Anda di halaman 1dari 51

PLENO PEMICU 1

Kelompok DK3
1. Qurratul aini I11112021
1. Albertus Are Satriadi I11112047
1. Octa Tirandha I11112077
1. M.Anugerah Perdana I1011131001
1. Lya Novya I1011131004
1. Sundari I1011131012
1. Desra Aufar Alwafi I1011131026
1. Yosefa Rosari Violetta I1011131053
1. Abidah Bazlinah Dermawan I1011131055
1. Risa Muthmainah I1011131067
1. Peter Fernando I1011131074
1. Dara Agusti Maulidya I1011131086
Pemicu
Seorang bayi perempuan, berusia 2 hari dibawa oleh ibunya
ke rumah sakit karena lahir dengan bibir sumbing. Bayi
lahir pervaginam ditolong bidan desa pada usia kehamilan
38 minggu. Berat lahir 3,200 gram, panjang lahir 49 cm. Ibu
khawatir karena bayinya tidak pandai menyusu dan sering
tersedak saat minum. Berat badan bayi turun menjadi 2,800
gram. Ibu juga merasa malu dan bersalah karena anaknya
cacat karena saat hamil pernah minum jamu


Klarifikasi & Definisi
Lahir pervaginam :Proses kelahiran melalui jalan lahir
(vagina)
Bibir sumbing :Kelainan bawaan bibir bagian
atas, langit-langit lunak dan keras
mulut

Ketidaksempurnaan pada
penyambungan bibir atas saat masa
embrio


Kata Kunci
Bayi perempuan usia 2 hari
Bibir sumbing
Tidak pandai menyusu
Sering tersedak
Penurunan berat badan
Ibu minum jamu saat hamil
Lahir pervaginam

Rumusan Masalah
Bayi perempuan usia 2 hari lahir dengan bibir sumbing
tidak pandai menyusu dan sering tersedak saat minum,
sehingga mengalami penurunan berat badan

Analisis Masalah
Hipotesis
Bayi tersebut mengalami kelainan kongenital (bibir
sumbing) akibat pembentukan yang kurang sempurna
pada masa perkembangan embrional yang dipengaruhi
oleh faktor eksternal dan internal yang mengakibatkan
adanya komplikasi yang terjadi sehingga berpengaruh
pada asupan gizi bayi saat lahir

Learning Issues

1. Konsep Pertumbuhan
2. Konsep Perkembangan
3. Proses Embrioegenesis
4. Proses Organogenesis
5. Faktor-faktor yang
mempengaruhi Perkembangan
Intrauterine
Internal
Eksternal
6. Periode kritis saat
prenatal
7. Kriteria bayilahir normal


8. Asupan gizi bagi ibu saat hamil
9. Dampak akibat janin maupun
bayi jika kekurangan nutrisi
10. Kelainan kongenital yang dapat
terjadi saat perkembangan
intrauterine
11. Zat-zat teratogen yang dapat
mempengaruhi perkembangan
intrauterine
12. Bibir Sumbing:
Epidemiologi
Klasifikasi
Etiologi
Patofisiologi
Diagnosis
Tata Laksana
Pencegahan
Cont
14. Hubungan antara bibir sumbing dengan tidak pandai
menyusu dan sering tersedak
15. Peran ASI bagi bayi
16. Pemberian ASI/Laktasi yang baik
17. Cara pemberian ASI pada bayi yang menderita bibir
sumbing.
18. Edukasi bagi ibu agar bayinya (bibir sumbing) agar
tidak mengalami penurunan berat badan
19. Pengaruh kelainan congenital terhadap perkembangan
mental anak

PEMBAHASAN
Embriogenesis
Fertilisasi
Pembelahan
Implantasi
Gastrulasi
Organogenesis

Minggu Pertama
Cont
Minggu ke-2
Blastokista sebagian tertanam ke dalam stroma
endometrium.

Trofoblas berdiferensiasi (lap dalam) sitotrofoblas
(lap luar) sinsitiotrofoblas


menjelang akhir minggu kedua, mulailah sirkulasi utero
plasenta.

Minggu ke-3
Gastrulasi Endoderm
Mesoderm
akhir minggu ketiga,
terbentuk tiga lapisan
ectoderm, mesoderm
dan endoderm

diferensiasi jaringan dan
organ sudah mulai
Organogenesis minggu ke 3-8

Faktor Internal yang mempengaruhi
perkembangan intrauterin
Faktor keturunan atau genetik
Faktor hormon


Faktor eksternal
Gizi ibu pada waktu hamil
Mekanis
Toksin/zat kimia
Endokrin
Radiasi
Infeksi
Stress
Imunitas
Anoksia embrio
Periode kritis saat
prenatal
Kriteria bayi lahir normal
menurut Kementrian Kesehatan tahun 2010, ialah:
Berat badan bayi 2500-4000 gram;
Panjang lahir 48-52 cm.
Lingkar kepala 33-37 cm.
Umur kehamilan 37 40 mg;
Bayi segera menangis ,
Bergerak aktif,kulit kemerahan,
Mengisap ASI dengan baik,
Tidak ada cacat bawaan

Asupan gizi bagi ibu hamil

Cont
Protein
Lipid
Asam Lemak Esensial
Kolin
Serat
Karbohidrat
Vitamin (Vit A, D, B, B12)
Kalsium
Folat
Magnesium
Iodin
Besi
Zinc

Dampak akibat bayi jika kekurangan
nutrisi
Hambatan pertumbuhan
Berat lahir rendah
Kekurangan nutrisi kandungan
Defisiensi spesifik nutrien (iodin, vitamin A, zat besi, zinc)
Diare
Infeksi HIV dan penyakit infeksius lainnya
Penyakit kronis
Janin dan bayi inadekuat untuk menyusui
Makanan yang tidak di batasi
Degradasi lingkungan dan urbanisasi
faktor utama potensi penyebab penyakit infeksi
defisit pada proses berpikir dan kemampuan utama kognitif
anak
Kelainan Kongenital yang dapat terjadi
saat perkembangan intra-uterine
European Registration of Congenital Anomalies, kelainan
kongenital dikelompokkan berdasarkan gejala klinis:


Kelainan tunggal (single-system defects) :
Asosiasi (Association)
Sekuensial (Sequences)
Kompleks (Complexes)
Sindrom



Teratogen yang
mempengaruhi
perkembangan intra-
uterine
BIBIR SUMBING
Epidemiologi
30 negara (periode 2000 -2005)
bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit-langit
9.92 per 10.000 kelahiran.

3.6 per 1000 kelahiran (Orang America),
2.0 per 1000 (orang Asia),
1.0 per 1000 (orang Eropa),
0.3 per 1000 (orang Afrika)

Dominan pada anak laki-laki, sumbing palatum dua kali
lebih umum terjadi pada anak perempuan.

Klasifikasi

Cont
Golongan I : Celah pada langit-langit lunak

Golongan II : Celah pada langit-langit
lunak dan keras dibelakang foramen
insisivum


Golongan III : Celah pada langit-langit
lunak dan keras mengenai tulang alveolar
dan bibir pada satu sisi


Golongan IV : Celah pada langit-langit
lunak dan keras mengenai tulang alveolar
dan bibir pada dua sisi

Etiologi



Faktor Non-
Genetik
Faktor Genetik
Faktor genetik
bertambahnya usia ibu hamil ketidak kebalan embrio
terhadap terjadinya celah.


Adanya abnormalitas dari kromosom menyebabkan
terjadinya malformasi kongenital yang ganda.


Adanya tripel autosom sindrom termasuk celah mulut
yang diikuti dengan anomali kongenital yang lain.
Faktor non-genetik
Defisiensi nutrisi
Zat kimia
Trauma
Patofisiologi
kelainan penampakan wajah dan gangguan bicara celah
bibir muncul hipoplasia lapisan mesenkim, kegagalan
prosesus nasalis media dan prosesus maksilaris


Celah bibir fusi struktur embrional sekitar rongga
mulut primitive yang tidak sempurna.


Celah palatum terjadi bila lempeng palatum primer dan
sekunder gagal berfusi
Manifestasi Klinis
Gangguan berbicara

sulit untuk memberikan penekanan yang cukup ke dalam mulut
untuk membuat suara seperti p,b,d,t,h, dan y, atau bunyi
berdesis seperti s, sh, dan ch pembedahan awal

Bayi bibir sumbing (Labioschisis) yang terisolasi dapat
minum dengan normal.

Bayi sumbing palatum (Labiopalatoschisis) dihubungkan
dengan kesulitan pemberian minum menghisap dengan
sempurna dan memuntahkan kembali susu melalui hidung
aspirasi ke paru.

Diagnosis
Amniosintesis (kehamilan 14-16 minggu)
CVS (Chorionic Villus Sampling), dilakukan pada
kehamilan 10-13 minggu.

Anamnesis
Pemeriksaan fisik

Tata Laksana
bedah labioplasty atau palatoplasty perlu dilakukan untuk
merekonstruksi

Syarat pembedahan: berat bayi mencapai 10 pound ( 4,5 kg
), jumlah leukosit dibawah 10.000 per milimeter kubik, HB
di atas 10 gr%, dan umur di atas 10 minggu.

Pembedahan penutupan bibir biasanya dilakukan pada usia
bayi 3 bulan, dengan penutupan palatum biasanya pada
usia 1 tahun.

Pencegahan
Pencegahan Primer (belum terjadi kehamilan atau embrio
janin yang cacat)

Pencegahan Sekunder (konsepsi atau kehamilan yang
berpotensi mengalami cacat bawaan)

Pencegahan Tersier (tahap ini, telah dilahirkan bayi
dengan cacat bawaan. )
Peran ASI bagi bayi

Aspek Gizi kolostrum :
- IgA, Vit A, karbohidrat, lemak rendah
- Membantu mengeluarkan mekonium

Aspek Immunologi:
- IgA, Laktofarin, Lisosim, Faktor bifidus

Aspek Psikologik:
- rasa percaya diri ibu untuk menyusui
- Interaksi ibu dan bayi (kasih sayang)

Aspek Kecerdasan
- Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi
ASI perkembangan sistem saraf otak

6 bulan
ASI eksklusif
Aspek Neurologis
menghisap payudara, koordinasi
syaraf menelan, menghisap dan
bernafas yang terjadi pada bayi
baru lahir dapat lebih sempurna.

Pemberian
ASI/Laktasi yang baik
Laktasi pada bayi
dengan Bibir Sumbing
Menggunakan alat khusus, seperti :
Dot domba (dot yang besar, ujung halus dengan lubang
besar)
Dot khusus bagi bayi dengan bibir sumbing (Haberman
feeder)
Ortodonsi, yakni pemberian plat/dibuat okulator untuk
menutup sementara celah palatum

Cont

Cont
Bayi dengan sumbing, langit langit
memberikan ASI posisi tegak agar ASI tidak masuk
kedalam hidung bayi.

sumbing itu hanya pada bibir atas saja
bayi dapat menyusu sambil menutup sumbing dengan jari
agar dapat menghisap sempurna.

sumbing mengenai langit langit keras ( palatum durum)
ASI dapat dikeluarkan dengan manual atau dengan pompa
dan diberikan dengan dot (yang mempunyai bentuk
seperti puting susu)
Edukasi bagi ibu agar bayinya (bibir
sumbing) agar tidak mengalami penurunan
berat badan
Menjelaskan kepada ibu kepentingan ASI untuk bayinya.

Usaha untuk menutup celah atau sumbing bibir agar bayi
dapat memegang puting dan areola dalam mulutnya
waktu menyusui
Pengaruh kelainan congenital
terhadap perkembangan mental anak
Masalah Perilaku
Masalah interaksi Anak-Orang Tua
Masalah Sosial
KESIMPULAN
Bayi tersebut mengalami kelainan congenital, yaitu bibir
sumbing yang disertai celah palatum akibat pembentukan
yang kurang sempurna pada masa perkembangan embrional
yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang
mengakibatkan adanya komplikasi yang terjadi sehingga
berpengaruh pada asupan gizi bayi saat lahir

References

Tanuwijaya, S. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC. 2003.
Soetjiningsih.Tumbuh Kembang Anak. Jakarta:EGC.1995
Sadler, T.W. Embriologi Kedokteran Langman. Ed ke7. EGC : Penerbit Buku Kedokteran;
2010
Kliegman, Bonita, Stanton, St. Geme, Schor, and Behrman. Nelson Textbook of Pediatrics:
Expert Consult Premium Edition - Enhanced Online Features and Print, 19e. 19 edition.
Philadelphia, PA: Saunders; 2011.
Effendi, S.H. dan Indrasanto, E.. Buku Ajar Neonatologi..Jakarta. Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2008
Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010
Kemenkes RI.. Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir Berbasis Perlindungan Anak.
2010. Jakarta : Kemenkes RI
Sharlin J, Edelstein S. Essentials of Life Cycle Nutrition. Jones & Bartlett Learning; 2010.
372 p.
Tortora, Gerard J., Derrickson, Bryan.Principles of ANATOMY & PHYSIOLOGY : 13
th

Edition. 2012. John Wiley & Sons, Inc : USA
Indrasanto, E. dan Effendi, S.H. 2008. Pendekatan Diagnosis Kelainan Bawaan Menurut
Cont
Tanaka SA, Mahabir RC, Jupiter DC, et al; Updating the epidemiology of cleft lip with or
without cleft palate. Plast Reconstr Surg. 2012 Mar;129(3):511e-518e. doi:
10.1097/PRS.0b013e3182402dd1.
IPDTOC Working Group. Prevalence at Birth of Cleft Lip With or Without Cleft Palate: Data
From the International Perinatal Database of Typical Oral Clefts (IPDTOC). The Cleft Palate-
Craniofacial Journal: January 2011, Vol. 48, No. 1, pp. 66-81.
Habel A, Sell D, Mars M. Management of cleft lip and palate. Arch Dis
Child. Apr 1996;74(4):360-6.
Benacerraf BR, Mulliken JB. Fetal Cleft Lip and Palate: Sonographic Diagnosis and Postnatal
Outcome. Plast Reconstr surg. 19 93; 92:1045-51.
Markum, A.H. 1991. Buku Ajar Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Nelson,Woldo,E. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 2. Editor Bahasa Indonesia A. Jamik
Wahab. Jakarta: EGC. 2000
Rudolph, A.M., dkk. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 2. Edisi 20. EGC.Jakarta.
Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2005.
Ross. Treatment variables affecting facial growth in unilateral cleft lip and palate Part 4: Repair
of the Cleft Lip, Cleft Palate Journal:1987: 24: 46-50
Evans MI et al.Prenatal Diagnosis. New York: McGraw-Hill. Medical Publishing Division.
2006.
Cont
Marcdante, Kliegman, and Behrma. Nelson Essentials of Pediatrics: With STUDENT
CONSULT Online Access, 6e. 6 edition. Philadelphia, PA: Saunders; 2010. 864 p.
Roesli, Utami . 2005. Inisiasi Menyusu Dini plus ASI Eksklusif . Jakarta: Pustaka Bunda.
Pudjiadi, S. Ilmu Gizi Klinis pada Anak, Jakarta : FKUI. 2002
Soetjiningsih,. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan, Jakarta : EGC. 1997
Suradi, Rulina &Kristina Hesti. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Edisi 5 : Jakarta :
Perinasia.2004
Danuatmaja, Bonny. 40 hari pasca peersalinan. Jakarta : Puspa Swara. 2007
World Health Organization. Country Office for Indonesia. Pelayanan Kesehatan Anak di
Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten. 2009.
Murray, Jeffrey C, and Schutte, Brian C. 2004. Cleft palate: players, pathways, and
pursuits. http://www.jci.org/articles/view/22154
King F. Savage, Menolong Ibu menyusui, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1993
Haws., Paulette S., Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. Jakarta: EGC. 2008