Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masyarakat Kalimantan Selatan sejak dulu sangat bergantung dengan sungai, terutama
bagi masyarakat yang berada di daerah aliran sungai. Air sungai di manfaatkan oleh
masyarakat sekitarnya untuk keperluan mandi, mencuci, sampai dijadikan kakus/jamban
untuk buang air besar maupun kecil. Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan
buangan / limbah rumah tangga maupun limbah industri semakin banyak mencemari
sungai, yang mengakibatkan berbagai masalah baik bagi manusia ataupun makhluk hidup
lainnya. Di tambah lagi limbah yang disebabkan oleh aktivitas pertanian dan budi daya
ikan semakin memperparah pencemaran air di sungai.
Salah satu aliran sungai di Kalimantan Selatan adalah sungai Martapura yang bermuara
di kota Banjarmasin dan hulunya di kota Martapura Kabupaten Banjar. Di Kabupaten
Banjar sendiri terdapat 2800 jamban terapung sedangkan angka kandungan bakteri e-coli
di sungai martapura khususnya di wilayah Banjarmasin mencapai angka 16000 ppm
sedangkan angka baku mutunya hanya 30 ppm.
Martapura merupakan ibu kota Kabupaten Banjar yang terkenal sebagi kota santri
dan juga sering di sebut kota serambi mekkah, salah satunya karena di kota tersebut
berdiri Pondok Pesantren Darussalam. Pondok Pesantren Darussalam mempunyai santri
sebanyak 12.598 orang yang tersebar di 3 lokasi. Salah satu lokasi tepat berdiri di pinggir
sungai martapura dengan jumlah santri di lokasi tersebut paling banyak yaitu 9.217 orang.
Ironisnya, santri darussalam yang bermukim di sekitar sungai tersebut masih banyak yang
memanfaatkan sungai untuk kegiatan MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Akibat air sungai yang
tercemar salah satunya dapat dilihat dari tingginya angka diare yaitu 7,71/1000 penduduk.
Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan kebersihan, baik kebersihan
batin maupun kebersihan lahiriah. Dalam banyak kitab ushul fiqh bab yang pertama di
ajarkan adalah masalah thaharah (bersuci). Thaharah (bersuci) sangat penting dalam
ajaran Islam, karena menentukan sah atau tidaknya banyak ibadah, termasuk kewajiban
sholat. Thaharah (bersuci) terbagi dalam 3 macam yaitu wudhu, mandi dan tayammum.
Untuk wudhu dan mandi menggunakan air mutlaq . Sedangkan Tayammum menggunakan
tanah yang suci. Air mutlaq adalah air yang sesuai dengan sifat asalnya, seperti air yang
turun dari langit atau keluar dari bumi, yakni : air hujan, air laut, air sungai dll. Menurut
ulama ia suci dan mensucikan. Air bisa menjadi air mutanajjis atau air yang terkena najis.
Dalam hal ini ada dua bagian ;
1. Air sedikit (kurang dari dua kullah; 192,857 kg; atau ukuran penampungan air,
panjang, lebar dan tingginya masing-masing 1 hasta). Jenis ini akan menjadi najis
apabila kemasukan najis walau sedikit.
2. Air banyak : dua kullah atau lebih. Selama tidak berubah salah satu sifatnya, yakni
warna, rasa atau bau maka tidak di hukumi najis walaupun tercampur najis.
Dari uraian latar belakang diatas timbul pertanyaan kenapa para santri maupun
masyarakat martapura pada umumnya yang tinggal di sekitar aliran sungai martapura
masih menggunakan air sungai martapura dalam berbagai aktifitas MCK bahkan untuk
kegiatan Thaharah atau bersuci. Atas dasar itulah penulis tertarik untuk mengangkat judul
tesis Kualitas Air Sungai Martapura di Tinjau dari Kualitas Air Bersih Berdasarkan
Kriteria Kesehatan dan Ushul Fiqh

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kualitas air sungai Martapura, terutama di daerah Martapura Kabupaten
Banjar dilihat dari batas nilai baku air sungai berdasarkan keputusan Gubernur
Kalimantan Selatan nomor 05 tahun 2007 ?
2. Bagaimana kualitas air sungai Martapura di tinjau dari kriteria kesehatan ?
3. Bagaimana kualitas air sungai Martapura di tinjau dari Ushul Fiqh ?