Anda di halaman 1dari 4

AFTA merupakan singkatan dari ASEAN Free Trade Area yang dibuat pada

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke IV di Singapura pada tahun 1992. Tujuan


dibuatnya AFTA, tentu saja baik adanya, bagaimana tidak, negara negara di
kawasan Asia Tenggara telah bersepakat untuk membentuk suatu kawasan bebas
perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional
Asia Tenggara sekaligus menjadikan Asia Tenggara menjadi salah satu pihak
yang berpengaruh pada perdagangan dunia. Kemudian muncul kembali
pertanyaan baru. Apa hubungan AFTA dengan kesehatan? Bukankah istilah
perdagangan hanya identik dengan dunia ekonomi saja? Ternyata tidak, AFTA
pada kenyataannya tidak hanya mengedepankan satu aspek saja, setidaknya ada
lebih dari 12 sektor yang disentuh AFTA, termasuk sektor kesehatan.
1
Program ini akan direalisasikan tahun 2016 awal atau bisa jadi tahun 2015
akhir, beberapa bulan dari sekarang. Pemerintah sudah otomatis
merencanakan dan merancang program AFTA saat ini. Dengan perjanjian
yang tentu saja sudah ditandatangani oleh semua pihak bersangkutan.
Adanya AFTA pada tahun 2015 ini bukan berarti kita harus langsung
menentang kebijakan tanpa tahu akar atau latar belakang dari hal yang
sudah direncanakan oleh pemerintah ini.
Indonesia harus menghadapi 4 kenyataan yang akan muncul ketika AFTA
ini direalisasikan. Pertama, akan masuknya dokter asing dengan mudah.
Kedua, meningkatnya jumlah masyarakat Indonesia di golongan
menengah ke atas. Kemudian, dengan meningkatnya ekonomi
masyarakat akan menimbulkan kenyataan yang ketiga, yaitu Indonesia
akan meraih peringkat 9 untuk negara dengan pertumbuhan ekonomi
yang maju dalam 6 tahun ke depan. Keempat, pelayanan kesehatan yang
berbasis asuransi akan muncul (contohnya BPJS).
3

Kembali kita dihadapkan pada fakta, bahwa banyak masyarakat Indonesia yang
memilih berobat ke luar negri. Sebut saja Singapura. Bahkan saya cukup terkejut
ketika salah seorang dosen saya bercerita bahwa lebih dari 50% pasien dari salah
satu rumah sakit di Singapura adalah orang Indonesia. Bahkan, saat ini sudah ada
sebuah brosur General Medical Check Up berkonsep wisata yang ditawarkan
salah satu biro perjalanan ke Singapura. Belum lagi maraknya rumah sakit asing
atau praktek pelayanan kesehatan asing yang menjamur di negri kita.
Dengan adanya AFTA tentunya tak lepas dari dampak positif dan negatifnya
apakah ini merugikan atau menguntungkan dalam kondisi negara kita khususnya
dalam bidang kesehatan sehingga kita harus siap untuk menerimanya. Dampak
postif yang mungkin terjadi contohnya meningkatnya jumlah fasilitas tenaga
kesehatan. Akan muncul pelayanan kesehatan yang lebih baik seperti munculnya
rumah sakit internasional juga alat alat kesehatan sehingga kondisi negara kita
khususnya dalam bidang kesehatan sehingga kita harus siap untuk menerimanya.
Kemungkinan yang terjadi lagi adalah meningkatnya persaingan pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Tenaga kesehatan domestic akan
bersaing dengan tenaga kesehatan asing sehingga mereka saling menunjukkan
yang terbaik dari segi keilmuan maupun pelayanan dan transparansi kualitas
tenaga kesehatan akan semakin benar benar terbuka lebar karena kompetisi
menjual kemampuan diri semakin tinggi. Yang ketiga, meningkatnya lapangan
kerja bagi tenaga kesehatan domestik seiring dengan banyaknya pihak swasta
yang masuk dan membuat lapangan kerja.
Selain dampak positif, kita juga harus memperhatikan dampak negatif yang ada
seperti meningkatnya penyalahgunaan pemanfaatan teknologi kedokteran.
Semakin banyak teknologi yang dipunya maka ketergantungan akan teknologi
meningkat sehingga bisa saja digunakan secara berlebihan dan tidak tepat guna.
Melihat dampak positif tadi mengenai meningkatnya persaingan pelayanan
kesehatan juga bisa berakibat buruk misalnya persaingan yang tidak sehat antar
tenaga kesehatan domestik dan asing dalam mempertahankan pelanggan
ataupun menurunkan tarif sehingga keadaan seperti ini tidak diawasi maka akan
timbul konflik internasional (asing vs domestik). Dampak buruk yang tidak kalah
penting yaitu berubahnya filosofi pelayanan kesehatan yang semula social
menjadi komersial dan investasi serta tenaga kesehatan asing terpusat di daerah
perkotaan ataupun kota kota besar mengakibatkan pelayanan kesehatan yang
tidak merata pada masyarakat desa atau wilayah kecil sehingga akan terabaikan
kesehatannya.
1

Seperti yang di sampaikan perwakilan DIB, dr M Yadi Permana, SpB(K)
Bahwa sebenarnya jumlah dokter kita cukup, tapi menumpuk di perkotaan.
Sementara di desa-desa masih sangat kurang.
Menurut dr Yadi, dengan jumlah dokter antara 94 ribu hingga 95 ribu saat ini
sebenarnya Indonesia tidak kekurangan dokter. Apalagi tiap tahun diluluskan
dokter baru sebanyak 4 ribu hingga 5 ribu orang, sehingga pada saat AFTA 2015
berlaku maka jumlah dokter di Indonesia bisa berkisar di angka 100 ribu.
4

AFTA yang akan diberlakukan pada 2015 mewajibkan para praktisi
jasa termasuk dokter harus mempersiapkan diri. Jika sudah diterapkan para
dokter bahkan rumah sakit asing akan berpraktek di Indonesia dengan pelayanan
yang baik. Oleh sebab itu para dokter di Indonesia harus benar-benar
mempersiapkan diri dengan mengembangkan skill dan pengetahuan ilmu
kedokteran. Dengan dokter-dokter yang berada dalam negri saja kadang kala kita
tidak mampu untuk bersaing. Lalu bagaimana dengan dokter-dokter luar yang
ingin masuk ke Indonesia.

Sebenarnya masih ada juga upaya yang dapat dilakukan untuk membatasi
masuknya tenaga kesehatan asing yang melakukan praktek kesehatan di
Indonesia, salah satunya melalui undang undang. Seperti yang dikatakan oleh
dr. Kartono Mohammad , mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
menyatakan bahwa Indonesia tidak memiliki wewenang untuk membatasi
masuknya dokter asing ke Indonesia, beliau mengatakan bahwa yang penting
adalah membuat aturan tapi jangan terlalu kelihatan protektif, karena Indonesia
akan dituduh melanggar AFTA. Aturan tersebut diekspresikan dalam undang
undang, sejauh ini, menurut UU no. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran,
dokter asing memang dibolehkan untuk membuka praktik di wilayah Indonesia.
Namun peraturan pemerintah yang mengatur tentang penyelewengan,
penyalahgunaan, serta tindak pidananya belum ada.
2


Namun jauh-jauh hari semestinya ada hal-hal yang m usti kita lakukan , tidak
harus terpaku dengan undang-undang tersebut. Yang harus kita lakukan antara
lain adalah meningkatkan skill dan kualitas diri sebagai dokter yang baik dengan
rajin belajar dan menambah ilmu pengetahuan serta up to date. Tidak hanya
belajar dari materi kuliah dosen tetapi bukalah jurnal atau textbook. Selain itu Ada
beberapa hal yang semustinya kala ini bisa sesegera mungkin kita siapkan untuk
menghadapi AFTA. Yang pertama, menentukan tujuan sedini mungkin dan
jangan menyepelekan. Contoh: pada kesempatan AFTA ingin bekerja di luar
negeri, tentu kita harus menguasai bahasa asing sesuai negara tujuan. Belajar
bahasa asing sejak sekarang. Apabila ingin tetap bekerja di Indonesia pun juga
tetap harus bisa berbahasa asing untuk mempersiapkan diri menemui pasien asing
ketika sistem AFTA telah diterapkan. Tidak hanya bahasa saja namun mental juga
harus dipersiapkan karena kita akan bersaing dengan orang asing se ASEAN.
Kedua, memperbaiki skill berkomunikasi karena seorang dokter membutuhkan
skill berkomunikasi yang baik dengan pasiennya. Selain dengan pasien, dokter
yang baik akan mendapat kepercayaan dari orang di sekitarnya. Dan yang ketiga
adalah Mensinergi antara doa, usaha/ikhtiar, dan Tawaqal. Kita tahu bahwasanya
usaha tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa usaha itu sama saja bohong. Jadi kita
sebagai manusia makhluk Allah harus senantiasa mengimbangi antara doa dan
usaha kita, apabila kita telah melakukan dua hal tersebut maka berikhtiarlah
karena segala keputusan itu ada di tangan Allah. Dan yakinlah bahwa hasil yang
Allah berikan itu pasti yang terbaik buat kita, apapun itu terimalah dengan ikhlas
dan lapang dada karena hal yang demikian akan baik untukmu di dunia maupun di
akhirat.
1

Jadi kesimpulannya, untuk menghadapai globalisasi kesehatan dalam konteks
AFTA, yang perlu kita persiapkan adalah kesiapan untuk berkompetisi. Untuk
berkompetisi dibutuhkan kemampuan yang bersaing, yang mencakup berbagai
aspek dalam dunia kesehatan seperti sistem, kebijakan kesehatan termasuk
peraturan dan perundang - undangan, pendidikan kesehatan, dan yang jauh lebih
penting adalah pembinaan sumber daya manusianya.
1. Anti-Remed with MECO MMSA. AFTA 2015. http://anti-
remed.blogspot.com/2014/06/afta-2015.html . Akses 14 September 2014
2. Depkes Harus Antisipasi Serbuan Dokter Asing Pasca ASEAN FreeTrade
2010.http://www.theglobal-
review.com/content_detail.php?lang=id&id=502&type=3. Akses 14
September 2014
3. Arifah Prilia. AFTA. MEDICAL TORCH.
http://medicaltorch.wordpress.com/2014/09/06/afta/. Akses 14 September
2014
4. AN Uyung Pramudiarja. Hadapi AFTA 2015, Distribusi Dokter Indonesia
Masih Jadi
Ancaman. http://health.detik.com/read/2014/05/17/130100/2584658/763/h
adapi-afta-2015-distribusi-dokter-indonesia-masih-jadi-ancaman. Akses
14 September