Anda di halaman 1dari 97

MENURUT teori pola asuh, gangguan kepribadian obsesif kompulsif atau sering

dikenal dengan sebutan perfeksionis muncul karena pola asuh yang otoriter,
penuh dengan larangan, kritik, dan celaan atau bersifat memaksa. Pola asuh
demikian menyebabkan seseorang berkembang dalam situasi yang tak
menyenangkan.

Perfeksionis, kata yang sering kita dengar dan kita juga sering mengucapkan atau
melabelkan seseorang dengan sifat perfeksionis, karena seseorang itu sangat
perfek (sempurna). Apapun yang ia kerjakan ia selalu menginginkan perfek,
sehingga terkadang dia tidak mempercayai penyelesaian tugas tersebut kepada
orang lain.

Jika pun itu harus ia lakukan, seseorang yang ia beri pekerjaan harus juga bisa
menyelesaikan pekerjaan tersebut sempurna seperti yang ia lakukan. Orang yang
memiliki sifat perfeksionis, orang yang menginginkan hasil kerja yang ia lakoni
atau pekerjaan yang dilakukan bawahannya sesempurna mungkin, kata psikolog
klinis, Dra Hamidah MSi, Sabtu (22/5).

Sifat perfeksionis ini dianggap wajar jika seseorang itu masih memiliki sikap
toleran, dianggap sebagai gangguan jika sudah mulai memaksakan kehendak,
menginginkan seseorang itu bisa mengerjakan ini dan itu sesempurna yang ia
lakukan. Psikolog yang lagi menimba ilmu di Universitas Kebangsaan Malaysia
untuk program S3-nya itu memaparkan, seorang perfeksionis yang wajar adalah
seorang yang mengharapkan hasil kerja sempurna. Namun ia memiliki sifat yang
toleran, tidak kaku dan terpaku pada standar yang tinggi, tidak memaksakan
kehendak, masih mampu menjalin relasi yang hangat dengan orang lain.

Juga katanya lagi, tidak terlalu perhitungan untuk kepentingan diri sendiri dan
orang lain, tidak kaku terhadap aturan, norma dan etika, dan tidak mengharapkan
semua orang tunduk kepada dirinya serta minta selalu dianggap orang yang paling
hebat. Apabila seorang yang dianggap perfeksionis disertai dengan sebagian atau
keseluruhan sifat yang tertera di atas, keadaan itu bukan perfeksionis lagi tetapi
sudah termasuk gangguan. Sebab selain sifat perfeksionis, dia juga memiliki
sifat-sifat sebagaimana tersebut di atas, dan sifat ini sangat mengganggu atau
menghambat orang lain. Gangguan ini sering dikategorikan sebagai gangguan
kepribadian tipe obsesif kompulsif yakni bersifat memaksa atau Obsesive
Compulsive Personality Disorder (OCPD), kata dosen Universitas Airlangga
Surabaya ini kepada Kontras.

Sebab terjadi obsesif kompulsif
Dikatakan Hamidah, sejumlah psikater meyakini gangguan ini bisa ini dapat
dialami oleh seseorang karena beberapa kemungkinan. Pertama berdasarkan teori
psikodinamika dari Freud, seseorang dapat mengalami gangguan ini jika masa
perkembangan fase anal dalam proses pembelajaran toilet training yang sangat
kaku atau otoriter. Seseorang akan merasa kurang mampu melakukan kebersihan
diri secara sempurna, sehingga dia berusaha selalu berperilaku bersih.

Sedangkan menurut ahli neurologi, seseorang yang mengalami cedera otak bagian
depan (lobus frontalis) mungkin karena kecelakaan atau gangguan stroke, maka
akan menurunkan fungsi-fungsi otak tersebut karena adanya kerusakan syaraf,
sehingga dapat merubah pikiran dan perilakunya. Menurut teori pola asuh,
gangguan ini dapat muncul karena adanya pola asuh yang sangat otoriter, penuh
dengan larangan, kritik dan celaan. Pola asuh yang demikian akan menyebabkan
seseorang berkembang dalam situasi yang kurang menyenangkan, sehingga ia
juga belajar dari pola asuh dan perilaku dari keluarga dan lingkungannya, ucap
Hamidah.

Karakter perfeksionis
Ada beberapa karakter yang ditunjukkan oleh orang yang perfeksionis, berbeda
dengan orang yang mengalami gangguan OCPD. Seorang perfeksionis menuntut
hasil kerjanya dan orang lain secara sempurna. Namun ia masih mampu menjalin
relasi sosial dengan orang lain secara hangat, masih dapat mentoleransi beberapa
aturan.

Biasanya tidak kaku, taat pada aturan tertentu, tidak memiliki standar yang jauh di
atas standar yang ditentukan, dan tidak perhitungan dan pelit terhadap diri sendiri
atau orang lain.

Sedangkan orang yang mengalami gangguan OCPD adalah orang yang memiliki
karakter yang dapat mengganggu dan menghambat orang lain dalam berhubungan
dengannya, baik dalam lingkup pekerjaan maupun secara sosial.

Berikut karakter orang yang mengalami gangguan OCPD:
1. Perasaan ragu-ragu dan hati-hati berlebihan.
2. Terpaku kepada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, dan jadwal, dan
perhitungan (terlalu normatif).
3. Perfeksionis yang menghambat penyelesaian tugas.
4. Ketelitian yang berlebihan dan cenderung tidak sebagaimana mestinya
misal dalam menciptakan kesenangan.
5. Terpaku dan tertarik berlebihan pada kebiasaan sosial.
6. Kaku dan keras kepala.
7. Mamaksakan kehendak agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya.
Sukar mengizinkan orang lain melakukan sesuatu.
8. Mencampuradukkan pikiran atau dorongan bersifat memaksa atau yang tidak
disukai.
9. Sangat perhitungan dalam menyimpan sesuatu, baik untuk dirinya sendiri atau
terhadap orang lain.

Contoh kasus
Seorang karyawan memiliki bos dengan gangguan OCPD. Seorang karyawan
mengeluh kepada temannya tentang perasaan tidak mampu yang menghinggapi
dirinya sejak beberapa bulan terakhir ini.

Ia merasa apa yang dikerjakannya tak pernah benar menurut bosnya, selalu saja
ada yang salah, sampai ia harus membetulkan atau merevisi pekerjaan itu
beberapa kali. Selain itu pekerjaan yang dia buat harus selalu memenuhi standar
yang tinggi dari bosnya, padahal ketika pekerjaan itu dikoreksi oleh pimpinan lain
sudah layak untuk diterima. Hal ini membuat ia putus asa, merasa tidak mampu,
jengkel, dan ketakutan kalau menerima tugas dari bosnya lagi. Kalau si bos
menyadari dan berkonsultasi maka si bos akan mengubah perilakunya. Namun
kalau si bos tak sadar dan tak ada yang mengarahkannya ke psikiater atau
psikolog, penderitaan ini akan dialami oleh semua bawahannya. Kalau keadaan ini
tidak ditangani secara serius dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan dan
depresi, kata Hamidah.

Solusi klinis
Seorang penderita gangguan kepribadian jenis OCD ini sering kali tidak
mengenali gangguan pada dirinya. Dia merasa tak mengalami perubahan apa-apa,
bahkan lingkungan pun yang bukan ahlinya juga kurang mampu mengenali
gangguan kepribadian.

Biasanya lingkungan hanya mengenalnya sebagai orang yang sulit untuk
berinteraksi dan berelasi dengan orang lain. Gangguan ini dapat disembuhkan,
asalkan penderita atau lingkungan menyadari bahwa individu itu mengalami
gangguan sehingga yang bersangkutan punya keinginan dan komitmen dalam
menjalani terapi.Terapi yang dapat diberikan untuk membantu individu dengan
gangguan ini adalah dengan farmako terapi atau terapi obat. Terdapat beberapa
jenis obat tertentu yang berfungsi untuk mengendalikan perilakunya, melalui
sistem syaraf sehingga frekwensi atau keseriusannya berkurang, sebut Hamidah.

Kedua, kata Hamidah yang perlu dilakukan adalah psikoterapi, yaitu dengan
pendekatan kognitif behavior. Terapi ini memberi inervensi kepada kognitif
(pengetahuan) maupun perilakunya sehingga individu menyadari apa yang
dipikirkan, dilakukan dan diinginkan selama ini tak lazim atau merugikan orang
lain. Dengan kesadaran seperti itu diharapkan orang tersebut juga akan
mengubah perilakunya melalui penurunan standar atau target yang dia inginkan.
Untuk psikoterapi ini komitmen dan dukungan dari lingkungan sangat diperlukan
untuk dapat membuat perubahan secara signifikan, katanya. (Saniah LS)
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality
Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis pada
perhatian, keteraturan dan kontrol diri. Dinyatakan sebagai gangguan bila
perilaku-perilaku tersebut bersifat menetap dan mengganggu.

Obsessive compulsive personality disorder (OCPD) atau sering disebut juga
dengan gangguan kepribadian anankastik merupakan gangguan psikologis
menyeluruh, perfeksionis, kaku dan disiplin keras terhadap aturan, moralitas, dan
hidup dengan penuh aturan-aturan yang mengikat dirinya.

Istilah Obsessive compulsive personality disorder sering dibingungkan dengan
obsessive-compulsive disorder (OCD), keduanya tidaklah sama dan tidak
mempunyai hubungan persamaan.

Individu dengan gangguan OCPD tidak memiliki keinginan-keinginan untuk
mengulang perbuatan berkali-kali yang menjadi rutinitas seperti halnya simtom
pada gangguan OCD. Kecenderungan perilaku pada OCPD lebih disebabkan oleh
stres yang disebabkan keinginan perfeksionis dan rasa cemas yang muncul
disebabkan perasaan bahwa dirinya melakukan pekerjaan itu tidak sebaik
mungkin. Oleh karenanya, individu dengan gangguan kepribadian ini (OCPD)
menguras energinya ketika rasa cemas atau tegang ketika melakukan
pekerjaannya.

Individu dengan gangguan OCPD akan menabung sejumlah uang untuk keperluan
suatu saat nanti, mengatur rumah dengan sempurna, cemas dirasakan individu bila
tugas-tugas yang dilakukannya itu tidak selesai atau berjalan dengan sempurna.
Ada 4 hal utama yang membuat penderita OCPD mengalami kecemasan; waktu,
hubungan dengan orang lain, ketidakbersihan dan uang.

Cara berpikir OCPD antara hitam-putih (grey areas), mereka percaya bahawa
dalam tindakan normatif hanya ada satu kebenaran dan satunya lagi adalah salah,
akibatnya individu OCPD kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain,
sulit menempatkan dirinya dengan teman, bersikap romantis dengan pasangannya
atau menjalin hubungan dengan anak-anak. Sulitnya, cara berpikir seperti itu
berdasarkan standar yang ditentukan oleh dirinya sendiri berdasarkan pengalaman
yang diperolehnya.


SIMTOM

1) Terikat dengan aturan, list atau jadwal
2) Perfeksionis dalam setiap tugas atau pekerjaan yang dilakukan, kendala yang
dihadapi bila individu tersebut tidak menemui standar yang dimilikinya
3) Rajin dan tekun pada pekerjaan, hasil (uang) yang diperoleh tidak dihabiskan
untuk kegiatan senang-senang atau bersama teman (gejala ini tidak berlaku pada
individu yang mengalami kesulitan ekonomi)
4) Sangat konsisten, cermat dan tidak fleksibel menyangkut hal-hal moral, etika
dan nilai (akan tetapi tidak berhubungan dengan hal yang menyangkut budaya dan
agama)
5) Enggan untuk memberi tugas atau pekerjaan kepada orang lain ketika ia
merasakan mampu untuk melakukan tugas itu dengan baik
6) Sulit melepaskan atau membuang barang (seperti pakaian) bila benda-benda
tersebut sudah tidak mempunyai nilainya lagi
7) Pelit untuk orang lain bahkan untuk dirinya sendiri, baginya uang haruslah
disimpan untuk keperluan sewaktu-waktu yang tidak terduga
8) Rigiditas dan keras kepala
9) Ketika menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang tidak terduga yang menguras
tenaga dan membuatnya gugup bila pekerjaan itu tidak terselesaikan.


TREATMENT

Medikasi
Pengobatan secara medis tidak dianjurkan untuk pengobatan gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif, namun demikian dokter akan memberikan obat-
obatan bila disertai dengan gangguan kecemasan atau depresi.

Psikoterapi


Family therapy
Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau ahli
terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi letupan
amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota keluarga. Dalam
terapi ini anggota keluarga dilatih untuk saling menghargai dan bersama-sama
menyelesaikan masalah dengan saling mendukung antar anggota keluarga.

Dialectical behavioral therapy
DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien;
antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai
adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien
dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien
dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti
keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap
distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat

Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu
mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif
dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik
relaksasi dan meditasi secara tepat.

Jenis terapi lainnya dapat dikonsultasikan kepada ahli terapis dan disesuaikan
dengan kepribadian pasien.
Gangguan Kepribadian
Gangguan kepribadian khas adalah suatu gangguan berat dalam konstitusi
karakter dan kecenderungan perilaku dari individu. Biasanya meliputi beberapa
bidang dari kepribadian dan hampir selalu berhubungan dengan kekacauan pribadi
dan sosial.
Gangguan kepribadian ini cenderung muncul pada akhir masa kanak atau masa
remaja dan berlanjut pada masa dewasa. Karenanya diagnosis gangguan
kepribadian tidak cocok apabila diberikan pada usia di bawah 16 atau 17 tahun.
Apabila terdapat gambaran beberapa gangguan tanpa kumpulan gejala yang
dominan, maka gangguan ini digolongkan sebagai gangguan kepribadian
campuran. Bila gangguan ini tidak dapat diklasifikasikan dan dianggap sekunder
terhadap suatu diagnosis utama berupa suatu gangguan afektif atau ansietas yang
ada bersamaan, maka digolongkan dalam perubahan kepribadian yang
bermasalah.
Dikenal pula suatu kelompok lain, yaitu perubahan kepribadian yang berlangsung
lama dan tidak diakibatkan oleh kerusakan atau penyakit otak. Perubahan
kepribadian ini harus sudah terjadi paling sedikit selama dua tahun dan tidak
berkaitan dengan gangguan kepribadian yang sebelumnya sudah ada atau dengan
gangguan jiwa. Perubahan kepribadian dan perilaku ini dapat terjadi setelah
mengalami katastrofik atau stres yang sangat berkepanjangan, atau setelah
mengalami gangguan jiwa yang berat, pada pasien tanpa gangguan kepribadian
sebelumnya.
Etiologi
Konsep sekarang tentang kepribadian mencakup baik temperamen maupun
karakter, dan menganggap bahwa kepribadian adalah hasil interaksi antara faktor
konstitusi, pengalaman masa perkembangan, dan pengalaman selanjutnya dalam
masa kehidupan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian:
1. Faktor Genetik
Penelitian pada 15.000 pasang kembar (monozigotik dan dizigotik) di Amerika
Serikat membuktikan bahwa terjadinya angka kejadian gangguan kepribadian
pada kembar monozigot adalah beberapa kali lipat dibandingkan dengan kembar
dizigot. Demikian pula pada penelitian tentang ciri-ciri kepribadian, temperamen,
minat dalam pekerjaan dan dalam waktu senggang, serta sikap sosial, banyak
sekali persamaan di antara kembar monozigot walaupun mereka secara terpisah
sejak lahir diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda.
Penelitian juga menemukan faktor genetik pada anak dari orangtua dengan
gangguan kepribadian antisosial yang sejak bayi dibesarkan dalam lingkungan
orangtua yang tidak menderita gangguan kepribadian antisosial dan
penyalahgunaan alkohol.
Gangguan kepribadian ambang sering berkaitan dengan terdapatnya keluarga
yang menderita gangguan mood/afektif, dan pada gangguan kepribadian
menghindar ditemukan taraf kecemasan yang tinggi. Ciri kepribadian anankastik
lebih sering ditemukan pada sesama kembar dizigotik. Lagipula gangguan
kepribadian anankastik sering berkaitan dengan depresi yang terbukti dengan
perpendekan fase laten rapid eye movement (REM).
2. Faktor Biologi
Beberapa kondisi disfungsi susunan saraf, misalnya soft neurological sign
(kerusakan otak minimal sejak kecil), berkaitan dengan gangguan kepribadian
antisosial dan ambang.
3. Faktor Temperamen
Faktor temperamen erat kaitannya dengan faktor genetik dan biologik serta
merupakan sesuatu yang bersifat konstitusional sejak lahir. Beberapa contoh,
misalnya anak yang bertemperamen penakut, mungkin berkembang menjadi orang
dengan gangguan kepribadian menghindar.
4. Interaksi Antara Faktor Temperamen dengan Faktor Lingkungan
Berdasarkan hasil observasi jangka panjang sejak bayi, Stella Chess dan
Alexander Thomas mengemukakan teori Goodness of fit yaitu beberapa jenis
gangguan kepribadian adalah hasil interaksi dari ketidakcocokan antara
temperamen seorang anak dengan cara mendidik anak. Contohnya seorang anak
yang bertemperamen cemas akan lebih cenderung berkembang menjadi gangguan
kepribadian bila ia diasuh oleh seorang ibu yang bersifat cemas, dibandingkan bila
ia diasuh oleh seorang ibu yang bersifat tenang.
5. Faktor Lingkungan dan Budaya
Lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran, punitif, dan agresif
sering menanamkan dasar-dasar paranoid dan antisosial.
6. Faktor Psikodinamik
Yang dimaksud di sini adalah berbagai faktor psikologis (walaupun secara
potensial dipengaruhi oleh faktor genetik dan konstitusional) yang
mengorganisasi, berkonsolidasi, bersifat kukuh, dan secara maladaptif
mengadakan, menyesuaikan, dan menyelesaikan konflik dalam pengalaman
hidup.
Manifestasi Klinis
Gangguan ini mencakup keadaan yang tidak disebabkan langsung oleh kerusakan
atau penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain tetapi memenuhi kriteria berikut:
a. Sikap dan perilaku yang amat tidak serasi yang biasanya meliputi beberapa
bidang fungsi, misalnya afek, kesadaran, pengendalian impuls, cara memandang
dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain
b. Pola perilaku abnormal berlangsung lama, berjangka panjang, dan tidak
terbatas pada episode penyakit jiwa
c. Pola perilaku abnormalnya pervasif dan jelas maladaptif terhadap berbagai
keadaan pribadi dan sosial yang luas
d. Manifestasi di atas selalu muncul pada masa kanak atau remaja dan berlanjut
sampai usia dewasa
e. Gangguan menjurus kepada pasien pribadi yang berarti, tetapi hal ini
mungkin hanya menjadi nyata kemudian dalam perjalanan penyakitnya
f. Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berhubungan secara bermakna
dengan masalah pekerjaan dan kinerja sosial.
Untuk budaya yang berbeda, penting untuk mengembangkan seperangkat kriteria
khas yang berhubungan dengan norma sosial, peraturan dan kewajiban. Untuk
mendiagnosis kebanyakan dari subtipe di bawah ini, bukti nyata biasanya
dibutuhkan tentang adanya paling sedikit tiga dari ciri atau perilaku di atas.
Gambar skema diagnosis gangguan kepribadian
Gangguan Kepribadian Paranoid
Terdapat ketidakpercayaan dan kecurigaan pervasif terhadap orang lain akan
berniat jahat terhadap dirinya, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam
berbagai konteks. Gangguan ini ditandai oleh kepekaan berlebihan;
kecenderungan menyimpan dendam, kecurigaan, dan menyalahartikan tindakan
orang lain; mempertahankan dengan gigih hak pribadinya; kecurigaan berulang
tentang kesetiaan seksual pasangannya; merasa dirinya penting secara berlebihan;
dan dirundung oleh rasa persekongkolan tanpa bukti.
Gangguan Kepribadian Emosional Tidak Stabil
Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensi, bersamaan dengan ketidakstabilan afek.
Kemampuan merencanakan sesuatu mungkin minimal dan ledakan kemarahan
yang hebat seringkali dapat menjurus pada kekerasan.
Dua varian yang khas beckaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri, yaitu:
1. Tipe I mpulsif
Ketidakstabilan emosional dan kekurangan pengendalian impuls atau dorongan
hati. Ledakan kekerasan atau perilaku mengancam lazim terjadi, khususnya
sebagai tanggapan terhadap kritik orang lain.
2. Tipe Ambang/Gangguan Kepribadian Ambang
Terdapat ketidakstabilan emosional. Gambaran diri pasien, tujuan, dan preferensi
internalnya (termasuk seksual) seringkali tidak jelas atau terganggu. Biasanya
terdapat perasaan kosong yang kronik. Pergaulan yang erat namun tidak stabil
dapat menyebabkan krisis emosional berulang dan mungkin disertai usaha yang
berlebihan untuk menghindarkan dirinya ditinggalkan dan serangkaian ancaman
bunuh diri atau tindakan pembahayaan diri. Hal ini dapat terjadi tanpa pencetus
yang nyata.
Gangguan Kepribadian Antisosial/Dissosial
Terdapat pola perilaku bersifat pervasif berupa sifat pengabaian dan pelanggaran
hak orang lain, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai
konteks. Biasanya timbul karena perbedaan yang besar antara perilaku dan norma
sosial yang berlaku.
Gangguan ini ditandai oleh adanya sikap tidak peduli dengan perasaan orang lain,
sikap tidak bertanggung jawab terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial,
tidak mampu untuk mempertahankan hubungan, mudah frustasi dan agresif, tidak
mampu menerima kesalahan dan belajar dari pengalaman, dan sangat cenderung
menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi, untuk perilakunya.
Mungkin disertai iritabilitas yang menetap, gangguan tingkah laku pada masa
kanak dan remaja, meskipun tidak selalu, dapat mendukung diagnosis.
Gangguan Kepribadian Skizoid
Terdapat pola perilaku yang bersifat pervasif berupa pelepasan diri dari hubungan
sosial disertai kemampuan ekspresi emosi yang terbatas dalam hubungan
interpersonal, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks.
Gangguan kepribadian ini ditandai oleh aktivitas membahagiakan, emosi dingin,
afek datar, kurang mampu menyatakan kehangatan, kelembutan, atau kemarahan
terhadap orang lain, ketidakpedulian terhadap pujian atau kecaman, dan kurang
tertarik menjalin pengalaman seksual dengan orang lain. Ia hampir selalu memilih
aktivitas menyendiri, dirundung oleh fantasi dan introspeksi yang berlebihan,
tidak mempunyai teman dekat atau hubungan akrab (kalau ada hanya satu) dan
tidak berkeinginan untuk mempunyai hubungan seperti itu, dan sangat tidak
sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial.
Gangguan Kepribadian Anankastik
Terdapat pola perilaku yang bersifat pervasif berupa preokupasi dengan
keteraturan, perfeksionisme, kontrol mental, dan hubungan interpersonal, serta
peraturan dengan mengesampingkan fleksibilitas, keterbukaan dan efisiensi,
berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks.
Gangguan ini ditandai dengan perasaan ragu dan hati-hati yang berlebihan,
keterpakuan pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi atau jadwal,
perfeksionisme, ketelitian yang berlebihan, dan kecenderungan yang tidak
semestinya untuk menciptakan kesenangan dan hubungan interpersonal, kaku dan
keras kepala, pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan
sesuatu menurut caranya atau keengganan yang tak masuk akal untuk
mengizinkan orang lain melakukan sesuatu, dan mencampuradukkan pikiran atau
dorongan yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai.
Gangguan Kepribadian Histrionik
Terdapat pola perilaku berupa emosi yang berlebihan dan menarik perhatian yang
bersifat pervasif, berawal sejak usia dewasa muda, dan timbul dalam berbagai
konteks.
Gangguan ini ditandai oleh:
1. Ekspresi emosi yang didramatisasikan sendiri, teatrikalis dan dibesar-
besarkan
2. Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan
3. Afek datar dan labil
4. Terus-menerus mencari kepuasan, apresiasi orang lain dan aktivitas di mana
pasien menjadi pusat perhatian
5. Kegairahan yang tidak pantas dalam penampilan dan perilaku
6. Terlalu mementingkan daya tarik fisik
Gambaran penyerta mungkin mencakup egosentrisitas, pemuasan diri, terus
menerus mengharapkan apresiasi, perasaan mudah tersinggung, dan perilaku
manipulatif yang menetap untuk mencapai kepentingan pribadi.
Gangguan Kepribadian Dependen
Terdapat pola perilaku berupa kebutuhan yang berlebih agar dirinya dipelihara
yang menyebabkan perilaku submisif, bergantung pada orang lain, serta ketakutan
akan perpisahan yang bersifat pervasif dan berawal pada usia dewasa muda dalam
berbagai konteks.
Gangguan ini ditandai oleh:
a. Membiarkan orang lain untuk mengambil sebagian besar keputusan tentang
dirinya
b. Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah daripada orang lain
c. Keengganan menuntut secara layak kepada orang tempat ia bergantung
d. Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian karena ketakutan
yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri sendiri
e. Terpaku pada ketakutan akan ditinggalkan oleh orang terdekatnya
f. Keterbatasan membuat keputusan sehari-hari
Gambaran penyerta dapat mencakup perasaan tidak berdaya, tidak kompeten, dan
kehilangan stamina.
Gangguan Kepribadian Narsisistik
Terdapat pola rasa kebesaran diri, kebutuhan untuk dikagumi, dan kurang mampu
empati yang bersifat pervasif, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam
berbagai konteks.
Gangguan ini ditandai oleh:
o Perasaan kebesaran atas kepentingan dirinya
o Menanggapi kritik dengan sangat buruk bahkan acuh tak acuh
o Tak mampu menunjukkan empati dan pura-pura simpati untuk kepentingan
sendiri
o Memiliki harga diri yang rapuh dan rentan depresi
Gangguan Kepribadian Menghindar
Terdapat pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul, rasa rendah
diri, dan hipersensitif terhadap evaluasi negatif, yang bersifat pervasif, berawal
sejak usia dewasa muda, dan nyata dalam berbagai konteks.
Gangguan ini ditandai oleh:
a. Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasif
b. Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik, atau lebih rendah daripada orang
lain
c. Kekhawatiran yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi
sosial
d. Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan
disukai
e. Pembatasan gaya hidup karena alasan keamanan fisik
f. Menghindari aktivitas sosial karena takut dikritik, tidak didukung, atau
ditolak
Gambaran penyerta mungkin mencakup hipersensitivitas terhadap penolakan dan
kritik.
Penatalaksanaan
Pada umumnya tidak mudah, karena berawal pada usia dini. Pola perilaku, sikap,
hubungan interpersonal dan keterbatasan fungsinya sudah berakar mendalam dan
pada umumnya egosintonik. Tidak jarang orang itu justru bangga.
Upaya terapi mula-mula ditujukan agar pasien menyadari bahwa gangguan
kepribadian mengakibatkan terjadinya disfungsi bagi dirinya, khususnya dalam
hubungan sosialnya.
Ada beberapa macam cara pendekatan. Pendekatan eksposisi analisis karakter
berupa interpretasi atau konfrontasi berulang diupayakan untuk mengubah sifat
egosintonik menjadi egodistonik. Pendekatan lain dengan menggunakan
komunitas terapeutik yang menkonfrontir pasien dengan pola hubungan
interpersonalnya yang maladaptif, sehingga pasien mengembangkan pola adaptasi
hubungan sosial yang lebih baik.
Terapi dapat dilakukan dengan terapi kognitif dan terapi keluarga.
Akhir-akhir ini penggunaan obat juga mulai digunakan untuk gangguan
kepribadian tertentu.
Gangguan Kepribadian adalah gangguan psikologiskronis yang sangat
mempengaruhi kehidupan seseorang. Memiliki gangguan kepribadian negatif
dapat mempengaruhi pekerjaan seseorang, keluarga, dan kehidupan sosial
seseorang.
Gangguan Kepribadian ada yang kontinum sehingga mereka dapat ringan sampai
lebih parah dalam hal bagaimana luas dan untuk menunjukkan sejauh mana
seseorang fitur gangguan kepribadian tertentu. Sementara kebanyakan orang dapat
hidup cukup normal dengan gangguan kepribadian ringan (atau lebih sederhana,
ciri-ciri kepribadian), selama masa stres meningkat atau tekanan-tekanan eksternal
(pekerjaan, keluarga, hubungan baru, dll). Gejala dari gangguan kepribadian akan
mendapatkan kekuatan dan mulai serius mengganggu fungsi emosional dan
psikologis mereka.
Mereka yang memiliki gangguan kepribadian memiliki beberapa fitur yang
berbeda termasuk gangguan psikologis dalam diri-gambar; kemampuan untuk
memiliki hubungan interpersonal yang sukses; kesesuaian dari jangkauan emosi,
cara memahami diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia, dan kesulitan memiliki
kontrol impuls yang tepat.
MACAM MACAM GANGGUAN KEPRIBADIAN MANUSIA

Menurut PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa di
Indonesia III ). Pada Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III (Rusdi,2000:102-105)
Terdapat Yang di sebut dengan diagnosa Gangguan Kepribadian dan Perilaku
Masa dewasa antara lain adalah sebagai berikut:
1. Gangguan Kepribadian Paranoid
dengan ciri-ciri :
Kepekaan berlebihan terjadap kegagalan dan penolakan
Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam
Kecurigaan dan kecenderungan mendistorsikan pengalaman dengan
menyalah artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai
suatu sikap permusuhan dan penghinaan
Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan
situasi yang ada (actual situation)
Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification) tentang kesetiaan
seksual dari pasangannya
Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan yang
bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (self-
referential attitude)
Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak
substatantuf dari suatu peristiwa baik yang menyangkut diri pasien sendiri
maupun dunia pada umumnya.
Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
2. Gangguan Kepribadian Skizoid
ditandai dengan deskripsi berikut :
Sedikitnya (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan
Emosi dingin, efek mendatar, atau tak peduli (detachment)
Kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau
kemarahan terhadap orang lain
Tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman
Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain
(perhitungkan usia penderita)
Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
Preokupasi dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan
Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau
ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti
itu
Sangat sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku
Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
3. Gangguan Kepribadian Dissosiala
deskripsi berikut :
Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-menerus
(persistent), serta tidak peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban
sosial
Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama,
meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya
Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari
pengalaman, khususnya dari hukuman
Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi
yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan
masyarakat
Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
4. Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil
Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif
tanpa mempertimbangkan konsekuensinya
Dua varian yang khas adalah berkaitan denga impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri.
5. Gangguan Kepribadian Histrionik
deskripsi sebagai berikut :
Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self dramatization) seperti bersandiwara
(theariticality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan
Keadaan afektif yang dangkal dan labil
Terus-menerus mencari kegairahan (excitement). Penghargaan
(appreation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat
perhatian
Penampilan atau perilaku merangsang (seductive) yang tidak memadai
Terlalu peduli dengan daya tarik fisik
Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
6. Gangguan Kepribadian Anankastik
ditandai dengan ciri-ciri :
Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan;
Preokupasi dengan hal-hal yang rinci (detail), peraturan, daftar, urutan,
organisasi, atau jadwal;
Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas;
Ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak
semestinya pada produktifitas, sampai mengabaikan kepuasan dan
hubungan interpersonal;
Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial;
Kaku dan keras kepala;
Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya
mengerjakan sesuatu atau keengganan yang tak beralasan untuk
mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu;
Mencampur-adukan pikiran dan dorongan yang memaksa dan yang
enggan.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
7. Gangguan Kepribadian Cemas ( Menghindar )
dengan ciri ciri :
Perasaan tegang dan taku yang menetap dan pervasif
Merasa dirinya tidak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang
lain
Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi
social
Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan
disukai
Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik
Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan
kontak interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
8. Gangguan Kepribadian Dependen
Mendorong dan membiarkan orang lain untuk mengambil sebahagian
besar keputusan penting untuk dirinya
Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia
bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan
mereka
Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang
dimana tempat ia bergantung
Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena ketakutan
yang dibesar-besarkan tentang ketidak mampuan mengurus diri sendiri
Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat
dengan nya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri
Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa
mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.
Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas
Gangguan kepribadian Anankastik / Obsessive compulsive personality
disorder (OCPD)
1. 1. Penegakan Diagnosis
Untuk diagnosis paling sedikit dibutuhkan 3 dari :
a) Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan
b) Preokupasi dengan hal-hal yang rinci / details, peraturan, daftar, urutan,
organisasi, atau jadwal
c) Perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas
d) Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati-hati dan keterikatan yang tidak
semestinya pada produksivitas sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan
interpersonal
e) Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial
f) Kaku dan keras kepala
g) Pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya
mengerjakan sesuatu, atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan
orang lain mengerjakan sesuatu
h) Mencampuradukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan
(Rujukan ringkas dari PPDGJ-III)
1. Diagnosis Banding
Gejala Gangguan kepribadian
Anankastik
Gangguan kepribadian
Paranoid
Menutup diri dari pergaulan + +
Perfeksionisme + -
Tidak mempercayai orang lain + +
Kekhawatiran yang berlebihan + +
Kaku dan tertutup + +
Workaholic + -
Terpaku pada detail, peraturan, perintah,
jadwal
+ -
1. Diagnosis
a) Definisi
Suatu gangguan kepribadian yang sering muncul pada dewasa muda dan ditandai
antara lain dengan perfeksionisme, kekakuan, berlebihan dalam kerja, dan
kurangnya hubungan interpersonal.
b) Etiologi
unknown
c) Epidemiologi
- Dua kali lebih banyak pada laki-laki
- Amerika, prevalensinya 1%
d) Faktor risiko
Genetik dan lingkungan
e) Manifestasi Klinis
- Perfeksionis
- workaholic
- Sangat cemas ketika merasa ada sesuatu yang salah sehingga sangat berupaya
menghindari kesalahan
- Ragu dan hati-hati secara berlebihan
- Terpaku pada detail, peraturan, perintah, jadwal (harus tepat waktu)
- Sangat khawatir dengan kegagalan
- Meragukan kemampuan orang lain
- Memaksakan orang lain untuk melakukan kehendaknya
- Dalam keadaan senang / cemas dapat melakukan hal-hal yang tidak biasa dan
dapat berisiko
- Kaku dan tertutup
- Keras kepala
- Pemalu dan pengawasan diri yang tinggi
- Menganut norma-norma etik dan moral yang tinggi dan patuh secara
berlebihan
1. Patofisiologi / mekanisme
Unknown. Diperkirakan terdapat pengaruh genetik yang dapat berkembang
dengan pengaruh lingkungan dan keadaan.
1. Penatalaksanaan
Behavior therapy
Psychotherapy
Psychopharmacology
- Fluoxatine
- Anti-anxiety (menurunkan ketakutan)
- SSRIs (menghilangkan frustasi)
Self-help
- Edukasi keluarga dan teman agar dapat mendukung, berempati dan
mewaspadai gejala-gejala
- Relaksasi, meditasi, penenangan pikiran, tidur teratur dan diet yang seimbang
- Menulis diary untuk mewaspadai keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan
pemicu tindakan-tindakan berbahaya
1. Prognosis
Perbaikan dapat dicapai dengan terapi, medikasi, dan kontrol emosi yang tepat.
Dibutuhkan kesadaran dan kemauan dari dalam diri pasien sendiri untuk tingkat
keberhasilan yang lebih baik. Dukungan dari orang-orang sekitar pasien juga
merupakan faktor penentu keberhasilan terapi.
1. Komplikasi
- Psychiatric disorders
- Depresi
- Suicide
Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan
adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang
berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau
menakutkan. Kompulsi
adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan
rasa tidak nyaman akibat obsesi.
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah
kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang
menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa
kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk
menurunkan tingkat kecemasannya.
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam
kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang
ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk
menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran
menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu
menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala
sesuatunya baik-baik saja.
Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif memiliki 9 ciri, yaitu
1. Preokupasi dengan yang rinci, peraturan, prosedur, daftar, skedul tetapi hl yang
penting terlewati
2. Perfeksionis,
3. Sangat hati-hati dan tidak fleksibel tentang etik, moral, dan nilai-nilai
4. Taat berlebihan terhadap pekerjaan atau produktivitas,
5. Sangat kaku,
6. Tidak mau mendelegasikan tugas pd orang lain
7. Sulit mengambil keputusan,
8. Hubungan sehari-hari sangat formal,
9. Ekspresi emosi terbatas dan terkontrol
Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah;
Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home,
kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih
dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan)
Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, ganglia
basalis dan singulum.
Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi
Riwayat gangguan kecemasan
Depresi
Individu yang mengalami gangguan seksual
BERBAGAI PERILAKU GANGGUAN YAN SERING TERJADI :
Membersihkan atau mencuci tangan
Memeriksa atau mengecek
Menyusun
Mengkoleksi atau menimbun barang
Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif)
Takut terkontaminasi penyakit/kuman
Takut membahayakan orang lain
Takut salah
Takut dianggap tidak sopan
Perlu ketepatan atau simetri
Bingung atau keraguan yang berlebihan.
Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan
bilangan)
Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran
intrusif tanpa tindakan repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita
menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran
negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi
kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer)
dan perilaku umum lainnya seperti diatas.
Deskripsi dari gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif kepribadian (ONRL) adalah gangguan kepribadian,
dicirikan oleh perfeksionisme berlebihan dan perlu untuk kontrol atas lingkungan.
Orang dengan ONRL cenderung handal dan akurat, tetapi juga keras kepala dan
bebas kontrol. Hal ini membuat sulit bagi orang-orang untuk mengekspresikan
perasaan mereka rastrojstvom, membangun persahabatan, dan kepuasan
kesuksesan.
Tidak seperti banyak gangguan mental lainnya, orang dengan gangguan
kepribadian tidak tahu, pikiran dan perilaku yang tidak pantas. ONRL berbeda
dari gangguan obsesif-kompulsif (ONR), dan tidak terkait dengan obsesif pikiran
dan tindakan, khas ONR.
Alasan untuk gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Hal ini tidak jelas, Apa yang menyebabkan jenis gangguan kepribadian. Mereka,
kemungkinan, terkait dengan kombinasi genetik (Warisan) faktor manusia dan
lingkungan.
Faktor risiko dari gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Faktor-faktor, meningkatkan resiko terhadap gangguan obsesif-kompulsif
kepribadian, termasuk:
Kehadiran dalam keluarga ONRL sakit atau ONR;
Disiplin keras;
Pada risiko adalah anak-anak remaja dalam keluarga;
Paulus: Laki-laki;
Umur: awal masa dewasa.
Gejala gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Gejala termasuk:
Perfeksionisme;
Kekakuan;
Kekikiran;
Sangat tinggi perhatian terhadap detail;
Berlebihan pengabdian untuk bekerja;
Ketidakmampuan untuk membuang usang atau tidak berguna objek;
Moralitas yang kuat;
Keras, gaya komunikasi formal, dan/atau perilaku yang sulit;
Akurasi yang luar biasa dan/atau ketepatan waktu.
Diagnosis gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Pasien harus dikirim ke psikiater ataupun psikoterapis, yang akan menilai gejala
dan tes. Diagnosis dibuat setelah ujian psikiatris lengkap, yang termasuk
gangguan lainnya, seperti gangguan obsesif-kompulsif, serta gangguan
kepribadian lainnya.
Pengobatan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Pengobatan mungkin termasuk:
Konsultasi
Konsultasi, itu termasuk psikoterapi atau terapi perilaku kognitif dapat membantu
orang dengan ONRL belajar untuk bersenang-senang, menghindari berlebihan
intellectualization, dan mengendalikan perilaku.
Obat pengobatan
Dalam beberapa kasus, antidepresan dapat membantu meringankan ciri-ciri
kepribadian obsesif-kompulsif. Namun,, secara umum, penggunaan jangka
panjang obat-obatan untuk ONRL tidak akan berguna. Mereka dapat digunakan
untuk mengobati gangguan lainnya, seperti depresi.
Pencegahan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian
Saat ini ada tidak ada cara yang dikenal untuk mencegah ONRL. Diagnosis dini
dan pengobatan dapat mengurangi pengaruh ciri-ciri kepribadian hidup.
Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif Kompulsif)
Terhambat dalam kemampuan menyatakan perasaan hangat dan lembut.
Berperilaku perfeksionistik, yaitu mengejar kesempurnaan dalam melakukan tugas
dan pekerjaan. Sikap mereka ragu-ragu, tidak tegas. Hubungan sehari-hari
bercorak konvensional, resmi dan serius. Orang semacam ini selalu menolak
melaksanakan kewajiban karena ia ragu-ragu atau takut disalahkan apabila hasil
yang dicapai ternyata kurang baik. Kekakuan dan kekeras kepalaan, preokupasi
terhadap hal-hal detail (patuh terhadap jadwal, aturan maupun perintah secara
berlebih).
Terlalu menitikberatkan konformitas dan kepatuhan terhadap standar moralitas.
Orang-orang dalam kelompok ini bersifat kaku, tidak fleksibel, selalu
menekankan kewajiban dan disiplin, sukar bersantai. Perfeksionisme, kaku,
pemalu, dan pengawasan diri yang tinggi.
Kriteria Diagnostik
Pola pervasif preokupasi dengan urutan, perfeksionisme, dan pengendalian mental
dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi,
dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang
ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut :
1. Terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan atau
jadwal sampai tingkat dimana aktivitas usama hilang
2. Menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas
(misalnya, tidak mampu menyelesaikan suatu proyek karena tidak
memenuhi standarnya sendiri yang terlalu ketat
3. Secara berlebihan setia kepada pekerjaan dan produktivitas sampai
mengabaikan aktivitas waktu luang dan persahabatan (tdak disebabkan
oleh kebutuhan ekonomi yang besar)
4. Terlalu berhati-hati, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas,
etika atau nilai-nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau
religius).
5. Tidak mampu membuang benda-benda yang usang atau tidak berguna
walaupun tidak memiliki nilai sentimental
6. Enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain
kecuali mereka tunduk dengan tepat caranya mengerjakan hal
7. Memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang
lain; uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk bencana
dimasa depan
8. Menunjukkan kekauan dan keras kepala.
Diagnosis Banding
Jika ditemukan obsesi atau kompulsi yang rekuren, gangguan obsesif-kompulsif
harus ditulis dalam Aksis I. Kemungkinan pembedaan yang paling sukar adalah
antara pasien rawat jalan dengan sifat obsesif-kompulsif dan pasien dengan
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian
bermakna dalam efektivitas pekerjaana tau sosialnya. Pada beberapa kasus,
gangguan delusional terjadi bersama-sama dengan gangguan kepribadian dan
harus dicatat.
Terapi
1. Psikoterapi
individu ini sama sekali tidak mersa sakit, abnormal atau menyimpang. Ia tidak
dapat dibawa berobat ke dokter oleh orang-orang di lingkungan yang menderita
karenanya, juga karena perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau
pekerjaan. Bila penderita mengalami gangguan badaniah atau ganguan psikiatrik
yang lain sehingga ia mengunjungi seorang dokter, maka hubungan penderita-
dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependen pada dokter dalam jangka
panjang. Dan dengan nasehat serta efek obat apa saja maka paling sedikit
keadaannya dan akibat pada lingkunganya dapat dicegah jangan sampai
bertambah buruk.
2. Farmakoterapi
Clonazepam (Klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan antikonvulsan;
pemakaian obat ini telah menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif parah. aPakah obat ini digunaka pada gangguan
kepribadian adalah tidak diketahui. Clomipramine (Anafranil) dan obat
serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna jika tanda dan gejala
obsesif-kompulsif timbul.
GANGGUAN KEPRIBADIAN DAN PERILAKU MASA DEWASA

Pengklasifikasian gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa yang
digunakan pada makalah ini mengikuti pengklasifikasian dari PPDGJ III (F60-
F69).

PENDAHULUAN
Bagian ini mencakup berbagai keadaan dan pola perilaku yang klinis bermakna
yang cenderung menetap dan merupakan ekspresi dari gaya hidup yang khas dari
individu serta cara berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Beberapa dari
keadaan dan pola perilaku ini timbul secara dini dalam masa pertumbuhan atau
perkembangan individu, sebagai hasil dari baik faktor konstitusional maupun
pengalaman sosial, sementara lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
F60 F62 Gangguan Kepribadian Khas, Campuran, dan Gangguan
Kepribadian Lainnya, serta Perubahan Kepribadian yang Berlangsung
Lama
Tipe keadaan ini terdiri dari pola perilaku yang tertanam dalam dan berlangsung
lama, muncul sebagai respons yang kaku terhadap rentangan situasi pribadi dan
sosial yang luas. Hal ini menggambarkan deviasi ekstrim maupun deviasi
bermakna dari cara individu pada umumnya dalam suatu budaya tertentu
memandang, memikirkan, merasakan, dan khususnya berhubungan dengan orang
lain. Pola perilaku demikian cenderung stabil dan meliputi bermacam-macam
perilaku dan fungsi psikologis.Kebanyakan, tetapi tidak selalu, berhubungan
dengan berbagai derajat penderitaan pribadi dan masalah dalam fungsi sosial dan
penampilan.
Gangguan kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara
terjadinya: gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan yang
timbul pada masa kanakatau remaja dan berlanjut pada masa dewasa.
Gangguan kepribadian bukan keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau
penyakit otak, meskipun dapat mendahului dan timbul bersamaan dengan
gangguan lain. Sebaliknya, perubahan kepribadian adalah suatu proses yang
didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress berat atau berkepanjangan,
deprivasi lingkungan yang ekstrem, gangguan jiwa yang parah atau
penyakit/cedera otak.
Setiap keadaan dalam kelompok ini dapat diklasifikasikan menurut manifestasi
perilaku yang predominan.Namun demikian, klasifikasi seperti ini umumnya
terbatas pada deskripsi dari serangkaian tipe dan subtipe yang tidak saling
menyisihkan dan bahkan dapat bertumpang tindih pada beberapa ciri khasnya.
Karena itu gangguan kepribadian dibagi lagi menurut kelompok dari sifat yang
menyerupai manifestasi perilaku yang paling sering atau yang paling
menonjol.Jadi subtipe yang digambarkan mudah dikenal sebagai bentuk yang
utama dari deviasi kepribadian. Dalam membuat diagnosis gangguan kepribadian,
klinisi harus mempertimbangkan semua aspek fungsi pribadi, meskipun untuk
kemudahan dan efisiensi formulasi diagnostic, akan merujuk hanya pada dimensi
atau sifat yang mencapai ambang keparahan penyakit.
Penilaian harus didasarkan pada sebanyak mungkin sumber informasi.Meskipun
kadang-kadang memungkinkan untuk mengevaluasi keadaan kepribadian pasien
dalam satu wawancara saja, namun sering memerlukan lebih dari sekali
wawancara untuk mengumpulkan data dari informan.
Siklotomia dan gangguan skizotipal sebelumnya diklasifikasikan bersama dalam
gangguan kepribadian, tetapi sekarang diklasifikasikan di tempat lain (siklotimia
F30-F39 dan gangguan skizotipal F20-F29), karena keduanya mempunyai
persamaan dalam banyak aspek dengan gangguan lain di blok tersebut (misalnya
fenomena, riwayat keluarga).
Subdivisi dari perubahan kepribadian didasarkan pada penyebab atau kejadian
yang mendahuluinya, yaitu malapetaka, tekanan atau regangan yang
berkepanjangan, dan penyakit jiwa (menyingkirkan skizofrenia residual, yang
digolongkan pada F20.5).
Penting untuk memisahkan keadaan kepribadian dari gangguan yang termasuk
dalam kategori lain dalam buku ini. Kalau keadaan kepribadian mendahului atau
mengikuti suatu gangguan psikiatrik yang terbatas waktunya atau kronis,
keduanya harus dimasukkan dalam diagnosis. Penggunaan diagnosis multiaksial
bersama dengan klasifikasi inti dari gangguan jiwa dan faktor psikososial akan
mempermudah perekaman berbagai keadaan dan gangguan demikian.
Keanekaragaman budaya dan daerah dalam manifestasi keadaan kepribadain
adalah penting, tetapi pengetahuan khusus dalam bidang ini masih jarang.
Keadaan kepribadian yang muncul sering kali dikenal pada bagian dunia tertentu,
tetapi tidak serasi dengan satu pun subtipe yang khas di bawah ini, dapat
digolongkan sebagai gangguan kepribadian lainnya dan diidentifikasi melalui
kode lima karakter yang disediakan dlaam penyesuaian klasifikasi ini untuk
suatu negara ataudaerah tertentu. Variasi local dalam manifestasi gangguan
kepribadian dapat juga dicerminkan dalam kata-kata dari pedoman diagnostic
yang disediakan untuk keadaan ini.
Gangguan kepribadian didefinisikan sebagai pola yang bertahan lama dari
pengalaman pribadi dan tingkah laku yang menyimpang secara jelas dari harapan
dari kultur yang orang tersebut tunjukkan.
Obsessive-compulsive personality disorder (OCPD) atau gangguan
kerpibadian obsesif kompulsif adalah gangguan kepribadian yang melibatkan
suatu obsession (ide menetap yang tidak diinginkan) tentang kesempurnaan,
aturan, dan pengaturan.
Orang dengan OCPD akan merasa cemas ketika mengetahui bahwa
sesuatu tidak berjalan dengan baik. Ini akan membuat kebiasaan dan aturan bagi
cara mengerjakan sesuatu, apakah untuk dirinya sendiri atau keluarganya.

Tanda dan Gejala

Gejala utama dari OCPD adalah keasyikan dengan detail, aturan, daftar, perintah,
pengaturan, dan jadwal, menjadi sangat kaku dan tidak luwes dalam keyakinan,
menunjukkan kesempurnaan yang mempengaruhi penyelesaian tugas, perhatian
yang berlebihan pada hasil dengan waktu mereka, menjadi sangat teliti, memiliki
moral, etika, dan nilai yang teguh, penyimpanan hal yang tidak akan lama
memiliki nilai, dan enggan mempercayai tugas atau pekerjaan kepada orang lain
karena takut bahwa standar mereka tidak akan ketemu.
Penyelesaian tugas atau masalah oleh pribadi OCPD dapat dipengaruhi
ketika waktu yang berlebihan digunakan untuk memperoleh sesuatu yang
dianggap benar. Hubungan pribadi dan sosial sering dalam ketegangan serius
karena pribadi OCPD meminta dengan tegas tanggungjawab dan satu-satunya
orang yang mengetahui apa yang benar.
Ketidakbersihan terlihat pada pribadi OCPD sebagai bentuk kurang
sempurna, sebagai ketidakrapian. Mereka biasa menghabiskan waktu dengan
sikap yang tepat, sebagai contoh menempatkan sesuatu secara tepat di tempat
yang tepat dengan sikap yang tepat. OCPD menderita kecemasan tentang potensi
kesalahan pada kehidupan mereka dan menanggapinya dengan menyimpan uang.
Menyimpan uang yang tidak normal/patologis, terlihat seperti kikir atau pelit
terhadap orang lain, akan terjadi untuk meminimalkan pengeluaran harian.
Terdapat wilayah moral abu-abu bagi orang yang terkena OCPD.
Kegiatan dan keyakinannya sempurna benar atau pasti salah, dengan pribadi
OCPD selalu benar. Seperti yang diketahui, hubungan antar pribadi sulit karena
harapan yang berlebihan pada teman, patner romantis, dan anak-anak. Suatu saat
frustasi dengan orang lain yang tidak mengerjakan apa yang pribadi OCPD
inginkan menumpahkan kemarahan bahkan kekerasan. Orang dengan OCPD
sering memiliki pandangan negatif kehidupan (pesimis) dengan sedikit bentuk
depresi. Ini menjadi saat yang serius untuk percobaan bunuh diri sebagai resiko
yang nyata.
Orang dengan OCPD, ketika cemas atau gembira akan mengalami tic
(gerakan berulang, kompulsif, dan tidak disadari, biasanya mengenai wajah dan
bahu), menyeringai atau membuat kegaduhan atau melakukan sesuatu yang
impulsive (penentuan bertindak yang tiba-tiba dan tak terkendali), dan tindakan
yang tidak dapat diprediksi, termasuk mengambil resiko. Mereka menjaga rumah
mereka secara sempurna aturannya, atau merasa cemas menugaskan pekerjaan
kepada orang lain kecuali akan dikerjakan secara sempurna.

Penyebab

Penelitian pada keluarga yang cenderung OCPD melalui penelitian DNA.
Dua penelitian menyatakan bahwa orang yang memiliki gen DRD3 akan
berkembang menjadi OCPD dan depresi, terutama jika laki-laki. Secara genetik,
akan belum muncul sampai ada pemicu oleh peristiwa tertentu yang menjadi
predisposisi OCPD. Perspektif ini memiliki implikasi penting. Anak yang lahir
dengan predisposisi (respon tubuh terhadap penyakit yang sifatnya laten dan dapat
diaktifkan dalam keadaan tertentu) genetik tidak pernah berkembang menjadi
perangai penuh. Banyak tergantung pada konteks dimana anak-anak dibesarkan.
Jika OCPD muncul pada konteks dimana anak-anak yang memiliki predisposisi
genetik meningkat, OCPD akan dipicu, dan kemudian berkembang pada anak-
anak. Sebagai contoh, jika anak-anak dibesarkan dalam keluarga yangmenderita
OCPD, predisposisi anak akan tersingkap dengan sendirinya melalui sikap dan
tingkah laku. Sebaliknya juga benar. Pada hipotesa ini, pada tahapan, belum
sepenuhnya diteliti. Perspektif kedua menyatakan bahwa anak-anak yang tidak
mewarisi genetis akan sama mengadopsi bentuk interaksi dan sikap keluarga.

Diagnosis

DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder)

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder fourth edition, DSM
IV-TR, (panduan diagnostic dan statistik gangguan mental edisi ke empat), sebuah
panduan yang digunakan secara luas untuk mendiagnosa gangguan penyakit,
mendefinisikan OCPD (obsessive-compulsive personality disorder) (pada Axis II
Cluster C) sebagai :

Bentuk yang mudah menyebar dari keasyikan dengan jalur perintah,
kesempurnaan, dan kontrol mental dan antar personal, dengan pengorbanan
keluwesan, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai pada awal masa dewasa dan hadir
pada berbagi variasi konteks, dengan indikasi empat atau lebih daftar berikut ini :

1. Keasyikan dengan detail, daftar, perintah, pengaturan, atau jadwal pada batas
dimana titik utama dari kegiatan menjadi hilang.
2. Mempertontonkan kesempurnaan yang mempengaruhi penyelesaian tugas
(seperti contoh, tidak dapat menyelesaikan proyek karena standar diri sendiri
yang kaku dan tidak bertemu).
3. Berlebih-lebihan bekerja dan produksi dengan pengecualian kegiatan waktu
senggang dan persahabatan (tidak dihitung sebagai keperluan yang bernilai
ekonomi).
4. Sangat teliti, kesopanan, dan keteguhan moral, etika, atau nilai (tidak dinilai
oleh identifikasi kultur atau agama).
5. Tidak dapat membiarkan objek usang atau tidak berguna bahkan ketika mereka
tidak memiliki nilai yang sentimental.
6. Enggan mendelegasikan tugas atau pekerjaan kepada orang lain jika mereka
tidak mengajukan secara tepat caranya mengerjakan.
7. Mengadopsi gaya pengeluaran yang kikir baik terhadap diri sendiri maupun
orang lain, uang dianggap sebagai sesuatu yang harus disimpan untuk masa depan
yang kacau.
8. Mempertontonkan kekakuan dan keras kepala.


WHO (World Health Organization)

WHO atau Badan Kesehatan Dunia mendefinisikan konsep mirip gangguan
OCPD yang disebut Anankastic personality disorder :

Memiliki karakteristik paling sedikit tiga dari :

1. Perasaan berlebihan ragu-ragu dan peringatan.
2. Keasyikan dengan detail, aturan, daftar, perintah, pengaturan atau jadwal.
3. Kesempurnaan yang mempengaruhi penyelesaian tugas.
4. Berlebih-lebihan dalam ketelitian dan kesopanan dan keasyikan dengan
produktivitas dengan pengecualian kesenangan dan hubungan antar personal.
5. Berlebih-lebihan dalam menitiberatkan peraturan dan hal-hal yang kecil atau
terlalu menitikberatkan teori dan ketaatan pada kebiasaan sosial.
6. Kekakuan dan keras kepala.
7. Permintaan tegas yang tidak rasional oleh pribadi terhadap orang lain yang
mengajukan secara jelas bagaimana caranya melakukan sesuatu atau keengganan
yang tidak rasional untuk mengijinkan orang lain melakukan sesuatu.
8. Kekacauan dari permintaan yang tegas dan pikiran atau desakan yang tidak
diinginkan.

Pengobatan

Pengobatan OCPD secara normal melibatkan psikoterapi dan bantuan diri sendiri.
Obat anti kecemasan akan mengurangi rasa ketakutan sementara anti depresan
dapat mengurangi rasa frustasi, mengurangi keras kepala dan termenung yang
negatif.

Psikoterapi

Terapi tingkah laku kognitif.
Terapi tingkah laku- mendiskusikan dengan psikoterapis untuk mengubah
dorongan menjadi lebih sehat, tingkah laku produktif. Bentuk efektif terapi ini
ditemukan pada terapi analiktik kognitif.
Psikoterapi- mendiskusikan dengan konselor yang terlatih atau psikoterapis yang
mengetahui kondisi.
Psikofarmakologi- Seorang ahli jiwa (dokter psikiatri) akan meresepkan obat
untuk memfasilitasi pengaturan diri dan juga dapat berpartisipasi secara lebih
produktif dengan terapi yang lain.

Epidemiologi

Penderita OCPD terjadi pada 1% dari populasi umum. Merupakan 3%-10%
pasien psikiatri. Terjadi dua kali lebih banyak pada laki-laki dibanding wanita.
(dr. Sunardi)
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD) adalah gangguan kepribadian
yang ditandai oleh kekakuan psikologis umum, seperti kaku untuk aturan dan
prosedur, perfeksionisme, kode moral, dan ketertiban berlebihan. Obsessive-
compulsive personality disorder (OCPD) atau gangguan kerpibadian obsesif
kompulsif adalah gangguan kepribadian yang melibatkan suatu obsession (ide
menetap yang tidak diinginkan) tentang kesempurnaan, aturan, dan pengaturan.
Orang dengan OCPD akan merasa cemas ketika mengetahui bahwa sesuatu tidak
berjalan dengan baik. Ini akan membuat kebiasaan dan aturan bagi cara
mengerjakan sesuatu, apakah untuk dirinya sendiri atau keluarganya.

Tanda dan Gejala
Gejala utama dari OCPD adalah keasyikan dengan detail, aturan, daftar, perintah,
pengaturan, dan jadwal, menjadi sangat kaku dan tidak luwes dalam keyakinan,
menunjukkan kesempurnaan yang mempengaruhi penyelesaian tugas, perhatian
yang berlebihan pada hasil dengan waktu mereka, menjadi sangat teliti, memiliki
moral, etika, dan nilai yang teguh, penyimpanan hal yang tidak akan lama
memiliki nilai, dan enggan mempercayai tugas atau pekerjaan kepada orang lain
karena takut bahwa standar mereka tidak akan ketemu.
Penyelesaian tugas atau masalah oleh pribadi OCPD dapat dipengaruhi ketika
waktu yang berlebihan digunakan untuk memperoleh sesuatu yang dianggap
benar. Hubungan pribadi dan sosial sering dalam ketegangan serius karena pribadi
OCPD meminta dengan tegas tanggungjawab dan satu-satunya orang yang
mengetahui apa yang benar.
Ketidakbersihan terlihat pada pribadi OCPD sebagai bentuk kurang sempurna,
sebagai ketidakrapian. Mereka biasa menghabiskan waktu dengan sikap yang
tepat, sebagai contoh menempatkan sesuatu secara tepat di tempat yang tepat
dengan sikap yang tepat. OCPD menderita kecemasan tentang potensi kesalahan
pada kehidupan mereka dan menanggapinya dengan menyimpan uang.
Menyimpan uang yang tidak normal/patologis, terlihat seperti kikir atau pelit
terhadap orang lain, akan terjadi untuk meminimalkan pengeluaran harian.
Terdapat wilayah moral abu-abu bagi orang yang terkena OCPD. Kegiatan dan
keyakinannya sempurna benar atau pasti salah, dengan pribadi OCPD selalu
benar. Seperti yang diketahui, hubungan antar pribadi sulit karena harapan yang
berlebihan pada teman, patner romantis, dan anak-anak. Suatu saat frustasi dengan
orang lain yang tidak mengerjakan apa yang pribadi OCPD inginkan
menumpahkan kemarahan bahkan kekerasan. Orang dengan OCPD sering
memiliki pandangan negatif kehidupan (pesimis) dengan sedikit bentuk depresi.
Ini menjadi saat yang serius untuk percobaan bunuh diri sebagai resiko yang nya.
Orang dengan OCPD, ketika cemas atau gembira akan mengalami tic (gerakan
berulang, kompulsif, dan tidak disadari, biasanya mengenai wajah dan bahu),
menyeringai atau membuat kegaduhan atau melakukan sesuatu yang impulsive
(penentuan bertindak yang tiba-tiba dan tak terkendali), dan tindakan yang tidak
dapat diprediksi, termasuk mengambil resiko. Mereka menjaga rumah mereka
secara sempurna aturannya, atau merasa cemas menugaskan pekerjaan kepada
orang lain kecuali akan dikerjakan secara sempurna.

Penyebab
Penelitian pada keluarga yang cenderung OCPD melalui penelitian DNA. Dua
penelitian menyatakan bahwa orang yang memiliki gen DRD3 akan berkembang
menjadi OCPD dan depresi, terutama jika laki-laki. Secara genetik, akan belum
muncul sampai ada pemicu oleh peristiwa tertentu yang menjadi predisposisi
OCPD. Perspektif ini memiliki implikasi penting. Anak yang lahir dengan
predisposisi (respon tubuh terhadap penyakit yang sifatnya laten dan dapat
diaktifkan dalam keadaan tertentu) genetik tidak pernah berkembang menjadi
perangai penuh. Banyak tergantung pada konteks dimana anak-anak dibesarkan.
Jika OCPD muncul pada konteks dimana anak-anak yang memiliki predisposisi
genetik meningkat, OCPD akan dipicu, dan kemudian berkembang pada anak-
anak. Sebagai contoh, jika anak-anak dibesarkan dalam keluarga yangmenderita
OCPD, predisposisi anak akan tersingkap dengan sendirinya melalui sikap dan
tingkah laku. Sebaliknya juga benar. Pada hipotesa ini, pada tahapan, belum
sepenuhnya diteliti. Perspektif kedua menyatakan bahwa anak-anak yang tidak
mewarisi genetis akan sama mengadopsi bentuk interaksi dan sikap keluarga.




Kriteria Diagnostik (DSM-IV-TR)
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder fourth edition, DSM
IV-TR, (panduan diagnostic dan statistik gangguan mental edisi ke empat), sebuah
panduan yang digunakan secara luas untuk mendiagnosa gangguan penyakit,
mendefinisikan OCPD (obsessive-compulsive personality disorder) (pada Axis II
Cluster C) sebagai :
Bentuk yang mudah menyebar dari keasyikan dengan jalur perintah,
kesempurnaan, dan kontrol mental dan antar personal, dengan pengorbanan
keluwesan, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai pada awal masa dewasa dan hadir
pada berbagi variasi konteks, dengan indikasi empat atau lebih daftar berikut ini :
1. 1. Keasyikan dengan detail, daftar, perintah, pengaturan, atau jadwal pada
batas dimana titik utama dari kegiatan menjadi hilang.
2. 2. Mempertontonkan kesempurnaan yang mempengaruhi penyelesaian
tugas (seperti contoh, tidak dapat menyelesaikan proyek karena standar
diri sendiri yang kaku dan tidak bertemu).
3. 3. Berlebih-lebihan bekerja dan produksi dengan pengecualian kegiatan
waktu senggang dan persahabatan (tidak dihitung sebagai keperluan yang
bernilai ekonomi).
4. 4. Sangat teliti, kesopanan, dan keteguhan moral, etika, atau nilai (tidak
dinilai oleh identifikasi kultur atau agama).
5. 5. Tidak dapat membiarkan objek usang atau tidak berguna bahkan ketika
mereka tidak memiliki nilai yang sentimental.
6. 6. Enggan mendelegasikan tugas atau pekerjaan kepada orang lain jika
mereka tidak mengajukan secara tepat caranya mengerjakan.
7. 7. Mengadopsi gaya pengeluaran yang kikir baik terhadap diri sendiri
maupun orang lain, uang dianggap sebagai sesuatu yang harus disimpan
untuk masa depan yang kacau.
8. 8. Mempertontonkan kekakuan dan keras kepala.
Penting untuk dicatat bahwa sementara seseorang mungkin memperlihatkan salah
satu atau semua karakteristik dari gangguan kepribadian, tidak didiagnosis sebagai
gangguan kecuali orang itu mengalami kesulitan menjalani hidup normal karena
masalah ini.



Perspektif menurut aliran-aliran
1. 1. Perspektif psikoanalisis
Menurut pandangan psikoanalisa, obsesif-kompulsif timbul dari daya-daya
instinktif seperti seks dan agresivitas, yang tidak berada di bawah kontrol individu
karena toilet-training yang kasar. Sedangkan Adler memandang gangguan
kepribadian obsesif kompulsif ini sebagai hasil dari perasaan tidak kompeten.
1. 2. Perspektif behavioristik
Para ahli tingkah laku mengemukakan bahwa gangguan kepribadian obsesif
kompulsif adalah perilaku yang dipelajari, dan diperkuat dengan berkurangnya
rasa takut (Davison & Neale, 2001). Teori Behavioral menganggap kompulsi
sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh redukasi yang kuat.
1. 3. Perspektif kognitif
Ide lain yang muncul adalah kompulsi memeriksa terjadi karena defisit ingatan.
Ketidakmampuan untuk mengingat beberapa tindakan dengan akurat, atau untuk
membedakan antara perilaku yang benar-benar dilakukan dan imajinasi seseorang
memeriksa berkali-kali. Sedangkan pemikiran obsesif muncul karena
ketidakmampuan atau kesulitan untuk mengabaikan stimulus.
1. 4. Teori belajar (Learning theory)
Gabungan dari teori dan pengalaman dalam aplikasi terapi perilaku timbul
beberapa konsep terjadinya gangguan kepribadian obsesi kompulsi.
1. a. Mowres two stage theory
Mowrer mengajukan teori ini di tahun 1939 dan dikembangkan oleh Dollard dan
Miller di tahun 1950. Gangguan kepribadian obsesi kompulsi ini didapat secara
dua tahap. Tahap pertama adalah adanya rangsangan yang menimbulkan
kecemasan. Reaksi yang timbul adalah menghindari (escape) atau menolak
(avoidance). Respon-respon ini menimbulkan negative reinforcement akibat
berkurangnya rasa cemas. Tahap berikutnya adalah upaya menetralisasi
kecemasan yang masih ada dengan rangkaian kata-kata, gagasan-gagasan atau
bayangan-bayangan bahkan objek-objek lain. Penyebarluasan ini mengaburkan
asal-usul rangsangan tadi. Kecemasan terhadap suatu objek tadi sudah meluas
menjadi perasaan tidak enak atau tidak menentu. Sebagai kompensasinya
penderita menentukan strategi perilaku yang enak baginya dan perilaku ini
menetap menjadi kompulsif akibat negative reinforcement.
Tahap kedua, banyak berkurangnya tetapi sedikitnya dapat menerangkan kenapa
kompulsi bertahan sebagai alat mengurangi rasa cemas.
1. b. Cognitive behavior therapy
Oleh Carr tahun 1971 dan dikembangkan oleh McFall dan Wollensheim tahun
1979. Teori ini mengatakan bahwa gangguan kepribadian obsesi kompulsif pada
orang-orang tertentu di kreasi oleh dirinya sendiri.
Prinsip yang salah, menimbulkan persepsi yang keliru dan menakutkan, akhirnya
menambahkan kecemasan. Pencetusnya bisa disebabkan oleh kejadaian sehari-
hari.
Prevensi Penderita OCPD
Prevensi atau pencegahan bagi penderita OCPD dapat dilakukan secara personal
oleh individu yang bersangkutan yaitu dengan cara-cara :
1. 1. Latih dalam mengatur permasalahan yang muncul dengan lebih simpati
di dalam keluarga dan sesama teman
2. 2. Relaksasi, meditasi, olahraga teratur, tidur teratur
3. 3. Bila mengalami permasalahan tidur dalam beberapa hari konsultasikan
ke dokter
4. 4. Memiliki buku diary dapat mengidentifikasi kemunculan stres secara
pasti dan mengetahui perilaku-perilaku kompulsif yang muncul
5. 5. Jangan membiasakan diri mengoleksi sesuatu jenis benda yang
disimpan atau tidak berguna
6. 6. Biasakan diri untuk berkumpul dengan teman-teman dalam support
group
7. 7. Hindari minuman alkohol dan kopi.
Jenis prevensi yang termasuk dalam gangguan kepribadian ini adalah prevensi
sekunder dimana prevensi sekunder, adalah usaha kesehatan mental menemukan
kasus dini (early case detection) dan penyembuhan secara tepat (prompt
treatment) terhadap gangguan dan sakit mental. Usaha ini dilakukan untuk
mengurangi durasi gangguan dan mencegah agar jangan sampai terjadi cacat pada
seseorang atau masyarakat.
Pengobatan
Pengobatan untuk OCPD biasanya melibatkan psikoterapi dan membantu diri
sendiri. Obat umumnya tidak diindikasikan untuk gangguan kepribadian dalam
isolasi, tetapi Fluoxetine telah diresepkan dengan sukses. Obat anti-kecemasan
akan mengurangi rasa takut dan SSRI dapat mengganti frustrasi kronis dengan
rasa ketenangan, serta mengurangi keras kepala dan ruminasi negatif.Masukkan
obat-obatan dapat meningkatkan penyelesaian tugas dengan meningkatkan fokus
mental, yang akan memberikan kesuksesan yang terlihat dan meningkatkan
prospek untuk pemulihan. Sensitivitas Kafein mungkin merupakan faktor
memperburuk.

Terapi
1. Psikoterapi
Pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sering kali tahu mereka
sakit, dan mencari pengobatan atas kemauan sendiri. Cara yang dipakai :
Asosiasi bebas dan terapi yang tidak mengarahkan adalah sangat
dihargai oleh pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif yang
bersosialisasi dan berlatih berlebihan
Terapi Kelompok dan terapi prilaku.
2. Farmakoterapi
Clonazepam (klonopin) digunakan untuk menurunkan gejala pasien dengan
gangguan kepribadian obsesif kompulsif parah.Clomipramin dan obat
serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna bila tanda dan gejala
obsesif kompulsif timbul.
3.Dialectical behavioral therapy

DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien;
antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai
adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien
dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien
dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti
keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap
distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat


4. Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu
mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif
dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik
relaksasi dan meditasi secara tepat.
Contoh Kasus Mengenai Penderita OCPD
Seorang laki-laki, usia 36 tahun, dibawa oleh petugas kantornya karena memiliki
masalah dalam mengerjakan tugas dengan tepat waktu dansering kali terlambat
untuk pekerjaan yang penting.
Pasien mengakui bahwa tuduhan tersebut benar,walaupun dia merasa tidak ada
yang salah dengan dirinya. Ia mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang sangat
sempurna dalam pekerjaannya sehingga dirinya membuat orang lain terlihat
buruk. Hal inilah yang menyebabkan dirinya tidak pernah mendapatkan perhatian
dari sekitar
Pasien mengaku ia telah bekerja selama 4 tahun pada perusahaannya dan selama
waktu itu pula ia menghabiskan waktu 10-12 jam per hari dikantor. Pasien
mengaku bahwa ia sering melewatkan batas waktu yang diberikan untuk
menyelesaikan tugas namun ia beralasan bahwa batas waktu tersebut tidak sesuai
dengan kualitas hasil yang ia berikan.
Ia menyatakan jika lebih banyak orang seperti saya di negara ini, maka akan
banyak hal yang dapat dicapai, karena pada kenyataannya terlalu banyak pemalas
dan orang yang tidak mengerti aturan
Ia mengatakan bahwa ruang kerjanya selalu bersih dan rapi dan ia tahu dimana ia
menghabiskan setiap dolar uangnya.
Pemeriksaan status mental tidak menemukan adanya kelainan mood, proses pikir,
atau isi pikir.Perilakunya dicatat sebagai rigiditas dan keraskepala
GEJALA KLINIS
1.Masalah dalam mengerjakan tugas tepat waktu dan terlambat dalam
mengerjakan tugas.
2.Menghabiskan 10-12 jam perhari di kantor.
3.Seringkali terlambat dari batas waktu yang ditentukan karena standar
kualitasnya tinggi.
4.Menyatakan bahwa orang lain yang tidak mengikuti standar kualitasnya adalah
salah.
5.Menunjukan rigiditas (kekakuan) dan keras kepala.
Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan cemas yang ditandai dengan adanya
suatu ide yang mendesak dan adanya dorongan yang tak dapat ditahan untuk
melakukan sesuatu dan dilakukan dengan berulang kali. Terdiri dari dua unsur
yaitu obsesi yang diartikan sebagai suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran
serta kompulsi yang diartikan sebagai dorongan yang tak dapat ditahan untuk
melakukan sesuatu. Dalam manifestasinya, setiap individu dapat
berbeda-beda, sebagai contoh perasaan cemas akan kebersihan dirinya, akan
terwujud deengan perilaku mencuci tangan yang berulang-ulang, perasaan cemas
akan keamanan rumah tempat tinggalnya,terwujud dengan pengecekan pintu-pintu
rumah secara berulang (Maramis, 2005).
Sedangkan gejala gangguan ini menurut PPDGJ-III, mencakup hal-hal sebagai
berikut :
a. disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
b. sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan.
c. bukan merupakan hal yang memberi kesenangan melainkan sebagai pelepasan
atau perasaan lega dari kecemasan jika tidak melakukan tindakan tersebut.
d. ada pengulangan-pengulangan baik itu pikiran maupun tindakan.

Gejala obsesif kompulsif ini juga termanifestasi sekunder pada penderita
skizofrenia, sindroma Tourette, nerosa fobik, depresi dan gangguan mental
organik.
Rentang usia dewasa muda, atau sekitar 20-35 tahun adalah rentang usia tersering
di mana gangguan ini ditemukan, di atas usia 35 tahun prosentasenya kurang dari
15 % dan di bawah usia 20 tahun sangat jarang ditemukan (Kapplan & Saddock,
1997).
Gangguan obsesif kompulsif dapat diketahui dengan menggunakan kuesioner dari
Goodman yang dasarnya diambil dari DSM IV.
Menurut Davison & Neale (Fausiah & Widury, 2007), gangguan obsesif
kompulsif
adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan
yang
menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu
berulangulang,
sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan
seharihari.
Sering kali penderita obsesif kompulsif tidak menyadari bahwa mereka menderita
obsesif kompulsif.Menurut Steketee dan Barlow (Durand & Barlow, 2006),
kompulsi dapat
berbentuk perilaku (misalnya mencuci tangan, memeriksa keadaan) atau mental
(memikirkan tentang kata-kata tertentu dengan urutan tertentu, menghitung,
berdoa dan
seterusnya).
Pengertian obsesi menurut Kaplan (Sensi 2010) adalah pikiran, ide atau sensasi
yang
muncul secara berulang-ulang. Menurut Davison dan Neale (Fausiah dan Widury,
2007), halhal
tersebut muncul tanpa dapat dicegah, dan individu merasakannya sebagai hal yang
tidak
rasional dan tidak dapat dikontrol.Sedangkan kompulsi menurut Davison dan
Neale (Fausiah
& Widury, 2007) adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang, dimana
individu
merasa didorong untuk menampilkannya agar mengurangi stres.
1. Sebab-sebab obsesif kompulsif
a. Aspek Biologis
Davison dan Neale (Fausiah dan Widury, 2007) menjelaskan bahwa salah satu
penjelasan yang mungkin tentang gangguan obsesif-kompulsif adalah keterlibatan
neurotransmitter di otak, khususnya kurangnya jumlah serotonin. Keterlibatan
serotonin ini
belum sebagai penyebab individu mengalami gangguan obsesif kompulsif,
melainkan
sebagai pembentuk dari gangguan ini.
6
Fungsi serotonin di otak ditentukan oleh lokasi system proyeksinya. Proyeksi
pada
konteks frontal diperlukan untuk pengaturan mood, proyeksi pada ganglia basalis
bertanggung jawab pada gangguan obsesi kompulsi (Pinzon, 2006).
b. Psikologis
Menurut Steketee dan Barlow (Sensi, 2010) klien-klien OCD menyetarakan
pikiran
dengan tindakan atau aktifitas tertentu yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut.
Ini disebut
thought-action fusion (fusi pikiran dan tindakan). Fusi antara pikiran dan
tindakan ini
dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih-lebihan yang
menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa
kanak-kanak,
dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat (Durand & Barlow, 2006).
c. Faktor Psikososial
Menurut Freud (Kaplan,2010), gangguan obsesif-kompulsif bisa disebabkan
karena
regresi dari fase anal dalam perkembangannya. Mekanisme pertahanan psikologis
mungkin
memegang peranan pada beberapa manifestasi pada gangguan obsesif-kompulsif.
Represi
perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran
berulang
untuk menyakiti orang tersebut.
2. Gejala obsesif kompulsif
Obsesif kompulsif memiliki beberapa gejala yang umum terjaadi pada penderita
obsesif
kompulsif.
Gejala-gejala obsesif-kompulsif menurut PPDGJ-III, harus mencakup hal-hal
sebagai berikut:
a. Harus disadari sebagai pikiran atau implus dari diri sendiri.
b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan,
meskipun ada
lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
7
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang
memberi
kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas,
tidak
dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas).
d. Gagasan, bayangan pikiran, atau implus tersebut harus merupakan pengulangan
yang
tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).
B. Berat Badan
Berat badan adalah ukuran yang lazim atau sering dipakai untuk menilai keadaan
suatu
gizi manusia. Menurut Surono(Mabella,2000), mengatakan bahwa berat badan
adalah ukuran
tubuh dalam sisi beratnya yang ditimbang dalam keadaan berpakaian minimal
tanpa
perlengkapan apapun. Berat badan diukur dengan alat ukur berat badan dengan
suatu satuan
kilogram. Dengan mengetahui berat badan seseorang maka kita akan dapat
memperkirakan
tingkat kesehatan atau gizi seseorang.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan (Santoso,2011)
a. Faktor Genetik
Peningkatan level hormon pertumbuhan dapat menyebabkan seseorang untuk
membakar
lebih banyak energi, sehingga mencegah kenaikan berat badan. Di sisi lain,
meskipun
olahraga dapat meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dalam tubuh,
kenaikan berat
badan bisa menurunkan kadar hormon pertumbuhan.
b. Ketidakseimbangan Nutrisi
Faktor utama yang menyebabkan kenaikan berat badan adalah pola makan yang
tidak
sehat. Seperti terlalu banyak mengkonsumsi kalori, dan makanan manis
sedangkan energi
yang dikeluarkan tidak seimbang.
c. Gangguan Medis
Kondisi medis tertentu dapat berkontribusi pada sulitnya menambah berat badan.
Penyakit Graves, atau hipertiroidisme, sering menyebabkan orang untuk
mengalami
penurunan berat badan meskipun nafsu makannya meningkat. Jika hipertiroidisme
tidak
diobati untuk jangka waktu lama, jaringan otot mulai menyusut. Penyakit paru-
paru kronis
juga dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak diinginkan. Jika
kondisi medis
tertentu yang menjadi penyebab sulitnya enambah berat badan, maka pengaturan
nutrisi yang
tepat sangatlah penting
8
d. Gaya hidup tidak sehat
Gaya hidup manusia modern seringkali menimbulkan banyak masalah kesehatan.
Tekanan pekerjaan dan stress telah membuat hidup menjadi semakin berat.
Sedangkan gaya
hidup yang dijalani jauh dari aktivitas menyehatkan seperti olah raga. Hal ini
mengakibatkan
kenaikan berat badan secara signifikan.
Prevalensi gangguan obsesif-kompulsif di suatu populasi atau masyarakat
relatif kecil, namun bukan berarti kondisi tersebut dapat diabaikan. Orang
yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif tidak akan merasakan
kenyamanan dan ketenangan dalam keseharian hidupnya. Penelitian ini
bermaksud untuk melihat apakah Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif
untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif. Jenis penelitian ini adalah
studi kasus. Subyeknya adalah seorang individu yang menunjukkan
simptom-simptom Obsesive Compulsive Disorder (OCD). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Cognitive Behavior Therapy (CBT) dapat mengurangi
simptom OCD, yang ditunjukkan dengan menurunnya tingkat kecemasan,
pemikiran negatif dan perilaku kompulsif. Subyek merasakan perubahan
yang besar setelah mengikuti terapi; tingkat kenyamanan terhadap dirinya
sendiri juga lebih baik dibanding sebelumnya.
Kata kunci: Cognitive Behavior Therapy, Gangguan Obsesif Kompulsif.
Prevalence of obsessive-compulsive in a population or community is just a
small number, but it doesnt mean these conditions can be ignored since the
sufferer always feel uncomfort in everyday life. This study aimed to examine
the effectiveness of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to decrease the
symptom of obsessive-compulsive disorder. This research use case study
method. Subject is individu who has symptoms of obsessive-compulsive
disorder. The result showed that Cognitive Behavior Therapy (CBT) is
effective to cope obsessive-compulsive disorder, characterized by reducing
levels of anxiety, obsessive thoughts and compulsive behaviors. Subjects felt
a big change after following this therapy. They also fell more comfort with
herself after involve in this therapy.
Keywords : Cognitive Behavior Therapy, Obsessive Compulsive Disorder
ISSN: 2301- 8267
Vol. 01, No.01, Januari 2013
2
Pada dasarnya setiap orang pernah memiliki pemikiran yang negatif atau
mengganggu.
Dari suatu studi ditemukan bahwa 84% orang normal melaporkan pernah
memiliki
pemikiran-pemikiran yang terus berulang dan mengganggu (Rachman & Desilva,
dalam
Hoeksema, 2001). Orang akan mudah memunculkan pemikiran-pemikiran yang
negatif
dan juga perilaku-perilaku yang kaku dan berulang ketika mereka mengalami
distress.
Yang membedakan dengan orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif
adalah
bahwa orang-orang yang normal akan mampu menghentikan pemikiran-
pemikiran
negatif tersebut sehingga tidak sampai mengganggu dirinya; sedangkan penderita
gangguan obsesif-kompulsif tidaklah demikian (Hoeksema, 2001).
Gangguan obsesif-kompulsif mencakup pola obsesi atau kompulsi yang berulang-
ulang,
atau kombinasi keduanya. Obsesi adalah pikiran-pikiran yang persisten dan
mengganggu, yang menimbulkan kecemasan dan di luar kemampuan individu
untuk
mengendalikannya. Kompulsi adalah dorongan-dorongan yang tidak bisa ditolak
untuk
melakukan tingkah laku tertentu secara berulang seperti mandi berulang-ulang,
mencuci
tangan atau baju berulang-ulang (Nevid, Rathus, & Greene, 2003). Jumlah
penderita
gangguan obsesif-kompulasif di suatu populasi atau masyarakat tidaklah besar.
Dibanding gangguan kecemasan lain misalnya fobia sosial, fobia spesifik, dan
gangguan
kecemasan menyeluruh, prevalensinya relatif lebih kecil, yaitu 2% sampai 3%
(APA,
2000).
Meskipun jumlahnya relatif kecil dalam suatu masyarakat, namun bukan berarti
kondisi
tersebut dapat diabaikan. Bagaimanapun juga, apabila sudah berlabel gangguan,
maka
dapat dipastikan bahwa orang yang mengalaminya merasa terganggu dan ingin
lepas
dari gangguan itu. Orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif tidak akan
merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam keseharian hidupnya. Kompulsi
yang
seringkali dilakukan sebagai jawaban dari pikiran obsesi biasanya akan muncul
cukup
sering sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan distress
yang
signifikan (Nevid dkk., 2003). Contoh kasus, seorang penderita gangguan ini bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek dan mengecek kembali pintu-
pintu
dan jendela sebelum meninggalkan rumah; itu pun masih menyisakan keraguan.
Hal ini
tentu saja dapat menyebabkan keterlambatan, membuang-buang waktu dan
mungkin
sekali akan merugikan orang lain. Contoh lain, seorang klien mahasiswa pernah
datang
ke peneliti mengeluhkan bahwa pikiran dan tindakannya yang kompulsif dalam
mencuci
piring, mencuci baju, dan mengunci pintu, membuatnya sering tergesa-gesa
berangkat
ke kampus bahkan menjadi sering terlambat. Ada pula yang memiliki simptom
selalu
ingin memeriksa berkali-kali tugas kampus yang sudah diselesaikannya maupun
mengecek berkali-kali jawaban ujiannya yang akhirnya membuat klien tertekan
dan
tidak yakin diri dalam mengerjakan tugas maupun mengerjakan soal ujian.
Melihat dampak gangguan tersebut, bagaimanapun juga mereka perlu dibantu
untuk
mengatasi gangguannya. Menurut pengakuan beberapa klien peneliti, sebenarnya
mereka ingin sekali untuk dapat lepas dari gangguannya namun tidak tahu
bagaimana
caranya. Selain itu, mengingat dampak yang ditimbulkan cukup merugikan bagi
perkembangan kepribadian, kehidupannya sehari-hari dan kehidupan sosialnya;
dan
mereka juga tidak semestinya terus menerus hidup dalam penderitaan perlu
kiranya
diupayakan suatu metode untuk membantu mereka mengatasi gangguannya yang
selanjutnya dapat diterapkan sendiri oleh mereka (self help) tanpa harus terus
menerus
bergantung pada terapis. Dalam penanganan gangguan obsesif-kompulsif meski
faktor
ISSN: 2301- 8267
Vol. 01, No.01, Januari 2013
3
biologis akhir-akhir ini mendapat perhatian sebagai faktor yang mempengaruhi
gangguan tersebut, namun penelitian kali ini hanya terfokus pada penanganan
yang
bersifat psikologis atau psikoterapi.
Penelitian ini bermaksud untuk melihat apakah Cognitive Behavior Therapy
(CBT)
efektif untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif. Alasan pemilihan teknik ini
adalah karena akar gangguan ini bersumber dari adanya kecenderungan
membesarbesarkan
risiko atau hal-hal buruk yang diyakininya akan terjadi (Nevid dkk., 2003).
Jadi, pemikiran memegang peranan penting pada gangguan obsesif-kompulsif,
oleh
karena itu upaya penanganan diarahkan pada aspek tersebut. Terapi kognitif
adalah
terapi yang memfokuskan pada bagaimana mengubah pemikiran atau keyakinan
yang
negatif (Beck, 1979; Martin & Pear, 2003; Antony & Swinson, 2000). Karena
banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa kesuksesan penerapan teknik
kognitif
akan lebih besar bila disertai teknik-teknik modifikasi tingkah laku (misalnya
pemberian
tugas-tugas rumah dan exposure) daripada teknik menyerang pemikiran
irasional
semata-mata yang merupakan prosedur terapi kognitif (Martin & Pear, 2003)
maka
teknik yang akan digunakan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif dalam
penelitian ini adalah gabungan dari kedua pendekatan tersebut yaitu Cognitive
Behavior
Therapy (CBT).
Terapi ini selanjutnya diharapkan dapat diterapkan oleh mereka sendiri dalam
kehidupannya sehari-hari tanpa harus bergantung pada terapis (self help). Hal ini
selaras
dengan Butler (1999) yang menyarankan upaya mengajari seseorang mengurangi
aspek-aspek yang merugikan sehingga tidak lebih lama menyebabkan distres
dalam
kehidupan daripada membuang energi mengobati gangguan yang rasanya tak
mungkin dilakukan.
Gangguan Obsesif-Kompulsif
Suatu obsesi adalah pikiran, ide, atau dorongan yang intrusif dan berulang dan
berada di
luar kemampuan seseorang untuk mengendalikannya. Obsesi dapat menjadi
sangat kuat
dan persisten sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan
menimbulkan
distress serta kecemasan yang signifikan (Nevid dkk., 2003; Hoeksema, 2001).
Suatu
kompulsi adalah perilaku yang berulang (seperti mencuci tangan atau memeriksa
kunci
pintu) atau tindakan mental repetitif (seperti berdoa, mengulang-ulang kata-kata
tertentu, atau menghitung) yang dirasakan seseorang sebagai keharusan atau
dorongan
yang harus dilakukan (APA, 2000).
Kompulsi seringkali sebagai jawaban terhadap pikiran obsesif dan muncul dengan
cukup sering serta kuat sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari atau
menyebabkan
distress yang signifikan. Kebanyakan kompulsi berupa dua kategori, yaitu ritual
pengecekan (checking) dan ritual bersih-bersih (cleaning). Ritual pengecekan,
seperti
memeriksa secara berulang apakah pintu-pintu sudah terkunci sebelum
meninggalkan
rumah akan menyebabkan keterlambatan dan mengganggu orang lain. Demikian
pula
bila memiliki kompulsi bersih-bersih, akan memakan waktu beberapa jam dalam
sehari.
Kompulsi sering menyertai obsesi dan akan menimbulkan perasaan lega karena
kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran-pikiran obsesif. Dengan mencuci
tangan 40
hingga 50 kali berturut-turut setiap kali menyentuh gagang pintu di tempat umum,
pencuci tangan yang kompulsif akan merasakan kelegaan dari kecemasan yang
ISSN: 2301- 8267
Vol. 01, No.01, Januari 2013
4
dimunculkan oleh pikiran obsesifnya bahwa kotoran atau kuman-kuman masih
menempel di kulit. Penderita gangguan obsesif-kompulsif percaya bahwa tindakan
kompulsifnya akan mencegah terjadinya suatu peristiwa yang menakutkan,
meskipun
tidak ada dasar realistik untuk keyakinan ini dan juga tingkah lakunya jauh dari
masuk
akal untuk situasi seperti itu. Ritual kompulsif sepertinya juga mengurangi
kecemasan
yang akan terjadi seandainya tingkah laku tersebut dicegah untuk dilakukan (Foa,
dalam
Nevid dkk., 2003).
Para ahli kognitif menghubungkan gangguan obsesif-kompulsif dengan
kecenderungan
untuk membesar-besarkan risiko suatu peristiwa yang menakutkan atau
mencemaskan
(Nevid dkk., 2003). Mereka akan melakukan ritual untuk mencegahnya karena
memperkirakan akan terjadi hal yang mengerikan. Menurut teori kognitif-
perilaku, yang
membedakan orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif dengan yang
tidak
adalah dalam hal kemampuan untuk menghentikan pikiran-pikiran yang negatif
dan
mengganggu. Orang yang tidak mempunyai gangguan obsesif-kompulsif mampu
menghentikan pikiran-pikiran yang negatif dan mengganggu tersebut dengan
mengabaikan atau menghilangkan, dan membiarkannya berlalu dengan waktu.
Individu yang mempunyai gangguan obsesif-kompulsif mengalami kesulitan
dalam
menghentikan pikiran-pikiran tersebut disebabkan karena (a) mengalami depresi
atau
selalu cemas dalam kesehariannya sehingga mudah memunculkan pikiran-pikiran
negatif meski hanya berupa kejadian kecil, (b) memiliki tendensi berpikir
moralitas dan
kaku, berpandangan bahwa pikiran-pikiran negatif adalah sesuatu yang tidak
dapat
diterima dan membuat mereka akan merasa cemas dan bersalah bila memiliki
pemikiran
negatif seperti itu, (c) meyakini bahwa harus mampu mengontrol semua pikiran-
pikiran
dan memiliki kesulitan untuk menerima bahwa setiap orang mempunyai
pemikiran yang
kadang-kadang memang menimbulkan perasaan takut atau cemas.
Cognitive Behavior Therapy untuk Mengatasi Gangguan Obsesif-Kompulsif
Mendasarkan pada perspektif kognitif dan perilaku, teknik yang umumnya
diterapkan
untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah exposure with response
prevention
(Abel, dalam Holmes, 1997). Klien dihadapkan pada situasi dimana ia memiliki
keyakinan bahwa ia harus melakukan tingkah laku ritual yang biasa dilakukannya
namun mereka cegah untuk tidak melakukan ritual itu. Jika klien dapat mencegah
untuk
tidak melakukan ritual tersebut dan ternyata sesuatu yang mengerikannya tidak
terjadi,
hal ini dapat membantu dalam mengubah keyakinan individu akan tingkah laku
ritual.
Teknik exposure with response prevention dalam penerapannya biasanya disertai
dengan restrukturisasi kognitif, latihan relaksasi dan modeling (Hoeksema, 2003).
Oleh
karena itu, teknik CBT yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah latihan
relaksasi, restrukturisasi kognitif, modeling dan exposure with response
prevention.

Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi
adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan
mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan. Kompulsi adalah
desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak
nyaman akibat obsesi.
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah
kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang
menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa
kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk
menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan
gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif
pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-
ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran
menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu
menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala
sesuatunya baik-baik saja.
PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui. Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan
dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki
kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian,
kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-
kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak
dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut
dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang
secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan
kebiasaan tersebut.
Penyebab Obsesif Kompulsif adalah:
1. Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang
mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif
Compulsive Disorder).
2. Organik Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian
tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang
disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD.
3. Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung
mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah


seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh
pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah.
4. Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah
mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan
menunjukkan gejala OCD.
5. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat
kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali
juga menunjukkan
6. Konflik - Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik
jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan antara suami-istri, di
tempat kerja, keyakinan diri.

Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan
sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga
menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Perilaku yang obsesif pada ibu
depresi berusaha berkali-kali atau berkeinginan untuk membunuh bayinya.
INDIVIDU YANG BERISIKO
Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah;
Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home,
kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah
namun masih dapat diperhitungkan)
Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, ganglia basalis
dan singulum.
Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi
Riwayat gangguan kecemasan
Depresi
Individu yang mengalami gangguan seksual

GEJALA
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan,
kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual,
yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang
atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah
dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau
membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan bahaya.
Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu
secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika
penderita
menjalankan ritual tersebut. Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran,
rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam
saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia
akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko
yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu
berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa
penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut
dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi.
Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Gejala ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4
kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu
selanjutnya. Gejala utam obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria:
1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu
atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari
bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi
kecemasan.
2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha
melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun
tidak berhasil.
3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau
kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan
mengurangi stres yang dirasakannya.
4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-
menerus dalam beberapa kali setiap harinya.

CIRI-CIRI OBSESIF KOMPULSIF
Simptom dari Obsesif Kompulsif ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran
dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung
selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu
atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari
bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi
kecemasan.
2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh individu dan berusaha melawan
kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak
berhasil.


3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau
kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan
mengurangi stres yang dirasakannya.
4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-
menerus dalam beberapa kali setiap harinya.
5. Obsesi dan kompulsi menyebabkan terjadinya tekanan dalam diri penderita dan
menghabiskan waktu (lebih dari satu jam sehari) atau secara signifikan
mengganggu fungsi normal seseorang, atau kegiatan sosial atau suatu hubungan
dengan orang lain.
6. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang
seperti mencuci tangan & melakukan pengecekan dengan maksud tertentu.

BERBAGAI PERILAKU GANGGUAN YAN SERING TERJADI :
Membersihkan atau mencuci tangan
Memeriksa atau mengecek
Menyusun
Mengkoleksi atau menimbun barang
Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif)
Takut terkontaminasi penyakit/kuman
Takut membahayakan orang lain
Takut salah
Takut dianggap tidak sopan
Perlu ketepatan atau simetri
Bingung atau keraguan yang berlebihan.
Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan bilangan)

Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran
intrusif tanpa tindakan repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita
menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran
negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi
kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer)
dan perilaku umum lainnya seperti diatas.
TREATMENT/PENANGANAN
Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan
hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD
sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi
kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai
bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia
normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat
menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi
bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja.
Faktor lain
adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami
oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa
enggan untuk mengikuti terapi.
Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam
pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT
penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti
mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah
terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini
efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-
kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen
stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan
kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi
selama 3 bulan atau lebih.
Farmakologi
Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara
bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya
bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam
psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena
beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan.
Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Selective serotonin
reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak,
jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram
(Lexapro), paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa)
Trisiklik (Tricyclics)
Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik merupakan obat-
obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan SSRIs.
Pemberian obat ini dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian jenis
obat ini adalah peningkatan berat badan, mulut kering, pusing dan perasaan
mengantuk.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine
(Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid (Marplan). Pemberian
MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau anggur merah,
penggunaan pil KB, obat penghilang
rasa sakit (seperti Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen.
Kontradiksi dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.
Gangguan kepribadian anankastik atau gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
merupakan suatu gangguan kepribadian yang memiliki karakteristik suatu
emosional terbatas, keteraturan, ketekunan, keras kepala dan keragu-raguan.
Gangguan kepribadian ini memiliki sifat dasar dengan pola yang masuk pada
perfeksionis dan infleksibilatas. (Harold Kaplan dkk, 2010). Gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif jika dikaitkan dengan gangguan fungsional
keseluruhan adalah yang paling sedikit di antaragangguan kepribadian lainnya.
Bahkan beberapa orang mungkin mempertanyakan apakah
beberapa dari orang-orang ini harus didiagnosis gangguan kepribadian. Namun,
bahkan dalam kelompok ini hampir 90% memiliki gangguan sedang atau lebih
buruk atau fungsi yang buruk atau lebih buruk dalam paling sedikit satu bidang
atau menerima penilaian global dari fungsi 60 atau kurang asupan, yang
menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan kepribadian yang lebih ringan
mungkin tidak memiliki gangguan 6
fungsional luas tetapi memiliki setidaknya satu bidang penurunan yang signifikan
yang bisa menjamin diagnosis gangguan kepribadian. (Skodol, dkk, 2002) Pada
sebuah studi mengatakan bahwa stabilitas jangka pendek dari gangguan
kepribadian schizotypal, borderline, avoidant, dan obsesif-kompulsif
menunjukkan masing-masing lebih stabil daripada diagnosa axis I yang pada
perbandingan kelompok subyek dengan gangguan depresi mayor, dengan tingkat
konsistensi tinggi dalam hal perbedaan individu dalam jumlah dan jenis kriteria
gangguan kepribadian terpenuhi. (Shea, dkk, 2002)
Adapun kriteria diagnosis dari gangguan kepribadian obsesif kompulsif menurut
DSM-IV-TR adalah sebuah pola yang meresap pada terpusatnya perhatian pada
keteraturan, perfeksionisme, dan kontrol mental dan interpersonal, dengan
mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai dengan awal masa
dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat
(atau lebih) dari berikut (1) sibuk dengan rincian, peraturan, daftar, urutan,
organisasi, atau jadwal sejauh bahwa poin utama dari aktivitas ini hilang (2)
menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas (misalnya,
tidak dapat menyelesaikan proyek karena standar yang terlalu ketat kepada dirinya
sendiri yang tidak dapat dipenuhi) (3) kerja secara berlebihan yang ditujukan
untuk produktivitas dengan mengesampingkan kegiatan rekreasi dan persahabatan
(tidak diperhitungkan oleh kebutuhan ekonomi yang jelas) (4) terlalu teliti,
cermat, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika, atau nilai-nilai (tidak
diperhitungkan oleh identifikasi budaya atau agama) (5) tidak dapat membuang
benda yang sudah usang atau benda tak berharga bahkan ketika mereka tidak
memiliki nilai yang sentimental (6) enggan untuk mendelegasikan tugas atau
bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk persis kepada dirinya caranya
dalam melakukan sesuatu (7) mengadopsi gaya belanja kikir baik terhadap diri
dan orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk
bencana di masa depan (8) menunjukkan kekakuan dan keras kepala. (Harold
Kaplan dkk, 2010)
Sedangkan menurut PPDGJ III, gangguan kepribadian anankastik adalah
gangguan kepribadian dengan ciri-ciri: (1) Perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang
berlebihan (2) Preokupasi dengan hal-hal yang rinci (details), peraturan, daftar,
urutan, organisasi atau jadwal (3) Perfeksionisme yang mempengaruhi
penyelesaian tugas (4) Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati-hati, dan keterikatan
yang tidak semestinya pada produktivitas sampai mengabaikan kepuasan dan
hubungan interpersonal (5) keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada
kebiasaan social (6) kaku dan keras kepala (7) pemaksaan yang tak beralasan agar
orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu, atau keengganan yang
tidak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu (8)
mencampur-adukan pikiran atau dorongan yang memaksa dan yang enggan.
Dimana untuk diagnosis diperlukan paling sedikit 3 dari diatas. (Rusdi Maslim,
2001) Dan pada pasien ini dikatakan merupakan orang yang sangat gemar bekerja,
sangat patuh pada peraturan, dan dikatakan sangat teliti dan rapi, suka
mengelompokkan barang-barang dan uang, serta sangat mendetail, teliti dan
perfeksionis tetapi sangat lama dalam mengerjakan sesuatu, serta tidak suka jika
ada orang yang melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan caranya. Dimana dari
gejala-gejala tersebut telah 7
memenuhi kriteria untuk diagnosis dari gangguan kepribadian anankastik ataupun
obsesif kompulsif. Terapi yang dapat digunakan pada gangguan kepribadian
anankastik, dapat berupa terapi psikoterapi Tidak seperti pasien dengan gangguan
kepribadian lainnya, orang-orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
sering menyadari penderitaan mereka, dan mereka mencari pengobatan sendiri.
Selama pelatihan dan selama sosialisasi, pasien ini sangat menghargai terapi
asosiasi bebas serta terapi no-direktif sangat. Terapi kelompok dan terapi perilaku
kadang-kadang memberikan keuntungan tertentu. Pada kedua konteks, mudah
menginterupsi pasien di tengah-tengah interaksi atau penjelasan maladaptif
mereka. Mencegah penyelesaian dari kebiasaan tingkah laku mereka
meningkatkan kecemasan pasien dan membuat mereka rentan mempelajari
strategi penanggulangan yang baru. Pasien juga dapat menerima manfaat langsung
untuk perubahan dalam terapi kelompok, sesuatu yang kurang sering mungkin
terjadi dalam psikoterapi individu. Dan terapi farmakologi bisa berupa
Clonazepam atau Clomipramine. (Harold Kaplan dkk, 2010) Pada pasien ini
belum dilakukan psikoterapi dan pemberian obat untuk gangguan kepribadiannya
karena pasien belum kooperatif dan belum memerlukan obat-obatan.
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis bervariasi, namun sangat mengganggu,
psikopatologi yang mencakup kognisi, emosi, persepsi, dan aspek lain dari
perilaku. Ekspresi dari manifestasi ini bervariasi pada semua pasien dan dari
waktu ke waktu, tetapi efek dari penyakit ini selalu berat dan biasanya
berlangsung lama. Di Amerika Serikat, prevalensi seumur hidup skizofrenia
adalah sekitar 1 persen, yang berarti bahwa sekitar 1 orang di 100 akan
mengembangkan skizofrenia selama hidup mereka. (Harold Kaplan dkk, 2010)