Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA TANAH

MODUL 6
CALI FORNI A BEARI NG RATI O

KELOMPOK R.1
Erza Raihanza 1206244226
Novita Indraswari 1206217343
Wiena Murdianasari 1206260596

Tanggal Praktikum : 09 Maret 2014
Nama Asisten Praktikum : Riyadh
Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf :





LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2014
CALI FORNI A BEARI NG RATI O

A. Pendahuluan
1. Maksud dan Tujuan Percobaan:
Mendapatkan nilai CBR pada kadar air dan kepadatan tertentu.

2. Alat dan Bahan:
- Compaction Hammer.
- Mould.
- Sendok pengaduk tanah.
- Wadah untuk mencampur tanah dengan air.
- Botol penyemprot air.
- Pisau baja (straight edge).
- Timbangan.
- Oven.
- Alumunium can.
- Beban logam berbentuk lingkaran ( 10 lbs).
- Bak air.
- Piringan berlubang dengan dial pengukur swell.
- Mesin uji CBR.

3. Teori dan Rumus yang Digunakan:
Nilai CBR adalah perbandingan antara kekuatan sampel tanah
(dengan padatan tertentu dan kadar air tertentu) terhadap kekuatan batu
pecah bergradasi rapat sebagai standar material dengan nilai CBR = 100.
Percobaan ini dinamakan California Bearing Ratio karena batu yang
memiliki nilai CBR = 100 berada di California.

Untuk mencari nilai CBR dipakai rumus:










=
()
()
100%

Dengan Standard Unit Load pada harga-harga penetrasi:
Penetrasi Standard Unit Load
0.1 1000 psi
0.2 1500 psi
0.3 1900 psi
0.4 2300 psi
0.5 2600 psi

Beban (load) didapat dari hasil pembacaan dial penetrasi yang
kemudian dikorelasikan dengan grafik Calibration Prooving Ring.
Test Unit Load (psi) = tegangan ()


Dengan:
A = luas piston
P = M . LRC
M = dial reading
LRC = faktor kalibrasi

Metode ini awalnya diciptakan oleh O.J Poter kemudian
dikembangkan oleh California State Highway Departement, kemudian
dikembangkan dan dimodifikasi oleh Corps insinyur-insinyur tentara
Amerika Serikat (U.S. Army Corps of Engineers). Metode ini
mengkombinasikan percobaan pembebanan penetrasi di laboratorium atau
di lapangan dengan rencana empiris untuk menentukan tebal lapisan
perkerasan. Hal ini digunakan sebagai metode perencanaan perkerasan
lentur (flexible pavement) suatu jalan. Tebal suatu bagian perkerasan
ditentukan oleh nilai CBR.
Bedasarkan cara-cara mendapatkn contoh tanahnya, CBR dapat dibagi
menjadi:
1. CBR Lapangan (CBR inplace atau field inplace)
Digunakan untuk memperoleh nilai CBR asli di lapangan sesuai
dengan kondisi tanah pada saat itu. Umum digunakan untuk
perencanaan tebal perkerasan yang lapisan tanah dasarnya tidak
akan dipadatkan lagi. Pemeriksaan ini dilakukan dalam kondisi
kadar air tanah tinggi (musim penghujan), atau dalam kondisi
=

=
()


terburuk yang mungkin terjadi. Juga digunakan apakah kepadatan
yang diperoleh sesuai dengan yang kita inginkan.

2. CBR Lapangan Rendaman (undisturbed soaked CBR)
Digunakan untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli di
lapangan pada keadaan jenuh air dan tanah mengalami
pengembangan (swell) yang maksimum.
Hal ini sering digunakan untuk menentukan daya dukung tanah di
daerah yang lapisan tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi,
terletak pada daerah yang badan jalannya sering terendam air pada
musim penghujan dan kering pada musim kemarau. Sedangkan
pemerikasaan dilakukan pada musim kemarau.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah
dalam tabung (mould) yang ditekan masuk kedalam tanah
mencapai kedalaman yang diinginkan. Tabung berisi contoh tanah
dikeluarkan dan direndam dalam air selama beberapa hari sambil
diukur pengembagannya. Setelah pengembangan tidak terjadi lagi,
barulah dilakukan pemeriksaan besarnya CBR.
3. CBR Laboratorium
Tanah dasar (subgrade) pada konstruksi jalan baru dapat berupa
tanah asli, tanah timbunan, atau tanah galian yang telah
dipadatkan sampai mencapai kepadatan 95% kepadatan
maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah dasar tersebut
merupakan nilai kemampuan lapisan tanah memikul beban setelah
tanah tersebut dipadatkan. CBR ini disebut CBR laboratorium,
karena disiapkan di laboratorium. CBR laboratorium dibedakan
atas 2 macam, yaitu CBR laboratorium rendaman dan CBR
laboratorium tanpa rendaman.

B. Praktikum
1. Persiapan Percobaan
1) Menyiapkan satu plastic tanah lolos saringan No. 4 ASTM seberat
5kg.
2) Merencanakan kadar air yang diinginkan untuk masing-masing
kantong. Kadar air ini divariasikan -2% dari kadar air optimum pada
percobaan compaction, pada kadar air optimum, dan +2% dari kadar
air optimum. Untuk membuat kadar air yang diinginkan, perlu
diketahui terlebih dahulu kadar air awal. Kemudian ditambahkan air
dengan volume tertentu (V) untuk mencapai kadar air yang diinginkan
sebagai berikut:



2. Jalannya Praktikum
1) Memadatkan sampel tanah seperti pada percobaan Compaction.
2) Melakukan penetrasi sampel pada kondisi Unsoaked.
a. Menimbang mold dan tanah, kemudian meletakkan pada mesin
CBR dan memberikan beban ring di atas permukaan sampel tanah.
meletakkan piston di tengah-tengah beban ring sehingga
menyentuh permukaan tanah.
b. Memeriksa coading dan dial kemudian mengaturnya agar nol.
c. Melakukan penetrasi dengan penurunan konstan 0.05/menit.
d. Mencatat pembacaan dial pada penetrasi sebagai berikut: 0.025,
0.050, 0.075, 0.100, 0.125, 0.150, 0.175, 0.200, 0.250.
3) Melakukan penetrasi pada kondisi Soaked.
a. Setelah percobaan pada kondisi unsoaked, merendam contoh
tanah yang digunakan 96 jam untuk mengetahui pada kondisi
swelling.
b. Melakukan pencatatan swelling pada jam pertama sejak
memasukkannya ke dalam air. Selanjutnya pada jam ke 24, 48, 72,
dan 96 jam.
c. Setelah 96 jam, mengangkat mould dan tanah, kemudian
melakukan penetrasi seperti pada percobaan unsoaked namun
permukaan yang digunakan adalah sebaliknya.
d. Setelah selesai, mengeluarkan sampel tanah dan kemudian
mengambil sebagian di lapisan atas, sebagian di lapisan tengah,
dan sebagian lagi pada lapisan bawah untuk menghitung kadar
airnya.


3. Perbandingan dengan ASTM
1. Menurut ASTM, pembacaan dial dilakukan pada jam pertama, kedua,
ketiga, hari ke-2, hari ke-3, dan hari ke-4. Sedangkan pada praktikum
ini hanya dilakukan pembacaan pada jam pertama dan dilanjutkan hari
ke-2, hari ke-3, dan hari ke-4.
2. Menurut ASTM pembacaan dial dilakukan hingga dial menunjukkan
0.3, sedangkan pada praktikum ini dilakukan pembacaan dial hingga
0.25.

C. Hasil Praktikum
- Diameter rata-rata Mould
Mould Diameter (cm) Rata-rata
1 2 3
Sampel 1 15.16 15.26 15.26 15.23
Sampel 2 15.22 15.25 15.21 15.23
Sampel 3 15.28 15.26 15.27 15.27

- Tinggi rata-rata Mould
Mould Tinggi (cm) Rata-rata
1 2 3
Sampel 1 11.55 11.53 11.56 11.55
Sampel 2 11.53 11.59 11.63 11.58
Sampel 3 11.49 11.44 11.45 11.46

- Berat Mould
Mould Berat (gram)
Sampel 1 3774
Sampel 2 3960
Sampel 3 3808

- Menghitung Volume Air Tambahan




Sampel w
o
(%) w
x
(%) W (gram) V
add
(ml)
1 26 43.3 5000 686.5
2 26 38.3 5000 488
3 26 40.8 5000 587.30

- Menghitung Kadar Air pada Kondisi Unsoaked





=

100%


0
1 +
0
=
Unsoaked
Sampel w
can
(gram) w
wet
(gram) w
dry
(gram) w (%)
1 22.42 233.86 163.05 50.35
2 18.53 241.17 164.07 52.98
3 21.02 227.22 161.01 46.81

- Menghitung Nilai Kerapatan Kering pada Kondisi Unsoaked
Unsoaked
Sampel Diameter
(cm)
Tinggi
(cm)
Volume
(cm)
Massa Mould
(gram)
Massa
Total
(gram)
Massa
Tanah
(gram)
1 15.23 11.55 2103.06 3774 7492 3718
2 15.23 11.58 2108.52 3960 7544 3584
3 15.27 11.46 2097.65 3808 7471 3663





Dimana w adalah kadar air kondisi Unsoaked
Unsoaked
Sampel w (%)
wet
(gram/cm)
dry
(gram/cm)
1 50.35 1.77 1.18
2 52.98 1.70 1.11
3 46.81 1.75 1.19

- Menghitung Kadar Air pada Kondisi Soaked




Soaked
Sampel w
can
(gram) w
wet
(gram) w
dry
(gram) w (%)
1 16.98 218.65 151.36 50.07
2 25.76 311.66 220.63 46.71
3 19.67 257.81 181.7 46.97


0
1 +
0
=
=

100%

1 +

- Menghitung Nilai Kerapatan Kering pada Kondisi Soaked
Soaked
Sampel Diameter
(cm)
Tinggi
(cm)
Volume
(cm)
Massa
Mould
(gram)
Massa Total
(gram)
Massa
Tanah
(gram)
1 15.23 11.55 2103.06 3774 11028 7254
2 15.23 11.58 2108.52 3960 10872 6912
3 15.27 11.46 2097.65 3808 10950 7142





Dimana w adalah kadar air pada kondisi Soaked
Soaked
Sampel w (%)
wet
(gram/cm)
dry
(gram/cm)
1 50.07 3.45 2.30
2 46.71 3.28 2.24
3 46.97 3.40 2.31

- Pembacaan Beban Pada Sampel













=
() ()


=
() (24)
3
2

1 +

Sampel 1
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 1 1 8 8
0.050 2 1.3 16 10.4
0.075 2.5 2 20 16
0.100 3 2.1 24 16.8
0.125 3.5 3 28 24
0.150 4 4 32 32
0.175 5 4.5 40 36
0.200 5.5 5 44 40










0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 1
Unsoaked
Soaked
Sampel 2
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 7 4.5 56 36
0.050 10 6.5 80 52
0.075 11 7.5 88 60
0.100 13 8.5 104 68
0.125 14 9.5 112 76
0.150 15 10 120 80
0.175 16 11 128 88
0.200 18 12 144 96










0
20
40
60
80
100
120
140
160
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 2
Unsoaked
Soaked
Sampel 3
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 3 1 24 8
0.050 5 2.5 40 20
0.075 7 4.5 56 36
0.100 9 7 72 56
0.125 10 10 80 80
0.150 11 11 88 88
0.175 12 12 96 96
0.200 13 12.5 104 100




- Menentukan Nilai CBR pada Penetrasi 0.1 dan 0.2 pada
kondisi Soaked dan Unsoaked
a. Penetrasi 0.1




b. Penetrasi 0.2


0
20
40
60
80
100
120
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 3
Unsoaked
Soaked
=
() ()

1000
100%
=
() ()

1500
100%
Sampel 1
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 3 2.1 2.4 1.68
0.2 5.5 5 2.93 2.67


Sampel 2
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 13 8.5 10.4 6.8
0.2 18 12 9.6 6.4


Sampel 3
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 9 7 7.2 5.6
0.2 13 12.5 6.93 6.67


- Menentukan Nilai Swelling Test





Didapat hasil nilai swelling sebagai berikut:

Sampel 1
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 22 0.48
24 34 0.75
48 36 0.79
72 37 0.81
96 39 0.86


=
(96 ) 2.54 0.001

100



Sampel 2
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 60 1.32
24 68 1.49
48 70 1.54
72 72 1.58
96 75 1.65




0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
0 12 24 36 48 60 72 84 96 108
Nilai Swelling Sampel 1
Sampel 1
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
1.8
0 12 24 36 48 60 72 84 96 108
Nilai Swelling Sampel 2
Sampel 2
Sampel 3
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 53 1.17
24 57 1.26
48 64 1.42
72 69 1.53
96 72 1.6



0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
1.8
0 12 24 36 48 60 72 84 96 108
Sampel 3
Sampel 3
D. Analisa
Analisa Percobaan
Percobaan CBR atau California Bending Ratio memiliki tujuan untuk
menentukan nilai CBR pada kepadatan dan kadar air tertentu serta nilai
swelling. CBR sendiri merupakan nilai kekuatan tanah yang dibandingkan
dengan kekuatan kekuatan sampel tanah (dengan padatan tertentu dan kadar
air tertentu) terhadap kekuatan batu pecah bergradasi rapat sebagai standar
material dengan nilai CBR = 100.

Sebelum percobaan dilakukan, pada beberapa hari sebelumnya dilakukan
persiapan terhadap sampel-sampel tanah yang akan digunakan pada
praktikum terlebih dahulu. Sampel tanah yang digunakan pada percobaan ini
adalah 3 buah kantong tanah yang lolos saringan No. 4 ASTM dengan berat
masing-masing sebesar 5 kg. Tanah pada masing-masing kantong tersebut
kemudian divariasikan kadar airnya yaitu -2% dari kadar air optimum, kadar
air optimum, dan +2% dari kadar air optimum. Kadar air optimum tersebut
didapat dari percobaan compaction, adalah sebesar 40.8% sehingga nilai
kadar air pada saat +2% adalah sebesar 43.3% dan pada saat -2% adalah
sebesar 38.3%.

Untuk membuat kadar air agar menjadi sesuai yang diinginkan adalah dengan
cara mencari tahu kadar air pada kondisi awalnya terlebih dahulu, kemudian
menambahkan jumlah air ke dalam tanah tersebut yang dicari tahu dengan
cara:




Kadar air tanah pada saat awal adalah sebesar 26% sehingga pada saat kadar
air dibuat menjadi sebesar 38.3% air yang ditambahkan adalah sebesar
488ml, kemudian kadar air pada tanah menjadi optimum air yang
ditambahkan kedalam tanah tersebut adalah sebesar 587.30ml, dan kemudian
pada saat kadar air sebesar 43.3% air yang harus ditambahkan adalah sebesar
686.5ml.

Setelah kadar air yang diinginkan didapat, kemudian hal yang dilakukan
berikutnya adalah mengukur diameter serta tinggi dari mould yang digunakan
menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter serta tinggi mould
dilakukan sebanyak 3 kali yang kemudian dirata-ratakan. Nilai rata-rata ini
lah yang digunakan sebagai tinggi dan diameter dari mould tersebut lalu
dicari Volume dari mould tersebut dengan menggunakan persamaan Volume
tabung.





Setelah semua perhitungan dilakukan, mould yang digunakan dalam
percobaan terlebih dahulu ditimbang kemudian diolesi dengan oli pada

1 +
0
=

=
1
4

2

permukaan pada bagian dalam mould, hal ini dilakukan agar tidak ada sisa
tanah menempel pada permukaan mould. Kemudian dilakukan pemadatan
tanah seperti pada percobaan compaction namun, ada beberapa perbedaan
antara percobaan compaction dengan percobaan CBR yaitu pada percobaan
CBR mould yang digunakan lebih besar dan tumbukan per layer adalah
sebanyak 56 kali. Tanah yang telah dipadatkan tersebut kemudian diratakan
dengan menggunakan sendok perata kemudian dirapihkan dengan
menggunakan benang lalu ditimbang kembali beratnya guna mengetahui
berat tanah dalam mould tersebut.

Selesai ditimbang tanah tersebut diuji pada mesin CBR untuk dihitung nilai
penetrasi dari padatan tanah tersebut. Penetrasi dilakukan dengan cara
menaruh ring beban di atas padatan tanah kemudian meletakkannya pada
mesin CBR, lalu mengatur dial agar pada posisi 0. Penetrasi yang dihitung
adalah pada setiap penurunannya kelipatan 0.025 hingga penurunannya
mencapai 0.200. Penetrasi pada kondisi inilah yang disebut kondisi
unsoaked.

Tanah tersebut beserta mould-nya kemudian direndam dalam bak air untuk
mengetahui nilai swelling dari tanah. Perendaman ini dilakukan selama 96
jam. Kemudian untuk mengetahui nilai swelling, dilakukan pembacaan
dengan menggunakan dial pada saat 1 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam
begitu tanah dan mould direndam. Begitu selesai direndam, tanah dan mould
diangkat dan ditiriskan guna mengeluarkan air yang tertampung dalam mould
lalu tanah kembali diuji penetrasinya dengan menggunakan mesin CBR. Pada
kondisi ini disebut sebagai kondisi soaked. Cara pengukuruan penetrasi ini
sama seperti pada saat tanah dalam kondisi unsoaked.

Selesai dilakukan penetrasi, tanah tersebut dikeluarkan dari mould dengan
menggunakan extruder. Tanah yang dikeluarkan masih dalam bentuk suatu
padatan. Kemudian tanah tersebut dibagi menjadi tiga bagian, dari setiap
bagian tersebut diambil bagian tengahnya untuk kemudian dimasukkan ke
dalam oven untuk mengetahui kadar airnya. Alasan mengapa yang diambil
adalah bagian tengah dari tanah adalah, karena pada bagian tengah dianggap
paling merepresentasikan keadaan tanah tersebut.


Analisa Hasil
Pada praktikum ini digunakan 3 sampel tanah yang kadar airnya divarisikan
pada saat optimum (40.8%), -2% dari optimum (38.3%), dan +2% dari
optimum (43.3%). Nilai optimum didapatkan dari praktimum compaction.
Untuk mendapatkan nilai kadar air yang sesuai, maka perlu menambahkan air
ke dalam sampel tanah yang kadar air awalnya adalah 26% dengan
menggunakan perhitungan sebagai berikut.





0
1 +
0
=
Dan ini adalah hasil perhitungan volume penambahan air untuk ketiga sampel
tersebut.

Sampel w
o
(%) w
x
(%) W (gram) V
add
(ml)
1 26 43.3 5000 686.5
2 26 38.3 5000 488
3 26 40.8 5000 587.3

Dari prktikum CBR atau California Bearing Ratio ini, kita dapat mengetahui
nilai CBR dari tanah yang digunakan pada kadar air dan kepadatan tertentu
serta nilai swelling dari tanah pada kondisi soaked. Selain nilai-nilai tersebut,
dapat diketahui juga nilai-nilai seperti kerapatan kering dari tanah pada
kondisi soaked dan unsoaked. Untuk mengetahui nilai kerapatan kering dari
tanah tersebut terlebih dahulu dicari berapa berat tanah dalam dalam mould
pada masing-masing kondisi yang kemudian dibandingkan dengan Volume
dari mould tersebut.



Dari perbandingan tersebut yang didapat merupakan nilai kerapatan basah
dari tanah sehingga untuk menemukan nilai kerapatan kering dari tanah
tersebut, nilai kerapatan basah tanah tersebut diturunkan dalam persamaan
berikut.


Dimana w merupakan kadar air dari tanah pada masing-masing kondisi.
Untuk menentukan nilai kerapatan kering pada kondisi unsoaked
digunakanlah kadar air pada kondisi unsoaked dan untuk menentukan nilai
kerapatan kering pada kondisi soaked digunakan kadar air pada kondisi
soaked.
Dari percobaan didapatkan nilai kerapatan kering sebagai berikut:
Unsoaked
Sampel w (%)
wet
(gram/cm)
dry
(gram/cm)
1 50.35 1.77 1.18
2 52.98 1.70 1.11
3 46.81 1.75 1.19


1 +

Soaked
Sampel w (%) wet (gram/cm) dry (gram/cm)
1 50.07 3.45 2.30
2 46.71 3.28 2.24
3 46.97 3.4 2.31

Setelah dicari nilai kerapatan kering, kemudian dicari besarnya tekanan dari
setiap kedalaman penetrasi yang dilakukan. Besarnya tekanan dihitung pada
saat kondisi tanah dalam keadaan unsoaked dan soaked. Berikut data tekanan
dari hasil penetrasi dan perbandingan antara dua kondisi dalam grafik
Sampel 1
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 1 1 8 8
0.050 2 1.3 16 10.4
0.075 2.5 2 20 16
0.100 3 2.1 24 16.8
0.125 3.5 3 28 24
0.150 4 4 32 32
0.175 5 4.5 40 36
0.200 5.5 5 44 40



0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 1
Unsoaked
Soaked
Sampel 2
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 7 4.5 56 36
0.050 10 6.5 80 52
0.075 11 7.5 88 60
0.100 13 8.5 104 68
0.125 14 9.5 112 76
0.150 15 10 120 80
0.175 16 11 128 88
0.200 18 12 144 96



Sampel 3
Penetration (inch) Dial Reading Stress (psi)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.025 3 1 24 8
0.050 5 2.5 40 20
0.075 7 4.5 56 36
0.100 9 7 72 56
0.125 10 10 80 80
0.150 11 11 88 88
0.175 12 12 96 96
0.200 13 12.5 104 100
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 2
Unsoaked
Soaked

Selain mencari kerapatan kering dan tekanan penetrasi dari tanah, pada
percobaan ini juga menentukan nilai CBR dari sampel tanah yang dihitung
dalam besaran persen. Nilai CBR ini merupakan perbandingan dari gaya
perlawanan penetrasi dari tanah terhadap penetrasi beban yang ditekan secara
kontinu. Hasil perbandingan ini mengacu pada batu pecah yang berada di
California yang dianggap memiliki nilai CBR = 100.
Perbandingan yang digunakan pada percobaan ini adalah saat penetrasi
dilakukan pada kedalaman 0.1 dan 0..2 karena pada kedalaman tersebut
dianggap paling menggambarkan nilai CBR dari tanah. Persamaan untuk
mencari nilai CBR pada kedalaman tersebut adalah sebagai berikut.
Pada saat 0.1


Pada saat 0.2


Angka sebesar 1000 psi dan 1500 psi merupakan nilai standard load unit
yang telah disesuaikan untuk setiap kedalaman penetrasi dalam menentukan
nilai CBR. Dari perhitungan tersebut didapatkan nilai sebagai berikut:

0
20
40
60
80
100
120
0 0.025 0.05 0.075 0.1 0.125 0.15 0.175 0.2 0.225 0.25
P
e
n
e
t
r
a
t
i
o
n

R
e
s
i
s
t
a
n
c
e

(
p
s
i
)

Penetration (inci)
Grafik Tegangan terhadap Penetrasi
Sampel 3
Unsoaked
Soaked
=
() ()

1000
100%
=
() ()

1500
100%
Sampel 1
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 3 2.1 2.4 1.68
0.2 5.5 5 2.93 2.67

Sampel 2
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 13 8.5 10.4 6.8
0.2 18 12 9.6 6.4

Sampel 3
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 9 7 7.2 5.6
0.2 13 12.5 6.93 6.67

Bedasarkan hasil perhitungan diatas, diketahui bahwa nilai CBR pada kondisi
unsoaked lebih besar dibanding dengan nilai CBR pada kondisi soaked. Hal
ini disebabkan karena pada kondisi soaked sampel tersebut telah direndam
selama 96 jam yang menyebabkan tanah menjadi jenuh air. Semakin
banyak air yang terkandung dalam tanah maka semakin lunak tanah dan tidak
padat lagi sehingga gaya yang diperlukan untuk menekan tanah tersebut
semakin kecil.
Nilai kekuatan CBR dapat dikategorikan sebagai berikut:

Sumber:
Herwan Dermawan, M.T. Uji California Bearing Ratio ASTM D1883 , halaman 3.
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND.TEKNIK_SIPIL/HERWAN_DERMAWAN/Praktikum_Mekanika_Tanah/XII_Uji
_CBR_By_HW_Ok.pdf (20 April 2013)

CBR Deskripsi
0 3 Sangat Rendah
3 7 Rendah
7 20 Sedang/Cukup
20 50 Bagus
>50 Sangat Bagus
Dilihat dari tabel diatas, dapat diklasifikasikan bagaimana nilai CBR dari
sampel tanah yang digunakan pada percobaan ini. Sampel 1 memiliki nilai
CBR berkisar antara 0-3 sehingga dikategorikan sangat rendah lalu sampel
3 memiliki nilai CBR berkisar antara 3-7 sehingga dapat dikategorikan
bernilai CBR rendah. Lain halnya dengan sampel 2, pada kondisi unsoaked
nilai CBR dari sampel berkisar antara 7-20 sehingga dapat dikategorikan
sedang/cukup sedangkan pada saat kondisi soaked nilai CBR-nya berkisar
antara 3-7 sehingga dikategorikan rendah Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa semakin rendah kadar airnya maka nilai CBR dari sampel
tanah tersebut akan semakin besar.
Pada percobaan ini perhitungan yang terakhir dilakukan adalah menghitung
nilai swelling dari sampel yang merupakan perhitungan seberapa besar
mengembangnya tanah. Nilai swelling diketahui dengan persamaan berikut



Berikut adalah nilai swelling dari sampel.
Sampel 1 (43.3%)
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 22 0.48
24 34 0.75
48 36 0.79
72 37 0.81
96 39 0.86

Sampel 2 (38.3%)
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 60 1.32
24 68 1.49
48 70 1.54
72 72 1.58
96 75 1.65



=
(96 ) 2.54 0.001

100

Sampel 3 (40.8%)
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 53 1.17
24 57 1.26
48 64 1.42
72 69 1.53
96 72 1.6

Bedasarkan 3 tabel diatas diketahui bahwa semakin hari nilai swelling pada
sampel semakin besar sebab kandungan air pada tanahnya bertambah. Selain
itu dapat diketahui juga dari data percobaan diatas, semakin kecil kadar air
pada tanah maka akan semakin besar nilai swelling dari tanah, hal ini
disebabkan karena air yang berada dalam tanah masih sedikit sehingga tanah
masih dapat menyerap air dengan jumlah banyak. Sedangkan pada tanah yang
berkadar air tinggi karena pada tanah airnya sudah banyak sehingga susah
menyerap air.

Analisa Kesalahan
Pada percobaan ini, terdapat beberapa kesalahan yang dapat mempengaruhi
hasil dari percobaan. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah.
- Kesalahan praktikan dalam menghitung kadar air optimum pada
percobaan compaction sehingga kadar air yang digunakan pada
sampel tidak sesuai.
- Kesalahan penambahan jumlah air dalam mendapatkan jumlah kadar
air yang diinginkan.
- Pada saat compaction tanah tidak terpadatkan secara merata sehingga
masih ada rongga pada mould.
- Timbangan yang digunakan tidak akurat.
- Adanya kesalahan saat pembacaan dial swelling dan dial penetrasi.
- Pembacaan dial swelling tidak tepat pada saat 1 jam, 24 jam, 48 jam,
72 jam, dan 96 jam.




E. Aplikasi
Pada kehidupan sehari-hari, percobaan CBR digunakan dalam merencakan
perkerasan jalan lentur (flexible pavement). Pada perkerasan jalan lenur ini,
digunakan tanah dengan kadar air optimum, karena apabila yang digunakan
merupakan tanah berkadar air yang terlalu rendah, pada saat hujan air yang
terserap oleh tanah banyak sehingga tanah mengembang kemudian
menyebabkan terjadinya dorongan terhadap lapisan aspal yang sehingga jalan
yang berada di atas tanah menjadi retak. Kemudian apabila tanah yang
digunakan memiliki kadar air yang tinggi,apabila pada saat terjadi hujan,
tanah tidak dapat menyerap air secara maksimal sehingga lapisan permukaan
jalan lama-lama rusak akibat air yang menggenang pada jalan.

F. Kesimpulan
1. Berikut adalah nilai CBR dari percobaan.

Sampel 1
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 3 2.1 2.4 1.68
0.2 5.5 5 2.93 2.67

Sampel 2
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 13 8.5 10.4 6.8
0.2 18 12 9.6 6.4

Sampel 3
Penetration (inch) Dial Reading CBR (%)
Unsoaked Soaked Unsoaked Soaked
0.1 9 7 7.2 5.6
0.2 13 12.5 6.93 6.67

2. Semakin besar kadar airnya maka semakin kecil nilai swelling nya









Sampel 1
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 22 0.48
24 34 0.75
48 36 0.79
72 37 0.81
96 39 0.86
Sampel 2
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 60 1.32
24 68 1.49
48 70 1.54
72 72 1.58
96 75 1.65

Sampel 3
Jam Dial Swelling (%)
0 0 0
1 53 1.17
24 57 1.26
48 64 1.42
72 69 1.53
96 72 1.6

3. Semakin kecil kadar air maka semakin besar nilai CBR nya

G. Refrensi
Herwan Dermawan, M.T. Uji California Bearing Ratio ASTM D1883 ,
halaman 3.
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND.TEKNIK_SIPIL/HERWAN_
DERMAWAN/Praktikum_Mekanika_Tanah/XII_Uji_CBR_By_HW_Ok.pdf

Tim Penyusun Modul Praktikum. Modul Praktikum Geoteknik dan Mekanika
Tanah I. Depok: Departemen Teknik Sipil FTUI, 2008.

http://soiltestingequipment.blogspot.com/2010/01/california-bearing-
ratio-cbr.html

http://karpetilmusipil.blogspot.com/2010/01/cbr-california-bearing-
ratio.html

http://labmektansipilusu.blogspot.com/2011/02/cbr-california-bearing-
ratio.html


LAMPIRAN


Alat CBR














Proses pemadatan tanah