Anda di halaman 1dari 14

Jaminan mutu (quality assurance) pelayanan kesehatan,

Bentuk PMM Prospektif, Peningkatan mutu


berkelanjutan, Bentuk PMM Konkurent
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu Layanan Kebidanan



Disusun Oleh:
1. Garnis Yuniar 130103100007
2. Ai Rosmiati 130103100009
3. Febi Alvianti 130103100035
4. Putri Meitara Cita B 130103100038
5. Lastiar Veronika Silaban 130103100041
6. Siti Nurjanah 130103100066
7. Popy Meilia Anzani 130103100067
8. Sylvia Sulis 130103100068
9. Saskia Kusuma Wardhani 130103100070
10. Irna Purwanti Rahayu 130103100073
11. Liriana Dita Pramestika 130103100075

Angkatan
VI

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2012



Program Menjaga Mutu

1. Pengertian "Mutu" Dalam Pelayanan Kesehatan
Mutu" adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasen ditingkatkan mendekati
hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan (JCAHO
1993). Definisi tersebut semula melahirkan 12 faktor-faktor yang menentukan mutu
pelayanan kesehatan, belakangan dikonversi menjadi dimensi 'mutu kinerja'
(performance) yang dituangkan dengan spesifikasi seperti dibawah ini :

1. Kelayakan :
Adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan relevan terhadap
kebutuhan klinis pasien dan memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan
keadaannya.
2. Kesiapan :
Adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak dapat memenuhi
kebutuhan pasen sesuai keperluannya.
3. Kesinambungan :
Adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasen terkoordinasi dengan baik
setiap saat, diantara tim kesehatan dalam organisasi .
4. Efektifitas :
Adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasen dilakukan dengan
benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai dengan keadaannya, dalam
rangka memenuhi harapan pasien.
5. Kemanjuran :
Adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasien dapat
diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan pasien.
6. Efisiensi :
Adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien terhadap sumber-sumber yang
dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasien.
7. Penghormatan dan perhatian :
Adalah tingkat dimana pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang
perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut perhatian terhadap pemenuhan
kebutuhan pasen serta harapan-harapannya dihargai.
8. Keamanan :
Adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi untuk
melindungi pasien dan orang lain, termasuk petugas kesehatan.
9. Ketepatan waktu :
Adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan kepada pasien tepat waktu
sangat penting dan bermanfaat.

Upayapencarianterhadaphal-halpenting yang dicakupdalamdefinisitentang "MUTU
telahbanyakdibahasdalamliteratur. Donabedianmenyatakanbahwa,
tidaksatupundefinisidapatmemenuhipersyaratandengantepattentangarti "mutu",
danuntukmengatasihaltersebutadatigapengertian yang diberikanyaitu:
(1) Definisi absolutis :
Mutu adalah pertimbangan atas kemungkinan adanya keuntungan dan kerugian
terhadap kesehatan sebagai dasar tata nilai praktisi kesehatan tanpa memperhatikan
biaya.
(2) Definisi individualistis :
Berfokus pada keuntungan dan kerugian dari harapan pasien dan konsekuensi lain
yang tidak diharapkan.
(3) Definisi sosial :
Mutu meliputi biaya pelayanan, kontinum dari keuntungan atau kerugian, serta
distribusi pelayanan sebagai rata nilai masyarakat secara umum.

Tantangan yang dihadapi oleh praktisi adalah bagaimana menjaga keseimbangan
antara nilai-nilai kemanusiaan, sumber-sumber teknologi, kualitas hidup, inovasi dan
kenyataan ekonomi, yang memungkinkan untuk memberikan pelayanan terbaik. Hal tersebut
tidak berarti menghilangkan pengertian universal dari mutu untuk memperoleh pengakuan.
Ketiadaan definisi formal tentang mutu, bukan berarti pasen atau provider tidak akan dapat
mengidentifikasi ketiadaan mutu itu sendiri, atau mutu yang berada dibawah standar,
misalnya: makanan disajikan dingin, penusukan vena dalam kondisi normal 3-4 kali, terjadi
decubitus atau infeksi post operatif, pasien jatuh, salah pemberian obat semua itu
menunjukkan mutu yang rendah. Pengertian mutu kinerja diukur melalui dimensi pengukuran
yang tegas yaitu standar tertulis yang jelas. Standar menentukan mutu atau kinerja dan
diberikan secara langsung serta hasilnya dapat dilihat dari pelayanan tersebut. Standar adalah
patokan untuk menentukan tingkat mutu. Standar merupakan pernyataan tertulis dari tata nilai
peraturan-peraturan, kondisi dan tindakan pada pasen, staf, atau sistem yang disahkan oleh
pihak berwenang

2. Dari Jaminan Mutu (Quality Assurance) Menuju Peningkatan Mutu (Quality
Improvement)
Pengertian :
1. Jaminan mutu (QA) adalah suatu proses untuk mengevaluasi perawatan pada suasana
khusus, dengan mengembangkan standar pelayanan dan menerapkan mekanisme
untuk menjamin bahwa standar dapat terpenuhi (Coyne and Killien).

2. Jaminan mutu (QA) adalah suatu proses yang obyektif dan sistematis dalam
memonitor dan mengevaluasi mutu dan kesiapan dalam pelayanan terhadap pasen
dalam meningkatkan pelayanan, dan memecahkan masalah yang telah diidentifikasi
(JCAHO). Kesiapan merujuk pada pengertian lebih luas dimana prosedur khusus,
kesesuaian dalam suasana khusus dan pelayanan yang efisien, mengindikasikan
kelebihan maupun kekurangannya.
Dalam kaitan diatas belakangan Lexiton (JCAHO), mendefinisikan QA dalam tiga
kegiatan yang tidak terpisahkan;
a. Merencanakan suatu produk atau pelayanan dan pengendalian produknya yang
tidak dapat dilepaskan dari mutu. Dalam pelayanan kesehatan, aktifitas dan
program dimaksudkan menjamin atau memberi garansi terhadap mutu.
b. Pengendalian mutu: adalah suatu proses dimana kinerja aktual dinilai atau
diukur, dan dibandingkan dengan tujuan, serta perbedaan atau penyimpangan
ditindak lanjuti dengan menggunakan metoda statistik.
c. Peningkatan mutu : proses pencapaian snatu tingkat kinerja atau mutu barn yang
lebih tinggi dari sebelunmya. Pencapaian tingkat mutu bam. adalah yang terbaik
dari pads tingkat mutu sebelumnya.

3. Jaminan Mutu (QA) adalah suatu proses yang dilaksanakan secara berkesinambungan,
sistematis, obyektif dan terpadu untuk; Menetapkan masalah dan penyebabnya
berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan upaya penyelesaian masalah
dan melaksanakan sesuai kemampuan menilai pencapaian hasil dengan menggunakan
indikator yang ditetapkan, menetapkan dan menyusun tindak lanjut untuk
meningkatkan mutu pelayanan.
Walaupun mutu tidak selalu dapat dijamin tetapi dapat diukur. Jika bisa diukur,
berarti bisa ditingkatkan dan dapat disempurnakan. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi indikator kunci mutu dalam pelayanan, memonitor indikator tersebut
dan mengukur mutu hasilnya. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah
mengidentifikasi proses - proses kunci yang mengarah pada hasil tersebut (outcome).
Dengan berfokus pada upaya peningkatan proses, tingkat mutu dari hasil yang dicapai
akan meningkat. Jadi, upaya pendekatan yang dilakukan diawali dari jaminan mutu
(QA), mengarah pada peningkatan mutu yang proaktif (QI). Bila ada yang berpikir
"mutu dibawah standar, jangan ikut terlibar, mentalitas seperti itu seharusnya
dirubah menjadi "walaupun mutu dibawah standar, tapi masih dapat ditingkatkan".
Bila mutu diartikan seberapa baik suatu organisasi ditampilkan, usaha untuk
meningkatkan mutu akan dapat diperbaiki melalui peningkatan kinerja.

Tujuan dan Manfaat QA
1. Pemahaman staf terhadap tingkat mutu pelayanan yang ingin dicapai
2. Meningkatkan efektifitas pelayanan yang diberikan.
3. Mendorong serta meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.
4. Melindungi pelaksana pelayanan kesehatan dari gugatan hukum.
5. Tujuan akhir adalah semakin meningkatnya mutu pelayanan

3. Pengertian Program Menjaga Mutu
Pengertian program menjaga mutu terdiri dari bebrapa bentuk antar lain adalah:
a. Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambungan, sistematis dan
objektif dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggarakan
dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah
yang ditemukan untuk memperbaiki mutu pelayanan (Maltos & Keller, 1989).
b. Program menjaga mutu adalah suatu proses untuk memperkecil kesenjangan antara
penampilan yang ditemukan dengan keluaran yang diinginkan dari suatu sistem,
sesuai dengan batas-batas teknologi yang dimiliki oleh sistem tersebut (Ruels &
Frank, 1988).
c. Program menjaga mutu adalah suatu upaya terpadu yang mencakup identifikasi dan
penyelesaian masalah pelayanan yang diselenggarakan, serta mencari dan
memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk lebih meningkatkan mutu
pelayanan (The American Hospital Association, 1988).
d. Program menjaga mutu adalah suatu program berlanjut yang disusun secara objektif
dan sistematis dalam memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan,
menggunakan berbagai peluang yang tersedia untuk meningkatkan pelayanan yang
diselenggarakan serta menyelesaikan berbagai masalah yang ditemukan (Joint
Commission on Acreditation of Hospitals, 1988).
Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan
penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan,
menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan
kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran
tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan.

Tujuan
Tujuan program menjaga mutumencakupduahal yang bersifatpokok, yang jika
disederhanakandapatdiuraikansebagaiberikut:
a. Tujuanantara.
Tujuanantara yang ingindicapaioleh program
menjagamutuialahdiketahuinyamutupelayanan. Jikadikaitkandengankegiatan
program menjagamutu,
tujuaninidapatdicapaiapabilamasalahsertaprioritasmasalahmutuberhasilditetapkan.
b. Tujuanakhir.
Tujuanakhir yang ingindicapaioleh program
menjagamutuialahmakinmeningkatnyamutupelayanan.
Jikadikaitkandengankegiatan program menjagamutu,
tujuaninidapatdicapaiapabilamasalah dan penyebabmasalahmutuberhasildiatasi.

Manfaat
Apabila program menjagamutudapatdilaksanakan, banyakmanfaat yang akan diperoleh.
Secaraumumbeberapamanfaat yang dimaksudkanadalah:
a. Dapatlebihmeningkatkanefektifitaspelayanankesehatan.
Peningkatanefektifitas yang dimaksud di sini erat
hubungannyadengandapatdiselesaikannyamasalah yang
tepatdengancarapenyelesaianmasalah yang benar. Karenadengandiselenggarakannya
program
menjagamutudapatdiharapkanpemilihanmasalahtelahdilakukansecaratepatsertapemilih
an dan pelaksanaancarapenyelesaianmasalahtelahdilakukansecarabenar.
b. Dapat lebih meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan.
Peningkatan efesiensi yang dimaksudkan disini erat hubungannya dengan dapat
dicegahnya penyelenggaraan pelayanan yang berlebihan atau yang dibawah standar.
Biaya tambahan karena pelayanan yang berlebihan atau karena harus mengatasi
berbagai efek samping karena pelayanan yang dibawah standar akan dapat dicegah
.
c. Dapat lebih meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Peningkatan penerimaan ini erat hubungannya dengan telah sesuainya pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat sebagai
pemakai jasa pelayanan. Apabila peningkatan penerimaan ini dapat diwujudkan, pada
gilirannya pasti akan berperan besar dalam turut meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat secara keseluruhan.

d. Dapat melindungi pelaksana pelayanan kesehatan dari kemungkinan munculnya
gugatan hukum.
Pada saat ini sebagai akibat makin baiknya tingkat pendidikan dan keadaan sosial
ekonomi masyarakat serta diberlakukannya berbagai kebijakan perlindungan publik,
tampak kesadaran hukum masyarakat makin meningkat pula. Untuk melindungi
kemungkinan munculnya gugatan hukum dari masyarakat yang tidak puas terhadap
pelayanan kesehatan, tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan kecuali berupaya
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terjamin mutunya. Dalam kaitan itu
peranan program menjaga mutu jelas amat penting, karena apabila program menjaga
mutu dapat dilaksanakan dapatlah diharapkan terselenggaranya pelayanan kesehatan
yang bermutu, yang akan berdampak pada peningkatan kepuasan para pemakai jasa
pelayanan kesehatan.

Syarat
Syarat program menjaga mutu banyak macamnya, beberapa dari persyaratan yang
dimaksud dan dipandang penting ialah:
a. Bersifat khas.
Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah harus bersifat khas, dalam arti jelas
sasaran, tujuan dan tata cara pelaksanaannya serta diarahkan hanya untuk hal-hal yang
bersifat pokok saja. Dengan adanya syarat seperti ini, maka jelaslah untuk dapat
melakukan program menjaga mutu yang baik perlu disusun dahulu rencana kerja
program menjaga mutu.
b. Mampu melaporkan setiap penyimpangan.
Syarat kedua yang harus dipenuhi ialah kemampuan untuk melaporkan setiap
penyimpangan secara tepat, cepat dan benar. Untuk ini disebut bahwa suatu program
menjaga mutu yang baik seyogianya mempunyai mekanisme umpan balik yang baik.
c. Fleksibel dan berorientasi pada masa depan.
Syarat ketiga yang harus dipenuhi ialah sifatnya yang fleksibel dan berorientasi
pada masa depan. Program menjaga mutu yang terlau kaku dalam arti tidak tanggap
terhadap setiap perubahan, bukanlah program menjaga mutu yang baik.
d. Mencerminkan dan sesuai dengan keadaan organisasi.
Syarat keempat yang harus dipenuhi ialah harus mencerminkan dan sesuai dengan
keadaan organisasi. Program menjaga mutu yang berlebihan, terlalu dipaksakan
sehingga tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak akan ekonomis dan
karena itu bukanlah suatu program yang baik.
e. Mudah dilaksanakan.
Syarat kelima adalah tentang kemudahan pelaksanaannya, inilah sebabnya sering
dikembangkan program menjaga mutu mandiri (Self assesment). Ada baiknya program
tersebut dilakukan secara langsung, dalam arti dilaksanakan oleh pihak-pihak yang
melaksanakan pelayanan kesehatan .
f. Mudah dimengerti.
Syarat keenam yang harus dipenuhi ialah tentang kemudahan pengertiannya.
Program menjaga mutu yang berbelit-belit atau yang hasilnya sulit dimengerti,
bukanlah suatu program yang baik.

Perbaikan kualitas pelayanan kebidanan
Dalam pelayanan kebidanan di Indonesia, perbaikan kualitas pelayanan kebidanan
melibatkan pihak-pihak terkait, baik langsung maupun tidak langsung dalam pemberian
asuhan kebidanan itu sendiri. Pihak-pihak terkait tersebut adalah bidan, organisasi profesi,
pemerintah, dan pendidikan kebidanan.

a. Bidan sebagai provider
Bidan harus mampu menjadi konselor untuk menjalankan peran dan fungsinya sebagai
pendidik di tengah-tengah masyarakat. Sebagai konselor, bidan harus mampu
meyakinkan ibu bahwa ia berada dalam asuhan orang yang tepat sehingga ibu mau
berbagi cerita seputar permasalahan kesehatan reproduksi yang dialaminya dan ibu
mau menerima asuhan yang diberikan bidan.
Sifat seorang konselor yang baik :
o Mau mengajar dari dan melalui pengalaman
o Mampu menerima orang lain
o Mau mendengarkan dan sabar
o Optimis
o Respek
o Terbuka terhadap pandangan dan interaksi yang berbeda
o Tidak menghakimi
o Menyimpan rahasia
o Mendorong pengambilan keputusan
o Memberi dukungan
o Membentuk dukungan atas dasar kepercayaan
o Mampu berkomunikasi
o Mengerti perasaan dan kekhawatiran orang lain
o Mengerti keterbatasan mereka

b. Organisasi profesi
Bidan berada di bawah naungan sebuah organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia
(IBI) yang terus-menerus memperhatikan peningkatan kualitas anggotanya dan juga
selalu berupaya untuk tetap memberi pelayanan yang terbaik dan meningkatkan terus
mutu pelayanan kebidanan. Organisasi profesi IBI merupakan tempat bagi bidan untuk
menyampaikan aspirasi, ide, dan pemikiran mereka serta menjamin keprofesionalan
para anggotanya. Oleh karena itu, IBI harus terus berupaya dan berjuang
meningkatkan keterampilan klinis dan komunikasi anggotanya.
Banyak upaya telah dilakukan organisasi profesi untuk tetap meningkatkan kualitas
pelayanan kebidanan, antara lain :
Mengharuskan setiap anggotanya untuk mempunyai standar kompetensi minimal
dan terus meningkatkan keterampilan serta pengetahuan mereka. Standar
kompetensi minimal terpenting dalam menjaga keselamatan ibu dan anak harus
dikuasai bidan.
Pelatihan APN, dalam rangka mengurangi risiko kematian pada ibu melahirkan
dan mengurangi serta menurunkan angka kematian ibu dan anak.
IBI tahun 2004, meluncurkan program Bidan Delima. Bidan Delima merupakan
program mencapai standar pelayanan tinggi sesuai dengan aturan organisasi
kesehatan dunia (world health organization/WHO), seperti kemampuan bidan
menolong persalinan sampai asuhan pada masa nifas/pascapersalinan, masa
interval, pelayanan keluarga berencana (KB), kewaspadaan universal (pemberian
pelayanan yang aman dan penggunaan alat-alat steril), memperlakukan pasien
secara manusiawi.
IBI selalu mengupayakan anggotanya dapat meningkatkan kualitas diri dan
pelayanannya, baik untuk jenjang pendidikan bidan maupun kemudahan
penyediaan sarana klinik bidan swasta, seperti menjalin kerja sama dengan
organisasi dan badan keuangan untuk penyediaan kredit modal kerja berupa obat-
obatan bebas maupun obat-obatan kontrasepsi. Program ini dikenal dengan
program pemberdayaan keluarga melalui penyaluran kredit bidan mandiri.
Dengan demikian, bidan swasta mampu memberi pelayanan KB mandiri terutama
pada keluarga yang relatif kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan. Bidan juga mendapat bantuan pinjaman dana untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Memberi motivasi kepada anggotanya melalui pemberian penghargaan kepada
bidan. Misalnya, IBI DKI member penghargaaan kepada bidan dengan criteria
Bidan Bersih Prestasi, Bidan Bintang, Bidan Sahabat, Bidan Delima.
STARH (Sustaining Technical Achievement in Reproductive Health) membantu
IBI menyusun suatu sistem pelatihan terpadu hingga seorang bidan yang telah
mengikuti pelatihan ini menjadi bidan yang berkualitas untuk member pelayanan
KB sesuai standar. Dengan memiliki kemampuan berkualitas, seorang bidan
Delima diharapkan dapat memberi pelayanan terbaik hingga kepuasan
pelanggannya meningkat dan pada akhirnya kepercayaan pelanggan pun makin
meningkat.

c. Dukungan pemerintah
Dukungan pemerintah terhadap program IBI juga sangat dibutuhkan.
Perhatian pemerintah terhadap pelayanan kebidanan dan pendidikan kebidanan
mempunyai peran sangat penting untuk peningkatkan kualitas pelayanan kebidanan.
Di sektor pendidikan, misalnya, tenaga bidan yang masih sangat minim membuat
pemerintah membuka seluas-luasnya kesempatan penyelenggaraan pendidikan
kebidanan sementara di Indonesia. Sampai sekarang strata pendidikan kebidanan
belum ada yang mencapai S1. Pilihan bagi bidan hanya mencakup diploma (D3 atau
D4), sementara untuk meneruskan pendidikan di luar negeri tentu membutuhkan biaya
besar.

d. Pendidikan bidan
Cara yang paling tepat untuk berhasil melaksanakan kebijakan mutu yang jelas
adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan lulusan
yang berkualitas. Bidan yang di didik dengan fokus pada kualitas tentu memberi
sumbangan kecakapan, keterampilan, dan professional bagi bangsa dan Negara.


4. Bentuk-Bentuk Program Menjaga Mutu
1. Program Menjaga Mutu prospektif
Program Menjaga Mutu Prospektif (Prospective Quality Assurance)
Adalah program menjaga mutu yang diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan.
Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditunjukkan pada standar masukan dan standar
lingkungan yaitu pemantauan dan penilaian terhadap tenaga pelaksana, dana, sarana,
di samping terhadap kebijakan, organisasi, dan manajemen institusi kesehatan.
Prinsip pokok program menjaga mutu prospektif sering dimanfaatkan dan tercantum
dalam banyak peraturan perundang-undangan, di antaranya : Standardisasi
(Standardization),perizinan (Licensure), Sertifikasi (Certification), akreditasi
(Accreditation).
1. Lisensi
Lisensi adalah proses administasi yang dilakukan oleh pemerintah atau yang
berwewenang berupa surat izin praktik yang diberikan kepada tenaga profesi yang
telah teregistrasi untuk pelayanan mandiri.
Tujuan lisensi:
a. Tujuan umum lisensi :
Melindungi masyarakat dari pelayanan profesi.
b. Tujuan khusus lisensi :
Memberi kejelasan batas wewenang dan menetapkan sarana dan prasarana.
2. Akreditasi
Akreditasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan
satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang
dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria yang terbuka
3. Standarisasi
Standarisasi adalah suatu pernyataan tentang mutu yang diharapkan yaitu yang
menyangkut masukan proses dari system pelayanan kesehatan.

2. Program menjagamutukonkuren (Concurentquality assurance)
Yang dimaksud dengan Program menjagamutukonkurenadalah yang
diselenggarakanbersamaandenganpelayanankesehatan.
Padabentukiniperhatianutamalebihditujukanpadastandar proses, yaknimemantau dan
menilaitindakanmedis, keperawatan dan non medis yang dilakukan.
Mutupelayanankesehatansebenarryamenunjukpadapenampilan(performance) dari
pelayanankesehatan yang dikenaldengan Keluaran(output) yaituhasilakhirkegiatan
dari tindakandokter dan tenagaprofesilainnyaterhadappasien,
dalamartiperubahan derajatkesehatan dan kepuasanbaik positif
maupunsebaliknya. Sedangkanbaikatautidaknyakeluarantersebutsangatdipengaruhiol
eh proses (process), masukan (input) dan lingkungan(environment).
Makajelaslahbahwabaikatautidaknyamutu pelayanankesehatansangatdipengaruhio
lehunsur-unsurtersebut, dan
untukmenjaminbaiknyamutupelayanankesehatan ketigaunsurharusdiupayakansedemi
kian rupa agar sesuaidenganstandar dan ataukebutuhan.


3. Program Menjaga Mutu Restrospektif (Retrospective Quality Assurance)
Yang dimaksud dengan program menjaga mutu restrospektif adalah yang
diselenggarakan setelah pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih
ditujukan pada standar keluaran, yakni memantau dan menilai penampilan pelayanan
kesehatan, maka obyek yang dipantau dan dinilai bersifat tidak langsung, dapat
berupa hasil kerja pelaksana pelayanan .atau berupa pandangan pemakai jasa
kesehatan. Contoh program menjaga mutu retrospektif adalah : Record review, tissue
review, survei klien dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Assaf. 2009. Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : EGC.
2. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
PT. Rineka Cipta.
3. Juliana, Erna. 2008. Manajemen Pelayanan Kebidanan. Jakarta : EGC.
4. Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
5. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.