Anda di halaman 1dari 14

1

FIKOSIANIN


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:
Nama: Rosabella Elviana
NIM: 12.70.0019
Kelompok : B4





















PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2014
Acara III
2

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan fikosianin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Fikosianin
Kel
Berat
biomassa
kering (g)
Jumlah aquades
yang ditambah
(ml)
Total filtrat
yang diperoleh
(ml)
OD
615
OD
652

KF
(mg/ml)
Yield
(mg/g)
Keterangan Warna
Sebelum
Dioven
Sesudah
Dioven
B1 8 100 50 0.0720 0.0258 0.011 0.069 + +
B2 8 100 50 0.0726 0.0256 0.011 0.069 ++ +
B3 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 +++ +
B4 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 +++ +
B5 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 ++ +
B6 8 100 50 0.0726 0.0253 0.011 0.069 + +
Keterangan:
Warna:
+ : Biru muda
++ : Biru tua
+++ : Biru sangat tua

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa hasil OD
615
semua kelompok hampir sama dengan nilai 0.0726, kecuali pada kelompok B1 dengan nilai
0.0720. Sedangkan, hasil OD
652
rata-rata semua kelompok adalah 0.0255. Hasil KF (Konsentrasi fikosianin) menunjukkan angka yang
sama pada semua kelompok dengan 0.011 mg/ml dengan yield 0.069 mg/g. Warna yang dihasilkan sebelum dioven bervariasi antara biru
muda sampai biru tua. Sedangkan sesudah dioven, dihasilkan warna yang seragam pada semua kelompok, yaitu biru muda.


3

2. PEMBAHASAN

Mikroalga laut merupakan salah satu biota laut yang memiliki potensi menghasilkan
berbagai senyawa aktif untuk bidang pangan. Senyawa-senyawa tersebut misalnya
pigmen, asam lemak, klorofil, dan faktor pertumbuhan. Senyawa-senyawa tersebut
bermafaat untuk berbagai aspek seperti pangan, biodisel, farmasi, kosmetik, kemasan,
dan lain-lain (Sutomo, 2005). Metting dan Pyne (1986) mengungkapkan bahwa
mikroalga merupakan produsen alami dari ekosistem perairan yang dapat menghasilkan
energy yang bisa digunakan biota laut lain. Pemanfaatan mikroalga pada saat ini sudah
cukup berkembang dan masih dikembangkan. Banyak penelitian yang telah dilakukan
untuk memproduksi biomasa Spirulina dengan efisien. Menurut jurnal yang ditulis oleh
Pandey dan Tiwari (2010), dikatakan bahwa terdapat parameter yang mempengaruhi
produksi biomasa, seperti suhu, intensitas cahaya, pH, dan agitasi. Dengan
memanipulasi lingkungan hidup alga, dapat dihasilkan pertumbuhan yang berbeda pada
alga.

Warna merupakan salah satu indikator mutu yang sangat penting pada produk pangan
karena warna akan mempengaruhi penampilan dari produk pangan tersebut dimana
penampilan merupakan salah satu faktor daya tarik konsumen disamping faktor-faktor
penting lainnya seperti rasa, kesegaran, nilai gizi, kebersihan dan harga produk tersebut.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan produk dengan penampilan yang menarik, industri
pangan biasanya menggunakan zat pewarna baik alami maupun sintetis untuk
menghasilkan warna produk pangan yang diinginkan. Zat warna sintesis lebih sering
digunakan oleh industri pangan jika dibandingan dengan zat warna alami karena
harganya lebih murah, mudah didapat, beraneka ragam, bersifat stabil dan tahan lama.
Namun, karena dewasa ini konsumen mulai memperhatikan keamanan pangan bahan-
bahan yang dikonsumsinya karena meningkatnya kesadaran akan hidup sehat. Hal
tersebut diungkapkan oleh Steinkraus (1983). Zat warna alami umumnya didapatkan
dari pigmen yang dihasilkan oleh berbagai tanaman seperti kunyit, wortel, pacar cina,
coklat, berbagai hewan serta beberapa mikroorganisme. Pembatasan penggunaan
pewarna makanan sebenarnya telah diatur oleh pemerintah, namun banyak produsen
produk pangan yang menggunakan bahan pewarna terlarang dan berbahaya bagi
4

kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Syah et al. (2005). Oleh karena itu,
pengembangan pewarna makanan dari mikroalga khususnya Spirulina perlu dilakukan
untuk menhasilkan pewarna alami berwarna biru.

Menurut Tietze (2004), Spirulina memiliki tubuh berupa filament berwarna hijau-biru
yang berbentuk silinder dan tidak bercabang. Ukuran spirulina 100 kali lebih besar
dibandingkan dengan sel darah manusia. Spirulina tumbuh di perairan danau yang
bersifat alkali dan suhu hangat atau kolam dangkal di wilayah tropis. Spirulina
mengandung berbagai komponen yang bermanfaat dalam bidang industri pangan, salah
satunya mengandung pigmen. Menurut Duangsee et al (2009), spirulina mempunyai
membran tilakoid yang pada bagian dalamnya terdapat struktur granula yang merupakan
fikobilisom yang terdiri dari fikobiliprotein. Fikobiliprotein ini berfungsi untuk
menyerap cahaya sehingga dapat melindungi pigmen fotosintesis dari oksidasi cahaya
dengan intensitas yang tinggi. Cahaya yang diserap tersebut kemudian akan ditransfer
kepada allofikosianin untuk kemudian diteruskan menuju letak pusat reaksi, yaitu
klorofil a yang terletak pada membran tilakoid. Klorofil a merupakan pigmen
fotosintesis yang dimiliki oleh spirulina yang letaknya terdapat pada membran tilakoid
pada kromoplas. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Diharmi (2001). Richmond
(1988) menambahkan bahwa pigmen yang dimiliki oleh spirulina digolongkan menjadi
tiga kelompok besar, yaitu klorofil a sebesar 1,7% dari berat selnya, karotenoid dan
xantofil sebesar 0,5% berat selnya, serta fikobiliprotein yang terdiri dari 20% protein
seluler yang merupakan pigmen dominan pada spirulina. Hal tersebut sesuai dengan
teori dari Richmond (1988). Menurut Chauhan dan Pathak (2010), Spirulina plantensis
dapat digunakan sebagai sumber alternative untuk mendapatkan pigmen klorofil.
Pigmen ini juga tidak tahan panas dan membutuhkan intensitas sinar yang cukup dan
sesuai. Berdasarkan jurnal ini, dapat diketahui selain dihasilkan pigmen fikosianin yang
menghasilkan warna biru, mikroalga jenis spirulina juga memiliki pigmen lain yaitu
klorofil yang menghasilkan warna hijau.

Mikroalga ini dimanfaatkan sebagai makanan atau suplemen kesehatan. Hal ini
didukung oleh teori menurut Richmond (1988), bahwa spirulina kaya akan protein,
hingga 50-70% dari berat keringnya. Spirulina mempunyai membran sel yang tipis dan
5

lembut sehingga mudah dicerna serta tidak membutuhkan proses pengolahan khusus.
Spirulina secara alami memiliki kolesterol, kalori, lemak, dan sodium yang rendah.
Spirulina mengandung sembilan vitamin penting dan empat belas mineral yang terikat
dengan asam amino. Hal tersebut memudahkan dan mempercepat proses asimilasi
dengan tubuh. Spirulina juga mengandung 4-7% lipid atau lemak dan sebagian besar
dalam bentuk asam lemak esensial. Setiap 10 gram Spirulina mengandung 225 mg asam
lemak esensial dalam bentuk linoleat dan gamma linolenic acid (GLA). Hal tersebut
ditambahkan dari teori Henrikson (2009).

Spirulina biasanya menghasilkan pigmen fikosianin dengan cepat serta memiliki sistem
pemanenan yang relatif mudah. Spirulina hanya dapat hidup pada lingkungan dengan
suasana yang sangat basa, yaitu sekitar pH 8 hingga 11, serta memiliki kandungan
senyawa karbonat-bikarbonat yang tinggi. Spirulina juga memerlukan cahaya dan CO
2

untuk berfotosintesis pada lingkungannya. Hasil fotosintesisnya tetap sama dengan
tumbuhan-tumbuhan lainnya yaitu berupa oksigen yang mengakibatkan
meningkatkannya kandungan oksigen pada medium pertumbuhan spirulina tersebut.
Pada pertumbuhan dan kondisi lingkungan yang sesuai, biomassa kering spirulina yang
dihasilkan dapat mencapai 60 hingga 70 ton/hektar kolam. Hal tersebut sesuai dengan
yang diungkapkan oleh Tri Panji et al. (1996). Menurut jurnal yang ditulis oleh Colla et
al. (2007), dikatakan bahwa temperature mempunyai efek yang penting dalam
memproduksi biomassa, protein, lemak, dan fenolik dalam S. platensis. Suhu terbaik
bagi produktivitas biomasa didapati pada suhu 30 C, dan konsentrasi nitrogen tidak
berpengaruh pada jumlah protein, lemak, dan fenlik yang dihasilkan.

Pada praktikum fikosianin ini, pertama-tama biomassa Spirulina sebanyak 8 gram
dimasukkan dalam Erlenmeyer. Kemudian dilarutkan dengan aquadestilata dengan
perbandingan 2:5 (8 gram biomasa: 100 ml aquades) dan diaduk dengan stirrer selama
kurang lebih 2 jam. Menurut Syah et al. (2005), aquades ini berfungsi untuk
melarutkan pigment fikosianin karena pigmen ini hanya dapat larut pada pelarut polar
seperti air. Sedangkan menurut Silveira et al. (2007), proses pengadukan yang
dilakukan selama 2 jam tersebut bertujuan untuk menghomogenkan spirulina dengan
akuades yang ditambahkan sehingga pigmen fikosianin terlarut atau terekstrak dengan
6

maksimal. Lalu dilakukan sentrifugasi maksimal dengan kecepatan 5000 rpm selama 10
menit hingga diperoleh endapan dan supernatant. Supernatan yang dihasilkan
merupakan fikosianin yang selanjutnya diukur kadarnya dengan alat spektrofotometer
(OD 615 nm dan OD 652 nm). Proses sentrifugasi bertujuan untuk memisahkan
fikosianin dari spirulina. Hal ini didukung oleh Silveira et al. (2007) mengatakan bahwa
proses sentrifugasi berfungsi untuk memisahkan padatan dan cairan fikosianin yang
terekstrak sehingga proses pengukuran absorbansi akan mendapatkan hasil yang tepat.
Analisa fikosianin yang dilakukan ini sesuai dengan teori Silviera et al., (2007), bahwa
kadar fikoisianin diukur absorbansinya dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm
dan kemudian dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Konsentrasi Fikosianin / KF (mg/ml) =


Yield (mg/g)


=

Supernatan yang masih tersisa diambil 8 ml, lalu ditambahkan dekstrin sebanyak 10
gram (perbandingan supernatant: dekstrin = 1:1,25), dan dicampur rata pada wadah
yang digunakan sebagai alas untuk proses pengeringan. Penambahan dekstrin bertujuan
untuk meningkatkan rendemen pada produk akhir yaitu pewarna. Menurut Ribut &
Kumalaningsih (2004), dekstrin merupakan kelompok karbohidrat dengan berat
molekul tinggi yang termodifikasi dari pati dan asam. Dekstrin mudah larut dalam air,
lebih cepat terdispersi, tidak kental serta lebih stabil dari pati. Oleh karena itu, dekstrin
dapat berperan sebagai pembawa bahan pangan aktif seperti bahan flavor dan pewarna
makananan. Sifatnya yang mudah larut air dan sebagai bahan pengisi (filler) juga dapat
meningkatkan berat produk dalam bentuk bubuk. Proses selanjutnya adalah dioven
dengan suhu 45 derajat Celcius selama semalam atau hingga kering (tidak gempal).
Kemudian adonan yang terlihat kering dan menggumpal dihancurkan hingga berbentuk
powder. Suhu yang digunakan dalam pengeringan ini sesuai dengan teori Desmorieux &
Dacaen (2006) yang mengatakan bahwa apabila suhu pengeringan fikosianin yang
digunakan di atas 60
o
C, maka hal tersebut akan mengakibatkan degradasi fikosianin dan
munculnya reaksi maillard. Oleh sebab itu, suhu yang digunakan pada pengeringan ini
7

adalah 45
o
C. Proses pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi air bebas yang dapat
digunakan oleh bakteri untuk merusak pigmen fikosianin.

Pada tabel hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa hasil OD
615
semua kelompok hampir
sama dengan nilai 0.0726, kecuali pada kelompok B1 dengan nilai 0.0720. Sedangkan,
hasil OD
652
rata-rata semua kelompok adalah 0.0255. Setelah dilakukan perhitungan,
didapati hasil KF (Konsentrasi fikosianin) yang menunjukkan angka yang sama pada
semua kelompok, yaitu 0.011 mg/ml dengan yield 0.069 mg/g. Menurut Fox (1991),
nilai OD atau absorbansi dipengaruhi oleh konsentrasi dan kejernihan larutan.
Berdasarkan teori tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi fikosianin yang semakin
besar akan diikuti dengan nilai absorbansi yang besar. Yield yang dihasilkan dari
percobaan ini berbanding lurus dengan konsentrasi fikosianin yang dihasilkan, dimana
semakin tinggi konsentrasi fikosianin yang dihasilkan maka yield yang dihasilkan juga
akan semakin tinggi pula, begitu juga sebaliknya. Menurut Prabuthas et al (2011),
kemurnian fikosianin dievaluasi berdasarkan rasio absorbansi. Jenis fikosianin-c
merupakan yang utama dalam fikobilin-protein pada spirulina. Achmadi et al. (2002)
menambahkan bahwa pengukuran absorbansi digunakan untuk mengetahui seberapa
kelarutan fikosianin pada larutan tersebut. Metode ekstraksi pigmen secara tradisional
seperti yang telah dilakukan ini memiliki kelemahan seperti membutuhkan waktu yang
lama dan jumlah pelarut yang besar dengan hasil yang sedikit. Maka dari itu, perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan ekstrak maksimum dengan efesien

Warna yang dihasilkan sebelum dioven bervariasi antara biru muda sampai biru tua.
Sedangkan sesudah dioven, dihasilkan warna yang seragam pada semua kelompok,
yaitu biru muda. Hal ini sesuai dengan teori bahwa Spirulina merupakan mikroalga
yang dapat menghasilkan pigmen fikosianin yang berwarna biru dan dapat larut dalam
pelarut polar seperti air. Pigmen fikosianin berpotensi digunakan sebagai pewarna alami
dan telah lama diaplikasikan. Menurut Richmond (1988), jumlah pigmen fikosianin
dalam alga hijau biru dapat mencapai lebih dari 20% berat kering alga. Hal ini tidak
sesuai dengan hasil fikosianin dalam praktikum ini. Hal ini dikarenakan terdapat
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekstraksi fikosianin seperti gangguan seluler,
8

metode ekstraksi yang dilakukan, jenis pelarut yang digunakan dan waktu
berlangsungnya proses ekstraksi. Teori ini diungkapkan oleh Prabuthas et al (2011).

Pengembangan produk berbahan dasar pigmen fikobiliprotein ini banyak diaplikasikan
pada permen karet, ice sherberts, popsicles, permen, minuman ringan, dairy product,
dan wasabi. Fikosianin termasuk kelompok pigmen yang terikat pada protein
(biliprotein). Selain berpotensi sebagai bahan pewarna alami, fikosianin juga dapat
berperan sebagai anti radang. Menurut penelitian dari jurnal yang ditulis oleh Chojnacka
(2007), didapati bahwa alga hijau-biru Spirulina dapat digunakan sebagai media
bioakumulasi dari ion Cr (III). Hal ini bisa diaplikasikan pada penghilangan ion metal
dalam proses pengolahan limbah cair dan pengikatan ion logam pada biomasa untuk
memproduksi pakan bersuplemen dengan mikroelemen. Oleh karena itu, alga ini
mempunyai manfaat untuk diaplikasikan di bidang lain seperti peternakan dan
pengolahan limbah cair. Sedangkan menurut jurnal yang ditulis oleh Masthan el al.
(2011), Spirulina digunakan sebagai suplemen makanan bagi ulat sutra, agar
kepompong yang dihasilkan berukuran lebih besar dan berkualitas. Daun yang menjadi
makanan ulat dicelupkan pada larutan spirulina. Hal ini seperti yang teori-teori yang
telah disebutkan bahwa spirulina kaya akan protein dan vitamin salah satunya dalah
vitamin B yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak, maupun jadi suplemen
bagi manusia.


9

3. KESIMPULAN

Spirulina merupakan mikroalga yang dapat menghasilkan pigmen fikosianin
berwarna biru dan
Fikosianin larut dalam pelarut polar seperti air (aquades).
Fikosianin dapat mengalami kerusakan pada suhu yang tinggi sehingga
pengeringan dilakukan dengan suhu 45C.
Proses pengadukan bertujuan untuk menghomogenkan spirulina dalam aquades
sehingga pigmen fikosianin terekstrak dengan maksimal.
Fikosianin sebagai pigmen dalam Spirulina dipisahkan dari sel dengan proses
sentrifugasi.
Dekstrin berperan sebagai pembawa bahan pangan yang aktif dalam bahan
pewarna karena bersifat mudah larut air dan sebagai bahan pengisi (filler) karena
dapat meningkatkan berat produk dalam bentuk bubuk.
Proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi air bebas pada fikosianin
sehingga kadar air menurun dan mencegah kerusakan oleh bakteri.
Semakin keruh suatu larutan maka nilai OD yang didapatkan akan semakin
tinggi pula.
Semakin tinggi konsentrasi fikosianin yang dihasilkan maka yield yang
dihasilkan juga akan semakin tinggi pula, begitu juga sebaliknya.
Warna fikosianin yang dihasilkan sebelum dan sesudah dikeringkan adalah
berwarna biru.

Semarang, 2 Oktober 2014
Praktikan




Rosabella Elviana
12.70.0019
Asisten Dosen:
Agita M.
10

4. DAFTAR PUSTAKA

Achmadi SS, Jayadi, Tri-Panji.(2002). Produksi pigmen oleh Spirulina platensis yang
ditumbuhkan pada media limbah lateks pekat.Hayati. 9(3):80-84.

Chauhan, U.K., dan N. Pathak. (2010). Effect of different conditions on the production
of chlorophyll by Spirulina platensis. J. Algal Biomass Utln. 2010, 1 (4): 89 99

Chojnacka, K. (2007). Bioaccumulation of Cr(III) ions by Blue-Green alga Spirulina sp.
Part I. A Comparison with Biosorption. American Journal of Agricultural and
Biological Sciences 2 (4): 218-223

Colla, L.M., C. O. Reinehr, C. Reichert, dan J.A.V. Costa. (2007). Production of
biomass and nutraceutical compounds by Spirulina platensis under different
temperature and nitrogen regimes. Bioresource Technology 98: 14891493.

Desmorieux H. Decaen N. (2006). Convective drying of Spirulina in thin layer. Journal
Of Food Engineering, 77:64-70.

Diharmi A. (2001).Pengaruh Pencahayaan Terhadap Kandungan Pigmen Bioaktif
Mikrolaga Spirulina platensis Strain Lokal (INK). Bogor. Program Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Duangsee, Rachen., Natapas Phoopat., & Suwayd Ningsanond. (2009). Phycocyanin
Extraction from Spirulina platensis and Extract Stability Under Various pH and
Temperature. Asian Journal of Food and Agro-Industry.

Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London.

Henrikson R. 2009. Earth Food Spirulina. Ed Ke-6. Hawai: Ronore Interprise, Inc. Hal
37.

Masthan, K., T. Raj kumar and c.v. Narasimha Murthy. (2011). Beneficial effects of
blue green algae Spirulina and yeast Saccharomyces cerevisiae on cocoon
quantitative parameters of silkworm Bombyx mori l. Asian Jr. of Microbiol.
Biotech. Env. Sc. Vol. 13, No. (1) : 205-208

Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically Active Compounds from Microalgal.
Journal of Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.

Pandey, J.P. dan A. Tiwari. (2010). Optimization of Biomass Production of Spirulina
maxima. J. Algal Biomass Utln. 1 (2): 20-32

Prabuthas, P et al. (2011). Standardization of Rapid and Economical Method for
Neutraceuticals Extraction from Algae. Journal of Stored Products and
Postharvest Research. India.

11

Ribut, S. dan S. Kumalaningsih, (2004). Pembuatan bubuk sari buah sirsak dari bahan
baku pasta dengan metode foam-mat drying. Kajian Suhu Pengeringan,
Konsentrasi Dekstrin dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta.
http://www.pustaka-deptan.go.id.

Richmond A. (1988).Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ,
editor.Micro-algal biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.

Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.(2007).
Bioresour.Technol.,98, 1629.

Steinkraus, H. (1983). Indigenous Fermented Food. Marcel Dekker. New York.

Sutomo. (2005). Kultur Tiga Jenis Mikroalga (Tetraselmis sp., Chlorella sp.dan
Chaetoceros gracilis) dan Pemgaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C.
Gracilis di Laboratorium. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. No. 37 :43-
58. Pusat Penelitian Oseanografi.

Syah et al. (2005).Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan
Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Tietze HW. (2004). Spirulina Micro Food Macro Blessing.Ed ke-4. Australia: Haralz W
Tietze Publishing.

Tri Panji S, Achmadi, Tjahjadarmawan E. (1996). Produksi asam gammalinolenat dari
ganggang mikro Spirulina platensis menggunakan limbah lateks pekat.Menara
Perkebunan 64 (1): 34-44.


12

5. LAMPIRAN

5.1. Gambar fikosianin
Gambar 1. Fikosianin sebelum (B2.B4, dan B6)


Gambar 2. Fikosianin sebelum (B1, B3, dan B5)


Gambar 3. Fikosianin bubuk



13

5.2. Perhitungan

)




Kelompok B1


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B2


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B3


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B4


= 0,011 mg/ml
14



= 0,069 mg/g

Kelompok B5


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B6


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

5.3. Diagram Alir
5.4. Laporan Sementara