Anda di halaman 1dari 22

1

SKRINING PENDENGARAN PADA PEKERJA


I. PENDAHULUAN
Pendengaran merupakan salah satu dari panca indera yang digunakan
untuk berkomunikasi dan berinteraksi, baik antara sesama manusia maupun
dengan lingkungan sekitarnya. Gangguan dengar akan mengurangi kemampuan
menerima informasi dan berkomunikasi melalui suara sehingga akan menyulitkan
pelaksanaan pekerjaan.
1

Menurut WHO, saat ini diperkirakan ada 360 juta (5.3%) orang di dunia
mengalami gangguan cacat pendengaran, 328 juta (91%) diantaranya adalah
orang dewasa (183 juta laki-laki, 145 juta perempuan) dan 32 juta (9%) adalah
anak-anak. Prevalensi gangguan meningkat seiring dengan pertambahan usia.
Prevalensi gangguan pendengaran pada orang di atas usia 65 tahun bervariasi
antara 18 sampai hampir 50% di seluruh dunia. Serta diperkirakan 20% orang
dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar.
2

Dengan meningkatnya permasalahan gangguan pendengaran dan ketulian
di Indonesia, maka perlu diantisipasi dengan melakukan upaya promotif, preventif
serta memberikan pelayanan kesehatan Indera Pendengaran yang optimal sebagai
upaya kuratif dan rehabilitatif terhadap masyarakat. Untuk itu diperlukan
kerjasama dan kesamaan visi dari berbagai pihak yaitu dokter, perawat, tenaga
kesehatan (asisten audiologi, audiometris), terapis wicara, pendidik, teknisi, serta
masyarakat.
2
Gangguan pendengaran akibat pajanan bising (NIHL) sering dijumpai
pada pekerja industri di negara maju maupun negara berkembang, terutama negara
industri yang belum menerapkan sistem perlindungan pendengaran dengan baik.
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dalam upaya meningkatkan
pembangunan banyak menggunakan peralatan industri yang dapat membantu dan
mempermudah pekerjaan. Akibatnya, timbul bising lingkungan kerja yang dapat
berdampak buruk terhadap para pekerja. Menurut Occupational Safety Health
Assosiation (OSHA) batas aman pajanan bising bergantung pada lama pajanan,
frekuensi dan intensitas bising serta kepekaan individu dan beberapa faktor lain.
Di Indonesia khususnya dan negara lain umumnya, pajanan bising yang dianggap
cukup aman adalah pajanan rata-rata sehari dengan intensitas bising tidak
melebihi 85 dB selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Bising lingkungan
kerja dapat berdampak buruk terhadap pekerja dengan risiko gangguan
pendengaran akibat bising sekitar 30%.
Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan adalah deteksi dini
gangguan pendengaran khususnya pada para pekerja dengan tingkat paparan
bising yang tinggi. Beberapa tes pendengaran yang dapat dilakukan adalah
2

pemeriksaan audiologi dasar berupa tes pelana, tes berbisik maupun audiometri
nada murni.
4

II. ANATOMI TELINGA
Untuk memahami tentang gangguan pendengaran dan cara pemeriksaan
pendengaran, perlu diketahui anatomi telinga dan fisiologi pendengaran. Anatomi
telinga terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : telinga luar, telinga tengah dan telinga
dalam.
4
2.1. TELINGA LUAR
Telinga luar terdiri dari daun telinga (auricula) dan liang telinga (meatus
acusticus externus) sampai membran timpani. Auricula merupakan bentuk yang
khas dan berfungsi mengumpulkan gelombang udara, auricula terdiri atas
lempeng tulang rawan elastis tipis yang ditutupi kulit. Auricula juga mempunyai
otot intrinsik dan ektrinsik, yang keduanya dipersarafi oleh nervus fasialis.
4,6

Auricula atau lebih dikenal dengan daun telinga membentuk suatu bentuk
unik yang terdiri dari antihelix yang membentuk huruf Y, dengan bagian crus
superior di sebelah kiri dari fossa triangularis, antitragus yang berada di bawah
tragus, sulcus auricularis yang merupakan sebuah struktur depresif di bawah
belakang telinga di dekat kepala, concha berada di dekat saluran pendengaran,
angulus conchalis yang merupakan sudut di belakang concha dengan sisi kepala,
crux helix yang berada di atas tragus, cymba concha merupakan ujung terdekat
dari concha.
4,6,7




2.2. TELINGA TENGAH
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar : membran timpani,
batas depan : tuba eustachius, batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis),
Gambar 1 : Anatomi Auricula (dikutipdari kepustakaan 5)
3

batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis, batas atas :
tegmen timpani (mening/otak), batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah
kanalis semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window),
tingkap bundar (round window) dan promontorium.
4,7,8




Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars
flaksida (membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran
propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel
kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel
mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapisan lagi di tengah, yaitu
lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan
secara radial di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam.
4




Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan.
Prosessus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada
inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
Gambar 3 : Anatomi telinga tengah (dikutip dari kepustakaan 5)
Gambar 4 : Anatomi membran tympani (dikutip dari kepustakaan 5)
4

berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran
merupakan persendian. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang
menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.
4,7


2.3. TELINGA DALAM
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung
atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani
dengan skala vestibuli.
4,6,7,8

Kanalis semisirklularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak
skala vestibuler sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media
(duktus koklearis) di antaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa,
sedangkan skala media berisi endolimfe. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa
berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala
vestibuler disebut sebagai membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan
dasar skala media adalah membran basalis. Pada skala media terdapat bagian yang
berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat
sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar, dan kanalis corti,
yang membentuk organ corti.
4,6,7,8


Gambar 5 : gambaran tulang-tulang pendengaran (dikutip dari
kepustakaan 5)
Gambar 6 : Gambaran telinga tengah (dikutip dari kepustakaan 5)
5



III. FISIOLOGI PENDENGARAN
Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Reseptor-
reseptor khusus untuk suara terletak di telinga dalam yang berisi cairan. Dengan
demikian, gelombang suara hantaran udara harus disalurkan ke arah dan
dipindahkan ke telinga dalam, dan dalam prosesnya melakukan kompensasi
terhadap berkurangnya energi suara yang terjadi secara alamiah sewaktu
gelombang suara berpindah dari udara ke air. Fungsi ini dilakukan oleh telinga
luar dan telinga tengah.
4,6

Daun telinga mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke
saluran telinga luar.

Membran timpani, yang teregang menutupi pintu masuk ke
telinga tengah, bergetar sewaktu terkena gelombang suara. Daerah-daerah
gelombang suara yang bertekanan tinggi dan rendah berselang-seling
menyebabkan gendang telinga yang sangat peka tersebut menekuk keluar-masuk
seirama dengan frekuensi gelombang suara.
4,6

Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membran timpani ke cairan
di telinga dalam. Pemindahan ini dipermudah oleh adanya rantai yang terdiri dari
tiga tulang yang dapat bergerak atau osikula (maleus, inkus, dan stapes) yang
berjalan melintasi telinga tengah. Tulang pertama : maleus, melekat ke membran
timpani, dan tulang terakhir, stapes, melekat ke jendela oval, pintu masuk ke
koklea yang berisi cairan. Ketika membrana timpani bergetar sebagai respons
terhadap gelombang suara, rantai tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan
frekuensi sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dan membrane timpani
ke jendela oval. Setiap getaran yang dihasilkan menimbulkan gerakan seperti
gelombang pada cairan telinga dalam dengan frekuensi yang sama dengan
frekuensi gelombang suara semula.
4,6,7,8

Gerakan stapes yang menyerupai piston terhadap jendela oval
menyebabkan timbulnya gelombang tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan
menarik jendela oval ke luar ke arah telinga tengah, perilimfe mengalir dalam arah
berlawanan, mengubah posisi jendela bundar ke arah dalam. Jalur ini tidak
menyebabkan timbulnya persepsi suara tetapi hanya menghamburkan tekanan.

7,8,9

Transmisi gelombang suara melalui gerakan cairan di dalam perilimfe
yang ditimbulkan oleh getaran jendela oval yang mengikuti dua jalur :
6

(1) melalui skala vestibuli, mengitari helikotrema, dan melalui skala timpani,
yang menyebabkan jendela bundar bergetar.
(2) skala vestibuli melalui membran basilaris ke skala timpani. Jalur pertama
hanya menyebabkan penghamburan energi suara, tetapi jalur kedua.
mencetuskan pengaktifan reseptor untuk suara dengan membengkokkan
rambut di sel-sel rambut sewaktu organ corti pada bagian atas membrana
basilaris bergetar, mengalami perubahan posisi terhadap membrana
tektorial di atasnya.

Organ Corti, yang terletak di atas membran basilaris, di seluruh
panjangnya mengandung sel-sel rambut, yang merupakan reseptor untuk suara.
Sel-sel rambut menghasilkan sinyal saraf, jika rambut di permukaannya secara
mekanis mengalami perubahan bentuk berkaitan dengan gerakan cairan di telinga
dalam. Rambut-rambut ini secara mekanis terbenam di dalam membrana tektorial,
suatu tonjolan mirip tenda-rumah yang menggantung diatas, di sepanjang organ
Corti.
4,6,7,8,9

Sel-sel rambut adalah sel reseptor khusus yang berkomunikasi melalui
sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf
auditorius (koklearis). Depolarisasi sel-sel rambut (sewaktu membran basilaris
bergeser ke atas) meningkatkan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka, yang
menaikkan kecepatan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya, kecepatan
pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan sedikit
zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi (sewaktu membrana basilaris
bergerak ke bawah).
4,6,9

Dengan demikian, telinga mengubah gelombang suara di udara menjadi
gerakan-gerakan berosilasi membrana basilaris yang membengkokkan pergerakan
maju-mundur rambut-rambut di sel reseptor. Perubahan bentuk mekanis rambut-
rambut tersebut menyebabkan pembukaan dan penutupan (secara bergantian)
saluran di sel, reseptor, yang menimbulkan perubahan potensial sehingga
mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang merambat
ke otak. Dengan cara ini,gelombang suara diterjemahkan menjadi sinyal saraf
yang dapat dipersepsikan oleh otak sebagai sensasi suara.
4,6,7,8,9



IV. GANGGUAN PENDENGARAN
7

Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural serta tuli campuran. Pada
tuli konduktif terjadi gangguan hantaran suara karena kelainan pada telinga luar
dan tengah. Pada tuli sensorineural terdapat kelainan pada koklea (telinga dalam),
nervus VIII atau di pusat pendengaran. Tuli campuran merupakan kombinasi dari
tuli sensorineural dan tuli konduktif.
4,6
Beberapa ahli mendefinisikan bising secara subyektif sebagai bunyi yang
tidak diinginkan, tidak disukai, dan mengganggu. Secara obyektif bising terdiri
atas getaran bunyi kompleks yang terdiri atas berbagai frekuensi dan amplitudo,
baik yang getarannya bersifat periodik maupun nonperiodik
Bising berpengaruh terhadap tenaga kerja, sehingga dapat menimbulkan
berbagai gangguan kesehatan secara umum, antara lain gangguan pendengaran,
fisiologi lain serta gangguan psikologi.
Gangguan fisiologi dapat berupa peningkatan tekanan darah, percepatan
denyut nadi, peningkatan metabolism basal, vasokonstriksi pembuluh darah,
penurunan peristaltic usus serta peningkatan ketegangan otot. Efek fisiologi
tersebut disebabkan oleh peningkatan rangsang sistem saraf otonom. Keadaan itu
sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap keadaan bahaya
yang terjadi secara spontan.
Gangguan psikologi dapat berupa stres tambahan apabila bunyi tersebut
tidak diinginkan dan mengganggu, sehingga menimbulkan perasaan tidak
menyenangkan dan melelahkan. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan sulit
tidur, emosional, gangguan komunikasi dan gangguan konsentrasi yang secara
tidak langsung dapat membahayakan keselamatan tenaga kerja.
Pengaruh bising pada timbulnya gangguan pendengaran telah banyak
diteliti. Untuk melindungi tenaga kerja terhadap bahaya yang disebabkan oleh
faktor bising, perlu dibuat kriteria risiko dengan tujuan menentukan tingkat bunyi
maksimum yang diperkenankan selama periode waktu tertentu, yang bila tidak
dilampaui hanya akan menimbulkan sedikit perubahan pendengaran pekerja yang
terpajan bising pada jangka waktu yang lama. Beberapa faktor risiko yang
berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intensitas bising, frekuensi, lama
pajanan perhari, lama masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lain yang
dapat menimbulkan ketulian.
Gangguan pendengaran akibat bising adalah penyakit akibat kerja yang
sering dijumpai di banyak pekerja industri, Gangguan pendengaran tersebut
biasanya bilateral tetapi dapat juga unilateral. Gangguan biasanya mengenai nada
8

tinggi dan terdapat takik di frekuensi 4000 Hz pada gambaran audiogramnya.
Pada tahap awal gangguan itu hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan
audiometri. Gejala awal biasanya adanya keluhan berdenging di telingnya.
Gangguan pendengaran jenis sensorineural terjadi akibat kerusakan struktur di
koklea yaitu kerusakan pada sel-sel rambut di organ korti. Gangguan pendengaran
akibat bising dapat ringan sampai berat akibat pajanan bising yang berlangsung
lama, yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut yang juga terjadi
bertahap, perlahan-lahan sehingga tidak disadari oleh para pekerja. Pada tahap
yang berat dapat mengganggu komunikasi, sehingga mempengaruhi kehidupan
sosialnya. Gangguan pendengaran akibat bising bersifat menetap dan tidak dapat
disembuhkan, oleh karena itu pencegahan sangat penting.

V. JENIS-JENIS SKRINING PENDENGARAN
Untuk memeriksa pendengaran diperlukan hantaran melalui udara dan
melalui tulang dengan menggunakan garpu tala atau PTA (Pure Tone
Audiometry). Kelainan hantaran melalui udara akan menyebabkan tuli konduktif,
berarti ada kelainan di telinga luar atau telinga tengah, seperti atresia liang telinga,
eksostosis liang telinga, serumen, sumbatan tuba eustachius, serta radang telinga
tengah. Sedangkan kelainan di telinga dalam akan menyebabkan tuli sensorineural
koklea atau retrokoklea.
4,6,10

Secara fisiologik telinga dapat mendengar nada antara 20 sampai 18.000
Hz. Untuk pendengaran sehari-hari yang paling efektif antara 500 2000 Hz.
Oleh karena itu untuk pemeriksaan dengan menggunakan garputala digunakan
garputala frekuensi 128, 256, 512, 1024 dan 2048 Hz. Penggunaan kelima
garputala ini penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Bila salah satu frekuensi
ini terganggu penderita akan sadar adanya gangguan pendengaran. Bila tidak
mungkin menggunakan ketiga garputala, maka diambil 512 Hz karena
penggunaan garputala ini tidak terlalu dipengaruhi suara bising di sekitarnya.

4,6,10,11

Pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan secara kualitatif dengan
menggunakan garpu tala. beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah
tes garis pendengaran, tes Rinne, tes Weber, Tes Schwabach, dan tes Bing. Dapat
juga dilakukan dengan cara kuantitatif dengan mempergunakan audiometer
berupa tes PTA (Pure Tone Audimetry).
4,6,10,11,12


5.1. TES GARPU TALA
5.1.1. Tes Garis Pendengaran
Prinsip tes :
9

Untuk menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar penderita
melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal.
4,6,12

Cara pemeriksaan :
Semua garpu tala (dapat dimulai dari frekuensi terendah berturutan sampai
frekuensi tertinggi atau sebaliknya). Dibunyikan satu per satu, dengan cara
dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan
lunak dipetik dengan ujung jari/kuku, didengarkan terlebih dahulu oleh
pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas terendah
bagi orang normal /nilai ambang normal), kemudian diperdengarkan pada
penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1 -2 cm
dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan
dan kiri.
12

Interpretasi :
12

Normal :
Mendengar garpu tala pada semua frekuensi
Tuli konduksi :
Batas bawah naik (frekuensi rendah tidak terdengar)
Tuli Sensori Neural :
Batas atas turun : (frekuensi tinggi tidak terdengar)
5.1.2.. Tes Rinne
Prinsip Tes :
untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang
pada satu telinga yang diperiksa.
4,6,12

Cara pemeriksaan :
Cara pertama : Garpu tala digetarkan biasanya frekuensi 512 Hz,
kemudian tangkainya diletakkan di processus mastoid, setelah tidak terdengar
garpu tala dipindahkan di depan telinga kira-kira jarak 2 cm. Bila masih
terdengar disebut Rinne positif (+) bila tidak terdengar disebut Rinne (-).
4,12,13

Cara kedua : Garpu tala digetarkan biasanya frekuensi 512 Hz,
kemudian tangkainya diletakkan di processus mastoid, kemudian segera
dipindahkan ke depan MAE kira-kira jarak 2 cm penderita kemudian
ditanya mana yang lebih keras. Bila lebih keras di depan MAE disebut rinne
positif, bila lebih keras di belakang rinne negatif.
12

Interpretasi :
4,12

Normal : Rinne positif
Tuli konduksi : Rinne negatif
Tuli Sensorineural: Rinne positif
10




5.1.3. Tes Weber
Prinsip Tes :
4,6,10,12,13

untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan
Cara pemeriksaan :
Garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah kepala
(di verteks, dahi, pangakal hidug, di tengah-tengah gigi seri atau di dagu).
Apabila bunyi garpu tala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut
weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah
telinga mana bunyi terdengar lebih kasar disebut weber tidak ada
lateralisasi,
4,10,12,13

Interpretasi :
4,12

Normal : tidak ada lateralisasi
Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit.
Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat.
Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinan interpretasi dapat
lebih dari 1, sebagai contoh : Interpretasi dengan lateralisasi ke kanan :
Tuli konduksi kanan, telinga kiri normal
Tuli konduksi kanan dan kiri, tetapi kanan lebih berat
Tuli sensorineural kiri, telinga kanan normal
Tuli sensorineural kanan dan kiri, tetapi kiri lebih berat
Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri.
Gambar 7 : teknik pemeriksaan tes Rinne (dikutip dari
kepustakaan 13)
11




5.1.4. Tes Schwabach
Prinsip tes :
4,6,10,12

Membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa
yang pendengarannya normal.
Cara pemeriksaan :
Garpu tala digetarkan, tangkai garpu tala diletakkan pada processus
mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai garpu tala
segera dipindahkan pada processus mastoideus telinga pemeriksa yang
pendengarannya normal. Ada 2 kemungkinan yaitu pemeriksa masih
mendengar disebut schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak
mendengar lagi. Bila pemeriksa tindak mendengar maka harus dilakukan
cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideu
pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera
dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah
penderita mendengar dengungan. Bila penderita tidak mendengar lagi maka
dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach
memanjang.
4,12

Interpretasi :
4,12

Normal : Schwabach normal
Tuli konduksi : Schwabach memanjang
Tuli Sensori Neural : Schwabach memendek

5.1.5. Tes Bing (Tes Oklusi).
Cara pemeriksaan :
4,6,13

Tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, sehingga
kira-kira terdapat tuli konduktif kira-kira 30 dB. Garpu tala digetarkan dan
diletakkan pada pertengahan kepala (seperti pada tes weber). Apabila bunyi
Gambar 8 : teknik pemeriksaan tes weber (dikutip dari
kepustakaan 13)
12

garpu tala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Bing
lateralisasi ke telinga tersebut.
Interpretasi :
4

Normal : Lateralisasi ke telinga yang ditutup
Tuli Konduksi : Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah
keras





5.2. TES BISIK.
Pemeriksaan ini bersifat semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian
secara kasar
.12

Syarat sebelum dilakukan pemeriksaan :
12

Tempat :
Ruang sunyi dan tidak ada echo (dinding dibuat tidak rata atau dilapisi
soft board/ korgen) serta ada jarak sepanjang 6 m

Penderita :(yang diperiksa)
Mata ditutup / dihalangi agar tidak membaca gerak bibir
Telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah pemeriksa
Telinga yang tidak diperiksa ditutup atau di masking dengan menekan
tragus ke arah MAE oleh asisten pemeriksa. Bila tidak ada asisten, telinga
ditutup kapas yang dibasahi gliserin.

Pemeriksa :
4.12

Gambar 9 : tekhnik pemeriksaan tes Bing (dikutip dari
kepustakaan 13)
13

Kata-kata dibisikkan dengan udara cadangan paru-paru sesudah ekspirasi
biasa.
Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 1 atau 2 suku kata yang dikenal
penderita, biasanya kata-kata benda yang ada di sekeliling kita.

Cara Pemeriksaan :
Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri, penderita tetap di tempat sedan
pemeriksa yang berpindah tempat. Mulai jarak 1 m dibisikkan 5 atau 10 kata
(umumnya 5 kata). Bila kata dapat didengar, pemeriksa mundur ke jarak 2 m
dibisikkan kata lain dalam jumlah yang sama, bila didengar semua mundur lagi,
sampai pada jarak dimana penderita mendengar 80% kata-kata (mendengar 4 kata
dari 5 kata yang dibisikkan), pada jarak itulah tajam pendengaran telinga yang di
tes.
12

Interpretasi :
4

biasanya nilai normal tes bisik adalah 5/6 -6/6.




5.3. TES PTA (Pure Tone Audiometry) / Audiometri Nada Murni.
Prinsip Tes :
Adalah tes yang dilakukan untuk mengetahui ambang dengar dengan memberikan
stimulus suara berfrekuensi murni pada telinga yang dites. Frekuensi tes biasanya
mulai dari 125Hz sampai dengan 8000Hz. Tes Audiometri Nada Murni bisa
dilakukan melalui audiometer yang otomatis ataupun manual, akan tetapi esensi
proses pemeriksaannya sama.
13,14,15


Cara Pemeriksaan :
Persiapan pasien:
Gambar 10 : tekhnik pemeriksaan tes berbisik (dikutip dari kepustakaan 8)
14

1. Pasien harus duduk sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat melihat panel
kontrol ataupun pemeriksanya. Sebagian pemeriksa lebih suka bila dapat
melihat profil pasien.
2. Benda-benda yang dapat mengganggu pemasangan earphone yang tepat
atau dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan harus disingkirkan. Misalnya
anting-anting, kacamata, topi, wig, permen karet dan kapas dalam liang
telinga. Saat ini pemeriksa sebaiknya memeriksa apakah ada penyempitan
liang telinga dengan cara mengamati gerakan dinding kanalis saat
menekan pinna dan tragus. Perbedaan hantaran udara dan tulang hingga
sebesar 15-30 dB telah dilaporkan sebagai akibat penyempitan liang
telinga. Masalah ini dapat diatasi dengan memegang earphone di depan
pinna sehingga rangsang pengujian terletak dalam suatu lapangan suara,
sementara telinga satunya ditutup atau disamarkan menggunakan
earphone bantal sirkumaural. Cara lain adalah dengan memasukkan suatu
cetakan liang telinga ke dalam kanalis agar suatu jalan udara menuju
membran timpani dapat dipertahankan.
3. Instruksi harus jelas dan tepat. Pasien harus mengetahui apa yang harus
didengar dan apa yang diharapkan sebagai jawabannya. Pasien harus
didorong untuk memberi jawaban terhadap bunyi terlemah yang dapat
didengarnya. Biasanya jawaban yang diminta adalah mengacungkan
tangan atau jari atau menekan tombol yang menghidupkan sinyal cahaya.
4. Lubang earphone harus tepat menempel pada lubang liang telinga.

Penentuan ambang pendengaran:
1. Periksa telinga yang lebih baik terlebih dahulu menggunakan rangkaian
frekuensi berikut: 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz, 8000 Hz, 1000 Hz
(diulang), 500 Hz, 250 Hz. Dengan pengecualian ulangan frekuensi 1000
Hz, rangkaian yang sama dapat digunakan untuk telingan satunya. Jika
terdapat perbedaan ambang sebesar 15 dB atau lebih untuk interval oktaf
berapa pun, maka harus dilakukan pemeriksaan dengan frekuensi setengah
oktaf.
2. Mulailah dengan intensitas tingkat pendengaran 0 dB, nada kemudian
dinaikkan dengan peningkatan 10 dB dengan durasi satu atau dua detik
hingga pasien memberi jawaban. Tingkat pendengaran adalah intensitas
dalam desibel yang diperluas untuk mendapat jawaban dari pasien,
dibandingkan dengan standar nol audiometer klinis.
15

3. Nada harus ditingkatkan 5 dB dan bila pasien memberi jawaban, maka
nada perlu diturunkan dengan penurunan masing-masing 10 dB hingga
tidak lagi terdengar
4. Peningkatan berulang masing-masing 5 dB dilanjutkan hingga dicapai
suatu modus atau jawaban tipikal. Biasanya jarang melampaui tiga kali
peningkatan.
5. Setelah menentukan ambang pendengaran untuk frekuensi pengujian awal,
cantumkan simbol-simbol yang sesuai pada audiogram
6. Lanjutkan dengan frekuensi berikutnya dalam rangkaian. Mulailah nada
tersebut pada tingkat yang lebih rendah 15-20 dB dari ambang frekuensi
yang diuji sebelumnya. Misalnya jika ambang pendengaran untuk
frekuensi 1000 Hz adalah 50 dB, maka mulailah frekuensi 2000 Hz pada
intensitas 30 atau 35 dB
7. Teknik ini dapat dipakai untuk menentukan amabng hantaran tulang
maupun udara. Pada audiometri amabng hantaran tulang, biasanya tidak
terdapat frekuensi 6000 dan 8000 Hz. .
4,6,12,13,14,15


Interpretasi Audiogram :
13,14,15

Terdapat ambang dengar menurut konduksi udara (AC) dan menurut
konduksi tulang (BC). Apabila ambang dengar ini dihubungkan dengan garis,
baik AC maupun BC, maka akan didapatkan didalam audiogram
1. Audiogram normal
Secara teoritis, bila pendengaran normal, ambang dengar untuk hantaran
udara maupun hantaran tulang tercatat sebesar 0 dB. Pada anakpun keadaan
ideal seperti ini sulit tercapai terutam pada frekuensi rendah bila terdapat bunyi
lingkungan (ambient noise). Pada keadaan tes yang baik, audiogram dengan
ambang dengar 10 dB pada 250,500 Hz 0 dB pada 1000, 2000,4000, 10000 Hz
pada 8000 Hz dapat dianggap normal.
13,14,15

16




2. Tuli konduksi
Diagnosis gangguan tuli konduktif ditegakkan berdasarkan prinsip bahwa
gangguan konduktif (telinga tengah) menyebabkan gangguan hantaran udara
yang lebih besar daripada hantaran tulang. Pada keadaan tuli konduktif murni,
keadaan koklea yang baik (intak) menyebabkan hantaran tulang normal, yaitu
0 dB pada audiogram. Gap antara hantaran tulang dengan hantaran udara
menunjukkan beratnya ketulian konduktif.
4,13,14,15



Gambar 12 : audiogram bilateral tuli konduktif (dikutip dari
kepustakaan 14 )
Gambar 11 : audiogram pada pendengaran normal (dikutip dari
kepustakan 14)
17


3. Tuli sensori Neural.
Tuli sensorineural terjadi bila didapatkan ambang pendengaran
hantaran tulang dan udara lebih dari 25 dB. Tuli sensorineural ini terjadi bila
terdapat gangguan koklea, N.auditorius (NVIII) sampai ke pusat pendengaran
termasuk kelainan yang terdapat didalam batang otak.
13,14,15




4. Tuli campuran
Kemungkinan tarjadinya kerusakan koklea disertai sumbatan serumen
yang padat dapat terjadi. Level konduksi tulang menunjukkan gangguan
fungsi koklea ditambah dengan penurunan pendengaran karena sumbatan
konduksi udara mengambarkan tingkat ketulian yang disebabkan oleh
komponen konduktif.
Perbedaan anatara level hantaran udara dan tulang dikenal sebagai
jarak udara- tulang atau air-bone gap. Jarak udara-tulang merupakan suatu
ukuran dari komponen konduktif dari suatu gangguan pendengaran. Level
Gambar 13 : audiogram Tuli Sensori Neural (dikutip dari
kepustakaan 14)
18

hantaran udara menunjukkan tingkat patologi koklea, kadang disebut sebagai
cochlear reserve atau cabang koklea.
13,14,15



Identifikasi dan analisis sumber bising biasanya dilakukan dengan alat sound level
meter (SLM) yang dapat mengukur kebisingan secara sederhana. Octave band
analyzer mengukur kebisingan secara lebih rinci pada tiap frekuensi, sehingga
dapat dibuat peta kebisingan di setiap tempat kerja yang dicurigai terpajan bising


Gambar 14 : audiogram pada tuli campuran (MHL)(dikutip dari
kepustakaan 14)
Gambar 15 : Sound Level Meter (dikutip dari kepustakaan 11)
19



Nilai Ambang Batas Kebisingan
Waktu pajanan per hari Intensitas (dB)
8
Jam
85
4 88
2 91
1 94
30
Menit
97
15 100
7,5 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112
28,12
Detik
115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
Catatan: tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA,walaupun sesaat.
Kebisingan dan penuaan merupakan penyebab sebagian besar kasus
gangguan pendengaran permanen. Meskipun tidak ditangani oleh perawatan medis
atau bedah, kehilangan pendengaran kebisingan yang disebabkan (NIHL) dapat
dicegah.
16
Salah satu aspek dari NIHL yang belum menerima banyak perhatian
penelitian adalah pengembangan langkah-langkah yang lebih sensitif yang mampu
mendeteksi kecil cedera akustik diinduksi untuk organ Corti (yaitu, tahap awal
NIHL) sehingga individu yang rentan terhadap kerusakan jangka panjang yang
disebabkan oleh paparan terus-menerus dapat diidentifikasi.
17
20

Hal penting dari setiap program konservasi pendengaran adalah
monitoring rutin pendengaran pekerja. Karyawan baru harus disaring dan
efektivitas program dipantau oleh rutin, biasanya tiap tahun, dengan tes
pendengaran. Tes pendengaran tahunan memiliki banyak fungsi; salah satunya
adalah memberikan kesempatan untuk memperkuat program konservasi
pendengaran dan untuk memantau penggunaan alat pelindung pendengaran.
Mendeteksi mereka yang mempunyai gangguan pendengaran dan
mengidentifikasi individu dengan perubahan pendengaran dan apakah program
tersebut efektif. Hal ini menunjukkan apakah program berhasil, apakah pekerja
individu perlu konseling, atau jika pabrik tersebut perlu dilakukan pengecekan.
18


21

DAFTAR PUSTAKA
1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Dalam : Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 879/Menkes/SK/XI/2006 tentang
Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan
Ketulian untuk mencapai Sound Hearing 2030. Jakarta:Departemen
Kesehatan R.I;2006.
2. Inspektorat Jenderal Kementrian Kesehatan. Hari Kesehatan Telinga dan
Pendengaran Nasional 2013.[Diakses tanggal 1 November 2013]; Available
from: http://www.itjen.depkes.go.id/berita/read/28/15/HARI-KESEHATAN-
TELINGA-DAN-PENDENGARAN-NASIONAL-2013.
3. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes. Dalam Workshop
Pengembangan Program Kesehatan Indera Pendengaran.
4. Soepardi, Efiaty Arsyad et al. Gangguan Pendengaran dan Kelainan
Telinga. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan,
Kepala Leher. Jakarta. Balai Penerbit FKUI; 2008; 10-22.
5. Putz R, Telinga, Auris, Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 1 Edisi 21
ECG:2006.
6. Adams GL, Boies LR, Higler PA, Boies buku ajar THT. EGC. Jakarta, 1997.
7. Moller, Aage R. Hearing : Anatomy, Physiology, and Disorders of The
Auditory System. 2
nd
ed. United States of America: Elsevier. 2006.
8. Menner Al. A pocket Guide to the Ear. New York :Thiema; 2003, p. 1-4. P 13-21
9. Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia dari sel ke sel. Edisi 2.
EGC: Virginia; 2001. Hal.176-189.
10. Jafek BW, Murrow BW. ENT Secret. 3
rd
Edition. United State : Elsevier. P 17-21
11. Probost R, Grevers G, Iro H. Ear. In : Basic Otorhinolaryngology a Step By Step Learning
Guide. United State: Thieme;2006. P 153- 90.
12. Rukmini S, Herawati S. Teknik pemeriksaan telinga, Hidung, dan Tenggorok. Jakarta
:EGC;2000. Hal 13-26.
13. Bulls TR. Color Atlas of ENT diagnosis. 4
th
Edition. London: thieme Flexibook; 2003.
Chapter 1. p. 4 -10.
14. Lalwani AK. In Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology - Head
and Neck Surgery. 2
nd
Edition. McGraw-Hill; 2008. Page 595-600.
15. Kutz, Joe Walter ; Meyers, Arlend ; Bauer, Carol A, et al. Audiology
Pure-Tone Testing. [cited on 1 Nov 2013]. Available from:
http://www.emedicine.medscape.com/article/1822962-overview
16. Bailey BJ, Johnson JT. Noise-Induced Hearing Loss. Head & Neck
Surgery - Otolaryngology, 4
th
Edition. Lippincott Williams & Wilkins;
2006. P.2189.
17. Cummings CW, Flint PW, et al. Early Detection of Noise-Induced
22

Hearing Loss. Otolaryngology: Head & Neck Surgery, 4th ed. Mosby,
Inc; 2005.
18. Ballenger JJ, Snow JB. Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery.Occupational Hearing Loss. BC Decker Inc; 2003. P.385