Anda di halaman 1dari 10

METODE PENELITIAN ESKPERIMEN

Oleh : Syarifah Melly Maulina


NIM : 25713300

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Prodi Perencanaan Infrastruktur Air dan Sanitasi
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

A. Penelitian Metode Penelitian Eksperimen
Metode penelitian eksperimen adalah: metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh
perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Contohnya dalam bidang
fisika penelitian-penelitian dapat menggunakan desain eksperimen karna variabel-variabel dapat di
pilih dan variable lain dapat mempengaruhi proses eksperimen dan dapat dikontrol secara tepat,
adapun cotohnya dalam bidang fisika mencari pengaruh panas terhadap muai panjang suatu benda.
Dalam hal ini variasi panas dan muai panjang dapat di ukur secara teliti, dan penelitian dilakukan
dilaboratorium, sehingga pengaruh-pengaruh variable lain dari luar dapat di control. Sedangkan
dalam penelitian social khususnya pendidikan, desain eksperimen yang digunakan untuk penelitian
akan sulit mendapatkan hasil yang akurat, karna banyak variable luar yang berpengaruh dan sulit
mengontrolnya.
Sebagai perbandingan, pada penelitian survei, kita sebagai peneliti tidak dapat melakukan
manipulasi atau intervensi terhadap responden (objek penelitian kita), karena semua jawaban
merupakan pendapat/opini dari responden. Pada penelitian eksperimen, kita dapat memanipulasi
kondisi dengan memberikan perlakuan (treatment) atau menciptakan sebuah kondisi/rangsangan
pada objek yang kita teliti. Penelitian eksperimen merupakan salah satu jenis penelitian kuantitatif
yang sangat kuat mengukur hubungan sebab akibat. Tujuan utama penelitian eksperimen adalah
untuk menilai bagaimana pengaruh sebuah atau lebih perlakuan terhadap sifat/kondisi suatu
populasi tertentu atau untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh perlakuan. Penelitian
eksperimen yang digunakan dalam penelitian ilmu pasti biasanya dilakukan di suatu tempat yang
disebut laboratorium. Dalam ilmu-ilmu sosial penggunaan penelitian eksperimen berbeda dengan
yang biasa dilakukan pada ilmu pasti. Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial kita dapat menciptakan
sebuah laboratorium dengan lingkungan alami, sehingga objek tidak merasa sedang diteliti dan tetap
berperilaku secara alamiah. Penelitian demikian itu disebut penelitian eksperimen lapangan (field
experiment).


B. Karakteristik Penelitian Eksperimen
Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu :
Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous
management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok
eksperimen.
Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel
yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang
mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu,
penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu,
sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok
dilakukan secara acak.
Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimen, untuk
mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar
menimbulkan perbedaan.
Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan
penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang sama.
Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja
dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam
melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan. Variabel kontrol disini adalah
inti dari metode eksperimental, karena variabel control inilah yang akan menjadi standar dalam
Macam-
Macam Design
Eksperimen
Pre-
Eksperimental
True-
Eksperimental
Factorial
Experimental
Quasi
Experimental
One-shot Case Studi
One Group Petest-Posttest
Intec-Group Comparison
Posttest Only Control
Design
Prettest- Control Group
Design
Time- series Design
Nonequivalet Ctroup
Design
melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yan terjadi akibat perbedaan perlakuan yang
diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian
eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan
kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan
eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi
(Observasi).
Dari beberapa penjelasan diatas secara garis besar dapat kita simpulkan karakteristik penelitian
eksperimen adalah antara lain :
Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok
yang dikenai perlakuan eksperimental.
Menggunakan sedikitnya dua kelompok
Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity).
Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity).

C. Langkah-langkah Penelitian Eksperimen
Menurut Sukardi, (2003) pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh
langkah-langkah seperti beriku :
Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak
dipecahkan.
Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis
penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya
kontaminasi proses eksperimen.
b) Menentukan cara mengontrol.
c) ` Memilih rancangan penelitian yang tepat.
d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah
subjek penelitian.
e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar
diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang
diperlukan.
g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
Melaksanakan eksperimen.
Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk
menentukan tahap signifikasi hasilnya.
Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

D. Beberapa Bentuk Desain Penelitian Eksperimen
Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya Metode Penelitian Pendidikan tahun 2010, beliau
membagi desain penelitian ekperimen kedalam 3 bentuk yakni pre-experimental design, true
experimental design, dan quasy experimental design.
1. Desain Pra-Eksperimental (Pre Eksperimental Designs)
Desain pra-eksperimental dinamakan demikian karena mengikuti langkah-langkah dasar
eksperimental , tetapi gagal memasukkan kelompok kontrol. Dengan kata lain, kelompok tunggal
sering diteliti, tetapi tidak ada perbandingan dengan kelompok nonperlakuan dibuat. Desain yang
termasuk pra-eksperimental adalah sebagai berikut:
a. Studi Kasus Satu Tembakan (The One Shot Case Study)
Treatment Posttest
X T2

Dalam subjek ini, subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan, seperti suatu semester
pengalaman kerja akademik, dan kemudian pengukuran hasil belajar dilakukan, seperti
sebagain tingkat akademik. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah perlakuan mempunyai
efek pada hasil belajar. Tanpa kelompok pembanding, tidak mungkin untuk menentukan jika
skor lebih tinggi dari yang mereka miliki tanpa perlakuan. Dan tanpa skor pretes, tidaklah
mungkin untuk menentukan untuk jika perubahan dalam kelompok tersebut telah terjadi.
(Emzir, 2007:96)

Contoh:
Menggunakan metode diskusi sebagai cara untuk menunjukkan bahwa metode tersebut adalah
efektif.
Prosedur
1) Kenakaan perakuan X, yaitu metode diskusi, kepada subjek untuk jangka waktu tertentu.
2) Beri test T2 yaitu posstest, untuk mengukur prestasi belajar, dan hitungan mean-nya
(Sumadi, 2008:100)

Kelemahan Keuntungan
- Penelitian ini sama sekali tidak ada
kontrol dan tidak ada interval validity.
Sifatnya yang cepat dan mudah
menyebabkan rancangan ini sering
digunakan meneliti suatu pendekatan
yang inovatif, misal dalam bidang
pendidikan, yang sebenarnya
menyesatkan kesimpulannya
- Tidak ada dasar untuk melakukan
komparasi, kecuali secara implisit,
- Metode ini mungkin berguna untuk mengusut
masalah-masalah yang dapat diteliti, atau untuk
mengembangkan gagasan atau alat-alat tertentu,
misalnya dalam action research. Rancangan ini
tidak menghantar kita untuk sampai
kepadakesimpulan yang dapat dipertahankan
dalam penelitian.
Kelemahan Keuntungan
intuitif, dan impresionistik.
- Cara pendekatan ini biasanya
mengandung eror of mispleced
precision
(Sumadi, 2008:101)

b. Satu Kelompok Prates-Postes (The One Group Pretes-Posttest)
Kelebihan desain ini dari desain yang telah dibahas sebelumnya adalah memasukkan pretes
untuk menentukan skor garis belakang. Untuk menggunakan desain ini dalam studi kita tentang
performansi akademik, kita dapat membandingkan tingkat akademik sebelum memperoleh
pengalaman kerja dengan tingkatan setelah melaksanakan satu semester pengalaman kerja.
Sekarang kita dapat menyatakan apakah perubahan dalam hasil atau variabel terikat telah
terjadi. Apa yang tidak dapat kita katakana adalah jika perubahan ini muncul semata-mata tanpa
aplikasi perlakuan atau variabel bebas. Adalah mungkin bahwa semata-mata kematangan
(maturasi) menyebabkan perubahan dalam tingkat, bukan pengalaman kerja itu sendiri. (Emzir,
2007:96)
Pretest Treatment Postest
T1 X T2

Contoh:
Hal yang sama yang digunakan dalam rancangan 1 dapat digarap dengan rancangan ini, yaitu
penggunaan metode diskusi sebagai metode efektif dalam mengajar.

Prosedur
1) Kenakan T1 yaitu pretest untuk mengukur mean prestasi belajar sebelum subjek diajar
dengan metode diskusi
2) Kenakan subjek dengan X, yaitu metode mengajar dengan diskusi, untuk jangka waktu
tertentu.
3) Berikan T2, yaitu posttest untuk mengukur mean prestasi belajar setelah subjek dikenakan
variabel eksperimental X
4) Bandingkan T1 dan T2 untuk menentukan seberapakah perbedaan yang timbul jika
sekiranya ada, sebagai akibat dari digunakannya variabel eksperimental X.
5) Terapkan test statistik yang cocok untuk menentukan apakah perbedaan itu signifikan.
(Sumadi, 2008:102)


Kelemahan Kelebihan
- Tidak ada jaminan bahwa X adalah
satu-satunya faktor atau bahkan faktor
utama yang menimbulkan perbedaan
antara T1 dan T2.
- Ada beberapa hipotesis tandingan yang
mungkin diajukan
1. History: selama mendapat perlakuan
sebagian subjek pindah ke rumah yang
lebih baik atau orangtua mereka lebih
menaruh perhatian terhadap kegiatan
belajar mereka
2. Maturation: kenyataan bahwa mereka
menjadi lebih, atau menjadi kurang
menaruh perhatian, atau menjadi lebih
antusias.
- Pretest itu memberi landasan untuk membuat
komparasi prestasi subjek yang sama sebelum dan
sesudah dikenai X (experimental treatment).
- Rancangan ini juga memungkinkan untuk
mengontrol selection variable dan morality
variable, jika subjek yang sama mengambil T1dan
T2 kedua-duanya.
(Sumadi, 2008:103)

c. Perbandingan Kelompok Statis (The Static-Group Comparison)
Desain ini berupaya untuk melengkapi kekurangan kelompok kontrol, tetapi gagal dalam hubungan
memperlihatkan bahwa suatu perubahan telah muncul. Dalam studi perbandingan kelompok statis,
dua kelompok dipilih, satu diantaranya menerima perlakuan dan satu yang lain tidak menerima
perlakuan. Suatu skor postes ditentukan untuk mengukur perbedaan, setelah perlakuan, antara kedua
kelompok. (Emzir, 2007:97)
Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokan secara
rambang menjadi dua kelompok,yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Pretest Treatment Posttest
Exper Group (R) X T1
ControlGroup(R) T2

Prosedur
1) Pilih sejumlah subjek dari suatu populasi secara acak
2) Kelompokan subjek tersebut menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol secara acak
3) Pertahankan agar kondisi-kondisi bagi kedua kelompok itu tetap sama, kecuali satu hal
yaitu kelompok eksperimen dikenal variabel eksperimental X
4) Kenakan tes T2 , yaitu variabel tergantung kepada kedua kelompok itu
5) Hitung mean masing-masing kelompok, yaitu T2e dan T2c, dan cari perbedaan antara dua
mean itu, jadi: T2e - T2c
6) Terapkan test statistik tertentu untuk menguji apakah perbedaan itu signifikan, yaitu
cukup besar untuk menolak hipotesis nol.

Design Validity :
Dengan menepatkan masing-masing subjek secara ranbang kedalam salah satu dari
kelompokitu,peneliti dapat menyakan bahwa kelompok itu pada awal penelitian adalah sama
(setara). Beberapa faktor penggangu dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan
efeknya ,yaitu:
a.history
b. maturation
c. testing
d. instrumentation.
(Sumadi, 2008:105)

2. Desain Eksperimental Sebenarnya (True-Eksperimental Designs)
Desain eksperimental yang sebenarnya melengkapi kekurangan dari dua desain yang telah dibahas
sebelumnya. Desain eksperimental yang sebenarnya melaksanakan kelompok kontrol maupun cara
mengukur perubahan yang muncul dalam kedua kelompok. Dalam arti ini, kita berusaha mengontrol
semua variabel yang mencampuri, atau paling tidak memperhatikan pengaruhnya, sementara
berusaha menentukan jika perlakuanlah yang benar-benar menyebabkan perubahan. Eksperimen
yang sebenarnya sering dianggap sebagai satu-satunya metode penelitian yang dapat secara tepat
mengukur hubungan sebab akibat. (Emzir, 2007:98)
a. Desain Kelompok Kontrol Prates-Postes (The Pretest-Posttest Control Group
Design)
Desain ini melengkapi kelompok kontrol maupun pengukuran perubahan, tetapi juga
menambahkan suatu prates untuk menilai perbedaan antara kedua kelompok sebelum studi
dilakukan. Untuk melaksanakan desain ini pada studi pengalaman kerja, kita menempatkan
mahasiswa suatu akademik secara random kemudian menempatkan mahasiswa yang telah
dipilih kedalam salah satu kelompok dengan menggunakan penempatan secara random.
Kemudian kita akan mengukur peringkat semester setiap kelompok sebelumnya untuk
memperoleh rata-rata peringkat. Perlakuan, atau pengalaman kerja kemudian diaplikasikan
pada salah satu kelompok dan suatu kontrol diaplikasikan pada kelompok yang lain. (Emzir,
2007:98)
Group Pretest Treatment Posttest
Exp. Group
(R)
T1 X T2
Contr. Group
(R)
T2 T2

Prosedur :
1) Pilih sejumlah subjek secara acak dari suatu populasi
2) Secara acak, golongkan subjek menjadi dua keompok, yaitu kelompok eksperimen yang dikena
variabe X, dan kelompok kontrol yang tidak dikenakan perlakuan
3) Berikan pretes T1 untuk mengukur variabel tergantung pada kedua kelompok itu, lalu hitung
mean masing-masing kelompok.
4) Pertahankan semua kondisi untuk kedua kelompok itu agar tetap sama, kecuali pada satu ha
yaitu kelompok eksperimen dikenakan variabel perlakuan X untuk jangka waktu tertentu.
5) Berikan posttest T2 kepada kedua kelompok itu untuk mengukur variabe tergantung; lalu hitung
meannya untuk masing-masing kelompok

Perluasan Rancangan ini :
Pretest Treatment Posttest
T1 Xa (metode a) T2
T1 Xb (metode b) T2
T1 T2
Rancangan ini dapat diperluas dengan melibatkan dari satu variabel bebas. Misalny penelitian
tentang dua metode mengajar.pada kasus yang terakhir itu ,kesimpulan kesimp ulan mengenai
efek entara metode a dan metode b dapat dicapai tanpa menggunakan kelompok kontrol.
(Sumadi, 2008:107)

b. The Posttest-Only Control Group Design
Randomisasi dan perbandingan kedua kelompok kontrol dan kelompok eksperimental
digunakan dalam jenis desain ini. Setiap kelompok yang dipilih dan ditempatkan secara random
diberi perlakuan atau beberapa jenis kontrol. Postes kemudian diberikan kepada setiap subjek
untuk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok. Sementara desain ini mendekati
metode yang paling baik, ia mempunyai kelemahan sedikit pada pengukuran prates. Sulit
menentukan jika perbedaan aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi. Dengan
kata lain, randomisasi baik untuk mencampur subjek, tetapi tidak dapat menjamin kita
percampuran ini benar-benar menciptakan kesamaan antara kedua kelompok. (Emzir, 2007:99)


R T1 X T2

c. Desain Solomon Empat Kelompok (The Solomon Four-Group Design)
Pretest Treatment Posttest
T1 X T2
T1 X T2
T2
T2
R T1 X T2

Desain ini melibatkan subjek secara random pada salah satu dari empat kelompok. Dua
kelompok diberi prates dan dua kelompok tidak; satu dari kelompok prates dan satu dari
kelompok nonprates diberi perlakuan eksperimental. Keempat kelompok diberi postes. Desain
ini merupakan kombinasi dari desain kelompok kontrol prates-prates (the pretest-posttest
equivaent group design) dan desain kelompok kontrol dengan hanya postes (the posttest only
equivalent group design). (Emzir, 2007:100)

Design Validity
Rancangan ini memungkinkan untuk mengontrol dan mengukur:
1) Efek utama pretesting
2) Efek interaksi antara pretesting dan X
Selanjutnya, efek kombinasi antara history dan maturation dapat diukur bila mean kelompok 4
pata T2 dibandingkan dengan mean-mean pada T1. Sebenarnya rancangan ini mengabungkan
dua eksperimen menjadi satu, yaitu eksperimen yang satu dengan yang lainnya
tanpa pretesting.(Sumadi, 2008:109)

3. Desain Eksperimental Semu (Quasi-Eksperimental Designs)
Desain eksperimental semu agak lebih baik dibanding desain pra-eksperimental, karena melakukan
suatu cara untuk membandingkan kelompok. Akan tetapi, desain ini mempunyai kelemahan dalam
satu aspek yang sangat penting dan eksperimen, yaitu rendomisasi. Desain eksperimental semu
adalah sebagai berikut:
a. The Nonequivalent Control Group Design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini
kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Dalam desain ini, baik
kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih
dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan
perlakuan, dan terakhir diberikan postes.

b. Desain Rangkain Waktu (The Time-Series Design)
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random.
Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk
mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest
selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak
menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapay diketahui dengan jelas,
maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok
saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol

O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8


c. Desain Berimbang (Conterbalance Design)
Desain ini semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan perlakuan yang
berbeda-beda. Dalam desain untuk tiga kelompok dan tiga perlakuan, jumlah kelompok dapat
dilibatkan (dua atau lebih) pembatasnya hanyalah jumlah kelompok sama dengan jumlah perlakuan.
Urutan kelompok dalam menerima perlakuan ditentukan secara random.

d. Desain Faktorial (Factorial Design)
Desain Faktorial melibatkan dua atau lebih variabel bebas (sekurang-kurangnya satu yang
dimanipulasi oleh peneliti). Desain faktorial secara mendasar menghasilkan ketelitian desain true-
eksperimental dan membolehkan penyelidikan terhadap dua atau lebih variabel, secara individual
dan dalam interaksi satu sama lain. Tujuan dari desain ini adalah untuk menentukan apakah efek
suatu variabel eksperimental dapat digeneralisasikan lewat semua level dari suatu variabel kontrol
atau apakah efek suatu variabel eksperimen tersebut khusus untuk level khusus dari variabel kontrol,
selain itu juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan yang tidak dapat dilakukan oleh
desain eksperimental variabel tunggal.

Nonequivaent Control Group Design
O1 X O2
O1 X O2
Time Series Design
O1 O1 O1 X O2 O2 O2
Counterbalanced Design
X1 O2 X2 O2 X3 O2
X1 O2 X2 O2 X3 O2
X1 O2 X2 O2 X3 O2

Keterangan:
X = Perlakuan
O1 = Prates
O2 = Postes
R = Randomisasi
(Emzir, 2007:105)

DAFTAR PUSTAKA
Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono, Dr. 2010. Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Penerbit Alfabeta
Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Emzir. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. 2007. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. 2008. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
http://senidanrupa.blogspot.com/2013/04/desain-penelitian.html