Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Hari/tanggal : Selasa /10 Desember 2013

Biokimia Waktu : 11.00 12.40 WIB


PJP : Puspa Julistia Puspita, M.Si
Asisten : Resti SitiMuthmainah,S.Si
Lusianawati, S.Si







GLUKOSA DARAH

Tri Julina Ria J3L212189
Widhi Fathulloh P J3L112085
Widyawati J3L112136
Yaumil Sri S J3L112007





















PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Pendahuluan
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa, karena
mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam,
glukosa terdapat dala buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal
mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70 100
mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah dapat bertambah setelah kita makan-
makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa
darah akan kembali pada keadaan semula. Pada penderita diabetes melitus, jumlah
glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi 1994).
Gula darah pada orang sehat dikendalikan oleh insulin. Insulin adalah
hormon yang dibuat oleh pankreas. Insulin membantu glukosa dalam darah masuk
ke sel untuk menghasilkan tenaga. Gula darah yang tinggi dapat berarti bahwa
pankreas tidak memproduksi cukup insulin, atau jumlah insulin cukup namun
tidak bereaksi secara normal. Hal ini disebut dengan resistensi insulin (Girindra,
1989).
Bila kadar gula dalam darah melebihi atau kurang dari batas normal maka
sistem metabolisme dalam tubuh akan terganggu. Darah manusia normal
mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg
tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan
makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa
darah akan kembali pada keadaan semula. Salah satu contoh penyakit yang
disebabkan oleh kelainan kadar glukosa yaitu diabetes mellitus. Diabetes mellitus
atau yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang timbul
karena suatu gangguan dari pankreas, yaitu organ tubuh yang biasa menghasilkan
insulin dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel tubuh. Pada
orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah
lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi 1994). Darah sewaktu : 60
120 mg/dl; 2). Kadar gula darah puasa : 50 100 mg/dl ( Hendromartono 1998).
Terdapat dua jenis penyakit diabetes melitus yaitu diabetes melitus tipe 1
(insulin-dependent diabetes mellitus) yaitu kondisi defisiensi produksi insulin oleh
pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin. Diabetes
melitus tipe 2 (non-insulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat
ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin
yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin), sehingga tidak tercapai kadar
glukosa yang normal dalam darah. Diabetes melitus tipe 2 ini lebih banyak
ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh
dunia (Suryohudoyo 1996).
Tujuan
Percobaan bertujuan menentukan kadar glukosa darah dan
menghubungkan konsetrasi glukosa darah dengan kondisi kesehatan tubuh.

Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan meliputi gelas piala, pipet
tetes, pipet Mohr, tabung reaksi, pembakar bunsen, kaki tiga, kawat kasa, corong
gelas, penagas air, botol semprot, sudip, kaca arloji dan spektrofotometer.
Bahan-bahan yang digunakan adalah sampel darah ayam, larutan Na-
wolframat 10%, larutan H
2
SO
4,
larutan fosfomolibdat dan larutan kupritartrat.

Prosedur Percobaan
Sebanyak 1 mL sampel darah ayam dipipet ke dalam erlenmeyer kecil dan
ditambahkan dengan 7 mL aquades, 1 mL Na-wolframat 10% dan 1 mL H
2
SO
4
pertetes diselingi dengan pengocokkan agar homogen. Laruta terseut dicampurkan
baik-baik dengan cara dihomogenkan secara merata dan dibiarkan selama 10
menit kemudian disaring dengan kertas saring. Tabung Follin Wu kemudian
disiapkan. Tabung yang disiapkan berjumlah tiga tabung. Tabung pertama berisi 1
mL filtrat darah dan 1 mL kupritartrat. Tabung kedua berisi 1 mL standar glukosa
dan 1 mL kupritartrat dan tabung ketiga berisi 1 mL akuades dan 1 mL
kupritartrat. Ketiga tabung tersebut dipanaskan dalam air mendidih selama 8
menit kemudian didinginkan dan diencerkan dengan 7 mL akuades. Selanjutnya
ditambahkan dengan 1 mL larutan fosfomolibdat pada setiap tabungnya. Intensitas
dari setiap tabung dibaca menggunakan alat spektrofotometer pada panjang
gelombang 660 nm. Kadar glukosa dalam darah dihitung dalam mg/dL.

Data dan Hasil Pengamatan
Tabel 1 Penentuan kadar glukosa darah
Larutan Absorbansi Kadar glukosa
darah mg/dL
Blanko 0,000 0,000
Standar 0,011 100
Sampel 0,008 72,72

[Glukosa] = A sampel X [Standar] X Fp
A standar
= 0,008 X 1 mg/mL
0,011
= 0,7272 mg/mL
= 72,72 mg/dL

Pembahasan
Glukosa darah merupakan gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk
dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot
rangka. Penentuan kadar glukosa darah pada percobaan ini menggunakan metode
Follin-Wu. Prinsip penentuan kadar glukosa darah dengan metode Folin-Wu adalah reaksi
reduksi ion kupri di dalam larutan kupritartrat oleh gula pereduksi menjadi ion kupro. Senyawa
Cu
2
O yang terbentuk selanjutnya bereaksi dengan asam fosfomolibdat membentuk senyawa
fosfomolibdenum oksida yang berwarna biru tua. Intensitas warna biru yang terbentuk
sebanding dengan kadar glukosa di dalam darah sampel sehingga dapat diukur serapannya
secara spektrofotometri (Ganong 1995).
Pada percobaan menggunakan sampel darah ayam. Pada pembuatan filtrat, sampel darah yang
telah dipipet dilakukan penambahan dengan aquades bertujuan untuk mengencerkan darah
sehingga albumin dalam darah akan larut dalam akuades. Menurut Poedjiadi (1994),
albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh
panas. Albumin yang larut dalam air tersebut selanjutnya akan diendapkan oleh Na-
wolframat. H
2
SO
4
berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi
pengendapan albumin oleh Na-wolframat. Larutan yang telah dibuat tersebut
kemudian didiamkan selama 10 menit agar terjadi endapan albumin yang
berlangsung secara sempurna sehingga ketika akan dilakukan penyaringan akan
terpisah secara sempurna. Penambahan larutan kupritartrat berfungsi dalam
pembentukan warna biru ketika ditambahkan pereaksi fosfomolibdat. Hal tersebut
dapat terjadi karena larutan kupritartrat mengandung asam laktat dan ion Cu+.
Menurut Girinda (1989) pada penambahan kupritartrat, ion kupri akan direduksi
oleh gula menjadi kupro dan mengendap sebagai Cu
2
O. Penambahan pereaksi
fosfomolibdat kuprooksida melarut lagi dan warna larutan akan berubah menjadi
biru tua disebabkan oleh adanya oksidasi Mo. Intensitas warna larutan
meunjukkan ukuran banyaknya gula yang ada di dalam filtrat. Penambahan
H
2
SO
4
bertujuan menciptakan suasana asam karena reaksi dengan fosfomolibdat
terjadi pada suasana asam (Poedjiadi 1992). Ketiga tabung tersebut dipanaskan
dengan air mendidih selama 8 menit, pemanasan berfungsi menambah laju reaksi
oleh kupritartat. Ketiga tabung tersebut didinginkan, lalu diencerkan dengan 7 mL
akuades. Sebanyak 1 mL larutan fosfomolibdat ditambahkan pada setiap tabung.
Perubahan warna yang terjadi diamati dan intensitas warnanya diamati dengan
spektronik-20 pada panjang gelombang 660 nm.Uji glukosa darah pada percobaan
ini menggunakan metode spektofotometri. Spektrofotometri adalah salah satu cara
yang dapat digunakan dalam penentuan kadar glukosa dalam darah. Prinsip kerja
spektrofotometri berdasarkan Hukum Lambert Beer bila cahaya monokromatik
melalui suatu media, maka sebagian cahaya disebut diserap, sebagian dipantulkan,
dan sebagian dipancarkan. Perubahan warna yang terjadi diamati danintensitas
warnanya diamati dengan spektronik-20 pada panjang gelombang 660 nm
(Lehninger 1982). Sampel darah yang digunakan untuk pengujian kadar glukosa
dalam darah berasal dari darah ayam. (Poedjiadji 1994). Glukosa darah berasal
dari beberapa sumber, antara lain adalah dari karbohidrat makanan, dari senyawa
glikogenik melalui glikoneogenesis, dan dari glikogen hati oleh glikogenesis Pada
ternak ruminansia, dikenal adanya sistem penjaga kadar glukosa dalam darah
melalui proses glikolisis, glikogenesis dan lain sebagainya, sehingga konsentrasi
glukosa darah relatif konstan (Poedjiadji 1994). Kekurangan dari metode Follin-
wu yaitu pendeteksian meleset dari yang sebenarnya karena tidak hanya glukosa y
dapat mereduksi ion kupri, tapi jenis gula lain, keratinin, asam askorbat juga bisa.
Kelebihan hanya dibutuhkan dua pelarut, filtrat yg terbentuk lebih netral, proses
filtrasi cepat (Haden 1923).
Hasil pengamatan dan perhitungan menunjukkan bahwa larutan standar
glukosa memiliki kadar glukosa 100 mg/dL . Larutan blanko yang merupakan
campuran dari kupritartrat dan akuades memiliki kadar glukosa 0,000 mg/dL.
Sementara kandungan glukosa dalam adalah 72,72 mg/dL. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa kadar glukosa darah ayam yang dihasilkan diatas batas
normal. Hasil yang didapat melebihi kadar glukosa normal dalam darah ayam
karena menurut Swenson (1993) kadar glukosa darah normal pada ayam berkisar
antara 13 sampai 27 ml/dL. Kadar gula darah normal pada ternak ruminansia
bervariasi, yaitu antara 40 60 mg/100 mL dan 35 - 55 mg/100 mL (Poedjiadji
1994). Pada hewan terdapat salah satu penyakit yang dinamakan Hypocalcaemia.
Hypocalcaemia adalah penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu
atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita
yang mengalami depresi umum (Subronto 2001). Hypocalcaemia dapat
menghambat ekskresi insulin sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti
kenaikan kadar glukosa. (Girindra 1988). Sedangkan jika dibandingkan dengan
kadar glukosa darah manusia yang normal berkisar antara 70 100 /dL. Manusia
normal menurut John (1999) mempertahankan kadar glukosa sebesar 85 mg/dL.
Kadar glukosa yang terlalu tinggi atau terlalu rendah menyebabkan masalah
kesehatan serius. Saat makan, glukosa darah meningkat dalam waktu 30 menit.
Pankreas akan mendeteksi peningkatan kadar dan membebaskan insulin ke dalam
darah untuk mempercepat pemakaian glukosa oleh sel sehingga kadar glukosa
dipertahankan dalam batas normal. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita
makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah
glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Salah satu contoh penyakit
yang disebabkan oleh kelainan kadar glukosa yaitu diabetes mellitus. Diabetes
mellitus atau yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang
timbul karena suatu gangguan dari pankreas, yaitu organ tubuh yang biasa
menghasilkan insulin dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel
tubuh. Seseorang yang terkena diabetes mellitus selalu ditandai oleh naiknya
kadar gula darah (hiperglikemia) dan tingginya kadar gula dalam urine (Achjadi
2003). Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah
glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi, 1994).
Glukosa tidak bisa dikonversi menjadi glukosa 6 fosfat oleh reaksi dengan ATP,
reaksi akan dikatalisis dengan enzim heksokinase yang tidak spesifik dan juga
oleh glukokinase yang spesifik dalam hati.
Glukosa + ATP peroksidase Glukosa- 6-fosfat + ADP
Gambar 1 Reaksi glukosa dengan ATP (Price S A dan Wilson L M, 1995).

Glukosa-6-fosfat +NAD(P) G-6-PD 6-fosfoglukonat +
NADPH + H
+


Gambar 2 Reaksi glukosa menjadi fosfoglukonat (Price S A dan Wilson L M,
1995).
Reaksi tersebut dalam arah sebaliknya dihidrolisa sederhana glukosa 6
fosfat ke glukosa, dikatalisis oleh gluksoa 6 fosfat. glukosa yang tidak dikonversi
menjadi glikogen dan disimpan menjadi glikogen otot atau dikonversi mejadi
lemak dan disimpan menjadi depot-depot lemak (D.N Baron 1994).
Terdapat dua jenis penyakit diabetes melitus yaitu diabetes melitus tipe 1
(insulin-dependent diabetes mellitus) yaitu kondisi defisiensi produksi insulin oleh
pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin. Diabetes
melitus tipe 2 (non-insulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat
ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin
yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin), sehingga tidak tercapai kadar
glukosa yang normal dalam darah. Diabetes melitus tipe 2 ini lebih banyak
ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh
dunia. Sedangkan Gula darah di antara 40 dan 59 mg/dl kadar menunjukkan gula
darah rendah. Kekurangan ini juga disebut hipoglikemia (kekurangan kadar gula
dalam darah). Hipoglikemia paling sering terjadi pada orang yang sedang dalam
pengobatan diabetes atau prediabetes. (Suryohudoyo 1996). Seseorang yang
memiliki kadar gula darah tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala apa-apa.
Tapi biasanya semakin tinggi kadar gula darah, maka seseorang akan semakin
sering merasa haus dan ingin buang air kecil. Jika tidak ditangani dengan baik,
kadar gula darah yang tinggi ini bisa merusak jaringan fungsi sel beta yang
berfungsi mengeluarkan insulin dan menyebabkan
Beberapa cara metode pengukuran glukosa darah, yaitu tes gula darah
sewaktu, tes ini mengukur glukosa dalam darah yang diambil kapan saja, tanpa
memperhatikan waktu makan. Selanjutnya adalah tes gula darah puasa, tes ini
menggunakan contoh darah yang diambil saat kita tidak makan atau minum apa
pun (kecuali air putih) selama sedikitnya delapan jam. Tes toleransi glukosa tes
ini menggunakan contoh darah yang diambil saat kita tidak makan atau minum
apa pun (kecuali air putih) selama sedikitnya delapan jam. Metode lain yang
digunakan untuk mengukur kadar glukosa selanjutnya adalah metode Samogyi-
Nelson, dimana prinsipnya adalah Prinsip dari pemeriksaan ini adalah filtrat
mereduksi Cu dalam larutan alkali panas dan Cu direduksi kembali oleh arseno
molibdat membentuk warna ungu kompleks. Metode Orthotholuidin prinsipnya
adalah dimana glukosa akan bereaaksi dengan orthotholuidin dalam asam acetat
panas membentuk senyawa berwarna hijau. Warna yang terbentuk diukur
serapannya pada panjang gelombang 625 nm. Metode Glukosa o
ksidase/peroksidase. Glukosa oksidase adalah suatu enzim bakteri yang
merangsang oksidasi dengan menghasilkan H2O2. Dengan adanya enzim
peroksidase oksigen dari peroksid ini dialihkan keacceptor tertentu menghasilkan
suatu ikatan berwarna. Metode-metode pemeriksaan glukosa oksidase/peroksidae
yaitu GlucDH, prinsipnya adalah glukosa dehydrogenase mengkatalisasi
oksidase dari glukosa .

Simpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh kadar gula
darah pada ayam 72,72 mg/dL dimana kadar darah tersebut diatas dari kadar
normalnya.

Daftar Pustaka

Achjadi K. 2003. Penyakit Gangguan Metabolisme. Bogor : IPB Press.
Baron D. 1984. Kapita Selekta Patologi Klinik. Jakarta : EGC.
Ganong W. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Haden RL. 1923. A Modification Of the Folin-wu Method for Making Protein-
Free Blood Filtrates. The Journal Of Biological Chemistry.
Girinda A. 1989. Biokimia Patologi. Bogor: IPB Press.
Jhon R. 1999. Fisika Tubuh Manusia, diterjemahkan oleh Chairunnisa. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC . Terjemahan Physics of The Body Ed 2.
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya.
Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press
Price S A dan Wilson L M. 1995.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Prose s
Penyakit. Jakarta: EGC
Suryohudoyo P & Purnomo SU. 1996. Dasar Molekuler Diabetes Mellitus (DM),
Naskah Lengkap Surabaya Diabetes Update-I : 71-73.
Swenson MS. 1993. Physilogical Property and Chemical Constituen of Blood, in
Dukes Physology of Domestic Animal. 9th Ed. London: Comstock
Publising Asosiates Adivision of Corneil University Press.