Anda di halaman 1dari 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Enzim merupakan unit protein


fungsional yang berperan mengkatalisis
reaksi-reaksi dalam metabolisme sel dan
reaksi-reaksi lain dalam tubuh. Spesifikasi
enzim terhadap substratnya teramat tinggi
dalam mempercepat reaksi kimia
(Lehninger, 1982).
Ekstraksi enzim
Isolasi protein, yang termasuk
enzim di dalamnya dilakukan dengan
metode ekstraksi. Tujuan ekstraksi adalah
untuk mengeluarkan enzim dari dalam sel-
sel jaringan suatu bahan yang dijadikan
sebagai sumber.
Cacing tanah yang dijadikan
sebagai sumber telah dibekukan dalam
freezer sebelumnya untuk menjaga enzim
yang terkandung di dalamnya agar tidak
terdenaturasi.
Tahap ekstraksi diawali dengan
pembersihan cacing dengan air mengalir
guna terbebas dari kotoran-kotoran
ataupun sel-sel debris (sel-sel mati) yang
menempel pada tubuh cacing kemudian
ditiriskan. Cacing tersebut lalu dilakukan
penimbangan seberat 26,1 gram
menggunakan neraca analitik agar hasil
penimbangan yang dilakukan memiliki
tingkat akurasi yang tinggi.
Selanjutnya cacing diblender
dengan penambahan dapar fosfat pada pH
6,8 sebanyak 20 ml. Penggunaan dapar
fosfat pH 6,8 dikarenakan dapar posfat
merupakan cairan yang komposisinya sama
dengan komposisi cairan yang terdapat
dalam tubuh makhluk hidup. Sehingga
isolasi enzim dilakukan dengan
pengondisian yang sama dengan tubuh
makhluk hidup.

Gambar 1. Pemblenderan cacing dengan
dapar fosfat
Setelah tekstur cacing cukup halus,
selanjutnya dilakukan penyaringan
menggunakan kain lap. Penggunan kain lap
untuk mempermudah penyaringan
sehingga dapat memisahkan ekstrak
berupa larutan dengan bagian tubuh cacing
yang tidak terblender atau tergiling dengan
sempurna.

Gambar 2. Penyaringan cacing yang telah
diblender
Kemudian ekstrak yang telah
disaring dimasukkan ke dalam labu ukur
100 ml kemudian di add larutan dapar
fosfat hingga 100 ml.

Gambar 3. Penambahan dapar fosfat
hingga 100 ml dalam labu ukur
Lalu hasilnya ditempatkan pada
suatu wadah, yakni beaker glass yang
ditutup rapat dengan plastic wrap dan
disimpan dalam kulkas untuk pengondisian
suhu enzim agar tidak terdenaturasi.

Gambar 4. Penempatan hasil ekstrak cacing

Fraksinasi enzim
Fraksinasi adalah proses pemisahan
suatu larutan menjadi fraksi atau bagian-
bagian tertentu. Pemisahan ini didasarkan
pada beda massa jenis tiap fraksi. Fraksi
yang memiliki massa jenis lebih berat akan
berada dibawah yang biasa disebut dengan
pelet, sementara fraksi yang memiliki
massa jenis yang tidak lebih berat akan
berada di atas yang biasa disebut
supernatant (Admin, 2010).
Tahap fraksinasi diawali dengan
mengambil ekstrak yang didapatkan dari
tahap ekstraksi sebelumnya sebanyak 30
ml, kemudian dimasukkan ke dalam 3
tabung sentrifugasi, masing-masing 10 ml.
Kemudian masing-masing tabung
dilakukan sentrifugasi dengan
menggunakan alat sentrifugator dengan
kecepatan 1000 rpm selama 2 menit yang
selanjutnya akan didapatkan endapan-
endapan pada bagian bawah tabung
sentrifugasi berupa sisa-sisa kotoran atau
debris yang masih terdapat dalam ekstrak.
Lalu sejumlah filtrate bagian supernatan
(atas) dari ketiga tabung dipisahkan
sementara bagian endapan yang
didapatkan tidak digunakan. Sebagian
filtrate dipisahkan dan disimpan dalam
botol vial yang disebut sebagai crude
extract.
Kemudian sisa filtrate lainnya
sejumlah 28ml dipindahkan kedalam
beaker glass dan ditambahkan garam
ammonium sulfat sebanyak 40%.
Campuran filtrate dan garam ammonium
sulfat kemudian dipindahkan ke dalam
tabung sentrifugasi kembali untuk
dilakukan sentrifugasi dengan
menggunakan alat sentrifugator dengan
kecepatan 5000 rpm selama 5 menit yang
selanjutnya akan didapatkan endapan-
endapan pada bagian bawah tabung
sentrifugasi berupa garam-garam dan
sejumlah protein berupa enzim. Lalu
sejumlah filtrate bagian supernatant (atas)
dipisahkan sementara bagian endapan
disimpan dalam botol vial sebagai fraksi
40%.
Sementara filtrate yang telah
dipisahkan sejumlah 29,1 ml dipindahkan
ke dalam beaker glass dan ditambahkan
garam ammonium sulfat sebanyak 40%
kembali. Campuran filtrate dan garam
ammonium sulfat kemudian dipindahkan
ke dalam tabung sentrifugasi kembali untuk
dilakukan sentrifugasi dengan
menggunakan alat sentrifugator dengan
kecepatan 5000 rpm selama 5 menit yang
selanjutnya akan didapatkan endapan-
endapan pada bagian bawah tabung
sentrifugasi berupa garam-garam dan
sejumlah protein berupa enzim. Lalu
sejumlah filtrate supernatant (atas)
dipisahkan sementara bagian endapan
disimpan dalam botol vial sebagai fraksi
80%.
Penambahan garam menyebabkan
larutan enzim mengalami peristiwa salting
out yaitu daya larut protein berkurang
sehingga enzim terpisah sebagai endapan.
Proses ini bertujuan untuk memekatkan
konsentrasi enzim dan fraksinasi komponen
protein berdasarkan sifat ioniknya
(Sumarlin, 1998).
Hasil fraksi 40% dan fraksi 80%
kemudian dilakukan tahap dialisis untuk
memisahkan enzim yang didapatkan
dengan garam-garam ammonium sulfat
yang masih terkandung dalam masing-
masing fraksi. Garam ammonium sulfat dan
ion-ion pengganggu pada larutan enzim
dapat mempengaruhi kestabilan molekul
protein enzim selama penyimpanan.
Penggunaan garam ammonium
sulfat dikarenakan garam ammonium sulfat
merupakan garam kation monovalent yang
mempunyai daya larut tinggi dalam air.
Selanjutnya masing-masing fraksi
dilarutkan dalam 5 ml buffer fosfat
kemudian ditempatkan pada kantong
selofan yang bersifat semipermeabel yang
direndam pada beaker glass dengan 50 ml
buffer fosfat dalam pengondisian suhu 4
O
c
menggunakan es batu. Mekanisme yang
terjadi selama dialisis adalah difusi. Selama
proses dialisis konsentrasi ammonium
sulfat di dalam kantong selofan yang
memiliki kadar lebih tinggi akan keluar dari
kantong hingga tercapai kondisi
keseimbangan. Kemudian setelah tahap
dialisis dilakukan selama 1 jam dilakukan
penggantian larutan buffet fosfat sebanyak
50 ml. Untuk mengetahui masih ada atau
tidaknya garam ammonium sulfat pada
masing-masing fraksi dapat dilakukan
pengecekkan dengan dengan Ba(OH)
2
.
Fraksi dalisat yang mengandung garam
akan berwarna putih jika direaksikan
dengan Ba(OH)
2
.
Lalu setalah proses dialisis telah
mencapai kondisi setimbang, fraksi yang
tertahan dalam kantong selofan
ditempatkan pada masing-masing botol vial
dan disimpan di dalam kulkas.

Admin. 2010. Dasar-Dasar Isolasi Protein
Dapat diakses di:
http://inherent.brawijaya.
ac.id/biomolmateri/lecture13.pdf.h
tml/ (27 Mei 2014)
Lehninger, A. L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia
Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Sumarlin, L. O. 1998. Aktivitas Protease
dari Bacillus circulans pada
Berbagai Tahap Pemurnian.
Laporan Penelitian Jurusan Kimia
Fakultas MIPA IPB, Bogor