Anda di halaman 1dari 18

1

TUGAS
PENDIDIKAN PANCASILA


OLEH :

KELOMPOK 2 (KELAS A)
1. AISYAH HAMBALI (O1A114004)
2. DESY (O1A114008)
3. ISMAR WULAN (O1A114017)
4. PUTRI CANDRASARI (O1A114038)
5. LD.MUH.HIDAYAT H. (O1A114020)
6. ARI PUTRA UTAMA (O1A114005)
7. MEYLANI AMIR (O1A114025)
8. NUR ALIF FATUH R. (O1A114033)
9. NABILA SARASWATI H. (O1A114029)
10. NUR AFNI RIDWAN (O1A114032)


FAKULTAS FARMASI
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
2014
2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan
penyusunan makalah kelompok ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu
tugas Mata Kuliah PENDIDIKAN PANCASILA, yang berjudul Pancasila Sebagai
Sistem Filsafat.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu. Makalah ini telah disusun berdasarkan
sumber-sumber yang ada, namun kami menyadari bahwa makalah ini masih belum
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan akan
kami terima dengan senang hati. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.












Kendari, 25 September 2014


Penulis


3



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. 1
KATA PENGANTAR .......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................
A. Latar Belakang ................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5
C. Tujuan ..5
D. Manfaat ........................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 6-7
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................... 8-15

BAB IV PENUTUP ............................................................................................
A. Kesimpulan ..................................................................................... 16-17
B. Saran ............................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18


4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila
memang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT dan ternyata merupakan light-
star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya, baik sebagai pedoman
dalam memperjuangkan kemerdekaan, juga sebagai alat pemersatu dalam kehidupan
berbangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-
hari. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama
dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres
Nomor 12 tahun 1968 adalah Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan
yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Lima, Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu
ialah, Mr. Mohammad Yamin, Prof. Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Dapat
dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan
kisruh politik di negara ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam
Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia
menentang toleransi.
Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh
seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan
menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan
proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga
baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa
dan negara Indonesia.
5
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah
dari penelitian ini adalah:
1. Pengertian dari Pancasila sebagai Sistem filsafat?
2. Bagaimana Rumusan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem?
3. Bagaimana Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental?
4. Bagaimana Intisari Sila-sila Pancasila?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian Pancasila sebagai Sistem Filsafat
2. Untuk mengetahui Rumusan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem
3. Untuk mengetahui dan membuktikan bahwa Pancasila sebagai Nilai Dasar
Fundamental
4. Untuk memahami Intisari Sila-sila Pancasila

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang disimpulkan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sumber informasi bagi sebagian orang yang belum mengetahui apa itu
Pancasila sebagai Sistem Filsafat.
2. Sebagai sumber informasi yang berkaitan erat dengan Pancasila sebagai Sitem
filsafat.
3. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi pembuatan makalah.
4. Sebagai sarana belajar bagi mahasiswa.


6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Selama manusia hidup sebenarnya tidak seorang pun dapat menghindar dari
kegiatan berfilsafat. Adapun arti dalam pengertian dari Pancasila sebagai Sistem
Filsafat adalah :
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai unsur, masing-masing
unsure mempunyai fungsi sendiri-sendiri, mempunyai tujuan yang sama, saling
keterkaitan (interrelasi) dan ketergantungan (interdependensi), sehingga merupakan
satu kesatuan yang bulat dan utuh. Pancasila adalah sebuah system karena pancasila
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Esensi seluruh sila-
silanya juga merupakan suatu kasatuan. Pancasila berasal dari kepribadian Bangsa
Indonesia dan unsur-unsurnya telah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sejak dahulu.
Secara garis besar Pancasila adalah suatu realita yang keberadan dan kebenaraannya
tidak dapat diragukan. Nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan dan keadilan harus menjadi pedoman dan tolak ukur bagi
seluruh kegiatan kemasyarakatan dan kenegaraan Bangsa Indonesia.
Menurut Roeslan Abdoelgani (1962), menyatakan bahwa pancasila adalah
filsafat Negara yang lahir sebagai collection ideologies dari keseluruhan bangsa
Indonesia. Filsafat Pancasial pada hakikatnya merupakan suatu realiteit atau
noodzakelijkheid bagi keutuhan persatuan Bangsa Indonesia.
Filsafat berasal dari bahasa yunani, yaitu philein (cinta) dan sophos
(kebenaran, hikmah atau bijaksanaan). Jadi kata filsafat berarti cinta kebenaran atau
cinta kebijaksanaan.
Filsafat Negara kita adalah Pancasila, yang diakui dan diterima oleh Bangsa
Indonesia sebagai pandangan hidup. Dengan demikian, Pancasila harus dijadikan
7
pedoman dalam kelakuan dan pergaulan sehari-hari. Sebagai pandangan hidup
bangsa, maka sewajarnyalah asas-asas pancasila disampaikan kepada generasi baru
melaluai pengajaran dan pendidikan. Pancasila menunjukan terjadinya proses ilmu
pengetahuan. Validitas, dan hakikat ilmu pengetahuan (teori ilmu pengetahuan).

















8
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
Secara etimologi istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani alphilein
artinya cinta dan shopos artinya hikmah atau kebijaksanaan atau wisdom
(Nasution, 1973). Keseluruhan arti filsafat yang meliputi berbagai masalah tersebut
dapat dikelompokkan menjadi dua macam sebagai berikut:
Pertama : Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian :
1. Filsafat sebagai jenis pengetahuan ilmu, konsep pemikiran-pemikiran
daripada filsafat pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau
sistem filsafat tertentu. Misalnya rasionalisme, materialisme, pragmatisme, dan lain
sebagainya.
2. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai
hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang tinggi dari
persoalan yang bersumber pada akal sehat.
Kedua : Filsafat sebagai suatu proses yang mencakup pengertian :
suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses suatu pemecahan permasalahan
dengan menggunakan cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objeknya. Dalam
pengertian ini filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan yang bersifat dinamis.
Filsafat dalam pengertian ini tidak lagi hanya merupakan suatu kumpulan dogma
yang hanya diyakini, ditekuni dan dipahami sebagai suatu nilai tertentu tetapi lebih
merupakan suatu aktivitas berfilsafat suatu proses yang dinamis dengan
menggunakan suatu metode tersendiri.
Adapun cabang-cabang filsafat yang pokok adalah, sebagai berikut:
Metafisika, membahas tentang hal-hal yang bereksistensi dibalik fisis, yang meliputi
bidang-bidang, antologi, kosmologi, dan antropologi.
Epistemologi, membahas tentang hakikat pengetahuan.
Metodologi, membahas tentang hakikat metode dalam ilmu pengetahuan.
Logika, membahas tentang filsafat berfikir, yaitu rumus-rumus dan dalil-dalil berfikir
yang benar.
Etika, membahas tentang moralitas, dan tingkah laku manusia.
9
B. Rumusan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem

Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakekatnya merupakan suatu sistem
filsafat. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yaitu saling
berhubungan, saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Sistem lazimnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Suatu kesatuan bagian-bagian.
2) Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
3) Saling berhubungan dan saling ketergantungan.
4) Keseluruhannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
5) Terjadi dalam suatu lingkungan yag kompleks.
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila setiap sila pada
hakekatnya merupakan suatu azas sendiri, fungsi sendiri-sendiri namun secara
keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematis.

1. Susunan sila-sila pancasila yang bersifat organis
Isi sila-sila Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan Dasar Filsafat
negara berdasarkan lima sila yang masing-masing merupakan suatu azas kehidupan.
Kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat organis tersebut pada hakikatnya secara
filosofis bersumber pada hakikat dasar antologis manusia sebagai pendukung dari
inti, isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia monopluralis yang memiliki
unsur-unsur, susunan kodrat jasmani dan rohani, sifat kodrat individu-makhluk
sosial, dan kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri sendiri-makhluk Tuhan Yang
Maha Esa.

2. Dasar epistemologi sila-sila Pancasila
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem
pengetahuan. Sebagai suatu ideologi maka Pancasila memiliki tiga unsur pokok agar
dapat menarik loyalitas dari pendukungnya yaitu: 1) Logos yaitu rasionalitas atau
penalaran, 2) Pathos yaitu penghayatan, dan 3) Ethos yaitu kesusilaan. Dasar
epitemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar
ontologisnya. Pancasila sebagai ideologi bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu
10
filsafat Pancasila. Oleh karena itu dasar epistemologi tidak dapat dipisahkan dengan
konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Kalau manusia merupakan basis ontologis
dari Pancasila maka dengan demikian mempunyai implikasi terhadap bangunan
epistemologi , yaitu bangunan epistemologi yang ditempatkan dalam bangunan
filsafat manusia.


3. Dasar aksiologis sila-sila Pancasila
Sila-sila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya
sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga
merupakan suatu kesatuan. Terdapat berbagai macam teori tentang nilai dan hal ini
sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam
menentukan tentang pengertian nilai dan hirarkinya. Misalnya kalangan materialis
memandang bahwa hakikat nilai yang tertinggi adalah nilai material, kalangan
hedonis berpandangan bahwa nilai tertinggi adalah nilai kenikmatan. Namun dari
berbagai macam pandangan tentang nilai dapat kita kelompokkan pada kedua macam
sudut pandang yaitu bahwa sesuatu itu bernilai karena berkaitan dengan subjek
pemberian nilai yaitu manusia. Hal ini bersifat subjektif namun juga terdapat
pandangan bahwa pada hakikatnya sesuatu itu memang pada dirinya sendiri memang
bernilai, ini merupakan pandangan dari paham objektivisme.

4. Nilai-nilai Pancasila sebagai suatu sistem.
Isi arti sila-sila Pancasila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat Pancasila
yang umum universal yang merupakan substansi sila-sila Pancasila, sebagai pedoman
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara yaitu sebagai dasar negara yang bersifat
umum kolektif serta realisasi pengalaman Pancasila yang bersifat khusus dan konkrit.
Nilai-nilai yang terkandung dalam sila satu sampai dengan lingkungan merupakan
cita-cita harapan dan dambaan bangssa Indonesia yang akan diwujudkannya. Sejak
dahulu cita-cita tersebut telah didambakan oleh bangssa Indonesia agar terwujud
dalam suatu masyarakat yang gemah rifah loh junawi, tentram karta raharja. Dengan
penuh harapan diupayakan terealisasi dalam sikap tingkah laku dan perbuatan setiap
manusia.


11
C. Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental

1. Dasar Filosofis
Pancasila sebagai filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa pada hakekatnya
merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sistematis fundamental dan menyeluruh.

Dasar pemikiran filosofis yang terkandung dalam setiap sila dijelaskan sebagai
berikut. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Republik Indonesia,
mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan
kemasyarakatan dan kebangsaan harus berdasarkan nilai-nilai ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Pemirkiran filsafat kenegaraan
bertolak dari suatu pandangan bahwa negara adalah merupakan suatu persekutuan
hidup manusia atau organisasi kemsyarakatan, yang merupakan masyarakat hukum
(legal society).
Selain itu secara kausalitas bahwa nilai-nilai Pancasila adalah bersifat objektif
dan juga subjektif. Artinya asensi nilai-nilai Pancasila adalah bersifat universal yaitu
keutuhan, kemanusiaan persatuan, kerakyatan dan keadilan. Sehingga kemungkinan
dapat diterapkan pada negara lain walaupun barang kali namanya bukan Pancasila.
Artinya jika suatu negara menggunakan prinsip filosofi bahwa negara ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan berkeadilan, maka negara tersebut pada
hakekatnya menggunakan dasar filsafat dari sila-sila Pancasila.
Nilai-nilai Pancasila yang bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai berikut:
Rumusan dari sila-sila Pancasila, Inti nilai-nilai Pancasila, Pancasila yang terkandung
dalam pembukaan UUD 1945. Sebaliknya nilai-nilai subjektif Pancasila dapat
diartikan bahwa beradaan nilai-nilai Pancasila itu tergantung atau terlekat pada
bangsa Indonesia.
Pengertian itu dapat dijelaskan sebagai berikut: Nilai-nilai Pancasila timbul dari
Bangsa Indonesia, Nilai-nilai Pancasila merupakan filsafat (pandangan hidup) bangsa
Indonesia, Nilai-nilai Pancasila didalamnya terkandung ketujuh nilai kerohanian.

2. Nilai-nilai Pancasila sebagai Fundamental.
Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia merupakan suatu sumber
dari segala hukum dalam negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila terkandung dalam
12
pembukaan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah
negara yang fundamental.

Pokok pikiran pertama menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara
epersatuan, yaitu negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, mengatasi segala paham golongan maupun perseorangan. Hal ini
merupakan sila ketiga.

Pokok pikiran kedua menyatakan bahwa negara merupakan hendak mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini negara
berkewajiban mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh warga negara.
Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pokok pikiran ini sebagai
penjabaran sila kelima.

Pokok pikiran ketiga menyatakan bahwa negara berkedaulatan rakyat berdasarkan
atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan. Hal ini menunjukkan bahwa
negara Indonesia adalah negara demokrasi yaitu kedaulatan di tangan rakyat. Hal ini
sebagai penjabaran sila keempat.

Pokok pikiran keempat menyatakan bahwa, negara berdasarkan atas ketuhanan yang
Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Hal ini mengandung
arti bahwa negara Indonesia menjunjung tinggi keberadaban semua agama dalam
pergaulan hidup negara. Hal ini merupakan penjabaran sila pertama dan kedua.








13
D. Intisari Sila-sila Pancasila

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila Ketuhanan yang Maha Esa terkandung nilai bahwa negara yang didirikan sebagai
tujuan manusia serta sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, segala
yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, politik negara,
pemerintahan negara, hukum, dan peraturan perundang-undangan negara, kebebasan
hak asasi warga negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa.

2. Sila Kemanusiaan Yang adil dan Beradap

Sila kemanusiaan yang adil dan beradap secara sistematis didasari dan dijiwai
ketiga sila berikutnya. Sila kemanusiaan sebagai dasar fundamental dalam kehidupan
kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Nilai kemanusiaan ini bersumber pada
dasar filosofis antropologis bahwa hakikat manusia adalah susunan kodrat rohani
(jiwa) dan raga, sifat kodrat individu makhluk sosial, kedudukan kodrat makhluk
pribadi berdiri sendiri dan berbagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Negara harus
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradap.
Nilai kemanusiaan yang adil mengandung makna bahwa hakekat manusia sebagai
makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil.

3. Persatuan Indonesia

Sila persatuan Indonesia didasari dan diawali oleh sila ketuhanan yang Maha
Esa dan kemanusia yang adil dan beradab sert5a didasari dan dijiwai sila kerakyatan
yang dipimpin oleh Himat dan Kebijaksanaan dalam permusyawarata/perwakilan,
dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai
penjelmaan sifat kodrat manusia monodualitas yaitu sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi satu,
meningkatkan diri dalam satu persatuan yang dilukiskan dalam suatu Bhinneka
14
Tunggal Ika perbedaan bukannya untuk dirincingkan menjadi konflik dan
permusuhan, melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan
yaitu persatuan dalam kehidupan bersma untuk mewujudkan tujuan bersama. Nilai
persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila ketuahanan yang Maha Esa dan
kemanusiaan yang adil dan beradab.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan

Nilai yang terkandung dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan didasari oleh sila ketuhanan yang
Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta persatuan Indonesia, dan
mendasari serta menjiwai sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nilai filosofis yang terkandung didalamnya adalah bahwa hakekat negara
adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Sehingga dalam dalam sila kerakyatan terkandung nilai demokratis
yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam hidup negara, maka nilai demokrasi
yang terkandung dalam sila keempat adalah;

(1) Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab baik terhadap
masyarakat bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan yang Maha Esa.
(2) Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
(3) Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
(4) Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena
perbedaan adalah merupakan suatu bawaan kodrat manusia.
(5) Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok,
ras, suku, maupun agama.
(6) Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab.
(7) Menjunjung tinggi atas musyawarah, sebagai moral kemanusiaan yang beradab.
(8) Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar
tercapainya tujuan bersama.
15


5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial dan seluruh rakyat Indonesia
didasari dan dijiwai oleh keempat sila yang di atas. Maka dalam sila kelima
terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan
sosial) yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, banga dan negaranya serta
hubungan manusia dengan Tuhannya.

Konsekuensinya nilai-nilai keadilan yang haru terwujud dalam hidup bersama
adalah meliputi : Keadilan distributif , keadilan legal (keadilan bertaat), keadilan
komutatif.













16
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Berfilsafat adalah
berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sedangkan Pancasila sebagai sistem
filsafat adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling
bekerjasama antara sila yang satu dengan sila yang lain untuk tujuan tertentu dan
secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh yang mempunyai beberapa
inti sila, nilai dan landasan yang mendasar.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang
merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga
diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan
segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan.
Ciri sistem Filsafat Pancasila itu antara lain:
Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh.
Dengan kata lain, apabila tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila lainnya
terpisah-pisah maka itu bukan Pancasila.
Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat
digambarkan sebagai berikut:
Sila 1, meliputi, mendasari dan menjiwai sila 2,3,4 dan 5;
Sila 2, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, dan mendasari dan menjiwai sila 3, 4 dan 5;
Sila 3, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, 2, dan mendasari dan menjiwai sila 4, 5;
Sila 4, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3, dan mendasari dan menjiwai sila 5;
Sila 5, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3,4.
17
Inti sila-sila Pancasila meliputi:
Tuhan, yaitu sebagai kausa prima.
Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial.
Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri.
Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong Royong.
Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi
haknya.

B. Saran-saran
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan
penulisan makalah di kesempatankesempatan berikutnya. Semoga makalah ini
berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada
umumnya.







18
DAFTAR PUSTAKA
Hamid Darmadi, (2010), Pendidikan Pancasila, Konsep Dasar dan Implementasi,
Alfabeta; Bandung. 144-163
http://superfects.blogspot.com/2012/12/pancasila-sebagai-sistem-filsafat_5652.html
http://yulisnurmayanti.blogspot.com/2013/05/makalah-pancasila-sebagai-sistem.html

bab2-pancasila_sebagai_sistem_filsafat.pdf

Hasil kerja sama kelompok 2