Anda di halaman 1dari 23

1

MODUL FORENSIK
Pasangan Suami-Istri yang ditemukan Meninggal Bersamaan

0302008231 Stefanry
0302009001 Adam Bachtiar
0302009011 Amelya Lesmana
0302009021 Angelina Goenawan
0302009031 Aryanto Krisnandanu
0302009041 Ayunda Shinta Nurarliah
0302009051 Charisha Nadia
0302009061 Della Putri Ariyani
0302009071 Dimas Widi Anugrah
0302009081 Eva Natalia BR Manulang
0302009091 Firisha Virgidewi Witjaksono
0302009101 Gamar
0302009111 Herjuno Darpito
0302009121 Indrastiti Pramitasari



FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, 7 April 2012

2

BAB I
PENDAHULUAN

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
merangsang selaput lender, sedikit lebih ringan dari udara sehingga mudah menyebar. CO dapat
bersenyawa dengan logam ataupun nonlogam. Gas CO dapat ditemukan pada hasil pembakaran
yang tidak sempurna dari karbon dan bahan-bahan organik yang mengandung karbon.
CO hanya diserap melalui paru dan sebagian besar diikat oleh hemoglobin secara
reversible, membentuk karboksi-hemoglobin. Selebihnya mengikat diri dengan mioglobin dan
beberapa protein heme ekstravaskuler lain. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 208-245
kali afinitas O
2
. CO bukan merupakan racun yang kumulatif. Ikatan CO dengan Hb tidak tetap
dan setelah CO dilepaskan oleh Hb, sel darah merah tidak mengalami kerusakan.
Absorpsi atau eksresi CO ditentukan oleh kadar CO dalam udara lingkungan, kadar
COHb sebelum pemaparan (kadar COHb inisial), lamanya pemaparan, dan ventilasi paru. CO
bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO bersaing dengan O
2
dalam mengikat protein
heme yaitu hemoglobin, mioglobin, sitokrom oksidase (sitokrom a, a3) dan sitokrom P-450,
peroksidase, dan katalase.yang terpenting adalah reaksi CO dengan Hb dan sitokrom a3. Dengan
diikatnya Hb menjadi COHb mengakibatkan Hb menjadi inaktif sehingga darah berkurang
kemampuannya untuk mengangkut O
2
. Selain itu adanya COHb dalam darah akan menghambat
disosiai Oksi-Hb. Dengan demikian jaringan akan mengalami hipoksia. Reaksi CO dengan
sitokrom a3 yang merupakan link yang penting dalam system enzim pernafasan sel yang terdapat
dalam mitokondria, akan menghambat pernafasan sel dan mengakibatkan hipoksia jaringan.
Konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi menentukan kecepatan
timbulnya gejala-gejala keracunan CO atau kematian.
1



3

BAB II
LAPORAN KASUS

Suatu hari anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka dalam
memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah
yang cukup besar milik seorang pengusaha dan istrinya ditemukan meninggal dunia di dalam
kamarnya yang terkunci di dalam. Anaknya yang pertama kali mencurigai hal itu (pukul 08.00)
karena si ayah yang biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia
bersama dengan pak ketua RT melaporkannya kepada polisi.
Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut tiduran di
tempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di ruang tersebut,
segalanya masih tertata rapi sebagaimana biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan sementara tidak
ada ditemuka luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang hilang. Salah seorang
penyidik ditelpon oleh petuas asuransi bahwa ia telah dihubungi oleh anak si pengusaha
berkaitan dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.









4

BAB III
KRONOLOGIS

Sekitar pukul 12.00 siang pihak dokter forensik dan penyidik memeriksa di tempat
kejadian perkara (TKP) di rumah seorang pengusaha sukses yang ditemukan meninggal bersama
istrinya di dalam kamar. Tidak ada tanda-tanda perkelahian ataupun kekerasan pada dua orang
korban tersebut karena di kamarnya sangat tertata rapi dan tidak ada barang yang hilang.
Pengusaha tersebut memiliki seorang anak laki-laki yang berumur 30 tahun dan sudah
berkeluarga. Anak nya tersebut melaporkan kepada penyidik bahwa sudah dari jam 08.00 pagi
ayah dan ibunya tidak keluar kamar, dan setelah menemukan ayah ibu nya dalam kondisi
meninggal ia langsung menelpon pihak asuransi jiwa dan setelah itu melapor kepada polisi.
Pihak dokter forensik yang bertugas segera memeriksa kedua jenazah untuk
diidentifikasi. Dan setelah dilakukan pemeriksaan medis pada dua jenazah tersebut dapat
diperkirakan kematiannya disebabkan oleh karena keracunan gas CO yang telah berlangsung
sejak 12 jam sebelumnya (pada waktu malam hari dimana keduanya sedang tertidur). Penyidik
meminta dokter forensik untuk melakukan identifikasi lebih lanjut terhadap kedua korban
tersebut termasuk autopsi.








5

BAB IV
PEMBAHASAN

Aspek Hukum dan Medikolegal
Aspek Hukum

Hak dan Kewajiban Melapor
Pasal 1 KUHAP
(24) Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau
kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabar berwenang tentang telah atau
sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.
Pasal 108 KUHAP
(1) Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa
yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada
penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis.
2

Pasal 7 KUHAP
(1) Penyidik karena kewajibannya mempunyai wewenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat ditempat kejadian
c. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara.
3


Prosedur Medikolegal
Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
6

(1) Dalam hal penyidik untuk kepetingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan
mayat dan pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
4

Pasal 179 KUHAP
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberilkan
ketrengan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya dalam bidang
keahliannya.
4


Pemeriksaan Medis
Pemeriksaan Luar
Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan
harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba,
baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu, dan lain-lain, juga
terhadap tubuh mayat itu sendiri. Pada kasus, pemeriksaan luar yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut.
1. Mayat tidak terbungkus dan sudah diberi label.
2. Mayat berpakaian sebagai berikut :
(a) Pakaian tidur panjang yang berwarna putih bergaris (istri) dan biru (suami).
7

3. Mayat menggunakan perhiasan jenis cincin emas di jari keempat tangan kanan,
dengan satu mata batu berwarna putih, tidak ada ukiran atau inisial apapun.
4. Tanda kematian
(a) Tanda kematian tidak pasti
Pernapasan berhenti
Terhentinya sirkulasi
Kulit pucat
Tonus otot menghilang dan relaksasi
(b) Tanda kematian pasti
Lebam mayat terdapat pada seluruh bagian tubuh dan menetap dan
berwarna merah.
Kaku mayat sudah lengkap, terdapat pada seluruh badan dan sukar
dilawan, karena diperkirakan mayat ini telah meninggal 12 jam.
Terjadi penurunan suhu tubuh mayat yang terjadi karena beberapa faktor
dan lamanya waktu kematian yaitu sekitar 12 jam. Suhu tubuh mayat
mencapai suhu ruangan yaitu 26
o
C.
Tidak adanya tanda-tanda pembusukan seperti kulit perut sebelah kanan
bawah yang berwarna kehijau-hijauan.
5. Mayat adalah seorang laki-laki dan seorang wanita kebangsaan Indonesia, umur
mayat laki-laki adalah 65 tahun dan mayat perempuan 60 tahun, kulit berwarna
sawo matang, panjang badan seratus tujuh puluh sentimeter (laki-laki) dan seratus
enam puluh lima (wanita) dan berat badan tujuh puluh kilogram (laki-laki) dan
enam puluh kilogram (wanita), dan zakar disunat pada mayat laki-laki.
6. Rambut kepala berwarna hitam bercampur dengan rambut berwarna putih (uban).
Alis berwarna hitam, bulu mata berwarna hitam,
7. Kedua mata tertutup dan terdapat kekeruhan kornea yang menunjukkan perkiraan
waktu kematian adalah 12 jam.
8. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa.
9. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak berwarna kemerahan seperti warna merah
pada buah cherry. Gigi geligi dan geraham lengkap.
8

10. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa
dan tidak tercium bau gas atau zat apapun.
11. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur
berbentuk biasa tidak menunjukkan kelainan.
12. Terdapat tanda-tanda asfiksia.

Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, esofagus, trachea dan seterusnya
sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir.
1. Lidah : Normal
2. Tonsil : Normal
3. Kelenjar Gondok : Normal
4. Esofagus : Normal
5. Trakea : Normal
6. Os Hyoid, kartilago tiroid dan kartilago krikoid : Normal
7. Arteri carotis communis dan interna : Normal
8. Thymus : Normal
9. Paru-paru
Terdapat pneumonia hipostatik paru yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah.
10. Jantung
Pada miokardium terdapat perdarahan dan nekrosis di muskulus papilaris ventrikel kiri.
Pada penampang memanjang, tampak bagian ujung m. Papilaris berbercak-bercak
perdarahan atau bergaris-garis seperti kipas berjalan dari tempat insersio tendinosa ke
dalam otot.
11. Aorta : Normal
12. Anak ginjal : Normal
13. Ginjal, ureter dan kandung kemih
Terdapat nekrosis tubuli ginjal. Secara mikroskopis tampak seperti payah ginjal.
14. Hati dan kandung empedu : Normal
9

15. Limpa dan kelenjar getah bening : Normal
16. Lambung, usus halus dan usus besar : Normal
17. Pankreas : Normal
18. Alat kelamin : Normal
19. Otak
Ditemukan ptekie pada substansia alba, korteks kedua belah otak, dan globus
palidus.
Ensefalomalasia simetris
Pemeriksaan mikroskopik ditemukan :
o Pembuluh-pembuluh halus yang mengandung trombi hialin
o Nekrosis halus dengan tengahnya terdapat pembuluh darah yang
mengandung trombi hialin dengan perdarahan di sekitarnya, lazimnya
disebut ring hemorrhage
o Nekrosis halus yang dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh darah yang
mengandung trombi
o Ball hemorrhage yang terjadi karena dinding arteriol menjadi nekrotik
akibat hipoksia dan memecah
Interpretasi :
Semua hasil pemeriksaan dalam menunjukan tanda-tanda hipoksia pada mayat sebagai
mekanisme kematian akibat keracunan gas CO.
Pemeriksaan Laboratorium
Pada hasil pemeriksaan laboratorium pada sampel darah mayat ditemukan adanya COHb
dalam darah yang tinggi yaitu saturasi COHb mencapai 70-80% yang dapat mengakibatkan
hipoksia jaringan dan akibatnya berujung pada kematian.
Pada 1000 ppm (0,1%) CO, inhalasi 1-3 jam akan mengakibatkan kematian langsung.
1.Pengeceran alkali pada darah jenazah yang memberi warna merah muda yang bertahan
selama beberapa detik dan setelah satu menit berubah warna menjadi coklat kehijauan.
2.Percobaan dengan formalin pada darah jenazah terbentuk koagulat berwarna merah yang
mengendap pada dasar tabung reaksi.
10

Saat Kematian
Terdapat lebam mayat yang lengkap dan menetap menunjukkan bahwa kedua mayat tersebut
telah meninggal dunia dalam waktu 12 jam.
Kaku mayat sudah lengkap yang juga dapat menunjukkan waktu kematian telah mencapai 12
jam.
Penurunan suhu tubuh mayat telah mencapai suhu ruangan yaitu 26
o
C yang menunjukkan
bahwa kedua mayat telah meninggal selama 12 jam.
Pada pemeriksaan kornea terdapat kekeruhan dan ini terjadi 12 jam pasca kematian
Pada 12 jam pasca kematian diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi
beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa.

Sebab, Cara, dan Mekanisme Kematian
Sebab kematian adalah penyakit atau cedera yang bertanggung jawab atas terjadinya
kematian. Sedangkan cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab
kematian. Bila kematian terjadi akibat sesuatu penyakit semata-mata maka cara kematian adalah
wajar. Bila kematian disebabkan cedera atau luka walaupun sebelumnya sudah ada penyakit
yang diidap, namun bila cedera menyebabkan dipercepatnya kematian, maka kematian adalah
tidak wajar. Kematian tidak wajar dapat disebabkan beberapa hal seperti kecelakaan, bunuh diri
atau pembunuhan. Jika penyidik belum dapat menentukan cara suatu kematian, maka dapat
dikatakan bahwa kematian akibat sebab yang tidak tertentukan. Mekanisme kematian adalah
gangguan fisiologik atau kimiawi yang menyebabkan seorang tidak dapat terus hidup.
5

Pada korban kasus ini adalah pasangan suami-istri yang ditemukan meninggal di kamar
tidurnya dan dilaporkan oleh anaknya. Dari tanda-tanda berupa lebam mayat yang berwarna
merah cherry dan pemeriksaan darah jenazah yang menunjukkan adanya kadar COHb yang
meningkat, maka dapat kita simpulkan bahwa sebab kematian korban adalah keracunan karbon
11

monoksida. Korban meninggal dengan cara yang tidak wajar, yang dicurigai merupakan
pembunuhan.
Korban meninggal diakibatkan keracunan gas karbon monoksida. Gas ini merupakan gas
yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak merangsang selaput lendir serta lebih ringan dari
udara dan mudah menyebar. Gas ini jika dihirup melalui paru akan segera berikatan dengan
hemoglobin dan membentuk ikatan yang reversibel. Kekuatan ikatan karbon monoksida dengan
hemoglobin membentuk ikatan yang kekuatannya kurang lebih 200 kali lebih tinggi dibanding
ikatan hemoglobin dengan oksigen. Selain itu, senyawa karbon monoksida juga berikatan dengan
myoglobin, sitokrom oksidase dan sitokrom p-450, peroksidase dan katalase. Namun ikatan yang
terpenting adalah dengan hemoglobin dan sitokrom oksidase. Dengan terbentuknya COHb dalam
darah, Hb menjadi inaktif dan mengurangi disosiasi oksiHb sehingga jaringan akan menjadi
hipoksia. Pengaruh CO pada sitokrom oksidase akan berdampak pada pernapasan sel dalam
mitokondria sehingga juga menyebabkan hipoksia. Maka mekanisme kematian kedua korban
adalah melalui terjadinya hipoksia jaringan. Jaringan yang paling sensitif terhadap kekurangan
oksigen adalah jantung dan otak. Otak yang kekurangan oksigen akan menimbulkan gejala sakit
kepala, keadaan konfusi akut, kehilangan kesadaran hingga kematian. Otot jantung akan
mengalami iskemia hingga fibrilasi yang menyebabkan jantung berhenti berdenyut.
6




12

Visum et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa, Grogol, Telp 5655786, Fax 5660706 Jakarta Barat 11440

Nomor : 0604-SK.III/2345/2-12 Jakarta, 03 April 2012
Lamp. : Satu sampul tersegel --------------------------------------------------------------------------------
Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan ------------------------------------------------------------------
atas jenazah Tn.X

PROJUSTITIA

Visum Et Repertum

Yang bertanda tangan di bawah ini, Andy , dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, menerangkan
bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No.
Pol.:B/789/VR/IX/12/Serse tertanggal 1 April 2012, maka pada tanggal Dua April tahun dua
ribu dua belas, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di
ruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti telah melakukan
pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah: ----------------------------

Nama : X -------------------------------------------------------------------------------------
Jenis kelamin : Laki-laki ----------------------------------------------------------------------------
Umur :65 tahun -----------------------------------------------------------------------------
Kebangsaan : Indonesia ---------------------------------------------------------------------------
Agama : ----------------------------------------------------------------------------------------
Pekerjaan : ----------------------------------------------------------------------------------------
Alamat : ----------------------------------------------------------------------------------------
Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai
lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan. -----------------------------------------------------------------

Hasil Pemeriksaan
I. Pemeriksaan Luar
1. Mayat tidak terbungkus.-----------------------------------------------------------------------------
-
2. Mayat berpakaian sebagai berikut:-----------------------------------------------------------------
-
a. Baju tidur berwarna putih bergaris-garis memanjang berwarna hitam tanpa merek
dengan satu saku pada bagian dada kanan, yang kosong.-------------------------------
b. celana panjang kain berwarna hitam tanpa merek dengan dua buah saku di bagian
belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan kiri------------
c. celana dalam berwarna hitam dengan karet berwarna abu-abu pada pinggang ------
13

3. Kaku mayat lengkap pada seluruh tubuh, lebam mayat ditemukan pada punggung
berwarna merah muda terang dan pada seluruh bagian tubuh, tidak hilang pada
penekanan------------------------------------
4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih enam puluh lima
tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus tujuhpuluh
sentimeter dan berat badan tujuh puluh kilogram dan zakar disunat.
5. Rambut kepala berwarna hitam dan bercampur dengan rambut berwarna keputihan
(uban), tumbuh tipis lurus, panjang lima sentimeter. Alis berwarna hitam keputihan ,
tumbuh tipis---------------------------------------------------------
6. Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintik-bintik
perdarahan pada komjungtiva bulbi dan palpebra.terdapat kekeruhan pada kornea.-------
---------------------------
7. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal.-------------------
8. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal dan berwarna merah terang. Gigi geligi
lengkap kecuali geraham depan kedua rahang atas sebelah kanan tidak terdapat.----------
------------------------
9. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa dan
tidak tercium bau zat atau gas apapun.------------------------------------------------------------
10. Alat kelamin berbentuk normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk
biasa tidak terdapat kelainan.-----------------------------------------------------
12. Patah tulang tidak tampak pada tubuh jenazah.-----------------------------------------------

II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
14. Lidah utuh dan tidak terdapat bekas gigitan maupun resapan darah.---------------------
15. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan.---------------
16. Kelenjar gondok rata, tidak ada kelainan-----------------------------------------------------
17. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih. --------------------------------
18. Trakea/batang tenggorok tidak ditemukan busa ataupun darah.---------------------------
19. Rawan gondok tidak terdapat resapan darah-------------------------------------------------
20. Arteria karotis interna tidak terdapat kerusakan intima-------------------------------------
21. Kelenjar timus (kacangan): didapati thymic fat body dan tidak terdapat perdarahan
berbintik-------------------------------------------------------------------------------------------
22. Otak terdapat bintik perdarahan pada substansia putih-----------------------------------------
23. Paru kanan terdiri dari tiga baga, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan seperti karet
busa. Penampangnya tampak agak pucat dan dari irisan keluar darah------------------------
Paru kiri terdiri dari dua baga, berwarna kelabu kemerahan dan perabaan agak kenyal,
kurang mengandung udara. Berat paru kiri tiga ratus gram dan yang kanan empat ratus
gram.---------------------------------------------------------------------------------------------------
24. Jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, terdapat bintik
perdarahan.Pada otot serambi jantung kiri terdapat bintik perdarahan-----------------------
berat jantung tiga ratus lima puluh gram----------------------------------------------------------
25. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata
dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan delapan puluh
gram dan yang kiri sembilan puluh gram. ----------------------------------
14

26. Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati
berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua
ratus gram.-----------------------------------------------------------------------------------
27. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau.
Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan.-----------------------------------------
28. Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa
seratus lima gram.--------------------------------------------------------------------------------
29. Lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa , tidak
terdapat kelainan.--------------------------------------------------------------------------------
30. Usus dua belas jari, usus halus dan usus besar tidak menunjukkan kelainan.-----------
31. Pankreas tidak ada kelainan.--------------------------------------------------------------------
32. Alat kelamin dalam tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------

III. Pemeriksaan Laboratorium

1.Pengeceran alkali pada darah jenazah yang memberi warna merah muda yang bertahan
selama beberapa detik dan setelah satu menit berubah warna menjadi coklat kehijauan.-----
2.Percobaan dengan formalin pada darah jenazah terbentuk koagulat berwarna merah yang
mengendap pada dasar tabung reaksi-----------------------------------------------------------------

Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini ditemukan tanda-tanda keracunan gas karbon monoksida pada
pemeriksaan luar berupa lebam mayat berwarna merah terang dan pemeriksaan dalam mayat
berupa bintik-bintik perdarahan pada jantung dan substansia putih otak-------------------------------
Pemeriksaan laboratorium menunujukan kadar karbon monoksida yang tinggi di darah------
Sebab mati orang ini adalah gangguan anoksi jaringan otak yang pada pemeriksaan mayat
ditemukan bintik perdarah pada substansi putih otak.-----------------------------------------------------
Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang
sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.----------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,


dr. Andy
NIP 04678983






15

Bagian Ilmu Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa, Grogol, Telp 5655786, Fax 5660706 Jakarta Barat 11440


Nomor : 0604-SK.III/2345/2-12 Jakarta, 03 April 2012
Lampiran : Satu sampul tersegel-------------------------------------------------------------------
Perihal : Hasil Periksaan Pembedahan----------------------------------------------------------
Atas jenazah Ny. Y ---------------------------------------------------------------

PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, Soenardi, dokter ahli forensik pada Bagian Ilmu Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis
dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No. Pol : B/789/VR/XII/95/Serse tertanggal 5 April
2012, maka pada tanggal lima April tahun dua ribu dua belas, pukul dua belas Waktu Indonesia
bagian Barat, bertempat diruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan
tersebut adalah :
Nama : Y ----------------------------------------------------------------------------
Jenis kelamin : Perempuan ----------------------------------------------------------------------
Umur : 60 tahun ------------------------------------------------------------------------
Kebangsaan : Indonesia -----------------------------------------------------------------------
Agama : ------------------------------------------------------------------------------------
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga-------------------------------------------------------------
Alamat : -----------------------------------------------------------------------------------
Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak
merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.
Hasil Pemeriksaan
I. Pemeriksaan luar
1. Mayat tidak terbungkus------------------------------------------------------------------
2. Mayat berpakaian sebagai berikut : --------------------------------------------------------
16

a. Kaus lengan pendek berwarna putih polos dengan merk Marks & Spencer
ukuran M. Tidak ditemukan bercak darah maupun noda. Kaus bersih.-----------
b. Celana panjang piyama berwarna putih garis-garis hitam dengan merk Marks
& Spencer ukuran M. Tidak ditemukan bercak darah maupun noda. Celana
bersih.----------------------------------------------------------------
c. Bra berwarna hitam berkawat dengan merk Calvin Klein dengan ukuran 36 B.
Tidak ditemukan bercak darah maupun noda.--------------------------
d. Celana dalam dari bahan katun berwarna hitam. Tidak ditemukan bercak
darah maupun noda.---------------------------
3. Pada jari manis tangan kanan ditemukan cincin dari emas dengan sebuah mata dari
batu berlian berwarna putih.---------------------------------------------------------------------
4. Kaku mayat ditemukan di seluruh tubuh. Lebam mayat berwarna merah terang seperti
cherry ditemukan di punggung mayat, tidak hilang saat penekanan.-----------------------
5. Mayat adalah seorang perempuan bangsa Indonesia, umur kurang lebih enam puluh
tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi sehat, panjang badan seratus enam puluh
lima sentimeter dan berat badan enampuluh kilogram.--------------------------------------
6. Rambut kepala berwarna hitam. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat. Bulumata
berwarna hitam, tumbuh lurus.------------------------------------------------------
7. Kedua mata tertutup. Terdapat kekeruhan kornea. Selaput bening mata jernih, kedua
teleng mata bundar dengan garis tengah empat millimeter. Tirai mata berwarna
coklat. Selaput berwarna putih, tidak tampak perdarahan dan pelebaran pembuluh
darah. ----------------------------------
8. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa. ------------------------
9. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal dan berwarna kemerahan seperti cherry.
Gigi geligi dan geraham lengkap. -------------------------------------------------------------
10. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa dan
tidak tercium bau dari zat atau gas apapun.
11. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk
biasa tidak menunjukkan kelainan. -------------------------------------------------------------
II. Pemeriksaan Dalam/Bedah Jenazah
12. Paru kiri terdiri dari dua bagian dan paru kanan terdiri dari tiga bagian, permukaan
kelabu dengan bercak berwarna merah berbatas hitam tegas, perabaan padat.-----------
13. Jantung sebesar kepalan tinjua kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin tidak
ada perdarahan. Bagian selaput dalam jantung dan otot jantung berwarna merah dan
berbercak-bercak hitam atau bergaris-garis mengikuti alur serabut otot jantung.--------
------------------------------------------------------------------------
14. Ginjal kanan dan kiri permukaan luar tampak licin, tidak ada perdarahan. Pada
permukaan dalam ditemukan bercak-bercak kehitaman pada piramida ginjal.-----------
17

15. Otak permukaan luar tampak licin dan ditemukan bercak-bercak kemerahan.
Pembuluh darah otak menunjukkan adanya perdarahan dengan disekitarnya terdapat
bercak-bercak kehitaman.------------------------------------------------------------------------

III.Pemeriksaan Laboratorium

3.Pengeceran alkali pada darah jenazah yang memberi warna merah muda yang bertahan
selama beberapa detik dan setelah satu menit berubah warna menjadi coklat kehijauan.-----
4.Percobaan dengan formalin pada darah jenazah terbentuk koagulat berwarna merah yang
mengendap pada dasar tabung reaksi-----------------------------------------------------------------


Kesimpulan
Pada mayat perempuan ini ditemukan bibir yang berwarna merah terang dan juga lebam
pada punggung mayat yang berwarna merah terang.-----------------------------------
Warna merah terang pada bibir dan lebam menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan
keracunan gas karbon monoksida.---------------------------------------------------------------
Sebab mati orang ini adalah keracunan akibat gas karbon monoksida yang menyebabkan
hipoksia jaringan.-----------------------------------------------------------------
Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang
sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai KUHAP. -------------------------------------------------



Dokter yang memeriksa,


dr. Andy
NIP 04678983






18

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA

Toksikologi
Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta khasiat racun, gejala-gejala dan
pengobatan pada keracunan serta kelainan yang didapatkan pada korban yang meninggal.
Racun
Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik
akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian.
Keracunan Karbon Monoksida
CO bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO bersaing dengan O
2
dalam
mengikat protein heme yaitu hemoglobin, mioglobin, sitokrom oksidase (sitokrom a, a3) dan
sitokrom P-450, peroksidase, dan katalase.yang terpenting adalah reaksi CO dengan Hb dan
sitokrom a3. Dengan diikatnya Hb menjadi COHb mengakibatkan Hb menjadi inaktif sehingga
darah berkurang kemampuannya untuk mengangkut O
2
. Selain itu adanya COHb dalam darah
akan menghambat disosiai Oksi-Hb. Dengan demikian jaringan akan mengalami hipoksia.
Reaksi CO dengan sitokrom a3 yang merupakan link yang penting dalam system enzim
pernafasan sel yang terdapat dalam mitokondria, akan menghambat pernafasan sel dan
mengakibatkan hipoksia jaringan. Konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi
menentukan kecepatan timbulnya gejala-gejala keracunan CO atau kematian.
50 ppm (0,005%) adalah TLV (Threshold Limit Value), nilai ambang batas gas CO yaitu
konsentrasi CO dalam udara lingkungan yang dianggap aman pada inhalasi selama 8 jam setiap
hari dan 5 hari setiap minggu untuk jumlah tahun yang tidak terbatas.
7
Pada 200 ppm (0,02%) inhalasi 1-3 jam akan mengakibatkan kadar COHb mencapai 15-
20% saturasi dan gejala keracunan CO mulai timbul.
Pada 1000 ppm (0,1%), inhalasi 3 jam dapat menyebabkan kematian. Sedangkan pada
3000 ppm (0,3%), inhalasi 2 jam sudah dapat menyebabkan kematian.
19

Pada 10.000 ppm (1%), inhalasi 15 menit dapat menyebabkan kehilangan kesadarn
dengan COHb 50% saturasi, sedangkan inhalasi 20 menit menyebabkan kematian dengan COHb
80% saturasi.
Rumus Henderson dan Haggard berlaku bagi orang dalam keadaan istirahat. Konsentrasi
CO dalam udara dinyatakan dalam ppm dan lamanya inhalasi dalam jam.
Pada korban koma dapat ditemukan sianosis dan pucat, pernafasan cepat, mungkin
pernafasan Cheyne-stokes, menjelang kematian pernafasan menjadi lambat. Nadi cepat dan
lemah, tekanan darah rendah, pupil melebar dan reaksi cahaya menghilang, suhu badan di bawah
normal, tetapi pada keadaan terminal mungkin malah terjadi hipertermia.
7

Pemeriksaan Kedokteran Forensik
Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna
merah muda terang (cherry pink colour), yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau
lebih. Pada keracunan CO, jaringan otot, viscera dan darah juga berwarna merah terang.
Selanjutnya tidak ditemukan khas lain. Kadang-kadang dapat ditemukan tanda asfiksia dan
hiperemia visera. Pada otak besar dapat ditemukan ptekie di substansia alba bila korban dapat
bertahan hidup lebih dari jam.
Otak, pada substansia alba dan korteks kedua belah otak, globus palidus dapat ditemukan
petekiae. Kelainan ini tidak patognomonik untuk keracunan CO, karena setiap keadaan hipoksia
otak yang cukup lama dapat menimbulkan ptekiae.
Pada miokardium, ditemukan perdarahan dan nekrosis.
Ditemukan eritema dan vesikel/bula pada kulit dada, perut, muka, atau anggota gerak badan,
baik di tempat yang tertekan maupun yang tidak tertekan. Kelainan tersebut disebabkan oleh
hipoksia pada kapiler bawah kulit.
Pneumonia hipostatik paru mudah terjadi karena gangguan peredaran darah. Dapat pula terjadi
thrombosis arteri pulmonalis.
20

Terjadi nekrosis tubuli ginjal yang secara mikroskopik tampak seperti payah ginjal.
Gangguan peredaran darah akibat perubahan degenerative miokardium memudahkan
terbentuknya thrombus.
8
Pemeriksaan Laboratorium
Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji dilusi alkali.
Dapat pula dilakukan uji formalin, tes secara spektroskopis, cara Gettler-Freimuth (semi-
kuantitatif), cara spektrofotometrik (pada korban masih hidup) dan cara kromatografi gas (pada
korban yang sudah meninggal).
9














21

BAB VI
Penutup dan Ucapan Terima Kasih
Sekian penjelasan kami mengenai hasil diskusi kasus kedua modul forensik. Akhir kata kami
ucapkan terima kasih tutor pembimbing dan para narasumber yang kemudian akan menilai
makalah dan presentasi kami. Kritik dan saran akan kami jadikan pembelajaran untuk diskusi,
pembuatan makalah, ataupun seminar selanjutnya. Semoga ilmu yang dipelajari dapat
bermanfaat.














22

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

1. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. Ilmu kedokteran
forensik : keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
;1997. P.87-88.
2. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. peraturan
perundang-undangan bidang kedokteran: hokum acara pidana. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1994. P.7.
3. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. peraturan
perundang-undangan bidang kedokteran: penyelidikan dan penyidikan. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. P.3.
4. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. peraturan
perundang-undangan bidang kedokteran: prosedur medikolegal. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1994. P.11-12.
5. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Teknik autopsi forensik:
sebab kematian, cara kematian dan mekanisme kematian. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2000. P.7.
6. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. ilmu kedokteran
forensik: keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
1997. P.88.
7. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. ilmu kedokteran
forensik: keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
1997. P.88-.89
23

8. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. ilmu kedokteran
forensik: keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
1997. P.90-91.
9. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia. ilmu kedokteran
forensik: keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
1997. P.92-93.