Anda di halaman 1dari 8

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan

Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan


Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Juni, 2013


637

KAJIAN PENGARUH DEBIT SUNGAI TERHADAP SEBARAN TSS
DI MUARA SUNGAI WONOKROMO DAN KEBUN AGUNG SURABAYA
Onod Burhanuddin Aries Dwi Siswanto, dan Zainul Hidayah

Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura
PO BOX 2, Jl. Raya Telang, Kamal, Bangkalan, Madura
Email :onodhambali@ymail.com
ABSTRAK
Potensi sumberdaya air menjadi hal penting yang berpengaruh terhadap kondisi
aliran, khususnya sungai. Keberadaan sungai yang bermuara di laut menjadikannya
menarik dan semakin dinamis pada daerah muaranya. Sungai Kebon Agung merupakan
salah satu sungai besar yang ada di Kotamadya Surabaya, dan bermuara di Selat
Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh debit sungai terhadap
sebaran TSS (Total Suspended Solid). Analisa TSS menggunakan metode gravimetric
sesuai SNI. Pendekatan statistika dilakukan untuk mengetahui hubungan keduanya.
Hasil penelitian menunjukkan debit sungai di lokasi penelitian relative kecil yang
diduga dipengaruhi oleh curah hujan. Sebaran TSS dilokasi penelitian relative bervariasi
dan berbeda (meski tidak signifikan) pada semua stasiun. Analisa statistika dengan
regresi linier sederhana maupun berganda menunjukkan ada hubungan antara debit
sungai dengan sebaran TSS.
Kata kunci: TSS, debit sungai
PENDAHULUAN
Debit aliran sungai sangat diperlukan untuk mengetahui potensi dari sumber
daya air pada wilayah daerah aliran sungai, karena dapat dijadikan alat untuk
memonitor dan mengevaluasi neraca air. Debit aliran banyak membawa partikel yang
berasal dari hulu untuk kemudian disebarkan di hilir sungai. TSS (Total Suspended
Solid) merupakan salah satu partikel yang ikut terangkut oleh debit aliran. Sungai
Kebon Agung merupakan sungai yang bermuara di wilayah pantai timur Surabaya.
Karakteristik perairan ini bersifat dinamis dan relatif terbuka sekaligus sebagai bagian
dari perairan Selat Madura (Rafsanjani, 2012). Kombinasi maupun secara individu,
debit air maupun arus dan gelombang berperan dalam transpor sedimen sehingga
berpengaruh terhadap stabilitas muara maupun garis pantainya (Rafsanjani, 2012;
Siswanto, 2010a, b). Beberapa penelitian yang dilakukan, diantara oleh Aini (2012)
menunjukkan arus sepanjang pantai diduga berpengaruh terhadap sebaran TSS melalui
perpindahan sedimen yang terjadi. Perbedaan substrat sedimen diduga berpengaruh
terhadap kekeruhan sebagai salah satu indicator penting dalam memahami dinamika
TSS (Siswanto, 2010a, 2010b). Sebaran TSS umumnya dipengaruhi oleh parameter
hidrooseanografi (Siswanto, 2010a), meski pada penelitian Rafsanjani (2012)
menunjukkan bahwa salah satu parameter hidrooseanografi, yaitu pasang surut, tidak
berpengaruh terhadap sebaran TSS di lokasi penelitian. Salah satu hal penting yang
Juni, 2013
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura


638

berpengaruh terhadap stabilitas muara adalah debit sungai, selain pasang surut dan
gelombang; sehingga diduga berpengaruh terhadap sebaran TSS. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh debit sungai terhadap sebaran TSS.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dibeberapa lokasi di daerah aliran Sungai Kebon Agung
Surabaya pada periode Bulan Februari-Maret 2013 dengan melakukan pengambilan
contoh TSS (Total Suspended Solid) dan parameter fisika perairan, serta debit sungai.











Gambar 1 Peta lokasi penelitian
Tabel 3.1. Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian
No Nama alat Kegunaan Satuan
1 Vacum pump Menyaring air
2 Perahu Transportasi
3 GPS Menentukan posisi
pengambilan contoh

4 Tongkat pancang Kedalaman M
5 Water sampler Mengambil contoh air
6 Kertas label Memberi label botol
7 Oven Mengeringkan contoh
8 Neraca analitik Menimbang contoh gram
9 Desikator Menyerap uap air
10 Kertas saring Menyaring contoh air m
11 Gelas ukur 100 ml

Menampung contoh air
sebelum disaring
ml
12 Current meter Mengetahui arah dan
kecepatan arus
m/s
13 Meteran Untuk mengukur luas dan
lebar penampang sungai
Cm
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Juni, 2013


639

No Nama alat Kegunaan Satuan
14. Tali rafia Mengukur panjang dan
lebar penampang sungai
M

Data debit sungai diperoleh dengan dua cara, yaitu 1) secara langsung, dan 2)
dari Dinas Pekerjaan Umum (divisi pengairan) Pemerintah Kota Surabaya. Pengambilan
data secara langsung dimaksudkan untuk mengetahui kecepatan aliran rata-rata air,
kedalaman dan lebar aliran serta perhitungan luas penampang basah sesuai dengan
lokasi pengambilan contoh TSS secara langsung. Pengukuran debit aliran sungai
dilakukan pada 7 titik yang berada disepanjang Sungai Kebon Agung, penentuan titik
berdasarkan perbedaan lebar penampang, dan kedalaman perairan. Pertimbangan utama
penentuan lokasi penelitian adalah karakteristik aliran sungai (lebar penampang sungai
dan kedalaman) dan utilitas lokasi (seperti peruntukan lahan hasil konversi menjadi
pemukiman maupun tambak, banyaknya vegetasi, dan adanya bangunan sungai (seperti
pintu air, rumah pompa air).
Analisa data debit sungai menggunakan Area-velocity method, yaitu metode
pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran. Pengukuran luas penampang
dilakukan dengan mengukur lebar permukaan air, dan kedalaman sedangkan untuk
kecepatan aliran dapat diukur dengan menggunakan current-meter. Perhitungan debit
aliran sungai (persamaan 1). Analisa TSS (Total Suspended Solid) dilakukan
menggunakan metode gravimetri sesuai SNI 06-6989.3-2004. Pengaruh debit sungai
terhadap sebaran TSS dianalisa mengggunakan pendekatan statistika (metode regresi
linier sederhana dan berganda yang didasarkan pada hubungan lengkung laju debit).
Analisis regresi sederhana menunjukkan hubungan linier antara variabel tidak bebas y
dan satu variabel bebas x. Persamaan regresi liniernya adalah:
y = a + b x ..................(2)
Dimana : y = variabel tidak bebas, x = variabel bebas, a,b = koefisien regresi.
Selain linier, analisis regresi sederhana juga memungkinkan terbentuknya
hubungan non-linier seperti tersebut dibawah ini :
Kurva eksponensial y = a e
bx

Kurva logaritma y = a + b ln x
Kurva berpangkat y = a x
b
Sesuai atau tidaknya model matematis regresi sederhana dengan data yang
digunakan, ditunjukkan dengan besarnya nilai r
2
atau juga disebut sebagai koefisien
determinasi (coefficient of determination). Koefisien determinasi menunjukkan seberapa
jauh kesalahan dalam memprakirakan besaran y dapat direduksi dengan menggunakan
informasi yang dimiliki variabel x. Model persamaan regresi dianggap sempurna
apabila nilai r
2
= 1. Sebaliknya apabila variasi pada nilai y tidak ada yang bisa
dijelaskan oleh model persamaan regresi yang diajukan, maka nilai r
2
= 0.
Juni, 2013
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura


640

Menurut Asdak (2007), lengkung laju debit sedimen dinyatakan dalam dua
bentuk yakni korelasi antara konsentrasi sedimen dan debit aliran, atau debit sedimen
layang dengan debit aliran. Kemudian membuat sebuah persamaan hubungan antara
debit sungai (Qw) terhadap sebaran TSS (Cs) yang biasanya ditulis dalam bentuk
logaritmik Cs= a Qw
b
, dimana : Cs= muatan sedimen (mg/l), Q= debit sungai (m3/dt)
(Asdak, 2007).
Hasil dan Pembahasan
Secara geografis, lokasi penelitian terletak di Kelurahan Tanggul Kecamatan
Kenjeran, berada di bagian Timur Kota Surabaya. Berdasarkan letak geografisnya, kali
kebon agung Surabaya terletak antara 07
0
08,027 LS dan 112
0
43,304BT sampai
dengan 07
0
19,483LS dan 112
0
49,112 T. Sungai Kebon Agung memiliki karakteristik
arus tenang, substrat berupa tanah liat berpasir (sandy clay), suhu udara 26,6 30,3C.
Lokasi penelitian berada di kawasan pantai timur yang memiliki luas 3.100 ha. Pola
penggunaan lahan di wilayah Sungai Kebon Agung yakni 75% merupakan rawa payau
yang ditumbuhi mangrove, 20 % berubah menjadi permukiman dan 5 % berupa tambak.
Secara umum, konsentrasi TSS tiap minggu pada stasiun 1 sampai 7 memiliki
kecenderung lebih tinggi pada profil dasar dan kolom perairan. Hal ini terlihat dari
jumlah stasiun yang memiliki hasil konsentrasi TSS tertinggi untuk profil dasar ada 4
stasiun yakni ( 2,3,4,7) sedangkan untuk profil kolom diwakili oleh 3 stasiun yakni
(1,5,6).























Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Juni, 2013


641











Gambar 2. Grafik TSS (Total Suspended Solid) tiap minggu
Konsentrasi TSS (Total Suspended Solid) tertinggi pada stasiun 4 profil dasar
perairan (minggu 1, Gambar 2) diduga berkaitan dengan kondisi perairan seperti
kecepatan arus 0,77- 5,45 cm/s, debit aliran 0,63-1,13 m3/s dan kedalaman 240 cm,
serta wilayah yang berbatasan dengan laut sehingga merupakan daerah pertemuan
antara debit sungai dari hulu dan debit air yang timbul karena pasang air laut. Akibatnya
muara akan dipenuhi oleh massa air yang cukup besar sedangkan saat surut dengan
durasi yang hampir sama, volume air akan dikeluarkan ke laut, sehingga pada saat surut
menyebabkan kecepatan aliran yang besar. Debit air yang disertai kecepatan aliran
dapat menyebabkan kedalaman serta lebar sungai menjadi berbeda, yang nampak dari
kedalaman serta lebar muara lebih besar bila dibandingkan dengan daerah hulu
(Baskoro, 2009).
Konsentrasi TSS tertinggi berada pada stasiun 5 profil kolom perairan (minggu
2, Gambar 2). Kondisi perairan menunjukkan kecepatan arus lebih besar dibandingkan
pada minggu 1 (4,78- 9,83 cm/s), curah hujan 0,5-10,3 mm (curah hujan sangat ringan,
intensitas hujan < 5 mm dalam 24 jam). Besarnya konsentrasi TSS diduga karena
adanya arus yang memungkinkan massa air bergerak keatas dan kemudian turun
kembali dan berpotensi terangkutnya sedimen (Triatmodjo 1999).
Konsentrasi TSS tertinggi berada di stasiun 7 profil kolom (minggu 3, Gambar
2). Kondisi perairan dengan kecepatan arus 2,82- 7,31 cm/s, curah hujan mencapai 1,2-
76 mm, lebih tinggi bila dibandingkan minggu 1 dan 2. Diduga tingginya intensitas
hujan (lebih tinggi dibandingkan pada minggu 1 dan 2) menyebabkan konsentrasi TSS
lebih tinggi. Semakin besar intensitas curah hujan maka pergerakan air serta kecepatan
arus semakin cepat dan kuat, semakin cepat dan kuatnya pergerakan air dapat
menimbulkan pengikisan pada tebing sungai (Asdak, 1995).





Juni, 2013
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura


642








Gambar 3 Hidrograf debit sungai
Secara umum hidrograf merupakan grafik hubungan antara waktu dengan unsur-
unsur aliran (debit). Hidrograf (Gambar 3) menunjukkan debit air tiap minggu pada
setiap stasiun cenderung kurang stabil yang ditunjukkan dari fluktuasi pada tiap stasiun
pada tiap minggunya. Besarnya debit aliran tidak terlepas dari faktor intensitas curah
hujan, pengalihan lahan, maupun penggundulan hutan. Perubahan dan pengalihan fungsi
hutan menjadi perumahan membuat tanah memadat oleh adanya sedimen yang
menutupi pori-pori tanah sehingga memperbesar limpasan permukaan, dan memperkecil
infiltrasi sehingga banjir terjadi pada hampir setiap musim hujan dan kekeringan terjadi
pada setiap musim kemarau. Selain itu hilangnya luas vegetasi hutan dapat menurunkan
evapotranspirasi, kelembaban tanah, infiltrasi, dan memperbesar limpasan permukaan.
Akibatnya dapat mempengaruhi kondisi hidrologi di suatu DAS sehingga menimbulkan
pengaruh terhadap karakteristik fluktuasi debit aliran sungai yang besar (Muchtar dan
Abdullah, 2007)
Karakteristik arus bulan Februari-Maret (Gambar 4) menunjukkan minggu 1
berkisar 0,77- 5,45 cm/s, puncak kecepatan arus pada minggu 1 terjadi pada pukul 23.00
WIB dengan kecepatan arus sebesar 5,45 cm/s, untuk minggu ke-2 kecepatan arus
berada dikisaran antara 4,78- 9,83 cm/s. Puncak kecepatan arus minggu ke 2 terjadi
pada pukul 19.00 WIB dengan kecepatan arus mencapai 9,83 cm/s, sedangkan
kecepatan arus untuk minggu ke 3 sebesar 2,82- 7,31 cm/s dan titik puncaknya pada
pukul 19.00 WIB. Minggu ke 4 kecepatan arus berkisar 1,83- 7,96 cm/s dengan titik
puncak pada pukul 19.00 WIB dengan kecepatan arus mencapai 7,96 cm/s.











Gambar 4. Karakteristik Arus pada lokasi penelitian
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Juni, 2013


643

Pola hubungan antara debit dengan TSS ditunjukkan dengan besarnya nilai R
2

atau biasa disebut dengan koefisien determinasi. Hasil regresi linier (Gambar 5)
hubungan antara debit dengan TSS (Total Suspended Solids) pada tiap stasiun memiliki
pola yang positif. Hal ini terlihat dari nilai r pada tiap stasiun hampir mendekati 1.
Semakin besar intensitas curah hujan maka pergerakan air serta kecepatan arus semakin
cepat dan kuat, semakin cepat dan kuatnya pergerakan air dapat menimbulkan
pengikisan pada tebing sungai (Asdak, 1995).

Gambar 5 Grafik Korelasi antara debit dengan konsentrasi TSS (Total Suspended
Solids)
PENUTUP
Kesimpulan
Analisa korelasi antara debit sungai dengan TSS menunjukkan kuatnya
hubungan antara dua variabel yang ditunjukkan dari nilai r (koefisien determinasi) yang
mendekati 1. Korelasi positif menunjukkan bahwa adanya peningkatan konsentrasi TSS
akan diikuti juga dengan meningkatnya debit sungai.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait fluktuasi musim terhadap besaran
debit sungai dan pengaruhnya terhadap sebaran konsentrasi TSS pada profil vertical.
Juni, 2013
Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan
Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan
Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura


644

DAFTAR PUSTAKA
Aini K. 2012. Studi Pengaruh Gelombang dan Arus sejajar pantai (Longshore current)
terhadap konsentrasi TSS di sepanjang tiang pancang jembatan
SURAMADU. Skripsi. Universitas Trunojoyo Madura. Bangkalan.
Asdak C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daera Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press :Yogyakarta
Asdak C., 2007. Revisi. Hidrologi dan Pengeloaan daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada Press.
Baskoro. 2009. Kajian Pengaruh Pembangunan Jetty Terhadap Kapasitas Sungai
Muara Way Kuripan Kota Bandar Lampung. Tesis. Universitas Diponegoro
Semarang. Semarang
Muchtar A dan Abdullah N. 2007. Analisis faktor yang mempengaruhi debit sungai
Mamasa. Jurnal Hutan dan Masyarakat. Fakultas Pertanian Jurusan
Kehutanan. Universitas Satria Makassar
Rafsanjani OB. 2012. Kajian pengaruh pasang surut terhadap sebaran TSS di pantai
timur Surabaya. Praktek Kerja Lapang. Universitas Trunojoyo Madura.
Bangkalan.
Siswanto A.D. 2010a. Analisa Sebaran Total Suspended Solid (TSS) di Perairan Pantai
Kabupaten Bangkalan Pasca Jembatan Suramadu. Jurnal Kelautan.2(2):16-20.
Siswanto A, D. 2010b. Analisa Stabilitas Garis Pantai di Kabupaten Bangkalan.
[Tesis]. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember.