Anda di halaman 1dari 9

SKABIES

PENDAHULUAN
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sentisisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Nama lain dari skabies adalah itch
(Inggris), seven years itch (Inggris), gudik, budukan atau gatal agogo.
[1,2,3,..5]

Sarcoptes scabiei varian hominis merupakan parasit obligat pada manusia yang
berasal dari family Sarcoptidae, ordo Astigmata, subkelas Acari dan kelas Arachnida.
Sarcoptes scabiei merupakan parasit obligat yang seluruh masa hidupnya berlansung pada
tubuh manusia. Terdapat juga varian lain yang dapat berinfestasi di tubuh mamalia lain
seperti anjing, kucing, tupai, babi, serigala, monyet dan kuda. Varian lain ini dapat
mengakibatkan iritasi pada kulit manusia, namun mereka tidak dapat bereproduksi pada kulit
manusia, karena itu infestasi Sarcoptes scabiei varian animalia hanya menimbulkan gejala
sementara, singkat, bersifat self limiting dan tidak akan dijumpai terowongan pada kulit
penderita.
[1,2,3,..5]


Sarcoptes scabiei varian hominis.
[4]


Transmisi dari skabies paling sering disebabkan oleh kontak lansung dari kulit ke
kulit, karena alasan tersebut juga skabies disepakati sebagai salah satu penyakit yang menular
melalui hubungan seksual. Skabies dapat juga menular secara tidak lansung yaitu antara kulit
dengan benda-benda yang terkontaminasi dengan Sarcoptes scabiei hominis seperti alas
kasur, pakaian, handuk atau permukaan benda yang berada dalam suhu ruangan selama 2-3
hari. Sarcoptes scabiei hominis yang menginfeksi manusia adalah yang betina, tungau ini
cukup besar sehingga dapat terlihat melalui mata telanjang. Tungau ini memiliki 4 pasang
kaki dan tidak dapat melompat atau terbang.
[1,2,3,..5]

Faktor resiko untuk terjadinya infestasi scabies yaitu; usia muda, jumlah anggota
keluarga yang banyak dalam satu rumah, sosio-ekonomi rendah, hygiene yang jelek,
menggunakan pakaian dan handuk secara bersamaan.
[1,2,3,..5]

Sarcoptes scabiei varian hominis betina dapat menghasilkan 60-90 telur sepanjang
masa hidupnya yaitu selama 30 hari, namun hanya 10% dari telur-telur ini yang dapat
berkembang menjadi tungau dewasa. Rata-rata pada penderita yang terinfeksi dijumpai
sebanyak 10-15 tungau betina dewasa. Siklus hidup dari Sarcoptes scabiei diawali inkubasi
yang diikuti menetasnya telur dalam waktu 3-4 hari. Selanjutnya larva (Memiliki 3 pasang
kaki) akan bermigrasi ke permukaan kulit dan menggali terowongan yang dangkal di stratum
korneum, hal ini akan berlansung selama 3-4 hari. Sebelum menjadi tungau dewasa larva
akan berubah menjadi nimfa. Selanjutnya tungau betina akan kawin dengan tungau jantan,
setelah perkawinan ini tungau jantan akan segera mati. Lalu tungau betina akan membentuk
terowongan yang berkelok-kelok pada stratum korneum menggunakan enzim proteolitik yang
dihasilkannya, tungau betina akan terus menerus menggali dan meletakkan telurnya di
terowongan tersebut sepanjang masa hidupnya.
[1,2,3,..5]

Secara patofisiologi keluhan yang timbul pada penderita scabies terjadi akibat reaksi
hipersensitivitas tipe IV terhadap tungau, telur dan ekskreta yang dihasilkan organisme
tersebut. Pada suatu penelitian imunologi disimpulkan bahwa peningkatan sel T4
berhubungan dengan keluhan berupa pruritus persisten dan peningkatan sel T8 berhubungan
dengan penurunan keluhan berupa pruritus.
[4]


Pada pemeriksaan mikroskopik tampak tungau betina dewasa, ovum yang berbentuk
oval dan berwarna abu-abu, tampak juga butiran-butiran skibala (Feses).
[2]


Tampak Sarcoptes scabiei varian hominis berada pada lapisan stratum korneum.
[4]


Secara epidemiologi diperkirakan jumlah kasus scabies yang dilaporkan tiap
tahunnya mencapai 300 juta kasus. Peningkatan kasus ini berbanding lurus dengan adanya
bencana alam, meningkatnya angka kemiskinan dan kepadatan penduduk. Di Negara maju
epidemi scabies umumnya hanya dijumpai pada lingkungan penjara, asrama, rumah sakit,
panti asuhan dan panti jompo. Sedangkan di Indonesia masih dijumpai insiden scabies yang
cukup tinggi, dimana insiden tertinggi dijumpai di Jawa Barat dan terendah di Sulawesi
Utara. Abu A dalam penelitiannya di RSU Dadi Ujung Pandang mendapatkan insiden scabies
sebesar 0,67% pada tahun 1987-1988.
[1,2,3,..5]

Penyakit scabies ini dapat ditegakkan hanya dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik
yang teliti. Pada anamnesa akan dijumpai keluhan berupa rasa gatal hebat yang terutama
meningkat pada malam hari dan adanya riwayat kontak dengan penderita yang memiliki
gejala serupa. Pasien akan mengeluhkan adanya ruam kulit pada daerah; pergelangan tangan
bagian dalam, sela-sela jari tangan, punggung kaki, ketiak, siku, pinggang, pantat dan genital.
Selain itu penderita dapat juga mengeluhkan ruam kulit berupa papul dan vesikel eritem pada
skrotum, penis dan areola. Pada bayi dan anak-anak biasanya dikeluhkan ruam pada daerah;
wajah, kulit kepala, leher, telapak tangan dan kaki. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai
ruam primer berupa terowongan intraepidermal yang berkelok-kelok, berwarna keabu-abuan,
tampak seperti elevasi pada epidermis superfisial dan memiliki panjang 2-10 mm. Selain itu
dapat juga dijumpai papul-papul eritem dan vesikel. Ruam-ruam tersebut dapat dijumpai di
daerah; pergelangan tangan bagian dalam, sela-sela jari tangan, punggung kaki, ketiak, siku,
pinggang, pantat dan genital. Pada penderita dewasa dapat juga dijumpai ruam pada penis,
skrotum dan areola. Sedangkan pada bayi dan anak-anak ruam dijumpai pada; wajah, kulit
kepala, leher, telapak tangan dan kaki. Dan pada penderita lanjut usia sering dijumpai
ekskoriasi pada area punggung. Ruam sekunder yang dapat dijumpai bersamaan dengan ruam
primer diantaranya adalah; ekskoriasi, krusta yang berwarna kekuningan seperti madu,
hiperpigmentasi post inflamasi dan nodul prurigo.
[1,2,3,..5]


Tampak terowongan atau kanalikuli pada sela-sela jari tangan penderita skabies.
[2]


Tampak terowongan atau kanalikuli pada bagian lateral punggung tangan penderita
skabies.
[2]


Tanda kardinal dari scabies terdiri atas; pruritus nokturna, adanya riwayat kontak
lansung dengan penderita yang memiliki keluhan yang sama, dijumpai terowongan atau
kanalikulus dan dijumpainya tungau. Jika dijumpai 2 dari 4 tanda kardinal di atas maka
diagnosis skabies dapat ditegakkan.
[1,3]

Diagnosis banding dari penyakit ini cukup banyak, sehingga skabies sering dijuluki
sebagai The great imitator penyakit kulit. Diagnosis banding dari penyakit ini diantaranya;
prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis dan varisela.
[1,2,3,..5]

Diagnosis skabies dapat ditegakkan hanya berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan
fisik saja. Dapat juga dilakukan pemeriksaan menggunakan mikroskop untuk
mengidentifikasi tungau, larva, ovum, skibala (Feses) pada sediaan kerokan kulit. Pada kasus
yang jarang dapat juga dilakukan pemeriksaan terhadap specimen biopsy kulit dan
pemeriksaan menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi DNA
Sarcoptes scabiei. Sebagai tambahan pada sebagian pasien dijumpai peningkatan kadar IgE
akibat infeksi parasit. Dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang sederhana untuk
mendeteksi terowongan atau kanalikuli menggunakan Burrow ink test atau tetrasiklin.
[1,2,3,..5]

Secara umum penatalaksanaan untuk skabies terdiri atas pemberian agen untuk
membunuh tungau, terapi simtomatik untuk meringankan gejala pada penderita skabies dan
usaha memutus mata rantai penularan. Agen anti parasit yang dapat digunakan adalah;
Permetrin krim 5% yang dioleskan pada seluruh tubuh dan didiamkan selama 8-12 jam
sebelum dicuci (Dianjurkan pemberian permetrin ulang 7 hari setelah pemberian pertama),
Ivermektin oral 200 mcg/kgBB single dose (Dapat diulangi 14 hari setelah pemberian
pertama), Krotamiton 10 %, Sulphur precipitate 6% yang digunakan pada seluruh tubuh
setelah mandi dan didiamkan selama 24 jam (Pemberian sebanyak tiga kali), linden 1%
(Tidak dianjurkan karena dapat diabsorbsi kulit secara berlebihan dan bersifat neurotoksik).
Preparat anti skabies yang dianjurkan untuk anak berusia kurang dari 2 bulan dan wanita
hamil adalah sulphur precipitate, namun obat ini memiliki kekurangan karena menyebabkan
rasa tidak nyaman pada pemakainya.
[1,2,3,..5]

Usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan diantaranya adalah;
memberikan terapi skabisidal kepada individu yang memiliki kontak lansung dengan
penderita dan mencuci seluruh perlengkapan pribadi penderita menggunakan air bersuhu
60
0
C atau air panas.
[1,2,3,..5]

Prognosis dari scabies yang didiagnosis dan mendapatkan terapi yang baik pada
individu yang sehat adalah sangat baik. Gejala yang menetap setelah 2-4 minggu setelah
dilakukan terapi dapat dijumpai pada penderita scabies. Namun jika hal ini berlansung lebih
dari 2-4 minggu maka dapat dilakukan pemberian terapi menggunakan agen skabisida lain.
Gejala yang menetap biasanya disebabkan oleh; kegagalan terapi, adanya dermatitis alergi
yang disebabkan pemberian obat topical, masih dijumpainya tungau di lingkungan penderita,
dan jika terjadi infeksi sekunder yang membutuhkan terapi antibiotika.
[1,2,3,..5]


LAPORAN KASUS
Telah datang seorang pasien perempuan bernama Putri Ramadani, berusia 4 tahun,
bangsa Indonesia, suku Melayu, agama Islam ke poliklinik ilmu kesehatan kulit dan kelamin
rumah RSUD Dr Pirngadi Medan pada tanggal 14 Januari 2013 dengan keluhan utama
gelembung-gelembung berisi cairan disertai rasa gatal pada telapak tangan kiri sejak 2
minggu yang lalu. Awalnya timbul garis-garis berwarna keabu-abuan dan bintil-bintil
kemerahan pada telapak kaki kiri yang disertai rasa gatal. Gatal terutama terjadi pada malam
hari, karena tidak tahan os menggaruknya. Kemudian bintil-bintil merah tersebut menyebar
ke telapak tangan kiri. Menurut pengakuan ayah os, saudara kandung os juga mengalami hal
yang sama. Sebelumnya ayah os memberikan salap Canesten pada tangan dan kaki os.
Karena keluhan tidak kunjung sembuh maka ayah os memutuskan untuk membawa berobat
ke poliklinik ilmu kesehatan kulit dan kelamin RSUD Dr Pirngadi Medan.
Dari anamnesa riwayat penyakit keluarga (+) ditemukan adanya anggota keluarga
yang mengalami penyakit yang sama dengan os yaitu saudara kandung os. Riwayat
pemakaian obat yaitu Canesten.
Dari pemeriksaan fisik dijumpai keadaan umum dan status gizi sedang. Pada
pemeriksaan dermatologis dijumpai ruam berupa kanalikuli, papul eritem, vesikel, krusta,
erosi dan ekskoriasi pada regio palmaris sinistra dan plantar pedis sinistra.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka diagnosis banding pada pasien
ini adalah Skabies, Pemfoliks dan Insect Bite.
Penatalaksanaan pada pasien ini terdiri atas penatalaksanaan secara umum dan
khusus. Penatalaksanaan secara umum adalah dengan menyarankan ayah os untuk membawa
saudara kandung os berobat, mencuci pakaian dan alas kasus di rumah menggunakan air
panas, dan menjaga hygiene. Pengobatan secara khusus pada pasien ini adalah diberikan
pengobatan topical berupa Permetrin 5% (Ascabs) lotion dioleskan 1 kali sehari pada malam
hari sebelum tidur yang kemudian dicuci pada pagi harinya, sedangkan pengobatan sistemik
diberikan Mebhydrolin 50 mg tablet 3 kali sehari.
Prognosis dari pasien ini adalah baik jika selalu menjaga hygiene dan menggunakan
obat-obatan sesuai aturan.

DISKUSI
Diagnosa skabies pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan fisik. Pada anamnesa dijumpai keluhan utama gelembung-gelembung berisi
cairan disertai rasa gatal pada telapak tangan kiri sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya timbul
garis-garis berwarna keabu-abuan dan bintil-bintil kemerahan pada telapak kaki kiri yang
disertai rasa gatal. Gatal terutama terjadi pada malam hari, karena tidak tahan os
menggaruknya. Kemudian bintil-bintil merah tersebut menyebar ke telapak tangan kiri.
Menurut pengakuan ayah os, saudara kandung os juga mengalami hal yang sama. Hal ini
sesuai dengan kepustakaan bahwa pada anamnesa akan dijumpai keluhan berupa rasa gatal
hebat yang terutama meningkat pada malam hari dan adanya riwayat kontak dengan penderita
yang memiliki gejala serupa. Pasien akan mengeluhkan adanya ruam kulit pada daerah;
pergelangan tangan bagian dalam, sela-sela jari tangan, punggung kaki, ketiak, siku,
pinggang, pantat dan genital.
Dari pemeriksaan fisik dijumpai keadaan umum dan status gizi sedang. Pada
pemeriksaan dermatologis dijumpai ruam berupa kanalikuli, papul eritem, vesikel, krusta,
erosi dan ekskoriasi pada regio palmaris sinistra dan plantar pedis sinistra. Hal ini sesuai
dengan kepustakaan bahwa pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai ruam primer berupa
terowongan intraepidermal yang berkelok-kelok, berwarna keabu-abuan, tampak seperti
elevasi pada epidermis superfisial dan memiliki panjang 2-10 mm. Selain itu dapat juga
dijumpai papul-papul eritem dan vesikel. Ruam sekunder yang dapat dijumpai bersamaan
dengan ruam primer diantaranya adalah; ekskoriasi, krusta yang berwarna kekuningan seperti
madu, hiperpigmentasi post inflamasi dan nodul prurigo. Ruam-ruam tersebut dapat dijumpai
di daerah; pergelangan tangan bagian dalam, sela-sela jari tangan, punggung kaki, ketiak,
siku, pinggang, pantat dan genital.
Diagnosis banding pada pasien ini adalah Skabies, Pemfoliks dan Insect Bite. Hal ini
sesuai dengan kepustakaan bahwa diagnosis banding dari penyakit ini diantaranya; prurigo,
pedikulosis korporis, dermatitis dan varisela.
Penatalaksanaan pada pasien ini terdiri atas penatalaksanaan secara umum dan
khusus. Penatalaksanaan secara umum adalah dengan menyarankan ayah os untuk membawa
saudara kandung os berobat, mencuci pakaian dan alas kasus di rumah menggunakan air
panas, dan menjaga hygiene. Pengobatan secara khusus pada pasien ini adalah diberikan
pengobatan topical berupa Permetrin 5% (Ascabs) lotion dioleskan 1 kali sehari pada malam
hari sebelum tidur yang kemudian dicuci pada pagi harinya, sedangkan pengobatan sistemik
diberikan Mebhydrolin 50 mg tablet 3 kali sehari. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa
Secara umum penatalaksanaan untuk skabies terdiri atas pemberian agen untuk membunuh
tungau, terapi simtomatik untuk meringankan gejala pada penderita skabies dan usaha
memutus mata rantai penularan. Agen anti parasit yang dapat digunakan adalah; Permetrin
krim 5% yang dioleskan pada seluruh tubuh dan didiamkan selama 8-12 jam sebelum dicuci
(Dianjurkan pemberian permetrin ulang 7 hari setelah pemberian pertama), Ivermektin oral
200 mcg/kgBB single dose (Dapat diulangi 14 hari setelah pemberian pertama), Krotamiton
10 %, Sulphur precipitate 6% yang digunakan pada seluruh tubuh setelah mandi dan
didiamkan selama 24 jam (Pemberian sebanyak tiga kali), linden 1% (Tidak dianjurkan
karena dapat diabsorbsi kulit secara berlebihan dan bersifat neurotoksik). Preparat anti
skabies yang dianjurkan untuk anak berusia kurang dari 2 bulan dan wanita hamil adalah
sulphur precipitate, namun obat ini memiliki kekurangan karena menyebabkan rasa tidak
nyaman pada pemakainya.
Prognosis dari pasien ini adalah baik jika selalu menjaga hygiene dan menggunakan
obat-obatan sesuai aturan. al ini sesuai dengan kepustakaan bahwa Prognosis dari scabies
yang didiagnosis dan mendapatkan terapi yang baik pada individu yang sehat adalah sangat
baik. Gejala yang menetap setelah 2-4 minggu setelah dilakukan terapi dapat dijumpai pada
penderita scabies. Namun jika hal ini berlansung lebih dari 2-4 minggu maka dapat dilakukan
pemberian terapi menggunakan agen skabisida lain. Gejala yang menetap biasanya
disebabkan oleh; kegagalan terapi, adanya dermatitis alergi yang disebabkan pemberian obat
topical, masih dijumpainya tungau di lingkungan penderita, dan jika terjadi infeksi sekunder
yang membutuhkan terapi antibiotika.






DAFTAR PUSTAKA