Anda di halaman 1dari 3

Mengapa Kamu Sangat Membutuhkan Skill Berkomunikasi ?

Oleh, Muhammad Adriansyah


Ketika seseorang diminta untuk menyebutkan masalah terbesarnya, ia pasti akan menjawab: "sangat
banyak!". Padahal, jika ditelusuri secara mendalam, ia hanya memiliki satu masalah dasar, yaitu
kemampuan untuk berkomunikasi. Setiap orang kerap mengalami hambatan dalam berinteraksi secara
personal ataupun kelompok ini terjadi berurutan, sejak mereka kecil.
Aku sering gugup ketika berbicara dengan atasanku, ungkap Airin (25) yang berprofesi sebagai
karyawati di sebuah perusahaan swasta. Ia mengaku gagap karena gugup- ketika ingin menyerahkan
laporan kepada atasannya. Apakah ia takut?
Masalahnya aku hanya tidak ingin salah memilih kata ketika berbicara kepadanya.
Airin sudah lima tahun bekerja sebagai karyawati, tanpa pernah merasakan kenaikan pangkat. Orang-
orang baru terus masuk ke perusahaannya, dan melampauinya.
Berbanding terbalik dengan Airin, nasib beruntung didapatkan Aulia. Walau baru sebulan bekerja, ia
langsung membuat para seniornya cemburu, karena kemampuan komunikasinya.
Aku memulainya dengan sangat baik, langsung menunjukkan bahwa bos harus memperhatikanku,
bukankah aku layak mendapatkan apa yang seharusnya kudapatkan?
Memulai Dengan Mendengar
Setiap orang cenderung berpikiran bahwa kemampuan intelektual (IQ) lebih penting ketimbang
kemampuan emosional (EQ). Alhasil, kita pun hidup di zaman dimana hasil lebih diagung-agungkan
ketimbang proses yang telah dilalui. Sistem ini mengharuskan segala sesuatu terjadi secara instan, dan
akan berakhir secara instan juga.
Ketika seseorang berada di suatu lingkungan baru, ia yang hanya mengandalkan kemampuan
intelegensinya lambat laun akan tersingkirkan. Karena ia merasa bahwa dirinya yang paling pintar dan
menghiraukan orang-orang yang lebih berpengalaman dibandingkan dirinya. Ia melupakan konsep
penting mengenai pengalaman sebagai guru yang terbaik.
Maka dari itu, untuk menciptakan ruang komunikasi yang efektif, maka kita harus memulainya dengan
mendengar, step by step. Kita harus sadar bahwa puncak tertinggi sekalipun takkan ada tanpa pilar
penyangga dibawahnya. Dengan mendengar, kita akan mendapatkan ilmu dan amal. Membuat kita
dapat beradaptasi dengan sistem. Bukannya mengadopsi dan berakhir seperti robot.
Dalam ajaran agama dijelaskan jika kedudukan adab lebih tinggi dibandingkan ilmu. Pasalnya, dalam
ajaran Islam, Allah SWT berfirman bahwasanya orang yang berilmu ataupun menuntut ilmu akan
ditinggikan derajatnya. Artinya, kemampuan berkomunikasi yang baik dapat dimulai dengan perilaku
baik, tidak tergesa-gesa, dan merepresentasikan adab dengan cara mendengar lebih dulu.
Bersosialisasi Dengan Berkomunikasi
Homo Homini Lupus, Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Kira-kira seperti itulah kutipan
terkenal dari Thomas Hobbes. Filsus terkenal asal Inggris ini berpendapat jika manusia dapat
membahayakan bagi manusia lainnya. Tak peduli kondisi apapun, manusia hidup dengan watak yang
berbeda. Emosi manusia memang terlalu mudah berubah, Seperti air tenang yang begitu mudahnya
terusik dengan kehadiran angin sepoi-sepoi.
Keragaman cara berpikir dan bertindak yang bermacam-macam ini membuat manusia dikenal sebagai
makhluk sosial. Sosialisasi adalah bagian dari hidup manusia. Manusia cenderung berkelakuan baik
kepada seseorang yang baik kepada, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam beradaptasi dengan lingkungannya, seseorang harus berinteraksi secara efektif kepada
masyarakat sekitar. Tidak perlu secara maksimal, namun cukup secara optimal alias langsung menuju
sasaran. Berkaitan dengan hal tersebut, seseorang sangat memerlukan skill berkomunikasi yang baik
agar dapat menerima dan diterima oleh lingkungan sosialnya.
Komunikasi yang dilakukan tidak perlu terlalu caper (cari perhatian), namun jangan juga terlalu apatis.
Cara yang terbaik adalah dengan mengambil jalan tengah. Karena dalam proses sosialisasi, lingkungan
pada awalnya akan mendengar apa yang Anda bicarakan, sebelum mengambil keputusan mengapa
harus mendengar dan mengenali Anda sebagai siapa yang berbicara (baca: komunikasi).
Lambat laun, setelah komunikasi Anda berjalan secara efektif, apapun yang Anda bicarakan akan
diterima dan disaring oleh lingkungan, tidak dihiraukan. Masyarakat akan mulai melihat Anda sebagai
yang berkomunikasi. Dengan ini, Anda dapat dengan nyaman bersosialisasi dengan lingkungan, sebagai
akibat dari skill berkomunikasi yang Anda punya.
Mencakup Segala Hal
Ada seorang teman yang mengaku bahwa ia menyesal masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi. Ia berkata
bahwa komunikasi merupakan bakat alami yang dimiliki oleh setiap orang. Ia dilingkupi rasa takut akan
kesuksesan. Setiap orang bisa berkomunikasi (dalam arti yang sempit), maka prospek kedepan yang
dimilikinya pun semakin sempit.
Padahal, komunikasi tidaklah sesempit yang dipikirkan. Komunikasi mencakup segala hal, yang membuat
seseorang harus memiliki skill berkomunikasi tertentu yang baik agar mampu hidup di lingkungan yang
ia hadapi.
Lain lagi dengan teman penulis yang lainnya. Sebut saja dia si A. Sejak kecil, A bercita-cita untuk dapat
berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia pun mempersiapkan segala hal agar dapat meraih
mimpinya tersebut. Alhasil ia pun berhasil lulus di salah satu jurusan perguruan tinggi favorit itu. Namun
ia melupakan satu hal, A kurang komunikatif terhadap informasi yang diberikan. Ia kurang memahami
informasi mengenai pembiayaan yang dibebankan kepada calon mahasiswa ITB. Alhasil, mimpi A untuk
dapat berkuliah di ITB pun harus tertunda (jika tidak ingin dibilang berakhir).
Komunikasi yang efektif tidak hanya didapat hanya dengan sekedar ngoceh. Pesan yang disampaikan
belum tentu efektif jika timbal-balik yang didapat tidak sesuai rencana. Dapat dipastikan, jika kita
memiliki skill berkomunikasi yang baik, maka segalanya akan berjalan lancar.
Secara global, komunikasi mencakup segala pekerjaan:
Dengan komunikasi yang baik, seorang dokter dan para perawat dapat bekerja sama untuk menolong
pasien yang sedang sakit.
Dengan komunikasi yang baik, customer service sebuah bank dapat memberikan pelayanan yang
nyaman kepada pelanggannya.
Dengan komunikasi yang baik, guru sebuah taman kanak-kanak dapat mengajarkan muridnya belajar
menulis dan membaca.
Kita telah melewati tahap komunikasi yang efektif sejak kecil, sejak kita belajar mengeja, sesederhana
Anda dapat membaca tulisan ini.