Anda di halaman 1dari 10

SIRIH

Sirih (Piper betle L.) sudah banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh
masyarakat Indonesia sejak lama karena semua bagian tanaman yang meliputi
akar, daun dan bijinya digunakan sebagai obat tetapi daun pada sirih lebih terkenal
dan banyak digunakan. Atsiri yang terkandung di dalam daun sirih mempunyai
bau yang aromatik dan berasa pedas, atsiri pada daun sirih mengandung chavicol
C4H3OH yang merupakan antiseptik yang kuat untuk menanggulangi parasit
terutama Ichthyophthirius multifiliis, hasil tersebut telah dibuktikan validitasnya.
Khasiat sirih digunakan sebagai styptic (penahan darah) dan vulnerary (obat luka
pada kulit) juga berdaya guna sebagai antioksida, antiseptic, fungisida dan
bakterisidal. Hal ini dipertegas oleh Widarto (1990) bahwa daun sirih yang
mengandung minyak atsiri bersifat menghambat pertumbuhan parasit dan pada
penelitian yang dilakukan oleh Herawati (2003) membuktikan bahwa atsiri daun
sirih dapat menghambat pertumbuhan parasit protozoa pada ikan botia. Namun
dalam penerapannya harus memperhatikan ketahanan ikan terhadap air rebusan
daun sirih tersebut. Konsentrasi yang terlalu tinggi dapat berpengaruh negatif
tidak hanya terhadap parasit tetapi juga pada ikan. Hasil penelitian Herawati
(2003) menunjukkan pengobatan dengan cara perendaman menggunakan bahan
alami daun sirih dapat menghambat perkembangbiakan parasit Ichthyophthirius
multifiliis. Pada konsentrasi 8,3 ppt daun sirih, tingkat mortalitas parasit Ich
mencapai 99,4 %. Sedangkan konsentrasi terbaik perendaman dengan daun sirih
yang aman untuk ikan dan efektif untuk menanggulangi parasit Ich adalah pada
6,7 ppt dengan tingkat mortalitas Ich sebesar 86,28 % selama 12 jam perendaman.
Hasil pengamatan terhadap gejala klinis dari ikan botia sebelum dan sesudah
perendaman dengan daun sirih menunjukkan perbedaan yang nyata. Sebelum
perendaman, ikan yang terserang parasit Ich menunjukkan gejala terdapat bintik-
bintik putih kecil berwarna putih pada kulit, sirip dan insang. Sering 27 juga
tampak selaput putih abu-abu pada lensa mata ikan botia. Ikan yang telah
terinfeksi berat oleh parasit ini tampak lemah, sering menyendiri dan
menggosokkan badannya pada dasar kolam. Selanjutnya ikan akan mengapung
atau berada pada permukaan bilamana insang sudah penuh kiste parasit
Ichthyophthirius multifiliis. Parasit Ich yang menyerang insang mengakibatkan
insang berwarna merah kehitaman, lamella insang berwarna pucat dan hilangnya
fungsi insang. Setelah perendaman, ikan yang terserang parasit Ich menunjukkan
perubahan seperti warna pada tubuh kembali cerah dimana bintik putih yang ada
pada kulit sudah hilang, juga pada sirip ekor, punggung, dada dan perut. Kondisi
mata kembali seperti pada saat ikan masih sehat yaitu kehitaman pada lensa mata
tampak bening. Gerakan dari ikan berangsur-angsur kembali normal yaitu
berenang lincah dan tampak cirri khas dari ikan botia yaitu bergerombol dan
berenang dengan lincah. Warna insang ikan juga perlahan-lahan kembali normal
yaitu kemerah-merahan dan lamella insang kembali normal sehingga ikan dapat
berenang dengan lincah karena fungsi insang kembali normal. Hal serupa juga
telah dibuktikan oleh Rizqi Akuarium Farm yang biasa menggunakan air rebusan
daun sirih untuk mengobati penyakit ikan akibat parasit protozoa. Untuk
pengobatan, Rizqi Akuarium Farm menggunakan aquarium dengan volume air 60
L, rebusan daun sirih 5 ppt (sebelum memasukkan 5 ppt (150 mL/6000mL = 5
ppt) rebusan daun sirih, air dalam aquarium dikurangi terlebih dahulu sebanyak
150 mL) rebusan daun sirih dibuat untuk larutan stock sebanyak 3 L (komposisi
200 g daun sirih yang direbus dengan air 3,35 L) selama 6 jam sampai ikan
kembali sehat, pengobatan dengan cara ini telah dilakukan selama kurang lebih 5
tahun dan terbukti efektif dalam menanggulangi penyakit ikan akibat parasit
protozoa. Metode pengobatan dengan cara tersebut juga telah banyak digunakan
oleh para pemilik farm ikan dan terbukti efektif. Selain efektif untuk pengendalian
parasit Ich, rebusan daun sirih juga efektif untuk menurunkan intensitas parasit
helminths dari kelas Monogenea yang terdapat pada permukaan tubuh dan insang
ikan (Herawati, 2003, komunikasi pribadi). Menurunnya intensitas parasit
helminths diduga disebabkan kandungan bahan-bahan dalam minyak atsiri pada
rebusan daun sirih yang merupakan antiseptik yang kuat terhadap parasit tersebut.
Evans et al. (1984) melaporkan aktivitas minyak atsiri sebagai anthelmentikum
terhadap Caenorhabditis elegans. Senyawa-senyawa 28 chavicol, alilpirokatekol,
kavibetol, kavibetol asetat, dan alilpirokatekoldiasetat, masing-masing pada kadar
200 ug/ml dapat membunuh sempurna C. elegans. Penggunaan daun sirih untuk
pengendalian parasit helminths pada ikan perlu melalui uji pendahuluan untuk
mengetahui konsentrasi optimal daun sirih yang dapat menghambat pertumbuhan
parasit helminths tetapi aman digunakan untuk ikan. Selain itu, dalam melakukan
pengobatan juga perlu dipertimbangkan cara parasit melakukan penetrasi ke ikan
yang akan menentukan metode pengobatan yang dipilih, ukuran ikan, dan spesies
ikan yang akan diobati. Ukuran dan spesies ikan yang berbeda akan menghasilkan
sensitivitas yang berbeda terhadap tumbuhan obat yang diaplikasikan.
LENGKUAS
Penggunaan bahan alami dalam penanggulangan hama dan penyakit
khusunya jamur telah diuji oleh beberapa ahli diantaranya: ekstrak rimpang
lengkuas (Alpinia galanga) mempunyai aktivitas anti jamur terhadap
pertumbuhan jamur Aspergillus spp. penghasil aflatoksin dan Fusarium
moniliforme (Handajani dan Purwoko 2008).
KUNYIT
Ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestika Val) juga mampu
menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum Schlect secara in vitro
(Wasilah et al., 2006).

BAWANG PUTIH
Beberapa penelitian menyebutkan, bawang putih memiliki kandungan 100
bahan kimia alami yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit diantaranya
minyak atsiri, yang bersifat anti bakteri dan antiseptik. Kandungan allisin dan
diallil sulfida pada bawang putih juga bermanfaat sebagai bakterisida dan
fungisida. Penelitian yang dilakukankan oleh Turbin et al. (1971) menunjukkan
bahwa senyawa allisin sangat efektif dalam menghambat perkembangan
cendawan Penicillium sp. khususnya P. corymbiferum (Rukmana, 1995).
Penelitian yang dilakukan oleh pakar Amerika melaporkan bahwa allisin pada
bawang putih mampu membunuh mikroba penyebab tuberkolose, difteri, tipoid
disentri, dan gonorrhoe. Selain itu allisin juga dapat membasmi Erytococcus
neoformans (jamur yang sering menyebabkan miningitis) dan Candidas albicans
(jamur penyebab infeksi di vagina manusia) (Tim Penulis PS, 2001). Ekstrak
bawang putih bisa menjadi alternatif bahan pengawet produk-produk pertanian
dari pembusukan akibat jamur Aspergillus niger, Aspergillus flavus dan
Penicilium notatum (Ayodele at al., 2009). Bawang putih mempunyai aktivitas
anti jamur terhadap Trychophyton rubrum penyebab penyakit kulit pada manusia
(Samuel at al., 2000). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pada penelitian
ini diteliti efektivitas ekstrak bawang putih (Allium sativum Linn.) untuk
menghambat pertumbuhan jamur Lagenidium sp. penyebab penyakit pada abalone
(Haliotis asinina).


DAUN NAGKA
Salah satu tumbuhan yang berkhasiat sebagai tanaman obat adalah nangka
(Artocarpus heterophyllus). Daun nangka diketahui berkhasiat melancarkan air
susu dan sebagai obat koreng (Hutapea 1993). Menurut Prakash dkk.(2009), daun
nangka dalam pengobatan tradisional digunakan sebagai obat demam, bisul, luka
dan penyakit kulit. Daun nangka diketahui mengandung flavonoid, saponin dan
tanin yang berperan sebagai zat antibakteri (Tarigan dkk. 2008)
Berdasarkan kemampuan antibakteri tersebut, dalam penelitian ini
digunakan ekstrak daun nangka untuk mengobati infeksi Aeromonas hydrophila
khususnya yang menyerang ikan mas. Pengobatan melalui sistem perendaman
dalam ekstrak daun nangka merupakan cara yang baik karena senyawa antibakteri
yang larut dalam air dapat diserap oleh kulit, insang, hati dan ginjal benih ikan
mas (Sukamto 2007). Namun sampai saat ini belum diketahui efektivitas ekstrak
daun nangka untuk mengobati infeksi bakteri Aeromonas hydrophila yang
menyerang benih ikan mas.
Berdasarkan hasil skrining fitokimia yang dilakukan oleh Chandrika dkk.
(2006), ekstrak daun nangka mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Selain itu
ekstrak daun nangka juga mengandung senyawa bioaktif terpenoida (Tarigan dkk.
Penelitian sebelumnya mengenai penggunaan ekstrak daun nangka belum pernah
dilakukan sehingga dilakukan uji pendahuluan dengan melakukan uji zona hambat
dan uji LC50 untuk memperoleh konsentrasi yang dapat diterapkan pada aplikasi
pengobatan. Berdasarkan penelitian pendahuluan, uji zona hambat ekstrak daun
nangka terhadap Aeromonas hydrophila, pada konsentrasi 100.000 ppm dapat
menghambat pertumbuhan Aeromonas hydophila terbesar dengan adanya zona
bening pada kertas saring dengan diameter rata-ratanya adalah 10,08 mm.
Konsentrasi terkecil yang dapat menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophila
pada konsentrasi 10 ppm dengan diameter rata-ratanya 6,96 mm. Berdasarkan 6
hasil analisis uji in vitro, diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi yang
digunakan akan semakin besar zona hambat yang dihasilkan. Hasil uji LC50 48
jam setelah dianalisis menggunakan EPA Probhit . Analysis diperoleh nilai
konsentrasi 101.910 ppm yang mematikan ikan sebanyak 50 % selama 48 jam.
Berdasarkan analisis uji zona hambat dan LC50 48 jam yang dilakukan, maka
konsetrasi efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri . Aeromonas
hydrophila adalah dibawah nilai LC50 48 jam dan diatas nilai uji zona daya
hambat terkecil yaitu sebesar 30 ppm.
DAUN SIRIH
Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Merah ( Piper crocatum ) Terhadap Profil
Darah Dan Kelulushidupan Ikan Mas ( Cyprinus carpio ) Yang diinfeksi
Aeromonas hydrophila Bakteri
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Piper crocatum
Exstract pada profil darah termasuk jumlah eritrosit , jumlah leukosit , diferensial
leukosit ( DL ) , indeks fagositosis ( IF ) dan sintasan ikan mas ( Cyprinus carpio )
yang terinfeksi oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan konsentrasi terbaik dari P.
crocatum untuk ikan mas imunostimulatory terinfeksi A. hydrophila . Penelitian
ini dilakukan di Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar , Bogor .
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan
menggunakan rancangan acak lengkap ( RAL ) dengan 4 perlakuan dan tiga
ulangan . Penelitian ini dilakukan di Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air
Tawar , Bogor . Perlakuan penambahan berbeda P. crocatum Exstract pada pakan
ikan , 0 gr / kg pakan ( perlakuan A ) , 5 gr / kg pakan ( perlakuan B ) , 10 gr / kg
pakan ( perlakuan C ) , 15 gr / kg pakan ( perlakuan D ) . Treatnent diberi 21 hari .
Hasil penelitian yang diperoleh tambahan P. crocatum Exstract efek berbeda nyata
( P0 , 05 ) pada persentase netrofil ( 2 % ) dan tingkat kelangsungan hidup ikan
mas ( C. carpio ) yang terinfeksi oleh A. hydrophila ( 40 % ) , konsentrasi terbaik
P. crocatum pada pakan untuk imunostimulan ikan mas yang terinfeksi A.
hydrophila , hasilnya menunjukkan dosis terbaik pakan 5 g / kg.
JINTAN HITAM
Efektifitas Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) Secara Invivo Untuk
Penanggulangan Penyakit Ekor Melepuh Pada Lobster Air Tawar (Cherax
quadricarinatus)
Penyakit yang sering menyerang lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)
adalah bacilliform virus (CqBV), White Spot Disease (WSD), Pavolike Virus,
Rickettsia-Like Organism dan jamur (Crayfish plague) serta ekor melepuh yang
diakibatkan oleh Aeromonas hydrophila. Penggunaan antibiotik perlu
memperhatikan pemilihan jenis obat yang sesuai, penggunaan dosis yang tepat
serta perencanaan pemberian yang baik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat
baik dalam jenis, dosis dan perencanaan pemberian dapat membawa efek samping
yang merugikan secara biologis maupun ekonomis. Jintan hitam (Nigella sativa)
telah digunakan sebagai pengobatan secara alami selama kurang lebih 2000 tahun.
Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Jintan hitam
ini memiliki banyak komponen dan zat aktif yang mempunyai efek farmokologi
yang berbeda-beda. Efek farmakologi dapat berupa anti inflamasi, anti kanker dan
mikroba, anti parasit, anti oksidan dan stimulasi imun. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak Jintan hitam (Nigella sativa) yang
digunakan untuk mengobati penyakit ekor melepuh pada lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila berdasarkan
pada tingkat kelulushidupan (SR) lobster air tawar. Penelitian ini dilaksanakan di
Work Shop Laboratorium Ilmu-Ilmu Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Brawijaya Malang pada bulan November 2008 sampai
Januari 2009. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yaitu melakukan
percobaan untuk melihat suatu hasil. Sedangkan rancangan yang digunakan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan 5 perlakuan berbeda
dengan konsentrasi 2%, 5%, 8%, 11%, 14% dan kontrol serta masing-masing
perlakuan diulang 3 kali. Parameter uji yang diamati adalah tingkat
kelulushidupan (SR) sedangkan parameter penunjang yang diukur adalah , pH
media dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak
jintan hitam berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lobster air tawar yang
terserang ekor melepuh setelah diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Rata-rata
kelulushidupan untuk masing-masing perlakuan yaitu, perlakuan A (2%) dengan
rata-rata 53,33%; perlakuan B (5%) dengan nilai rata-rata 60%; pelakuan C (8%)
dengan rata-rata 66,67%; perlakuan D (11%) dengan rata-rata 86,67%; dan
perlakuan E (14%) dengan rata-rata 93,33%. Berdasarkan analisa polinomial
orthogonal, hubungan antara konsentrasi ekstrak jintan hitam dengan tingkat
kelulushidupan lobster air tawar diperoleh bentuk regresi linier dengan persamaan
y = = 3,55x + 43,57 dengan nilai R2= 0,96 dan r= 0,98. Pengamatan jaringan ekor
lobster yang telah diobati dengan menggunakan konsentrasi ekstrak jintan hitam
2% menunjukkan struktur jaringan masih terjadi kerusakan, konsentrasi ekstrak
jintan hitam 5% struktur jaringan masih belum beraturan dan masih terjadi
kerusakan, pada konsentrasi ekstrak jintan hitam 8% terlihat peningkatan
perubahan struktur jaringan walaupun belum maksimal. Konsentrasi ekstrak jintan
hitam 11%, hasil histopatologi mengalami peningkatan struktur jaringan sel sudah
mulai beraturan dan pada konsentrasi jintan hitam 14% mengalami peningkatan
struktur jaringan dan mendekati ekor sehat. Hasil pengamatan kualitas air selama
penelitian yaitu oskigen terlarut 6,12 6,31 ppm, suhu 24,00 24,96oC dan pH
7,33 7,73. Kualitas air tersebut masih dalam batas toleransi lobster air tawar.
Berdasarkan hasil penelitian pemberian ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) pada
lobster yang terserang ekor melepuh akibat terinfeksi Aeromonas hydrophila
ternyata berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan (SR) lobster. Konsentrasi
jintan hitam 14 % adalah yang terbaik, yaitu dengan kelulushidupan 93,33%. Oleh
karena itu disarankan Untuk mengobati lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)
yang terserang Aeromonas hydrophila sebaiknya digunakan jintan hitam dengan
konsentrasi 14%.
DAUN KATUK
Efek dari diet katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) Terhadap
pertumbuhan, kekebalan non-spesifik dan resistensi penyakit terhadap Vibrio
alginolyticus infeksi pada ikan Kerapu (Epinephelus coioides). Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh katuk ( Sauropus androgynus L. Merr )
terhadap pertumbuhan , kekebalan non - spesifik dan resistensi penyakit terhadap
Vibrio alginolyticus dalam kerapu ( coioides ) . Remaja Kerapu (rata-rata berat
badan 10,97 1,99 g , dan panjang 9,67 0,33 cm ) dipisahkan menjadi empat
kelompok dan dibudidayakan di tangki 100 - L . Masing-masing kelompok diberi
makan dengan diet yang mengandung 0 , 1,0 , 2,5 dan 5,0 g / kg herbal diet dua
kali sehari . Ikan itu sampel untuk parameter imun non - spesifik pada 0 , 1 , 2 , 4 ,
7 , 14 dan 30 hari . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan menerima S.
androgynus pada 1,0 dan diet 2,5 g / kg mempengaruhi pertumbuhan dan respon
imun non - spesifik . Peningkatan berat badan , laju pertumbuhan spesifik ,
aktivitas ledakan pernapasan , fagositosis dan spesies oksigen reaktif meningkat
secara signifikan pada ikan diberikan dengan 1,0 dan 2,5 g / kg S. androgynus diet
. Angka kematian setelah V. alginolyticus tantangan menurun ikan diberi makan
dengan 1,0 g / kg S. androgynus ekstrak . Dengan demikian , penelitian ini
menunjukkan bahwa pemberian kerapu dengan S. androgynus diet suplemen
dapat mempengaruhi kinerja pertumbuhan , ketahanan penyakit dan meningkatkan
respon imun non - spesifik .
BAWANG PUTIH
Pengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) Terhadapa Tingkat
Pencegahan Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila dan Kelulusanhidup ikan
Nila (Oreochromis niloticus). Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan
nila (O. niloticus) adalah penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) yang
disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan dikenal sebagai penyakit
bercak merah. Bahan alami seperti ekstrak bawang putih dapat digunakan
sebagai alternatif untuk menghambat aktifitas bakteri A. hydrophilla. Zat aktif
dalam ekstrak bawang putih (Allium sativum) yaitu Allicin yang berpotensi
sebagai antibakteri. Secara in vitro, ekstrak bawang putih berpotensi sebagai
antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophilla.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ekstrak bawang
putih dalam pakan ikan terhadap tingkat pencegahan infeksi A. hydrophila serta
nilai kelulushidupan ikan nila. Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan, yaitu
penambahan ekstrak bawang putih pada perlakuan A (0%), B (2,5%), dan C
(5%). Pemberian pakan uji dilakukan selama 35 hari kemudian dilakukan
pengamatan setelah uji tantang selama 10 hari. Uji tantang dilakukan dengan
menyuntikkan bakteri A. hydrophila (10
8
cfu/ml) secara intramuskular
sebanyak 0,1 mL. Konsentrasi ekstrak bawang putih sebesar 45% merupakan
konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan A. hydrophila pada
uji in vitro. Pada uji in vivo, ekstrak bawang putih menunjukkan hasil yang
berbeda terhadap kelulushidupan, gejala klinis dan penyembuhan luka, serta
pertumbuhan. Dosis terbaik yang didapat untuk penambahan ekstrak bawang
putih pada pakan ikan yaitu sebesar 2,5% untuk tingkat pencegahan dan nilai
kelulushidupan pada ikan nila. Berdasarkan pada hasil penelitian, maka dapat
disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih dapat dipergunakan untuk
pencegahan infeksi bakteri A. hydrophilla dan meningkatkan nilai
kelulushidupan ikan nila.
SAMBILOTO
Efektivitas sambiloto ( Andrographis paniculata Nees) untuk mencegah
infeksi yang disebabkan oleh Edwardsiellosis Edwardsiella tarda pada ikan lele (
Pangasius hypopthalmus ) . Uji aktivitas antibakteri telah dilakukan dari larutan
sambiloto pada E. Tarda menggunakan metode difusi. Konsentrasi sambiloto
digunakan solusi adalah 0 , 1 g/l , 2g/l , 3g/l dan 4g/l. Penelitian ini menunjukkan
bahwa sambiloto solusi 5 g/l membentuk zona bening terbesar rata-rata 9,3 mm .
Uji LD50 solusi sambiloto diberikan oleh perendaman selama 24 lele topi dapat
membahayakan kelangsungan hidup ikan bila diberikan pada dosis di atas 7,30
g/l. Treatment diterapkan adalah dosis yang berbeda dari sambiloto dengan selam
sepuluh menit memberikan selama 30 hari . Setiap ikan adalah perendaman
dengan 1 g / l sambiloto ( P1 ) , 2 g/l sambiloto ( P2 ) dan 4 g/ l sambiloto ( P3 ) .
Ikan makan adlibitum withcommercial pelet pakan ikan . Sebelum pengobatan 30
hari ikan itu intramuskular terinfeksi E. Tarda dengan kepadatan 10 7 sel/ml
dalam dosis 0,1 ml /ikan. Hasil terbaik diperoleh pada ikan setelah ditantang
dengan E.Tarda menunjukkan signifikan antara perlakuan P3 ( 4g / l ) ( P 0,05 )
, sebagai tingkat kelangsungan hidup was100 % dan pertahanan non - spesifik di
tingkat lele acara hematokrit adalah 22,67 % , jumlah leukosit adalah 31,70 ribu
sel/mm3 dan persentase phagocytotic aktivitas di 55,5 % .