yang keluar lebih
banyak. Setelah itu, ekor dipotong kira-kira 1 cm. Darah yang
keluar ditampung dalam mikrotube yang telah diberi heparin
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




sebelumnya. Ekor mencit kemudian dioleskan dengan larutan
antiseptik agar tidak terjadi infeksi (37).
Pada 14 hari setelah perlakuan, sampel darah diambil
melalui sinus orbital mata dengan tabung mikrohematokrit. Mencit
dibius terlebih dahulu dengan eter. Kemudian ujung tabung
mikrohematokrit dimasukkan ke sudut dalam kantung mata, di
bawah bola mata, arahkan dengan sudut 45
o
dari tengah mata.
Tabung diputar perlahan ke dalam mata sampai vena pecah dan
darah keluar mengalir melalui tabung. Jika darah yang keluar dari
tabung hanya sedikit, maka tabung ditarik sedikit, tapi jangan
sampai terlepas dari mata. Darah yang keluar dari tabung,
ditampung dalam mikrotube yang telah diberi heparin sebelumnya
(37).
2). Pengambilan organ ginjal
Pengambilan organ ginjal dilakukan melalui cara
pembedahan. Sebelum pembedahan mencit dibius dengan eter,
kemudian diletakkan terlentang di atas papan bedah. Keempat
kakinya diikat, bagian dada dan perut dibersihkan dengan etanol
70% kemudian dada dibedah dengan menggunakan pisau bedah
dan diambil organ ginjalnya. Kemudian organ ginjal dimasukkan ke
dalam gelas kimia yang berisi larutan natrium klorida 0,9% untuk
menghilangkan darah yang menempel, setelah itu dilakukan
prosedur pembuatan preparat histologis (41).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




7. Pengukuran kadar kreatinin plasma (28,33)
Pengukuran kadar kreatinin plasma dilakukan dengan metode Jaffe
yang dimodifikasi. Standar kreatinin dan sampel plasma ditambah dengan
larutan pikrat alkalis dengan perbandingan sebagai berikut:
Tabel 1
Tahap Pengukuran Kadar Kreatinin Plasma
Sampel Standar Blanko
Sampel darah 500l - -
Sentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 7000 rpm,
kemudian pipet plasma ke dalam tabung baru
Larutan asam pikrat jenuh
Larutan NaOH 2%
Plasma
Standar kreatinin
Akuades
1,0 ml
1,0 ml
100l
-
-
1,0 ml
1,0 ml
-
100l
-
1,0 ml
1,0 ml
-
-
100l

Inkubasikan larutan pereaksi, standar dan sampel pada suhu 30
o
C
selama 5 menit. Campurkan dan ukur serapannya segera pada detik ke-
30 (A
t=30
) dan serapannya pada detik ke-90 (A
t=90
). Pengukuran serapan
dilakukan pada panjang gelombang 515 nm.
Kadar kreatinin plasma (mg/dl) dihitung dengan rumus:
A
t=90
(sampel) - A
t=30
(sampel) x C
A
t=90
(standar) - A
t=30
(standar)
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Keterangan:
A
t=30
: serapan pada pengukuran detik ke-30
A
t=90
: serapan pada pengukuran detik ke-90
C : konsentrasi standar kreatinin (mg/dl)

8. Pengukuran kadar urea plasma (28,40)
Pengukuran kadar urea plasma dilakukan secara kolorimetri
dengan menggunakan diasetilmonoksim (DAM). Ke dalam tabung reaksi
ditambahkan larutan sebagai berikut:
Tabel 2
Tahap Pengukuran Kadar Urea Plasma
Sampel Standar Blanko
Larutan TCA 5%
Darah
Standar urea
1,0 ml
50l
-
1,0 ml
-
50l
-
-
-
Campurkan dan sentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan
7000 rpm. Kemudian pipet plasma ke dalam tabung baru
Larutan katalisator
Larutan DAM
Plasma
Supernatan standar
2,0 ml
2,0 ml
100l
-
2,0 ml
2,0 ml
-
100l
2,0 ml
2,0 ml
-
-

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Larutan dicampur dengan baik. Tabung reaksi diletakkan dalam
penangas air mendidih selama 6 menit. Kemudian tabung reaksi
dikeluarkan dari penangas air dan didiamkan selama 10 menit pada suhu
kamar. Serapan diukur pada panjang gelombang 525 nm.
Kurva kalibrasi dibuat dengan mengukur serapan tiap konsentrasi
standar urea, kemudian dihitung persamaan regresi linear antara
konsentrasi standar urea (mg/dl) dengan nilai serapan (A). Kadar urea
plasma (mg/dl) dihitung dengan memasukan nilai serapan ke dalam
persamaan kurva kalibrasi standar urea, yaitu y = a + bx

9. Pembuatan sediaan histologis organ (41)
a. Pengambilan organ
Ginjal dibersihkan dari lemak yang membungkusnya, kemudian
dicuci dengan larutan fisiologis natrium klorida 0,9%.
b. Fiksasi
Ginjal dimasukkan ke dalam larutan Bouin (campuran asam
pikrat jenuh 70 bagian, formalin 25 bagian, dan asam asetat glasial 5
bagian) kemudian direndam selama 24 jam dalam tempat tertutup
rapat. Setelah fiksasi selesai, sisa fiksatif pada organ dihilangkan
dengan perendaman dalam alkohol 70%.
c. Dehidrasi dan penjernihan
Ginjal direndam dalam alkohol dengan konsentrasi meningkat,
yaitu berturut-turut dalam alkohol 70% selama 24 jam, alkohol 96%
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




sebanyak dua kali masing-masing selama 1 jam, dan dalam alkohol
absolut sebanyak dua kali masing-masing selama 1 jam. Kemudian
direndam dalam benzilbenzoat selama 24 jam, dan dalam benzol
sebanyak dua kali masing-masing selama 15 menit.
d. Infiltrasi
Ginjal direndam dalam parafin cair melalui dua tahap, yaitu
parafin I dan parafin II, masing-masing selama 1 jam dalam inkubator
pada suhu tetap 60
o
C.
e. Penanaman
Jaringan ginjal yang telah diinfiltrasi dimasukkan ke dalam
cetakan berupa kotak-kotak kertas yang telah berisi parafin cair hingga
terendam, kemudian parafin didinginkan pada suhu kamar hingga
dingin dan membeku. Setelah parafin mengeras, maka blok parafin
dapat dilepaskan dari kotak kertas. Kelebihan parafin di sekitar
jaringan dipotong dan dirapikan kemudian dilekatkan pada kayu
pemegang dengan pemanasan.
f. Penyayatan
Sebelum dilakukan penyayatan kayu pemegang dipasang pada
pisau mikrotom dan diatur supaya diperoleh sayatan berbentuk pita
dengan ketebalan sayatan lebih kurang 5-7m.
g. Penempelan pada gelas objek
Penempelan dilakukan pada gelas objek yang telah diolesi
sedikit albumin Mayers (campuran putih telur dan gliserin dengan
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




perbandingan 1:1) dan ditetesi aquadest. Sayatan diletakan pada
gelas objek yang dipanaskan di atas hot plate dengan suhu 47
o
C
sampai jaringan mengembang dengan baik. Kelebihan air diserap
dengan tisu dan dibiarkan hingga mengering.
h. Deparafinasi
Parafin yang melekat di sekitar sayatan dihilangkan dengan
cara merendam gelas objek dalam larutan xilol sebanyak dua kali
masing-masing selama 6 menit.
i. Hidrasi
Sediaan yang sudah dibersihkan dari parafin direndam dalam
alkohol dengan konsentrasi menurun, yaitu alkohol absolut, alkohol
96%, dan alkohol 70% masing-masing selama 3 menit.
j. Pewarnaan
Gelas obyek yang telah dihidrasi diwarnai menggunakan
metode pewarnaan hematoksilin-eosin. Mula-mula sediaan direndam
dalam larutan hematoksilin selama 4 menit, kemudian dicuci dengan
air mengalir hingga bagian gelas objek di luar jaringan bersih dari zat
warna. Bila warna jaringan terlalu biru, maka gelas objek dicelupkan
dalam larutan asam klorida 1% selama beberapa detik dan dicelupkan
dalam air. Selanjutnya direndam dalam larutan eosin selama 4 menit.
k. Dehidrasi
Preparat direndam dalam alkohol dengan konsentrasi
meningkat, yaitu alkohol 70%, alkohol 96%, alkohol absolut masing-
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




masing selama 3 menit dan terakhir campuran alkohol : xilol (1:1)
selama 5 menit.
l. Penjernihan
Preparat direndam dalam xilol sebanyak 3 kali masing-masing
selama 2 menit.
m. Penutupan
Sebelum dilakukan penutupan, xilol dan kotoran yang tersisa
dibersihkan dengan kertas tisu, kemudian ditetesi entellan 1 tetes dan
ditutup perlahan dengan kaca penutup lalu dibiarkan mengering dalam
suhu kamar.
n. Pengamatan mikroskopis preparat histologis
Pengamatan dilakukan dengan membandingkan preparat
histologis ginjal antara kelompok kontrol dengan kelompok uji
menggunakan mikroproyektor yang dipasang pada lensa okuler
mikroskop cahaya pembesaran 40 kali. Untuk mengetahui besarnya
kerusakan yang terjadi, dilakukan dengan mengukur diameter
glomerulus dan jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula
Bowman.





Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




10. Pengolahan data (42)
Data diolah secara statistik dengan metode uji distribusi normal (uji
Saphiro-Wilk), uji homogenitas (uji Lavene), dan uji Analisis varians
(ANAVA) satu arah. Bila data yang dihasilkan berbeda secara bermakna
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil.


















Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL PENELITIAN

1. Uji Toksisitas Akut

Hasil yang diperoleh dari uji toksisitas akut tepung kulit lidah buaya
sampai dengan dosis 5200 mg/kg BB mencit putih tidak menyebabkan
kematian pada hewan uji mencit jantan dan mencit betina. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.

2. Penetapan Kadar Kreatinin Plasma

Rata-rata kadar kreatinin plasma mencit jantan pada 24 jam dan 14
hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 0.63 0.18 dan 0.66 0.19 mg/dl
Kelompok II : 0.59 0.17 dan 0.61 0.15 mg/dl
Kelompok III : 0.58 0.13 dan 0.65 0.24 mg/dl
Kelompok IV: 0.61 0.15 dan 0.63 0.18 mg/dl
Kelompok V : 0.64 0.19 dan 0.66 0.19 mg/dl
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 10.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Rata-rata kadar kreatinin plasma mencit betina pada 24 jam dan 14
hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 0.54 0.22 dan 0.55 0.23 mg/dl
Kelompok II : 0.53 0.21 dan 0.58 0.22 mg/dl
Kelompok III : 0.58 0.25 dan 0.61 0.19 mg/dl
Kelompok IV: 0.59 0.19 dan 0.62 0.24 mg/dl
Kelompok V : 0.60 0.13 dan 0.64 0.22 mg/dl
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gambar 11.
Hasil uji ANAVA satu arah ( = 0.05) pada mencit jantan dan betina
menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna terhadap kadar
kreatinin plasma antar kelompok dosis maupun dengan kelompok kontrol,
dengan nilai signifikansi berturut-turut 0.910 dan 0.919 pada 24 jam
setelah perlakuan, serta 0.966 dan 0.894 pada 14 hari setelah perlakuan.
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15 dan 16.

3. Penetapan Kadar Urea Plasma

a. Kurva kalibrasi
Setelah dilakukan perhitungan regresi linier terhadap data
serapan standar urea, maka diperoleh persamaan garis y = 0,0098 +
0,00555 x dengan koefisien korelasi (r) = 0,9998 menunjukkan bahwa
korelasi antara sumbu x dan sumbu y mendekati sempurna sehingga
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




hampir semua titik pada kurva antara x dan y terletak pada satu garis
lurus. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 12 dan Tabel 8.

b. Pengukuran kadar urea plasma
Rata-rata kadar urea plasma mencit jantan pada 24 jam dan 14
hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 35.35 6.21 dan 35.88 7.12 mg/dl
Kelompok II : 34.85 8.41 dan 35.39 5.79 mg/dl
Kelompok III : 35.03 4.59 dan 35.57 7.27 mg/dl
Kelompok IV : 35.51 5.06 dan 35.91 7.78 mg/dl
Kelompok V : 35.66 8.22 dan 36.10 5.86 mg/dl
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 9 dan Gambar 13.
Rata-rata kadar urea plasma mencit betina pada 24 jam dan 14
hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 35.08 7.78 dan 35.23 5.28 mg/dl
Kelompok II : 35.69 8.19 dan 36.02 7.69 mg/dl
Kelompok III : 36.13 6.59 dan 36.36 5.10 mg/dl
Kelompok IV : 35.42 5.30 dan 35.86 5.54 mg/dl
Kelompok V : 36.27 6.42 dan 36.49 7.49 mg/dl
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 14.
Hasil uji ANAVA satu arah ( = 0.05) pada mencit jantan dan
betina menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna terhadap
kadar urea plasma antar kelompok dosis maupun dengan kelompok
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




kontrol, dengan nilai signifikansi berturut-turut 0.999 dan 0.995 pada
24 jam setelah perlakuan, serta 0.999 dan 0.993 pada 14 hari setelah
perlakuan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15 dan 16.

4. Pemeriksaan Histologi Ginjal

a. Diameter glomerulus
Diameter rata-rata glomerulus mencit jantan pada 14 hari
setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 58.66 3.97 m
Kelompok II : 57.63 3.18 m
Kelompok III : 56.47 3.21 m
Kelompok IV : 56.93 1.49 m
Kelompok V : 58.17 4.57 m
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 11 dan Gambar 15.
Diameter rata-rata glomerulus mencit betina pada 14 hari
setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 59.38 3.47 m
Kelompok II : 58.17 3.82 m
Kelompok III : 58.30 5.12 m
Kelompok IV : 59.21 4.66 m
Kelompok V : 58.71 4.87 m
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 12 dan Gambar 15.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Hasil uji ANAVA satu arah ( = 0.05) pada mencit jantan dan
betina menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna antar
kelompok dosis maupun dengan kelompok kontrol terhadap diameter
glomerulus pada 14 hari setelah perlakuan. Nilai signifikansi yang
diperoleh mencit jantan dan betina berturut-turut 0.853 dan 0.990
(Tabel 17).

b. Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman
Rata-rata jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula
Bowman mencit jantan pada 14 hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 7.30 0.61 m
Kelompok II : 7.07 0.37 m
Kelompok III : 7.28 0.53 m
Kelompok IV : 7.15 0.53 m
Kelompok V : 7.37 0.28 m
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 13 dan Gambar 16.
Rata-rata jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula
Bowman mencit betina pada 14 hari setelah perlakuan adalah:
Kelompok I : 6.90 0.47 m
Kelompok II : 6.83 0.43 m
Kelompok III : 6.71 0.78 m
Kelompok IV : 6.69 0.58 m
Kelompok V : 7.06 0.40 m
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 14 dan Gambar 16.
Hasil uji ANAVA satu arah ( = 0.05) pada mencit jantan dan
betina menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna antar
kelompok dosis maupun dengan kelompok kontrol terhadap jarak
ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman pada 14 hari
setelah perlakuan. Nilai signifikansi yang diperoleh mencit jantan dan
betina berturut-turut 0.865 dan 0.819 (Tabel 17).


B. PEMBAHASAN

Lidah buaya (Aloe chinensis Baker) merupakan salah satu jenis
tanaman obat yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia dan sangat
berpotensi untuk dikembangkan, mengingat khasiatnya yang dapat
mengobati berbagai macam penyakit. Saat ini sedang dikembangkan
pengolahan kulit lidah buaya menjadi suatu bentuk produk yang lebih stabil
yaitu bentuk tepung. Pengolahan tepung ini dilakukan dengan menggunakan
oven semi vakum pada temperatur 45-50
o
C sehingga tidak merusak
kandungan nutrisi yang dimilikinya (2).
Karena tepung kulit lidah buaya akan digunakan sebagai food
supplement, maka dilakukan penelitian terhadap toksisitas akutnya. Melalui
uji toksisitas akut dapat diketahui efek toksik yang akan terjadi dalam waktu
singkat pada hewan uji setelah pemberian satu kali tepung kulit lidah buaya
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




dengan dosis tertentu (9,10). Efek toksik yang terjadi diamati melalui
persentase kematian, pengamatan gejala klinis dan berat badan serta
perubahan patologi organ vital (8).
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit putih
dengan galur, umur, berat badan, lingkungan, makanan, dan minuman yang
relatif sama untuk mengurangi variasi biologik atau faktor lain yang dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Hewan uji yang digunakan adalah mencit
putih jantan dan betina dari galur ddY, berumur lebih kurang 2 bulan dengan
berat badan 20 sampai 30 gram. Hewan ini dipilih karena memiliki beberapa
karakteristik yang menguntungkan seperti mudah didapat, mudah dipelihara,
mudah ditangani, dan harganya murah (9,11,35).
Penelitian ini bersifat eksperimental dengan jenis rancangan penelitian
yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dimana tidak ada faktor lingkungan atau
faktor lain selain faktor perlakuan yang mempengaruhi hasil penelitian.
Mencit dikelompokkan secara acak dengan menggunakan metode simple
random sampling agar penyebarannya merata untuk semua kelompok
(38,39).
Sebelum diberi perlakuan, mencit diaklimatisasi terlebih dahulu selama
dua minggu agar dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang
baru (9). Selama masa aklimatisasi dilakukan pengamatan untuk mengetahui
kondisi kesehatan mencit secara umum. Mencit yang diikutsertakan dalam
penelitian adalah mencit yang sehat dengan ciri-ciri sebagai berikut: mata
jernih bersinar, bulu tidak berdiri, tingkah laku normal, dan berat badan yang
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




tidak menurun. Mencit diberi makanan dan minuman yang cukup dengan
takaran yang sama untuk setiap kelompok (14,35).
Penelitian ini menggunakan 50 ekor mencit jantan dan 50 ekor mencit
betina yang dibagi ke dalam lima kelompok, sehingga masing-masing
kelompok beranggotakan 10 ekor mencit. Penentuan dosis berdasarkan pada
dosis satu kapsul untuk manusia yaitu 500 mg, kemudian dikembangkan
menjadi empat tingkat dosis dengan kelipatan dua. Dosis ini sesuai dengan
dosis tepung kulit lidah buaya yang telah diteliti berkhasiat sebagai
antihiperglikemia (7). Kelompok I, II, III dan IV adalah kelompok uji yang
diberi tepung kulit lidah buaya dengan dosis berturut-turut 650 mg/kg bb
mencit, 1300 mg/kg bb mencit, 2600 mg/kg bb mencit, dan 5200 mg/kg bb
mencit, sedangkan kelompok V adalah kelompok kontrol (tanpa zat uji). Dosis
tersebut diperoleh dengan mengkonversikan dosis manusia ke mencit
kemudian mengalikan hasilnya dengan faktor farmakokinetik. Faktor
farmakokinetik digunakan karena adanya perbedaan kecepatan metabolisme
antara mencit dengan manusia.
Pada penelitian ini, nilai LD
50
tidak dapat ditentukan karena dosis
tertinggi yang dapat disondekan hanya 5200 mg/kg bb. Dosis ini berada di
bawah dosis praktis tidak toksik >15000 mg/kg bb untuk penentuan nilai LD
50

(11). Dosis ini tidak dapat ditingkatkan lagi karena sediaan uji sudah sangat
kental dan bila ditingkatkan dapat menyebabkan sediaan uji tidak dapat
keluar dari sonde lambung. Hal ini disebabkan karena lidah buaya
mengandung mukopolisakarida (MPS) yaitu suatu polimer yang akan
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




mengembang dalam air dan membentuk gel (2). Meskipun nilai LD
50
tidak
bisa ditentukan, tetapi penelitian ini masih dapat dikatakan sebagai uji
toksisitas akut karena tes limit untuk uji toksisitas akut adalah 5000 mg/kg bb.
Bila pada dosis ini tidak terjadi kematian, maka pada dosis yang lebih tinggi
digeneralisasi tidak terjadi kematian (10).
Pengambilan sampel darah dilakukan pada waktu 24 jam dan 14 hari
setelah perlakuan. Pengambilan sampel darah pada waktu 24 jam setelah
perlakuan dilakukan pada ekor agar mencit tetap hidup sehingga dapat
diamati gejala toksik yang mungkin timbul pada pengamatan 14 hari setelah
perlakuan. Pengambilan sampel darah pada 14 hari setelah perlakuan
dilakukan melalui sinus orbital mata karena darah yang diperoleh lebih
banyak, lebih mudah, dan lebih cepat pelaksanaannya. Darah yang keluar
ditampung dalam mikrotube yang telah diberi heparin (36,37). Penambahan
heparin dilakukan untuk mencegah proses penggumpalan darah.
Organ vital yang diamati pada penelitian ini adalah ginjal. Ginjal
penting untuk diperiksa karena ginjal merupakan organ vital yang mempunyai
fungsi utama untuk membersihkan darah dari produk akhir metabolisme dan
zat kimia asing, kemudian mengekskresikannya melalui urin (24). Pada
penelitian ini, dilakukan pengukuran kadar kreatinin dan urea plasma untuk
membuat estimasi LFG yang akurat dan lebih mudah dalam pelaksanaannya
(23,27).
Urea dan kreatinin merupakan senyawa yang diekskresikan oleh ginjal
melalui proses filtrasi glomerulus. Apabila terjadi kerusakan pada glomerulus
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




maka fungsi filtrasi dari glomerulus akan berkurang sehingga urea dan
kreatinin dalam plasma akan meningkat kadarnya di atas normal (23). Oleh
karena itu, pengukuran kadar kreatinin dan urea plasma digunakan sebagai
parameter analisis fungsi ginjal (25,28). Sebagai data pendukung untuk
mengetahui perubahan fungsi ginjal, maka dilakukan pengamatan histologis
ginjal secara mikroskopis (11,13).
Metode statistik parametrik yang digunakan adalah analisis varians
satu arah (ANAVA). Analisis varian digunakan untuk menguji hipotesis
kesamaan rata-rata antara kelima kelompok perlakuan. Syarat untuk uji
ANAVA adalah data harus terdistribusi normal dan homogen. Oleh karena itu,
sebelumnya digunakan uji distribusi normal (uji Saphiro-Wilk) dan uji
homogenitas (uji Lavene). Dengan demikian, dapat diketahui perlakuan yang
diberikan mempunyai perbedaan yang bermakna atau tidak dengan
kelompok kontrol (42).
Pada penelitian ini, pengukuran kadar kreatinin plasma dilakukan
secara kolorimetri dengan menggunakan metode Jaffe yang dimodifikasi.
Pemilihan metode ini karena cukup spesifik, lebih sederhana, banyak
digunakan dan relatif dapat mengeliminasi interferensi dari komponen-
komponen darah yang dapat bereaksi dengan pereaksi pada metode Jaffe
tanpa modifikasi (33).
Kreatinin akan bereaksi langsung dengan ion pikrat dalam suasana
alkalis untuk membentuk senyawa kompleks Janovski yang memberikan
warna kuning jingga dengan serapan optimum pada panjang gelombang 515
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




nm. Larutan pereaksi, standar kreatinin, dan sampel plasma disiapkan pada
temperatur 30
o
C. Temperatur harus dijaga konstan karena serapan dari
kompleks Janovski akan meningkat dengan meningkatnya temperatur reaksi.
Serapan diukur tepat pada detik ke-30 (A
t=30
) dan detik ke-90 (A
t=90
) setelah
pencampuran sampel plasma maupun standar dengan larutan pikrat alkalis.
Hal ini bertujuan untuk menghindari interferensi dari senyawa lain dalam
plasma darah seperti protein, bilirubin, keton, piruvat, dan asam askorbat
yang bereaksi terhadap larutan pikrat alkalis lebih cepat atau lebih lambat
dibandingkan kreatinin. Interfere substance atau senyawa pengganggu
tersebut bereaksi dan memberikan serapan pada waktu sebelum 30 detik
dan setelah 90 detik. Oleh karena itu, pengukuran dilakukan pada jarak
waktu antara t = 30 dan t = 90, hal ini didukung oleh penelitian Lutsgarten
bahwa serapan antara t = 30 dan t = 90 berbanding lurus dengan
konsentrasi kreatinin dalam mg/dl (25,28,33). Reaksi kimia pengukuran kadar
kreatinin plasma dapat dilihat pada Gambar 7.
Kadar kreatinin plasma diperoleh dengan membandingkan serapan
sampel dengan serapan standar pada detik ke-30 dan detik ke-90, kemudian
dikalikan dengan konsentrasi standar kreatinin. Hasil pengukuran kadar
kreatinin plasma kemudian dianalisis secara statistik. Dari uji normalitas
Saphiro-Wilk dan uji homogenitas Lavene diperoleh hasil bahwa kadar
kreatinin plasma terdistribusi normal dan bervariansi homogen sehingga
dapat dilanjutkan dengan uji analisis varians (ANAVA) satu arah.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Berdasarkan uji ANAVA satu arah ( = 0.05) terhadap data kadar
kreatinin plasma diperoleh bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna
terhadap kadar kreatinin plasma antar kelompok dosis maupun dengan
kelompok kontrol pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan. Hal ini
menunjukkan bahwa kelompok dosis berada dalam kondisi normal jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan literatur, kadar kreatinin
plasma pada mencit jantan dan betina masih dalam kisaran normal yaitu
antara 0,3-1,0 mg/dl (32). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar
kreatinin plasma untuk semua kelompok perlakuan pada mencit jantan
maupun betina 14 hari setelah perlakuan terjadi sedikit peningkatan kadar
kreatinin bila dibandingkan dengan 24 jam setelah perlakuan. Tetapi, setelah
dilakukan uji ANAVA satu arah ternyata tidak terjadi perbedaan yang
bermakna antara kadar kreatinin pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.
Nilai signifikansi yang diperoleh pada mencit jantan dan betina berturut-turut
adalah 0.980 dan 0.974. Hasil pengukuran juga menunjukkan bahwa rata-
rata kadar kreatinin plasma pada mencit jantan lebih besar daripada mencit
betina. Hal ini disebabkan karena massa otot mencit jantan lebih besar
daripada mencit betina (28). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar
10-11, Tabel 6-7 dan 15-16.
Pengukuran kadar urea plasma dilakukan secara kolorimetri dengan
metode Fearon atau non enzimatis dengan menggunakan diasetilmonoksim
(DAM) sebagai pereaksi. Metode ini dipilih karena cukup spesifik, lebih umum
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




digunakan dan lebih sederhana dalam pelaksanaannya dibandingkan metode
enzimatis (24,25).
Diasetilmonoksim akan terhidrolisis terlebih dahulu dalam suasana
asam untuk membentuk diasetil dan hidroksilamin. Kemudian diasetil ini akan
bereaksi dengan urea membentuk suatu senyawa kompleks diazin yang
berwarna merah muda. Warna yang terbentuk bersifat kurang stabil. Oleh
karena itu, perlu distabilkan dan ditingkatkan intensitasnya dengan
penambahan larutan katalisator. Reaksi ini berjalan lambat sehingga
membutuhkan pemanasan pada penangas air mendidih. Serapan dibaca
pada panjang gelombang optimum 525 nm (24,25,28). Reaksi kimia
pengukuran kadar urea plasma dapat dilihat pada Gambar 6. Perhitungan
kadar urea plasma dengan menggunakan persamaan garis y = 0,0098 +
0,00555 x, yang diperoleh dari hasil pengukuran absorpsi beberapa
konsentrasi standar urea. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 12,
Tabel 8 dan Lampiran 6-8.
Hasil pengukuran kadar urea plasma kemudian dianalisis secara
statistik. Dari uji normalitas Saphiro-Wilk dan uji homogenitas Lavene
diperoleh hasil bahwa kadar urea plasma terdistribusi normal dan bervariansi
homogen sehingga dapat dilanjutkan dengan uji ANAVA satu arah.
Berdasarkan uji ANAVA satu arah ( = 0.05) terhadap data kadar urea
plasma diperoleh bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap kadar
urea plasma antar kelompok dosis maupun dengan kelompok kontrol pada
24 jam dan 14 hari setelah perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




dosis berada dalam kondisi normal jika dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Hasil pengukuran juga menunjukkan bahwa kadar urea plasma untuk
semua kelompok perlakuan pada mencit jantan maupun betina 14 hari
setelah perlakuan terjadi sedikit peningkatan kadar bila dibandingkan dengan
24 jam setelah perlakuan. Tetapi, setelah dilakukan uji ANAVA satu arah
ternyata tidak terjadi perbedaan yang bermakna antara kadar urea pada 24
jam dan 14 hari setelah perlakuan. Nilai signifikansi yang diperoleh pada
mencit jantan dan betina berturut-turut adalah 1.000 dan 1.000. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 13-14, Tabel 9-10 dan 15-16.
Pemeriksaan perubahan fungsi ginjal ditunjang dengan data histologis
ginjal. Jumlah hewan yang digunakan untuk pemeriksaan histologis ginjal
yaitu masing-masing 5 ekor dari tiap kelompok pada mencit jantan dan
mencit betina. Jumlah ini berdasarkan ketentuan dari rumus Ferderer yaitu (t-
1) (n-1) 15. Huruf t menyatakan jumlah kelompok perlakuan hewan uji,
sedangkan huruf n menyatakan jumlah ulangan. Pada penelitian ini t
sebanyak 5, yaitu kelompok dosis I, II, III, IV, dan kelompok kontrol normal,
sehingga didapatkan n = 5. Rumus Ferderer dipilih karena alasan ekonomis
agar biaya yang dikeluarkan lebih murah.
Pengambilan organ ginjal dilakukan melalui cara pembedahan. Organ
ginjal yang diperoleh kemudian dibersihkan dari lemak dan darah yang
menempel dengan menggunakan larutan natrium klorida 0,9% (41).
Kemudian dilakukan penimbangan berat organ dan pengamatan terhadap
warna organ. Organ ginjal mencit normal berwarna coklat kemerahan (22).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Proses pembuatan sediaan histologis dimulai dari fiksasi yang
bertujuan untuk mematikan jaringan dengan cepat tetapi tidak mengubah
struktur jaringan. Larutan Bouin dipilih sebagai cairan fiksatif karena cepat
berpenetrasi ke jaringan dan nukleus sehingga akan terwarnai dengan baik.
Tahap kedua adalah proses dehidrasi yang bertujuan menarik air dari dalam
jaringan agar proses pembenaman jaringan dalam parafin (yang tidak
bercampur dengan air) berlangsung baik. Selanjutnya dilakukan infiltrasi
untuk menghilangkan benzol yang dapat menyebabkan jaringan menjadi
rapuh sehingga mudah robek saat dilakukan penyayatan. Kemudian
dilakukan penanaman dalam parafin yang bertujuan untuk mencegah
kerusakan jaringan sewaktu disayat. Jaringan yang telah tertanam, disayat
dengan ketebalan 5-7 m. Setelah itu, sayatan ditempelkan pada gelas
obyek dengan menggunakan perekat albumin Mayers yang transparan agar
tidak mengganggu proses pengamatan. Parafin yang tersisa di sekitar gelas
obyek dilarutkan dengan menggunakan larutan xilol. Tahap selanjutnya
adalah hidrasi agar jaringan dapat diwarnai. Pewarnaan jaringan
menggunakan sistem pewarnaan Hematoksilin dan Eosin yang merupakan
larutan polar (hematoksilin larut dalam air dan eosin larut dalam alkohol).
Hematoksilin untuk mewarnai inti menjadi biru, sedangkan eosin untuk
mewarnai sitoplasma menjadi merah. Setelah diwarnai, air dihilangkan
kembali agar sediaan histologis bertahan dalam waktu lama. Kemudian
dilakukan penjernihan dengan menggunakan larutan xilol dan terakhir adalah
penutupan gelas obyek oleh cover glass (41).
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Pemeriksaan histologis ginjal dilakukan dengan mengukur diameter
glomerulus dan jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman. Jika
terjadi kerusakan pada glomerulus, akan terlihat adanya pengerutan akibat
sel-sel epitel glomerulus yang lisis sehingga diameter glomerulus akan
mengecil dan jarak ruang glomerulus dengan kapsula Bowman akan
membesar (11,13). Pengamatan dilakukan dengan membandingkan preparat
histologis ginjal antar kelompok dosis maupun dengan kelompok kontrol.
Hasil uji ANAVA satu arah ( = 0.05) menunjukkan bahwa rata-rata
diameter glomerulus dan jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula
Bowman baik pada mencit jantan maupun mencit betina 14 hari setelah
perlakuan tidak berbeda secara bermakna antar kelompok dosis maupun
dengan kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian tepung
kulit lidah buaya sampai dengan dosis 5200 mg/kg bb tidak menyebabkan
kerusakan organ ginjal pada mencit putih. Hasil selengkapnya dapat dilihat
pada Gambar 15-16, Tabel 11-14 dan 17.








Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

1. Pemberian sediaan uji tepung kulit lidah buaya dengan dosis tertinggi
yang masih dapat disondekan (5200 mg/kg bb) tidak menyebabkan
kematian hewan uji mencit putih.
2. Nilai LD
50
tidak dapat ditentukan karena dosis tertinggi yang dapat
disondekan dibawah dosis praktis tidak toksik (lebih dari 15 g/kg bb)
untuk penentuan nilai LD
50
.
3. Pemeriksaan fungsi ginjal dengan mengukur kadar kreatinin dan urea
plasma, serta histologi ginjal pada mencit putih menunjukkan bahwa
tepung kulit lidah buaya pada dosis tersebut tidak menimbulkan efek
toksik terhadap ginjal.

B. Saran

Perlu dilakukan uji keamanan dalam jangka waktu yang lebih
panjang, yaitu uji toksisitas subkronik dan toksisitas kronik untuk
mengetahui keamanan penggunaan tepung kulit lidah buaya dalam
jangka panjang.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




DAFTAR ACUAN


1. Furnawanthi, I. Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya. Jakarta: Agro Media
Pustaka. 2003: 4-6.

2. Nurtiyani, E., Amarila M, & Irpan B. Sistem Skala Kecil Terpadu Potensi
Tanaman Lidah Buaya (Aloe chinensis Baker) berbasis Teknologi
Tepat Guna. Laporan Akhir Riset Unggulan UI Tahun 2007.
Depok. 2007: 1-10, 18.

3. Purbaya, JR. Mengenal dan Memanfaatkan Khasiat Aloe Vera (Lidah
Buaya). Bandung: Penerbit CV Pionir Jaya. 2003: 125,126.

4. Taryono & Rosihan R. Teknologi Budidaya dan Diversifikasi Produk
Lidah Buaya. Jurnal Perkembangan Teknologi TRO 15 (1). Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 2003: 12-16.

5. Sulaeman, S. Model Pengembangan Agribisnis Komoditi Lidah Buaya
(Aloe vera). Jurnal Agribisnis Aloe vera. 2007: 2-7.

6. Ebadi, M. Pharmacodynamic Basis of Herbal Medicine. USA: CRC
Press LLC. 2002: 164-165.

7. Novita, A. Pengaruh Pencekokan Simplisia Daun Lidah Buaya (Aloe
vera L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit (Mus musculus
L.) Galur DDY yang Diinduksi Aloksan. Skripsi Sarjana Biologi UI
Depok: Depertemen Biologi FMIPA UI. 2005: 35-38.


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




8. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Pedoman
Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2000: 1-22.

9. Loomis, Ted A. Toksikologi Dasar edisi ketiga. Terj. dari Essentials of
Toxicology oleh Imono Argo Donatus. Semarang: IKIP Semarang
Press. 2001: 225-233.

10. Hayes, AW. Principles and Methods for Acute and Subchronic Toxicity.
New York: Raven Press. 1982: 1-49.

11. Lu, FC. Toksikologi Dasar : Asas, Organ, Sasaran dan Penilaian Resiko
edisi 2. Jakarta: UI Press. 1995: 85-92, 225-231.

12. Price, SA. & Lorraine MW. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 4, buku 2. Terj. dari Pathophysiology: Clinical
Consepts of Disease Processes, oleh dr. Caroline Wijaya.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1995: 769-789.

13. Soeksmanto, A. Pengaruh Fraksi Aktif Tumbuhan Aglaia angustifolia
terhadap Ginjal Mencit (Mus musculus). Jurnal Natur Indonesia 6
(1). Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong. 2003: 50-51.

14. Harmita & Maksum R. Buku Ajar Analisis Hayati. Depok: Departemen
Farmasi FMIPA UI. 2004: 67-79.

15. Hodgson, E. & Patricia LE. A Textbook of Modern Toxicology.
Singapore: Appleton & Lange. 1997: 1-9, 109-111.

16. Backer, CA & Van Den Brink Jr. Flora of Java, volume III. Groningen:
NVP Noordhoff. 1968: 89.

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




17. Tjitrosoepomo, G. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press. 2000: 415.

18. Sugati S. & Ria, JH. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (1). Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI.
1991: 30.

19. Anonim. Herbs and Natural Supplements. Elsevier Australia. 2007: 17-
23.

20. World Health Organization. WHO Monograph on Selected Medicinal
Plants. Vol.1. Geneva: WHO Department of Essentials Drugs and
Medicines Policy. 1999: 37-38.

21. Sherwood, L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC. 2001: 462-468.

22. Himawan S, & Tim Patologi. Kumpulan Kuliah Patologi FK UI. Jakarta:
Bagian Patologi FK UI. 1973: 252-259.

23. Sjaifullah, MN. Evaluasi Fungsi Ginjal Secara Laboratorik. Surabaya:
lab-SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR: 1-6.

24. Calbeath, DF. Clinical Chemistry: A Fundamental Textbook.
Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1992: 240-245.

25. Burtis, CA. & Ashwood ER. Textbook of Clinical Chemistry Second
Edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1994: 1528-
1535.

26. Roos & Wilson. Anatomy and Physiology in Health and Illness 7
th

Edition. Livingstone: English Language Book Society. 1990: 624-
627.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




27. Ross, DL. & Ann Neely E. Textbook of Urinalysis and Body Fluids. USA:
Appleton-Century-Crofts. 1983: 47-50.

28. Soewoto, H, Sadikin M, & Kurniati V,. BIOKIMIA: Eksperimen
Laboratorium Bagian Biokimia FKUI. Jakarta: Penerbit Widya
Medika. 2000: 155-169.

29. Kaplan, A & A. Pesce. Clinical Chemistry: Theory, Analysis, Correlation
3
rd
. USA: Mosby Year Book Company. 1996: 484-502.

30. Anderson, S. & Susan C. Clinical Chemistry: Concepts and Applications.
Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1983: 367-374.

31. Murray, R, Daryl K, Peter A, Victor W. Biokimia Harper. Edisi 25. Terj.
dari Harpers Biochemistry 25
th
ed., oleh dr. Anna PB & dr. Tiara
MN. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2003: 340, 829.

32. Carpenter, J. Exotic Animal Formulary 2
nd
edition. Philadelphia: W.B.
Saunders Company. 2001: 292.

33. Lustgarten, JA & Wank, RE. Simple, Rapid, Kinetic method for Serum
Creatinine Measurement. Clinical Chemistry 18 (11). 1972: 1419-
1422.

34. Henry, JB. Clinical Diagnosis and Management Laboratorium Methods
18
th
Edition. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1991: 140-
143.

35. Malole, MB. & C.S.V. Pramono. Penggunaan Hewan-hewan Percobaan
di Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat
Antar Universitas Bioteknologi IPB. Bogor. 1989: 94,96,99.

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




36. Smith, J. & Soesanto M. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan
Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Penerbit UI-Press.
1988: 10-15, 30-35.

37. Hoff, J. Methods of Blood Collection in The Mouse. Lab. Animal 29 (10).
Michigan: University of Michigan. 2000: 50-51.

38. Alimul, Aziz. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika. 2003: 32-35.

39. Anonim. Berbagai Jenis Rancangan Percobaan. 2008.
http://analistat.com/old/index.php?id=artikel/rancangan_percobaa
n/jenis_rancangan. 10 Mei 2008, pk. 12.45 WIB.

40. Anonim. Diagnostica Merck: Directions for Use Clinical Chemistry.
Merck Darmstadt. 1976: 110-114.

41. Tanzil, R. Berbagai Masalah Pembuatan Sediaan Histologis. Jakarta:
Bagian Histologi FKUI. 1996: 7-8, 16-17, 21-24, 29-30.

42. Santoso, S. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 15.
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 2007: 211-221.

43. Anonim. Pengawalan dan Penyenggaraan Bendalir Badan Homeostatis.
Kuala Lumpur: Portal Pendidikan Utusan Melayu. 2002.
http://www.tutor.com.my/tutor/arkib2002.asp?e=SPM&S=BIO&b=
JAN&m=4&r=m&i=NOTA. 5 Februari 2008, pk. 16.15 WIB.






Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008















Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008







Gambar 1. Tanaman Lidah Buaya
(Aloe chinensis Baker)





Gambar 2. Tepung kulit lidah buaya
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008








Gambar 3. Sediaan uji tepung kulit lidah buaya





Gambar 4. Keratan membujur ginjal (43)
kontrol
Dosis I Dosis II Dosis III Dosis IV
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008







Gambar 5. Diagram nefron (43)
Keterangan:
1: arteriol aferen A: kapsula Bowman
2: arteriol eferen B: Tubulus proksimal
3: kapiler darah C: Lengkung Henle
4: venula renal D: Tubulus distal
E: Duktus pengumpul

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008





Gambar 6. Reaksi kimia pada pengukuran urea plasma (24).


Gambar 7. Reaksi kimia pada pengukuran kreatinin plasma (29).
H
3
C
C
H
3
C
C
O
NOH
+
H
2
O
H
+
H
3
C
C
H
3
C
C
O
O
+
NH
2
OH
Diasetilmonoksim
Diasetil
Hidroksilamin



H
2
N
C
H
2
N
O +
H
3
C
C
H
3
C
C
O
O
H
+
heat
H
3
C
C
C
H
3
C
+
Diasetil
O
2H
2
O
Diazin
C
N
N
Urea

NO
2
OH
+
NaOH
+
N
H
N
O
NH
CH
3
NH N
NH
O
-
NO
2
O
2
N
NO
2
Asam pikrat
Kreatinin
Kompleks Janovski
O
-
NO
2
NO
2
CH
3
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008







Gambar 8. Pengambilan darah dari ekor mencit





Gambar 9. Pengambilan darah dari mata
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008





Gambar 10. Diagram batang nilai rata-rata kadar kreatinin plasma
mencit jantan pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.


Gambar 11. Diagram batang nilai rata-rata kadar kreatinin plasma
mencit betina pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.

Keterangan: kelompok 1 = dosis 650 mg/kg bb; kelompok 2 = dosis 1300
mg/kg bb; kelompok 3 = dosis 2600 mg/kg bb; kelompok 4 = dosis 5200
mg/kg bb; kelompok 5 = kelompok kontrol.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008





Gambar 12. Kurva kalibrasi kadar urea plasma


Gambar 13. Diagram batang nilai rata-rata kadar urea plasma mencit
jantan pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.

Keterangan: kelompok 1 = dosis 650 mg/kg bb; kelompok 2 = dosis 1300
mg/kg bb; kelompok 3 = dosis 2600 mg/kg bb; kelompok 4 = dosis 5200
mg/kg bb; kelompok 5 = kelompok kontrol.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008





Gambar 14. Diagram batang nilai rata-rata kadar urea plasma mencit
betina pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan.


Gambar 15. Diagram batang nilai rata-rata diameter glomerulus mencit
jantan dan betina pada 14 hari setelah perlakuan.

Keterangan: kelompok 1 = dosis 650 mg/kg bb; kelompok 2 = dosis 1300
mg/kg bb; kelompok 3 = dosis 2600 mg/kg bb; kelompok 4 = dosis 5200
mg/kg bb; kelompok 5 = kelompok kontrol. Diameter glomerulus dalam m.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008





Gambar 16. Diagram batang nilai rata-rata jarak ruang antara
glomerulus dengan kapsula Bowman mencit jantan dan betina pada 14 hari
setelah perlakuan.

Keterangan: kelompok 1 = dosis 650 mg/kg bb; kelompok 2 = dosis 1300
mg/kg bb; kelompok 3 = dosis 2600 mg/kg bb; kelompok 4 = dosis 5200
mg/kg bb; kelompok 5 = kelompok kontrol. Jarak ruang antara glomerulus
dan kapsula Bowman dalam m.









Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008












Gambar 24. Histologis glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis II pada
14 hari setelah perlakuan.
Keterangan : A = glomerulus normal
B = ruang antara glomerulus dan kapsula Bowman




Gambar 25. Histologis glomerulus ginjal mencit betina kelompok III pada 14
hari setelah perlakuan.
Keterangan : A = glomerulus normal
A
B
A
B
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




B = ruang antara glomerulus dan kapsula Bowman






Gambar 26. Histologis glomerulus ginjal mencit betina kelompok dosis IV
pada 14 hari setelah perlakuan.
Keterangan : A = glomerulus normal
B = ruang antara glomerulus dan kapsula Bowman




















A
B
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008

















































Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




































Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 3
Perbandingan kandungan nutrisi
tepung kulit dan tepung daging lidah buaya (2)


PARAMETER SATUAN HASIL
Kulit Daging
Air
Abu
Protein
Lemak
Karbohidrat
Energi
Kalsium (Ca)
Magnesium (Mg)
Besi (Fe)
Kromium (Cr)
Natrium (Na)
Vitamin A
Vitamin C
Vitamin E
%
%
%
%
%
Kal/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/kg
mg/100 gram
IU/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
6,95 6,73
13,1 2,33
5,32 0,54
1,98 0,10
72,6 90,3
330 364
2982 409
507 162
8,0 2,06
< 0,035 < 0,034
422 241
< 0,5 < 0,5
1,16 < 2,0
1,39 0,03


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 4
Tahapan Perlakuan


No Perlakuan Hari ke-0 Hari ke-1 Setelah
24 jam
Setelah
14 hari
1 Timbang badan
2 Penyondean x x x
3 Pengukuran kadar
urea plasma
x x
4 Pengukuran kadar
kreatinin plasma
x x
5 Histologi x x x

Keterangan: = dilakukan
x = tidak dilakukan






Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 5
Hasil uji toksisitas akut tepung kulit lidah buaya


Kelompok
perlakuan
N Jumlah kematian
mencit jantan
Jumlah kematian
mencit betina
Dosis I (650mg/kg bb) 10 0 0
Dosis II (1300mg/kg bb) 10 0 0
Dosis III (2600mg/kg bb) 10 0 0
Dosis IV (5200mg/kg bb) 10 0 0
Kontrol normal 10 0 0











Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 6
Kadar kreatinin mencit jantan pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan

Kadar kreatinin masing-masing kelompok (mg/dl)
Pengamatan I II III IV V




24 jam





Rata-rata
0.500
0.750
0.750
0.375
0.375
0.750
0.625
0.500
0.875
0.750
0.63 0.18
0.500
0.500
0.625
0.375
0.750
0.875
0.625
0.500
0.750
0.375
0.59 0.17
0.625
0.750
0.625
0.500
0.375
0.750
0.625
0.625
0.375
0.500
0.58 0.13
0.500
0.750
0.625
0.375
0.500
0.625
0.875
0.750
0.625
0.500
0.61 0.15
0.500
0.375
1.000
0.625
0.500
0.625
0.625
0.750
0.875
0.500
0.64 0.19





14 hari




Rata-rata
0.625
0.750
0.625
0.250
0.875
0.625
0.750
0.500
0.875
0.750
0.66 0.19
0.500
0.625
0.875
0.375
0.625
0.750
0.625
0.500
0.750
0.500
0.61 0.15
0.750
0.750
1.000
0.875
0.375
0.750
0.625
0.375
0.250
0.750
0.65 0.24
0.500
0.625
0.625
0.375
0.500
0.750
1.000
0.750
0.625
0.500
0.63 0.18
0.500
0.375
0.875
1.000
0.500
0.625
0.625
0.750
0.750
0.625
0.66 0.19


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 7
Kadar kreatinin mencit betina pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan

Kadar kreatinin masing-masing kelompok (mg/dl)
Pengamatan I II III IV V




24 jam





Rata-rata
0.750
0.500
0.500
0.375
0.625
0.375
0.375
0.500
0.375
1.000
0.54 0.20
0.500
0.375
0.750
0.750
0.625
0.250
0.500
0.750
0.625
0.500
0.53 0.21
0.875
0.250
1.000
0.500
0.375
0.250
0.625
0.500
0.750
0.625
0.58 0.25
0.500
0.375
0.375
0.625
0.500
0.500
0.875
0.500
0.875
0.750
0.59 0.19
0.625
0.500
0.750
0.500
0.500
0.375
0.750
0.625
0.750
0.625
0.60 0.13





14 hari




Rata-rata
0.625
0.625
0.500
0.375
0.750
0.500
0.250
0.250
0.625
1.000
0.55 0.23
0.500
0.375
0.750
0.500
1.000
0.250
0.375
0.750
0.625
0.625
0.58 0.22
0.875
0.250
1.000
0.625
0.375
0.250
0.625
0.500
0.750
0.625
0.61 0.19
0.625
0.375
0.500
0.625
0.500
0.375
0.875
0.500
1.125
0.750
0.62 0.24
0.625
0.750
0.500
0.875
0.750
0.625
0.250
0.375
1.000
0.625
0.64 0.22


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 8
Data kurva kalibrasi urea


Konsentrasi larutan standar urea
(mg/dl)
Serapan
(A)
10,0 0.066
20,0 0.122
30,0 0.175
40,0 0.228
50,0 0.290
60,0 0.343

Keterangan: Pengukuran serapan standar urea menggunakan metode
Fearon dengan pereaksi diasetilmonoksim dan dilakukan pada panjang
gelombang 525 nm. Kemudian dilakukan perhitungan regresi linier dari data
tersebut sehingga didapatkan kurva kalibrasi yaitu y = 0,0098 + 0,00555 x
dengan koefisien korelasi (r) = 0,9998.





Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 9
Kadar urea mencit jantan pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan


Kadar urea masing-masing kelompok (mg/dl)
Pengamatan I II III IV V




24 jam





Rata-rata
28.1441
29.2252
44.1802
32.2883
32.2883
34.9910
39.8559
28.3243
42.0180
42.1982
35.35 6.21
44.0000
33.7297
28.3243
23.4595
23.8198
48.8649
35.1712
35.7117
42.3784
33.0090
34.85 8.41
36.0721
37.1532
35.1712
31.5676
27.4234
38.4144
32.2883
31.7477
36.2523
44.1802
35.03 4.59
29.9459
42.0180
38.9550
28.1441
29.7658
37.8739
33.0090
35.3514
38.4144
41.6577
35.51 5.06
25.9820
28.5045
44.3604
48.1441
27.4234
33.7297
46.8829
29.7658
35.7117
36.0721
35.66 8.22




14 hari





Rata-rata
35.1712
23.8846
36.2523
41.1171
38.5950
35.7117
38.0541
23.4595
45.2613
41.2973
35.88 7.12
38.4144
33.1892
31.3874
32.2883
28.6847
47.6036
35.1712
29.5856
41.1171
36.4324
35.39 5.79
37.5135
36.6126
37.1532
30.4865
23.4595
40.5766
39.1351
24.0000
42.3784
44.3604
35.57 7.27
25.9820
49.2252
35.5315
23.2793
29.7658
40.9369
38.0541
37.8739
36.4324
42.0180
35.91 7.78
28.3243
31.3874
35.1712
44.7207
32.6486
35.5315
46.8829
31.7477
36.7027
37.8739
36.10 5.86

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 10
Kadar urea mencit betina pada 24 jam dan 14 hari setelah perlakuan


Kadar urea masing-masing kelompok (mg/dl)
Pengamatan I II III IV V




24 jam





Rata-rata
26.7027
35.3514
38.4144
22.0180
30.8468
39.6757
40.9369
31.0270
49.2252
36.6126
35.08 7.78
27.0631
35.3514
41.4774
31.7477
46.1622
26.7027
42.1982
22.9189
39.1351
44.1802
35.69 8.19
39.3153
44.0000
36.6126
41.2973
28.3243
38.4144
42.7387
36.9729
28.6847
24.9009
36.13 6.59
40.7568
33.7297
38.2342
29.9459
33.5495
42.5586
41.2973
36.2523
31.2072
26.7027
35.42 5.30
34.0901
45.6216
36.7928
28.5045
26.7027
38.5946
34.8108
33.7297
46.8829
36.9730
36.27 6.42





14 hari




Rata-rata
29.0450
24.9009
33.1892
40.7568
35.7117
35.3514
33.7297
39.8559
41.2973
38.4144
35.23 5.28
37.8739
30.4865
22.9189
31.2072
34.9910
47.3091
28.8649
44.3604
40.0360
42.1982
36.02 7.69
31.3874
40.5766
42.5586
36.4324
32.4685
28.6847
37.3333
33.0090
44.5405
36.6126
36.36 5.10
42.9189
33.5495
29.5856
28.5045
31.5676
38.2342
42.3784
37.8739
31.7477
42.1982
35.86 5.54
22.1982
39.6757
41.2973
43.6396
34.4505
47.4234
36.9729
27.0631
34.8108
37.3333
36.49 7.49

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 11
Diameter glomerulus mencit jantan pada 14 hari setelah perlakuan

Kelompok perlakuan Diameter glomerulus
(m)
Diameter glomerulus SD
(m)
Dosis I
(650 mg/kg bb)
55.580
57.589
59.375
65.179
55.580


58.66 3.97
Dosis II
(1300 mg/kg bb)
56.473
60.268
54.018
55.804
61.607


57.63 3.18
Dosis III
(2600 mg/kg bb)
52.902
55.357
54.464
60.491
59.152


56.47 3.21
Dosis IV
(5200 mg/kg bb)
55.357
56.696
55.657
58.482
58.482


56.93 1.49
Dosis V
(kontrol)
53.571
62.723
56.250
63.393
54.911


58.17 4.57

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 12
Diameter glomerulus mencit betina pada 14 hari setelah perlakuan

Kelompok
perlakuan
Diameter glomerulus
(m)
Diameter glomerulus SD
(m)
Dosis I
(650 mg/kg bb)
56.250
58.482
60.714
64.734
56.696


59.38 3.47
Dosis II
(1300 mg/kg bb)
57.813
56.920
58.036
53.795
64.286


58.17 3.82
Dosis III
(2600 mg/kg bb)
52.455
56.696
66.518
57.589
58.259


58.30 5.12
Dosis IV
(5200 mg/kg bb)
55.657
58.482
66.518
54.911
60.491


59.21 4.66
Dosis V
(kontrol)
52.455
57.589
65.179
56.696
61.607


58.71 4.87

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 13
Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman mencit jantan
pada 14 hari setelah perlakuan

Kelompok
perlakuan
Jarak ruang antara glomerulus
dengan kapsula Bowman (m)
Jarak ruang antara glomerulus
dengan kapsula Bowman SD (m)
Dosis I
(650 mg/kg bb)
7.366
7.143
8.036
7.589
6.384


7.30 0.61
Dosis II
(1300 mg/kg bb)
7.634
6.964
7.232
6.741
6.786


7.07 0.37
Dosis III
(2600 mg/kg bb)
6.786
7.277
7.946
7.634
6.741


7.28 0.53
Dosis IV
(5200 mg/kg bb)
6.607
7.679
6.652
7.143
7.679


7.15 0.53
Dosis V
(kontrol)
6.964
7.589
7.679
7.277
7.321


7.37 0.28
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 14
Jarak ruang antara glomerulus dengan kapsula Bowman mencit betina
pada 14 hari setelah perlakuan

Kelompok
perlakuan
Jarak ruang antara glomerulus
dengan kapsula Bowman (m)
Jarak ruang antara glomerulus dengan
kapsula Bowman SD (m)
Dosis I
(650 mg/kg bb)
6.696
6.295
7.500
7.232
6.786


6.90 0.47
Dosis II
(1300 mg/kg bb)
7.321
6.696
6.607
7.232
6.295


6.83 0.43
Dosis III
(2600 mg/kg bb)
6.250
5.759
7.634
6.563
7.366


6.71 0.78
Dosis IV
(5200 mg/kg bb)
6.607
5.804
7.098
6.607
7.321


6.69 0.58
Dosis V
(kontrol)
7.277
6.964
7.545
7.054
6.473


7.06 0.40
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 15
Nilai signifikansi kadar kreatinin dan urea plasma mencit jantan pada 24 jam
dan 14 hari setelah perlakuan


Parameter Kelompok Nilai Signifikansi
Uji Distribusi
Normal
Uji
Homogenitas
Uji ANAVA
Kreatinin 24 jam 1
2
3
4
5
0.158
0.466
0.177
0.691
0.441


0.813


0.910
Kreatinin 14 hari 1
2
3
4
5
0.176
0.691
0.269
0.391
0.854


0.556


0.966
Urea 24 jam 1
2
3
4
5
0.154
0.696
0.828
0.362
0.203


0.246


0.999
Urea 14 hari 1
2
3
4
5
0.106
0.448
0.155
0.840
0.360


0.886


0.999

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 16
Nilai Signifikansi kadar kreatinin dan urea plasma mencit betina pada 24 jam
dan 14 hari setelah perlakuan


Parameter Kelompok Nilai Signifikansi
Uji Distribusi
Normal
Uji
Homogenitas
Uji ANAVA
Kreatinin 24 jam 1
2
3
4
5
0.418
0.137
0.717
0.080
0.191


0.396


0.919
Kreatinin 14 hari 1
2
3
4
5
0.569
0.841
0.441
0.190
0.937


0.978


0.894
Urea 24 jam 1
2
3
4
5
0.983
0.437
0.237
0.758
0.553


0.572


0.995
Urea 14 hari 1
2
3
4
5
0.466
0.943
0.862
0.193
0.773


0.508




0.993

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Tabel 17
Nilai signifikansi diameter glomerulus dan jarak ruang antara glomerulus
dengan kapsula Bowman pada 14 hari setelah perlakuan


Parameter Kelompok Nilai Signifikansi
Uji distribusi
normal
Uji
Homogenitas
Uji ANAVA
Diameter
Glomerulus Mencit
Jantan
1
2
3
4
5
0.174
0.565
0.544
0.191
0.189


0.101




0.853
Diameter
Glomerulus Mencit
Betina
1
2
3
4
5
0.439
0.412
0.424
0.467
0.945


0.933


0.990
Jarak ruang antara
Glomerulus
dengan Kapsula
Bowman Mencit
Jantan
1
2
3
4
5
0.897
0.427
0.507
0.156
0.732


0.569


0.865
Jarak ruang antara
Glomerulus
dengan Kapsula
Bowman Mencit
Betina
1
2
3
4
5
0.884
0.508
0.726
0.605
0.914


0.362


0.819
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008



















Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 1
Skema Pelaksanaan Penelitian





















Aklimatisasi hewan uji selama 2 minggu
Pengelompokkan hewan uji yang sehat secara acak
Sebelum perlakuan, hewan uji dipuasakan terlebih dahulu selama 2 jam
Pemberian sediaan uji berdasarkan dosis yang telah
disesuaikan dengan berat badan mencit
Pengamatan gejala-gejala perilaku hewan uji secara umum
Pada 24 jam setelah perlakuan, dilakukan perhitungan jumlah hewan uji
yang mati dan pengambilan darah melalui ekor
Pengukuran kadar kreatinin dan urea plasma
Pada 14 hari setelah perlakuan, dilakukan pengambilan darah melalui
sinus orbital mata dan pengambilan organ ginjal
Pengukuran kadar kreatinin dan urea plasma serta
pembuatan preparat histologi ginjal
Pengolahan data dengan SPSS
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 2
Cara Penetapan Dosis


Berdasarkan hasil orientasi, dosis tertinggi yang dapat dikeluarkan dari
sonde mencit adalah 5200 mg/kg bb mencit. Dosis ini selanjutnya akan
menjadi dosis IV. Sebagai dosis I digunakan dosis satu kapsul untuk manusia
yang mengandung 500 mg tepung kulit lidah buaya. Dosis ini sesuai dengan
dosis yang telah diteliti berkhasiat sebagai antihiperglikemia.
Dosis untuk mencit diperoleh dengan mengalikan dosis manusia
dengan faktor konversi dan faktor farmakokinetik. Faktor konversi dari
manusia ke mencit 20 gram adalah 0,0026. Sementara faktor farmakokinetik
yang digunakan adalah 10. Kelipatan dosis yang digunakan adalah kelipatan
dua. Perhitungan dosis yang digunakan sebagai berikut:
Dosis I untuk 20 g mencit setelah dikonversi adalah:
500 mg x 0,0026 x 10 = 13 mg/20 g bb mencit per hari
Dosis II untuk 20 g mencit setelah dikonversi adalah:
1000 mg x 0,0026 x 10 = 26 mg/20 g bb mencit per hari
Dosis III untuk 20 g mencit setelah dikonversi adalah:
2000 mg x 0,0026 x 10 = 52 mg/20 g bb mencit per hari
Dosis IV untuk 20 g mencit setelah dikonversi adalah:
4000 mg x 0,0026 x 10 = 104 mg/20 g bb mencit per hari

Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 3
Cara Pembuatan Sediaan Uji


Pembuatan sediaan uji dilakukan dengan membuat dosis keempat
sebagai larutan induk, selanjutnya dilakukan pengenceran sesuai dengan
kelipatan dosis yang digunakan untuk membuat dosis 3, dosis 2 dan dosis 1.
Dosis IV yaitu 5200 mg/kg BB/hari sebagai larutan induk. Dosis untuk mencit
dengan berat badan 30 g: 5200 mg/1000 g x 30 g = 156 mg. Volume yang
diberikan kepada mencit adalah 1 ml. Jadi didapat konsentrasi 156 mg/ml.
Pembuatan sediaan uji dosis IV dilakukan dengan menimbang 3900 mg
tepung kulit lidah buaya kemudian digerus dalam mortir hingga halus
kemudian ditambahkan akuades hingga volumenya 25,0 ml dan diaduk
hingga homogen.
Sediaan uji dosis III yaitu 2600 mg/kg bb/hari dibuat dengan
mengambil 4 ml dari sediaan uji dosis IV, kemudian di ad dengan akuades
hingga 8 ml.
Sediaan uji dosis II yaitu 1300 mg/kg bb/hari dibuat dengan mengambil
2 ml dari sediaan uji dosis IV, kemudian di ad dengan akuades hingga 8 ml.
Sediaan uji dosis I yaitu 650 mg/kg bb/hari dibuat dengan mengambil 1
ml dari sediaan uji dosis IV, kemudian di ad dengan akuades hingga 8 ml.


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 4
Skema Pengukuran Kadar Kreatinin Plasma





















Sampel darah disentrifugasi dengan kecepatan 7000 rpm selama 5 menit
Pipet 0,1 ml plasma ke dalam tabung reaksi a
Buat campuran 1,0 ml larutan asam pikrat jenuh
+ 1,0 ml larutan NaOH 2% pada tabung b
Inkubasikan kedua tabung pada suhu 30
o
C selama 5 menit
kemudian campurkan dengan baik tabung b ke dalam tabung a
Segera ukur serapannya pada 515 nm pada detik ke-30 dan detik ke-90
Gunakan blanko yaitu campuran 1,0 ml larutan asam pikrat jenuh + 1,0 ml
larutan NaOH 2% + 0,1 ml akuades
Hitung kadar kreatinin plasma dengan menggunakan rumus
perbandingan antara serapan sampel dengan serapan standar
pada detik ke-30 dan detik ke-90
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 5
Perhitungan Kadar Kreatinin Plasma


Konsentrasi standar kreatinin adalah 1,000 mg/dl
Serapan standar pada detik ke-30 (At = 30) adalah 0,018
Serapan standar pada detik ke-90 (At = 90) adalah 0,026
Serapan sampel pada detik ke-30 (At = 30) misalnya 0,051
Serapan sampel pada detik ke-90 (At = 90) misalnya 0,056

Kadar kreatinin plasma (mg/dl) = A
t=90
(sampel) - A
t=30
(sampel) x C
A
t=90
(standar) - A
t=30
(standar)
= 0,056 0,051 x 1,000 mg/dl
0,026 0,018
= 0,625 mg/dl
Maka kadar kreatinin plasma adalah 0,625 mg/dl







Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 6
Skema Pengukuran Kadar Urea Plasma





















0,05 ml sampel darah + 1,0 ml larutan TCA 5%
Campurkan kemudian sentrifugasi dengan kecepatan 7000
rpm selama 5 menit
Campurkan kemudian letakkan tabung reaksi di penangas air mendidih
selama 6 menit
Angkat tabung reaksi kemudian diamkan selama 10
menit pada suhu kamar
Ukur serapannya pada 525 nm
Gunakan blanko yaitu campuran 2,0 ml larutan katalisator + 2,0 ml larutan DAM
Hitung kadar urea plasma dengan memasukan nilai serapan ke
dalam persamaan kurva kalibrasi standar urea
Buat campuran 2,0 ml larutan katalisator + 2,0 ml larutan DAM
pada tabung reaksi
Pipet 0,1 ml plasma kemudian masukkan ke dalam
tabung reaksi di atas
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 7
Cara Memperoleh Regresi Linier dari Persamaan Garis y = a + bx


a dan b adalah bilangan garis normal yang dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut :
a = ( Y) ( X
2
) ( X) ( XY)
N( X
2
) ( X)
2

b = N ( XY) ( X) ( Y)
N( X
2
) ( X)
2

Derajat kelinieran atau disebut juga koefisien korelasi dapat dihitung
dengan rumus :
r = N ( XY) ( X) ( Y)
{ N( X
2
) ( X)
2
} { N( Y
2
) ( Y)
2


Jika r = 1 maka korelasi antara X dan Y sempurna sehingga semua titik pada
diagram antara X dan Y terletak pada satu garis lurus.




Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 8
Perhitungan Kadar Urea Plasma


Persamaan kurva kalibrasi urea adalah y = 0,0098 + 0,00555 x
Serapan sampel ( y ) misalnya 0,166
Kadar urea ( x ) = y 0,0098 mg/dl
0,00555
= 28.1441 mg/dl
Maka kadar urea plasma adalah 28.1441 mg/dl













Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 9
Uji Distribusi Normal Saphiro-Wilk
terhadap Kadar Kreatinin Plasma Mencit Jantan
pada 24 Jam Setelah Perlakuan


Tujuan : mengetahui distribusi data kadar kreatinin plasma mencit jantan
Hipotesa : Ho = data kadar kreatinin plasma terdistribusi normal
Ha = data kadar kreatinin plasma tidak terdistribusi normal
: 0,05
Kriteria : Ho ditolak jika nilai signifikansi <
Hasil :
kelompok Shapiro-Wilk
Statistic df Sig.
kadar_kreatinin 1 .887 10 .158
2 .932 10 .466
3 .892 10 .177
4 .952 10 .691
5 .929 10 .441

Nilai Signifikansi untuk kelima kelompok perlakuan > 0,05, maka Ho diterima.
Kesimpulan: data kadar kreatinin plasma mencit jantan pada 24 jam setelah
perlakuan terdistribusi normal.


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 10
Uji Homogenitas Varian Levene
terhadap Kadar Kreatinin Plasma Mencit Jantan
pada 24 Jam Setelah Perlakuan


Tujuan : mengetahui homogenitas variansi data kadar kreatinin plasma
mencit jantan
Hipotesa : Ho = data kadar kreatinin plasma antar kelompok bervariansi
homogen
Ha = data kadar kreatinin plasma antar kelompok tidak
bervariansi homogen
: 0,05
Kriteria : Ho ditolak jika nilai signifikansi <
Hasil :
Levene Statistic df1 df2 Sig.
.393 4 45 .813


Nilai Signifikansi untuk kelima kelompok perlakuan > 0,05, maka Ho diterima.
Kesimpulan: data kadar kreatinin plasma mencit jantan pada 24 jam setelah
perlakuan bervariansi homogen.


Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008




Lampiran 11
Uji Analisis Varian (ANAVA) Satu Arah
terhadap Kadar Kreatinin Plasma Mencit Jantan
24 Jam Setelah Perlakuan


Tujuan : mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna pada data
kadar kreatinin plasma mencit jantan antar kelompok perlakuan.
Hipotesa : Ho = data kadar kreatinin plasma antar kelompok perlakuan
tidak berbeda secara bermakna
Ha = data kadar kreatinin plasma antar kelompok perlakuan
berbeda secara bermakna
: 0,05
Kriteria : Ho ditolak jika nilai signifikansi <
Hasil :

Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups .027 4 .007 .247 .910
Within Groups 1.223 45 .027
Total 1.250 49

Nilai Signifikansi untuk kelima kelompok perlakuan > 0,05, maka Ho diterima.
Kesimpulan: tidak ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan
terhadap data kadar kreatinin plasma mencit jantan pada 24
jam setelah perlakuan.
Uji toksisitas..., Sussi Kurniasih, FMIPA UI, 2008