Anda di halaman 1dari 26

GERAK LURUS DENGAN KECEPATAN KONSTAN DAN

PERCEPATAN KONSTAN
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Fisika Sekolah I









Disusun Oleh :
Saeful Bahri 1202604
Triyana Dewi 1200278

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2013
I. Kompetensi Inti
1.1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
1.2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
1.3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan, rasa ingintahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
1.4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret, dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

II. Kompetensi Dasar
I.1. Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan
pengukurannya.
2.1. Menunjukan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingintahu; objektif;
jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka;
kritis; kreatif; inovatif; dan peduli lingkungan) dalam aktifitas
sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan
percobaan, melaporkan, dan berdiskusi.
3.3. Menganalisis besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan
konstan dan gerak lurus dengan percepatan konstan.
4.1. Menyajikan hasil pengukuran besaran fisis dengan menggunakan
peralatan dan teknik yang tempat untuk penyelidikan ilmiah.
2.2. Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki
sifat gerak benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan
dan gerak lurus dengan kecepatan konstan.

III. Indikator
III.1. Mendefinisikan pengertian gerak.
III.2. Membedakan antara jarak dan perpindahan.
III.3. Membedakan antara kecepatan rata-rata dan kecepatan sesaat.
III.4. Membedakan antara percepatan rata-rata dan percepatan sesaat.
III.5. Menyimpulkan karakteristik gerak lurus beraturan (GLB) melalui
percobaan dan pengukuran besaran-besaran terkait.
III.6. Menganalisis grafik gerak lurus dengan kecepatan konstan.
III.7. Menyimpulkan karakteristik gerak lurus berubah beraturan (GLBB
melalui percobaan dan pengukuran besaran-besaran terkait.
III.8. Menganalisis grafik gerak lurus dengan percepatan konstan (grafik
s terhadap t dan grafik v terhadap t).
III.9. Menerapkan besaran-besaran fisika dalam GLB dalam bentuk
persamaan.
III.10. Mengunakan besaran-besaran GLB dalam pemecahan masalah.
III.11. Menerapkan besaran-besaran fisika dalam GLBB dalam bentuk
persamaan.
III.12. Menganalisis gerak parabola

IV. Materi Pokok
Gerak dengan Kecepatan Konstan dan Percepatan Konstan

V. Konsep-konsep Essensial
V.1. Gerak
V.2. Jarak
V.3. Perpindahan
V.4. Posisi
V.5. Waktu
V.6. Kelajuan
V.7. Kelajuan rata-rata
V.8. Kelajuan sesaat
V.9. Kecepatan
V.10. Kecepatan rata-rata
V.11. Kecepatan sesaat
V.12. Percepatan
V.13. Percepatan rata-rata
V.14. Percepatan sesaat.
V.15. Gerak lurus beraturan
V.16. Gerak lurus berubah beraturan
V.17. Gerak vertikal
V.18. Gerak lurus berubah tak beraturan
V.19. Gerak Parabola
















VI. Peta Konsep































Percepatan Sesaat
Kelajuan dan
Kecepatan
Gerak Lurus
Titik Acuan
Percepatan
Percepatan Rata-rata
Kelajuan Rata-rata
Gerak
Perpindahan
Kecepatan Sesaat
Kecepatan Rata-rata
Kelajuan Tetap
Jarak
Gerak Lurus Berubah
Beraturan (GLBB
Gerak Lurus
Beraturan (GLB)
Percepatan Tetap
Gerak Vertikal Ke Atas
Gerak Jatuh Bebas
Gerak Parabola
Dibagi
menjadi
Contoh
penerapan
Digabung
menjadi
Digabung
menjadi
VII. Uraian Materi
VII.1. Pengertian Gerak
Gerak merupakan sesuatu kata yang tidak asing lagi ditelinga kita.
Dalam kehidupan sehari-hari kata gerak sering kita jumpai berbagai
macam gerak seperti gerak mobil, gerak kipas angin, gerak benda-benda
langit, gerak daun yang jatuh dan sebagainya. Gerak dapat didefinisaikan
sebagai perubahan kedudukan atau posisi suatu benda terhadap titik acuan
tertentu.
Jika seseorang berpindah dari suatu tempat ketempat lain orang
tersebut telah melakukan gerak karena keduduknnya berubah. Tetapi pada
kata terhadap titik acuan tertentu menunjukan bahwa sifat gerak itu relatif,
tergantung pada acuan atau pengamatnya. Misalnya, jika Dewi sedang
berada di dalam sebuah mobil yang sedang bergerak dan ada orang yang
sedang berdiri di pinggir jalan, jika orang yang di pinggir jalan tersebut
dijadikan sebagai acuan maka mobil tersebut dikatan bergerak. Ini
dikarenakan posisi mobil setiap saat berubah terhadap orang yang berada
di pinggir jalan tersebut. Namun jika orang yang berada di dalam mobil
yang dijadikan acuan maka mobil tersebut dikatakan diam/ tidak bergerak.
Ini dikarenakan posisi mobil setiap saat tidak berubah terhadap anda. Dari
penjelasan diatas maka dikatakan bahwa gerak bersifat relatif. Untuk
menyatakan bahwa suatu benda bergerak atau tidak itu tergantung pada
titik acuannya.
Berdasarkan bentuk lintasan yang ditempuh benda, kita dapat
golongkan gerak menjadi beberapa macam antara lain gerak lurus, gerak
melingkar, dan gerak parabola.
VII.2. Kedudukan, Jarak, dan Perpindahan
Kedudukan diartikan sebagai letak (posisi) suatu benda pada waktu
tertentu terhadap acuan. Dalam fisika, jarak dan perpindahan memiliki
pengertian yang berbeda. Jarak diartikan sebagai panjang lintasan yang
ditempuh oleh suatu benda dalam selang waktu tertentu, dan merupakan
besaran skalar. Sedangkan Perpindahan didefinisikan sebagai perubahan
posisi benda dalam selang waktu tertentu dan merupakan beasaran vektor.
Jadi, perpindahan adalah seberapa jauh jarak benda tersebut dari titik
awalnya.





Perpindahannya adalah :
x = x
2
- x
1

= 5 1
= 4
Untuk lebih jelas dalam membedakan jarak dan perpindahan dapat
di aplikasikan dalam contoh soal sebagai berikut :
Suatu benda bergerak dari C ke B kemudian berbalik menuju titik O.
Hitung jarak dan perpindahannya



Pertama kita telah mengetahui jarak adalah panjang lintasan yang
ditempuh benda.
Jarak C ke O melalui C = panjang CBO
= panjang CB + panjang BO = 8 + 4 = 12
Sedangkan perpindahan dengan garis lurus mendatar dihitung dengan
persamaan : x
12
= x
2
- x
1

Perpindahan dari C ke O melalui titik B
x
CO
= x
O
- x
C


= 0 (-4 ) = 4

VII.3. Kecepatan dan Kelajuan
Pada kehidupan sehari-hari orang sering menggunakan kata
kecepatan meskipun yang dimaksud sebenarnya adalah kelajuan.
Misalnya, kereta itu bergerak dengan kecepatan 80 km/jam. Pernyataan ini
sebenarnya kurang tepat, karena kalau ingin menyatakan kecepatan,
arahnya harus disebutkan. Supaya benar pernyataan tersebut harus diubah
menjadi kereta itu bergerak dengan kecepatan 80 km/jam ke arah barat.
Kelajuan adalah cepat lambatnya perubahan jarak terhadap waktu dan
merupakan besaran scalar yang nilainya selalu positif, sehingga tidak
memedulikan arah. Kelajuan diukur dengan menggunakan spidometer.
Kecepatan adalah cepat lambatnya perubahan kedudukan suatu benda
terhadap waktu dan merupakan besaran vektor, sehingga memiliki arah.
Kecepatan diukur dengan menggunakan velocitometer.
VII.3.1. Kelajuan Rata-rata dan Kecepatan Rata-rata
Jika kita mengendarai mobil selama tiga jam perjalanan dan
menempuh jarak 180 km maka dapat dikatakan bahwa kelajuan rata-
rata adalah 180 km/3 jam atau 60 km/jam. Secara umum, kelajuan
rata-rata didefinisikan jarak yang ditempuh oleh suatu benda dibagi
waktu yang di perlukan.





Keterangan : v
rata-rata
= kelajuan rata-rata ms
-1
,
s = jarak tempuh total (m),
t = waktu yang diperlukan (s).
Konsep kecepatan serupa dengan konsep kelajuan, tetapi
berbeda karena kecepatan mencakup arah gerakan. Kecepatan
rata-rata didefinisikan sebagai perpindahan suatu benda dibagi
waktu yang diperlukan benda tersebut untuk berpindah.


Keterangan : = kecepatan rata-rata (m/s)
x = x
2
x
1
= perpindahan (m)
x
1
= titik awal (m)
x
2
= titik akhir (m)
t = selang waktu (s)
Contoh Soal
Dewi berjalan ke Timur sejauh 80 m, kemudian berbalik arah ke
Kanan menempuh jarak 50 m. Perjalanan tersebut memerlukan waktu 50
s. Berapakah kelajuan rata-rata dan kecepatan rata-rata Rena dalam
perjalanannya?
Jawab :
Jarak total = AB + BC
= 80 m + 50 m
= 130 m
Perpindahan = AB BC
= AB BC
= 80 m 50 m
= 30 m




VII.3.2. Kecepatan Sesaat dan Kelajuan Sesaat
Jika kalian mengendarai sepeda motor sepanjang jalan yang
lurus sejauh 120 km dalam waktu 2 jam, besar kecepatan rata-rata
sepeda motor kalian adalah 60 km/jam. Walaupun demikian, tidak
mungkin kalian mengendarai sepeda motor tersebut tepat 60 km/jam
setiap saat. Untuk mengatasi situasi ini kita memerlukan konsep
kecepatan sesaat, yang merupakan kecepatan benda pada saat tertentu.
Alat untuk mngukur kecepatan sesaat adalah velocitimeter, karena
adanya jarum yang mengarah ke positif dan negatif sesuai dengan arah
gerak benda. Sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur
kelajuan sesaat adalah spidometer. Kecepatan sesaat pada waktu
tertentu adalah kecepatan rata-rata selama selang waktu yang sangat
kecil, yang dinyatakan oleh:



Dapat ditulis juga :


Keterangan :
x = Perpindahan (m)
t = Selang waktu (s)
VII.4. Percepatan Rata-Rata dan Sesaat
Kalau kita mengendarai sepeda motor pada saat awal, mesin motor
dihidupkan tetapi sepeda motor masih belum bergerak. Pada saat sepeda
motor mulai bergerak maka kecepatannya makin lama makin besar. Hal
ini berarti telah terjadi perubahan kecepatan. Pada saat sepeda motor diam
kecepatan nol, baru kemudian kecepatan sepeda motor tersebut makin
lama makin cepat.




Sepeda motor tersebut mengalami perubahan kecepatan dalam
selang waktu tertentu. Dengan kata lain, sepeda motor tersebut mengalami
t
0
= 0
v
0
= 0

t
1
= t
v
t
= v

percepatan. Percepatan adalah besaran vektor. Percepatan ditulis dengan
persamaan sebagai berikut:
VII.4.1. Percepatan Rata-Rata
Tiap benda yang mengalami perubahan kecepatan, baik
besarnya saja atau arahnya saja atau kedua-duanya, akan
mengalami percepatan. Percepatan rata-rata ( a ) adalah hasil bagi
antara perubahan kecepatan dengan selang waktu yang digunakan
selama perubahan kecepatan tersebut . Secara matematis dapat
ditulis sebagai berikut.




Contoh soal :
Andi mengendarai sepeda motor ke arah utara dipercepat
dari keadaan diam sampai kecepatan 72 km/jam dalam waktu 5 s.
Tentukan besar dan arah percepatan Andi!
Jawab :
a. Percepatan rata-rata





b. Tanda positif menunjukkan bahwa arah percepatan searah
dengan arah kecepatan. Jadi, arah percepatan Andi ke utara.

VII.4.2. Percepatan Sesaat
Percepatan sesaat dapat didefinisikan sebagai perubahan
kecepatan dalam waktu yang sangat singkat. Sama seperti
menghitung kecepatan sesaat, menghitung percepatan sesaat juga
kita perlu mengukur perubahan kecepatan dalam selang waktu
yang singkat (mendekati nol). Secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut:


VII.5. Gerak Lurus Beraturan
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menemukan peristiwa
yang berkaitan dengan gerak lurus beraturan, misalnya orang yang
berjalan dengan langkah kaki yang relatif konstan, mobil yang sedang
bergerak, dan sebagainya. Suatu benda dikatakan mengalami gerak lurus
beraturan jika lintasan yang ditempuh oleh benda itu berupa garis lurus
dan kecepatannya selalu tetap setiap saat. Sebuah benda yang bergerak
lurus menempuh jarak yang sama untuk selang waktu yang sama. Sebagai
contoh, apabila dalam waktu 5 sekon pertama sebuah mobil menempuh
jarak 100 m, maka untuk waktu 5 sekon berikutnya mobil itu juga
menempuh jarak 100 m. Secara matematis, persamaan gerak lurus
beraturan (GLB) adalah:


Keterangan :
v = kecepatan (m/s)
= jarak tempuh (m)
= waktu (s)

=
s
t

Jika kecepatan v mobil yang bergerak dengan laju konstan selama
selang waktu t sekon, diilustrasikan dalam sebuah grafik v-t, akan
diperoleh sebuah garis lurus, tampak seperti pada Gambar 2.13





Dari grafik hubungan s-t tampak pada dapat dikatakan jarak yang
ditempuh s benda berbanding lurus dengan waktu tempuh t. Makin besar
waktunya makin besar jarak yang ditempuh.
Hubungan antara kecepatan ( ) dan waktu (t) serta antara jarak (s)
dan waktu (t) dapat digambarkan pada grafik t dan s t




Diagram t
Dari grafik diatas dapat kita ketahui bahwa benda bergerak lurus dengan
kecepatan konstan yaitu 5 m/s.



grafik s-t




Kemudian dari grafik ini kita dapat mengetahui juga bahwa benda
bergerak dengan kecepatan konstan juga. Hal itu dapat dibuktikan
menggunakan persamaan : v = s/t
setiap saat akan memberikan kecepatan yang sama (konstan).
Dari grafik t tampak bahwa kecepatan selalu tetap, tidak
bergantung terhadap waktu sehingga grafiknya berupa garis lurus yang
sejajar dengan sumbu t. Dari gambar tersebut juga dapat dicari jarak
tempuh benda dengan menghitung luasnya. Hal ini berlaku pula pada
beberapa bentuk grafik yaitu lurus maupun lengkung.






Dari grafik diatas, jarak tempuh benda selama 3 sekon dapat kita
ketahui dengan menghitung luas bangun datar yang dibentuk adalah segi
empat , maka :
S = Luas segi empat
= p x l
= 5 x 3
= 15 m
Dari grafik s t tampak bahwa jarak yang ditempuh oleh benda
berbanding lurus dengan waktunya sehingga grafiknya berupa garis lurus
condong ke atas. Secara matematis = tan
= tan
= 12-4 / 3-1
= 8/2
= 4 m/s
Jadi semakin besar sudutnya maka semakin besar pula kecepatan
gerak lurus beraturan tersebut.
Contoh soal (1.4):
Dewi berlari pada lintasan lurus dan menempuh jarak 100 m dalam 10
sekon. Tentukan kecepatan dan waktu yang diperlukan Budi untuk
menempuh jarak 25m!
Diketahui : a. : 100 m
b. : 10 s
Ditanyakan : a. = . . .?
b. = . . . ? ( jika x = 25m )
Jawab : a.


= 10m/s
b. x = . t
t =


= 2,5 s
VII.6. Gerak Lurus Berubah Betaruran
Suatu benda yang kecepatannya dinaikkan atau diturunkan secara
beraturan terhadap waktu dan lintasannya berupa garis lurus, maka benda
tersebut telah melakukan gerak lurus berubah beraturan adalah gerak suatu
benda pada lintasan garis lurus yang percepatannya tetap. Percepatan tetap
menunjukkan bahwa besar dan arahnya sama.
Untuk menunjukkan GLBB maka dapat ditampilkan percobaan
yang menggunakan kereta luncur yang dimiringkan kemudian memakai
ticker timer pada pita kertas. Dari kertas dihasilkan titik-titik yang semakin
menjauh. Hal ini menunjukan jarak antartitik berubah-ubah yang
merupakan implikasi adanya percepatan yang konstan.
VII.6.1. Hubungan Kecepatan, Percepatan, dan Waktu
pada GLBB
Untuk memudahkan notasi ataupun penulisan persamaan,
kita anggap waktu awal untuk setiap pembahasan adalah nol yaitu
t
1
= t
0
. Kemudian kita tentukan t
2
= t sebagai waktu yang
diperlukan. Posisi awal x
1
= x
0
dan kecepatan awal v
1
= v
0
, dan
pada waktu t posisi dan kecepatan benda masing-masing adalah x
dan v (bukan x
2
dan v
2
). Berarti kecepatan rata-rata selama waktu t
berdasarkan persamaan untuk kecepatan rata-rata dirumuskan:


Karena t
0
= 0 dan percepatan dianggap konstan terhadap waktu,
maka diperoleh persamaan:



Selanjutnya, kita dapat menentukan kecepatan sebuah benda
setelah rentang waktu tertentu jika diketahui percepatannya. Kita
kalikan dengan t pada kedua sisi persamaan tersebut maka akan
diperoleh: at = v v
0

sehingga dapat dituliskan:


Keterangan :
v
0
= kecepatan awal (m/s)
v = kecepatan akhir (m/s)
a = percepatan (m/s2)
t = waktu (s)
v = v
0
+ at

VII.6.2. Hubungan Perpindahan, Percepatan, dan Waktu
dalam GLBB
Kita lihat bagaimana menghitung posisi benda setelah
waktu t ketika benda tersebut mengalami percepatan konstan. Dari
definisi kecepatan rata-rata:


Persamaan ini bisa kita tuliskan:


Ingat, benda yang bergerak dengan percepatan tetap menunjukkan
kecepatan benda tersebut bertambah secara beraturan. Oleh karena
itu, jika diketahui kecepatan awal dan kecepatan akhir, maka
kecepatan rata-rata benda sama dengan separuh dari jumlah
kecepatan awal dan kecepatan akhir.

Karena :


sementara



maka





Keterangan :
x
0
= posisi awal (m) v = kecepatan akhir (m/s)
x = posisi akhir (m) a = percepatan (m/s
2
)
v
0
= kecepatan awal (m/s) t = waktu (s)


VII.6.3. Hubungan Perpindahan, Kecepatan, dan
Percepatan
Untuk dapat menentukan kecepatan akhir sebuah benda
yang mengalami percepatan tetap pada jarak tertentu dari
kedudukan awal tanpa mempersoalkan selang waktunya, dapat
dengan menghilangkan peubah t dengan mensubtitusikan
persamaan

(diperoleh dari persamaan



) ke
dalam

t
2




Kita sekarang mempunyai beberapa persamaan yang merupakan
hubungan posisi, kecepatan, percepatan, dan waktu, jika percepatan
konstan.




Pada banyak kasus kita bisa menentukan x
0
=0, hal ini akan
sedikit menyederhanakan persamaan-persamaan di atas. Perhatikan
bahwa x menyatakan posisi, bukan jarak, dan x x
0
adalah
perpindahan.
v
2
= v
o
2
+ 2a (x x
o
)
Persamaan-persamaan di atas dapat diturunkan dari
persamaan kecepatan sesaat. Kenapa kecepatan sesaat dan bukan
kecepatan rata-rata? Karena dalam persamaan, setiap
menandakan waktu tertentu yang artinya waktu saat tersebut dan
bukan rentang waktu yang dipakai pada kecepatan rata-rata. Dan
pada pelaksanaan penggunaan persamaan bisa digunakan
kesepakatan bahwa nilai positif adalah untuk gerak yang arahnya
ke kanan sedangkan nilai negatif untuk gerak yang arahnya ke kiri.
Hal ini digunakan untuk menghindari notasi vektor pada
persamaan.

1. Grafik (v - t)
Berdasarkan persamaan

, Anda dapat
melukiskan grafik hubungan antara v dan t sebagai berikut.

Grafik kecepatan terhadap waktu untuk gerak lurus berubah
beraturan di percepatan dari grafik tersebut dapat kita tentukan
percepatan gerakan benda dengan persamaan :
a =
a =
a =
a = 4/3 m/s
2

2. Grafik s t
Berdasarkan persamaan x =
0
t + at
2
, dengan
0
dan a
dianggap konstan maka dapat dibuat grafik s t sebagai berikut.


VII.7. Gerak Jatuh Bebas
Salah satu contoh gerak yang paling umum mengenai gerak lurus
berubah beraturan (GLBB) adalah benda yang mengalami jatuh bebas
dengan jarak yang tidak jauh dari permukaan tanah. Galileo menemukan
bahwa semua benda akan jatuh dengan percepatan konstan yang sama jika
tidak ada udara atau hambatan lainnya. Ia menyatakan bahwa sebuah
benda yang jatuh dari keadaan diam, jarak yang ditempuh akan sebanding
dengan kuadrat waktu, h ~ t
2
. Untuk memperkuat penemuannya bahwa
laju benda yang jatuh bertambah ketika benda itu jatuh, Galileo
menggunakan argumen yang cerdik. Sebuah batu berat yang dijatuhkan
dari ketinggian 2 m akan memukul sebuah tiang pancang lebih dalam ke
tanah dibandingkan dengan batu yang sama tetapi dijatuhkan dari
ketinggian 0,2 m. Jelas batu tersebut bergerak lebih cepat dari ketinggian
yang pertama. Ketika membahas benda-benda yang jatuh bebas kita bisa
memakai persamaan dimana untuk a kita gunakan nilai percepatan
gravitasi bumi (g) yaitu sebesar 9,8 m/s
2
. Selain itu, karena gerak tersebut
vertikal kita akan mengganti x dengan y dan menempatkan y
o
= 0 kecuali
jika ditentukan lain.tidak masalah apakah kita memilih y positif pada arah
ke atas atau arah ke bawah, yang penting kita harus konsisten sepanjang
penyelesaian soal. Secara matematis persamaan pada gerak jatuh bebas
dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
v
o
= kecepatan awal (m/s)
v = kecepatan akhir (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s
2
)
y = jarak tempuh benda (m)
t = waktu (s)

VII.8. Gerak Vertikal ke Atas
VII.8.1. Ketinggian Maksimum Y
maks

Untuk menentukan ketinggian maksimum kita hitung posisi
bola ketika kecepatannya = 0 pada titik tertinggi. Pada saat mula-
mula t = 0 ketinggian mula-mula y
o
= 0 kecepatan awal v
o
dan
percepatannya a = -g . sehingga kita dapatkan persamaan :
v
2
= v
o
2
2gy
= v
o
2
2gy
Y
maks
=



VII.8.2. Lama Benda di Udara t
c
= 2 t
maks

perhatikan gerak dari A ke B
ke C pada gambar disamping.
Pada titik A dan C posisi
benda adalah y = 0. Dengan
menggunakan persamaan
GLBB dan a = -g diperoleh
hal-hal berikut ini :



a. Waktu yang dibutuhkan benda untuk mencapai titik
tertinggi :
v = v
o
gt
v = v
0
gt
y = y
0
+ v
0
t gt
2

v
2
= v
o
2
2g (y-y
0
)
v =


0 = v
o
gt



b. Waktu yang diperlukan untuk jatuh kembali :
y
o
= v
o
t gt
2
0 = v
o
t gt
2




VII.9. Gerak Parabola
Gerak Parabola merupakan gabungan antara Gerak Lurus Berubah
Beraturan dan Gerak Lurus Beraturan. Lintasan Gerak Parabola dibentuk
berdasarkan resultan antara dua vektor dalam arah vertikal dan horizontal.
Lintasan gerak parabola:






Gambar diatas menunjukkan uraian vektor kecepatan dalam arah
vertikal dan horizontal. Ketika bola bergerak keatas, maka dalam arah
horizontal benda akan mengalami perlambatan sebesar g hingga mencapai
t
B
= t
maks
=


t
c
= 2t
maks
=


titik tertinggi, dan ketika bola bergerak turun maka bola mengalami
perlambatan sebesar g karena dalam kasus ini kita beranggapan hanya
gaya gravitasi yang mempengaruhi gerak vertikal, sedangkan dalam gerak
horizontal benda tidak dikenai gaya eksternal maka dalam arah horizontal
kecepatan benda adalah konstan.
Perhatikan sebuah partikel yang diluncurkan dengan suatu
kecepatan awal yang mempunyai komponen vertikal dan horizontal
relative terhadap titik asal yang tetap. Jika kita ambil sumbu vertikal y
dengan arah positif ke atas dan sumbu horizontal x dengan arah positif
searah komponen horizontal awal kecepatan proyektil, maka percepatan
proyektil :


Misalkan kita luncurkan sebuah proyektil dari titik asal dengan
kelajuan awal

dengan sudut terhadap sumbu horizontal. Jadi


kecepatan awal mempunyai komponen :


Karena tidak ada percepatan horizontal, komponen x kecepatan adalah
konstan :


Komponen y berubah dengan waktu sesuai dengan :


Komponen perpindahan proyektil adalah :


Pada saat di puncak lintasan atau

. Sehingga :


Pada saat mendarat atau

. Sehingga :


Di dapat bahwa :



Kita dapat mensubstitusi nilai t ini pada persamaan perpindahan
proyektil pada arah vertikal untuk mendapatkan persamaan jarak
tertinggi


Sedangkan pada arah horizontal untuk mendapatkan persamaan jaraj
terjauh


Kita dapat menentukan persamaan gerak parabola ini melalui data
hasil pengamatan, jika kecepatan awal

, jarak tertinggi

dan
jarak terjauh

diketahui memalui video tracker, maka kita dapat


menurunkan persamaan gerak untuk gerak parabola ini. Dengan
memvariasikan nilai sudut elevasi maka kita dapat menentukan posisi
titik tertinggi dan titik terjauh.


VIII. Referensi
Tipler, P.A 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik jilid I (terjemahan).
Jakarta: Erlangga
Sumarsono, Joko. 2008. Fisika untuk SMA/MA kelas X. Jakarta : CV
Teguh Karya
Kanginan, Martin. 2002. Fisika kelas X SMA. Jakarta: Erlangga

Astra, I Made. 2006. Fisika kelas X SMA. Jakarta: Priranti Darma