Anda di halaman 1dari 5

Inflamatry Bowel Deseases (IBD) adalah penyakit inflamasi yang melibatkan

saluran cerna dengan penyebab pastinya sampai saat ini belum diketahui.
Kolitis Ulseratif adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan ulkus pada kolon
(usus besar). Ulkus terbentuk pada tempat di mana peradangan membunuh sel-sel
yang biasanya melapisi kolon. Kolitis ulseratif berhubungan dengan kondisi
peradangan usus lainnya yang disebut penyakit Crohn. Keduanya dikenal sebagai
Inflammatory Bowel Disease. Penyebab kolitis ulseratif masih belum diketahui tetapi
kolitis ulseratif mungkin menyebabkan aktifasi abnormal dari sistem kekebalan tubuh
di dalam usus. Pada keadaan ini, sistem kekebalan tubuh teraktifasi meskipun tidak
ada kuman atau apapun yang dapat menyebabkan penyakit. Hal ini menyebabkan
terjadinya peradangan kronis dan ulserasi pada usus besar. Apabila kondisinya berat,
kehilangan darah dari jaringan usus yang meradang dapat menyebabkan anemia dan
kolon dapat berdilatasi menjadi ukuran yang besar ketika peradangan bertambah
parah. Kondisi ini dikenal sebagai megakolon toksik. Pembedahan biasanya
diperlukan untuk kasus yang serius untuk mencegah pecahnya kolon.
Etiologi
Penyebab pasti dari penyakit ini masih belum juga diketahui. Teori tentang apa
penyebab kolitis ulseratif sangat banyak, tetapi tidak satupun dapat membuktikannya.
Penyebabnya meliputi faktor genetik, herediter, faktor lingkungan, dan gangguan
sistem imun.
1. Genetik: penelitian terbaru menujukkan bahwa faktor genetik dapat meningkatkan
kecenderungan untuk menderita kolitis ulseratif.
2. Faktor herediter: adanya anggota keluarga yang menderita kolitis ulseratif akan
meningkatkan resiko anggota keluarga lain untuk menderita penyakit serupa.
3. Psikosomatik: pikiran berperan penting dalam menjaga kondisi sehat atau sakit dari
tubuh. Setiap stres emosional mempunyai efek yang merugikan sistem imun
sehingga dapat menyebabkan penyakit kronik seperti kolitis ulseratif.

Predisposisi
Awitan puncan penyakit ini adalah antara usia 15 dan 40 tahun dan menyerang
kedua jenis kelamin sama banyak insidensi colitis ulseratif pertahun adalah sekitar 1
per 10.000 orang dewasa kulit putih. Penyakit crohn terjadi sekitar seperempat dari
colitis ulseratif. Kedua penyakit ini lebih jarang dijumpai pada orang kulit berwarna.

Patofisiologi
Lesi patologik awal hanya terbatas pada lapisan mukosa, berupa pembentukan
abses pada kriptus, yang jelas berbeda dengan lesi pada penyakit crohn yang
menyerang seluruh tebal dinding usus. Pada permulaan penyakit, timbul edema dan
kongesti mukosa. Edema dapat menyebabkan kerapuhan hebat sehingga terjadi
perdarahan pada trauma yang hanya ringan, seperti gesekan ringan pada permukaan.
Pada stadium penyakit yang lebih lanjut, abses kriptus pecah menembus dinding
kriptus dan menyebar dalam lapisan submukosa, menimbulkan terowongan dalam
mukosa. Mukosa kemudian terlepas menyisakan daerah yang tidak bermukosa
(tukak). Tukak mula- mula tersebar dan dangkal, tetapi pada stadium yang lebih
lanjut, permukaan mukosa yang hilang menjadi lebih luas sekali sehingga
menyebabkan banyak kehilangan jaringan, protein dan darah. .

Gambaran Klinis .
Tanda utama ialah perdarahan dari rektum dan diare bercampur darah, nanah, dan
lendir. Biasanya disertai tenesmus dan kadang inkontinensia. Biasanya penderita
mengalami demam, mual, muntah, dan penurunan berat badan. .
Terdapat tiga tipe klinis kolitis ulseratif yang sering terjadi, yang dikaitkan dengan
seringnya gejala. Kolitis ulseratif fulminan akut ditandai dengan awitan mendadak
dan disertai diare (10 sampai 20 kali/hari) parah, berdarah, nausea, muntah dan
demam yang menyebabkan berkurangnya cairan dan elektrolit dengan cepat.
Pembentukan terowongan dan pengelupasan mukosa, menyebabkan kehilangan
banyak darah dan mukus. Jenis kolitis ini terjadi pada sekitar 10% penderita.
Prognosisnya jelek dan sering terjadi komplikasi megakolon toksik.
Sebagian besar penderita kolitis ulseratif merupakan jenis yang intermiten
(rekuren). Timbulnya kecenderungan selama- berbulan- bulan sampai bertahun-
tahun. Bentuk ringan penyakit ditandai oleh serangan singkat yang terjadi dengan
interval berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan berlangsung selama 1-3 bulan.
Mungkin hanya terdapat sedikit atau tidak ada demam atau gejala- gejala
konstitusional, dan biasanya hanya kolon bagian distal yang terkena. Demam atau
gejala sistemik dapat timbul pada bentuk yang lebih berat dan serangan dapat
berlangsung selama 3-4 bulan, kadang- kadang digolongkan sebagai tipe kronik
kontinyu, penderita dibandingan dengan tipe intermiten, kolon yang terkena
cenderung lebih luas dan lebih sering terjadi komplikasi terus menerus diare setelah
serangan permulaan. .
Pada kolitis ulseratif ringan, diare mungkin ringan dengan perdarahan ringan dan
intermitten. Pada penyakit yang berat defekasi dapat lebih dari 6 kali sehari disertai
banyak darah dan mukus. Kehilangan banyak darah dan mukus yang kronik dapat
mengakibatkan anemia dan hipoproteinemia. Nyeri kolik hebat ditemukan pada
abdomen bagian bawah dan sedikit mereda setelah defekasi. Sangat sedikit kematian
yang disebabkan penyakit ini tapi dapat menimbulkan cacat ringan atau berat.
Komplikasi sistemik antara lain berupa pyoderma dan arthropaty.

Komplikasi
Komplikasi koitis ulseratif dapat bersifat lokal ataupun sistemik. Fistula, fisura dan
abses rektal tidak sering seperti pada colitis granulomatosa. Kadang- kadang
terbentuk fistula rektovagina, dan beberapa penderita dapat mengalami penyempitan
lumen usus akibat fibrosis yang umumnya lebih ringan. .
Salah satu komplikai yang lebih berat adalah dilatasi toksik atau megakolon,
dimana terjadi paralisis fungsi motorik kolon tranversum disertai dilatasi cepat
segmen usus tersebut. Megakolon toksik paling sering menyertai pankolitis,
mortalitas sekitar 30% dan perforasi usus sering terjadi. Pengobatan untuk komplikasi
ini adalah kolektomi darurat. .
Komplikasi lain yang cukup bermakna adalah karsinoma kolon, dimana
frekuensinya semakin meningkat pada penderita yang telah menderita lebih dari 10
tahun pertama penyakit, mungkin hal ini mencerminkan tingginya angka pankolitik
pada anak. .
Perkembangan karsinoma kolon yang terdapat dala pola penyakit radang usus
menunjukkan perbedaan penting jika dibandinkan dengan karsinoma yang
berkembang pada populasi nonkolitik. Secara klinis banyak tanda peringatan dini dari
neoplasma yaitu perdarahan rektum, perubahan pola buang air besar) akan
menyulitkan interpretasi pola kolitis. Pada pasien kolitis distribusi pada kolon lebih
besar dari pada pasien nonkolitis. Pada pasien non kolitis sebagian esar karsinoma
pada bagian rekosigmoid, yang dapat dicapai dengan sigmoidoskopi. Pada pasien
kolitis, tumor seringkali multiple, datar dan menginfiltrasi dan tampaknya memilki
tingkat keganasan yang lebih tinggi. .
Komplikasi sistemik yang terjadi sangat beragam, dan sukar dihubungkan secara
kausal terhadap penyakit kolon. Komplikasi ini berupa pioderma gangrenosa,
episkleritis, uveitis, skleritis, dan spondilitis anilosa. Gangguan fungsi hati sering
terjadi pada kolitis ulseratif dan sirosis hatimerupakan komplikasi yang sudah dapat
diterima. Adanya komplikasi sistemik berat dapat menjadi indikasi pembedahan pada
kolitis ulseratif, bahkan bila gejala- gejala kolon adalah ringan sekalipun.

Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan spesifik untuk pengobatan colitis ulseratif. Tujuan terapi
adalah untuk mengatasi peradangan, mempertahankan status gizi penderita,
meringankan gejala, serta mencegah infeksi dan komplikasi lain.

a. Gizi
Diet residu rendah menyebabkan berkurangnya masa feses sehingga membuat
pasien lebih nyaman. Diet juga harus mengandung protein tinggi untuk
mengompensasi kehilangan protein dalam lesi eksudatif dan tinggikan vitamin
dan mineral dengan pembatasan laktosa untuk menghindari intoleransi laktosa
yang berkaitan dengan diare.
b. Farmako terapi
1. Kortikosteroid diberikan untuk mengurangi peradangan dan mempercepat
penyembuhan klinis.
2. Obat antikolinergik juga dapat membantu menghilangkan kram abdomen
dan diare. Obat untuk mengendalikan diare harus diberikan dengan
pengawasan untuk menghindari dilatasi kolon dan megakolon toksik.
c. Operatif
Bila tindakan medis tidak berhasil dan penyakit tidak dapat teratasi maka
diindikasikan pembedahan. Operasi yang paling sering dilakukan adala
kolektomi total dan pembuatan ilostomi permanen. Beberapa ahli juga
menganjurkan kolektomi pada semua pasien yang seluruh kolonnya telah
terkena selama beberpa tahun.
Prognosis
Kolitis ulceratif adalah penyakit seumur hidup dikarakteristikkan dengan
eksaserbasi dan remisi. Untuk sebagian besar pasien penyakit dapat dikontrol dengan
terapi obat-obatan tanpa operasi. Sebagian besar tidak memerlukan rawat inap.
Manajemen yang tepat, sebagian besar pasien dapat membuat hidup lebih produktif.