Anda di halaman 1dari 3

Ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan Pendidikan Pancasila di

perguruan tinggi adalah :


1. UU No.2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Berdasarkan ketentuan UU No.2 Tahun 1989 Pasal 39 dinyatakan bahwa :
1) Isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan
penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan
pendidikan nasional.
2) Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikah wajib memuat :
- Pendidikan Pancasila;
- Pendidikan agama; dan
- Pendidikan kewarganegaraan
2. PP No.60 Tahun 1999 Tentang Pendidikan Tinggi,
Berdasarkan ketentuan ini, khususnya pada Pasal 13 ayat (2) ditetapkan bahwa kurikulum yang
berlaku secara nasional diatur oleh menteri pendidikan dan kebudayaan.
3. Surat Keputusan Dirjen DIKTI Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 38 /
DIKTI / Kep./2002 yang merupakan penyempurnaan lebih lanjut dari Keputusan Dirjen DIKTI
No. 265/ DIKTI/ Kep/ 2000 dan Surat Keputusan Dirjen DIKTI No. 356/ DIKTI/ Kep/ 1995

2. Dewasa ini kita melihat penerapan pendidikan pancasila yang diberikan di jenjang pendidikan
dasar dan lanjutan pertama. Pengertian pendidikan pancasila sendiri menurut beberapa sumber
merupakan sekumpulan materi didikan dan pengenalan akan pancasila sebagai dasar negara, dan
untuk menanamkan ideologi pancasila itu sendiri kepada anak didik.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya sadar manusia untuk mengembangkan sejuta
potensi potensi yang dimilikinya (Dwi Siswoyo, dkk). Pendidikan bertujuan bukan hanya
membentuk manusia yang cerdas otaknya dan trampil dalam melaksanakan tugas, namun
diharapkan menghasilkan manusia yang memiliki moral, sehingga menghasilkan warga negara
excellent. Sedangkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila itu dijadikan tuntunan dan pegangan dalam mengatur sikap dan
tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, mayarakat dan alam
semesta. Pancasila sebagai dasar negara, ini berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan bernegara seperti
yang diatur oleh UUD 1945.
Pendidikan Pancasila mempunyai landasan yang mendukung secara rasional akan
pentingnya Pendidikan Pancasila, yaitu landasan historis, landasan kultural, landasan yuridis dan
landasan filosofis. Dengan adanya Pendidikan Pancasila sebagai warga negara mampu bersikap
dewasa dan menjadi manusia yang berkepribadian pancasila, yaitu manusia yang religius,
humanis, nasionalis, demokratis dan adil. Generasi muda sangat diharapkan perannya dimasa
mendatang untuk dapat melanjutkan dan mempertahankan eksistensi negara Republik Indonesia.
Dalam hal ini Pendidikan Pancasila dapat diartikan sebagai jembatan emas golden bridge bagi
generasi muda. Diharapkan dengan adanya Pendidikan Pancasila generasi muda agar dapat
semakin mendewasakan diri, mempunyai kemampuan untuk merefleksikan Pancasila secara
kritis analitis, dan generasi muda yakin dalam dirinya masing masing dapat merealisasikan
nilai nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, berbangsa serta bernegara.
3. Mengandung pengertian filsafat sebagai subjek dan Pancasila sebagai objeknya. Pancasila
sebagai Dasar Negara, merupakan konsep filsafat yang mencerminkan landasan dan pandangan
hidup bangsa Indonesia. Terbukti pada sila pertama bahwa manusia memiliki harkat (kekuatan),
martabat (harga), dan derajat (kedudukan) sama dimata Tuhan yang keberadaannya memiliki
faham sebagai satu bangsa, dengan itu didalam kehidupan segala sesuatu masalah harus kita
musyawarahkan untuk mencapai mufakat (sepakat)
Jadi Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia, yang
dianggap, dipercaya, dan diyakini sebagai suatu kenyataan yang paling benar, adil, baik,
bijaksana, dan sesuai bagi bangsa Indonesia.

5. Piagam Jakarta lebih awal di buat daripada Undang-Undang yaitu pada tanggal 22 Juni 1945
Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan naskah Piagam Jakarta antara keduanya terdapat
persamaan dan perbedaan. Persamaannya terletak pada alinea pembukaan yang keduanya sama-
sama menjelaskan tentang kemerdekaan suatu Negara. Sedangkan perbedaannya terdapat pada
alinea terakhir pada naskah Piagam Jakarta yang menyatakan bahwa susunan Negara Republik
Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar pada: Ketuhanan, dengan menjalankan
syariat islam bsgi pemeluk-pemeluknya. Inilah yang menimbulkan berbagai konflik antar
pemeluk agama terutama non islam yang tidak menyetujui keharusan menjalankan syariat islam
yang di anggap tidak menghargai agama lain. Sampai pada akhirnya di amandemem dalam
Undang-Undang Dasar 1945 yang diganti dengan bunyi Pancasila sila pertama.
Perbedaannya adalah pada alinea ke-4 yaitu pada Piagam Jakarta (Jakarta Charter) berbunyi:
"Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya" ,
sedangkan pada UUD 1945 berbunyi: "Ketuhanan yang Maha Esa"
Isi pembukaan UUD 1945 :
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka
disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.