Anda di halaman 1dari 19

Seksualitas Masyarakat Berisiko : Studi Kasus Pada Laki-Laki Yang

Berhubungan Seks Dengan Laki-Laki di Surakarta


Argyo Demartoto
1
,Endang Gerilyawati IES
2
, D Priyo Sudibyo
3
A. Pendahuluan
Salah satu kesepakatan global dalam Millenium Development Goals
September 2 dan komitmen nasional negara Indonesia adalah membasmi
!I"#AIDS, $uber%ulosis dan penyakit&penyakit lain' Human
Immunodeficiency Virus (!I") adalah *irus yang menyebabkan penyakit
AIDS yang ada pada %airan tubuh yang mengandung sel darah putih, seperti
darah, %airan plasenta, air mani atau %airan sperma, %airan sumsum tulang,
%airan *agina, air susu ibu, dan %airan otak' Sedangkan Acquired Immune
Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan beberapa ge+ala akibat
menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh *irus !I"
(http,##www'spiritia'or, id)' !I"#AIDS menular melalui hubungan seksual, alat
suntik, trans-usi darah yang ter%emar !I" dan dari ibu yang terin-eksi kepada
bayi selama kehamilan dan persalinan (.ortenberry dkk, 2/0 Demartoto,
21
a
)' Ge+ala umum AIDS adalah rasa lelah yang berkepan+angan0 sering
terserang demam dengan suhu lebih dari 31 dera+at 2el%ius disertai keringat
pada malam hari tanpa sebab yang +elas0 berat badan menurun se%ara
men%olok0 pembesaran kelen+ar di leher, ketiak, lipatan paha tanpa sebab yang
+elas0 ber%ak merah kebiruan di kulit seperti terkena kanker kulit0 terus&
menerus terkena diare tanpa sebab yang +elas0 serta ada ber%ak putih atau luka
di mulut' (3undiharno, 144/ , 4&1)'
Di Indonesia, se%ara kumulati- kasus !I"#AIDS 1 April 141/ s'd 31
Desember 212 adalah !I" 41'34 kasus, AIDS 56'544 kasus dan yang
meninggal 1'236 orang' 7umlah kumulati- kasus !I"#AIDS menurut -aktor
risiko homoseksual (lesbian, gay, waria) menduduki urutan ke empat (5) yaitu
1
7urusan Sosiologi .akultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik 8ni*ersitas Sebelas 3aret
2
Program Studi Pendidikan Dokter .akultas 9edokteran 8ni*ersitas Sebelas 3aret
3
7urusan Ilmu Administrasi .akultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik 8ni*ersitas Sebelas 3aret
1
1'4 kasus' 3enurut hasil Sur*eilans $erpadu :iologis dan Perilaku (S$:P)
$ahun 211, pre*alensi !I" tertinggi terdapat pada penasun (51;), diikuti
<aria (22;), <PS= (1;), =S= (1;), <:P (3;), <PS$= (3;), dan Pria
Potensial >isti (,/;)' Pre*alensi Si-ilis tertinggi ditemukan pada <aria
(26;), kemudian diikuti <PS= (1;), =S= (4;), <:P (6;), Pria Potensial
>isti (5;), <PS$= (3;), dan penasun (2;)' Pre*alensi gonore tertinggi pada
<PS= (31;), kemudian diikuti oleh <aria (24;), =S= (21;), dan <PS$=
(14;)' Pre*alensi klamidia tertinggi pada <PS= dan <PS$= (masing&masing
51;) diikuti oleh <aria (21;) dan =S= (21;)' Dalam :uku Saku 9esehatan
212 "isual Data 9esehatan Pro*insi 7awa $engah $riwulan II $ahun 212
dinyatakan bahwa pada tahun 212 di Pro*insi 7awa $engah terdapat 115 kasus
!I" dan 23 kasus AIDS' 3enurut 9omisi Penanggulangan AIDS 9ota
Surakarta dari ?ktober 26 s'd 7uni 213 di Surakarta terdapat 1'66 kasus
!I"#AIDS yang terdiri dari 3/1 kasus !I", @15 kasus AIDS dan yang
meninggal dunia sebanyak 363 orang'
Situasi epidemi !I"#AIDS di Indonesia hingga akhir tahun 22 akan
terus mengalami peningkatan pre*alensi dan masih terkonsentrasi pada
populasi paling beresiko (the most at risk populations A mA>Ps) termasuk
komunitas =aki&laki yang berhubungan Seks dengan =aki&laki (=S=)'
9omunitas =S= +umlahnya tidak sedikit, mereka ada di sekitar kita namun
seringkali kita memang tidak tahu karena umumnya mereka termasuk yang
memilih untuk tidak membuka diri karena takut akan an%aman sosial agama
dan masyarakat' $idak ada data statistik yang pasti mengenai +umlah =S= di
Indonesia maupun di Surakarta (Demartoto, 21
b
)'
Istilah =aki&laki yang berhubungan Seks dengan =aki&laki (=S=)
diadopsi 9omisi Penanggulangan AIDS Basional (9PAB) se+ak bulan 7uli
21 dari istilah Men who have Sex with Men (3S3) yang dilansir oleh <!?
se+ak tahun 141&an' 3enurut Asia acific !oalition on Male Sexual Health"
=S= adalah istilah kesehatan masyarakat yang inklusi- digunakan untuk
men+elaskan perilaku seksual laki&laki yang berhubungan seksual dengan laki&
laki tanpa melihat identitas gender, moti*asi terlibat dalam hubungan seks, dan
2
identi-ikasi dirinya dengan komunitas tertentu' Dengan demikian terminologi
ini men%akup berbagai *ariasi dan konteks dimana ter+adi seks laki&laki dengan
laki&laki' =S= dapat termasuk yang berikut ini,
1' =aki&laki yang se%ara eksklusi- berhubungan seks dengan =aki&laki lain'
2' =aki&laki yang berhubungan seks dengan =aki&laki lain tapi sebagian
besarnya berhubungan seks dengan wanita'
3' =aki&laki yang berhubungan seks dengan =aki&laki maupun wanita tanpa
adanya perbedaan kesenangan'
5' =aki&laki yang berhubungan seks dengan =aki&laki lain untuk uang atau
karena mereka tidak mempunyai akses untuk berhubungan seks dengan
wanita, misalnya di pen+ara, ketentaraan'
(http,##www'msmasia'org)
Seksualitas se%ara denotati- memiliki makna yang luas karena meliputi
semua aspek yang berhubungan dengan seks yang bisa meliputi nilai, sikap,
orientasi dan perilaku' Se%ara dimensional seksualitas bisa dipilah lagi ke
dalam dimensi biologi, dimensi psikososial, dimensi perilaku seksual, dimensi
klinis dan dimensi kultural (Begara, 26, 1)' Seksualitas meliputi karakteristik
-isik dan kapasitas untuk berperilaku seks yang dipadukan dengan hasil proses
bela+ar psikoseksual (nilai, sikap dan norma) sehubungan dengan perilaku
tersebut ($hornburg, 14120 Spre%her C 3% 9inney, 1443)' 3enurut hasil dari
9on-erensi Asia acific #etwork for Social Health (APBE$) $Gender"
Sexuality" and %eproductive Health$ di 2ebu, .ilipina 1&12 7anuari 144@,
seksualitas adalah ekspresi seksual seseorang yang se%ara sosial dianggap
dapat diterima serta mengandung aspek&aspek kepribadian yang luas dan
mendalam' Seksualitas merupakan gabungan dari perasaan dan perilaku
seseorang yang tidak hanya didasarkan pada %iri seks se%ara biologis, tetapi
+uga merupakan salah satu aspek kehidupan sebagai manusia yang tidak dapat
dipisahkan dari aspek hidup yang lain (3ohammad, 1441, 3@)' De-inisi ker+a
dari <!? (22) bahwa seksualitas adalah suatu aspek inti manusia sepan+ang
hidupnya dan meliputi seks, identitas dan peran gender, orientasi seksual,
erotisme, kenikmatan, kemesraan dan reproduksi' Seksualitas dialami dan
diungkapkan dalam pikiran, khayalan, gairah, keper%ayaan, sikap, nilai,
perilaku, perbuatan, peran dan hubungan'
3
Seksualitas dalam bahasan ini bukan hanya sekedar identitas seks yang
ditetapkan se%ara biologis, tetapi ia +uga dibentuk melalui pengasuhan, norma
sosial, dan pembagian tugas sosial yang berdasarkan gender' Semua istilah
yang kemudian lebih +auh mengembangkan peran gender, termasuk
didalamnya peran seksual, orientasi seksual dan perilaku seksual seseorang'
?leh karena norma&norma +uga dipengaruhi dan berakar pada budaya maka
kita dapat melihat betapa budaya +uga mengatur atau mengontrol seksualitas
seseorang' !al ini serupa dengan pandangan yang dikemukakan oleh 7!'
Gagnon dan <' Simmon dalam bukunya Sexual !onduct yang menyatakan
bahwa seksualitas dibentuk oleh -aktor sosio budaya (<eeks, 1442, 3)'
=S= men+adi terminologi yang populer dalam konteks !I"#AIDS
dimana ia digunakan karena menggambarkan perilaku yang menempatkan
mereka dalam risiko terin-eksi' Dalam tesis karyanya, %isk Society & 'oward a
#ew Modernity 8lri%h :e%k men+elaskan DrisikoD (risk) sebagai,
Ekemungkinan&kemungkinan kerusakan -isik (termasuk mental dan sosial yang
disebabkan oleh proses teknologi dan proses&proses lainnya, seperti proses
sosial, politik, komunikasi, seksualD' Setidaknya terdapat tiga ma%am risiko
yaitu risiko -isik&ekologis (physical*ecolo+ical risk), risiko sosial (social risk)
dan risiko mental (psyche risk) (:e%k, 1442) ,
>isiko -isik&ekologis yaitu aneka risiko kerusakan -isik pada manusia dan
lingkungannya, %ontohnya , gempa, tsunami, letusan gunung) atau risiko yang
diproduksi oleh manusia (man made risks)' Sementara risiko sosial yaitu aneka
risiko yang menggiring pada rusaknya bangunan dan lingkungan sosial sebagai
akibat dari -aktor&-aktor eksternal kondisi alam, teknologi, industri' >isiko
mental han%urnya bangunan psikis, berupa perkembangan aneka bentuk
abnormalitas, penyimpangan (deviance) atau kerusakan psikis lainnya, baik
yang disebabkan -aktor eksternal maupun internal' $erkait dengan hal tersebut
adalah konsepnya mengenai Ee-ek boomerangD, yang merupakan pengaruh
sampingan dari risiko yang dapat menyerang kembali ke pusat pembuatnya'
<alaupun modernisasi lebih dahulu menghasilkan risiko, namun ia akan
+uga menghasilkan re-leksi*itas yang memungkinkannya untuk
5
mempertanyakan dirinya sendiri risiko yang dihasilkannya ( >itFer dan
Goodman, 23 , 6@3)' Dalam realita, sering kali rakyat atau korban dari risiko
itu sendiri mulai mere-leksikan risiko modernisasi tersebut' Selan+utnya
mereka mulai mengamati dan mengumpulkan data tentang risiko dan
akibatnya' ?leh karena itu, re-leksi*itas baik berbentuk pikiran, renungan,
sikap maupun tindakan akan berperan dalam mengantisipasi, mengurangi atau
mengatasi dampak&dampak atau akibat&akibat dari risiko' $ulisan ini akan
mengka+i identitas seksual, orientasi seksual dan perilaku seksual =S=0 risiko
dan re-leksi*itas =S= di Surakarta terhadap !I"#AIDS'
B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitati- dengan metode penelitian
studi kasus' =okasi penelitian ini di Surakarta karena terdapat =S= yang
men+adi populasi kun%i penyebaran !I"#AIDS melalui perilaku seksualnya
dan men+adi 9elompok Dampingan (9D) dari Gayasan Gessang Surakarta
untuk program penanggulangan !I"#AIDS' $eknik pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah purposive samplin+ yaitu menentukan sampel dengan
pertimbangan tertentu yang dipandang dapat memberikan data se%ara maksimal
(DenFin C =in%oln Eds, 2)' $eknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah wawan%ara mendalam, obser*asi non partisipasi
dan dokumentasi' Dalam penelitian ini dihasilkan dua ma%am data, yakni data
primer dan data sekunder yang dianalisis se%ara mendalam dengan interactive
model of analysis yang terdiri dari tiga komponen utama analisis, yakni data
reduction" data display" dan conclusion drawin+ (3iles C !uberman, 1445)'
C. Pembahasan
Se+ak mewabahnya penyakit yang menakutkan yaitu !I"#AIDS,
perhatian dunia terhadap perilaku seksual dan In-eksi 3enular Seksual (I3S)
men+adi makin meningkat' !al ini disebabkan hubungan seksual merupakan
%ara utama dalam penularan !I"#AIDS' I3S lain memberikan resiko yang
lebih besar terin-eksi !I"#AIDS bagi orang yang menderitanya' Penularan
6
melalui hubungan seksual baik se%ara homoseksual atau heteroseksual
merupakan %ara penularan !I"#AIDS yang paling sering ter+adi' "irus dapat
menular melalui segala ma%am bentuk kegiatan seksual baik penetrasi, dimana
semen, %airan *agina atau %airan mulut rahim (cervix) terin-eksi !I" atau
melalui perpindahan darah' In-eksi dapat ditularkan pengidap !I" kepada
pasangan seksualnya' >isiko terin-eksi !I" melalui hubungan seksual karena
mitra seksualnya telah terin-eksi !I"#AIDS0 %ara melakukan hubungan
seksual0 +umlah *irus yang ada dalam darah atau %airan dari mitra seksual serta
adanya I3S lain atau luka genital (Dit+en PP3 C P=P Depkes >I, 1446%,3)'
. !dentitas dan "rientasi Seksual LSL
!asil penelitian menun+ukkan bahwa =S= di Surakarta sering
berkumpul di taman#+alan#terminal atau tempat terbuka misalnya di $aman
Sriwedari, beberapa tempat minum (wedan+an) seperti di Sraten, dekat
Stasiun Purwosari, di depan =embaga Pemasyarakatan, sekitar G?>
3anahan, maupun di dekat !otel Barita' !al ini dikarenakan =S= dapat
bertemu, berkenalan, berken%an dengan sesama =S=' Akan tetapi =S= +uga
sering bertemu di tempat yang lain seperti kolam renang, pasar, mes+id dan
sebagainya' Selain itu =S= +uga ber+e+aring sosial melalui cy-er society
untuk men%ari partner seksual'
=S= dalam penelitian ini berusia antara 1/ A 61 tahun (usia produkti-)'
Pada umumnya =S= mengidenti-ikasi diri sebagai gay0 beberapa =S=
menyatakan diri sebagai biseksual dan heteroseksual' =S= ada yang
berpendidikan akademi atau perguruan tinggi0 S=$A#sedera+at dan
S=$P#sedera+at' :eberapa =S= tidak bersedia memberitahukan
peker+aannya0 ada mahasiswa0 karyawan0 beker+a di salon, pedagang,
pegawai swasta, Pria Peker+a Seks, pen+aga toko#warnet, dan lain&lain'
Penghasilan =S= %ukup ber*ariasi yakni >p' 6',& sampai dengan >p'
16'',&' Pada umumnya =S= tidak menikah0 beberapa ada yang
menikah dan berstatus duda' 9omunitas =S= di Surakarta tidak
mengkonsumsi narkoba'
#. Pengetahuan LSL tentang $!%&A!DS' resiko dan u(aya menghindari
)re*leksi+itas,
@
Sebagian besar komunitas =S= di Surakarta tahu tentang !I"#AIDS
bahkan menyatakan bahwa orang bisa mengurangi risiko tertular !I"#AIDS
dengan tidak melakukan seks anal' !al ini menun+ukkan bahwa seks anal
sangat berisiko tertular !I"#AIDS' 3ereka menyatakan orang bisa
mengurangi risiko tertular !I"#AIDS dengan %ara menggunakan kondom
yang benar setiap berhubungan seks anal' Pada umumnya =S= menyatakan
bahwa orang tidak dapat tertular !I"#AIDS dari gigitan nyamuk, orang
dapat men%egah tertular !I"#AIDS dengan hanya mempunyai satu
pasangan seks, setia dan belum terin-eksi !I"#AIDS dan orang dapat
tertular !I"#AIDS melalui +arum suntik yang baru sa+a digunakan orang
lain' =S= di Surakarta merasa berisiko tertular !I"#AIDS apabila
melakukan peker+aan berisiko tinggi seperti pria peker+a seks, sering
melakukan seks anal, tidak menggunakan kondom dan memakai suntikan'
3enurut sebagian =S= di Surakarta untuk menghindari agar tidak
tertular !I"#AIDS (re-leksi*itas) maka =S= harus menggunakan kondom,
mempunyai pasangan bersih, tidak berhubungan seks dengan orang lain
(setia dengan pasangannya)' Pada umumnya mereka tahu tempat test untuk
mengetahui dirinya terin-eksi !I" atau tidak, pernah melakukan test !I"
atas kemauan sendiri serta tahu hasil test tersebut' Akan tetapi ada =S= yang
tidak tahu hasil test tersebut' 9omunitas =S= yang tidak tahu hasil "2$
karena takut untuk mengambil hasil test tersebut'
Ada =S= yang menyatakan tidak rutin melakukan test !I"' !al ini
menun+ukkan bahwa pada umumnya komunitas =S= takut melakukan "2$
dengan berbagai alasan, antara lain takut mengetahui hasilnya dan hambatan
waktu'
-. Kondom Pria dan Peli.in
=S= dapat menun+ukkan kondom dan membawanya saat wawan%ara'
!al ini disebabkan karena lokasi wawan%ara berbeda&beda yakni , di rumah,
hotspot, hotel dan sebagainya' Pada umumnya =S= terakhir memperoleh
kondom dengan membeli di apotik dan memperoleh dari peker+a =S3 yang
mempunyai inter*ensi perubahan perilaku misalnya =S3 Gessang
Surakarta' =S= pada umumnya bisa mendapatkan kondom dengan mudah
/
misal dari apotik, =S3 dan sebagainya' Sementara itu beberapa =S=
mempunyai alasan tidak bisa memperoleh kondom karena terlalu mahal,
toko#apotik terlalu +auh +araknya#tutup, rasa malu untuk membeli kondom,
tidak tahu bagaimana memperolehnya dan tidak mau membawa'
=S= mengunakan peli%in pada saat seks anal dengan peli%in berbahan
dasar air (seperti 9G Gel), namun ada =S= yang menyatakan bahwa peli%in
yang digunakan saat seks anal adalah air ludah' Selain itu ada yang
menyatakan bahwa peli%in yang digunakan saat seks anal adalah minyak'
Sementara itu yang menarik yaitu ada =S= yang menggunakan peli%in yang
berbahan dasar minyak seperti hand -ody lotion (2itra, 3arina, "i*a, dan
sebagainya)' !al ini menun+ukkan bahwa =S= belum sadar akan pentingnya
kondom dan peli%in bagi pen%egahan dan penularan !I"#AIDS' Bamun
pada umumnya =S= pernah mendengar produk peli%in khusus yang dapat
digunakan dengan kondom seperti 9G Gel, Sutra =ubri%ant, 9onimeH Gel'
Adapun berbagai alasan =S= menggunakan krim peli%in khusus kondom
karena mengurangi rasa nyeri#peradangan0 meningkatkan kenikmatan#tahan
lama0 mengurangi risiko kondom pe%ah0 men%egah in-eksi !I"#AIDS dan
karena alasan lainnya (biar mudah masuk)'
/. Pasangan Seks dan 0i1ayat Seksual
Ada perbedaan penting antara perilaku seksual =S= dan identitas =S='
$idak semua =S= mempunyai kerentanan yang sama terhadap !I"' =S=
hanya dengan pasangan tetap +angka pan+ang yang sama&sama monogami,
dan mereka yang se%ara konsisten melakukan seks yang aman berada pada
risiko yang rendah' Bamun, se+umlah besar =S= berisiko terhadap
!I"#AIDS karena sering berhubungan seksual dan tidak terlindung dengan
laki&laki lain'
=S= di Surakarta umumnya tidak tinggal dengan pasangan seks tetap'
!al ini menun+ukkan bahwa komunitas =S= %enderung tinggal sendiri
karena masyarakat Indonesia pada umumnya belum dapat menerima
kehidupan gay di lingkungannya dan -enomena ini mengisyaratkan bahwa
komunitas gay senang berganti&ganti pasangan' Bamun ada =S= yang
1
mempunyai pasangan tetap wanita yang tinggal bersama dan ada yang
mempunyai pasangan tetap pria yang tinggal bersama' !al ini berarti ada
gay yang menikah dengan wanita dan ada yang mempunyai pasangan tetap
pria' 7adi dapat disimpulkan bahwa pada umumnya =S= tidak mempunyai
pasangan seks tetap atau senang berganti&ganti pasangan' !al ini berarti
mereka berisiko tertular !I"#AIDS karena tidak tahu status !I" dari
partner seksualnya'
Pada umumnya =S= melakukan hubungan seks anal' !al ini
menun+ukkan bahwa =S= berisiko tertular !I"#AIDS' Seperti diketahui
bahwa dinding anus sangat tipis sehingga apabila dinding anus luka
kemungkinan ter+adi pertukaran %airan darah luka ke penis maupun %airan
sperma ke luka di anus' Sedang yang di anal lebih berisiko karena
menampung sperma' ?leh karena itu anal seks berisiko tinggi tertular
!I"#AIDS' Adapun =S= yang pernah melakukan hubungan seks dengan
pria dalam sebulan terakhir ini rata&rata ada yang berhubungan seks dengan
se+umlah pria bahkan ada yang berganti&ganti pasangan sampai 4 atau 1
orang' .enomena ini menun+ukkan bahwa komunitas =S= senang berganti&
ganti pasangan (tidak dapat setia dengan pasangannya) atau memiliki
promiskuitas yang tinggi' Pada umumnya mereka melakukan seks anal
dengan pria&pria tersebut' !al ini berarti perilaku seksual mereka sangat
rentan tertular !I"#AIDS' Pada umumnya =S= di Surakarta tidak
menggunakan kondom saat terakhir kali seks anal dengan pria lain serta
tidak menggunakan kondom atau pelindung lainnya saat melakukan oral
seks'
=S= sangat rentan tertular I3S dan !I"#AIDS akibat perilaku seksual
yang tidak aman, baik yang dilakukan se%ara genital, anal maupun oral'
9omunitas =S= sebagian adalah penganut seks bebas, baik karena tuntutan
dan dorongan seksual sebagai gay atau pria peker+a seks' Dengan tidak
terkontrolnya keberadaan =S=, baik sebagai gay yang berpro-esi sebagai
PPS maupun yang tidak, penyebaran I3S dan !I"#AIDS melalui =S=
praktis men+adi masalah yang belum terselesaikan se%ara tuntas dan akurat'
:ahkan hingga kini belum diperoleh %ara&%ara pengendalian penyebaran
4
I3S dan !I"#AIDS' :eberapa =S= yang diketahui mengidap I3S dan
!I"#AIDS, merasa malu untuk melakukan pemeriksaan ke dokter maupun
klinik&klinik lainnya (!arahap, 144,1&2)'
Dengan demikian perlu upaya yang lebih praktis dan realistis untuk
memberikan kesadaran bagi mereka tentang bagaimana pentingnya men+aga
kesehatan serta men%egah penularan berbagai ma%am I3S dan !I"#AIDS'
!arus diakui berbagai ma%am teknik hubungan seksual yang dilakukan oleh
komunitas =S= sangat rentan terhadap ter+angkitnya I3S dan !I"#AIDS,
terutama teknik oral (-ellatio) dan sodomi' $eknik hubungan seks demikian
masih dilakukan oleh sebagian besar gay karena memang hanya dengan
begitulah selama ini mereka rasakan kenikmatan seks'
Satu teknik hubungan seksual yang aman bagi =S= dan pasangannya
adalah +epit, yakni dengan %ara alat *ital pasangan gay di+epit antara dua
paha sedang alat *ital gay lainnya berada diatas perut pasangannya' Dengan
teknik ini, selain ke%il kemungkinan tertularnya penyakit, kedua belah pihak
dapat men%apai orgasme (9oeswinarno, 1441)' !anya yang men+adi
pertanyaan, kaum gay yang -eminin (-ottom) berada dipihak yang lemah
sehingga mereka sangat dipengaruhi oleh permintaan pasangan seksnya'
?leh karena itu, aspek&aspek yang mendasari penyebaran I3S dan
!I"#AIDS dari perilaku seksual komunitas =S= men+adi sensiti- dan
penting untuk diperhatikan'
2. !n*eksi Menular Seksual
=S= di Surakarta dapat menyebutkan berbagai ge+ala penyakit pada
pria yang ditularkan karena hubungan seks antara lain ken%ing nanah0
nyeri #ben+ol disekitar kelamin0 luka pada penis0 bengkak pada lipat paha0
nanah pada anus dan luka pada anus' Sebagian =S= di Surakarta pernah
mengalami ge+ala&ge+ala penyakit tersebut dalam setahun terakhir ini seperti
pernah mengalami ge+ala&ge+ala penyakit ken%ing nanah0 penyakit nanah
pada anus0 luka pada penis dan penyakit tumbuhan kutil pada penis atau
anus' Adapun yang dilakukan oleh komunitas =S= saat mengalami ge+ala
tersebut adalah berobat ke petugas kesehatan0 tidak melakukan sesuatu#tidak
diobati0 melakukan pengobatan sendiri (a'l dengan antibiotik)' Adapun
1
tempat berobat apabila komunitas =S= mengalami ge+ala tersebut adalah
>umah Sakit, Puskesmas, dokter praktek, klinik dan lainnya seperti
mengobati sendiri dengan antibiotik, +amu atau obat lainnya'
Dari beberapa =S= yang mengalami ge+ala sakit kelamin mempunyai
beraneka ragam +awaban agar pasangan seksual tidak tertular (re-leksi*itas)
yaitu tidak melakukan hubungan seks dengan pasangannya0 memakai
kondom saat melakukan hubungan seks0 minum +amu#berobat sebelum
berhubungan seks0 pasangan diminta minum +amu#berobat sebelum
berhubungan seks serta men%ari pertolongan medis agar pasangan seks tidak
tertular'
3. Perubahan Perilaku Seksual: 0e*leksi+itas LSL
Gambaran tentang identitas seksual, orientasi seksual dan perilaku
seksual =S=0 risiko dan re-leksi*itas =S= di Surakarta terhadap !I"#AIDS
%ukup untuk di+adikan alasan tentang perlunya upaya membentuk sikap dan
perilaku seksual yang sehat di kalangan =S=' Perilaku seksual berisiko
tinggi yang dipraktekkan oleh =S= antara lain diindikasikan oleh beberapa
hal yaitu memiliki banyak pasangan0 tidak pernah menggunakan kondom0
tingginya -rekuensi melakukan hubungan dengan pasangan selain pasangan
tetap dan meskipun =S= merasa pasangannya sehat, kesehatan mereka tidak
sepenuhnya ter+amin' Adanya =S= di Surakarta yang terin-eksi I3S
dianalogikan sebagai besarnya peluang =S= terin-eksi !I"#AIDS' Seperti
diketahui bahwa komunitas =S= merupakan komunitas yang rentan
berpeluang terin-eksi !I"#AIDS' Dengan +aringan seksual =S= yang
demikian luas maka !I"#AIDS berpeluang untuk menyebar lebih luas lagi
+ika salah seorang anggota komunitas tersebut terin-eksi !I"#AIDS'
Akan tetapi bagaimana upaya pen%egahan itu dapat dilakukan se%ara
lebih e-ekti-I .okus perhatian dapat ditumpahkan pada bagaimana
mengubah perilaku seksual komunitas =S= men+adi perilaku seksual yang
lebih sehat dan aman dapat di+abarkan melalui beberapa indikasi yaitu
memiliki +umlah pasangan yang tertentu dan terbatas0 memiliki pasangan
yang sehat0 mengurangi -rekuensi berhubungan seks dengan pria peker+a
seks, dan mengunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual'
:agaimanakah perilaku seksual itu dapat diubahI $emuan studi ini
11
mengungkap beberapa sisi pesimis tentang upaya pen%egahan dan
perubahan perilaku seksual komunitas =S=' 8ngkapan&ungkapan =S= yang
menyatakan bahwa perilaku seksual komunitas gay %enderung bebas (sering
berganti&ganti pasangan) mengindikasikan betapa sulitnya mengubah
perilaku seksual mereka' $emuan tersebut dapat men+adi bahan re-leksi
terhadap berbagai upaya pen%egahan I3S dan !I"#AIDS yang dilakukan
selama ini' 8paya&upaya pen%egahan yang hanya ter-okus pada penyuluhan
bukanlah kegiatan yang %ukup e-ekti-' ?leh karena itu, perlu diperta+am
dengan kegiatan&kegiatan yang lebih terarah dan ter-okus' 8paya
pen%egahan melalui penyuluhan hanya merupakan upaya untuk memberi
tahu, tetapi tidak %ukup untuk merubah perilaku' 9egiatan&kegiatan seperti
itu masih menekankan pada luasnya sasaran, tetapi kurang memberikan
dampak yang berkelan+utan' Proses kampanye yang searah yang umumnya
dilakukan saat ini, baik melalui pam-let, poster, maupun iklan kurang
memberikan dampak pada perilaku sasaran dibandingkan dengan biaya
yang dikeluarkannya'
?leh karena itu upaya pen%egahan penularan I3S dan !I"#AIDS perlu
diadakan se%ara ter-okus pada kelompok sasaran yang berisiko tinggi
termasuk komunitas =S=' Perdebatan tentang kampanye !I"#AIDS perlu
diarahkan kepada kelompok risiko tinggi atau seluruh masyarakat
hendaknya tidak mengurangi pentingnya prioritas pada populasi yang
berisiko tinggi itu' Studi ini mengungkapkan bahwa komunitas =S=
merupakan salah satu yang termasuk kelompok berisiko tinggi terin-eksi
I3S dan !I"#AIDS'
.okus kegiatan pen%egahan terutama perubahan perilaku seksual di
kalangan =S= perlu diarahkan, tidak sa+a pada gay terbuka, tetapi +uga
dilakukan terhadap gay tertutup dan pria peker+a seks' :erangkat dari
temuan seperti itu maka tampaknya sulit untuk mengubah perilaku indi*idu
tanpa men%oba mempengaruhi norma yang berlaku ditempat indi*idu itu
berada' ?leh karena itu -okus perhatian pertama dalam upaya
mempengaruhi perubahan perilaku indi*idu adalah mengubah norma&norma
yang berlaku dalam komunitas =S=' Dalam kaitan ini perlu ada upaya
12
pengenalan dan penanaman norma&norma baru yang berkaitan dengan
perilaku seksual mereka' Borma&norma yang diperkenalkan adalah norma&
norma yang memungkinkan mereka memiliki perilaku seksual yang sehat
dan aman'
8paya ini harus dilakukan dengan melibatkan se%ara penuh kalangan
gay se%ara kolekti- dengan mula&mula mendekati key persons diantara
meraka' Gay yang pernah mengalami betapa sakitnya terkena I3S dan
?D!A dapat di+adikan sebagai titik tolak dalam memperkenalkan
perubahan perilaku seksual mereka' $emuan studi ini mengungkapkan
bahwa =S= yang pernah mengalami I3S mulai mengubah perilaku
seksualnya' 9esadaran mereka untuk mengubah perilaku seksual se%ara
sukarela dapat di+adikan sebagai bahan ru+ukan dalam mempengaruhi
anggota komunitas lain yang dikenal dengan konsep eer .ducator
(pendidik sebaya)' 7ika norma&norma baru telah disosialisasikan, tetapi sulit
bagi indi*idu untuk mematuhinya, maka indi*idu yang tidak mematuhi
norma baru akan memperoleh sanksi dari komunitasnya, misalnya dalam
bentuk pengasingan atau %emoohan' Penerimaan komunitas terhadap norma
baru dapat dimungkinkan +ika proses pengenalan dilakukan dengan
melibatkan se%ara penuh anggota komunitas se+ak permulaan'
Proses perubahan perilaku bagi =S= tidak dapat dilakukan se%ara tiba&
tiba dalam skala yang besar, tetapi dilakukan se%ara bertahap dengan
memberikan pilihan yang realistis dan berkelan+utan' Sulit untuk
mengharapkan =S= tidak melakukan hubungan seksual dengan tanpa
menggunakan kondom se%ara tiba&tiba sebab seperti diungkapkan beberapa
=S= di Surakarta, hal itu sudah men+adi kebiasaan mereka' Sebaliknya,
barang kali akan lebih mudah +ika perubahan perilaku seksual dilakukan
dengan memperkenalkan lebih dulu penggunaan kondom' Selama ini =S=
enggan mengunakan kondom, namun dengan langkah&langkah yang lebih
persuasi- keengganan tersebut bisa dihilangkan' Proses tersebut berangsur&
angsur akan tetap dilakukan sampai pada akhirnya mereka mengurangi
+umlah pasangan atau bahkan menghentikan kegiatan seksual dengan
berganti&ganti pasangan' 7ika sadar perilaku seksual yang aman dan sehat ini
13
dapat diterima sebagai norma khusus, yang berlaku dalam komunitas =S=,
diharapkan ada sema%am kontrol internal yang kuat terhadap indi*idu&
indi*idu dalam komunitas tersebut'
Proses perubahan perilaku para gay di Australia yang diungkapkan
Adam 2arr (1443) menarik untuk di+adikan bahan pela+aran' Ada beberapa
pela+aran yang bisa dibuat bahan re-leksi dalam upaya mengubah perilaku
seksual yang lebih sehat (http,##www'%d%'%io*&go*)'
ertama" penyediaan in-ormasi yang dilakukan se%ara sepihak tidaklah
%ukup' Pada awal 141&an pihak pemerintah ataupun BG? melakukan
kampanye penyebaran in-ormasi tentang !I"#AIDS untuk merangsang
kesadaran mereka tentang penyakit tersebut' :eberapa kampanye dilakukan
se%ara terbatas' :eberapa lainnya dilakukan se%ara luas dan terang&terangan'
Bamun, umumnya semuanya gagal dalam melakukan perubahan perilaku
penduduk' Penelitian membuktikan bahwa seseorang tidak mengubah
perilakunya se%ara sungguh&sungguh hanya atas kesadaran bahwa
perilakunya mungkin membahayakan dirinya' Populasi yang berisiko
tertular !I"#AIDS hanya memperoleh in-ormasi dan kampanye media
massa telah gagal untuk melakukan perubahan perilaku seksualnya se%ara
berarti' Pela+aran penting dari kenyataan ini bagi negara berkembang adalah
bahwa kampanye melalui media se%ara besar&besaran dengan biaya yang
mahal adalah sesuatu yang tidak e-ekti- dalam membawa perubahan
perilaku sasaran'
/edua" perubahan perilaku bukan semata&mata proses indi*idual dalam
menyerap in-ormasi dan membuat keputusan rasional tentang perilakunya'
Proses perubahan perilaku indi*idu lebih merupakan hasil atas keanggotaan
dirinya sendiri dari satu komunitas yang mengubah standar perilakunya dan
mengharapkan perubahan perilaku anggotanya' 2ontoh baik dalam hal ini
adalah penggunaan kondom' 9ebanyakan gay tidak suka menggunakan
kondom, tetapi menerimanya bahwa mereka harus melakukannya' :ukan
semata&mata dari keputusan rasional bahwa menggunakan kondom
merupakan hal baik untuk menghindari !I"#AIDS, melainkan karena sadar
bahwa komunitas gay yang mereka miliki telah menerima norma bahwa
15
menggunakan kondom merupakan perilaku standar yang harus dilakukan
oleh setiap anggotanya' Sanksi bagi yang tidak menggunakan kondom
bukanlah dalam bentuk terin-eksi !I"#AIDS, tetapi berupa ketidaksetu+uan
dan pengasingan oleh pasangannya' Satu pela+aran dari hal ini adalah bahwa
kampanye yang didasarkan pada mobilisasi loyalitas dan identi-ikasi dengan
komunitas tertentu memberikan harapan terbaik dalam perubahan perilaku
seksual kelompok sasaran' 9esamaan kepentingan diantara anggota
komunitas memungkinkan adanya keterikatan di antara anggota'
/eti+a" pesan perubahan perilaku harus memberikan kepada populasi
tertentu atau pilihan yang realistik dan berlan+ut' Perubahan tidak bisa
dilakukan se%ara besar&besaran dalam waktu sekaligus' Perubahan hanya
bisa dilakukan se%ara bertahap, serealistis mungkin, sesuai dengan kesiapan
indi*idu dan komunitas menerima perubahan tersebut' 9etika para gay
dinasehati tentang abstain dari akti-itas seksual atau mengurangi se%ara
drastis +umlah pasangannya, mereka gagal untuk mematuhi sebab perubahan
tersebut terlalu besar untuk diserap dalam kehidupannya' Akan tetapi, ketika
pesan yang disampaikan diubah dan di-okuskan pada penggunaan kondom,
tingkat penerimaan mereka men+adi tinggi' 3ereka dapat mengakomodasi
pesan tanpa terganggu kehidupannya'
/eempat, sumber in-ormasi dan edukasi harus tersedia sedekat
mungkin dengan populasi yang men+adi target kampanye' Idealnya adalah
sumber in-ormasi dan edukasi men+adi milik populasi yang beresiko
terin-eksi' 9ampanye melalui media seperti poster atau lea-let kurang
sempurna' 3ereka gagal untuk berkomunikasi se%ara e-ekti-, khususnya
dengan mereka yang tidak dapat dan tidak bisa memba%a' Perubahan
perilaku akan lebih e-ekti- melalui pendidikan yang dilakukan oleh teman&
teman se+awat se%ara horisontal (eer .ducator#Pendidik Sebaya)
dibandingkan dengan pendidikan yang dilakukan se%ara *ertikal oleh
sumber in-ormasi yang berwenang'
3ateri tentang perilaku seksual, I3S dan !I"#AIDS sebenarnya sudah
%ukup banyak tersedia untuk di+adikan sebagai bahan 9IE (9omunikasi,
In-ormasi, dan Edukasi)' <!?, misalnya, telah banyak mengeluarkan
16
%ukup banyak publikasi yang terkait dengan I3S dan !I"#AIDS' Sebagian
dari publikasi itu bahkan telah diter+emahkan dalam bahasa Indonesia oleh
9ementerian 9esehatan' 8BES2? +uga menerbitkan empat modul materi
yang dapat di+adikan sebagai bahan ru+ukan dalam pendidikan seksual atau
yang dikenal sebagai pendidikan orang dewasa (adolescence education)'
:eberapa lembaga +uga telah men%oba mempublikasikan dalam bahasa
Indonesia berbagai in-ormasi yang berkaitan dengan I3S dan !I"#AIDS'
Persoalan kemudian adalah bagaimana mengemas lebih lan+ut berbagai
bahan tersebut dalam bahasa sehari&hari kelompok sasaran'
:eberapa pela+aran dari proses perubahan perilaku yang diuraikan oeh
Adam 2arr (1443) tersebut menarik untuk di+adikan sebagai salah satu
ru+ukan dalam mengka+i ulang upaya pen%egahan I3S dan !I"#AIDS yang
selama ini dilakukan, utamanya dalam mempengaruhi perilaku seksual
populasi berisiko tinggi terin-eksi I3S dan !I"#AIDS terutama komunitas
=S= di Surakarta'
D. Penutu(
. Kesim(ulan
Agaknya memang tidak ada kata yang labih tepat dalam kehidupan
reproduksi dan seksualitas komunitas =S=, selain bagaimana melakukan
perubahan perilaku seksual kaum ini' Perubahan perilaku seksual diakui
sebagai sebuah peker+aan yang termat sulit dilakukan' Apalagi +ika
perilaku seksual selama ini dilakukan telah diyakini se%ara turun temurun'
:ukan berarti bahwa perubahan itu tidak mungkin di%apai' 7ika usaha
se%ara simultan, terus menerus dan terintegrasi dilakukan, maka
kemungkinan besar akan hadir perubahan itu'
Akan tetapi satu pertanyaan yang %ukup mendasar adalah seberapa
+auh sebenarnya pemerintah, =S3 atau lembaga&lembaga lainnya yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas memiliki
kepentingan serius terhadap komunitas =S=I 9ami yakin bahwa selama
kaum gay masih men+adi kaum tersisih, tanpa perhatian karena dianggap
masih belum begitu penting serta belum banyak menimbulkan masalah
1@
maka selama itu pula akan menimbulkan banyak masalah, maka selama itu
pula akan sulit diperoleh perubahan' Agaknya, ini men+adi sebuah utopia'
3engapaI 9ita akan dihadapkan pada masalah moral' 7ika
penyelesaiannya sangat +elas, bahwa lelaki yang melakukan hubungan seks
se+enis adalah dosa besar' Dengan demikian, tidak boleh ada orang yang
men+adi gay' 3oral ini memang teramat susah untuk dengan mudah
dipisahkan dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pendekatan ilmu
sosial' Akhirnya, perdebatan tidak akan pernah selesai'
Gang penting dari hasil penelitian ini adalah bahwa peneliti men%oba
membuka kesadaran bahwa ada perilaku seksual dalam kehidupan =S=
yang banyak mengandung resiko I3S dan !I"#AIDS serta memerlukan
penanganan yang %ukup serius'
#. Saran
8ntuk merubah %itra =S= dari %ap buruk masyarakat mulailah
kesadaran dari diri sendiri dengan merubah perilaku seksual yang tidak
sehat ke perilaku seksual yang sehat' !al ini dapat dilakukan dengan %ara
menerapkan teori A (A-stinence), : (0e 1aithful), 2 (2se !ondom), D (#o
Dru+) dan E (Sterili3ation of .quipment) dalam kehidupan sehari&hari'
Selain itu agar =S= lebih peka terhadap in-ormasi tentang I3S dan
!I"#AIDS sehingga dapat mengerti bahayanya serta mengerti bagaimana
perilaku seksual yang sehat dan aman'
9eluarga memiliki peranan penting dalam merubah perilaku seksual
=S= sehingga yang bisa diharapkan dari keluarga =S= agar dapat
mengenalkan dan mengingatkan norma dan nilai&nilai hubungan seksual
yang sehat dan aman' Pemerintah harus senantiasa lebih memperhatikan
kondisi yang ter+adi pada =S= yang +uga merupakan komunitas yang
rawan terhadap penularan !I"#AIDS' Dinas 9esehatan di Surakarta untuk
lebih intensi- mensosialisasikan in-ormasi tentang I3S dan !I"#AIDS
beserta %ara pengobatannya serta menyediakan -asilitas kesehatan untuk
pengobatan I3S dan !I"#AIDS dengan harga pengobatan yang ter+angkau
sehingga dapat men%egah %ara pengobatan yang salah apalagi +ika
1/
penderita tidak mau berobat karena alasan malu dan tidak kuat untuk
membayar biaya obatnya'
=S3 yang terkait dengan I3S dan !I"#AIDS agar lebih gen%ar
mensosialisasikan in-ormasi tentang bahaya !I"#AIDS di kalangan =S='
Sosialisasi yang dilakukan dibuat supaya lebih mengena di hati =S=
melalui diskusi, pemutaran -ilm, edutainment, sportainment dan
sebagainya'
DA45A0 P6S5AKA
Asia Pa%i-i% 2oalition on 3ale SeHual !ealth' Definin+ $MSM$, (Serial ?nline)
http,##www'msmasia'org
:e%k, 8lri%h' 1442' %isk Society & 'owards a #ew Modernity, =ondon' Sage
Publi%ations
Demartoto, Argyo' 21
a
'erilaku 4aki*laki yan+ 0erhu-un+an Seks den+an
4aki*laki (4S4) untuk melakukan test HIV di /ota Surakarta' =aporan
Penelitian ($idak diterbitkan)'
&&&&&&&&, 21
b
'/a5ian Sosiolo+i /esehatan Men+enai en+etahuan" Sikap dan
erilaku Seksual 4aki*4aki 6an+ 0erhu-un+an Seks den+an 4aki*laki (4S4)
dalam kaitannya den+an HIV 7 AIDS' =aporan Penelitian ($idak
diterbitkan)'
DenFin, B'9 C =in%oln, G'S' (Eds)' 2' Hand-ook of 8ualitative %esearch'
2ali-ornia , Sage Publi%ations In%'
Dinas 9esehatan Pro*insi 7awa $engah' 212' 0uku Saku /esehatan 9:;9 Visual
Data /esehatan rovinsi <awa 'en+ah 'riwulan II 'ahun 9:;9' Semarang ,
Dinas 9esehatan Pro*insi 7awa $engah'
Dit+en PP3 C P= Depkes >l'1446%' etun5uk ence+ahan enularan Human
Immuno Deficiency Virus (HIV) Secara Seksual' 7akarta , Dit+en PP3 C P=
Depkes >l' (<!?' AIDS Seri @)'
Dit+en PP3 C P= Depkes >l' 212'Statistik /asus HIV=AIDS di Indonesia
Dilapor s=d Desem-er 9:;9,(Serial ?nline) http,##www'spiritia'or, id
.ortenberry, 7'D', 3%-arlane, 3'3', !ennessy, 3', :ull, S'S', Grimley, D'3',
=awren%e, 7, St=awren%e, Stone, :'P', C "an De*anter, B' 2/' >elation o-
health litera%y to gonorrhea related %are' Sexually 'ransmitted Infection
online" D?I,1'113@#S$I'//'3'2@'
11
!arahap, 3arwali' 144' Epidemiologi, dalam 3arwali !arahap ed' enyakit
Menular Seksual, <akarta & Gramedia,
9oeswinarno' 1441' >aria dan enyakit Menular Seksual, /asus Dua /ota di
<awa, Gogyakarta, Pusat Penelitian 9ependudukan 8ni*ersitas Gad+ah
3ada'
3iles, 3' :' C !uberman, A'3' 1445' 8ualitative Data Analysis & An .xpanded
Source 0ook' (2
nd
' Ed)' 2ali-ornia , Sage Publi%ations In%'
3ohammad, 9artono' 1441' /ontradiksi Dalam /esehatan %eproduksi, Pustaka
Sinar !arapan, 7akarta
3undiharno' 144/'erilaku Seksual 0erisiko 'ertular MS dan HIV=AIDS (/asus
Sopir 'ruk Antar ropinsi),Gogyakarta, Pusat Penelitian 9ependudukan
8ni*ersitas Gad+ah 3ada'
Begara, 3ade ?ka'26' Men+urai ersoalan /ehidupan Seksual dan
%eproduksi erempuan" dalam 7urnal Perempuan Bo' 51' SE9S8A=I$AS'
7akarta , G7P
>itFer, George dan Douglas 7' Goodman' 26' 'eori Sosiolo+i Modern, 7akarta,
9en%ana'
Spre%her, S dan 3%9inney, 9' 1443' Sexuality, 2ali-ornia ,Sage Publi%ations'
$hornburg, D'!' 1412' Development in Adolescence, Se%ond Edition, 2ali-ornia,
:rook 2ole Publishing 2o'
<eeks 7e--rey', 23' Sexuality", =ondon C Bew Gork ,>outledge
14