Anda di halaman 1dari 13

KEHARUSAN PERAN MAHASISWA DALAM MENSIKAPI DINAMIKA

KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah PKn / Bela Negara.

Kelompok 6 :
Lou Ayy Alzamakhsyari : J3I112033
Ikhwan Fauzan : J3I212115
Abdul Aziz : J3I112044
Genios Purba : J3I112011
Devita Siregar : J3I112022
Saeful Ridwan : J3I212127
M. Ibnu Umar : J3I212135
Zsagita Tri Budiyani : J3I112086
Rizky Amalia Driandani : J3I112098
Irma Fitria K : J3I112075

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TERNAK


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap
pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa,
ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor
penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan
kehidupan bangsa kita di masa depan. The founding leaders Indonesia
telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub
dalam pembukaan UUD 1945.
Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut,
bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan
dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai
Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan
sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy)
berdasarkan Pancasila.
Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan,
tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi.
Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan
dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu,
banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan
datang dari masa depan kita.

B. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin penulis capai dan sampaikan kepada
pembaca dalam penyusunan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membangkitkan kembali rasa cinta tanah air di kalangan para pemuda dan
mahasiswa sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menghargai jasa-
jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
2. Menanamkan jiwa patriotisme dan rela berkorban di antara sesama Warga
Negara Indonesia terutama kepada mahasiswa sebagai aktor muda bangsa
dalam rangka menjaga keutuhan NKRI.
3. Mengajak para pemuda dan mahasiswa untuk berfikir kritis dalam
menanggapi setiap perubahan yang terjadi di sekeliling kita terutama hal-hal
yang berkaitan dengan keutuhan NKRI dan meningkatkan rasa nasionalisme
demi kelangsungan hidup masyarakat Indonesia.




PPKn/BelaNegara | 1

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemuda
Definisi yang pertama, Pemuda adalah individu yang bila dilihat
secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang
mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber
daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang. Sebagai
calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya.
Secara internasional, WHO menyebut sebagai young people dengan batas
usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut adolescenea atau
remaja. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985,
mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda.
Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang
dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki
pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial
maupun kultural.
Sedangkan menurut draft RUU Kepemudaan, Pemuda adalah
mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Menilik dari sisi usia maka
pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis.
Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan
aspirasi masyarakat secara umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang
berbeda ini disebut dengan semangat pembaharu.
Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan
sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda,
generasi muda, atau kaum muda memiliki definisi beragam. Definisi tentang
pemuda di atas lebih pada definisi teknis berdasarkan kategori usia
sedangkan definisi lainnya lebih fleksibel. Dimana pemuda/ generasi
muda/kaum muda adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan
progresif.


B. Pengertian Mahasiswa

Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan
Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar
tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar, sebab mereka tinggal
menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang
paripurna.
Apakah yang diharapkan dari seorang mahasiswa ? Memang harapan
ini terbagi pada stratanya, yaitu untuk strata S1, seorang mahasiswa
diharapkan mampu memahami suatu konsep, dapat memetakan
permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan tersebut
sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Untuk strata S2,
mahasiswa diharapkan mampu merumuskan sesuatu yang berguna atau
PPKn/BelaNegara | 2

bernilai lebih untuk bidangnya. Sedangkan S3 diharapkan mampu
menyumbang ilmu baru bagi bidangnya.
Dari semua strata ada hal yang harus terus secara konsisten
diperlihatkan oleh mahasiswa. Yaitu dalam menghadapi permasalahan,
seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari
bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian
memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan
pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu
mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung
jawabkan pemilihan solusi tersebut.


C. Mengasah Kemampuan Reflektif
Dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu
mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan
hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi
(action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik
dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi
informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di
tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan
daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya
refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan
pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh setiap anak
bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.


D. Membangun Kebiasaan Bertindak Efektif
Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu
melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan
benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak
hanya tergantung kepada wacana, public discourse, tetapi juga agenda aksi
yang nyata. J angan hanya bersikap NATO, Never Action, Talking Only
seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara
miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak
bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa
implementasi yang nyata.


E. Melatih Kemampuan Kerja Teknis
Hal lain yang juga perlu dikembangkan menjadi kebiasaan di
kalangan kaum muda kita ialah kemampuan untuk bekerja teknis, detil atau
rinci. The devil is in the detail, bukan semata-mata dalam tataran
konseptual yang bersifat umum dan sangat abstrak. Dalam suasana sistim
PPKn/BelaNegara | 3

demokrasi yang membuka luas ruang kebebasan dewasa ini, gairah politik
di kalangan kaum muda sangat bergejolak. Namun, dalam wacana
perpolitikan, biasanya berkembang luas kebiasaan untuk berpikir dalam
konsep-konsep yang sangat umum dan abstrak. Pidato-pidato, ceramah-
ceramah, perdebatan-perdebatan di ruang-ruang publik biasanya diisi oleh
berbagai wacana yang sangat umum, abtrask dan serba enak didengar dan
indah dipandang. Akan tetapi, semua konsep-konsep yang bersifat umum
dan abstrak itu baru bermakna dalam arti yang sebenarnya, jika ia
dioperasionalkan dalam bentuk-bentuk kegiatan yang rinci.
Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa
depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis
dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam
kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak
muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak
mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan
teknis, ketrampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan
ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.

F. Pemuda, Mahasiswa dan Kesadaran Berkonstitusi
Sekarang ini kita berada dalam suasana memperingati semangat
sumpah pemuda yang dikumandangkan pada tahun 1928, delapan puluh
tahun yang silam. Sebagai anak bangsa kita telah bersumpah setia untuk
bersatu nusa, bersatu bangsa, dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia.
Ada kekeliruan dalam kita memahami makna persatuan itu, yaitu seakan-
akan bersatu dalam uniformitas, termasuk dalam soal bahasa. Salah paham
itu tercermin antara lain dalam lagu yang biasa kita nyanyikan, yaitu satu
nusa, satu bangsa, dan satu bahasa kita. Akibatnya, sumpah pemuda kita
maknai hanya mengenal satu bahasa saja, yaitu bahasa Indonesia, dengan
mengabaikan dan menafikan bahasa-bahasa daerah yang demikian banyak
jumlahnya. Padahal, teks asli sumpah pemuda itu menyatakan bahwa kita
menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Artinya, bahasa
Indonesia itu adalah bahasa persatuan, bukan satu-satunya bahasa yang
diakui oleh bangsa dan negara.
Kita koreksi kesalahpahaman itu dengan menegaskan kembali
bahwa kita harus bersatu sebagai bangsa dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan semboyan bhineka-tunggal-ika.
Keanekaragaman bahasa, kemajemukan anutan agama, etnis dan bahkan
perbedaan rasial, merupakan kekayaan budaya bangsa kita yang tidak
ternilai. Akan tetapi di tengah keanekaan itu, kita telah bertekad untuk
bersatu seperti tercermin dalam sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan
Indonesia. Kita bersatu dalam keragaman, unity in diversity, bhinneka
tunggal ika. Dalam semangat persatuan itu, kita beraneka ragam. Kita
beraneka, tetapi tetap kokoh bersatu.
Setelah masa reformasi dan terjadinya perubahan UUD 1945,
semangat persatuan dalam keragaman itu kembali dipertegas dalam rumusan
pasal-pasal konstitusi kita. Prinsip otonomi daerah yang sangat luas kita
PPKn/BelaNegara | 4

terapkan. Bahkan satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat istimewa
seperti Papua, Aceh, dan Yogaykarta, atau pemerintahan daerah yang
bersifat khusus seperti DKI J akarta, diberi ruang untuk tidak seragam atau
diberi kesempatan untuk mempunyai ciri-ciri yang khusus atau istimewa,
yang berbeda dari daerah-daerah lain pada umumnya. Demikian pula,
kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat di seluruh nusantara
diperkenankan untuk hidup sesuai dengan keasliannya masing-masing.
Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menegaskan, Negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya, sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip NKRI, yang diatur dalam undang-undang.
Di samping itu, diadakan pula penegasan mengenai status bahasa
daerah dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan. Dengan semangat untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan, tidak berarti bahwa bahasa daerah diabaikan.
Karena itu, dalam Pasal 32 ayat (2) UUD 1945 ditegaskan, Negara
menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya
nasional. Dengan perkataan lain, semangat keanekaan atau kemajemukan
kembali diberi tekanan dalam rangka pembinaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Dalam wujudnya yang paling konkrit, prinsip kebersatuan dan
persatuan itu juga kita materialisasikan dalam konsepsi tentang negara
konstitusional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. UUD 1945 yang
di dalamnya terkandung roh Pancasila itu merupakan piagam pemersatu kita
sebagai satu bangsa yang hidup dalam kesatuan wadah NKRI. Di dalam
UUD 1945 itu, segala hak dan kewajiban kita sebagai warga negara
dipersamakan satu dengan yang lain antar sesama warga negara. Sebagai
warga masyarakat, kita beraneka, tetapi sebagai warga negara segala hak
dan kewajiban kita sama satu dengan yang lain.
Karena itu, kaum muda Indonesia saya harapkan dapat membangun
kesadaran hidup berkonstitusi. Konstitusi adalah pemersatu kita dalam peri
kehidupan bersama dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945 ini. Konstitusi negara itulah yang menjadi sumber referensi
tertinggi dalam kita membangun sistim aturan dalam kehidupan bernegara
dan berpemerintahan. Para pemimpin dan pejabat adalah tokoh-tokoh atau
orang-orang yang datang dan pergi. Kita taati keputusannya sepanjang ia
mengikuti dan menaati sistim aturan yang telah kita sepakati bersama
berdasarkan UUD 1945. Oleh sebab itu, marilah kita membangun dan
melembagakan sistim aturan dalam kehidupan kolektif kita dalam
kehidupan bernegara dan berpemerintahan.
Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa.
Tugas anda semua adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk
mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita
di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan
supra struktur negara maupun di lingkup infra struktur masyarakat, terbuka
luas untuk kaum muda Indonesia masa kini. Namun, dengan tertatannya
sistim aturan yang kita bangun, proses regenerasi itu tentu akan berlangsung
mulus dan lancar dalam rangka pencapaian tujuan bernegara. Oleh karena
PPKn/BelaNegara | 5

itu, orientasi pembenahan sistim politik, sistim ekonomi, dan sistiim sosial
budaya yang tercermin dalam sistim hukum yang berlaku saat ini sangatlah
penting untuk dilakukan agar kita dapat menyediakan ruang pengabdian
yang sebaik-baiknya bagi generasi bangsa kita di masa depan guna
mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945, serta guna mencapai empat tujuan nasional kita, yaitu
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.

G. Pemuda, Mahasiswa Dan Perubahan
Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan agent of
change. Kata-kata perubahan selalunya menempel dengan erat sekali
sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum
intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan,
harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada
di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan
positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan
membanggakan.
Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda
memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi
perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa
perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi
yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa.
Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban
munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa
dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara.
Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda
khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita,
berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa
didalamnya.
Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908,
Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu kemajuan
yang selaras buat negeri dan bangsa ini telah lahir dan mampu memberikan
warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan
kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.Gerakan kemahasiswaan
lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya
organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang
sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya
berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut
membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda
depan sebuah bangsa dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran
kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk
memperoleh kemerdekaan.
PPKn/BelaNegara | 6

Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya
berkembang semakin subur, angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa
tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo (Indonesische Studie-club),Soekarno
(Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga Persatuan Pelajar-
Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah
menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa
angkatan 1928 memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan
kesatuan diseluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang
dan menyimpannya didalam jiwa seluruh komponen bangsa, kami putra
putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah
Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa
satu yaitu bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah
pemuda.
Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan
kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang, hinggalah gerakan perjuangan
mahasiswa sampai pada terjadinya peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi
trisakti mei 1998.
Lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan didalam perubahan
terhadap negeri ini, gerakan perjuangan ini menuntut reformasi perubahan
untuk mengganti rezim orde baru yang korupsi, kolusi, dan nepotisme serta
tidak berpihak kepada rakyat dan memaksa turun presiden soeharto dari
kursi kekuasaannya yang telah digenggamnya selama hampir 32 tahun.
Gerakan perjuangan mahasiswa tidak semudah yang kita bayangkan,
perubahan ini harus dibayar mahal dengan meninggalnya empat mahasiswa
universitas trisakti oleh timah petugas aparat yang tidak mengharapkan
perubahan itu terjadi.
Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti,
kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa
dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk
di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga
mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk
bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang
melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum,
sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak
moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang
memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif
yang ada pada suatu kaum.
Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada
mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa
yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai
sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, ruh perubahan itu
tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.
Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti
sampai kapanpun ,gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya
dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi dijalan-
jalan saja, akan tetapi wahai para agent of change, cobalah untuk
bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk
PPKn/BelaNegara | 7

bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk
bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk
memberikan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga seperti
Hasan al Banna katakan goreskanlah catatan membanggakan bagi umat
manusia.

H. Mahasiswa Pelopor Sejarah Bangsa
Mahasiswa telah terbukti selalu menjadi pelopor dalam sejarah suatu
Bangsa. Pada konteks Indonesia, pengalaman empirik juga membenarkan
sekaligus mempertegas realitas tersebut. Catatan sejarah memperlihatkan
bahwa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai Intellectual
Organic, mahasiswa telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan
menghantarkan Indonesia kedalam suatu era yang saat ini sedang bergulir,
yakni: Orde Reformasi.
Namun pada sisi yang lain, fakta juga membuktikan bahwa sampai
dengan saat ini, mahasiswa Indonesia belum mampu untuk mendongkel
antek-antek Orde Baru dari jajaran elite kekuasaan. Padahal sudah menjadi
rahasia umum, bahwa kehadiran mereka di situ untuk menutupi segala
kebobrokan kolektif yang telah mereka lakukan di masa lalu.
Dengan kenyataan yang demikian, maka tidaklah mengherankan
apabila proses reformasi masih tersendat-sendat dan belum dapat berjalan
secara linear. Menurut Sebastian de Grazia (1966 : 72-74), kondisi seperti
ini secara cepat atau lambat, otomatis akan menimbulkan suatu situasi
anomie yang kuat di dalam kehidupan ber-Masyarakat, ber-Bangsa dan ber-
Negara, yang pada akhirnya akan berdampak buruk bagi kesejahteraan
rakyat Indonesia.
Bertolak dari argumen di atas, maka mahasiswa dituntut/diharapkan
dapat terjun ke arena politik dalam rangka mengawal seluruh agenda
reformasi, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil di dalam
kemakmuran dan makmur di dalam keadilan secara demokratis.Akan tetapi,
yang menjadi persoalannya adalah bagaimanakah seharusnya mahasiswa
berpolitik.??? dan aksi politik yang bagaimanakah yang harus dilakukan
oleh mahasiswa.?
Sebelum menjawab kedua pertanyaan di atas, perlu diketahui
terlebih dahulu bahwa istilah politik dalam tulisan ini dipahami sesuai
dengan konsep berpikirnya Antonio Gramsci, sehingga di sini politik
didefinisikan sebagai aktivitas pokok manusia dimana manusia dapat
mengembangkan kapasitas dan potensi dirinya. (Roger Simon, 1999 : 136).
J ika definisi di atas diejawantahkan dalam bentuk aksi, maka
mahasiswa dapat berpolitik dalam dua pengertian, yakni : Pertama,
berpolitik dalam arti konsep (Concept). Disini mahasiswa secara individual
maupun kelompok, harus mengajukan gagasan, pikiran, solusi atau
interpretasi mengenai apa yang menjadi kehendak dari mayoritas rakyat.
Kedua, berpolitik dalam arti kebijakan (Belied). Di sini mahasiswa sebagai
kelompok harus menjadi Pressure Groups yang memperjuangkan aspirasi
PPKn/BelaNegara | 8

rakyat, dengan cara mempengaruhi orang-orang yang memegang kebijakan
ataupun yang menjalankan kekuasaan, dari luar sistem kekuasaan.
Apabila mahasiswa berpolitik dalam artian yang pertama, maka
mahasiswa dituntut untuk benar-benar memahami cara berpikir ilmiah, yaitu
teratur dan sistematik. Sedangkan apabila mahasiswa berpolitik dalam arti
kebijakan (Belied), maka mahasiswa harus betul-betul mengetahui posisi
individu dalam kehidupan ber-Negara, posisi konstitusi dalam kehidupan
ber-Negara, posisi Negara dalam menjalin relasi dengan warganya,
konstelasi politik terkini dan menguasai manajemen aksi. Pada tataran ideal,
mahasiswa seharusnya berpolitik dalam arti konsep (Concept) maupun
dalam arti kebijakan (Belied) secara bersamaan. Ini berarti, mahasiswa
harus berpolitik sebagai politisi ekstra perlementer.


I. Peranan Mahasiswa Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara
Apa yang terlintas dibenak kita ketika kita mendengar
katamahasiswa, mungkin tidak hanya satu jawaban yag akan terucap dari
banyak orang dengan beranekaragam latar belakang pendidikan. Mahasiswa
merupakan sebuah status yang disandang seseorang ketika ia menjalani
pendidikan formal pada sebuah perguruan tinggi. Seseorang dapat dikatakan
sebagai seorang mahasiswa apabila ia tercatat sebagai mahasiswa secara
administrasi sebuah perguruan tinggi yang tentunya mengikuti kegiatan
belajar dan mengajar serta kegiatan lainnya. Status ini menjadi mutlak
apabila kita berbicara dalam konteks pendidikan formal. Ternyata dbalik
statusnya itu, masih banyak sekali peranan seorang yang menyandang status
mahasiswa untuk menunjukkan peranannya pada kehidupan masyarakat
terlebih lagi pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah membuktikan bagaimana kekuatan mahasiswa dalam
pergantian rezim yang diktator menuju perubahan kearah lebih baik, sebagai
contoh gerakan mahasiswa bersama komponen bangsa lainnya yang ketika
itu masyarakat,parpol dan ABRI dalam menyuarakan TriTura(Tiga Tuntutan
Rakyat) yang berhasil menggantikan rezim kekuasaan saat itu yang dinilai
cenderung terlau berpihak pada haluan kiri. Kemudian bagaimana peristiwa
Malari(Petaka Lima Belas J anuari) yang dimotori oleh Hariman Siregar
yang notabene sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia, dan
masih membekas diingatan kita ketika kekuatan mahasiswa untuk
menggulingkan rezim orde baru yang otoriter yang telah berkuasa selama 32
tahun. Itu merupakan bukti-bukti nyata dimana mahasiswa menunjukkan
peranannya dikancah perpolitikan nasional yang tentunya untuk
menciptakan keselarasan menuju masyarakat yang makmur sentosa,
meskipun sampai sekarang buah tangan dari perjuangan mahsiswa tersebut
masih jauh panggang dari api. Sehinnga dapat disimpulkan bahwa kekuatan
mahasiswa dalam kancah perpolitikan nasional menjadi patut
diperhitungkan sebagai gerakan yang murni membela kepentingan rakyat
semata.
PPKn/BelaNegara | 9

Sekarang mari kita tengok aktivitas mahasiswa zaman sekarang,
Amien Rais pernah mengutarakan intensitas dan kualitas dari gerakan
kemahasiswaan cenderung mengalami penurunan seiring datangya era
globalisasi ke negeri kita tercinta ini, kebanyakan dari mahasiswa lebih
banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang jelas
manfaatnya, forum-forum diskusi mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan kenegaraan tidak pernah dijejali oleh mahasiswa sebaliknya tempat-
tempat hiburan malah disesaki para mahasiswa. Penulis tidak melarang
tentunya sebatas itu tidak melanggar syariat, karena sebagai manusia
tentunya kita juga butuh yang namanya hiburan. Tetapi hal itu juga harus
disaring dengan kekuatan iman kita. Kembali kepada kualitas gerakan
kemahsiswaan masa sekarang yang cenderung menurun, maka sadar atupun
tidak itu merupakan efek dari masuknya era globalisasi ke indonesia tanpa
diharmonisasi dengan manajemen waktu dan diri yang baik. Untuk
membangun citra mahasiswa sebagai agen pembaharu ataupun kaum
intelektual yang mana dipundaknya ada masa depan bangsa ini yang akan
dilabuhkan dimana, maka kita harus memupuk rasa persaudaraan dan
senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Selain itu tentunya
kita perlu membangun konsep intelektual dalam gerakan yang sinergi dan
terarah menuju masyarakat yang adil dan makmur. Sehingga kedepan
mahasiswa tidak hanya dikenal lewat aktivitasnya ketika menjalani
perkuliahan saja,tetapi sebagai elemen bangsa yang peka terhadap kondisi
permasalahan disekitarnya.

J. Peranan Dan Fungsi Mahasiswa Dalam Era Reformasi
Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola
pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan
dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme
mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada
penguasa, dengan cara mereka sendiri.
Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi
strategis, yaitu :
sebagai penyampai kebenaran (agent of social control)
sebagai agen perubahan (agent of change)
sebagai generasi penerus masa depan (iron stock)
Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung
jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan
mengembang tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas
dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa
dalam dunia kampusnya untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan
kampus yang harmonis serta juga kehidupan diluar kampus.
Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan :
Secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan.
Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap
tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa.
PPKn/BelaNegara | 10

Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen
pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi
terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan.
Dengan begitu, mahasiswa tetap menebarkan bau harum keadilan
sosial dan solidaritas kerakyatan. Menurut Arbi Sanit ada empat faktor
pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik.

1. sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik,
mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat.
2. sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku
sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi
politik yang terpanjang diantara angkatan muda.
3. kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan
mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah,
suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari.
4. mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari
susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat
dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.
Pada saat generasi yang memmipin bangsa ini sudah mulai
berguguran pada saat itulah kita yang akan melanjutkan tongkat estafet
perjuangan bangsa ini. Namun apabila hari ini ternyata kita tidak berusaha
mambangun diri kita sendiri apakah mungkin kita kan membangun bangsa
ini suatu saat nanti?


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di
depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga
mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk
bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang
melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum,
sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak
moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang
memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif
yang ada pada suatu kaum.
Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada
mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa
yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai
sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, ruh perubahan itu
tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.




PPKn/BelaNegara | 11

PPKn/BelaNegara | 12

a
n
-
B. Saran
Pada bagian ini penyusun ingin mengajak yang dalam hal ini
ditujukan kepada para generasi muda pelajar dan mahasiswa, para Dosen
dan Guru, seluruh elemen pemerintah baik yang ada di daerah maupun yang
ada di pusat serta seluruh lapisan masyarakt Indonesia secara luas agar tetap
bersatu demi mempertahankan keutuhan NKRI. Terkadang masalah sepele
akan menjadi kompleks jika tidak ada solidaritas di antara sesama kita.
Penyusun berharap tak akan ada lagi perselisihan di negeri kita tercinta
sehingga cita-cita bangsa Indonesia akan tercapai.
Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan Student Today, Leader
Tomorrow. Penyusun meyakini bahwa kunci tercapainya cita-cita itu ada di
tangan para generasi muda. Oleh karena itu, tetaplah semangat dalam
meraih apa yang telah menjadi tujuan hidup kita




DAFTAR PUSTAKA

- one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/definisi-pemud
- kipong.webnode.com/news/peranan-mahasiswa-dalam-kehhidupa
berbangsa-dan-bernegara/
- stmik-amik-dumai.ac.id/index.php/artikel/41-artikel/111-peranan-dan
fungsi-mahasiswa-dalam- era-reformasi