Anda di halaman 1dari 1

Rumah penduduk Tengger dibangun di atas tanah, yang sedapat mungkin dipilih pada daerah

datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tanah yang dapat dibuat teras, dan jauh dan
gangguan angin. Rumah-rumah letaknya berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat
yang dapat dimasuki dan berbagai jurusan yang dihubungkan dengan jalan sempit atau agak
lebar antara satu desa dengan desa lain. Desa induk yang disebut Jcrajan biasanya terletak di
tengah dengan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan dengan desa lain. Bangunan rumah
orang Tengger biasanya luas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-
sama. Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang
dibelah. Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan
itu dengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng. Alat rumah tangga tradisional
yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah balai-balai, semacam dipan
yang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian
(pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari
panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat tempat duduk pendek terbuat dari kayu
(dingklik bhs jawa) yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Selain
digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk
mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh
di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga.
Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di
halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas.
Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai
lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang.