Anda di halaman 1dari 19

1

ISOLASI DAN PEMBUATAN POWDER


FIKOSIANIN : PEWARNA ALAMI DARI
BLUE GREEN SPIRULINA

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI HASIL LAUT


Disusun oleh:
Johana Lanna Christabella 12.70.0093
Kelompok B2










PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2014
2

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan fikosianin dari mikroalga dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Fikosianin dari Mikroalga
Kel
Berat
biomassa
kering (g)
Jumlah aquades
yang ditambah
(ml)
Total filtrat
yang diperoleh
(ml)
OD
615
OD
652

KF
(mg/ml)
Yield
(mg/g)
Warna
Sebelum Sesudah
B1 8 100 50 0.0720 0.0258 0.011 0.069 + +
B2 8 100 50 0.0726 0.0256 0.011 0.069 ++ +
B3 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 +++ +
B4 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 +++ +
B5 8 100 50 0.0726 0.0255 0.011 0.069 ++ +
B6 8 100 50 0.0726 0.0253 0.011 0.069 + +

Keterangan:
Warna:
+ : Biru muda
++ : Biru tua
+++ : Biru sangat tua
3

Berdasarkan Tabel 1. Dapat dilihat bahwa fikosianin berwarna biru dan dengan total
filtrat 50 ml, diperoleh OD
615
terkecil yaitu dari kelompok 1 yaitu 0,0720dan nilai
terbesar terdapat pada kelompok 2-6 yaitu 0,0726. Sedangkan nilai OD
652
yang terbesar
yaitu 0,0253 pada kelompok 1 dan yang terkecil yaitu pada kelompok 6 yaitu sebesar
0,0253. Nilai KF pada setiap kelompok sama besar yaitu 0,011 sehingga dihasilkan
yield sebesar 0,069.
4

2. PEMBAHASAN

Mikroalga merupakan penghasil energi yang secara alami berasal dari perairan.
Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh pH, suhu, salinitas, cahaya, karbondioksida
serta oksigen, serta ketersediaan nutrisi. Pemanfaatan mikroalga mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu yaitu sebagai makanan sehat, penghasil komponen
bioaktif untuk keperluan ilmu farmasi, kedokteran, dan industri pangan (Metting &
Pyne, 1986). Phycobili protein pada mikroalga memiliki kromofor yang memiliki
perbedaan warna, yaitu phycocyanin (biru cerah), phycoerythrin (merah) dan
allophycocyanin (hijau - biru). Oleh karena itu, phycobiliprotein sering diaplikasikan
sebagai pewarna alami (Santiago-Santos et al, 2004).

Pada praktikum Isolasi dan Pembuatan Powder Fikosianin : Pewarna Alami dari Blue
Green Spirulina, pertama-tama praktikan melakukan ekstrak fikosianin dari mikroalga.
Fikosianin memiliki berat molekul 140-210 kDa dan dua sub unit dan dimana akan
membentuk heterodimer. Pada pH netral, pada umumnya fikosianin berbentuk
hexameric (Duangsee et al, 2009). Struktur dari fikosianin yaitu kristal tiga dimensi
yang sangat mirip. Fikosianin mengandung rantai tetraphyrroles yang terbuka dan
berfungsi untuk menangkap radikal oksigen sehingga dapat menangkap radiasi sinar
matahari yang paling efisien jika dibandingkan dengan klorofil maupun karotenoid
(Romay et al, 1998). Fikosianin adalah pigmen yang berwarna biru alami dan secara
umum digunakan untuk industri makanan permen karet, dairy product, dan jelly.
Fikosianin berfungsi sebagai antioksidan yang 20 kali lebih besar dibandingkan asam
askorbat. Fikosianin dapat digunakan sebagai anti - inflamasi dan hepatoprotektif.
Secara umum, fikosianin dapat diperoleh dari Spirulina platensis, Aphanothece
halophytica, dan Synechococcus sp. IO9201, dan Nostoc sp (Santiago-Santos et al,
2004).

Spirulina tergolong kelompok alga hijau biru yang multiseluler. Tubuh Spirulina berupa
filament berbentuk silinder dan tidak bercabang dengan ukuran 100 kali lebih besar dari
sel darah manusia. Tempat hidup dari Spirulina adalah di perairan danau yang bersifat
alkali dengan suhu yang relatif hangat atau kolam dangkal di wilayah tropis. Kandungan
5

protein Spirulina mencapai 50-70% dari berat keringnya. Manfaat Spirulina adalah
mudah dicerna karena adanya membran sel yang tipis dan lembut serta tidak
membutuhkan proses pengolahan secara khusus. Spirulina juga rendah kolesterol,
kalori, lemak, sodium, dan mengandung sembilan vitamin penting serta empat belas
mineral yang terikat dengan asam amino. Lemak pada Spirulina yaitu hanya sekitar 4-
7% dan sebagian besar dalam bentuk asam lemak esensial (Candra, 2011).

Spirulina akan menghasilkan pigmen fikosianin yang memiliki warna biru, dan dapat
yang larut dalam pelarut polar sehingga berpotensi sebagai pewarna alami. Fikosianin
termasuk kelompok pigmen yang terikat pada protein. Fikosianin dapat mengalami
kerusakan jika terkena suhu tinggi dan selama penyimpanan 5 hari akan mengalami
pemudaran warna hingga 30%. Setelah 15 hari pada suhu 35
o
C, fikosianin akan menjadi
bening (Candra, 2011). Menurut Kumar et al (2010), fikosianin dari Sprirulina dapat
mengurangi TNF- serta kadar nitrit dalam serum maupun di dalam hati tubuh tikus
percobaan. Colla (2005) menjelaskan bahwa Spirulina merupakan sumber protein sel
tunggal (SPC). Spirulina mengandung senyawa antioksidan fenolat. Pertumbuhan
Spirulina banyak diteliti untuk mengoptimalkan produksi dan nutrisi yang diinginkan
seperti asam gamma-linolenat dan fikosianin.

Spirulina sp. adalah sumber protein sel tunggal serta mempunyai nilai gizi seperti
vitamin, mineral, protein, dan asam lemak tak jenuh ganda, misalnya Spirulina maxima
Geitler yang merupakan plankton cyanobacterium lamentous dengan populasi besar
dalam kondisi tropis dan subtropis yang mengandung karbonat dan bikarbonat dengan
pH 11. Nitrogen yang terkandung berfungsi untuk sintesis asam amino, dan dapat
membentuk protein dan komponen seluler (Urek & Leman, 2012).

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengisolasi pigmen fikosianin dan membuat
pewarna bubuk dari fikosianin. Praktikum ini menggunakan bahan yaitu Spirulina
plantesis. Spirulina plantesis yang merupakan alga biru-hijau dan mengandung
komponen makro serta mikronutrien dengan protein tinggi, fikosianin, besi, asam lemak
linoleat-gamma, karotenoid, dan vitamin (Kumar et al, 2010). Menurut Colla (2005),
6

Spirulina platensis biasanya membentuk populasi besar dalam air yang kaya akan
karbonat dan pH basa hingga 11.
Perlakuan isolasi pigmen fikosianin pada praktikum ini dilakukan dengan pelarutan
biomasa Spirulina sebanyak 8 gram menggunakan aquades hingga 100 ml. Penggunaan
aquades untuk melarutkan biomasa Spirulina. Hal ini dilakukan karena aquades bersifat
netral. Setelah melalui proses pelarutan, dilakukan pengadukan dengan stirrer selama 2
jam. Tujuan pengadukan dengan stirrer adalah memudahkan pemisahan fikosianin dari
Spirulina (Andarwulan & Koswara, 1992). Lalu larutan yang terbentuk disentrifugasi
dengan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit sampai terbentuk endapan dan
supernatant. Supernatant yang terbentuk merupakan fikosianin. Tujuan sentrifugasi
adalah untuk memisahkan fikosianin dari Spirulina dengan sempurna. Untuk
pengukuran dengan spektrofotometer, supernatant yang terbentuk setelah sentrifugasi
diambil sebanyak 10 ml dan diencerkan hingga 100 ml lalu diukur kadar fikosianinnya
dengan OD 615 nm dan OD 652 nm. Pengukuran fikosianin dengan spektrofotometer
digunakan untuk mengetahui kemurnian fikosianin dengan rasio absorbansi (Prabuthas
et al, 2011). Spektrofotometer merupakan alat untuk mengukur kemampuan suatu
larutan dalam menyerap radiasi gelombang elektromagnetik (Ewing, 1982). Panjang
gelombang yang praktikan gunakan pada praktikum ini sesuai dengan teori (Hadi, 1986)
yang menjelaskan bahwa untuk mengukur warna komplementer biru hijau digunakan
panjang gelombang 610 nm - 750 nm.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan spektrofotometer, dapat
diketahui nilai absorbansi masing-masing larutan. Absorbansi adalah nilai konstan dari
penyerapan intensitas yang dipengaruhi oleh tebal intensitas suatu sinar dan konsentrasi
larutan. Nilai absorbansi dapat meningkat jika konsentrasi larutan meningkat (Wilford,
1987). Dengan panjang gelombang diperoleh OD
615
terkecil yaitu dari kelompok 1 yaitu
0,0720 dan nilai terbesar terdapat pada kelompok 2-6 yaitu 0,0726. Sedangkan nilai
OD
652
yang terbesar yaitu 0,0253 pada kelompok 1 dan yang terkecil yaitu pada
kelompok 6 yaitu sebesar 0,0253. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa nilai
absorbansi yang diperoleh kelompok 1-5 tidak berbeda jauh. Hal ini menunjukkan
bahwa praktikum yang dilakukan sudah akurat, selain itu juga menunjukkan bahwa
dengan rentang nilai absorbansi tersebut, warna biru dari fikosianin-c lah yang
7

terdeteksi oleh spektrofotometer. Hal ini sesuai dengan teori Prabuthas et al (2011) yang
mengatakan bahwa fikosianin-c adalah jenis fikosianin yang banyak terdapat pada
Spirulina.

Konsentrasi Fikosianin (KF) yang diperoleh semua kelompok sama besar yaitu 0,011.
dengan yield sebesar 0,069. Oleh karena hasil yang diperoleh semua kelompok sama,
berarti praktikum yang dilakukan praktikan sudah akurat. Yield yang praktikan peroleh
dari fikosianin berhubungan dengan jumlah fikosianin yang dapat diekstrak. Ekstraksi
fikosianin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu gangguan seluler, metode ekstraksi
yang dilakukan, jenis pelarut yang digunakan dan waktu berlangsungnya proses
ekstraksi (Prabuthas et al, 2011). Duangsee et al (2009) menambahkan bahwa ekstraksi
fikosianin juga sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH. Fikosianin dapat mempertahankan
struktur aslinya pada pH>5,0 dan pada pH <5,0 akan membentuk protein parsial. Jika
fikosianin memiliki pH>5,0 dan pH<3,0 akan mempengaruhi warna fikosianin yang
dihasilkan.

Pewarna bubuk dari fikosianin dapat dibuat dengan pencampuran 8 ml supernatant
fikosianin dengan 10 gram dekstrin. Dekstrin merupakan karbohidrat yang memiliki
berat molekul tinggi yang merupakan modifikasi dari pati dan asam yang bersifat larut
air, cepat terdispersi, tidak kental dan relatif stabil apabila dibandingkan dengan pati.
Oleh karena sifat dekstrin, dekstrin sering digunakan sebagai pembawa bahan pangan
yang aktif, misalnya bahan flavor dan pewarna, serta sebagai bahan pengisi karena
dapat meningkatkan berat produk yang berbentuk bubuk. Penambahan dektrin pada
praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan rendemen fikosianin (Ribut &
Kumalaningsih, 2004). Setelah ditambahkan dekstrin, campuran tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 45
o
C dan dihancurkan dengan alat penumbuk.
Pengeringan di oven bertujuan untuk mengurangi kadar air hingga konsentrasi tertentu
sehingga kandungan air bebas pada fikosianin akan berkurang dan menghambat
pertumbuhan bakteri perusak pigmen fikosianin (Candra, 2011). Hasil dari praktikum
ini yaitu diperoleh fikosianin yang berwarna biru pada semua kelompok. Hal ini sesuai
dengan teori Candra (2011) yang mengatakan bahwa Spirulina dapat menghasilkan
pigmen fikosianin yang memiliki warna biru dengan sifat larut dalam pelarut polar dan
8

dapat digunakan sebagai pewarna alami. Selain itu, warna biru ini juga sesuai dengan
hasil absorbansi spektrofotometer yang telah dilakukan dengan OD 615 nm dan OD 652
nm.

Hemlata et al (2011) menjelaskan bahwa freezing dan thawing adalah metode yang
efisien untuk mengekstrak phycobiliprotein pada berbagai macam cyanobacteria
seperti Microcystis, Synechococcus, Spirulina, dan Nostoc muscorum dibandingkan
metode lainnya karena penerapan metode ini tanpa pemanasan sehingga tidak terjadi
denaturasi protein. Kristal es yang terbentuk selama freezing akan memecah dinding sel
dan membran sel sehingga phycobiliprotein akan terekstrak ke dalam medium.


Pembahasan Jurnal

1. BENEFICIAL EFFECTS OF BLUE GREEN ALGAE SPIRULINA AND
YEAST SACCHAROMYCES CEREVISIAE ON COCOON QUANTITATIVE
PARAMETERS OF SILKWORM BOMBYX MORI L
K. MASTHAN, T. RAJ KUMAR* AND C.V. NARASIMHA MURTHY
2011
Suplemen makanan untuk ulat sutera seperti protein, vitamin, dan lipid akan
menunjukkan efeknya dengan jelas pada berbagai kegiatan metabolisme ulat. Defisiensi
atau kekurangan protein, vitamin, dan lipid akan menyebabkan penyakit pada ulat sutra.
Oleh karena itu dalam penyelidikan ini dilakukan usaha untuk mempelajari dampak
fortifikasi daun murbei dengan makanan mikroorganisme probiotik tertentu seperti
Spirulina dan Saccharomyces cerevisiae pada kepompong, dengan parameter kuantitatif
seperti berat Cocoon, berat cangkang, berat pupa, persentase cangkang dan sutra
panjang filamen cacing sutra Bombyx mori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
tingkat pertumbuhan dan produksi sutra yang lebih baik bila probiotik digunakan.
Antara dua probiotik yang digunakan dalam penyelidikan ini, yaitu blue green alga
Spirulina dianggap lebih baik daripada Saccharomyces cerevisiae. Suplementasi dengan
vitamin B meningkatkan perlawanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk dan
peningkatan berat badan pada ulat sutera. Riboflavin meningkatkan produksi sutra dan
9

mengurangi ekskresi asam urat dan kolin serta turunannya disemprotkan pada daun
murbei dan makan untuk ulat sutra untuk meningkatkan serat. Suplementasi tambahan
nutrisi bersama dengan daun murbei memberikan hasil yang lebih tinggi dalam
menghasilkan sutra status gizi dan kesehatan larva terjaga. Efek pertumbuhan akan
meningkatkan water soluble protein dan vitamin yaitu., B2, B6 dan C yang ditemukan
dalam spirulina dan diperlakukan pada ulat. Dengan vitamin dan asam amino maka
akan meningkatkan berat larva, berat kokon, dan berat badan, serta panjang filamen.
Oleh karena itu, pada akhirnya, penelitian merekomendasikan bahwa konsentrasi 300
ppm dari larutan spirulina dan ragi sebagai pakan untuk ulat ditemukan untuk secara
efektif dan meningkatkan berat kokon tunggal, berat shell tunggal, berat pupa dan sutra,
serta panjang filamen.

2. Bioaccumulation of Cr(III) ions by Blue-Green alga Spirulina sp. Part I. A
Comparison with Biosorption
Katarzyna Chojnacka
2007

Pada penelitian ini, akan diteliti mengenai kinetika dan kesetimbangan proses
bioakumulasi ion Cr (III) dengan blue green alga Spirulina sp. Bioakumulasi
digambarkan sebagai proses yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pasif (identik
dengan biosorpsi) dan tahap aktif (akumulasi dalam sel). Keseimbangan keseluruhan
proses bioakumulasi dicapai setelah 30 jam. Biosorpsi dan bioakumulasi proses
melibatkan ion logam mengikat dengan baik non-hidup (biosorpsi) atau hidup
(bioakumulasi) biomassa. Teknik ini bisa digunakan baik untuk metode bioremoval
atau biobinding. Yang pertama sebagai aplikasi dalam pengolahan air limbah,
kedua, dalam produksi suplemen pakan mineral biologis. Tidak mungkin untuk
menurunkan logam berat yang ada dalam lingkungan. Satu-satunya cara untuk
menghapus kontaminan dari air limbah dan air tercemar adalah menjadikan
konsentrat dan mentransfer ke bentuk yang tidak menjalani siklus biologis. Salah
satunya adalah kromium yang dianggap sebagai logam berat dan polutan, namun di
sisi lain kromium juga digunakan sebagai unsur kecil yang digunakan secara luas
dalam berbagai aplikasi industri, seperti proses metalurgi, electroplating,
penyamakan, stainless steel, dan lain sebagainya. Biosorpsi, yang diketahui sebagai
10

proses bioakumulasi pasif adalah proses yang cepat, terkait dengan permukaan
biomassa (ion-exchange). Dalam kasus biosorpsi, proses mencapai kesetimbangan
di langkah ini, namun dalam kasus bioakumulasi, kesetimbangan terjadi di tahap
berikutnya. Karena aktivitas selular, jika komposisi larutan memenuhi kriteria media
pertumbuhan minimal maka ion logam akan dipindahkan dari sel-sel permukaan ke
sel yang lebih dalam, sehingga kapasitas penurunan ion logam eksternal akan
mengikat, yang mengakibatkan pergeseran kesetimbangan ke arah konsentrasi yang
lebih rendah dari logam ion dalam larutan, sehingga menghasilkan kapasitas
pengikatan ion logam yang lebih besar. Oleh karena itu, meskipun keseimbangan di
bioakumulasi bisa secara cepat dicapai daripada di biosorpsi. Efisiensi bioakumulasi
secara signifikan lebih tinggi daripada di biosorpsi, karena biosorpsi adalah tahap
pertama (pasif) dari bioakumulasi. Hal ini mengakibatkan bioakumulasi yang lebih
tinggi daripada kapasitas biosorpsi. Pada konsentrasi awal ion logam kurang dari 18
mg / L dan konsentrasi biomassa awal 0,25 g / L, dalam proses bioakumulasi,
konsentrasi ion kromium (III) dapat menurunkan dibawah tingkat yang
diperbolehkan yaitu 0,5 mg / L.

3. Effect of different conditions on the production of chlorophyll by Spirulina
platensis
U.K. Chauhan a, Neeraj Pathak
2010

Cyanobacterium Spirulina platensis merupakan sumber alternatif yang menarik dari
klorofil pigmen, yang digunakan sebagai warna alami dalam produk makanan,
kosmetik, dan farmasi. Dalam penelitian ini, pengaruh intensitas cahaya dan suhu
menggunakan media Zarrouk dan media RM-6 melalui budidaya secara batch untuk S.
platensis pada konten pertumbuhan dan klorofil. Budidaya dilakukan dalam
pengkulturan 3 L, dengan 2 Klux, 3 Klux, 4 Klux, 5 Klux intensitas cahaya pada suhu
konstan yaitu 28 10C, dan 26oC, 28oC, 30oC, 32oC. Pertumbuhan terbaik diamati
dengan 5 Klux dan 28oC, sedangkan klorofil tertinggi di biomassa diamati dengan 2
Klux dan 28oC. Secara keseluruhan, produktivitas klorofil terbaik diamati dengan 3 1
Klux intensitas cahaya dan suhu 28oC. Spirulina platensis merupakan cyanobacterium
11

yang sebagian besar telah dipelajari karena digunakan sebagai sumber protein, vitamin,
asam amino esensial, dan asam lemak. Fotosintesis mikroorganisme, seperti Spirulina
platensis, dapat menjadi sumber alternatif protein untuk keperluan makanan dan pakan.
Selain itu, ada kemungkinan memperoleh pigmen seperti karotenoid, phycocyanin dan
klorofil. Klorofil a, karena sifat stabilitasnya telah banyak digunakan sebagai zat
pewarna. Zat ini secara konvensional diperoleh dari tumbuhan tingkat tinggi, di mana
terjadi sintesis jenis lain dari klorofil. Oleh karena itu, proses ekstraksi dan pemisahan
yang memadai diperlukan untuk pemanfaatan klorofil dari tanaman.S. platensis hanya
menyajikan klorofil pada komposisinya. Selain itu, mikro alga ini menyajikan salah satu
isi klorofil tertinggi ditemukan di alam, sesuai dengan 1,15% dari biomassa.
Penggunaan Spirulina sp untuk pigmen sebagai pewarna telah dieksplorasi oleh industri
kosmetik, farmasi dan makanan. Phycocyanin, pigmen biru, digunakan sebagai pewarna
untuk makanan dan minuman di Jepang. Kecenderungan dunia untuk mencari pewarna
alami adalah untuk menggantikan produk buatan. Salah satu mikro alga yang
menunjukkan kemungkinan untuk menjadi pewarna alami adalah Spirulina sp, karena
alga mikro ini adalah salah satu sumber terbesar dari klorofil di alam.

4. Production of biomass and nutraceutical compounds by Spirulina platensis
under diVerent temperature and nitrogen regimes
Luciane Maria Colla, Christian Oliveira Reinehr, Carolina Reichert, Jorge
Alberto Vieira Costa
2007

Cyanobacterium Spirulina platensis telah digunakan gizi dan kemungkinan dapat
menjadi obat. Penelitian ini akan mengevaluasi pengaruh konsentrasi suhu dan nitrogen
di media pada produksi biomassa oleh cyanobacterium ini dan juga mengevaluasi
komposisi biomassa senyawa protein, lipid dan fenolik. Pada suhu 35C terdapat efek
negatif pada produksi biomassa tetapi efek positifnya adalah produksi protein, lipid dan
fenolat dapat diperoleh dalam tingkat tertinggi yaitu yang diperoleh di Media Zarrouk
yang berisi 1.875 atau 2.500 g/l natrium nitrat. Kepadatan biomassa yang lebih tinggi
dan produktivitas diperoleh pada suhu 30 C dibandingkan dengan suhu 35 C, tetapi
konsentrasi nitrogen tampaknya tidak memiliki efek pada jumlah protein, lipid atau
12

fenola. Hal ini menunjukkan bahwa pada suhu 30 C konsentrasi natrium nitrat dalam
medium Zarrouk ini (2.50 g/1) dapat dikurangi tanpa kehilangan produktivitas. Selama
berabad-abad, penduduk asli dari Chad Danau di Afrika dan Texcoco Lake di Meksiko
telah memanen S. platensis untuk digunakan sebagai sumber makanan. Sebuah fakta
yang berarti bahwa Spirulina layak mendapat perhatian khusus baik sebagai sumber
protein sel tunggal (SPC) dan karena sifat nutraceutical nya. Komposisi kimia Spirulina
menunjukkan bahwa spirulina memiliki nilai gizi yang tinggi karena komposisinya
terdiri dari berbagai nutrisi penting, seperti provitamin, mineral, protein dan lemak tak
jenuh ganda asam seperti asam gamma-linolenat. Baru-baru ini, Spirulina telah
dipelajari karena sifatnya sifat terapeutik dan kehadiran senyawa antioksidan seperti
fenolat. Adanya senyawa fenolik dalam tanaman didokumentasikan dengan baik, dan
senyawa ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan dalam sistem biologi, tetapi
karakteristik antioksidan dari alga dan cyanobacteria didokumentasikan kurang baik,
meskipun ada data bahwa pada pasien hiperkolesterolemia mengalami penurunan kadar
kolesterol setelah mengkonsumsi Spirulina.

5. Optimization of Biomass Production of Spirulina maxima
Jai Prakash Pandey, Amit Tiwari
2010

Spirulina maxima diketahui bermanfaat bagi manusia di hampir semua aspek kehidupan
termasuk kesehatan, makanan dan kosmetik. Penelitian ini ditujukan untuk menyelidiki
bagaimana kombinasi satu set parameter, yaitu suhu, intensitas cahaya, pH dan agitasi,
mempengaruhi produksi maksimum biomassa, klorofil a dan protein. Dengan cara
memanipulasi kondisi lingkungan dari pertumbuhan alga, seseorang dapat memodifikasi
produksi biomassa. Dalam penyelidikan saat ini produksi Spirulina maxima
dioptimalkan dalam hal biomassa dan metabolit. Berat kering Spirulina maxima adalah
0.73g / 500ml dan protein dan Klorofil konten yang adalah 63.8% dan 13.1mg / gm
masing-masing pada pH 9. Pada 5 intensitas cahaya Klux berat kering Spirulina maxima
adalah 0.72g / 500ml sementara kadar protein dan klorofil a adalah masing-masing
64,2% dan 9.5mg / gm. Aerasi juga faktor yang sangat penting untuk produksi
Spirulina. Pencampuran berkelanjutan terhadap media pengkulturan diperlukan untuk
13

mencegah tenggelamnya sel dan stratifikasi termal untuk mempertahankan distribusi
bahkan nutrisi dan untuk menghilangkan kelebihan oksigen. Dalam hal aerasi dan non
aerasi nilainya adalah 2.35 g/500ml dalam sistem aerasi dan 1.81 g/500ml dalam sistem
non aerasi. Spirulina maxima adalah cyanobacterium berserabut fotosintesis plankton
yang membentuk populasi besar-besaran di tubuh tropis dan subtropis air yang memiliki
tingkat karbonat dan bikarbonat. Selama berabad-abad, penduduk asli telah dipanen
Spirulina maxima dari Chad Danau di Afrika dan Texcoco Lake di Meksiko untuk
digunakan sebagai sumber makanan , fakta yang berarti bahwa Spirulina layak
mendapat perhatian khusus baik sebagai sumber protein sel tunggal (SCP) dan karena
sifat nutraceutical nya. Penelitian ini telah mendemonstrasikan bahwa suhu mempunyai
pengaruh penting pada produksi biomassa, protein dan klorofil a dari Spirulina maxima.
Penelitian ini ditujukan untuk menyelidiki bagaimana kombinasi satu set parameter
yaitu temperatur, intensitas cahaya, pH dan agitasi mempengaruhi produksi maksimum
biomassa dan protein. Atas dasar utilitas, Spirulina maxima dapat dibudidayakan di
bawah variabel kondisi alam, buatan dan laboratorium. Konten nutrisi Spirulina maxima
tergantung pada lokasi dan lingkungan di mana cyanobacterium tumbuh. Persentase
komponen tertentu dari Spirulina maxima dapat menambah atau mengurangi sesuai
dengan kebutuhan dengan tumbuh di bawah kondisi pertumbuhan diatur.
14

3. KESIMPULAN

Fikosianin merupakan kromofor phycobiliprotein pada mikroalga.
Fikosianin sering diaplikasikan sebagai pewarna alami bagi industri pangan.
Spirulina sp dapat menghasilkan pigmen fikosianin berwarna biru (polar).
Spirulina sp termasuk kelompok alga hijau biru multiseluler.
Penurunan mutu fikosianin disebabkan suhu tinggi dan penyimpanan terlalu lama.
Tujuan pengadukan stirrer yaitu memudahkan pemisahan fikosianin dari Spirulina.
Tujuan sentrifugasi yaitu memisahkan fikosianin dari Spirulina dengan sempurna.
Pengukuran fikosianin dengan spektrofotometer digunakan untuk mengetahui
kemurnian dari fikosianin dengan rasio absorbansi.
Spektrofotometer adalah alat pengukur kemampuan larutan dalam menyerap radiasi
gelombang elektromagnetik.
Pengukuran warna biru hijau digunakan panjang gelombang 610 nm - 750 nm.
Absorbansi merupakan nilai konstan dari penyerapan intensitas.
Fikosianin-c adalah jenis fikosianin yang banyak terdapat pada Spirulina.
Ekstraksi fikosianin dipengaruhi oleh gangguan seluler, metode ekstraksi, jenis
pelarut, suhu, pH, dan waktu ekstraksi.
Dekstrin adalah karbohidrat yang memiliki berat molekul tinggi.
Penambahan dektrin bertujuan untuk meningkatkan rendemen fikosianin.
Pengeringan bertujuan mengurangi kadar air hingga konsentrasi tertentu.
Freezing dan thawing merupakan metode ekstraksi paling efisien untuk
mengekstrak fikosianin.


Semarang, 2 Oktober 2014 Asisten Dosen,
- Agita Mustikahandini


Johana Lanna Christabella
12.70.0093
15

4. DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N & S. Koswara. (1992). Kimia Vitamin. CV Rajawali. Jakarta.

Candra B.A. (2011). Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang
Dikeringkan dan Diamobilisasi. Insitut Pertanian Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/47184/C11bac.pdf?sequence=1.
Diakses tanggal tanggal 1 Oktober 2014.

Colla, L. M et al. (2005). Production of Biomass and Nutraceutical Compounds by
Spirulina platensis under Different Temperature and Nitrogen Regimes. Journal of
Bioresource Technology. Elsevier. Brazil.

Duangsee, Rachen; Natapas Phoopat; dan Suwayd Ningsanond. (2009). Phycocyanin
extraction from Spirulina platensis and extract stability under various pH and
temperature. Asian Journal of Food and Agro-Industry. 2009, 2(04), 819-826.

Ewing, G. W. (1982). Instrumental Methods of Chemical Analysis. Mc Grow Hill Book
Company. USA.

Hadi, S. (1986). Analisa Kuantitatif. Gramedia. Jakarta.

Hemlata; Gunjan Pandey; Fareha Bano; Tasneem Fatma. (2011). Studies on Anabaena
sp. NCCU-9 With Special Reference to Phycocyanin. Journal of Algal Biomass
Utilization. 2011. 2(1). 30-51.

Jai Prakash Pandey, Amit Tiwari. (2010). Optimization of Biomass Production of
Spirulina maxima

K. Masthan, T. Raj Kumar and C.V. Narashima Murthy. (2011). Beneficial Effect of
Blue Green Algae Spirulina and Yeast Saccharomyces cerevisiae on Cocoon
Quantitative Parameters of Silkworn Bombyx mori l

Katarzyna Chojnacka. (2007). Bioaccumulation of Cr(III) ions by Blue-Green alga
Spirulina sp. Part I. A Comparison with Biosorption

Kumar, Narendra; Pawan Kumar Surendra Singh. (2010). Immunomodulatory effect of
dietary Spirulina platensis in type II collagen induced arthritis in rats. Research Journal
of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences RJPBCS 1(4) page 877-885.

16

Luciane Maria Colla, Christian Oliveira Reinehr, Carolina Reichert, Jorge Alberto
Vieira Costa. (2007). Production of biomass and nutraceutical compounds by Spirulina
platensis under diVerent temperature and nitrogen regimes

Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically active compounds from microalgal.
Journal of Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.

Prabuthas, P et al. (2011). Standardization of Rapid and Economical Method for
Neutraceuticals Extraction from Algae. Journal of Stored Products and Postharvest
Research. India.

Ribut, S. & S. Kumalaningsih. (2004). Pembuatan Bubuk Sari Buah Sirsak dari Bahan
Baku Pasta dengan Metode Foam-mat Drying. Kajian Suhu Pengeringan, Konsentrasi
Dekstrin dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta. http://www.pustaka-deptan.go.id.
Diakses tanggal 1 Oktober 2014.

Romay C, Armesto J, Remirez D, Gonzlez R, Ledn N, Garca I. (1998). Antioxidant
and anti-inflammatory properties of c-phycocyanin from blue-green algae.
Inflammation Research.

Santiago-Santos, Ma. Carmen; Teresa Ponce-Noyola; Roxana Olvera-Ramirez; Jaime
Ortega-Lopez; Rosa Oivia Canizares-Villanueva. (2004). Extraction and purification of
phycocyanin from Calothrix sp. Process Biochemistry 39 (2004) 20472052.

U.K. Chauhan a, Neeraj Pathak. (2010). Effect of different conditions on the production
of chlorophyll by Spirulina platensis


Urek, Raziye Ozturk; Leman Tarhan. (2012). The Relationship Between The
Antioxidant System and Phycocyanin Production in Spirulina Maxima With Respect to
Nitrate Concentration. Turk J Bot 36 (2012): 369-377.

Wilford, D. (1987). Microbiology System in Chemistry. Co Allys and Benton. USA.




17

5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
Perhitungan Fikosianin

)




Kelompok B1


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B2


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B3


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g




18

Kelompok B4


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B5


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

Kelompok B6


= 0,011 mg/ml


= 0,069 mg/g

5.2. Foto Fikosianin








B5 B3 B1 B2 B4 B6
19

\
Fikosianin Bubuk


5.3. Scanning Viper

5.4. Laporan Sementara