Anda di halaman 1dari 70

PENGARUH JUS BAYAM (ALTERNANTHERA AMOENA VOSS)

TERHADAP HISTOLOGI LAMBUNG TIKUS PUTIH JANTAN


(RATTUS NORVEGI CUS) SETELAH DIINDUKSI ASPIRIN

Ade Wijaya
09310169
Seminar Akhir KTI
Jumat,17 Mei 2013 Pukul 07.00 WIB
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung
BAB I

PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG

Lambung
Merupakan bagian dari pencernaan, yang
berfungsi sebagai reservoar (menampung)
makanan

Aspirin
Termasuk AINS (obat anti inflamasi non steroid),
efek samping nya yang dapat mendekstruksi
sawar mukosa lambung.
Bayam merah (Alternanthera amoena Voss)
Sangat baik di gunakan untuk mengurangi kadar
keasaman lambung, sehingga dapat membantu mengatasi
penyakit maag (gastritis), membantu mempercepat
penyembuhan luka dan mencerna protein.
I.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pemberian jus bayam merah
(Alternanthera amoena Voss) dapat
memperbaiki kerusakan histologi lambung
tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
setelah diinduksi aspirin?
2. Apakah terdapat perbedaan yang
bermakna terhadap efek yang ditimbulkan
pada peningkatan dosis pemberian jus
bayam merah (Alternanthera amoena
Voss) ?


I.3. TUJUAN PENELITIAN
1. Umum :
Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus
bayam merah (Alternanthera amoena Voss)
terhadap kerusakan histologi lambung tikus putih
(Rattus norvegicus) setelah diinduksi aspirin.

2. Khusus :
Dapat menjelaskan dan memahami pengaruh
yang ditimbulkan pada peningkatan dosis
pemberian jus bayam merah (Alternanthera
amoena Voss).

I.4. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis:
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi
mengenai penggunaan jus bayam merah (Alternanthera
amoena Voss) untuk proteksi terhadap kerusakan histologi
lambung

2. Manfaat Aplikatif
- Bagi Ilmu Pengetahuan
- Bagi Masyarakat
- Bagi Peneliti
- Bagi Penelitian Selanjutnya
I.5. RUANG LINGKUP
1. Judul penelitian
2. Subjek penelitian
3. Objek penelitian
4. Waktu penelitian
5. Tempat penelitian

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. LAMBUNG
II.1.1. Anatomi Lambung
II.1.2. Histologi lambung
II.3 BAYAM MERAH (ALTERNANTHERA AMOENA VOSS)


II.3.1. Taksonomi :
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Hamamelidae
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Alternanthera
Spesies : Alternanthera
amoena Voss

II.3.2 KANDUNGAN GIZI TANAMAN BAYAM MERAH

Karbohidrat : 10 gr
Protein : 4,6 gr
lemak : 0,6 gr
Vitamin A : 469 mcg
Vitamin B1 : 0,08 mg
Vitamin E : 1,7 mg
Vitamin C : 80 mg
Folat : 150 mcg
Kalsium (Ca) : 368 mg
Fosfor : 111,0 mg
Zat besi : 2,7 mg

II.4. TIKUS PUTIH
Taksonomi tikus putih :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegicus
Tikus putih relatif resisten terhadap infeksi dan sangat
cerdas.

tikus putih mudah diperoleh dalam jumlah banyak,
mempunyai respon yang cepat, memberikan gambaran
secara ilmiah yang mungkin terjadi pada manusia dan
harganya relatif murah.

Tikus putih betina mempunyai kadar hormonal kurang
stabil dibandingkan dengan tikus jantan.

Tikus putih sangat jarang berkelahi dan dapat tinggal
sendirian dalam kandang karena hewan ini lebih besar
dibandingkan dengan mencit.
II.5 ASPIRIN

Dua mekanisme terjadinya iritasi pada lambung
oleh aspirin:

- Iritasi yang bersifat lokal yang menimbulkan
difusi kembali asam lambung ke mukosa dan
menyebabkan kerusakan jaringan.

- Melalui hambatan pembentukan prostaglandin
oleh pengaruh inhibisi OAINS pada enzim
siklooksigenase yang bekerja mengubah asam
arakidonat menjadi prostaglandin, tromboksan,
prostasiklin
II.5 KERANGKA TEORI
Aspirin
Difusi balik ion
H / asam
lambung
Menghambat
enzim COX
Menghambat
pembentukan
prostasiklin
Menghambat
pembentukan
prostaglandin
Asam lambung
meningkat
vasokonstriksi Kerusakan dan
perdarahan
lambung
Mineral, Ca,
B1 (tiamin)
Flavonoid,
protein, vit C
(asam
askorbat),
saponin
Menetralkan
asam
lambung
Melindungi
dan
regenerasi
sel, antibiotik
dan sintesis
kolagen
Bayam merah Tikus putih
Keterangan :
: mengandung
: menyebabkan
: mengobati
: diberikan
: diinduksi
II.6 KERANGKA KONSEP
Variabel independen Variabel dependen

gambaran histologis
lambung tikus putih
jantan (Rattus
norvegicus) galur
Wistar.
jus bayam merah
(Alternanthera
amoena Voss) dan
aspirin.

II.7 HIPOTESIS

Ha : Adanya pengaruh bayam merah
(Alternanthera amoena Voss) terhadap
kerusakan histologi lambung tikus putih (Rattus
norvegicus) yang diinduksi aspirin.
Ha : Adanya pengaruh yang ditimbulkan pada
peningkatan dosis pemberian jus bayam
merah (Alternanthera amoena Voss).
BAB III

METODOLOGI
PENELITIAN
III.1. JENIS PENELITIAN
Penelitian yang digunakan adalah penelitian
eksperimen (Experimental research). Ciri khusus
dari penelitian eksperimen adalah adanya percobaan
atau trial atau intervensi, percobaan itu berupa
perlakuan atau intervensi terhadap suatu variable.

III.2. WAKTU & TEMPAT PENELITIAN
Waktu penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan
Maret 2013 April 2013.

Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Badan
Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV)
Regional III Bandar Lampung.

III.3. RANCANGAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini jenis rancangan yang digunakan adalah
rancangan post test only controled group design. . Penelitian
ini menggunakan 5 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan,
2 kelompok kontrol (+), dan 1 kelompok kontrol (-), dengan
randomisasi sederhana.

1. Kontrol ( - ) T T
2. Kontrol ( + ) T W Tc
3. Kontrol ( + ) T Y Te
4. Perlakuan I T Y X T
5. Perlakuan II T Y Z T

Keterangan :
T : Tikus Putih
X : bayam merah (1,5 mg/200gBB selama 14 hari)
W : bayam merah (3 mg/200gBB selama 14 hari)
Z : bayam merah (6 mg/200gBB selama 14 hari)
Y : aspirin (6,5 ml/hari selama 14 hari)
Tc : Tikus Putih yang diberi bayam merah (3 mg/200gBB selama
14 hari)
Te : Tikus Putih yang diberi aspirin (6,5mg/hari selama 14 hari)
T" : Tikus Putih yang diberi bayam merah yang diinduksi
aspirin

III.4. SUBYEK PENELITIAN
III.4.1. Populasi
Populasi target
Tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar.

Populasi terjangkau
Tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar,
umur 2-3 bulan, berat badan 150-200 gram, sehat, tidak
ada kelainan anatomis.
III.4.2.Sampel

Cara pengambilan sampel.
Diambil secara acak dari populasi terjangkau dengan
memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.

Besar sampel.
Jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 25 ekor tikus
Wistar.

Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Federer yaitu :
(k 1) (n 1) 15
Keterangan :
k = Jumlah perlakuan.
n = Jumlah hewan coba tiap kelompok perlakuan.

Penelitian ini menggunakan 5 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan, 2
kelompok kontrol (+), dan 1 kelompok kontrol (-), sehingga :

Diketahui : k = 5

(5-1)(n-1) 15
4 (n-1) 15
4n-4 15
4n 15+4
4n 19
n 4,75
n 4,75 berarti n 5

III.5 VARIABEL PENELITIAN

III.5.1. Variabel independen
jus bayam merah (Alternanthera amoena
Voss) dan aspirin.

III.5.2.Variabel dependen
gambaran histologis lambung tikus putih
jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar.
III.6. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Variabel Independen
Variabel Dependen
Variabel Luar
Jus bayam merah (Alternanthera
amoena Voss) dan arpirin.
Gambaran histologis lambung tikus
putih jantan (Rattus norvegicus)
galur Wistar.
Dapat Dikendalikan
Tidak Dapat Dikendalikan

Skala : Ratio
Skala :
Nominal
III.7. ALAT & BAHAN

Alat
Kandang tikus beserta kelengkapannya
Spidol
Handscoon / sarung tangan
Timbangan hewan
Timbangan obat
Alat bedah hewan percobaan (scalpel, pinset, gunting, jarum, meja
lilin)
Alat untuk membuat preparat histologi
Mikroskop
Gelas ukur dan blender

Bahan
Aspirin
Makanan hewan percobaan
Aquades
Bahan untuk pembuatan preparat histologi
dengan pengecatan HE
Jus bayam merah
III.8. PENGUMPULAN DATA

1. Langkah 1 : Pembuatan jus bayam merah.

2. Langkah 2 : Pembagian tikus putih menjadi 5
kelompok, Kemudian dilakukan aklimatisasi selama
7 hari. Pada hari ke-8 dilakukan penimbangan berat
badan untuk menentukan dosis .

3. Langkah 3 :
- Kelompok kontrol negatif hanya diberi diet standar selama
14 hari berturut-turut.

- Kelompok kontrol positif 1 diberi diet standar dan jus
bayam merah dosis tunggal 3 mg/200gBB selama 14 hari
berturut-turut.

- Kelompok kontrol positif 2 diberi diet standar dan aspirin
dosis tunggal 6,5 mg/hari peroral selama 14 hari berturut-
turut.



- Kelompok perlakuan 1 diberi diet standar dan jus
bayam merah peroral sebanyak 1,5 mg/200gBB
tikus putih dan diberikan dosis tunggal aspirin
sebesar 6,5 ml/hari peroral selama 14 hari.

- Kelompok perlakuan 2 diberi diet standar dan jus
bayam merah peroral sebanyak 6 mg/200gBB tikus
putih diberikan dosis tunggal aspirin sebesar 6,5
mg/hari peroral selama 14 hari.
DOSIS PENELITIAN :
Dosis jus bayam merah untuk tikus putih adalah :
250 1 0,018 50/70 = 3,21= 3 mg /200 grBB/hari

Dalam percobaan dipakai dosis jus yang bertingkat :

Kelompok uji I: Dosis rendah/ dosis 1 =
0,5 x 3 mg/200gBB = 1,5 mg/200gBB
Kelompok uji II: Dosis sedang/ dosis 2 =
1 x 3 mg/200gBB = 3 mg/200gBB
Kelompok uji III: Dosisi tinggi/ dosis 3 =
2 x 3 mg/200gBB = 6mg/200grBB


Dosis aspirin untuk tikus adalah :


500 0,018 50/70 = 6,5 mg/200 grBB/hari

4. Langkah 4 : Setelah perlakuan diberikan,
maka dilakukan pengambilan data.

5. Langkah 5 : Observasi menggunakan tabel
skore integritas epitel (Barthel Manja)

6. Langkah 6 : Data yang diperoleh akan diuji
dengan uji statistik.
III.9. PENGOLAHAN DATA
Editting
Skoring
Coding
Entering
Processing
Tabulating
III.10 ANALISA DATA
Data yang diperoleh dari 5 kelompok sampel diolah dengan program
komputer SPSS. Data tersebut diuji normalitasnya dengan uji Shapiro-
Wilk .

Jika didapatkan data normal, maka dilakukan uji beda
menggunakan uji statistik parametrik ANOVA, dan jika didapatkan
perbedaan yang bermakna, maka dilanjutkan dengan uji statistik Post
Hock. Sedang jika didapatkan distribusi yang tidak normal, maka
dilakukan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis, dan jika dari
hasil uji statistik tersebut ada perbedaan yang bermakna, maka
dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney, dengan ketentuan :

Jika p 0,05, maka ada perbedaan yang bermakna.
Jika p > 0,05, maka tidak ada perbedaan yang bermakna

K. ALUR PENELITIAN
Pembuatan
proposal

persiapan
Pemberian
perlakuan
Pengamatan
hasil
Pengolahan
data
Laporan
Persiapan jus bayam merah ,aspirin serta alat dan bahan

Pembuatan kandang dan aklimatisasi tikus Wistar selama 7
hari

K (-)
K (+) 1
K (+) 2
P1
P2

BAB IV

HASIL PENELITIAN
I.1 HASIL PENELITIAN

Setiap tikus putih galur Wistar dibuat 1 image
lambung (1 preparat) pada setiap kelompok yang
terdiri atas kelompok kontrol (-), kelompok kontrol
(+) A, kelompok kontrol (+) B, kelompok perlakuan
1, kelompok perlakuan 2

Tiap preparat kemudian diamati, sehingga dari tiap
kelompok ada 5 gambaran mikroskopis lambung
tikus putih galur Wistar. Data hasil pengamatan
untuk masing-masing kelompok disajikan pada
tabel.


1. KELOMPOK KONTROL (-)


Hanya diberi diet standar selama 14 hari

Kelompok Kontrol (-) 0 1 2 3
Total %
Kerusakan
Keterangan
1
K (-) 1 70% 30% - - 10% Normal
2
K (-) 2 60% 30% 10% - 13% Normal
3
K (-) 3 60% 40% - - 13% Normal
4
K (-) 4 70% 30% - - 10% Normal
5
K (-) 5 70% 10% 20% - 10% Normal


2. KELOMPOK KONTROL + ASPIRIN


Diberi diet standar dan aspirin dosis tunggal 6,5 mg (0,1 ml)
/hari peroral selama 14 hari berturut-turut.
No
Kelompok Kontrol (+)
Aspirin
0 1 2 3
Total %
Kerusakan
Keterangan
1 K (+) A 1 - 10% 10% 80% 93,33% Berat
2 K (+) A 2 - - 30% 70% 86,67% Berat
3 K (+) A 3 - 10% 10% 80% 90% Berat
4 K (+) A 4 - 40% 60% 86,67% Berat
5 K (+) A 5 - - 20% 80% 96,67% Berat

3. KELOMPOK KONTROL (+) BAYAM MERAH

Diet standar dan jus bayam merah dosis tunggal 3 mg
(0,2ml) /200gBB selama 14 hari berturut-turut.
No
Kelompok Kontrol (+)
Bayam Merah
0 1 2 3
Total %
Kerusakan
Keterangan
1 K (+) B 1 5% 95% - - 31,67% Ringan
2 K (+) B 2 10% 90% - - 30% Ringan
3 K (+) B 3 50% 40% 10% - 13,33% Normal
4 K (+) B 4 60% 30% 10% - 13,33% Normal
5 K (+) B 5 30% 70% - - 23,33% Normal

4. KELOMPOK PERLAKUAN 1

Diberi diet standar dan jus bayam merah peroral sebanyak 1,5 mg (0,1
ml) /200gBB tikus putih dan diberikan dosis tunggal aspirin sebesar
6,5 mg (0,1 ml)/hari peroral selama 14 berturut-turut
No Kelompok Perlakuan 1 0 1 2 3
Total %
Kerusakan
Keterangan
1 P1 (1) 90% 10% - - 6,67% Normal
2 P1 (2) 50% 40% 10% - 30% Ringan
3 P1 (3) 50% 50% - - 40% Ringan
4 P1 (4) 50% 40% 10% - 20% Normal
5 P1 (5) 40% 10% 50% - 40% Ringan

5. KELOMPOK PERLAKUAN 2

Diberi diet standar dan jus bayam merah peroral sebanyak 6 mg (0,4
ml) /200gBB tikus putih diberikan dosis tunggal aspirin sebesar 6,5
mg (0,1 ml) /hari peroral selama 14 hari berturut-turut
No Kelompok Perlakuan 1 0 1 2 3
Total %
Kerusakan
Keterangan
1 P2 (1) 50% 30% 20% - 16,67% Normal
2 P2 (2) 60% 30% 10% - 16,67% Normal
3 P2 (3) 90% 10% - - 3,33% Normal
4 P2 (4) 80% 20% - - 3,33% Normal
5 P2 (5) 90% 10% - - 3,33% Normal

DARI HASIL PENGAMATAN MIKROSKOP :

pada kelompok kontrol (-) didapatkan 5 sampel dengan gambaran
histologi yang normal.

Pada kelompok kontrol (+) aspirin, tidak didapatkan gambaran histologi yang
normal, 5 sampel dengan kerusakan berat.

Pada kelompok kontrol (+) bayam merah, didapatkan 3 sampel dengan gambaran
histologi normal, 2 sampel dengan kerusakan ringan, dan tanpa ada sampel dengan
kerusakan berat.

Pada kelompok perlakuan 1, didapatkan 2 sampel dengan
gambaran histologi normal, 3 sampel dengan kerusakan ringan, dan tanpa ada
sampel dengan kerusakan berat.

Pada kelompok perlakuan 2, didapatkan 5 sampel dengan gambaran histologi yang
normal, dan tanpa ada sampel dengan kerusakan berat.

IV.2 ANALISIS DATA

Uji Normalitas Data

Distribusi data diuji dengan menggunakan uji
statistik parametrik Saphiro-Wilk dan didapatkan
hasil p pada K - = 0,701 , K + aspirin = 0,421, K +
bayam merah = 0,196, P1 = 0,196 dan P2 = 0,247.
Seluruh hasil menyebutkan bahwa nilai
p > 0,05 yang berarti distribusi data normal.

Oneway ANOVA

Data selanjutnya diuji dengan hipotesis Oneway
ANOVA dan didapatkan hasil p = 0,000 (p < 0,05)
yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna
antar kelompok.

Post Hoc

Kelompok K(-) K(+)A K(+)B P1 P2
K(-) - 0,000* 0,083 0,083* 1,000
K(+)A 0,000* - 0,000* 0,000* 0,000*
K(+)B 0,083 0,000* - 1,000 0,083
P1 0,083 0,000* 1,000 - 0,083
P2 1,000 0,000* 0,083 0,083 -
*terdapat perbedaan yang bermakna
Jika dibandingkan dengan K(-), maka K(+)A, dan P1 lah yang
memiliki nilai signifikansi bermakna

Jika dibandingkan dengan K(+)A, maka K(-), K(+)B, P1 dan
P2 lah yang memiliki nilai signifikansi bermakna

Jika dibandingkan dengan K(+)B, maka, K(+)A lah yang
memiliki nilai signifikansi bermakna

Jika dibandingkan dengan P1, maka K(+)A, lah yang memiliki
nilai signifikansi bermakna

Jika dibandingkan dengan P2,maka K(+)A, lah yang memiliki
nilai signifikansi bermakna,


IV.3 HASIL OBSERVASI
Kelompok Kontrol (-)

Ket :
0 : normal
1 : deskuamasi
1
0
Kelompok K (+) Aspirin
Ket :
1 : deskuamasi
2 : erosi
3 : ulserasi
1
2
3
Kelompok K (+) Bayam Merah
Ket :
0 : normal
1 : deskuamasi
1
0
Kelompok Perlakuan 1
Ket :
1 : deskuamasi
2 : erosi
1
2
Kelompok Perlakuan 2
Ket :
0 : normal
1 : deskuamasi
2 : erosi
3 : ulserasi
3
1
2
0
IV.4 PEMBAHASAN


Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil
penelitian di bawah mikroskop, menunjukan
adanya pengaruh pemberian jus bayam merah
terhadap kerusakan histologi lambung tikus putih
galur Wistar yang diinduksi aspirin.
Pada kelompok K (-), didapatkan 5 sampel dengan
gambaran histologi yang normal, ini disebabkan karena
pada kelompok K (-) tidak diberikan perlakuan apapun.

Pada kelompok K (+) aspirin, didapatkan 5 sampel dengan
gambaran histologis dengan kerusakan berat, ini disebabkan
karena pada kelompok K (+) aspirin mempunyai efek
meningkatkan asam lambung yang berlebihan sehingga
dapat menyebabkan pengikisan mukosa lambung. Hal ini
sesuai teori dimana disebutkan bahwa aspirin dengan
beberapa mekanisme patofisiologinya dapat menyebabkan
kerusakan sawar (barier) mukosa lambung dan usus (tukak
peptik). Disebutkan ada 2 mekanisme aspirin dalam
menyebabkan kerusakan mukosa lambung. Yang pertama
adalah difusi balik ion H, dan penghambatan enzim
siklooksiginase
Pada kelompok kontrol (+) bayam merah, didapatkan
3 sample dengan gambaran histologi normal, 2
sampel dengan kerusakan ringan, dan tanpa ada
sampel dengan kerusakan berat. Untuk 2 sampel
dengan kerusakan ringan, hal ini mungkin karena
adanya variabel luar yang tidak dapat dikendalikan,
antara lain seperti kondisi psikologis tikus putih selain
itu, mungkin selama digunakan dalam penelitian ini
mencit pada kelompok K (+) bayam merah mengalami
stress berat sehingga sekresi asam lambung menjadi
meningkat secara berlebihan atau mungkin juga karena
kondisi awal usus tikus putih ini sudah mengalami
kelainan.
Pada kelompok perlakuan 1, didapatkan 2 sample dengan
gambaran histologi normal, 3 sample dengan kerusakan
ringan, dan tanpa ada sample dengan kerusakan berat.

Pada kelompok perlakuan 2, didapatkan 5 sample dengan
gambaran histologi normal. Peran aspirin sebagai faktor
agresif akan dinetralkan dengan pemberian jus bayam merah.
Dalam hal ini jus bayam merah mempunyai 2 mekanisme.
Yang pertama adalah efek regenerasi dan rehabilitasi dari
flavanoid, protein, asam askorbat (Vit.C) dan saponin
yang dimiliki bayam merah. Sedangkan yang kedua adalah
adanya kandungan mineral basa lemah yang bisa
berfungsi sebagai penetralisir keasaman lambung yang
berlebihan. Adanya efek perlindungan bayam merah tersebut
akan melindungi mukosa lambung tikus putih dari kerusakan
yang diinduksi aspirin.
Sebagian besar sampel kelompok P1 dan P2
menunjukkan gambaran yang normal, yang secara
statistik berbeda dengan kelompok K (+) aspirin yang
sebagian besar sampel menunjukkan gambaran yang
mengalami kerusakan berat. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa pemberian jus bayam merah dapat
mengurangi dan memperbaiki kerusakan histologis usus
tikus putih galur Wistar yang diinduksi aspirin.

Jika dibandingkan P1 dan P2 didapatkan nilai p = 0,013
yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna ( p =
0,05). Hal ini dikarenakan pemberian dosis 6
mg/200gBB tikus putih selama 14 hari pada P2 lebih
efektif dari pada pemberian dosis 1,5 mg/200gBB tikus
putih selama 14 hari pada P1.



BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil
penelitian yang telah dilakukan uji statistik dan
pembahasan adalah sebagai berikut :

Adanya pengaruh pemberian jus bayam merah
terhadap histologis lambung tikus putih galur Wistar
yang diinduksi aspirin.
Peningkatan dosis pemberian jus bayam merah pada
tikus putih galur Wistar menimbulkan perbedaan
efek yang nyata.

V.2 SARAN
Dengan melihat kekurangan dalam penelitian ini, maka
saya menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar :

Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan menggunakan
dosis yang lebih bervariasi, sehingga dapat diketahui dosis
yang lebih efektif dalam mengurangi kerusakan lambung yang
diinduksi aspirin.

Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan durasi waktu
yang lebih lama untuk mengetahui manfaat jus bayam merah
pada penggunaan obat OAINS jangka panjang.

Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk membandingkan
efektifitas jus bayam merah dengan tumbuhan lain yang juga
terbukti dapat memproteksi lambung.


LAMPIRAN
Tests of Normality

Kelompok perlakuan Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Posttest
Kontrol Negatif ,188 5 ,200
*
,945 5 ,701
Kontrol + Aspirin ,221 5 ,200
*
,902 5 ,421
Kontrol + Bayam merah ,247 5 ,200
*
,851 5 ,196
Perlakuan 1 ,247 5 ,200
*
,851 5 ,196
Perlakuan 2 ,221 5 ,200
*
,865 5 ,247
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

TERIMAKASIH