Anda di halaman 1dari 12

2.

Plastik
Sebagian di antaranya kemasan plastik berasal dari material polyetilen, polypropilen,
polyvinylchlorida (PVC) yang jika dibakar atau dipanaskan bisa menimbulkan dioksin, yaitu
suatu zat yang sangat beracun dan merupakan penyebab kanker serta dapat mengurangi
sistem kekebalan tubuh seseorang. Sehingga menjaga plastik agar tidak berubah selama
digunakan sebagai pengemas makanan merupakan cara aman untuk menghindari bahaya-
bahaya tersebut. Dan bahan utama pembuat PVC adalah DOP. DOP memang populer
digunakan dalam proses plastisasi. Konsumsi DOP pada industri PVC mencapai 50-70% dari
total produksi plasticizer (senyawa aditif yang ditambahkan ke dalam polimer untuk
menambah fleksibilitas dan daya kerjanya).

MENGAPA PLASTIK BERBAHAYA ?
Banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahaya dari plastik itu sendiri, apabila kita tidak
benar menggunakannya.Demikian halnya plastik botol minuman mineral. Bahan plastik yang
disebut polyethylene terephthalate ini sebaiknya jangan disiram air panas, lantaran
mengandung zat atau senyawa stiarin. Meski demikian, ada bahan-bahan plastik tertentu yang
memang tahan panas.
Plastik
1. Pigmen warna
Ancaman terhadap kesehatan karena pigmen datang dari kantong plastik berwarna-warni.
Masalahnya adalah seringkali tidak diketahui bahan pewarna yang digunakan. Memang ada
pewarna khusus untuk kantong plastik yang aman untuk makanan. Tetapi di Indonesia jarang
ditemukan hal yang demikian. Biasanya produsen di sini menggunakan pewarna nonfood
grade atau pewarna yang tidak aman bagi makanan. Banyak kandungan berbahaya dari
kantong plastik (kresek) bisa mengontaminasi makanan.

Ada bahan-bahan yang terkandung baik pada plastik maupun styrofoam. Bahan-bahan
tersebut yaitu:
1. Dioctyl phthalate (DOP)
Ingat iklan tentang pipa plastik dari bahan polyvinyl chlorida (PVC) yang tak hancur meski
diinjak-injak gajah? Sekarang, bayangkan bila unsur-unsur zat itu masuk ke tubuh melalui
kemasan makanan dari bahan plastik maupun styrofoam (gabus). Tentu saja sistem
pencernaan kita sulit mencernanya.
2. Zat benzen
Ditambah lagi pada jenis bahan ini justru ditemukan kandungan yang menyimpan zat benzen,
suatu larutan kimia yang sulit dilumat oleh sistem percernaan. Benzen ini juga tidak bisa
dikeluarkan melalui feses (kotoran) atau urine (air kencing). Akibatnya, zat ini semakin lama
semakin menumpuk dan terbalut lemak. Inilah yang bisa memicu munculnya penyakit
kanker.
3. Zat kimia karsinogen
Divisi Keamanan Pangan Jepang, Juli 2001, mengungkapkan bahwa styrofoam dalam
makanan sangat berbahaya. Zat tersebut dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC),
yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya bahan kimia karsinogen dalam makanan.
Saat ini masih banyak restoran-restoran siap saji (fast food) yang masih menggunakan
styrofoam sebagai wadah bagi makanan atau minumannya. Sedapat mungkin Kalian harus
menghindari penggunaan styrofoam untuk makanan atau minuman panas, karena sama
halnya dengan plastik, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perpindahan
kandungan kimia dari styrofoam ke dalam makanan kalian.
Styrofoam, yang masih tergolong keluarga plastik ini ternyata juga memiliki bahaya yang
sama. Sebagaimana plastik, styrofoam bersifat reaktif terhadap suhu tinggi. Padahal salah
satu kelebihan styrofoam adalah kemampuannya menahan panas.
4. logam berat Zn (seng)
Belum lagi, stryfoam ini juga mengandung logamberat Zn (seng) yang biasanya diberikan
pabrik plastik sebagai bahan tambahan untuk plastik.
5. formalin
Untuk formalin akan kita bahas dalam pembahasan berikut ini.

PANDANGAN PARA AHLI
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Yadi
Haryadi, MSc mengatakan, penggunaan plastik sebagai bahan pengemas memang semakin
mendominasi pasaran, baik untuk pangan maupun nonpangan, karena dianggap memiliki
banyak kelebihan dibandingkan dengan kertas, logam, kayu, maupun gelas.
, cerita yang beredar di internet tentang bahaya penggunaan botol PET secara berulang-ulang
tidak benar. berita itu berawal dari tesis seorang mahasiswa di University of Idaho, Amerika
Serikat. Tesis itu mengungkapkan zat aditif DEHA yang ditambahkan pada bahan pembuat
plastik PET bisa berbahaya jika masuk ke dalam air minum. sebenarnya penggunaan botol
plastik, khususnya botol plastik PET, secara berulang-ulang tidak menjadi masalah.
Syaratnya, setiap akan dipakai atau diisi ulang botol-botol tersebut dicuci bersih memakai
sabun dan dikeringkan dahulu.Yang dikhawatirkan sebenarnya bukan aspek berpindahnya
bahan berbahaya, tetapi aspek kebersihannya. Botol yang sudah dipakai pasti akan tercemar
mikroba dan mikroba akan memicu penyakit, khususnya penyakit saluran pencernaan.

ada beberapa hal yang perlu diluruskan.
Pertama, DEHA atau diethylhexyl adipate tidak pernah dinyatakan Food and Drug
Administration (FDA)badan yang mengawasi makanan dan obat-obatan di Amerika
Serikatsebagai bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.
Kedua, DEHA aditif yang sering digunakan dalam pembuatan plastik tidak digunakan dalam
pembuatan PET. Namun, jika misalnya ada, FDA dan juga EPA (Environmental Protection
Agency) menyatakan bahwa DEHA tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia,
misalnya memicu kanker, mutasi gen, dan efek negatif lainnya. Sebagian berbahaya sebagian
bahan plastik memang bisa membahayakan kesehatan jika digunakan untuk kemasan pangan.
Pasalnya, dalam pembuatan plastik sering digunakan bahan tambahan (aditif) untuk
memperbaiki sifat plastik. Dalam plastik juga ada monomer yang tidak ikut dalam rantai
polimer. Monomer dan aditif tersebut ada yang membahayakan kesehatan manusia. Pada
waktu pewadahan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi, bahan-bahan kimia tersebut
dapat pindah dari kemasan ke bahan makanan yang dikemas., sebetulnya yang pindah bukan
hanya bahan kimia yang berbahaya saja, tetapi juga bahan kimia yang tidak berbahaya.
Migrasi dapat terjadi jika ada kontak langsung antara bahan pangan dan kemasan.masyarakat
perlu paham bahwa tidak semua jenis plastik kemasan berbahaya. Supaya yakin aman,
disarankan agar konsumen bersikap cermat. Untuk mengetahui jenis plastik yang digunakan
mengemas minuman, di bagian bawah botol selalu ada nomor dalam tanda segitiga panah
melingkar. Di dalam styrofoam dan plastik memang ada ancaman bagi kesehatan akibat
kemungkinan imigrasi komponen-komponen dari plastik dan styrofoam ke barang yang kita
konsumsi, tuturnya. Tetapi kemungkinan ini tergantung dari jenis pangannya, lama
kontaknya, luas cakupan bahannya (plastik/styrofoam) dan sebagainya. "Karena itu kita harus
fair membahasnya. Jangan sampai nantinya malah menimbulkan kepanikan di masyarakat
akibat adanya pembahasan bahwa styrofoam dan plastik berbahaya," tegasnya. Penelitian
yang dalam dan menyeluruh mengenai ancaman di balik kemasan dari bahan styrofoam
dan plastik memang belum dilakukan. Meski
demikian, ketentuan Standar Nasional Indonesia
(SNI) yang memuat tentang kemasan sebenarnya
sudah ada di Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Contohnya saja, SNI tentang film PVC untuk
kemasan kembang gula, SNI tentang botol plastik
wadah obat, makanan, dan kosmetika, SNI
tentang etilen vinil asetat untuk laminasi pangan
dan SNI tentang botol gelas minuman bertekanan
dipakai ulang.
Menghindari bahaya
1. Hindari atau minimalkan pemakaian plastik.
Misalnya untuk makanan yang dibungkus seperti
soto, bakso, dan makanan lain. Gunakanlah rantang
26
seperti masa dulu. Walaupun kurang praktis tapi
demi kesehatan mengapa tidak?
2. Perhatikan tanggal kedaluarsa makanan. Jangan
dikonsumsi apabila tanggal kedaluwarsa sudah
lewat batas. Demikian juga bila ada kejanggalan
rasa, aroma, serta penampilan pada makanan
ataupun minuman walupun batas kedaluwarsa
belum terlewat.
3. Bila ingin memanaskan makanan dengan oven
microwave, gunakanlah wadah dari gelas yang
cukup tahan panas.
4. Bila ingin memilih plastik lemas untuk penutup
makanan, gunakanlah yang labelnya tertera
polietilen.
5. Kemasan atau wadah yang digunakan untuk
makanan atau minuman dingin sebaiknya jangan
dipakai untuk wadah makanan atau minuman yang
panas.
6. botol plastik yang didesain hanya untuk sekali
pakai aman jika dipakai 1-2 kali saja. Kalau ingin
memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari
seminggu dan harus ditaruh di tempat yang jauh
27
dari sinar matahari. Kebiasaan mencuci ulang
dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat
karsinogen masuk ke air yang kita minum.
Gambar 3.1 Pencemaran Sungai dekat TPA
Sampah Plastik
Sampah plastik menjadi masalah lingkungan
berskala global. Plastik banyak dipakai dalam
kehidupan sehari-hari, karena mempunyai
keunggulan-keunggulan seperti kuat, ringan dan
stabil, namun sulit terombak oleh mikroorganisme
dalam lingkungan sehingga menyebabkan masalah
lingkungan yang sangat serius. Pengembangan
bahan plastik baru yang dapat hancur dan terurai
dalam lingkungan dengan hasil akhir air dan gas
karbondioksida, atau dikenal dengan sebutan
plastik degradabel, merupakan salah satu
alternatif untuk memecahkan masalah penanganan
sampah plastik. Di Jepang telah disepakati
penggunaan nama plastik hijau (GURUIINPURA)
untuk plastik biodegradabel.
Disusun Oleh:
Move Indonesia
Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)
Seloliman, Trawas, Mojokerto
2007
BAHAYA BAHAN PLASTIK
Judul Buku : Bahaya Bahan Plastik
Jumlah Halaman : 35 Halaman
Dicetak Oleh : Pusat Pendidikan Lingkungan
Hidup (PPLH) Seloliman
Trawas Mojokerto
E-book oleh : Move Indonesia
Tim Penulis : Divisi Penulisan & Multimedia Move
Indonesia
Divisi Penerbitan dan Dokumentasi
Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup
(PPLH) Seloliman
Penyunting : Bachtiar DM, Ulfah Hidayati, Anggara
Widjajanto
Foto/Gambar: Berbagai sumber

Peningkatan populasi masyarakat akan
meningkatkan konsumsi berbagai jenis makanan dan
minuman yang akan diikuti dengan peningkatan
limbah bahan kemasan yang menyertainya. Produk
minuman yang dikonsumsi utama adalah air,
minuman jus, teh, dan susu. Bahan kemasan
minuman relatif memililki umur yang pendek, dimana
jumlah limbah kemasan produk minuman sebanding
dengan penjualan produk minuman tersebut.
Kemasan produk minuman yang digunakan terutama
plastik (PET, PP dan PE) dan gelas. Bahan kemasan
polyethylena terephtalate (PET) adalah suatu resin
polimer plastik termoplastis dari kelompok poliester.
PET banyak diproduksi dalam industri kimia dan
digunakan dalam serat sintetis, botol minuman dan
wadah.
Produk minuman teh pada awalnya dikemas
dengan menggunakan kemasan botol gelas, namun
saat ini beralih menggunakan kemasan botol PET.
Kecenderungan peningkatan limbah kemasan PET
berdampak negatif terhadap permasalahan
lingkungan, dimana sebagian besar bahan kemasan
pelastik tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan,
sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai
jenis kemasan yang paling baik terhadap lingkungan
dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment
(LCA). Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu
metoda yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
dampak lingkungan yang disebabkan oleh suatu

produk selama proses produksi atau aktivitas selama
siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di
dalam proses produksi produk tersebut.

Penelitian LCA pada industri minuman, pada
umumnya adalah pembandingan beberapa jenis
bahan kemasan, terutama penggunaan kemasan
botol sekali pakai (disposable) dan isi ulang
(refillable), baik botol jenis gelas maupun plastik
(Arvanitoyannis, 2008). Pasqualino et al. (2011)
mengkaji proses daur-ulang berbagai bahan kemasan
minuman terhadap konsumsi energi dan pemanasan
global. Nessi et al. (2012) telah mengkaji daur-ulang
botol PET dan gelas dalam sistem isi ulang (refilling
system) produk minuman.

Suatu molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari susunan ulang molekul kecil yang
terikat melalui ikatan kimia disebut polimer (poly = banyak; mer = bagian). Suatu polimer
akan terbentuk bila seratus atau seribu unit molekul yang kecil yang disebut monomer, saling
berikatan dalam suatu rantai. Jenis-jenis monomer yang saling berikatan membentuk suatu
polimer terkadang sama atau berbeda.

Plastik adalah salah satu bentuk polimer yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa plastik memiliki sifat-sifat khusus, antara lain lebih mudah larut pada pelarut yang
sesuai, pada suhu tinggi akan lunak, tetapi akan mengeras kembali jika didinginkan dan
struktur molekulnya linier atau bercabang tanpa ikatan silang antar rantai. Proses melunak
dan mengeras ini dapat terjadi berulang kali. Sifat ini dijelaskan sebagai sifat termoplastik.

Bahan Ajar Perkuliahan
Polimer Ahmad Efan N, ST Untuk Kalangan Sendiri Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jember

Plastik
Plastik adalah bahan pengemas yang mudah didapat dan sangat fleksibel penggunaannya.
Selain untuk mengemas langsung bahan makanan, seringkali digunakan sebagai pelapis
kertas. Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai
dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD),
kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Masing-masing jenis
plastik mempunyai tingkat bahaya yang berbeda tergantung dan bahan kimia penyusunnya,
jenis makanan yang dibungkus (asam, berlemak ), lama kontak dan suhu makanan saat
disimpan (Anonim, 2008).
2.2 Jenis-Jenis Plastik
2.2.1 PET Polyethylene Terephthalate
Biasanya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 1
di tengahnya dan tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate) di bawah segitiga.
Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air
mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Mayoritas bahan plastik PET di
dunia untuk serat sintetis (sekitar 60 %), dalam pertekstilan PET biasa disebut dengan
polyester (bahan dasar botol kemasan 30 %) Botol Jenis PET/PETE ini direkomendasikan
hanya sekali pakai karena bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air
hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan
mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker).

Komponen utama plastik sebelum membentuk polimer adalah monomer, yakni rantai yang
paling pendek. Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk
rantai yang sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu
pola acak, menyerupai tumpukan erami maka disebut amorp, jika teratur hampir sejajar
disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar (Syarief, 1989).
Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan polimerisasi
dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung menyambung
menjadi satu dalam bentuk polimer. Kemasan plastik memiliki beberapa keunggulan yaitu
sifatnya kuat tapi ringan, inert, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat
diberi warna. Kelemahan bahan ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain
yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang
dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon
poliester dan film vinil dapat digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau
dalam bentuk lapisan dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Kombinasi ini disebut
laminasi. Sifat-sifat yang dihasilkan oleh kemasan laminasi dari dua atau lebih film dapat
memiliki sifat yang unik. Contohnya kemasan yang terdiri dari lapisan
kertas/polietilen/aluminium foil/polipropilen baik sekali untuk kemasan makanan kering.
Lapisan luar yang terdiri dari kertas berfungsi untuk cetakan permukaan yang ekonomis dan
murah. Polietilen berfungsi sebagai perekat antara aluminium foil dengan kertas. Sedangkan
polietilen bagian dalam mampu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk direkat atau
ditutupi dengan panas. Dengan konsep laminasi, masing-masing lapisan saling menutupi
kekurangannya menghasilkan lembar kemasan yang bermutu tinggi (Winarno, 1994).

Dampak Penggunaan Plastik terhadap Kesehatan
2.5.1 PET Polyethylene Terephthalate
Di dalam membuat PET/PETE, menggunakan bahan yang disebut dengan antimoni trioksida,
yang berbahaya bagi para pekerja yang berhubungan dengan pengolahan ataupun daur
ulangnya, karena antimoni trioksida masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan, yaitu
akibat menghirup debu yang mengandung senyawa tersebut. Terkontaminasinya senyawa ini
dalam periode yang lama akan mengalami: iritasi kulit dan saluran pernafasan. Bagi pekerja
wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran, pun bila melahirkan,
anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12
bulan (Heldi, 2008). Senyawa antimoni juga dapat menimbulkan kerusakan hati dan ginjal
dimana tanda dan gejalanya seperti : konjungtivitis, insomnia, vertigo, sakit kepala, kram
abdomen,
Universitas Sumatera Utara
nausea, vomitus, nyeri otot, paringitis, diare (Handbook of Industrial Toxicology, 1976).

Dampak Plastik terhadap Kesehatan Lingkungan
Dari segi kesehatan lingkungan sebagian masyarakat beranggapan bahwa apabila plastik bisa
didaur ulang, maka selesailah masalah.Namun pada kenyataannya, daur ulang bukanlah
solusi paling tepat untuk menyelesaikan timbunan sampah plastik. Beberapa jenis plastik
dapat didaur ulang menjadi bahan plastik yang berbeda jenis, dan beda produksi pula. Namun
hanya sekitar 1 hingga 5 persen jenis
Universitas Sumatera Utara

by alamendah
Mengenal Arti Kode Label Kemasan Plastik
Posted on 27 Agustus 2010
Arti kode label kemasan plastik sudah seharusnya kita kenal. Dengan mengenal kode dan
label pada kemasan plastik kita dapat menggunakan kemasan plastik dengan tepat dan
meminimalisir dampak negatif plastik pada kesehatan maupun dampak pada lingkungan.
Setiap kemasan plastik, seharusnya memiliki kode atau label yang tertera dengan jelas.
Biasanya terletak di bagian bawah kemasan plastik.Kode atau label pada kemasan plastik
berbentuk gambar segitiga daur ulang (3 R) dengan angka di tengahnya. Kode dan label
selengkapnya sebagai berikut:

PETE atau PET (polyethylene terephthalate); Kemasan plastik ini diberi label atau
kode angka 1 dalam segitiga. Kode ini biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih,
transparan, tembus pandang seperti botol air minuman kemasan, minyak goreng, selai
peanutbutter, kecap, dan sambal.
Kemasan dengan kode ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan dipakai untuk
menyimpan air hangat apalagi panas. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk
menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol
tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker)
dalam jangka panjang

plastik yang dapat didaur ulang. Artinya masih akan ada banyak plastik yang hanya akan
berakhir di timbunan sampah,dan mencemari lingkungan. Ada alasannya mengapa kata
"recycle" terletak di bagian paling akhir dari kalimat : "Reduce,Reuse,Recycle".Terkadang
masyarakat lupa bahwa untuk mendaur ulang diperlukan banyak energi, yang kebanyakan
membutuhkan minyak. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh bagi kelestarian bumi. Hal
paling baik yang bisa kita lakukan adalah mengurangi pemakaian plastik, dan memakai
kembali plastik yang masih dapat digunakan.
Laut yang terbentang luas kini tak biru dan tak bersih lagi. Sampah plastik kemasan makanan,
botol minuman, atau jenis plasitk lainnya sangat mudah ditemui di sekitar pantai. Dari sekian
banyak plastik yang dikonsumsi oleh manusia, 10 persen diantaranya berakhir di laut.
Sampah ini sebagian besar berasal dari kapal penumpang, dari muara daratan, dan dari
kegiatan wisatawan. Sekitar 400.000 relawan dari seluruh dunia menemukan sekitar 6 juta
pon sampah. Sebagian besar diantarnya adalah kantong plastik dan kemasan Styrofoam.
Sampah-sampah ini tentu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan di laut. Banyak
burung-burung laut yang ditemukan mati, dengan perut penuh dengan sampah plastik kecil.
Ratusan kura-kura, dan hewan laut lainnya mati setiap tahunnya karena memakan plastik.
Mereka mengira plastik adalah jellyfish, sumber makanan utama mereka. Hal ini telah
membuktikan, bahwa keberadaan sampah plastik membunuh banyak hewan laut, dan dapat
mengancam kepunahannya. Kita, sebagai pengguna plastik, tentu saja memberikan kontribusi
yang sangat besar terhadap kerusakan bumi ini (Heli, 2009).
Universitas Sumatera Utara
2.7 Tips dalam Penggunaan Plastik
makanan dengan daun pisang sebelum dikemas dalam plastik.
hindari plastik berbahan polycarbonate.
2,4,5, dan 7 (kecuali polycarbonate).
indari plastik berbahan polycarbonate, jangan menyimpan makanan atau minuman dalam
keadaan panas. Gunakan bahan stainless steel, kayu.

Beberapa plastik yang sudah dikenal secara luas diantaranya ialah :
Polyethylene terephthalate(PET atau PETE ) . Material ini dihasilkan dari
kondensasi antara ethylene glycol dengan asam terepthalic dan termasuk pada
tipe thermoplastik. PET ini dapat dibentuk menjadi fiber seperti dacron dan
Film seperti mylar. Material PET ini merupakan plastik utama untuk
pembuatan kantong kemasan makanan.
MATERIAL PLASTIK
Oleh : Drs. Parlin Sinaga M Si
Disampaikan pada pelatihan Quality Control alat alat IPA
Kerjasama antara Jurusan pendidikan Fisika dengan PT Sugitek Indo Tama