Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

SOSIALISASI SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN





( X F1 )

Disusun oleh:

Kelompok III
- Shanti G
- Devi
- Hilna
- April
- Ahmad











SMK FARMASI BINA PUTERA NUSANTARA
TASIKMALAYA
SOSIALISASI SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

A. Sosialisasi
Setiap orang sejak kecil sampai akhir hayatnya menjalani proses
sosialisasi. Sosialisasi pada dasarnya merupakan suatu proses pembentukan
kepribadian. Proses sosialisasi yang berjalan tidak sempurna, cenderung akan
membentuk prilaku atau kepribadian yang menyimpang.
1. Pengertian Sosialisasi
Secara sederhana sosialisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses
seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari
cara-cara hidup, norma dan nilai sosial yang terdapat dalam kelompoknya
agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima oleh
kelompoknya.
Adapun definisi sosialisasi menurut para ahli antara lain :
a. Charlotte Buhler
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu
belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dari berfikir
kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dengan
kelompoknya.
b. Bruce J. Cohen
Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara
kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan
membangun kapasitas agar berfungsi dengan baik sebagai individu
maupun sebagai anggota suatu kelompok.
c. David F. Aberle
Dalam bukunya yang berjudul Culture and Socialization.
Berpendapat sosialisasi adalah pola-pola mengenai aksi sosial, atau
aspek-aspek tingkah laku, yang menanamkan pada individu
keterampilan-keterampilan, motif-motif dan sikap-sikap yang perlu
untuk menampilkan peranan-peranan yang sekarang atau yang tengah
diantisipasikan sepanjang kehidupan menusia normal, sejauh peranan-
peranan baru masih harus terus dipelajari.
d. S.N. Eisenstadt
Bukunya yang berjudul from generation to generation,
mengatakan sosialisasi yang berkomunikasi dengan dan dipelajari dari
manusia lainnya dengan siapa individu itu secara bertahap memasuki
beberapa jenis relasi-relasi umum.
e. Irvin L.Child
Dalam bukunya Socialization bahwa sosialisasi adalah segenap
proses individu yang dilahirkan dengan banyak sekali potensi tingkah
laku, dituntut untuk mengungkapkan potensi tingkah laku aktualnya,
yang dibatasi dalam satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa
diterima oleh sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya.
Dari beberapa definisi sosialisasi tersebut secara umum dapat
diartikan sebagai proses melalui mana individu manusia itu
mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat. Untuk
memperoleh kepribadian sebagai hasil proses sosialisasi nilai-nilai
dan norma-norma sosial selanjutnya akan berfungsi bagi individu
dalam kelompok. Pada usia anak melalui orang lain akan mempelajari
perilaku yang diharapkan.
Contoh :
Pada waktu anak masuk usia sekolah 7-12 tahun maka anak
tersebut harus berhubungan langsung melalui institusi atau lembaga
sosial formal. Dan sebelumnya anak tersebut telah mengenal proses
sosialisasi melalui pendidikan keluarga dan mungkin dengan teman
sepermainan.
Selanjutnya apabila seorang anak dapat adaptasi dengan
lingkungan yang baru dalam pergulan di sekolah tentu akan diterima
dalam kelompoknya., jika tidak tentunya akan ditolak dari anggota
kelompoknya.

Beberapa batasan penting hasil dari sejumlah pengertian sosialisasi
yang diutarakan di atas, yakni :
a. Secara fundamental bahwa sosialissi merupakan proses hasil
belajar, menimba pengalaman melalui proses sosial.
b. Memberikan petunjuk umum dari hasil belajar tingkah laku dalam
batas-batas yang luas dari seseorang, sedang individu termasuk
bagian dari kelompoknya.
f. Sosialisasi itu suatu proses sosial yang berlangsung sejak masih kecil
hingga akhir hayatnya dan terus menerus ada sepanjang kehidupan
manusia.
Contoh : Manusia mulai proses penganalan terhadap nilai-nilai, norma
sosial, menanamkan pendirian sejak kecil melalui proses reaksi yang
pertama kali adalah melalui lingkungan keluarga. Dengan kodrat
naluri yang ada padanya, ia mengenal identitas ibunya, membedakan
suara ibunya dengan suara orang lain, juga mengenal bapak dan
kakaknya selanjutnya dituntut tentang etika, sopan santun, cara
berpakaian dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, anak itu menerima, menyerap dan
mengidentifikasi dirinya terhadap norma-norma tersebut sehingga
pola prilakunya mencerminkan hasil proses interaksi sosial dengan
individu atau kelompok di sekitarnya.
Setelah anak itu sekolah, di dalam pergaulan lingkungan sekoalh
semakin banyak nilai-nilai yang diterima setelah dipelajari, diserap
dan diidentifikasi. Apabila tingkat pendidikan semakin tinggi tentunya
semakin luas pula wawasan nilai dan norma yang harus dikaji,
analisa, karena dengan wawasan pengetahuan yang makin bertambah
tentunya semakin komplek aturan-aturan yang harus diserap,
disamping aturan-aturan di sekolah namun juga aturan-aturan atau
pranata dalam masyarakat seperti sopan-santun, etika, adat istiadat di
masyarakat maupun negara, meskipun hampir semua itu di dapat dari
lingkungan sekolah.
Dengan proses sosialisasi yang dimaksud adalah seluruh
proses, bila seseorang individu dari kanak-kanak hingga dewasa dapat
tumbuh dan berkembang, berhubungan secara kontinu, intensif
akhirnya saling menyesuaikan diri dengan dan dalam individu-
individu yang ada dalam kelompok masyarakat sekitarnya. Dalam
proses sosial tahap demi tahap, setapak demi setapak individu melalui
individu sekitarnya mengkaji, mempelajari dan menyesuaikan diri
dengan adat istiadat, norma-norma, nilai-nilai, aturan-aturan,
pendirian-pendirian dan anggapan hidup, dalam lingkungan
kebudayaan. Proses yang kedua inilah sering disebut Enkulturasi
(Enculturation).
2. Tujuan Sosialisasi
Sosialisasi sebagai proses sosial mempunya tujuan untuk :
a. Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk
melangsungkan kehidupan seseorang kelak di tengah-tengah
masyarakat tempat dia menjadi salah satu anggotanya.
b. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien serta
mengembangkan kemampuan untuk membaca, menulis dan bercerita.
c. Membiasakan individu dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang
ada pada masyarakat.

B. Media Sosialisasi
Apabila kita cermati, di masyarakat itu terdapat bermacam-macam media
sosialisasi tersebut sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan
kepribadian.
1. Keluarga
Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama dan utama dalam
proses sosialisasi. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis, seperti sering
cekcok, orang tua bercerai, atau orang tua kurang memberikan
perlindungan, perhatian, dan kasih sayang, maka kehiadupan anak-anak
akan menderita, tertekan, dan merasa tidak nyaman. Sikap orang tua yang
terlalu membatasi , otoriter, ataupun over protektif akan menyebabkan
anak-anaknya tidak terlatih hidup mandiri. Lingkungan kelurga yang
demikian berpengaruh negatif terhadap keribadian anak-anak.
Dari data penelitian sosiologi, diketahui bahwa anak-anak yang
berkepribadian menyimpang umumnya berasal dari keluarga-keluarga
yang yang tidak harmonis. Pada keluarga yang broken home, proses
sosialisasi yang yang tidak sempurna. Akibatnya, anak-anak yang
dibesarkan di lingkungan keluarga yang berantakan cenderung berprilaku
atau berkepribadian menyimpang. Anak-anak yang berprilaku nakal,
kriminal, atau hidup di jalanan umumnya berasal dari keluarga yang tidak
harmonis.
2. Teman Sepermainan
Teman sepermainan atau teman sebaya juga merupakan media
sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap proses pembentukan
kepribadian. Anak-anak yang suka diperas, diperlakukan tidak adil, sering
dipersalahkan, dan dikucilkan oleh teman-temannya cenderung hidupnya
tertekan dan tidak aman. Pergaulan yang tidak menyenangkan tersebut
akan membuat anak-anak itu menjadi penakut, pemalu, dan rendah diri.
Anak atau remaja biasanya lebih meihak teman daripada orang tua.
Hal itu disebabkan mereka takut tidak diterima oleh kelompok temannya.
Pengaruh negatif dari pertemanan, terutama bila teman-temannya itu
mengembangkan pola sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai
dan norma sosial yang berlaku dimasyarakat. Timbulnya perilaku
menyimpang, seperti minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba,
terlibat dalam praktik pergaulan bebas atau hubungan seks pra-nikah,
seringkali disebabkan oleh pergaulan yang tidak baik (negatif) di
lingkungan masyarakat.
Para remaja yang terpengaruh pergaulan negatif biasanya
mengembangkan kepribadian yang menyimpang. Apabila remaja sudah
rusak akibat pergaulan negatif, maka untuk memperbaikinya tidaklah
mudah. Dengan demikian, lingkungan pergaulan sangat berpengaruh
dalam proses sosialisasi pembentukan kepribadian. Oleh karena itu, kita
perlu selektif dalm bergaul atau memulih teman agar tidak terpengaruh
oleh pergaulan yang buruk di masyarakat.
3. Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan media sosialisasi sekunder yang
penting dalam pembentukan kepribadian. Suasana pendidikan formal yang
kurang kondusif, seperti kurikulum dan mata pelajaran yang terlalu
banyak, pemilihan jurusan atau program pendididkan yang tidak tepat,
kepribadian dan cara guru mengajar yang kurang bijaksana, otoriter, gaya
mengajar guru yang membosankan, serta sarana dan prasarana belajar
yang kurang memadai, semuanya berpengaruh terhadap pembentukan
kepribadian siswa.
Demikian pula, penempatan siswa dalam kelompok belajar yang
kurang tepat. Kebiasaan belajar yang buruk, prestasi yang tidak
memuaskan, biaya sekolah mahal, sikap teman belajar yang kurang baik,
peraturan sekolah yang terlalu ketat, semua itu menjadi faktor penyebab
timbulnya kesulitan, kecemasan, kekecewaan dan ketidakpuasan siswa di
sekolah. Oleh karena itu, perlu diciptakan lingkungan sekolah yang sehat
dan menyenangkan.
4. Tempat Pekerjaan
Masyarakat umum merupakan media sosialisasi yang cukup dominan
pengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian. Suasana di tempat
pekerjaan, jenis dan beban pekerjaan, jabatan dan gaji/upah yang kurang
kondusif, seringkali menjadi faktor penyebab timbulnya kekecewaan,
ketidakpuasan, atau stress pada para pekerja. Demikian pula
kepemimpinan yang kaku dan otoriter, sikap teman sekerja yang buruk
dan tidak bersahabat, berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian.
Kesulitan dalam mencari pekerjaan, memperoleh jabatan dan pekerjaan
yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian, juga
dapat menjadi penyebab timbulnya kekecewaan dan ketidakpuasan
pribadi.
5. Masyarakat Umum
Masyarakat umum merupakan media sosialisasi sekunder yang cukup
dominan pengaruhnya terhadap proses pembentukan kepribadian. Nilai-
nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat begitu banyak
dan bervariasi, sehingga seringkali membingungkan warga masyarakat.
Norma-norma sosial dalam pembentukan kepribadian masyarakat.
Individu-individu yang dibesarkan dalam lingkungan masyarakat
dengan sistem nilai dan norma tertentu, biasanya akan mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan diri. Perubahan politik tidak jarang
merugikan masyarakat. Sebagai contoh, penerapan politik perbedaan ras,
wajib militer dan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok
seringkali menjadi penyebab timbulnya kekecewan, penderitaan dan
tekanan batin. Keadaan yang serba sulit tersebut menyebabkan individu
diliputi rasa cemas, ketakutan, dan tidak aman.
6. Media massa
Media massa berperan pula sebagai media sosialisasi. Dewasa ini,
pengaruh media massa begitu kuat terhadap kehidupan masyarakat. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita sering dipengaruhi oleh media massa, seperti
buku, surat kabar, majalah radio, televisi, internet, dan sebagainya.
Kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi informasi dan
komunikasi, menyebabkan dunia memasuki era globalisasi disegala
bidang teknologi informasi dan komunikasi, menyebabkan dunia
memasuki era globalisasi di segala bidang penghidupan. Media massa,
umumnya berisi informasi tentang berbagai hal, seperti ilmu pengetahuan,
nilai dan norma sosial, kesenian, dan unsur budaya lainnya. Informasi
tersebut diakses oleh warga masyarakat. Bahkan, di negara-negara yang
sudah maju, informasi melalui media massa merupakan kebutuhan
mendasa yang harus dipenuhinya.
Dengan mengikuti media massa secara intensif, maka orang akan
mengetahui perkembangan masyarakt dan kebudayaannya. Individu yang
terpengaruh oleh media massa yang mananyakan nilai-nilai dan unsur-
unsur budaya Barat yang negatif, tentu akan kurang baik kepribadiannya.
Pengetahuan yang diperoleh dari media massa itu akan dijadikan pedoman
dalam mengarahkan sikap dan perilakunya. Pengetahuan remaja tentang
pornografi dan pornoaksi lebih banyak diperoleh melalui televisi, majalah
dan internet.

C. Pembentukan Kepribadian
Pada hakikatnya merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia secara
umum yang tercermin dari ucapan dan perbuatannya. Kepribadian adalah
corak kebiasaan yang terhimpun dalam diri dan digunakan untuk bereaksi dan
menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan, baik yang datang dari dalam
maupun dari luar.
1. Pengertian Kepribadian
Dalam Bahasa sehari-hari istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak
seorang individu konsisten yang memberikan identitas bagi dirinya
sebagai individu khusus. Ciri watak yang diperlihatkan secara lahir
konsisten dan konsekuen dalam tingkah lakunya membuat individu
tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu individu
lain. Definisi kepribadian menurut para ahli sebagai berikut:
a. M.A.W. Broerer
Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak
kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
b. Theodore R. Newombe
Kepribadian adalh organisasi sikap-sikap (predispotitions) yang
dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
c. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan
system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian
situasi.

2. Susunan Kepribadian
Pola-pola perilaku setiap manusia secara individual sebenarnya unik
dan berbeda satu sama lainnya. Perilaku manusia ditentukan oleh naluri,
dorongan-dorongan, refleks-refleks, atau kelakuan manusia yang tidak lagi
dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya seperti tindakan yang
membabi buta. Unsur-unsur akal jiwa yang menentukan perbedaan
perilaku tiap-tiap individu itu disebut juga susunan kepribadian, yang
meliputi:
a. Pengetahuan
Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman dan
konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai
bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu
tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit
diungkapkan oleh individu tersebut dalam bentuk perilaku.
b. Perasaan
Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang
menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu. Bentuk
penilaian itu dipengaruhi oleh pengetahuannya. Oleh karena itu,
perasaan selalu bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi,
yang bisa jadi berbeda dengan penilaian orang lain. Perasaan mengisi
penuh kesadaran manusia tiap saat dalam hidupnya.
c. Dorongan naluri
Dorongan naluri adalah kemauan yang sudah merupakan naluri
pada saat setiap manusia sedikitnya, ada tujuh macam dorongan naluri,
yaitu:
1. Dorongan untuk mempertahankan hidup
2. Dorongan seksual
3. Dorongan untuk mencari makan
4. Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan seksama manusia
5. Dorongan untuk mencari makan
6. Dorongan untuk berbakti
7. Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara dan gerak
3. Proses pembentukan kepribadian
Pengaruh lingkungan cukup dominan dalam proses pembentukan
kepribadian. Pengertian lingkungan di sini amat luas dan komplek,
mencakup lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, tempat kerja,
nilai-nilai, norma-norma, serta lingkungan fisik, sosial dan budaya.
Lingkungan yang begitu luas dan kompleks itu mempengaruhi kehidupan
seseorang sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya.
Manusia selain sebagai mahkluk individu juga merupakan makhluk
sosial Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai makhluk individu, manusia
memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan individu-individu
lainnya, baik intelegensi, bakat, minat, sifat-sifat, maupun kemauan dan
perasaannya. Sebagai makhluk sosial, manusia bergaul dan berinteraksi
sosial dengan manusia-manusia lain dalam memenuhi kebutuhan dan
mempertahankan hidupnya. Jadi, manusia kerjasama sosial, dan
sebaginya. Dalam berinteraksi sosial, dan sebagainya. Dalam berinteraksi
sosial, setiap individu melakukan proses sosialisasi nilai dan ormas sosial
budaya.
Secara biologis-fisiologis, manusia mungkin dapat mempertahankan
dirinya pada tingkat kehidupan vegetatif. Tetapi hati nurani dan cita-cita
pribadi tidak mungkin dapat terbentuk dan berkembang tapa pergaulan
dengan manusia-manusia lain. Tanpa pergaulan sosial maka kepribadian
manusia tidak akan dapat berkembang tanpa pergaulan dengan manusia-
manusia lain. Tanpa pergaulan sosial, maka kepribadian manusia tidak
akan dapat berkembang sebagai manusia dapat merealisasikan segala
potensinya dalam kehidupan masyarakat. Tanpa sosialisasi dan
komunikasi sosial maka individu tidak akan dapat mengaktualisasikan
seluruh potensi yang dimilikinya, seperti bakat, minat, intelegensi dan
cita-citanya.
Menurut aliran konvergensi, kepribadian (jiwa atau prilaku)
merupakan hasil perpaduan antara pembawaan (faktor internal) dengan
pengalaman (faktor eksternal). Pembawaan bersumber dari dalam diri
individu, seperti kecerdasan, bakat, minat, kemauan, dan sebagainya.
Pengalaman bersumber dari pergaulan, pendidikan, dan pengaruh nilai-
nilai dan norma sosial. Pelopor aliran konvergensi ialah Wiliam Stern
(1871-1938) seorang ahli Psikologi Jerman.
William Stern ialah seorang pelopor Teori Konvergensi dengan
memadukan teori-teori yang sebelumnya saling bertentangan.
Menurutnya, psikologi adalah ilmu tenatng manusia yang mengalami dan
menghayati kehidupannya. Teori konvergensi menengahi aliran Navitisme
dan Empiris. Menurut aliran Navitisme, kepribadian ditentukan oleh
faktor pembawaan; sedangkan menurut aliran Empirisme kepribadian
ditentukan oleh pengalaman dan lingkungannya. Para penganut aliran
Navitisme, kepribadian ditentukan oleh pengalaman atau lingkungannya.
Para penganut aliran Navitisme berpendapat bahwa jiwa atau kepribadian
ditentukan oleh faktor pembawaan (bakat, kemauan, kecerdasan, dll).
Sejak lahir individu sudah membawa pembawaan berupa potensi jiwa
yang bila dilatih dan dikembangkan maka potensi itu akan berkembang
menjadi suatu kekuatan pribadi. Menurut aliran Empirisme, individu sejak
lahir tidak membawa apa-apa, kosong bagaikan sehelai kertas putih
(tabularasa) yang belum ditulisi. Jiwa itu ditulisi atau diisi oleh
pengalamannya.
Berdasarkan fungsi dan reaksinya, jung menggolongkan kepribadian
ke dalam beberapa tipe berikut ini :
a. Berdasarkan fungsinya, ada 4 tipe
1. Kepribadian rasional, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh
akal pikiran sehat.
2. Kepribadian intuitif, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh
firasat atau perasaan kira-kira.
3. Kepribadin emosional, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh
perasaan.
4. Kepribadian sensitif, yaitu kepribadian yang dipengaruhi oleh oleh
panca indera sehingga cepat bereaksi.
b. Berdasarkan reaksi terhadap lingkungan, ada 3 tipe kepribadian
1. Kepribadian ekstrovert, yaitu kepribadian yang terbuka,
berorientasi pada diri sendiri, sehingga sifatnya pendiam, tidak
senang bergaul, suka menyendiri, dan sukar menyesuaikan diri.
2. Kepribadian introvert, yaitu kepribadian yang tertutup dan
berorientasi pada diri sendiri, sehingga pendiam, tidak senang
bergaul, suka menyendiri, dan sukar menyesuaikan diri.
3. Kepribadian ambivert, yaitu kepribadian campuran yang tidak
dapat digolongkan pada kedua tipe tersebut karena sifatnya
bervariasi.

4. Faktor-faktor pembentukan kepribadian
Karakteristik kepribadian seperti ketekunan, ambisi, kejujuran,
kriminalitas, kelainan seksual, dan ciri-ciri lainnya dianggap timbul dari
kecenderungan-kecenderungan turunan. Para ahli telah banyak melakukan
penelitian sehingga diketahui bahwa sekitar 50% faktor-faktor biologis
atau turunan yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang
sedang sisanya adalah faktor lingkungan, khususnya untuk IQ seseorang
lebih banyak ditentukan oleh faktor keturunan daripadadipengaruhi oelh
lingkungan sosialnya.
a. Warisan Biologis
Warisan biologis mempengaruhi kehidupan manusia dan setiap
menusia mempunyai warisan biologis yang unik, berbeda dari orang
lain. Tidak seorang pun (biarpun lahir kembar) mempunyai
karakteristik fisik yang sama persis sama dengan orang lain. Faktor
keturunan terhadap kerama-tamahan, perilaku kompulsif (terpaksa
dilakukan), dan dalam bentuk kepemimpinan, pengendalian diri,
dorongan hati, sikap dan minat. Warisan biologis yang terpenting
terletak pada perbedaan intelegensi dan kematangan biologis. Keadaan
ini membawa pengaruh pada kepribadian seseorang.
Tetapi banyak ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan
potensi warisan biologis. Keadaan ini membawa pengaruh pada
kepribadian seseorang.
Tetapi banyak ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan
potensi warisan biologis dipengaruhi oleh pengalaman sosial
seseorang. Bakat memerlukan anjuran, pengajaran, dan latihan untuk
mengembangkan diri melalui kehidupan bersama dengan manusia
lainnya. Misalnya, seorang pelukis. Supaya ia menjadi seseorang yang
memiliki bakat melukis belum tentu menjamin dia menjadi pelukis.
Supaya ia menjadi pelukis, bakatnya harus dilatih dikembangkan terus
menerus.
b. Warisan Lingkungan Alam
Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam
menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam.
Melalui penyesuaian diri itu, dengan sendirinya kebudayaan pun
dipengaruhi oleh alam. Misalnya kebudayaan Eskimo di kutub utara
berbeda dengan kebudayaan Suku Dani yang hidup ditengah hutan
tropis Irian Jaya. Melalui penyesuaian diri, manusia membentuk sikap
dan tindakan yang berbeda dengan manusia lainnya.
c. Warisan Sosial
Selain alam mempengaruhi kebudayaan, sebaliknya
kebudayaan juga mempengaruhi alam. Manusia menyesuaikan atau
mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaan itu diwariskan dari
generasi ke generasi dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup
manusia.
d. Kelompok Manusia
Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Setiap
anggota kelompok memiliki peranan-peranan yang diwariskan kepada
anggota kelompoknya. Kelompok manusia pertama adalah keluarga,
tetangga, teman sepermainan, dan sekolah. Tiap kelompok dihadapkan
dengan anggapan-anggapan, nilai-nilai, norma-norma, adat istiadat dan
lain-lain. Kelompok manusia; sadar atau tidak; mempengaruhi
anggota-anggotanya, dan para anggotanya menyesuaikan diri terhadap
kelompok lain kepada anggotanya, sehingga timbulah kepribadian
khas anggota masyarakat tersebut.
5. Tahap-tahap sosialisasi
Menurut George Herbert Mead, sosialisasi yang dilalui seseorang
dapat dibedakan melalui tahap :
a. Tahap persiapan (preparatory stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak
mempersiapkan diri untuk mengenal, dunia sosialnya, termasuk untuk
memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahapan ini juga anak-anak
mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh :
Kata makan yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita
diucapkan mam. Makna kata tersebut juga belum dipahami secara
tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara cepat makna
kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
b. Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak
menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap
ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang
tua, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa
yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari
anaknya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada
posisi orang lain juga muli terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa
dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang dianggap penting
bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak
menyerap nilai dan norma. Bagi seorang nak, orang-orang yang amat
berarti (significant other).
c. Tahap Siap Bertindak (Game stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkembang dan
digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan
penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi
orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya
kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari
adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerjasama dengan
teman-temannya.
Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan
hubungannya semakin kompleks individu mulai berhubungan dengan
teman-teman sebaya diluar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku
di luar keluarganya secara bertahp juga dimuli dipahami. Bersamaan
dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertetu yang
berlaku di luar keluarganya.
d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generelized Stage)
Pada tahap ini seorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat
menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata
lain, ia dapat bertenggang rasa tidk hanya dengan orang-orang yang
berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat secara luas.
Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja
sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya menjadi
mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah
menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.