Anda di halaman 1dari 15

TUGAS RINGKASAN

FISIKA ZAT PADAT


DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
FISIKA MODERN
(AKKC 453)




DOSEN PEMBIMBING:
Drs. H.M. Arifuddin Jamal, M.Pd

DISUSUN OLEH:
Herna Mastika
A1C411051

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2013


1 Fisika Zat Padat

A. Pendahuluan
Susunan atom-atom dalam bahan padat Kristal dan amorf
Beberapa zat padat memiliki susunan atom / molekul yang sangat
teratur dan periodik. Sebagian besar zat padat berbentuk kristalin
dengan atom-atom, ion-ion, atau molekul-molekul
pembangunannya tersusun menjadi pola tiga dimensial yang teratur
dan terulang. seperti yang kita ketahui bahwa padatan dikelompokkan
menjadi dua golongan yaitu, padatan kristalin yang partikel
penyusunnya tersusun teratur, dan padatan amorf yang partikel
penyusunnya tidak memiliki keteraturan yang sempurna. Studi bahan
kristalin mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang karena kristal
lebih mudah dipelajari daripada bahan amorf.
Terdapat berbagai cara untuk mengklasifikasikan padatan, yang
meliputi berbagai bahan. Namun, klasifikasi yang paling sederhana
adalah membaginya menjadi dua golongan: padatan kristalin yang
partikelnya tersusun teratur dan padatan amorf yang keteraturannya
kecil atau tidak ada sama sekali.
B. Jenis Zat Padat
Jarak antar molekul dalam suatu zat berwujud gas adalah sangat
besar dibanding dengan ukuran itu sendiri, sehingga molekul-molekul
tersebut dapat dianggap terisolasi satu sama lain (tidak ada interaksi
selain tumbukan).
Banyak bahan dalam temperatur dan tekanan normal berada
dalam wujud padatan. Dalam keadaan ini atom atau molekul tidak
dapat lagi dianggap terisolasi karena jarak antar molekulnya seukuran
dengan besar molekulnya sendiri. Sifat sifat molekulnya telah
berubah karena pengaruh molekul-molekul di sekitarnya. Beberapa
zadat memiliki susunan atom/molekul yang sangat teratur dan
periodik. Zadat yang demikian disebut kristal. Atom/molekul
penyusun kristal yang letaknya sangat teratur dinamakan kisi.
Sebaliknya zadat seperti beton dan plastik, tidak memiliki susunan
yang sangat teratur. Zadat semacam itu disebut zadat non-kristal.

2 Fisika Zat Padat

Dalam zadat, selain ikatan Van der Waals (molekul), ionik dan
kovalens masih ada satu jenis ikatan lagi yang dinamakan ikatan
logam. Ikatan logam dapat dipandang sebagai keadaan khusus dari
ikatan kovalen. Atom-atom yang memiliki berapa elektron valensi ini
tidak cukup untuk membentuk ikatan kovalen yang kuat sehingga
elektron-elektron valensi tersebut dimiliki oleh seluruh atom yang ada
dan bebas bergerak/berpindah dari satu atom ke atom yang lain.
Elektron-elektron tersebut berkelakuan sebagai gas sehingga
dinamakan gas elektron. Oleh karena itu logam merupakan
penghantar listrik maupun panas yang baik karena elektron mudah
menyerap energi dan bergerak oleh pengaruh medan listrik maupun
gradien suhu.
C. Teori Pita Zat Padat
Teori pita merupakan suatu dasar untuk memahami perbedaan
konduktor, isolator, dan semikonduktor. Ada dua pendekatan dalam
teori ini :
1. Teori F. Bloch (1928) yang menyatakan bahwa elektron valensi
dalam metal tidak mengalami potensial yang konstan dalam
geraknya di dalam kristal, melainkan mengalami potensial yang
periodik sesuai dengan susunan kristal.
2. Teori W. Heitler dan F. London (1927) meninjau efek pada fungsi
gelombang elektron bila atom-atom membentuk kristal.
Elektron elektron di dalam kristal dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu :
1. Elektron-elektron dalam yang terikat kuat pada masing-masing
inti, yang selalu tetap tinggal bersama inti.
2. Elektron-elektron luar atau elektron-elektron valensi, yang terikat
sangat lemah dan bebas bergerak dari satu inti ke inti lain sehingga
elektron-elektron ini dianggap milik kristal bukannya milik inti.
Atom-atom dalam hampir semua zat padat kristaline, baik
logam maupun non-logam, terletak sangat berdekatan, sehingga
electron valensinya membentuk sistem tunggal dari elektron milik

3 Fisika Zat Padat

bersama dari kristal keseluruhan. Sebagai ganti dari masing-masing
tingkat energi karakteristik yang terdefinisikan secara tepat dari setiap
atom individual, kristal keseluruhan memiliki pita energi yang terdiri
dari banyak sekali tingkat energi terpisah yang letaknya sangat
berdekatan. Karena banyaknya tingkat energi terpisah ini sama banyak
dengan jumlah atom dalam kristal, pita tidak dapat dibedakan dari
sebaran malar yang di ijinkan untuk energi. Kehadiran pita energi
jurang (gap) yang terdapat diantaranya, dan berapa banyak pita itu
terisi elektron, tidak saja menentukan kelakuan listrik suatu zat padat,
tetapi juga merupakan landasan penting untuk sifat-sifat lainnya.
Terdapat dua cara untuk menerangkan asal pita energi. Cara
yang sederhana ialah melihat apa yang terjadi pada tingkat energi
atom terisolasi ketika atom-atom itu didekatkan untuk membentuk zat
padat.
D. Zat Padat Kristaline dan Amorf
Sebagian besar zat padat berbentuk kristaline dengan atom-
atom, ion-ion, atau molekul-molekul pembangunannya tersusun
menjadi pola tiga dimensional yang teratur dan terulang. Kehadiran
keteraturan berjangkauan panjang merupakan sifat pendefinisian dari
zat padat. Zat padat yang lain tidak memiliki keteraturan berjangkauan
panjang dalam susunan partikel pemabangunannya dan dapat
dipandang sebagai zat cair superdingin yang kekakuannya timbul dari
viskositas (kekentalan) yang sangat tinggi.
Zat padat amorf menunjukkan memiliki keteraturan
berjangkauan pendek dalam strukturnya. Perbedaan antara kedua
keteraturan itu tergambar degan jelas pada triokside boron (B
2
O
3
)
yang dapat berada dalam bentuk kristaline dan amorf.





4 Fisika Zat Padat



(a) (b)
Gambar 1. (a) Atom boron; (b) Atom Oksigen
Analogi antara zat padat amorf dan zat cair berharga untuk
dikejar lebih lanjut sebagai suatu cara untuk lebih mengerti kedua
keadaan bahan itu. Kerapatan suatu zat biasanya dekat dengan zat
padat yang bersesuaian, hal ini karena disokong oleh kompresibilitas
keadaan bahan itu. Sedangkan untuk zat padat amorf pada hakikatnya
zat cair, zat itu tidak memiliki titik leleh yang tajam. Hal ini dapat
ditafsirkan keadaan ini atas dasar mikroskopik dengan memperhatikan
bahwa karena zat padat amorf tidak memiliki keteraturan
berjangkauan panjang, ikatan terlemahnya terputus pada temperatur
yang lebih rendah dari pada yang lainnya, sehingga zat itu melunak
secara berangsur-angsur. Dalam zat padat kristaline transisi antara
keteraturan berjangkauan panjang dan berjangkauan pendek (tanpa
keteraturan) bersangkutan dengan putusnya ikatan yang kekuatannya
hampir sama, dan pelelehan terjadi tepat pada suatu temperatur
tertentu.

E. Cacat Kristal
Kristal ideal ialah kristal yang setiap atomnya memiliki tempat
kesetimbangan tertentu pada kisi yang teratur. Cacat dalam struktur
kristal adalah kehilangan atom, atom yang tidak pada tempatnya,
kehadiran atom asing dan sebagainya mempunyai pengaruh yang
cukup besar pada sifat fisisnya.
Kategori tersederhana dari cacat kristal ialah cacat titik.
Gambar dibawah ini menunjukkan tiga jenis dasar cacat titik:
kekosongan (vakansi), interstisial, dan ketakmurnian. Keduanya
kekosongan dan interstisial yang memerlukan sekitar 1 eV atau 2 eV
untuk menciptakannya terjadi pada setiap kristal sebagai akibat dari

5 Fisika Zat Padat

eksitasi termal, dan kekerapannya bertambah cepat dengan naiknya
temperatur. Cacat semacam itu yang terdapat di luar yang berada
dalam kesetimbangan termal dapat diciptakan dengan berbagai cara.
Cara yang sederhana ialah memanaskan zat padat sehingga mencapai
temperatur tinggi sehingga terbentuk banyak cacat, kemudian
mendinginkannya dengan cepat sehingga terjadi cacat tambahan pada
temperatur akhir. Cara lain ialah timbulnya cacat dengan radiasi
partikel, misalnya reaktor nuklir.







(a) (b)





(c) (d)
Gambar 2. Cacat titik dalam sebuah kristal; (a) kekosongan (vakansi). (b)
I nterstisial. (c) Ketakmurnian substansional. (d) Ketakmurnian interstisial.

Kehadiran cacat titik dalam kristal memungkinkan difusi atom
didalamnya, suatu pengertian yang mengejutkan jika dilihat secara
sepintas, walaupun tidak begitu mengejutkan jika kita ingat
pengikatan logam yang berbeda, seperti dalam proses menyolder.
Difusi dalam zat padat sangat kuat bergantung terhadap temperatur,
bertambah dari laju yang biasanya terabaikan pada temperatur kamar

6 Fisika Zat Padat

sampai laju yang tidak jauh dari laju karakteristik zat cairnya yang
bersesuaian dekat pada titik lelehnya.
Dislokasi adalah sejenis cacat kristal dimana sebaris atom tidak
berada pada kedudukan yang seharusnya. Terdapat dua bentuk
dislokasi, yaitu: dislokasi tepi yang dapat dibayangkan dengan
memindahkan selapis atom yang diikuti dengan akomodasi larik
(array) pada cacat tersebut. Dislokasi lainnya ialah dislokasi sekrup
yang dapat dibayangkan sebagai suatu irisan dibuat pada kristal
sempurna sampai tengah-tengah, kemudian satu bagian dari potongan
itu digeser relatif terhadap yang lain.

F. Kristal Ionik
Ikatan ionik ialah ikatan antara suatu unsur yang terjadi akibat
adanya ion positif dan ion negatif dalam pembentukan suatu
persenyawaan. Dimana gaya tarik ion positif dan ion negatif tersebut
disebabkan karena adanya gaya elektrostatis. Oleh karena itu ikatan
ionik terjadi antara atom yang memiliki energi ionisasi rendah yang
mudah kehilangan elektron membentuk ion negatif berinteraksi
dengan atom lain yang cenderung untuk mengambil kelebihan
elektron tersebut.
Adapun dalam sistem periodik unsur, unsur-unsur yang pada
umumnya dapat membentuk ikatan ionik ialah unsur-unsur dalam
golongan IA atau IIA dengan unsur-unsur dalam golongan VIIA atau
VIA. Hal ini dapat terjadi karena unsur dalam golongan IA dan IIA
mempunyai elektron valensi 1 dan 2, maka agar dapat mempunyai
elektron terluar 8, maka harus menyumbangkan elektron valensinya.
Sementara itu, unsur dalam golongan VIIA dan VIA masing-masing
mempunyai elektron valensi 7 dan 6, maka agar menjadi 8 harus
menangkap masing-masing 1 dan 2 elektron.
Adapun dalam ikatan ionik, senyawa yang dihasilkan akan
memiliki sifat-sifat keras, titik leleh tinggi dan dapat larut dalam zat

7 Fisika Zat Padat

cair berkutub seperti air. Contoh senyawa yang dibentuk dengan
ikatan ionik ialah NaCl.
Na
11
= 2, 8, 1
Cl
17
= 2, 8, 7
Na akan melepaskan 1 elektron valensinya sedangkan Cl akan
menangkap 1 elektron agar mempunyai 8 elektron terluar dan menjadi
stabil.
G. Kristal Kovalen
Kristal kovalen dapat terbentuk karena adanya unsur-unsur
yang sama atau berbeda yang sama-sama berpartisipasi
menyumbangkan elektron terluarnya untuk digunakan secara bersama-
sama.
Adapun dalam ikatan kovalen, sifat senyawa yang dibentuknya
ialah keras dengan titik leleh yang tinggi serta tak larut dalam hampir
semua pelarut.

H. Gaya Van Der Waals
Interaksi antar molekul senyawa nonpolar dan senyawa polar
yang tidak memiliki ikatan hidrogen, interaksi tersebut menghasilkan
suatu gaya antar molekul yang lemah, maka gaya tersebut biasa
dikenal dengan ikatan Van Der Waals. Ikatan Van der Waals dapat
terjadi dalam tiga bentuk, yaitu ikatan antar molekul yang memiliki
dipol, ikatan antara molekul yang memiliki dipol molekul yang tidak
memilki dipol, serta ikatan antarmolekul yang tidak memiliki dipol
(Gaya Dipersi London). Gaya Van der Waals terjadi pada senyawa
polar yang tidak membentuk ikatan hidrogen, seperti HCl, HBr, atau
senyawa nonpolar yang memilki sedikit perbedaan keelektronegatifan.
Kekuatan gaya van der waals lebih kecil dibandingkan dengan ikatan
hidrogen. Gaya van der waals yang terjadi di antara dipol dipol
tersusun secara teratur. Zat yang memilki gaya van der waals dalam
susunan yang teratur biasaya berwujud padat. Adapun zat yang
memiliki gaya van der waals dalam susunan tidak teratur (random)
biasanya berwujud cair.

8 Fisika Zat Padat

Dari semua gaya yang terjadi pada ikatan antar molekul yang
disebut gaya Van der Waals tidak disangsikan lagi merupakan gaya
terlemah walaupun yang paling universal. Dikaitkan dengan energi
disekitar 0,4 sampai 40 kJ/mol, gaya ini biasnya tertutupi oleh gaya
kovalen yang lebih kuat didalam molekul yang energinya sekitar 400
kJ/mol. Perannya yang penting hanya menjelaskan interaksi diantara
sesama molekul atau sesama atom yang orbitalnya jenuh. Tidak
seperti ikatan kovalen yang bekerja pada jarak inti yang dekat dan
dihubungkan dengan tumpang tindih atau pengalihan elektron, dan
mengakibatkan energi yang lebih tinggi, maka ikatan Van der Waals
dapat bekerja pada jarak yang tidak dapat menyebabkan pertumpang
tindihan atau pengalihan elektron sehingga biasanya dikaitkan dengan
energi yang lebih kecil.
Contoh Gaya Van Der Waals :
1. Gas mulia : Gaya van der waals yang bekerja antara atom-atom
pada golongan gas mulia sangat lemah, hal ini ternyata dari
rendahnya titik lebur dan titik didihnya. Makin tinggi nomor
atom, makin tinggi pula titik lebur dan titik didihnya, berarti
gaya van der waalsnya semakin besar.
2. Halogen : Jarak I-I: 2,68A, dalam gas jarak ini besarnya 2,66A.
makin besar nomor atom dari halogen, gaya van der Waals
makin besar, hingga titik lebur dan titik didih makin tinggi
3. Grafit : Tersusun dari kristal molekuler atom, karbon yang
berbentuk heksagonal, terikat dengan ikatan kovalen. Lapisan
heksagonal ini terikat denga lapisan lain dengan ikatan van der
Waals. Karena lemahnya ikatan ini, lapisan satu mudah
bergerak terhadap lapisan lain, hingga grafit bersifat lunak dan
dapat dipakai sebagai pelumas padat.
Ada 2 faktor yang mempengaruhi kekuatan ikatan Van Der
Waals yaitu kerumitan molekul dan ukuran molekul. Adapun
mekanisme pada ikatan Van Der Waals yaitu : Adanya gaya tarik
menarik antar molekul yang mempunyai perbedaan keelektronegatifan

9 Fisika Zat Padat

(adanya dipol) walaupun kecil, adanya ikatan antarmolekul dari
senyawa yang mempunyai perbedaan keelektronegatifan dengan yang
tidak mempunyai perbedaan keelektronegatifan tapi mempunyai
pasangan elektron bebas berupa awan elektron, dan adanya gaya tarik
menarik antara molekul yang tidak mempunyai perbedaan
keelektronegatifan.
I. Ikatan Logam
Ikatan logam adalah Suatu jenis ikatan atom yang terjadi ketika
atom berbagi elektron yang mengambang tentang di awan elektron
umum. Logam disatukan oleh ikatan logam. Pada ikatan kovalen,
elektron-elektron ikatan seolah-olah menjadi milik sepasang atom,
sehingga tidak dapat bergerak bebas. Pada logam, elektron-elektron
yang menyebabkan terjadinya ikatan di antara atom-atom logam tidak
hanya menjadi milik sepasang atom saja, tetapi menjadi milik semua
atom logam, sehingga elektron-elektron dapat bergerak bebas. Karena
itulah maka logam-logam dapat menghantarkan arus listrik.
Adapun ciri-ciri ikatan logam adalah sebagai berikut :
a. Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang
terjejal rapat satu sama lain.
b. Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat
mudah untuk dilepaskan dan membentuk ion positif.
c. Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat
banyak tempat kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari 1
atom ke atom lain.
d. Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga
elektron valensi logam mengalami delokalisasi yaitu suatu
keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya
pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke
atom lain.
e. Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan
elektron yang menyelimuti ion-ion positif logam.

10 Fisika Zat Padat

f. Struktur logam seperti gambar di atas, dapat menjelaskan sifat-
sifat khas logam yaitu :
1) Berupa zat padat pada suhu kamar, akibat adanya gaya tarik-
menarik yang cukup kuat antara elektron valensi (dalam awan
elektron) dengan ion positif logam.
2) Dapat ditempa (tidak rapuh), dapat dibengkokkan dan dapat
direntangkan menjadi kawat. Hal ini akibat kuatnya ikatan
logam sehingga atom-atom logam hanya bergeser sedangkan
ikatannya tidak terputus.
3) Penghantar / konduktor listrik yang baik, akibat adanya
elektron valensi yang dapat bergerak bebas dan berpindah-
pindah. Hal ini terjadi karena sebenarnya aliran listrik
merupakan aliran elektron.
J. Hukum Ohm
Perhatikan seutas kawat sepanjang L dengan penampang
A, ujung-ujung kawat (C dan D) diberi beda potensial V
CD
, dan
nilai hambatan kawat adalah R. Dalam kawat mengalir arus
listrik I serta timbul medan listrik E, seperti pada gambar 2. Menurut
Hukum Ohm, kuat arus listrik dalam kawat :




Gambar 3. Arah arus listrik, medan listrik dan gerakan elektron dalam seutas
kawat yang diberi beda potensial.
Selanjutnya dapat ditulis rumus-rumus lainnya yang menyangkut :

11 Fisika Zat Padat

(i). Rapat Arus : J =
A
I

(ii). Kuat Medan : E=
L
V
CD

(iii) Hambatan : R=
A
L

dengan menyatakan resistivitas listrik bahan kawat, dan
dapat dituliskan dalam hubungannya dengan konduktivitas listrik
:

1

Dari persamaan-persamaan di atas, hukum Ohm dapat
dituliskan kembali dalam bentuk :
J = E

K. Piranti Semi-Konduktor
Kajian semikonduktor yang dimulai awal tahun 1950 juga telah
memperluas pendalaman tentang struktur bahan. Pertama akan
dibahas tentang sifat-sifat sambungan p-n (p-n junction) dan
menjelaskan sifat-sifat penguatannya. Dari gabungan bahan
semikonduktor tipe p dan tipe n dapat ditunjukkan oleh transistor
sebagai penguat (amplifier). Kaiatannya dengan aplikasi praktek,
transistor adalah piranti zat padat yang paling penting. Sedangkan
piranti gelombang mikro (microwave). yang operasinya menggunakan
prinsip konduktivitas diferensial negatif (khususnya tunnel dan Gunn),
juga akan dibahas laser semikonduktor dan piranti semikonduktor
yang lainnya.
Sambungan p-n : Penguat (Amplifier)

12 Fisika Zat Padat

Sambungan p-n adalah suatu bahan yang terdiri 2 jenis kristal
semikonduktor yaitu semikonduktor tie p dan semikonduktor tipe n
yang digabungkan menjadi satu.
Bagian semikonduktor tipe n (donor) adalah suatu material
semikonduktor yang didadah (dopped) dengan atom golongan V,
sedangkan bagian semikonduktor tipe-p (akseptor) adalah suatu
material semikonduktor yang didadah (doped) dengan atom golongan
III. Variasi kosentrasi donor dan akseptor ( Nd dan Na) pada daerah
sambungan (junction) dan sekitarnya ditampilkan pada gambar 1.b.
Daerah sambungan (junction) yang mana konsentrasi muatan (carrier)
bervariasi secara gradual disebut dengan graded junction.
Sedangkan daerah sambungan (junction) yang mana konsentrasinya
muatannya berubah diskontinu disebut dengan abrupt junction
seperti disajikan pada gambar 1.c. Konsentrasi donor adalah konstan
Nd di bahan semikonduktor tipe-n dan nilai Nd = 0 pada bahan
semikonduktor tipe p. konsentrasi akseptor Na sebaliknya.
L. Massa Efektif
Sebuah elektron dalam kristal berinteraksi dengan kisi kristal,
dan karena interaksi itu, respon elektron itu terhadap gaya eksternal,
pada umumnya tidak sama dengan elektron bebas. Tidak ada sesuatu
yang luar biasa pada gejala ini tak ada partikel yang terkendala
berkelakuan seperti partikel bebas. Apa yang tak biasa ialah
penyimpangan kelakuan elektron dalam kristal dari elektron bebas
dibawah pengaruh gaya luar semuanya dapat dicakup oleh pernyataan
sederhana bahwa massa efektif elektron seperti itu tidak sama dengan
massa sebenarnya.




13 Fisika Zat Padat

Tabel : RASIO MASSA EFEKTIF m
*
/m PADA PERMUKAAN
FERMI BEBERAPA LOGAM
LOGAM m
*
/m
Litium Li 1,2
Berilium Be 1,6
Natrium Na 1,2
Aluminium Al 0,97
Kobalt Co 14
Nikel Ni 28
Tembaga Cu 1,01
Zink Zn 0,85
Perak Ag 0,99
Platina Pt 13









14 Fisika Zat Padat

DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur. 1982. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga
Kusminarto. 1993. Pokok pokok Fisika Modern. Jakarta :
Ditjen Dikti Depdikbud
http://www.chem-
istry.org/materi_kimia/struktur_atom_dan_ikatan/ikatan_kimia/ikatan
_logam/
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia