Anda di halaman 1dari 4

Resume Film Dokumenter

Oleh : Muzdalifah 1106005925



1. Pomatodon: Dongeng Negeri Seluar Peta
Film ini menceritakan tentang sebuah pohon yang tumbuh subur di suatu daerah
di Kalimantan. Pohon tersebut sangat penting bagi pak Amir, seseorang yang bermata
pencaharian sebagai mencari madu karena pohon-pohon tersebut merupakan tempat
bersarangnya lebah-lebah. Namun kini keberadaan pohon tersebut terancam punah.
Hal itu terjadi dikarenakan adanya pembalakan liar yang dilakukan pihak-pihak swasta
yang serakah. Walau mereka mengakui telah mendapat izin dari pemerintah, namun
mereka tidak mengkonfirmasi langsung ke masyarakat setempat. Sehingga
masyarakatlah yang menjadi korbannya.
Selain pohon, sungai-sungai di Kalimantan juga sangat penting karena sungai
menjadi sumber hidup masyarakat disana. Namun kini, sungai-sungai tersebut menjadi
sumber bencana yang berbahaya saat musin hujan tiba.
Seperti sungai Sumbang, sungai tersebut menjadi kecemasan bagi warga
sekitarnya ketika musim hujan tiba. Sungai tersebut akan meluap dan menggenangi
rumah-rumah warga hingga berminggu-minggu dengan ketinggian yang bisa melebihi
satu meter. Selain itu, banjir juga membawa kesengsaraan bagi masyarakat, terlebih
lagi jika banjir tersebut menggenang dan merusak tanaman-tanaman yang siap panen.
Bencana banjir tersebut merupakan dampak dari pembalakan liar di hutan
kalimantan yang dilakukan oleh pihak swasta, salah satunya PT. Adindo. Pembalakan
liar menyebabkan berkurangnya tempat penyerapan air hujan. Hal ini dikarenakan
pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyerap air hujan kini telah sedikit jumlahnya
akibat ditebang secara liar.
Selain itu, hutan-hutan tersebut sekarang bukan lagi milik masyarakat
Kalimantan, melainkan milik pemerintah. Pemerintah seolah-olah menguasai hutan
yang selama ini hidup dan tumbuh bersama warga. Bahkan, warga sangat kecewa
dengan kinerja program Kawasan Budidaya Kehutanan milik pemerintah yang tidak
cepat tanggap terhadap isu-isu pembalakan liar yang kian meluas. Sehingga program
KBK yang dijalankan pemerintah malah merugikan masyarakat sekitar.

2. Kehidupan Masyarakat Ngata Toro
Ngata Toro adalah nama sebuah desa di daerah Sulawesi. Ngata dalam bahasa
Sulawesi berarti desa. Sedangkan Toro adalah nama desa tersebut. Desa Toro memiliki
adat dan kebiasaan masyarakat yang masih kental. Bahkan sampai saat ini,
masyarakatnya masih memiliki adat dan kebudayaan yang kuat. Pemerintahan di Desa
Toro masih dipengaruhi oleh Tetinggi Adat antara lain, Totua Ngata, Mardika Ngata,
dan Tina Ngata.
Di Indonesia banyak sekali desa yang berada didalam sebuah kawasan Taman
Nasional. Contohnya adalah Ngata Toro yang terletak di kawasan Taman Nasional
Lore Lindu. Tidak sedikit keberadaan desa-desa tersebut dianggap sebagai sebuah
permasalahan yang akan mengancam keberadaan sebuah kawasan konservasi Taman
Nasional. Namun pernyataan tersebut tidak selamanya benar karena masih ada
masyarakat-masyarakat adat yang masih memegang teguh aturan-aturan adatnya
dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di kampung mereka.
Masyarakat itu adalah masyarakat Ngata Toro.
Kehidupan masyarakat Ngata Toro masih bergantung dari alam karena hanya
alam satu-satunya kekayaan yang mereka miliki. Kekayaan alam yang terhampar luas
di desa ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat desa tersebut. Oleh karena itu,
mereka sangat menjaga keseimbangan alam.
Mereka mampu mengelola alam dengan baik dengan cara bersikap tidak serakah.
Mereka yakin, alam mampu memenuhi kebutuhan manusia, tapi tidak untuk orang
yang serakah. Mereka percaya bahwa jika alam dipisahkan dengan manusia, maka adat
mereka telah dicabut. Mereka dapat menjaga alam tempat tinggal mereka yang
merupakan kawasan konservasi dengan baik. Mereka dapat membuktikan bahwa
keberadaan mereka dikawasan konservasi bukanlah menjadi ancaman, tetapi
sebaliknya, mereka dapat mengelola alam sekitar dengan aturan-aturan adatnya.
Selain itu, masyarakat Ngata Toro sangat menghargai perbedaan dan menerima
segala perbedaan yang ada. Masyarakatnya hidup dengan penuh toleransi. Mereka
saling menghargai satu sama lain. Selain itu, masyarakatnya masih memegang teguh
adat istiadat. Walau masyarakat Ngata Toro masih memegang teguh adat istiadat,
namun mereka tidak tertinggal oleh perubahan zaman. Hal ini dikarenakan adat
istiadat tersebut bersifat dinamis.
Hal ini terlihat dari adat perkawinan yang dilakukan masyarakat Toro. Pesta
pernikahan masyarakat disana menggunakan cara modern, namun mereka tidak
melupakan adat dalam pesta pernikahan. Contohnya adalah dengan diadakannya
sebuah tarian daerah dalam pesta pernikahan tersebut.
Sedangkan dari sisi sosial masyarakat, desa ini sangat menjunjung tinggi
persamaan derajat antara lelaki dan perempuan. Perempuan-perempuan disana yakin
bahwa mereka memiliki hak yang sama dengan lelaki. Mereka memiliki hak untuk
ikut andil dan berpartisipasi dalam mengelola desanya. Para perempuan mulai
bergerak mengabdikan diri mereka untuk desanya. Mereka mulai memegang status
dan peran penting dalam susunan pemerintahan desa tersebut.
Mereka memulainya dengan mendirikan sebuah organisasi perempuan yang
bernama OPANT. Organisasi ini mewadahi seluruh perempuan yang ada di desa
tersebut untuk mengembangkan peran perempuan dalam konservasi dan pengelolaan
sumber daya yang ada di Toro.
Kini, masyarakat Toro mengatur dan mengelola seluruh hutan dan alam yang ada
dikawasan Lore Lindu. Mereka membuat peta dan struktur pemerintahan untuk
mengatur desanya sendiri.

3. Imagining Indonesia