Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
LAPORAN KASUS

1.1 PENDAHULUAN
Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seorang pasien
Decomp Cordis grade II-III, berjenis kelamin perempuan dan berusia 70 tahun,
penderita beralamat di Donomulyo. Penting kiranya bagi kita untuk
memperhatikan dan mencermatinya, untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai
pengalaman dilapangan.
1.2 IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. M
Umur : 70 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan : tidak bersekolah
Agama : Islam
Alamat : Donomulyo
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 30 Maret 2012
1.3 ANAMNESIS
a. Keluhan Utama : sesak nafas
b. Keluhan penyerta : pusing, mual, muntah, kaki bengkak,
batuk.
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
1. Lokasi : dada
2. Onset dan Kronologi : Ny. M datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal
30 Maret 2012 dengan keluhan sesak nafas. Sesak dirasakan sejak 6
hari yang lalu. Sesak dirasakan bila pasien beraktivitas dan mereda bila
beristirahat. Ny. M juga sering terbangun pada malam hari karena
sesak. Ny. M juga mengeluh pusing, mual, muntah, kaki bengkak, dan
batuk.
3. Kualitas keluhan : pasien sadar penuh, pasien terlihat sesak dan lemah
4. Kuantitas keluhan : pasien memegangi dadanya karena sesak

1
2

5. Faktor yang memperberat : bila beraktivitas
6. Faktor yang memperingan : ketika beristirahat
7. Gejala Penyerta : pusing, mual, muntah, kaki bengkak, batuk.

Ny. M datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal 30 Maret 2012 dengan
keluhan sesak nafas. Sesak dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Sesak dirasakan bila
pasien beraktivitas dan mereda bila beristirahat. Ny. M juga sering terbangun pada
malam hari karena sesak. Ny. M juga mengeluh pusing, mual, muntah, kaki
bengkak, dan batuk.
d. Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat Mondok : disangkal
- Riwayat Hipertensi : + ( pasien menyadari bahwa dirinya
menderita hipertensi sejak 1 th yang lalu)
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat Asma : disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
- Riwayat gastritis : disangkal
- Riwayat alergi obat : disangkal
- Riwayat alergi makanan : disangkal
e. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : disangkal
- Riwayat Hipertensi :
ayah pasien menderita hipertensi
- Riwayat DM : disangkal
- Riwayat Jantung : disangkal
- Riwayat Ginjal : disangkal
- Riwayat Osteoporosis : disangkal
f. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok : disangkal
- Riwayat minum alkohol : disangkal
- Riwayat olah raga : -
- Riwayat pengisian waktu luang : jalan-jalan bersama keluarga
3

g. Riwayat Sosial Ekonomi
Ny. M adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama anak sulung
dan menantunya. Biaya hidup sehari-hari ditanggung oleh anak sulungnya.
h. Riwayat Gizi
Pasien makan biasanya 2-3 kali sehari, dengan lauk pauk tempe, tahu,
telur, dan sayur - mayur. Pasien minum kurang dari 8 gelas air putih sehari. Gizi
kesan cukup.
1.4 ANAMNESIS SISTEM
a. Kulit : kulit gatal(-), keriput (-)
b. Kepala : sakit kepala(-), pusing(+), rambut rontok(-), luka(-),
benjolan(-), demam(-)
c. Mata : pandangan mata berkunang-kunang(-), penglihatan
kabur(-), ketajaman penglihatan berkurang(-),
penglihatan ganda(-)
d. Hidung : tersumbat(-), mimisan(-)
e. Telinga : pendengaran berkurang ( - ), berdengung ( - ), keluar cairan (
- )
f. Mulut : sariawan ( - ), mulut kering (-)
g. Tenggorokan : sakit menelan ( -), serak (- )
h. Pernafasan : sesak nafas ( + ), batuk (+)
i. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada ( -)
j. Gastrointestinal : mual ( + ), muntah ( + )
k. Genitourinaria : BAK normal
l. Neurologik : kejang ( - ), lumpuh ( - ), kesemutan dan rasa tebal pada
kedua kaki ( - )
m. Psikiatri : emosi stabil, mudah marah ( - )
n. Muskuloskeletal : kaku sendi(-), nyeri sendi pinggul(-), nyeri tangan(-),
nyeri kaki kiri(-), nyeri otot(-)
o. Ekstremitas :
o Atas kanan : bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
o Atas kiri : bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
o Bawah kanan : bengkak ( +), sakit ( - ), luka ( - )
4

o Bawah kiri : bengkak ( +), sakit ( - ), luka ( - )
1.5 PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum : lemah
b. Kesadaran : GCS 456 compos mentis
c. Tanda Vital
BB : - kg
TB : - cm
BMI : BB/TB
2
- kg/m
2

Tensi : 140/100 mmHg
Suhu : 36,8
o
C
Nadi : 80x/menit
RR : 28x/menit
d. Kulit
sawo matang, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), spidernevi (-)
e. Kepala
Bentuk mesocephal , Luka ( - ), rambut rontok ( - ), makula ( - ), papula (
- ), nodula ( - ).
f. Mata
Conjunctiva anemis ( - / - ), sklera ikterik ( - / - ), warna kelopak (putih)
g. Hidung
Nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-)
h. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-).
i. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal.
j. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-).
k. Leher
lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
l. Toraks
5

bentuk normal, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi sela iga (-)
spidernevi (-), sela iga melebar (-), massa (-),kelainan kulit (-), nyeri (-)
a. Cor
Inspeksi : ictus cordis tampak di ICS 6 MCL sinistra dan
melebar sampai ke ICS 6 garis aksilaris anterior
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas jantung kiri membesar sampai ke ICS 6 garis
aksilaris anterior
Auskultasi : bising sistolik grade IV
b. Pulmo :
Statis (depan dan belakang)
Inspeksi : bentuk normal, simetris
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi -
- - - - + +
Dinamis (depan dan belakang)
Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri, irama
regular, otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-)
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : + + - - - -
suara dasar vesikuler + wheezing - ronkhi -
- - - - + +
m. Abdomen :
Inspeksi : datar/sejajar dinding dada, venektasi (-), massa
(-), bekas jahitan (-)
Palpasi : supel, nyeri epigastrium (-), hepar dan lien tdk
teraba, turgor baik, massa (-), asites (-)
Perkusi : timpani seluruh lapangan perut
Auskultasi : peristaltik (+) normal
6

n. Ekstremitas :
Edema




o. Pemeriksaan Neurologik
Kesadaran : kompos mentis GCS (E4 V5 M6)
Fungsi luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
p. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : perawatan diri kurang
Kesadaran : compos mentis
Afek : appopriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk : realistik
isi : waham ( - ), halusinasi ( - ), ilusi ( - )
arus : koheren
Insight : baik

Pemeriksaan Penunjang
Planning :
- DL, Gula Darah, Faal hati, Faal ginjal
- EKG
- Foto Rongent Thorax
Hasil Pemeriksaan Penunjang
No Jenis Hasil
Pemeriksaan
Nilai Normal
1 Hemoglobin 12,2 g/dl (12-16)
2 Leukosit 7660 /mm3 (4-11 ribu)
3 LED mm/jam (2-20)
4 Trombosit 329.000 /mm3 (150-450 ribu)
5 PVC/Hematokrit 36,5 % (35-47)

- -

+ +
7

6 Eritrosit 4,32 /mm3 (3,0-6,0 juta)
7 Hitung Jenis :
EOS
BAS
ST
SEG
LYM
MO








1-3
0-1
2-6
50-70
20-40
2-8
8 GDS 138 <140
9 SGOT 18 <36
10 SGPT 27 <36
11 Ureum 38 20-40
12 Kreatinin 0,97 0,5-0,9

Hasil Rongent


Kesimpulan : Cardiomegali










8

Hasil EKG











9











10





Kesimpulan : Cardiomegali

1.7 Resume :

Ny. M datang ke IGD RSUD Kepanjen tanggal 30 Maret 2012 dengan
keluhan sesak nafas. Sesak dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Sesak dirasakan bila
pasien beraktivitas dan mereda bila beristirahat. Ny. M juga sering terbangun pada
malam hari karena sesak. Ny. M juga mengeluh pusing, mual, muntah, kaki
bengkak, dan batuk.
Dari pemeriksaan fisik jantung didapatkan
Inspeksi : ictus cordis tampak di ICS 6 MCL sinistra dan
melebar sampai ke ICS 7 garis aksilaris anterior
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas jantung kiri membesar sampai ke ICS 6 garis
aksilaris anterior
11

Auskultasi : bising sistolik grade IV
Dari pemeriksaan penunjang :
Foto Rongent Thorax : cardiomegali
EKG : Cardiomegali
Diagnosa dari Ny. M adalah :
I. Decomp Cordis Grade II-III
Differential Diagnosa :
Penyakit paru : pneumonia, PPOK, asma eksaserbasi akut, infeksi
paru berat, emboli paru.
Penyakit ginjal : gagal ginjal kronik, syndrome nefrotik.
Penyakit hati : sirosis hepatis.
1.8 Penatalaksanaan
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
O2 nasal 3L/ menit
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi hari)
1.9 Flow Sheet
No Tanggal Vital sign Keluhan Rencana
1 30/03/2012
T:140/100 mmHg
S: 36,8
o
C
N : 80x/menit
RR: 28x/menit
Sesak,
pusing,
mual,
muntah,
batuk, kaki
bengkak.
Foto Rontgen : Cardiomegali
EKG : Cardiomegali
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
O2 nasal 3L/ menit
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
12

2 31/03/2012
T: 140/90 mmHg
RR: 24 x/menit
N: 88 x/menit
S: 36,4
o
C

Sesak,
mual,
batuk, kaki
bengkak
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
O2 nasal 3L/ menit
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)

3 1/04/2012
T: 130/80 mmHg
N: 84x/menit
S: 36,5
o
C
Rr:24x/menit

sesak
pusing,
mual,
muntah
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
O2 nasal 3L/ menit
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
4 2/04/2012
T: 120/90 mmHg
RR: 24 x/menit
N: 96 x/menit
S: 36,8
o
C

sesak
pusing,
mual,
muntah
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
O2 nasal 3L/ menit
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
5 3/04/2012
T: 100/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 37
o
C

Sesak sudah
berkurang,
mual
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
6 4/04/2012
T: 110/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 37
o
C

Sesak sudah
berkurang
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
13

Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
7 5/04/2012
T: 90/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 37
o
C

Sesak sudah
berkurang
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
8 6/04/2012
T: 100/80 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 37
o
C

Sesak sudah
berkurang
Medikamentosa :
PZ 500 cc/24 jam
Injeksi Furosemid 4 x 20 mg/hari iv
Injeksi Ranitidin 3 x mg/ hari iv
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
9 7/04/2012
T: 100/60 mmHg
RR: 20 x/menit
N: 84 x/menit
S: 37
o
C
Sudah
enakan.
Boleh pulang kontrol ke poli jantung
Medikamentosa :
Injeksi Furosemid 4 x tab /hari
PO
ISDN 3 x 5 mg PO
Captopril 3 x 6,25 mg PO
ASA 1 x 100 mg PO
Spironolakton 1 x 20 mg (pagi
hari)
Antasida 3 x I cth
Non Medikamentosa :
Diet rendah garam (< 2gr/hr)
Restriksi cairan (< 2 liter/ hari)
















14

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gagal Jantung Kongestif (CHF) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan
gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang
disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung (Panggabean, 2007).
2.2 Etiologi





14
15

2.3 Gejala Klinik
Pada tahap simtomatik di mana sindrom gagal jantung sudah terlihat jelas
seperti cepat capek (fatik), sesak nafas (dyspnea in effort, orthopnea),
kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites, hepatomegali dan edema
sudah jelas maka diagnosis gagal jantung mudah dibuat. Tetapi bila sindrom
tersebut belum terlihat jelas seperti pada tahap disfungsi ventrikel kiri/LV
dysfunction (tahap asimtomatik), maka keluhan fatik dan keluhan di atas yang
hilang timbul tidak khas, sehingga harus ditopang oleh pemeriksaan foto rontgen,
ekokardiografi dan pemeriksaan Brain Natriuretic Peptide.
2.4 Klasifikasi
1. Klasifikasi Gagal jantung sistolik dan diastolic
a. gagal jantung sistolik
gagal jantung sistolik terjadi akibat terganggunya kemampuan jantung untuk
mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh adanya
penekanan kontraktilitas darah keseluruh miokard. Gagal jantung sistolik
akut terlihat pada miokarditis akibat virus, keracunan alcohol, dan anemia,
sedangkan gagal jantung sistolik kronis dapat terjadi setelah kardiomiopati
atau infark miokard.
b. gagal jantung diastolik
gagal jantung diastolic terjadi akibat dari pengisian jantung yang terganggu.
Hal ini biasa tampak pada wanita lanjut usia. Empat mekanisme patologi
yang dihasilkan pada gagal jantung jenis ii telah diketahui.
- Penyakit struktural
Kerusakan katup jantung
Abnormalitas anatomi seperti hipertropi konsentrik
Efusi pericardial
- Abnormal fisiologis
Peningkatan volume sistolik akhir
Pengurangan waktu pengisisan sebagaimana tampak pada takikardia
16

- Abnormalitas non-miosit
Peningkatan jaringan ikat
Perikarditis kontriktif
- Abnormalitas miosit

1. Klasifikasi gagal jantung kongestif berdasarkan New York Association
(NYHA) :












17

2. Klasifikasi gagal jantung kongestif berdasarkan American Heart AAssociation
(AHA)


2.5 Kriteria
Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan jasmani, EKG/foto
thorax, ekokardiografi-Doppler dan kateterisasi.

Kriteria Framingham dapat pula dipakai untuk diagnosis gagal jantung kongestif

18

Diagnosis gagal jantung ditegakkan minimal ada 1 kriteria major dan 2 kriteria
minor
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Dongoes (2000) pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
untuk menegakkan diagnosa CHF yaitu:
1. Elektro kardiogram (EKG)
Hipertropi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, disritmia,
takikardi, fibrilasi atrial.
2. Scan jantung
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding .
3. Sonogram (ekocardiogram, ekokardiogram dopple)
Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam
fungsi/struktur katup, atau area penurunan kontraktili tas ventrikular.
4. Kateterisasi jantung
Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal
jantung kanan dan gagal jantung kiri dan stenosis katup atau insufisiensi.
5. Rongent dada
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi
atau hipertropi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah abnormal.
6. enzim hepar
Meningkat dalam gagal / kongesti hepar.
7. Elektrolit
Mungkin berubah karena perpindahan cairan / penurunan fungsi ginjal,
terapi diuretik.
8. Oksimetri nadi
Saturasi Oksigen mungkin rendah terutama jika gagal jantung kongestif
akut menjadi kronis.
9. Analisa gas darah (AGD)
Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkaliosis respiratori ringan (dini) atau
hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir).
10. Blood ureum nitrogen (BUN) dan kreatinin
19

Peningkatan BUN menunjukkan penurunan fungsi ginjal. Kenaikan baik
BUN dan kreatinin merupakan indikasi gagal ginjal.
11. Pemeriksaan tiroid
Peningkatan aktifitas tiroid menunjukkan hiperaktifitas tiroid sebagai pre
pencetus gagal jantung kongestif.
2.7 Penatalaksanaan
Non Medikamentosa :
Edukasi mengenai gagal jantung, penyebab dan bagaimana mengenal serta
upaya bila timbul keluhan, dasar pengobatan
Istirahat, olahraga, aktivitas sehari hari, edukasi aktivitas seksual, serta
rehabilitasi
Edukasi pola diet, kontrol asupan garam, air dan kebiasaan alkohol
Monitor BB, hati hati dengan kenaikan berat badan yang tiba tiba
< BB pada pasien dengan obesitas
Hentikan kebiasaan merokok
Pada perjalanan jauh dengan pesawat, ketinggian, udara panas dan
humiditas memerlukan perhatian khusus
Konseling mengenai obat, baik efek samping, dan menghindari obat
obatan tertentu seperti NSAID, antiaritmia klas I, verapamil, diltiazem,
dihidropiridin efek cepat, antidepresan trisiklik, steroid.
Medikamentosa :
Diuretic oral maupun parenteral tetap merupakan ujung tombak
pengobatan gagal jantung sampai dengan edema atau asites hilang (tercapai
euvolemik). ACE-inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dosis kecil
dapat dimulai setelah euvolemik sampai dosis optimal. Penyekat beta dosis kecil
sampai optimal dapat dimulai setelah diuretic dan ACE-inhibitor tersebut
diberikan.
Digitalis diberikan bila ada aritmia-supraventrikuler (fibrilasi atrium atau
SVT lainnya) atau ketiga obat di atas belum memberikan hasil yang memuaskan.
Intoksikasi digitalis sangat mudah terjadi bila fungsi ginjal
menurun(ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (kurang dari 3,5
m3q/L)
20

Aldosteron antagonis dipakai untuk memperkuat efek diuretik atau pada
pasien dengan hipokalemia dan ada beberapa studi yang menunjukkan penurunan
angka mortalitas dengan pemberian jenis obat ini.
Pemakaian obat obatan dengan efek diuretic-vasodilatasi seperti Brain
Natriuretic Peptide (Nesiritide) masih dalam penelitian. Pemakaian alat bantu
seperti Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) maupun pembedahan,
pemasangan ICD sebagai alat mencegah mati mendadak pada gagal jantung akibat
iskemia maupun non-iskemia dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas
hidup, namun mahal. Transplantasi sel dan stimulasi regenerasi miokard masih
terkendala dengan masih minimalnya jumlah miokard yang dapat ditumbuhkan
dengan mengganti miokard yang rusak dan masih penelitian lanjut.





21



Algoritma Penatalaksanaan Gagal Jantung :



2.8 Prognosis

Biasanya pasien dengan gagal jantung memiliki prognosis yang buruk
kecuali penyebabnya diperbaiki. Angka kematian akibat gagal jantung dirumah
sakit sekitar 30%. Pada gagal jantung kronik angka kematian tergantung
keparahan gejala dan disfungsi ventricular dan dapat bervariasi dari 10 40% per
tahun.



22

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gagal Jantung Kongestif (CHF) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda
dan gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas)
yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung.
Gejala gagal jantung bervariasi tergantuung tahapnnya. Pada tahap
simtomatik gejalanya meliputi cepat capek (fatik), sesak nafas (dyspnea in effort,
orthopnea), kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites,
hepatomegali dan edema. Pada tahap asimtomatik, maka keluhan fatik dan
keluhan di atas yang hilang timbul tidak khas, sehingga diperlukan pemeriksaan
penunjang lainnya.
Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan jasmani, EKG/foto
thorax, ekokardiografi-Doppler dan kateterisasi. Kriteria Framingham dapat pula
dipakai untuk diagnosis gagal jantung kongestif.

3.2 Saran
Bila ditemukan gejala gagal jantung segera periksakan ke dokter agar
penyakit tidak bertambah parah dan mengganggu aktifitas. Sebaiknya pengobatan
gagal jantung perlu adanya perhatian khusus dan kontrol rutin untuk mengawasi
dan mencegah timbulnya komplikasi serta efek samping yang ditimulkan oleh
obat obatan gagal jantung.

22
23

DAFTAR PUSTAKA

Fauci, Braunwald, Kasper, et al. 2008. Harrison's Principles of Internal
Medicine 17th edition. The McGraw-Hill Companies, Inc : New York.

http://www.merckmanuals.com/professional/

Panggabean, Marulam M. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Gagal
Jantung. Balai Penerbit FK UI : Jakarta.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2003. Panduan
Pelayanan Medik. Interna Publishing: Jakarta.