Anda di halaman 1dari 5

Menyingkap Tabir Amuk Massa

Sabtu, 23 October 2010 12:06


Oleh: Tardjo Ragil, Peneliti Departemen Politik The Akbar Tandjung Institute
Untuk kesekian-kalinya, tragedi berdarah secara berantai kembali melanda Ibu Pertiwi.
Kali ini, kekerasan berdarah dalam bentuk amuk massa meletus dalam waktu yang
relatif berdekatan. Tragedi pertama, aksi kekerasan massa yang menjurus pada konflik
antar-etnis terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur, 26 September 2110.
Ihwal konflik sosial ini dipicu oleh tewasnya seorang tokoh adat saat melerai
perkelahian yang melibatkan anaknya. Selanjutnya disusul kasus bentrokan
antarkelompok massa yang diduga terkait sidang insiden kelab malam Blowfish di
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 29 September 2010.

Maraknya aksi kekerasan massa yang melanda negeri ini, menegaskan betapa tradisi
sebagai bangsa "Timur" yang konon lekat dengan kultur welas asih, tepo seliro, seolah
menjadi mitos belaka. Sebaliknya, yang menonjol justru langgam kekerasan. Sebuah
potret kehidupan sosial yang gampang terbakar api-amarahnya, dengan perangai yang
beringas.

Lantas, apa sesungguhnya makna di balik rentetan tragedi amuk massa tersebut? Yang
pasti, selain membawa pesan duka yang mendalam, tragedi amuk massa tersebut, boleh
jadi isyarat terperosoknya Indonesia ke arah sindrom negara gagal (failed states).
Merujuk tesis Noam Comsky, wujud sindrom negara gagal, terlacak dari dua gejala
utama.

Pertama, gejala ketidakmampuan negara melindungi warganya dari tindak kekerasan.
Padahal, fungsi mendasar hadirnya negara, oleh Robert I Rotberg, adalah untuk
menciptakan rasa aman dan menjaga kelangsungan tertib sosial. Yang terjadi saat ini,
kewibawaan negara seakan lumpuh dibajak teror kekerasan. Stabilitas sosial berada
dalam kondisi "gawat darurat". Pasalnya, rentetan kekerasan massa yang sering
berujung pada tindakan "bar-bar" demikian gampang meledak di mana pun tempatnya.
Nyaris, ruang publik terasa penuh sesak dengan ancaman teror kekerasan. Akibatnya,
kebutuhan publik atas rasa aman, terasa menjadi barang yang langka.

Kedua, sindrom negara gagal, terlacak dari gejala lumpuhnya institusi-institusi
demokrasi dan lembaga penegak hukum akibat praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Tesis Comsky ini, menegaskan bahwa aksi amuk massa yang belakangan makin marak,
adalah akibat makin memburuknya kinerja institusi-institusi demokrasi dan lembaga
penegak hukum karena praktik penyalahgunaan kekuasaan.

Coba tengok, partai politik yang mestinya menjadi corong bagi kepentingan rakyat,
seolah telah mati rasa. Parpol kita terkesan lebih sibuk memperjuangkan kepentingan
partikelirnya. Citranya makin ambruk, akibat elitenya miskin keteladanan.

Lihat saja, meski sudah mendapatkan gaji yang berlimpah, dengan segudang fasilitas,
toh para elite politik yang duduk di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) tetap saja serakah.
Buktinya, di saat masyarakat "megap-megap" akibat beban hidup yang makin berat,
mereka toh masih gemar meminta jatah anggaran dengan kedok "dana aspirasi".

Kebangsaan Terkoyak
Setali tiga uang, potret penegakan hukum juga tak kalah memilukan. Buktinya, di
tengah sebagian masyarakat kita menggelepar kelaparan karena busung lapar, praktik
korupsi berjamaah dilakukan secara membabi-buta dan kasat mata. Menu korupsi
seakan menjadi sajian berita yang tiada henti. Perilaku korupsi bahkan telah menjalar di
semua level instansi pemerintahan kita.

Tak heran, jika Buya Ahmad Syafii Ma'arif (Jurnal Resonansi 2004), meledek konsep
Indonesia sebagai negara hukum hanya "omong gombal" semata. Pasalnya, para
aparatur hukum kita dibiarkan berkubang dengan cacat mental dan cacat kelakuan.
Maka, tak heran, jika hukum di negeri ini selalu lumpuh di hadapan elite penguasa, akan
tetapi ganas terhadap kaum papa.

Kondisi kebangsaan yang tengah terkoyak akibat rentetan kekerasan massa tak boleh
dibiarkan berlarut-larut. Nasib negeri ini mesti mendapatkan penanganan ekstra agar
tidak terperosok ke dalam krisis sosial yang berkepanjangan. Secepatnya kewibawaan
negara di mata rakyat mesti dipulihkan kembali. Karenanya, keteladanan elite negara
menjadi kunci untuk memulihkan kembali legitimasi etis kepemimpinanya di mata
rakyat.

Bercermin pada kepemimpinan Mahatma Gandhi, keteladanan pemimpin sesungguhnya
tercermin dari kesungguhannya merasakan kepedihan hidup yang dialami rakyat. Bukan
sebaliknya, abai terhadap kesengsaraan nasib rakyat.

Semoga elite di negeri segera sadar bahwa akibat mentalitas serakah yang merajalela
dapat mengakibatkan nasib negara ini selalu dirundung nestapa dan tidak beranjak maju.
Wallahu, alam



















Dasar Terjadinya Amuk Massa
Posted on October 2, 2010 | 3 Comments
Dalam dua minggu terakhir bulan September 2010, tiga kerusuhan terjadi.
Pertama, kerusuhan dan penjarahan di Pati, Jawa Tengah, yang menghancurkan rumah
dan fasilitas umum, Kamis (16/9). Kedua, kerusuhan di Tarakan, Kalimantan Timur,
yang mengakibatkan lima orang tewas dan ribuan warga mengungsi (26-29/9). Ketiga,
kerusuhan di Jakarta, Rabu (29/9), yang mengakibatkan empat orang tewas.
Pemerintah menyelesaikan tiga kerusuhan itu dengan cara yang seragam,
mempertemukan dua kelompok yang bertikai dan menandatangani perjanjian damai.
Jika kasus-kasus itu berubah menjadi fenomena, harus berapa pertemuan dan
penandatanganan dari tiap kelompok berbeda di tengah-tengah masyarakat yang plural
ini? Perubahan apakah yang sedang terjadi di tengah-tengah proyek pembangunan
manusia Indonesia?
Tentu tidak ada sebab mendasar maupun cara yang sama untuk menyelesaikan semua
hal. Tetapi kita memerlukan penjelasan mengapa kekerasan, penjarahan, dan
pembunuhan itu kini sering terjadi, berlangsung dalam waktu yang berdekatan, dan
memiliki sebab-sebab yang hampir seragam. Kita perlu mengidentifikasi latar sosial
yang melahirkannya.
Dilihat lebih dekat, kasus itu memiliki alur simetris. Diawali dengan konflik dua
pribadi, kemudian meluas menjadi konflik dua kelompok, dan berakhir dengan
perusakan dan pembunuhan skala luas.
Kasus kerusuhan terjadi di Pati, Sabtu (18/9), berawal dari pentas dangdut. Akhirnya
pemuda Dukuh Wotan menyerbu Dukuh Bombong. Mereka membawa senjata tajam,
senapan, dan bom. Rumah- rumah dirusak, dibakar, harta benda dijarah, dan sejumlah
warga mengalami luka serius. Seharusnya kerusuhan tidak terjadi bilamana tidak ada
perkelahian dua pemuda dari dua kampung yang berbeda, dalam sebuah pentas dangdut,
Kamis (16/9), untuk menyambut Syawalan. Namun, kemudian tiap-tiap pemuda
mengidentifikasi konfliknya sebagai konflik kelompok.
Konflik berdarah di Tarakan, Kalimantan Timur, dipicu oleh perkelahian dari dua
kelompok yang mengakibatkan seorang tewas, Minggu (26/9). Sehari kemudian konflik
itu berlanjut dengan penggerebekan Markas Kepolisian Resor Tarakan yang menahan
tersangka. Polisi berhasil menghalau, tetapi itu baru awal karena hari Selasa terjadi
bentrokan di tengah keramaian, yakni di simpang empat Grand Tarakan Mall. Insiden
itu mengakibatkan empat korban tewas.
Kerusuhan di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta juga berawal dari bentrok
individu di sebuah kelab malam. Rabu (29/9), sekelompok massa yang naik angkutan
umum mulai melakukan kekerasan di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
di Jalan Ampera, pukul 13.00. Mereka menggunakan senjata tajam dan senjata api.
Kelompok yang diserang kemudian mengejar sebagai aksi pembalasan. Kejadian itu
dipicu oleh kasus keributan di kelab malam Blowfish, Jakarta, 4 April 2010. Hari itu
sidang yang ketiga kali. Empat orang telah tewas.
Mengacaukan nalar
Kejadian-kejadian itu jelas menuntut penjelasan teoretis. Dari kajian psikologi sosial
mazhab Baron dan Byrne (2009) akan didapat penjelasan, kerusuhan yang berawal dari
perkelahian dua individu itu didukung oleh adanya stereotip oleh masing-masing
kelompok.
Dua orang dianggap sebagai representasi dari dua kelompok. Mereka mengacaukan
nalar antara konflik pribadi dan relevansinya dengan asumsi, kecurigaan, serta
kebencian-kebencian kolektif yang tanpa dasar.
Terapi psikologi berdasarkan panduan Gerald Corey (1995) memberikan rekomendasi
tentang pentingnya pemanfaatan terapi kognitif dan realitas. Hal itu setidaknya telah
dilakukan oleh para aparat yang mengundang dua belah pihak untuk menandatangani
nota kesepahaman. Di permukaan tampaknya kerusuhan memang reda, tetapi
masyarakat masih menutup pintu dan masing-masing anggota kelompok tidak bisa
melepaskan kecurigaan begitu saja.
Kajian sosiologi akan menghasilkan simpulan tentang adanya kerumunan massa yang
berpotensi menimbulkan anomi dan kekerasan. Berdasarkan teori Emile Durkheim, kita
mendapatkan petunjuk bahwa kasus ini merupakan pelampiasan-pelampiasan hasrat
individu untuk merusak dalam situasi anomi. Itu mengisyaratkan retaknya integrasi
sosial di tengah-tengah masyarakat.
Tiga faktor
Ilmu positif memberikan analisis empiris. Pada kenyataannya, ada dimensi non-empiris
yang turut menopang terjadinya kekerasan itu. Berdasarkan refleksi filsafat sosial, amuk
massa itu terjadi karena tiga faktor, yakni kesalahan pemahaman tentang konflik,
kehendak melukai yang lain, dan tindakan kekerasan.
Pada tingkat pemahaman konflik, sistem sosial beserta komponen-komponen
pendukungnya memiliki pemahaman yang keliru tentang pemecahan konflik dalam
medan sosial.
Bagi kita, sekarang konflik adalah penghancuran. Sistem sosial mewadahi gagasan ini.
Contoh, organisasi massa yang mengatasnamakan agama beroperasi dengan cara anarki
di tengah-tengah masyarakat. Ketika pemerintah tidak memberikan sanksi yang tegas
terhadap pelaku dan kelompok tempat berlindung, pemerintah dapat dianggap turut
serta di dalam kekerasan itu.
Pemerintah lalai melindungi warga negara dari kekerasan sistemis di tengah-tengah
masyarakat. Contoh lain, atribut-atribut militer yang dijadikan simbol-simbol perilaku
sosial memberikan ilustrasi tentang pentingnya kekuatan fisik untuk menyelesaikan
konflik. Praktik-praktik politik yang korup, produk-produk putusan hukum yang
timpang, serta orientasi pada jabatan dan kekayaan adalah bagian dari penghapusan
nilai-nilai spiritual. Manusia terbelenggu dalam dimensi fisik.
Refleksi teoretis dan faktual itu memberikan rekomendasi tentang pentingnya
memahami kekerasan itu sebagai fenomena luaran. Ada dimensi spiritual hilang dari
proyek pembangunan manusia Indonesia. Hilangnya dimensi itu menjadi dasar
mengeksekusi niat untuk melukai fisik orang lain dari waktu ke waktu.
Warisan primitif manusia mengungkap kenyataan bahwa kita sesungguhnya menyukai
kekerasan. Itulah kenapa kekerasan yang terjadi berurutan itu berada dalam satu alur:
berawal dari bentrok individual menuju amuk massa. Pemerintah kehilangan daya
membangun manusia Indonesia yang mampu memahami resolusi konflik melalui
komunikasi, empati, dan permaafan.
SAIFUR ROHMAN Dosen Filsafat di Universitas Semarang