Anda di halaman 1dari 6

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai

sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau
identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Pendaftaran Untuk Mendapatkan NPWP
Berdasarkan sistem self assessment setiap WP yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri
untuk memiliki NPWP dengan cara :
a. Datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau melalui Kantor Pelayanan
Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal
atau tempat kedudukan WP,
b. melalui internet di situs Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat www.pajak.go.id.
- Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang ingin dikenai pajak
secara terpisah dengan suaminya.
- Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha berbeda dengan
tempat tinggal, selain wajib mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
kegiatan usaha dilakukan.
- Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, bila sampai
dengan suatu bulan memperoleh penghasilan yang jumlahnya telah melebihi Penghasilan Tidak
Kena Pajak (PTKP) setahun, wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya.
- WP orang pribadi lainnya yang memerlukan NPWP dapat mengajukan permohonan untuk
memperoleh NPWP.

Fungsi NPWP & Pengukuhan PKP
a. Fungsi NPWP
- Sarana dalam administrasi perpajakan;
- Tanda pengenal diri atau Identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya;
- Menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasan administrasi perpajakan;
- Setiap WP hanya diberikan satu NPWP

Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian NPWP serta Pelaporan dan Pengukuhan PKP

Wajib Pajak (WP) mengisi formulir pendaftaran dan menyampaikan secara langsung atau
melalui pos ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi
Perpajakan (KP4) setempat dengan melampirkan:

1. Untuk WP Orang Pribadi Non-Usahawan:
Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau foto kopi paspor ditambah surat
keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala
Desa bagi orang asing.

2. Untuk WP Orang Pribadi Usahawan:
Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat
keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala
Desa bagi orang asing;
Surat Keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari instansi yang
berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa.
3. Untuk WP Badan:
Fotokopi akte pendirian dan perubahan terakhir atau surat keterangan penunjukkan
dari kantor pusat bagi BUT;
Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat
keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala
Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus aktif;
Surat Keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi yang berwenang minimal Lurah
atau Kepala Desa.

4. Untuk Bendaharawan sebagai Pemungut/ Pemotong :
Fotokopi KTP bendaharawan;
Fotokopi surat penunjukan sebagai bendaharawan.

5. Untuk Joint Operation sebagai wajib pajak Pemotong/pemungut:
Fotokopi perjanjian kerja sama sebagai joint operation;
Fotokopi NPWP masing-masing anggota joint operation;
Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat
keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala
Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus joint operation.

6. Wajib Pajak dengan status cabang, orang pribadi pengusaha tertentu atau wanita kawin
tidak pisah harta harus melampirkan foto kopi surat keterangan terdaftar.

7. Apabila permohonan ditandatangani orang lain harus dilengkapi dengan surat kuasa
khusus.

Pendafataran NPWP dan PKP Melalui Elektronik (Elektronic Registration)
Pendaftaran NPWP dan PKP oleh Wajib Pajak dapat juga dilakukan secara elektronik yaitu
melalui internet di situs Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat www.pajak.go.id. Wajib Pajak
cukup memasukan data-data pribadi (KTP/SIM/Paspor) untuk dapat memperoleh NPWP.
Berikut langkah-langkah untuk mendapatkan NPWP melalui internet:
1. Cari situs Direktorat Jenderal Pajak di Internet dengan alamat www.pajak.go.id;
2. Selanjutnya anda memilih menu e-reg (electronic registration);
3. Pilih menu buat account baru dan isilah kolom sesuai yang diminta ;
4. Setelah itu anda akan masuk ke menu Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi.
Isilah sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang anda miliki;
5. Anda akan memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) sementara yang berlaku
selama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran dilakukan. Cetak SKT sementara tersebut
beserta Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi sebagai bukti anda sudah terdaftar
sebagai Wajib Pajak.
6. Tanda tangani formulir registrasi, kemudian kirimkan/sampaikan langsung bersama SKT
sementara serta persyaratan lainnya ke Kantor Pelayanan Pajak seperti yang tertera pada
SKT sementara anda. Setelah itu anda akan menerima kartu NPWP dan SKT asli.

Wajib Pajak Pindah
Dalam hal WP pindah domisili atau pindah tempat kegiatan usaha, WP agar melaporkan diri ke
KPP lama maupun KPP baru dengan ketentuan:
1. Wajib Pajak Orang Pribadi Usahawan
Pindah tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas; adalah surat
keterangan tempat tinggal baru atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang
baru dari instansi yang berwenang (Lurah atau Kepala Desa)
2. Wajib Pajak Orang Pribadi non usaha
Surat keterangan tempat tinggal baru dari lurah atau Kepala Desa, atau surat
keterangan dari pimpinan instansi perusahaannya.
3. Wajib Pajak Badan.
Pindah tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha; adalah surat keterangan tempat
kedudukan atau tempat kegiatan yang baru dari Lurah atau Kepala Desa.

Penghapusan NPWP dan Persyaratannya
1. WP meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan, disyaratkan adanya fotokopi akte
kematian atau laporan kematian dari instansi yang berwenang;
2. Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan, disyaratkan
adanya surat nikah/akte perkawinan dari catatan sipil;
3. Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai Subjek Pajak. Apabila sudah
selesai dibagi, disyaratkan adanya keterangan tentang selesainya warisan tersebut dibagi
oleh para ahli waris;
4. WP Badan yang telah dibubarkan secara resmi, disyaratkan adanya akte pembubaran
yang dikukuhkan dengan surat keterangan dari instansi yang berwenang;
5. Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai BUT,
disyaratkan adanya permohonan WP yang dilampiri dokumen yang mendukung bahwa
BUT tersebut tidak memenuhi syarat lagi untuk dapat digolongkan sebagai WP;
6. WP Orang Pribadi lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai WP.

Pencabutan Pengukuhan PKP
1. PKP pindah alamat;
2. WP Badan yang telah dibubarkan secara resmi;
3. PKP lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai PKP.
4. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP dilakukan melalui proses
pemeriksaan.

e-filling adalah sebuah layanan penyampaian surat pemberitahuan (SPT) secara elektronik baik
orang pribadi (OP) atau badan, baik PPN atau PPh ke DJP menggunakan internet melalui ASP
(application service provider/penyedia jasa aplikasi) sehingga WP tidak perlu melakukan
pencetakan formulir laporan.
Untuk dapat menggunakan fasilitas e-filling WP harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Terdaftar sebagai WP/punya NPWP
Punya PC yang memadai dan terkoneksi lewat internet
Memiliki EFIN yang diperoleh dari KPP
Memiliki aplikasi SPT dan submission data ke ASP (laporpajak.com)
Memiliki sertifikasi digital yang didapatkan setelah melakukan registrasi e-filling
Tata cara penggunaan eFiling ini dapat dilakukan melalui 3 (tiga) tahap :
A. Pengajuan Permohonan untuk Mendapatkan eFIN
1. Wajib Pajak secara tertulis mengajukan permohonan untuk mendapatkan eFIN
(Electronic Filing Identification Number) yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan
Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar, sesuai dengan contoh surat permohonan,
dengan melampirkan :
- Fotocopy kartu Nomor Pokok Wajib Pajak atau Surat Keterangan
Terdaftar,
- Dan dalam hal Pengusaha Kena Pajak disertai dengan fotocopy Surat
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
2. Permohonan sebagaimana dimaksud di atas dapat disetujui apabila:
a. Alamat yang tercantum pada permohonan sama dengan alamat dalam
database (masterfile ) Wajib Pajak di Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberikan keputusan atas permohonan
yang diajukan oleh Wajib Pajak untuk memperoleh Electronic Filing
Identification Number (eFIN) paling lama 2 (dua) hari kerja sejak permohonan
diterima secara lengkap.
4. Jika eFIN (Electronic Filing Identification Number) hilang, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan pencetakan ulang dengan syarat:
- Menunjukkan Kartu NPWP atau Surat Keterangan Terdaftar yang asli
- Dan dalam hal Pengusaha Kena Pajak harus menunjukkan Surat
Pengusaha Kena Pajak yang asli.

B. Pendaftaran
1. Wajib Pajak yang sudah mendapatkan eFIN dapat mendaftar
melaluihttp://www.pajakku.com/sebagai penyedia Jasa Aplikasi yang resmi ditunjuk
oleh Direktur Jenderal Pajak.
2. Setelah Wajib Pajak mendaftarkan diri, Pajakku.com akan memberikan :
a. User ID dan Password
b. Aplikasi eSPT (Surat Pemberitahuan dalam bentuk elektronik) disertai dengan
petunjuk penggunaannya dan informasi lainnya.
c. Sertifikat ( digital certificate ) yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Pajak
berdasarkan eFIN yang didaftarkan oleh Wajib Pajak pada Pajakku.com. Digital
certificate ini akan berfungsi sebagai pengaman data Wajib Pajak dalam setiap
proses eFiling.

C. Penyampaian eSPT Secara eFiling
1. Dengan menggunakan aplikasi eSPT yang telah didapat maka Surat
Pemberitahuan Pajak dapat diisi secara offline oleh Wajib pajak.
2. Setelah pengisian SPT lengkap maka WP dapat mengirimkan secara online ke
Direktorat Jenderal Pajak melalui http://www.pajakku.com/.

Proses setelah e-filling
Saat ini sesuai PER 47, WP sudah dianggap menyampaikan SPT ke KPP, apabila semua data
pelaporannya sudah disampaikan dalam e-filling, sehingga WP cukup menyimpan NTTE sebagai
arsip dalam bentuk softcopy.
Apabila ada data dokumen lain yang wajib disampaikan yang tidak bisa disampaikan secara e-
filling, WP dapat menyampaikan dokumen tersebut ke kantor pelayanan pajak tempat WP
terdaftar secara langsung atau melalui pos secara tercatat, paling lambat :
14 hari sejak batas terakhir pelaporan surat pemberitahuan dalam hal surat pembertihuan
disampaikan sebelum batas akhir penyampaian
14 hari sejak tanggal penyampaian surat pemberitahuan secara elektronik dalam hal surat
pembertihuan disampaikan setelah lewat batas akhir penyampaian
Apabila kewajiban menyampaikan induk surat pemberitahuan dan surat setoran pajak dan
dokumen lain yang wajib dilampirkan, disampaikan melalui pos secara tercatat maka tanggal
penerimaan induk surat pemberitahuan serta lampirannya adalah tanggal yang tercantum pada
bukti pengiriman surat.
Bila WP tidak menyampaikan induk surat pemberitahuannya serta lampiran yang dipersyaratkan
dalam jangka waktu sebagaimana maksud diatas maka WP dianggap tidak menyampaikan surat
pemberitahuan.
Ada tujuh keuntungan jika Anda menggunakan fasilitas e-Filing melalui situs DJP, yakni:
1. Penyampaian SPT dapat dilakukan secara cepat, aman, dan kapan saja (24x7);
2. Murah, tidak dikenakan biaya pada saat pelaporan SPT;
3. Penghitungan dilakukan secara tepat karena menggunakan sistem komputer;
4. Kemudahan dalam mengisi SPT karena pengisian SPT dalam bentuk wizard;
5. Data yang disampaikan WP selalu lengkap karena ada validasi pengisian SPT;
6. Ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas; dan
7. Dokumen pelengkap (fotokopi Formulir 1721 A1/A2 atau bukti potong PPh, SSP Lembar
ke-3 PPh Pasal 29, Surat Kuasa Khusus, perhitungan PPh terutang bagi WP Kawin Pisah
Harta dan/atau mempunyai NPWP sendiri, fotokopi Bukti Pembayaran Zakat) tidak perlu
dikirim lagi kecuali diminta oleh KPP melalui Account Representative (AR).

Jenis ketetapan pajak
1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit
pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah
pajak yang masih harus dibayar.
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan
sebelumnya.
3. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena
jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
4. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
Adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan
jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
5. Surat Tagihan Pajak
adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau
denda. Timbulnya Surat Tagihan Pajak (STP) adalah karena keterlambatan kewajiban
melaporkan (Denda Pasal 7), keterlambatan pembayaran, atau karena terdapat kekurangan
pembayaran dari yang seharusnya, dan tunggakan pajak yang terlambat dibayar (STP bunga
Penagihan). Pokok pajak dari kekurangan pembayaran ini dapat menjadi kredit pajak yang
sifatnya mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar dalam perhitungan Surat Pemberitahuan
Tahunan (SPT Tahunan).